Anda di halaman 1dari 4

Kristian Nopriadi

502014024

Tugas Critical Thinking

Dewasa ini peran mahasiswa dalam kehidupan masyarakat sangatlah banyak dan
beraneka ragam. Dimulai dari aksi untuk menyuarakan suara rakyat, bakti sosial yang
mengundang dan menggugah hati masyarakat dan lain sebagainya. Namun apakah semua
yang dilakukan oleh mahasiswa itu berdampak positif dan berpihak kepada masyarakat.
Tentulah tidak semua yang dilakukan mahasiswa bernilai baik bagi masyarakat. Kepribadian
mahasiswa harusnya memiliki mental yang tangguh, tidak mudah putus asa dan mandiri.
Selama dalam kampus mahasiswa harus benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pelajar
bukan sebagai orang yang merasa kuat dalam segala hal. Sehingga mudah emosi dan menjadi
sensitif. Sebenarnya hal ini terjadi tanpa disadari. Mungkin karena kebanyakan di antara
mahasiswa menganggap jika sudah menyandang status mahasiswa mereka dapat melakukan
apapun tanpa mempertimbangkan dampaknya. Mahasiswa sebenarnya memiliki peran yang
sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Sebagai kaum intelektual muda dan sebagai
generasi penerus bangsa mahasiswa memiliki peran penting yaitu sebagai agent of change
karena mahasiswa adalah orang yang seharusnya dapat membawa perubahan-perubahan yang
berdampak positif dan membangun dalam kehidupan masyarakat serta mampu menanamkan
nilai-nilai positif terhadap masyarakat. Sehingga peran mahasiswa yang sebenarnya dapat
dirasakan oleh masyarakat. Mahasiswa sebagai elemen utama penerus bangsa tentunya
merupakan kesatuan yang sangat penting untuk memajukan dan menjalankan kehidupan
bangsa di masa mendatang. Mahasiswa sangat dikenal dengan pemikirannya yang sangat
kritis, demokratis dan konstruktif. Suara suara mahasiswa biasanya dianggap sebagai realita
social yang ada dilingkungan masyarakat sehingga sangat pantas jika mahasiswa dianggap
sebagai roda penggerak bangsa. Namun terdapat istilah mahasiswa menara gading adalah
sebutan untuk mahasiswa yang hanya berada di dalam kampus saja tanpa mereka turun ke
lapangan untuk melihat realitas kehidupan yang sebenarnya terjadi di masayarakat.
Mahasiswa menara gading tak lain beda dengan mahasiswa apatis yang mereka hanya sibuk
belajar tanpa merasakan hal-hal lain diluar teori yang mereka terima di dalam kampus atau
bahkan sama sekali tidak peduli dengan kehidupan di luar sana. Mahasiswa sebagai agent of
chance merupakan bentuk kesadaran, tanggung jawab, kepedulian, kepekaan untuk

memajukan, memperbaiki, meningkatkan kualitas, memenuhi harapan dan sebagainya.


Semuanya bertujuan untuk perbaikan dan berbuat kebaikan. Jelas bukan mengekor, tetapi
suatu ketulusan, keberanian untuk mengajarkan dan mengajak berbuat untuk yang positif.
Juga kerelaan untuk berani berkorban dan dikorbankan. Agen perubahan bisa saja justru
dimusihi, dianggap sok tahu, sok bersih, sok modern, melanggar aturan dan ketentuan yang
sudah ada. Bisa saja akan dabel buruk bahkan dikembangkan menjadi kebencian. Pada masa
sekarang ini perubahan begitu cepat dan dinamis. Bagi yang tidak mampu mengikuti
mungkin akan ditinggalkan. Kalau sejajar dan seimbang dengan perubahan maka akan
terengah-engah mengikuti perubahan. Tetapi kalau mampu lebih maju dari perubahan maka
akan mampu memimpin perubahan. Melakukan perubahan bukan sekedar merubah tanpa
tahu esensi perubahan. Karakteristik yang ideal adalah yang dapat menyadari, memahami,
dan menjalankan peran yang diberikan dengan sebaik-baiknya dan mempertimbangkan citra
yang harus dipelihara di pundaknya, apakah sebagai harapan orang tua, pemuda harapan
umat, calon intelektual negeri, dan pelanjut generasi bangsa. Dan tidak meninggalkan
tanggung

jawabnya untuk berorientasi pada pemberdayaan pemikiran, yaitu yang rajin

melakukan pengasahan intelektual. Pengasahan intelektualisme inilah yang merajut kita


untuk memiliki ketajaman berpikir. Generasi penerus adalah the leader of tomorrow.
Makanya di tangan kaum mudalah nasib sebuah bangsa dipertaruhkan. Jika kaum mudanya
memiliki semangat dan kemampuan untuk membangun bangsa dan negaranya, maka
sesungguhnya semuanya itu akan kembali kepadanya. Hasil pembangunan dalam aspek
apapun sebenarnya adalah untuk kepentingan dirinya dan masyarakatnya.
Pemimpin yang ideal pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan
memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok
tanpa mengindahkan bentuk alasannya. Pemimpin dalam pengertian ialah seseorang yang
dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan,
mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan dan
posisi. Dalam pengertian yang terbatas, pemimpin ialah seorang yang membimbing,
memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan ekseptansi/penerimaan secara
sukarela oleh para pengikutnya. Selain itu, menjadi pemimpin yang baik bukanlah mudah.
Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang keras, yang suka marah dan yang ditakuti.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memimpin pengikutnya mencapai suatu
tujuan tertentu. Sam Walton mengatakan bahwa Pemimpin besar akan berusaha
menanamkan rasa percaya diri pada para pendukung. Jika orang memiliki percaya diri tinggi,

maka kita akan terkejut pada hasil luar biasa yang akan mereka raih. Pemimpin yang ideal
harus mempunyai karisma, pemimpin yang mempunyai karisma akan memudahkan
mengarahkan staf atau pengikutnya. Pemimpin yang tidak berkarisma akan kesulitan
mengarahkan staf atau pengikutnya. Mempunyai integritas, pemimpin harus mempunyai
integritas dalam memimpin. Pemimpin harus setia terhadap nilai-nilai yang ditanamkan
kepada pengikutnya. Mempunyai dedikasi, pemimpin yang berdedikasi akan mengerjakan
visinya dengan kerja keras dan penuh semangat, dedikasi yang dia kerjakan akan ditularkan
kepada pengikutnya. Bisa mengambil keputusan, pemimpin harus bisa dan berani mengambil
keputusan secara cermat. Untuk dapat mengambil keputusan secara cermat pemimpin harus
memperhatikan banyak aspek dalam memutuskan. Mau membantu, pemimpin yang baik
harus mau membantu memecahkan masalah yang dihadapinya. Bekerja tidak hanya
memerintah, pemimpin yang baik mau mengerjakan hal-hal yang dihadapi pengikutnya.
Tentu saja dia akan mengerjakan sesuai porsi yang dia bisa kerjakan. Mau mendengarkan,
pemimpin yang baik harus mau mendengarkan masukan dan keluhan dari pengikutnya.
Pemimpin tidak harus setuju terhadap pendapat dari pengikutnya, tetapi harus menghargai
setiap pendapat. Pemimpin harus memiliki kemampuan untuk Managing People, yang
artinya mampu untuk menciptakan hasil dan produktifitas maksimal dalam tim kerjanya.
Prestasi yang maksimal tersebut hanya bisa terjadi bila pemimpin tersebut dapat senantiasa
mengembangkan dengan maksimal kompetensi dan motivasi bawahannya. Dan kompetensi
yang dikembangkan tersebut, bukanlah hanya sebatas pada kemampuan teknisnya, namun
juga kemampuan inpetrpersonal dan kemampuan untuk dapat membangun team work yang
solid. Selain berperan untuk mengembangkan kompetensi dan motivasi tim kerjanya, setiap
pemimpin harus memiliki satu hal yang paling penting, yaitu Ethical Moral. Pemimpin yang
memiliki moral yang buruk, baik disadari atau tidak disadari, akan menciptakan pemimpin
baru yang juga akan memiliki moral buruk atau bahkan lebih buruk. Kualitas moral pada
pemimpin, akan tercermin pada perilaku atau tindakannya dan ucapannya. Kadangkala
ucapannya terdengar baik, namun tindakannya bertolak belakang, atau pemimpin yang
munafik. Pada dasarnya, orang akan cenderung mencontoh bentuk tindakan atau perbuatan
pemimpinnya. Dengan demikian maka pemimpin yang memiliki moral buruk, akan
menciptakan pemimpin baru dengan buruk pula, atau bahkan bisa lebih buruk dari atasannya.
Pada kenyataannya, kondisi inilah yang cukup banyak dan tengah berlangsung di Indonesia,
khususnya di beberapa institusi pemerintahan. Sangat banyak pemimpin yang tersangkut
masalah moral, seperti terjadinya kasus korupsi atau penyalah gunaan kekuasaan. Bahkan
beberapa calon pemimpin, sudah memiliki track record yang buruk. Dan bila sebagian besar

dari institusi adalah sudah dikuasai oleh pemimpin yang memiliki moral yang buruk, maka
boleh dikatakan bahwa institusi tersebut akan merupakan kumpulan pemimpin yang
cenderung membentuk organisasi ala preman, yang selanjutnya akan tercipta pemimpin baru
dengan kualitas preman.