Anda di halaman 1dari 28

Modul IX

MODUL
IX
AUDIT SALDO KAS
PENDAHULUAN
Deskripsi Mata Kuliah
Pengauditan 2 merupakan matakuliah wajib bagi mahasiswa S-1 Jurusan Akuntansi.
Pengauditan yang dimaksud dalam mata kuliah ini merupakan Pengauditan Keuangan
(financial audit). Matakuliah Pengauditan 2 merupakan kelanjutan dari matakuliah
Pengauditan 1 yang menekankan pada konsep dasar pengauditan keuangan, sedang pada
matakuliah Pengauditan 2 menekankan pada penerapan teknik pengauditan dalam siklussiklus transaksi, penyelesaian audit, dan pelaporan audit. Mahasiswa diharapkan sudah
menguasai konsep dasar, teknik, metode, dan prosedur audit keuangan. Materi pokok
yang akan dibahas adalah Pengauditan Siklus-Siklus Transaksi; Penyelesaian dan
Pelaporan Audit serta Tanggung Jawab Auditor Setelah Audit; di samping itu dibahas
juga mengenai Beberapa assurance akuntan publik.

Kegunaan Mata Kuliah


a. Mampu melaksanakan proses pengauditan dan penyusunan laporan auditan suatu
entitas secara profesional
b. Mampu melaksanakan pengujian substantif atas siklus akuntansi perusahaan.
c. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi.
d. Mampu untuk bekerjasama baik sebagai pimpinan maupun sebagai anggota kelompok.

Sasaran Pembelajaran
a. Mahasiswa mampu mengetahui audit atas siklus transaksi dan penyelesainnya audit ,
pelaporan dan jasa lainnya.
b. Mahasiswa mampu mengetahui bagaimana auditor menggunakan pengetahuannya
mengenai bisnis dan industri untuk mengembangkan hasil auditnya dari laporan
keuangan yang ada.

221

Modul IX
c. Mahasiswa mampu membuat suatu keputusan terkait dengan audit yang aktual dalam
pertumbuhan bisnis dan industri yang ada di perusahaan.
Urutan Penyajian
MODUL I

: Audit Siklus Pendapatan: Pengujian Pengendalian

MODUL II

: Audit Siklus Pendapatan: Pengujian Substantif

MODUL III

: Audit Siklus Pengeluaran: Pengujian Pengendalian

MODUL IV

: Audit Siklus Pengeluaran Substantif

MODUL V

: Audit Siklus Produksi

MODUL VI

: Audit Siklus Personalia

MODUL VII

: Audit Siklus Investasi

MODUL VIII

: Audit Siklus Pembiayaan

MODUL IX

: Audit Saldo Kas

MODUL X

: Penyelesaian Audit dan Tanggung Jawab Pasca Audit

MODUL XI

: Peyelesaian Laporan Audit atas Laporan Keuangan yang telah Diaudit

MODUL XII

: Jasa-jasa Lain, Akuntan dan Pelaporannya

MODUL XIII

: BAPEPAM dan Akuntan Publik

Petunjuk Penggunaan Modul


Untuk membantu Anda dalam mempelajari modul ini, ada baiknya diperhatikan beberapa
petunjuk belajar berikut ini:
1. Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan ini sampai Anda memahami secara tuntas
tentang apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari bahan belajar ini.
2. Baca sepintas bagian demi bagian dan temukan kata-kata kunci dari kata-kata yang
dianggap baru. Carilah kata-kata kunci tersebut didalam kamus yang Anda miliki.
3. Tangkaplah pengertian demi pengertian melalui pemahaman sendiri dan tukar pikiran
dengan mahasiswa lain atau dengan tutor Anda.
4. Untuk memperluas wawasan, baca dan pelajari sumber-sumber lain yang relevan.
Anda dapat menemukan bahan bacaan dari berbagai sumber, termasuk sumber dari
Internet.
5. Mantapkan pemahaman Anda dengan mengerjakan latihan dan melalui kegiatan
diskusi dalam kegiatan tutorial dengan mahasiswa lainnya atau teman sejawat.
6. Upayakan untuk selalu mencoba menjawab soal-soal yang dituliskan pada setiap akhir
kegiatan belajar. Hal ini berguna untuk mengetahui apakah Anda sudah memahami
dengan benar kandungan bahan belajar ini.

222

Modul IX
Gambaran Umum Modul IX
Ruang lingkup pada modul ini yaitu terkait dengan saldo kas. Dimana kita ketahui bahwa saldo
kas merupakan transaksi ataupun aktiva yang mudah mengalami kecurangan, baik berupa
kehilangan dan penggelapan.
Manfaat yang mampu kita ambil dari modul ini adalah bagaimana melakukan pengendalian untuk
saldo kas, serta bagaimana prosedur yang baik untuk mengaudit saldo kas itu sendiri. Sebagai
mahasiswa, kitapun akan tahu bahwa uang atau kas merupakan aktiva yang sangat diperlukan
dalam sebuah perusahaan, maka dari itu kita perlu mengetahui bagaimana mengendalikan kas.

Urutan Pembahasan
1. Sifat Siklus Kas
2. Tujuan Audit Kas
3. Pertimbangan perencanaan Audit
4. Pengujian Substantif
5. Pertimbangan Lainnya
Selamat belajar!

223

Modul IX

Bahasan 1
AUDIT ATAS SALDO KAS

Audit Atas Saldo Kas

Sifat Saldo Kas

Tujuan Audit
Saldo Kas

Pertimbangan
Perencanaan
Audit

Materialitas

Risiko Inheren

Prosedur
Analitis
Pengendalian
Internal

224

Pengujian
Substantif

Saldo Kas

Pertimbangan
Lainnya

Modul IX

SIFAT SIKLUS SALDO KAS

Saldo kas meliputi penerimaan ditangan yang belum disetor, kas di bank, pada rekening
giro umum dan rekening tabungan, serta akun impres seperti kas kecil dan rekening di
bank untuk gaji. Ini merupakan kas yang diperlukan untuk melunasi kewajiban serta
membayar gaji, dan kebanyakan entitas akan memindahkan kelebihan kas ke beberapa
bentuk investasi yang menghasilkan bunga.

Saldo-saldo tertentu, seperti sertifikat deposito, dana pelunasan obligasi, saldo mata uang
luar negeri tertentu, dan akun-akun lain yang mempunyai pembatasan dalam
penggunaannya yang lazimnya harus diklasifikasikan sebagai investasi.

1. HUBUNGAN SALDO KAS DENGAN TRANSAKSI


Lima siklus transaksi berkaitan langsung dengan saldo kas umum, seperti siklus
pendapatan, pengeluaran, pembiayaan, investasi, dan jasa personalia. Siklus produksi
tidak mempunyai transaksi yang berkaitan langsung dengan kas. Siklus pembiayaan dan
siklus investasi keduanya dapat menaikkan dan menurunkan kas, sementara siklus
pendapatan akan menaikkan kas, dan siklus pengeluaran serta jasa personalia akan
menurunkan kas. Bagi banyak entitas, volume transaksi siklus pendapatan dan
pengeluaran dapat berjumlah besar, demikian juga pada siklus jasa personalia. Volume
serta ukuran masing-masing transaksi kas dalam siklus pembiayaan dan investasi sangat
bervariasi dari satu entitas ke entitas lainnya yang dapat juga sangat berbeda dari tahun ke
tahun untuk suatu entitas. Jadi kesimpulannya bahwa:
Siklus Pendapatan : Menaikkan kas

Siklus Pengeluaran : Menurunkan kas

Siklus Pembiayaan : Menaikkan dan menurunkan kas

Siklus Investasi : Menaikkan dan menurunkan kas

Siklus Jasa Personalia : Menurunkan kas

225

Modul IX

Bahasan 2
TUJUAN AUDIT SALDO KAS
Kategori Asersi
Keberadaan

Tujuan Audit Saldo Akun


Saldo kas yang dicatat pada tanggal neraca.

atau keterjadian
Kelengkapan

Saldo kas yang dicatat mencakup pengaruh dari semua transaksi


pada periode yang telah terjadi.
Transfer kas akhir tahun di antara bank telah dicatat pada periode

dan

yang tepat.
Entitas mempunyai hak legal atas semua saldo kas yang

kewajiban
Penilaian

atau

diperlihatkan pada tanggal neraca.


Saldo kas yang dicatat dapat direalisasi pada jumah yang

alokasi
Penyajian

dan

dinyatakan di neraca dan sesuai dengan skedul pendukung.


Saldo kas telah diidentifikasi dan diklasifikasi dengan tepat dalam

Hak

pengungkapan

neraca.
Lini kreditt, jaminan pinjaman, perjanjian saldo kompensasi, dan
pembatasan lain padanya atas kas telah diungkapkan dengan
tepat.

226

Modul IX

Bahasan 3
PERTIMBANGAN PERENCANAAN AUDIT
Materialitas
Bagi kebanyakan entitas, bagian dari aktiva lancar atau total aktiva pada suatu titik
waktu yang disajikan oleh saldo kas adalah sangat kecil, dan seringkali tidak material.
Akan tetapi, jika dikaitkan dengan transaksi dalam lima siklus transaksi yang
mempengaruhi kas, jumlah kas yang mengalir melalui akun-akun selama suatu periode
waktu benar-benar dapat sangat material. Dalam kenyataannya, volume transaksi yang
mempengaruhi kas biasanya lebih besar daripada untuk setiap akun lainnya dalam
laporan keuangan.
Risiko Inheren
Volume transaksi yang tinggi dapat menimbulkan tingkat risiko inheren yang
signifikan untuk asersi saldo kas tertentu, terutama keberadaan dan keterjadian serta
kelengkapan. Saldo kas juga rentan atau mudah untuk dicuri. Namun lain hal nya
dengan piutang/persediaan, risiko yang berkenaan dengan asersi hak dan kewajiban,
penilaian atau alokasi, dan penyajian serta pengungkapan untuk kas bersifat minimal
karena tidak ada kerumitan yang melibatkan hak, pengukuran akuntansi, estimasi, dan
pengungkapan.

Risiko Prosedur Analitis


Saldo kas dipengaruhi secara signifikan oleh keputusan dan strategi operasi, investasi,
serta pembiayaan manajemen. Akibatnya, dalam beberapa audit atas saldo ini mungkin
tidak diharapkan untuk memperlihatkan hubungan yang stabil atau dapat diprediksi
dengan data keuangan atau operasi masa berjalan atau historis. Perusahaan yang
dikelola dengan baik secara teratur dapat mengembangkan anggaran kas, yang
memproyeksikan:

penerimaan kas berdasarkan penagihan piutang yang diantisipasi,

pengeluaran kas untuk kebutuhan operasi,

aktivitas investasi serta pembiayaan.

Prosedur analitis yang efektif mencakup pembandingan saldo kas dengan peramalan
atau anggaran, atau dengan kebijakan perusahaan mengenai saldo kas minimum dan
227

Modul IX
investasi atas kelebihan kas. Biasanya lebih efekttif bagi perusahaan untuk
membandingkan saldo kas dengan anggaran dan kebajikan perusahaan karena masingmasing kebutuhan kas dari bergbagai entitas sering kali bersifat unik. Apabila
penghargaan yang layak dapat dirumuskan dan datanya sesuai dengan pengharapan
itu, maka bukti analitis dapat dipandang memberikan sejumlah kepastian mengenai
asersi eksistensi/ keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi
untuk saldo kas.
Risiko Pengendalian
Komponen risiko pengendalian dalan suatu entitas sangat diperlukan. Apalagi untuk saldo kas
itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, bahwa transaksi untuk kas itu sering sendiri sering
terjadi dan memiliki risiko inheren untuk mudah dicuri. Maka dari itu, salah satu langkah yang
harus diperhatikan oleh suatu entitas yaitu bagaimana komponen pengendalian internal
mampu untuk diterapkan dalam perusahaan dengan baik. Keuntungan lain yang didapatkan
entitas yaitu auditor mampu menilai risiko pengendalian pada tingkat yang rendah.
Untuk auditor itu sendiri, perlu teliti ataupun cermat dalam mengevaluasi saldo kas
disebabkan sifat kas yang sangat rawan untuk dicuri serta dalam melaksanakan tugas, auditor
mampu untuk melaporkan setiap kondisi yang ada. Dalam rangka mengendalikan saldo kas
dapat dilakukan dengan cara pengendalian pembagian tugas yang memadai antara
penandatangan cek dan fungsi utang dagang,penandatanganan cek hanya dilakukan oleh
personel yang berwenang, menggunakan cek yang bernomor urut yang dicetak pada kertas
khusus, adanya telaah yang saksama atas dokumen pendukung sebelum cek ditandatangani
oleh personel yang berwenang, dan verifikasi internal yang memadai. Jika penegendalian yang
memengaruhi kas terkait transaksi beroperasi efektif, maka risiko pengendalian berkurang
sebagaimana pengujian audit untuk rekonsiliasi bank akhir tahun.

228

Modul IX

Bahasan 4

PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO KAS


1) Menetukan Risiko Deteksi
Tentunya sebuah perusahaan ingin mengetahui secara real jumlah kas yang mereka miliki.
Karena, boleh jadi, mereka merencanakan sesuatu yang memerlukan kas atau uang yang
banyak serta bergantung kepada catatan akuntansi yang ada, sedangkan uang yang tercatat
dalam laporan tersebut belum tentu milik semua perusahaan. Dari hal kasus ini, perusahaan
menginginkan auditor untuk memberikan kepastian mengenai keabsahan saldo kas. Akibatnya
auditor akan memerlukan pendekatan substantif terutama pada pengujian rincian, meskipun
model menyatakan hal tersebut tidak terlalu dibutuhkan karena sudah adanya prosedur analitis
atau pemahaman mengenai pengendalian internal yang ada.
2) Merancang Pengujian Substantif
Oleh karena saldo kas dipengaruhi oleh seluruh siklus, kecuali persediaan dan pergudangan,
maka sejumlah besar transaksi akun memengaruhi kas. Dalam bab-bab sebelumnya, telah
membahas secara terperinci mengenai pengujian pengendalian dan pegujian substansif yang
memadai untuk audit setiap siklus. Misalnya, pengendalian atas penerimaan kas. Transaksi kas
diaudit melalui pengujian siklus transaksi tersebut.

Kategori
Prosedur Awal

Pengujian Substantif
1. Mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan industri serta
menentukan :

Signifikansi dari saldo dan transaksi kas bagi entitas.

Kebijakan entitas dalam meramalkan saldo kas dan


menginvestasikan kelebihan saldo kas.

2. Melaksanakan prosedur awal atas saldo dan catatan kas


yang akan mendapat pengujian lebih lanjut.

Menelusuri saldo awal kas di tangan dan di bank ke


kertas kerja tahun sebelumnya.

Menelaah aktivitas dalam akun buku besar kas dan


menyelidiki ayat jurnal yang tampak tidak biasa dari
segi jumlah atau sumbernya.
229

Modul IX

Mendapatkan ikhtisar kas di tangan dan di bank yang


disiapkan klien, memverifikasi ketepatan matematis,
dan menentukan kesesuaiannya dengan buku besar.

Prosedur Analitis

3. Melakukan prosedur analitis.

Membandingkan saldo kas dengan jumlah yang


dianggarkan, saldo tahun sebelumnya, atau jumlah
yang diharapkan lainnya.

Menghitung kas sebagai persentase dari aktiva lancar


dan membandingkannya dengan pengharapan.

Pengujian Rincian
Transaksi

4. Melaksanakan

pengujian

pisah

batas

kas

(catatan:

pengujian ini mungkin telah dilaksanakan sebagai bagian


dari program audit atas piutang usaha dan hutang usaha)

Mengamati bahwa semua kas yang diterima menjelang


penutupan usaha pada hari terakhir tahun fiskal
termasuk dalam kas yang ada di tangan atau setoran
dalam perjalanan dan tidak ada penerimaan dari
periode berikutnya yang telah dimasukkan, atau

Mereview dokumentasi seperti ikhtisar kas harian, slip


deposito duplikat, dan laporan bank yang mencakup
beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal akhir tahun
untuk menentukan pisah batas yang tepat.

Mengamati

cek

terakhir

yang

diterbitkan

dan

dikirimkan pada hari bisnis terakhir dari tahun fiskal


dan menelusuri ke catatan akuntansi untuk menentukan
ketepatan pisah batas pengeluaran kas, atau

Membandingkan

tanggal-tanggal

pada

cek

yang

diterbitkan beberapa hari sebelum dan sesudah akhir


tahun ke tanggal pencatatan cek untuk menentukan
pisah batas yang tepat.
5. Menelusuri transfer bank selama beberapa hari sebelum

230

Modul IX
dan sesudah tanggal akhir tahun untuk menentukan bahwa
setiap transfer telah dicatat dengan benar sebagai
pengeluaran serta penerimaan dalam periode akuntansi
yang sama dan secara tepat dicerminkan dalam rekonsiliasi
Pengujian Rincian
Saldo

bank apabila dapat dilakukan.


6. Menyiapkan bukti atau proof kas untuk setiap akun bank di
mana entitas itu tidak mampu merekonsiliasi atau memikul
risiko yang tinggi bahwa transaksi yang tidak jujur telah
terjadi.
7. Menghitung kas di tangan yang belum disetorkan dan
menentukan bahwa jumlah tersebut telah dimasukkan
dalam saldo kas.
8. Mengkonfirmasikan saldo setoran dan pinjaman bank
dengan bank.
9. Mengkonfirmasikan perjanjian lain dengan bank seperti
lini kredit, perjanjian saldo kompensasi, dan jaminan
pinjaman atau pihak lainnya.

Penyajian dan
pengungkapan

10. Menscan, menelaah, atau menyiapkan rekonsiliasi bank


sebagaimana mestinya.
11. Mendapatkan dan menggunakan laporan pisah batas bank
untuk memverifikasi pos-pos rekonsiliasi bank, mendeteksi
semua cek yang belum dicatat yang telah dikliring oleh
bank, dan mencari bukti tentang window dressing
12. Membandingkan penyajian laporan dengan GAAP.

Menentukan apakah saldo kas telah diidentifikasi dan


diklasifikasikan dengan tepat.

Menentukan bahwa overdraft bank telah direklasifikasi


sebagai kewajiban lancar.

Melakukan tanya jawab dengan manajemen, menelaah


korespondensi dengan bank, dan menelaah notulen
rapat dewan direksi untuk menentukan hal-hal yang
231

Modul IX
memerlukan pengungkapan seperti lini kredit, jaminan
pinjaman,

perjanjian

saldo

kompensasi,

atau

pembatasan lainnya atas saldo kas.

Prosedur Audit Awal


Auditor harus memastikan bahwa dia telah memperoleh pemahaman tentang bisnis
entitas dan pentingnya saldo kas bagian entitas tersebut. Sebagai contoh auditor dapat
memahami volume transaksi yang melibatkan berbagai akun kas, kemampuan entitas
untuk menghasilkan arus kas yang positif dari operasi, kebijakan untuk meramalkan
atau menganggarkan kas, dan kebijakan untuk menginvestasikan kelebihan kas.
Titik awal untuk memverifikasi saldo kas adalah Menelusuri saldo periode berjalan ke
saldo awal yang telah diaudit dalam kertas kerja tahun sebelumnya. berikutnya,
aktivitas dalam akun buku besar kas harus dikaji ulang menyangkut setiap ayat jurnal
signifikan yang tampak tidak biasa atau jumlah yang memerlukan penyelidikan
khusus. Disamping itu setiap skedul yang dibuat oleh klien yang menunjukkan ikhtisar
penerimaan kas yang belum disetor ke pada lokasi yang berbeda atau ikhtisar saldo
bank juga harus diperoleh. Pengujian ini memberikan bukti tentang asersi penilaian
atau alokasi.

Prosedur Analitis
Dalam audit, rekonsiliasi bank pada akhir tahun di audit secara luas. Dengan menggunakan
prosedur analitis, pengujian atas kewajaran saldo kas tidak terlalu penting dibandingkan area
audit lainya.
Auditor biasanya membandingkan saldo akhir pada rekonsiliasi bank, setoran dalam
perjalanan, cek beredar, dan jenis rekonsiliasi lainya dengan rekonsiliasi yang dilakukan pada
tahun-tahun sebelumnya. Auditor juga membandingkan saldo akhir kas dengan saldo bulanbulan sebelumnya. Prosedur analtis ini dapat ditemukan salah saji pada kas.
Karena sifatnya yang bersisa, kas tidak memiliki hubungan yang dapat di prediksi dengan
akun laporan keuangan lain. Maka prosedur analitis substantif untuk audit kas terbatas hanya
pada perbandingan saldo kas dengan saldo tahun sebelumnya dan dengan saldo anggaran.
Penggunaan terbatas dari prosedur analitis substantif ini umumnya dapat digantikan dengan:

232

Modul IX
1. Pengujian pengendalian dan atau pengujian substantif ekstensif atas transaksi penerimaan
dan pengeluaran kas atau
2. Pengujian ekstensif atas rekonsiliasi bank entitas.
- Pengaruh pengendalian
Pengendalian utama yang mempengaruhi langsung audit kas adalah pembuatan
rekonsiliasi bank bulanan oleh karyawan klien yang terpisah dari fungsi penanganan
dan pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas. Rekonsiliasi bank tersebut
memastikan bahwa saldo per buku klien mencerminkan jumlah yang sama dengan
saldo bank setelah unsur-unsur yang direkonsiliasi dimasukan. Pengendalian dapat
lebih baik ditingkatkan jika fungsi independence seperti auditor internal rekonsiliasi
bank.
Audit akun kas umum Untuk mengaudit akun kas, auditor harus mendapatkan
dokumen-dokumen berikut ini:
a) Kertas kerja rekonsiliasi

bank

(bank

reconciliation

working

paper)

Auditor biasanya mendapatkan salinan rekonsiliasi bank yang dibuat oleh


karyawan klien. Pada kertas kerja dilakukan rekonsiliasi terutama adalah setoran
dalam perjalanan, cek beredar, dan penyesuian lain, seperti biaya jasa bank, dan
cek yang dikembalikan karena pelanggan tidak memiliki kas yang mencukupi
dalam akunnya untuk membayar cek (cek kosong)
b) Bentuk konfirmasi bank standar (standar

bank

confirmation

form)

Auditor biasanya melakukan konfirmasi atas informasi saldo akun dengan setiap
bank atau lembaga keuangan dimana klien memiliki akun. Perhatikan bahwa
bentuk konfirmasi ini tidak meminta karyawan bank untuk melaksanakan
penyelidikan menyeluruh dan ternci atas catatan bank yang melebihi informasi
akun yang diminta dalam konfirmasi. Adapun isi konfirmasi bank antara lain
sebagai berikut:
o Saldo tiap jenis rekening
o Saldo tiap jenir hutang
o Aktiva yang dijadikan jaminan hutang
o Batasan terhadap rekening klien di bank
c) Pisah
batas
rekening
koran
(cut

off

bank

statemen)

Langkah utama dalam mengaudit rekonsiliasi bank adalah melakukan verifikasi


atas ketepatan unsur-unsur yang merekonsiliasi seperti setoran dalam perjalanan
dan cek yang beredar. Auditor memerlukan pisah batas rekening koran untuk
menguji unsur-unsur yang terdapat dalam rekonsiliasi bank.
o Menguji rekonsiliasi bank (test of the bank reconciliation)
Auditor menggunakan prosedur audit berikut untuk menguji rekonsiliasi
bank:
Uji akurasi matematis kertas kerja rokonsiliasi dan cocokan saldo
menurut buku dengan buku besar.

233

Modul IX
Cocokan saldo bank pada rekonsiliasi bank dengan saldo yang terdapat
pada konfrmasi bank standar
Telusuri setoran dalam perjalanan pada rekonsiliasi bank ke pisah batas
rekening koran
Bandingkan cek yang beredar pada kertas kerja rokonsiliasi bank dengan
cek yang di batalkan pada pisah batas rekening koran, yaitu untuk nama
penerima, jumlah dan endorsement
Cocokan setiap biaya yang terdapat pada rekening koran rekonsiliasi bank
Cocokan saldo buku setelah penyesuaian dengan skedul induk akun kas
Jurnal penerimaan dan pengeluaran kas.

Pengujian Rincian Transaksi


a. Memverifikasi Pisah Batas Kas (Cutoff)
Pisah batas yang tepat atas penerimaan dan pengeluaran kas pada akhir tahun
sangat penting bagi kelayakan laporan kas pada tanggal neraca.
Menelusuri transfer bank
Sebuah perusahaan yang memiliki banyak akun bank dapat melakukan
transfer uang yang diotorisasi di antara akun-akun bank. contoh, uang dapat
ditransfer dari akun bank umum ke akun bank untuk penggajian atas cek gaji
yang akan dibagikan pada hari pembayaran. Apabila terjadi transfer bank,
maka beberapa hari (dikenal dengan periode mengambang) umumnya akan
berlalu sebelum cek itu di kliring di bank pada waktu ditarik. Jadi setoran kas
percatatan bank akan lebih saji selama periode ini, karena cek itu akan
dikurangkan dari bank yang ceknya ditarik. Transfer bank juga dapat
menimbulkan salah saji saldo bank perpembukuan jika pengeluaran dan
penerimaan tidak dicatat pada periode akuntansi yang sama.
Secara sengaja mancatat transfer bank sebagai setoran di bank penerima dan
tidak menunjukkan pengurangan dari akun bank tempat transfer cek ditarik
merupakan suatu penyimpangan yang dikenal sebagai kitting. Kitting juga
dapat digunakan untuk menyembunyikan kekurangan kas atau kelebihan kas
di bank pada tanggal laporan.
Seorang auditor memberikan bukti tentang keabsahan transfer bank atau
sebaliknya, dapat terjadi salah saji. Bukti ini diperoleh dengan menyiapkan
skedul transfer bank data yang akan dicantumkan pada skedul itu diperoleh
dari analisis atas ayat jurnal kas perpembukua dan laporan bank serta pisahbatas bank yang berlaku. Skedul itu mencantumkan semua transfer cek yang
diterbitkan pada atau mendekati akhir tahun fiscal klien, dan menunjukkan
tanggal cek itu dicatat oleh klien serta bank.
234

Modul IX
Kitting juga bisa terjadi apabila kelemahan dalam pengendalian internal
memungkinkan seseorang untuk menerbitkan dan mencatat cek-cek
(misalnya pemisahan tugas yang kurang tepat), atau ada kolusi diantara
orang-orang yang bertanggung jawab atas kedua fungsi itu.

Pengujian Rincian Saldo


a. Menghitung kas yang ada di tangan klien
Dalam penghitungan kas, auditor harus memperhatikan berbagai hal
berikut:
Mengendalikan semua instrument kas dan yang dapat dinegosiasikan

yang ditahan oleh klien sampai semua uang telah dihitung.


Menerima agar petugas kas hadir sepanjang perhitungan
Memastikan bahwa semua cek yang belum disetor dapat dibayarkan
kepada klien, baik secara langsung atau melalui endorsemen.

b. Mengkonfirmasi Saldo Kas dan Pinjaman di Bank


Formulir konfirmasi ini meminta informasi tentang tiga hal yaitu:
Saldo setoran
Saldo pinjaman
Akun (rekening) setoran atau pinjaman lainnya yang mungkin
menarik perhatian pejabat bank yang berwenang.
Konfirmasi setoran kas terutama memberikan bukti mengenai dua asersi
berikut berkenaan dengan kas di bank:
Keberadaan atau keterjadian karena ada pemberitahuan tertulis
bahwa saldo itu ada, serta
Hak dan kewajiban karena saldo itu adalah atas nama klien.
Jawaban dari bank juga dapat memberikan sejumlah bukti untuk dua
asersi lainnya. Jawaban ini menyumbang kepada asersi penilaian atau
alokasi untuk kas dibank dimana saldo yang dikonfirmasi digunakan
untuk memperoleh saldo kas yang benar pada saldo neraca. Lebih lanjut
hal itu dapat menyumbang pada asersi kelengkapan, tetapi secara
keseluruhan tidak dapat diandalkan karena para responden tidak
diharuskan untuk mencari catatan bank mengenai saldo setoran dan
pinjaman yang tidak tercantum dalam formulir permintaan konfirmasi.
Konfirmasi saldo pinjaman terutama memberikan bukti untuk tiga asersi
berikut:

235

Modul IX
Keberadaan atau keterjadian karena ada pemberitahuan tertulis
bahwa terdapat saldo pinjaman.
Hak dan kewajiban karena pinjaman merupakan hutang bagi klien
Penilaian atau alokasi karena jawabnnya menunjukkan jumlah
saldo pinjaman.
Pengujian ini menyumbang pada asersi kelengkapan dengan cara yang
sama seperti pada konfirmasi saldo setoran.
c. Mengkonfirmasi Perjanjian Lainnya dengan Bank
Perjanjian lainnya dengan bank meliputi: lini kredit, saldo kompensasi, dan
kewajiban kontinjen. Perjanjian untuk menetapkan lini kredit dengan bank
mungkin mengharuskan peminjam mempertahankan saldo kas di bank.
Jumlahnya dapat berupa persentase yang disetujui dari jumlah yang
dipinjam, atau dapat berupa jumlah dollar yang ditetapkan. Jumlan
minimum yang disyaratkan dikenal sebagai saldo kompensasi. Suatu
kewajiban kontinjen mungkin ada apabila klien menjadi penjamin atas
pinjaman yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga.
Jika, sesudah menilai risiko inheren dan pengendalian, auditor merasa
yakin bahwa perjanjian tersebut ada, maka ia harus mengirimkan surat
konfirmasi kepada bank. Surat itu secara spesifik harus mengidentifikasi
informasi yang diminta dan ditandatangani oleh klien.
d. Melakukan Scan, Mereview atau Menyiapkan Rekonsiliasi Bank
Apabila tingkat risiko deteksi yang dapat diterima tinggi, auditor dapat
menscan rekonsiliasi bank yang disiapkan klien dan memverifikasi
ketepatan matematis dari rekonsiliasi itu. Jika risiko deteksi sedang, maka
auditor dapat menelaah rekonsiliasi bank klien. Penelaahan itu lazimnya
akan mencakup:
Membandingkan saldo akhir bank dengan saldo yang dikonfirmasi

pada formulir konfirmasi bank


Memverifikasi keabsahan setoran dalam perjalanan dan cek-cek

yang beredar.
Menetapkan ketepatan matematis dari rekonsiliasi itu
Memvouching pos-pos yang direkonsiliasi seperti beban, kredit,

dan kesalahan bank ke dokumentasi pendukung.


Menyelidiki pos-pos lama seperti cek yang bersedar untuk periode
waktu yang lama dan pos-pos yang tidak biasa.
236

Modul IX
Jika risiko deteksi rendah, maka auditor dapat menyiapkan rekonsiliasi
bank dengan menggunakan data benar di tempat klien. Jika risiko deteksi
yang sangat rendah atau auditor mencurigai adanya kemungkinan salah saji
yang material, maka auditor dapat memperoleh laporan bank akhir tahun
langsung dari bank dan menyiapkan rekonsiliasi bank. Untuk melakukan
hal itu, auditor harus meminta klien untuk memberi tahu bank agar
mengirimkan laporan bank dan data yang menyertainya (cek yang dibayar,
memo debet, dan lain-lain) langsung ke auditor. Prosedur ini akan
mencegah klien melakukan perubahan data untuk menutupi setiap salah
saji yang ada.
Bukti yang diberikan oleh rekonsiliasi bank umumnya belum mencukupi
untuk memverifikasi saldo kas di bank karena adanya ketidakpastian
berkenaan dengan dua pos rekonsiliasi yang paling penting:
Setoran dalam perjalan
Cek yang beredar.
Bukti tersebut hanya diperoleh dengan menelusuri pos-pos ini ke laporan
bank dalam periode akuntansi berikutnya. Apabila laporan pisah batas
mengesahkan pos-pos ini dan pos rekonsiliasi lainnya, maka rekonsiliasi
bank yang diandalkan auditor dapat dipertinggi secara signifikan.
Scanning pengujian, atau penyiapan rekonsiliasi bank menetapkan saldo kas
di bank yang benar pada tanggal neraca. Jadi, hal itu merupakan sumber
bukti utama untuk asersi penilaian atau alokasi. Pengujian ini juga
memberikan bukti untuk asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan
dan hak dan kewajiban.
e. Mendapatkan dan menggunakan laporan pisah-batas bank
Klien harus meminta laporan pisah-batas dari bank dan memberitahukan
agar hal itu dikirim langsung kepada auditor. Setelah menerima laporan
pisah-batas, beserta cek-cek yang dibatalkan dan memo bank terlampir,
auditor harus:
Menelusuri semua cek tertanggal tahun lalu ke cek-cek yang

beredar yang tercantum pada rekonsiliasi bank


Menelusuri setoran dalam perjalanan pada rekonsiliasi bank ke

setoran pada laporan pisah batas


Melakukan scan atas laporan pisah-batas dan data terlampir untuk
hal-hal yang tidak biasa.

237

Modul IX
Penelusuran atas cek-cek dirancang untu memverifikasi daftar cek yang
beredar. Dalam langkah ini, auditor dapat menemukan bahwa cek periode
sebelumnya belum tercantum pada daftar cek yang beredar yang telah
dikliring oleh bank dan beberapa cek yang terdaftar sebagai cek yang
beredar belum dikliring oleh bank. Hal yang pertama menunjukkan
penyimpangan yang dikenal dengan kitting, sementara hal yang terakhir
mungkin diakibatkan oleh penundaan dalam, pengeposan cek oleh klien,
penyetoran cek itu oleh yang dibayar (payee), dan pemrosesan cek oleh
bank. Auditor harus menyelidiki setiap situasi yang tidak biasa.
Apabila pengaruh agregat dari cek yang belum dikliring bersifat material,
maka hal ini dapat menunjukkan suatu penyimpangan yang dikenal dengan
window dressing, yaitu suatu upaya yang disengaja untuk melebihsajikan
di solvensi jangka pendek perusahaan. Dalam kasus semacam ini, auditor
harus menelusuri cek-cek yang belum di kliring ke register cek serta
dokumentasi pendukung dan, jika perlu meminta keterangan kepada
bendaharawan.
Penelusuran setoran dalam perjalanan ke laporan pisah batas biasanya
merupakan hal yang relative sederhana karena setoran pertama pada
laporan pisah batas harus merupakan setoran dalam perjalanan yang
diperlihatkan pada rekonsiliasi. Jika tidak demikian halnya, maka auditor
harus menentukan situasi yang mendasari kesenjangan waktu dari
bendaharawan dan mendukung penjelasannya.
Perbandingan Penyajian dengan GAAP
Kas harus diidentifikasi dan diklasifikasikan dengan benar di neraca. Misalnya
kas yang disetor merupakan suatu kas aktiva lancar. Akan tetapi, kas dana pelunasan
obligasi dianggap sebagai investasi jangka panjang. Selain itu, harus ad pengungkapan
yang tepat mengenai perjanjian dengan bank, seperti lini kredit, saldo kompensasi dan
kewajiban kontinjen. Suatu overdraft bank (cerukan) biasanya dilaporkan sebagai
kewajiban lancar.
Auditor menentukan kelayakan penyajian laporan dari penelaahan atas naskah
laporan klien dan bukti yang diperoleh dari pengujian sebstantif sebelumnya.
disamping itu, auditor juga harus menelaah notulen rapat dewan direksi dan
melakukan Tanya jawab dengan manajemen menyangkut bukti pembatasan terhadap
penggunaan saldo kas.
238

Modul IX

239

Modul IX

Bahasan 4
PERTIMBANGAN LAIN
Pengujian Untuk Mendeteksi Lapping
Lapping adalah suatu penyimpangan yang disebabkan oleh misapropiasi secara
sengaja atas penerimaan kas. Lapping dapat melibatkan penggelapan penerimaan kas
secara sementara atau permanen untuk kepentingan pribadi dari seseorang yang
melakukan tindakan yang bukan wewenangnya. Kondisi yang kondusif untuk lapping
tersedia pabila seseorang yang menangani penerimaan kas juga memegang buku besar
piutang usaha. Auditor harus menilai kemungkinan lapping guna mendapatkan
pemahaman tentang pembagian tugas seperti penerimaan dan pencatatan penagihan dari
pelanggan.
Pengujian untuk mendeteksi lapping hanya dapat dilaksanakan apabila risiko
pengendalian untuk transaksi penerimaan kas adalah sedang atau tinggi. Ada tiga prosedur
yang dapat mendeteksi lapping, yaitu:

Mengkonfirmasi piutang usaha


Pengujian ini akan menjadi lebih efektif jika dilaksanakan secara mendadak pada
tanggal interim. Melakukan konfirmasi pada saat ini akan mencegah seseorang

untuk melakukan lapping.


Melakukan perhitungan kas secara mendadak
Perhitungan kas akan mencakup uang logam atau koin, uang kertas, dan cek
pelanggan yang ada di tangan. Auditor harus mengawasi setoran dari dana-dana
tersebut. Rincian setoran pada slip setoran duplikat harus dibandingkan dengan

ayat jurnal penerimaan kas dan posting kea kun pelanggan.


Membandingkan rincian ayat jurnal penerimaan kas dengan rincian slip setoran
harian yang berkaitan.
Prosedur ini mengungkapkan perbedaan rincian seperti dua contoh diatas.
Apabila pembagian tugas yang tepat dalam penanganan penerimaan pos sudah
ditetapkan, beberapa auditor lebih memilih untuk menggunakan daftar
pendahuluan

dari

prosedur

ini.

Tanggal

penagihan

aktual

kemudian

dibandingkan dengan tanggal posting penagihan itu ke buku besar piutang usaha.

PENGAUDITAN DANA KAS KECIL

240

Modul IX
Dana kas kecil dibentuk dengan cara memindahkan atau menyisihkan sebagian
kecil rekening kas perusahaan ke rekening kas kecil dengan sistem dana tetap (imprest).
Tujuan pembentukan dana kas kecil adalah untuk menyiapkan kalau sewaktu-waktu
secara mendadak perusahaan perlu mengeluarkan sejumlah kecil kas. Pengendalian
yang dapat diterapkan untuk dana kas kecil, antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.

Dana dijaga dan dikelola pada tingkat jumlah yang tetap.


Dana kas kecil hanya dipegang oleh satu orang.
Kas dana tersebut dikunci dan disimpan dalam kotak yang aman meski tidak terpakai
Pengeluaran kas hanya diijinkan untuk jumlah yang relatif kecil
Adanya nota atau dokumen bernomor urut tercetak yang harus mendukung setiap

pembayaran
f. Dana kas kecil tidak dicampur penggunaan dan penyimpanan dengan dana untuk
kegiatan lainnya
g. Penggantian atau pengisian kembali dana harus berdasarkan receipts (kuitansi) yang
bernomor urut tercetak, dan menelaah dokumen pendukungnya
h. Apabila telah dibayarkan, setiap dokumen pendukung harus distempel (dicap) lunas
(paid) untuk mencegah pemakaian kembali dokumen tersebut agar memperoleh
penggantian kembali.
Pada hakikatnya audit saldo kas kecil harus lebih merupakan pengujian atas
transaksi daripada pengujian atas saldo akhir. Jadi, apabila saldo kas kecil pada akhir
tahun sangat kecil bahkan dapat bersaldo nihil, maka masih ada kemungkinan terjadinya
transaksi pengeluaran kas kecil yang tidak semestinya. Apabila risiko deteksi tinggi,
maka auditor cukup menguji sejumlah kecil transaksi penggantian atau pengisian
kembali dana kas kecil. Pengujian pengendalian meliputi :
a. Penelaahan terhadap dokumen pendukung transaksi pengeluaran kas kecil.
b. Penggunaan dokumen bernomor urut tercetak
c. Penentuan bahwa cek yang diberikan untuk mengisi kembali dana kas kecil adalah
tepat jumlahnya sesuai dengan dana kas kecil yang terpakai

241

Modul IX

LATIHAN
1. Jelaskan Jelaskan apa yang dimaksud dengan cutoff bank statement dan jelaskan apa
tujuannya?
Jawab:
Cutoff bank statement adalah laporan bank sebagian (tidak sebulan penuh, tapi
hanya meliputi beberapa hari sesudah tanggal neraca) yang dikirimkan oleh bank langsung
kepada auditor atau secara online ke catatan elektronik akun klien di bank. Tujuan cutoff
bank statement adalah untuk memeriksa hal-hal yang direkonsiliasi dalam rekonsiliasi
bank akhir tahun yang dibuat klien dengan bukti yang belum terdapat pada klien. Untuk
mencapai tujuan tersebut, auditor minta kepada klien agar bank mengirim laporan bank
sebagian, untuk jangka waktu sekitar 7-10 hari sejak awal tahun, langsung kepada auditor.
2. Jelaskan yang dimaksud dengan lapping dan prosedur audit untuk mendeteksi lapping
tersebut!
Jawab:
Lapping merupakan suatu ketidakberesan yang melibatkan ketidaktepatan jumlah
penerimaan kas. Lapping dapat mencakup manipulasi temporer atau sementara, maupun
permanen. Lapping sebenarnya merupakan pencatatan penerimaan kas yang tidak
lengkap dan fiktif yang disengaja. Prosedur yang dapat dilakukan untuk mendeteksi
lapping antara lain :
a. Konfirmasi piutang dagang
b. Melakukan perhitungan kas secara mendadak
c. Membandingkan detail penjurnalan penerimaan kas dengan detail slip deposit (setoran
ke bank) harian yang terkait.
3. Jelaskan alasan auditor memperluas pengujian rekonsiliasi bank?
Jawab:
Apabila auditor berkeyakinan bahwa rekonsiliasi bank akhir tahun mengandung
kesalahan penyajian yang disengaja, maka auditor biasanya memperluas pengujian atas
rekonsiliasi bank akhir tahun. Prosedur tambahan dilakukan untuk memeriksa apakah
semua transaksi yang dimasusukkan ke dalam jurnal pada bulan terakhir dari tahun buku
yang diperiksa telah dimasukkan ke dalam atau dikeluarkan dari rekonsiliasi bank dengan
benar, dan memeriksa apakah semua unsur yang ada dalam rekonsiliasi bank telah
dicantumkan dengan benar.

242

Modul IX

243

Modul IX

RANGKUMAN
Tujuan audit saldo kas adalah untuk memperoleh bukti tentang masing-masing
asersi signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo kas. Tujuan audit ditentukan
berdasar atas kelima kategori asersi laporan keuangan yang dinyatakan oleh manajemen.
Asersi keberadaan dan keterjadian, Asersi kelengkapan, Asersi hak dan kewajiban, Asersi
penilaian dan pengalokasian, dan Asersi pelaporan dan pengungkapan.
Saldo kas dihasilkan dari pengaruh kumulatif kelim siklus transaksi yang telah di
bahas sebelumnya dari kelima siklus tersebut adalah : Siklus pendapatan, Siklus pengeluaran,
Siklus pendanaan, Siklus investasi, Siklus jasa personalia. Saldo kas adalah cash on hand (kas
ditangan atau disimpan dalam perusahaan), kas di bank, dan dana tertentu yang disisikan
seperti dana kas kecil.
Tingginya volume transaksi menyebabkan tingginya risiko bawaan siklus kas. Ada
beberapa faktor penyebab tingginya risiko bawaan siklus kas, antara lain: Tingginya potensi
salah saji akibat volume transaksi yang tinggi, Sifat kas ( paling likuid dan sangat diminati ),
Kesempatan menipulasi dalam bentuk kitting maupun window dressing.

244

Modul IX

TES FORMATIF
Berilah tanda silang (X) pada jawaban (a), (b), (c), dan (d) yang Anda anggap terbaik untuk
setiap pertanyaan di bawah ini:
1. Siklus apa yang terkait dengan saldo kas..
a. Siklus jasa dan personalia
b. Siklus pembiayaan
c. Siklus investasi
d. Semuanya benar
2. Risiko saldo kas tinggi terdapat pada..
a. Menentukan risiko deteksi
b. Risiko inheren
c. Risiko prosedur analitis
d. Prosedur pengendalian
3. Konfirmasi bank berisi..
a. Saldo rekening
b. Saldo hutang
c. Aktiva
d. Batasan terhadap rekening klien di bank
4. Untuk mengaudit kas dibank, auditor melakukan..
a. Verifikasi rekonsiliasi bank yang diterima klien sudah benar
b. Memvouching rekonsiliasi bank pada klien
c. Menginspeksi bank yang bersangkutan
d. Menelusuri total kas untuk bank

245

Modul IX

UMPAN BALIK ATAU TINDAK LANJUT


Kunci jawaban tes formatif terdapat pada bagian akhir modul ini. Cocokanlah jawaban Anda,
untuk melihat sampai di mana Anda menguasai materi yang ada dalam modul ini dengan
menghitung jawaban benar yang ada. Adapun perhitungannya yaitu:
Penilaian:
90-100

= baik sekali

80-89

= baik

70-79

= cukup baik

60-69

= cukup

<60

= kurang

246

Modul IX

KUNCI TES FORMATIF


Kunci dari tes formatif yaitu:
1.
2.
3.
4.

D
B
D
A

247

Modul IX

DAFTAR PUSTAKA

Boyton, William C. Johnson, Raymond N. Kell, Walter G.Modern Auditing, Seventh


Edition.2003.Penerbit Erlangga:Jakarta.
ikarosalia-A Topnotch Wordpress.Com Site.Audit Saldo Kas
suhe diary-Pengujian Substantif Terhadap Saldo Kas

JUSUP, Al Haryono; Auditing/Al; Ed. 2; Yogyakarta; Bagian Penerbit Sekolah Ilmu Ekonomi
YKPN: 2011
http://tiasaccountingworld.blogspot.co.id/2013/10/audit-terhadap-kas.html
http://ntanwijaya.blogspot.co.id/2012/12/mengenal-lapping-kitting.html

248

Anda mungkin juga menyukai