Anda di halaman 1dari 8

Tugas Komunikasi Medik

PENYULUHAN PEMOTONGAN HEWAN KURBAN

KELOMPOK IV
MUKH YUSUF

KADIR POLE O111 13

307
NUR ILMI

RAHMIATI O111 13

308
HILMAN
WADI OPSIMA
RISAL

NIHAYA O111 13 309


O111 13 310
PANGERAN O111 13

311

PROGRAM

STUDI

KEDOKTERAN

HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016

A. Nama Kegiatan
Penyuluhan tentang Pemotongan Hewan Kurban
B. Latar Belakang
Hari raya Idul Adha atau lebih dikenal sebagai hari raya kurban adalah hari
raya dimana umat muslim disunahkan untuk mengurbankan hewan seperti sapi,
kambing, domba, kerbau, dan unta. Biasanya pada hari menjelang hari raya Idul Adha
kebutuhan dan penjualan hewan kurban menjadi meningkat.
Adanya peningkatan kebutuhan dan penjualan hewan kurban akan
memunculkan banyak permasalahan, misalnya permasalahan lokasi pemotongan,
muncul juru sembelih baru, higiene dan sanitasi. Selain itu, permasalah hewan sering

kali tak diperhatikan, seperti syarat kelayakan menjadi hewan kurban, kesejahteraan
hewan, dan kesehatan hewan.
Kesejahteraan dan kesehatan hewan berpengaruh terhadap ternak yang
menjadi hewan kurban dan produk daging yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan
Halal). Daging yang ASUH atau berkualitas akan mempengaruhi kesehatan
masyarakat yang mengonsumsinya.
Prinsip daging yang ASUH juga memerlukan tahapan penyembelihan yang
memenuhi prinsip kesejahreaan hewan dan sesuai kaidah agama. Hal inilah yang
melatarbelakangi pentingnya penyuluhan pemotongan hewan kurban.
C. Tujuan Kegiatan
Tujuan dari kegiatan ini adalah menyosialisasikan, menyampaikan informasi
dan memberi pemahaman pentingnya penerapan kesejahteraan hewan, pemeriksaan
kesehatan antemortem dan post mortem (sebelum dan sesudah penyembelihan) dalam
pemotongan hewan kurban.

D. Sasaran
Sasaran dari kegiatan ini adalah masyarakat Desa Teteaji, Kecamatan Tellu
LimpoE, Kabupaten Sidenreng Rappang.
E. Materi/Isi
1. Persyaratan Hewan Kurban
Yang dimaksud dengan hewan kurban tersebut adalah binatang ternak yang
dipelihara dan dikomsumsi dagingnya, misalnya unta, sapi, kerbau, kambing, atau
domba. Binatang yang sah untuk menjadi kurban, ialah yang tidak mempunyai
cacat seperti ; pincang, sangat kurus, sakit, terpotong telinganya. Dikatakan sah,
jika binatang tersebut memenuhi syarat-syarat binatang/hewan yang telah

ditetapkan syariat Islam. Adapun syarat-syarat binatang/hewan untuk dijadikan


kurban adalah :

Cukup umurnya
o Domba sekurang-kurangnya berumur satu tahun
o Kambing, sekurang-kurangnya berumur dua tahun
o Unta sekurang-kurangnya berumur empat tahun dan masuk tahun
kelima
o Sapi, sekurang-kurangnya berumur dua tahun yang ditandai dengan
tumbuhnya sepasang gigi tetap.

Cara Mengitung Umur Sapi

Tidak cacat, misalnya pincang, buta, mengalami kerusakan teliga.

Tidak kurus

Hewan jantan yang tidak dikastrasi/ dikebiri, testis masih lengkap (2


buah) dan bentuk serta letaknya simetris.

Waktu penyembelihan kurban


Waktu penyembelihannya ialah sesudah shalat Idul Adha, dan akhir
waktunya ialah Ashar hari tasyriq, yakni sejak tanggal 10 Dzulhijah
hingga terbenamnya matahari tanggal 13 Dzulhijah.

2. Persyaratan Peralatan

Pisau atau golok yang digunakan harus tajam, sehingga menjamin dapat
memutus pembuluh darah, tenggorokan dan saluran makanan, serta senantiasa
terjaga kebersihannya dan tidak berkarat.
3. Persyaratan Sarana
a) Kandang penampungan sementara yang bersih, kering dan mampu
melindungi hewan dari panas matahari dan hujan.
b) Tempat penyembelihan yang kering dan terpisah dari sarana umum serta
tempat penjualan makanan dan minuman.
c) Lubang penampungan darah berukuran 0,5 x 0,5 x 0,5 m untuk tiap 10
ekor kambing atau 0,5 x 0,5 x 1 m untuk tiap 10 ekor sapi.
d) Tersedia air bersih yang mencukupi untuk mencuci peralatan dan jeroan
selama proses penyembelihan berlangsung.
e) Tempat khusus untuk penanganan daging yang harus terpisah dari
penanganan jeroan, yang senantiasa terjaga kebersihannya.

4. Manajemen Pemotongan (Sebelum Penyembelihan)


Adapun manajeman yang harus dilakukan sebalum disembelih adalah sebagai
berikut:

Pemeriksaan Ante-Mortem (sebelum penyembelihan) oleh pihak


berwenang. Pemeriksaan antemortem ditujukan untuk menentukan
apakah hewan kurban benar-benar sehat, sehingga dagingnya tidak
mengganggu kesehatan manusia yang memakannya. Pemeriksaan
dilakukan terhadap kesehatan hewan yang akan disembelih yang
dilaksanakan pada saat hewan diistirahatkan sebelum penyembelihan.
Pemeriksaan dilakukan secara umum pada semua hewan yang ingin

disembelih. Kondisi hewan diperhatikan satu persatu (gerakan hewan,


cara berjalan, bulu dan kulit, mata, telinga, hidung, mulut, alat
kelamin, anus, kaki dan kuku serta cara bernafas).

Diperlakukan secara wajar sesuai dengan manajeman kesejahteraan


hewan, agar tidak stres dan daging yang dihasilkan berkualitas baik.

Diistirahatkan sekitar 3 hari sebelulm dilakukan penyembelihan.

Diberikan pakan dan minum yang cukup.

Cara merebahkan hewan harus hati-hati, menghindari perlakuan yang


kasar pada hewan yang menyebabkan rasa takut berlebihan atau
kesakitan pada hewan serta risiko kecelakaan pada petugas
penyembelih.

5. Tata Cara Penyembelihan


Penyembelihan dilakukan dengan tata cara agama Islam dan persyaratan
teknis hiegene dan sanitasi antara lain:

Hewan dirobohkan dengan kepala menghadap kearah kiblat

Membaca basmalah

Hewan disembelih dengan sekali gerakan tanpa mengangkat pisau dari


leher ada saat memotong 3 (tiga) saluran sekaligus, yaitu:
Saluran makanan
Pembuluh darah
Memutus saluran nafas

Proses selanjutnya dilakukan setelah hewan benar-benar mati


sempurna

Cara Merobohkan Hewan

Penanganan hewan setelah disembelih sebaiknya dilakukan dengan


posisi digantung pada kaki belakangnya agar pengeluaran darah
berlangsung sempurna, kontaminasi silang dapat dicegah dan
penanganan lebih mudah.

Ikat saluran makanan (esophagus) dan anus agar isi lambung dan usus
tidak mencemari daging

Lakukan pengulitan secara berhati-hati dan bertahap, diawali dengan


membuat sayatan pada bagian tengah sepanjang kulit dada dan perut,
dilanjutkan dengan sayatan pada bagian medial kaki.

Selanjutnya isi dari rongga dada dan perut dikerluarkan secara hatihati agar dinding lambung dan usus tidak tersayat

Lalu dilakukan pemisahan antara jeroan merah (hati, jantung, paruparu, limpa, ginjal, lidah) dan jeroan hijau (lambung, usus, esophagus
dan lemak).

Pemeriksaan post-mortem

Karkas dipindahkan ke tempat khusus untuk penanganan lebih lanju

6. Pemeriksaan Post-Mortem

Pemeriksaan post-mortem adalah pemeriksaan kesehatan karkas dan organ


tertentu (jeroan) setelah penyembelihan yang bertujuan untuk memutuskan
apakah daging aman dan layak dikonsumsi. Dilakukan oleh dokter hewan atau
juru uji daging atau petugas teknis yang telah mendapatkan pelatihan tentang
meat inspector di bawah supervise dokter hewan.
Pemeriksaan postmortem ditujukan pada pemeriksaan daging, isi perut dan isi
dada. Pemeriksaan postmortem dilaksanakan segera setelah hewan disembelih
dengan cara inspeksi yaitu melihat/mengamati dengan mata. Pemeriksaan juga
dengan cara meraba serta menekan (palpasi). Jika diperlukan dilakukan
penyayatan (insisi). Pemeriksaan daging yaitu semua bagian tubuh hewan yang
disembelih dengan baik dan benar yang layak dan lazim dimakan oleh
manusia. Pemeriksaan karkas yaitu semua bagian tubuh hewan yang disembelih
setelah dipisahkan kepalanya, dipisahkan bagian kaki bawahnya, diambil
kulitnya, dikeluarkan isi perut dan isi dadanya. Pemeriksaan isi perut yaitu
bagian-bagian tubuh yang berada didalam rongga perut, seperti perut, hati,
limpa, usus, ginjal, kantung kemih dan alat kelamin bagian dalam. Pemeriksaan
isi dada yaitu bagian-bagian tubuh yang berada didalam rongga dada, seperti
trakhea,

esofagus,

paru

dan

jantung.

Pemeriksaan

postmortem

dapat

menghasilkan keputusan apakah hewan tersebut lulus pemeriksaan yang


menandakan bahwa daging lulus pemeriksaan serta menjamin bahwa daging
aman, sehat dan utuh.

7. Penanganan Daging Kurban yang Hiegenis

Jeroan dan daging dikemas terpisah menggunakan lastik khusus


pembungkus makanan.

Menghindari adanya kontaminasi dari tangan manusia yang kotor, lalat


atau serangga, peralatan yang kotor (pisau, talenan, alas meja, dll), air
yang kotor dan lantai/alas tanah yang kotor dengan daging kurban.

Petugas yang menangani daging harus selalu menjaga kebersihan diri


(memakai

pakaian

yang

bersih,

mencuci,

tangan

setiap

kali

menyentuh/memegang benda/bahan yang kotor dan terutama setelah dari


toilet.

Pendistribusian daging kurban harus segera dilakukan, penyimpanan


tanpa pendingin tidak boleh lebih dari 4 jam.

F. Metode
Metode penyuluhan adalah metode komunikasi langsung, dimana dilakukan
ceramah serta forum diskusi.
G. Media
Media adalah alat yang digunakan untuk membantu jalannya penyuluhan.
Metode yang digunakan adalah folder. Folder adalah salah media informasi
penyuluhan yang disajikan dengan lembaran cetakan yang dilipat-lipat sercara teratur
dan dibagikan setiap orang. Folder juga dapat melengkapi materi penyuluhan yang
disampaikan. Selain itu, digunakan Liquid Crystal Display (LCD) untuk tampilan
materi penyuluhan yang akan disampaikan serta pemutaran video pemotongan hewan
kurban yang sesuai dengan kesejahteraan hewan dan kaidah agama.
H. Evaluasi
Evaluasi dilakukan pada pra dan pasca penyuluhan yaitu dengan pembagian
kuisioner untuk mengetahui dampak dari penyuluhan yang telah dilakukan.
I. Waktu dan Tempat Kegiatan
Penyuluhan pemotongan hewan kurban akan dilaksanakan pada Sabtu, 19
November 2016 di aula Kantor Desa Teteaji, Kecamatan Tellu LimpoE, Kabupaten
Sidenreng Rappang.