Anda di halaman 1dari 45

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan berkat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Keperawatan Dewasa IV dengan judul Mioma Uteri.
Dalam penulisan makalah ini didukung oleh berbagai pihak. Kami
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Tri Mulia Herawati. S.Kp., M.Kep selaku
dosen pembimbing Keperawatan Dewasa III.
Harapan kami makalah ini dapat dipergunakan dan dimanfaatkan untuk
menambah ilmu pengetahuan mengenai Asuhan Keperawatan terhadap penderita
Mioma Uteri.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun dari semua pihak. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembelajaran ilmu keperawatan medikal bedah.

Jakarta, 24 Juni 2016

Kelompok III

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... 1
BAB I...................................................................................................... 3
PENDAHULUAN....................................................................................... 3
1.1

LATAR BELAKANG......................................................................3

1.2

TUJUAN MAKALAH.....................................................................4

BAB II..................................................................................................... 5
TINJAUAN TEORITIS................................................................................. 5
2.1

DEFINISI..................................................................................... 5

2.2

ETIOLOGI.................................................................................... 5

2.3

PATHWAY.................................................................................... 8

2.4

KLASIFIKASI............................................................................... 9

2.5

MANIFESTASI KLINIS...................................................................9

2.6

KOMPLIKASI............................................................................. 10

2.7

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK......................................................11

2.8

PENATALAKSANAAN.................................................................12

2.9

ASUHAN KEPERAWATAN............................................................14

BAB III.................................................................................................. 22
TINJAUAN KASUS.................................................................................. 22
3.1

PENGKAJIAN............................................................................. 22

3.2

DATA PENUNJANG.....................................................................28

3.3

PENATALAKSANAAN.................................................................28

3.4

DATA FOKUS............................................................................. 29

3.5

ANALISA DATA..........................................................................30

3.6

DIAGNOSA KEPERAWATAN........................................................32

3.7

RENCANA KEPERAWATAN..........................................................33

3.8

PELAKSANAAN KEPERAWATAN.................................................35

3.9

EVALUASI................................................................................. 38

BAB IV.................................................................................................. 44
PENUTUP............................................................................................... 44
4.1

KESIMPULAN............................................................................ 44

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 45

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Derajat kesehatan salah satunya didukung dengan kaum wanita yang
memperhatikan kesehatan reproduksi karena hal tersebut berdampak pada
berbagai aspek kehidupan. Salah satu masalah kesehatan pada kaum wanita
yang insidensinya terus meningkat adalah mioma uteri. Mioma uteri
menempati urutan kedua setelah kanker serviks berdasarkan jumlah angka
kejadian penyakit. Penyebab pasti mioma uteri belum diketahui secara pasti,
diduga merupakan penyakit multifaktor karena memiliki banyak faktor dan
resikonya meningkat seiiring dengan bertambahnya usia. Mioma Uteri adalah
suatu tumor jinak, berbatas tegas, tidak berkapsul, yang berasal dari otot
polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri,
leiomioma uteri atau uterine fibroid. Tumor jinak ini merupakan neoplasma
jinak yang paling sering ditemukan pada traktus genitalia wanita,terutama
wanita usai produktif. Walaupun tidak sering, disfungsi reproduksi yang
dikaitkan dengan mioma mencakup infertilitas, abortus spontan, persalinan
prematur, dan malpresentasi (Crum, 2003).
Pada tahun 2010 kejadian mioma uteri terbanyak masih pada kelompok
umur >35 tahun yaitu sebanyak 43 orang (63,2%) dan 45 orang (66,2%)
terjadi pada multipara. Periode Januari 2011 Mei 2011 angka kejadian
mioma uteri yaitu 39 orang (35,8%) dari 109 kasus ginekologi yang dirawat.
Angka tersebut lebih tinggi bila dibandingkan penderita ca cerviks yang
hanya 21 orang (19,3%), penderita kista ovarium 13 orang (11,9%), penderita
menometroragi 12 orang (11%) serta penyakit ginekologi lainnya sebanyak
24 orang. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, insidensi mioma uteri pada
tahun 2011 ini pun terjadi pada kelompok umur >35 tahun sebanyak 28 orang
(71,8%) dan terjadi pada wanita multipara yaitu sebanyak 26 orang (66,7%).
Mioma uteri belum pernah ditemukan sebelum terjadinya menarche (Dewi,
2009)

Kewaspadaan wanita terhadap resiko mioma uteri sangat dibutuhkan.


Dalam hal ini peran perawat berpengaruh dalam menjawab kebutuhan klien
dengan mioma uteri. Yaitu memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada
klien dengan mioma uteri serta menjalankan fungsi perannya sebagai health
educator.
1.2 TUJUAN MAKALAH
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengartikan dan menjelaskan tentang penyakit
Urotiliasis,

serta

dapat

mengetahui

cara

memberikan

Asuhan

Keperawatan Pada Klien dengan diagnosa urotiliasis dan memperoleh


pengalaman nyata dalam merawat pasien dengan penyakit batu saluran
kemih serta dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat.
Memperdalam anatomi fisiologi dan patologi sistem perkemihan yang
merupakan dasar dalam melakukan pengkajian, intervensi, implementasi
dan evaluasi keperawatan.
2. Tujuan Khusus
A. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan mioma
uteri
B. Mahasiswa mampu menemukan masalah keperawatan pada klien
dengan mioma uteri.
C. Mahasiswa mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien
dengan mioma uteri.
D. Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien
dengan mioma uteri.
E. Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan keperawatan pada klien
dengan mioma uteri.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 DEFINISI
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan
jaringan ikat yang menumnpang, sehingga dalam kepustakaan

dikenal

dengan istilah Fibromioma, leiomioma, atau fibroid (Mansjoer, 2007).


Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan
jaringan ikat yang menumnpang, sehingga dalam kepustakaan

dikenal

dengan istilah Fibromioma, leiomioma, atau fibroid (Mansjoer, 2007).


Mioma Uteri adalah suatu tumor jinak, berbatas tegas, tidak berkapsul,
yang berasal dari otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut
fibromioma uteri, leiomioma uteri atau uterine fibroid. Tumor jinak ini
merupakan neoplasma jinak yang paling sering ditemukan pada traktus
genitalia wanita,terutama wanita usai produktif. Walaupun tidak sering,
disfungsi reproduksi yang dikaitkan dengan mioma mencakup infertilitas,
abortus spontan, persalinan prematur, dan malpresentasi (Crum, 2003).
Mioma uteri adalah suatu tumor jinak yang berasal dari otot-otot rahim,
otot polos di temukan pada area genitalia wanita, dam mioma uteri biasanya
diderita oleh wanita-wanita dengan usia produktif.

2.2 ETIOLOGI
Etiologi Mioma belum pasti diketahui. Peningkatan reseptor estrogen dan
progesteron pada jaringan mioma uteri mempengarui pertumbuhan tumor.
Faktor predisposisi yang bersifat herediter, telah diidentifikasi kromosom
yang membawa 145 gen yang diperkirakan berpengaruh pada pertumbuhan
fibroid. Sebagian ahli mengatakan bahwa fibroid uteri diwariskan dari gen

sisi paternal. Mioma biasanya membesar pada saat kehamilan dan mengecil
setelah menopause jarang ditemukan sebelum menarke (Crum, 2005).
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan gejala kista meliputi :
1. Gaya hidup tidak sehat (konsumsi makanan yang mengandung banyak
lemak dan kurang serat, zat tambahan pada makanan, kurang olahraga,
merokok dan konsumsi alkohol, terpapar dengan polusi dan agen
infeksius, stress).
2. Faktor genetik.
Dalam tubuh kita terdapat gen-gen yang berpotensi memicu kanker yaitu
yang disebut protoonkogen yang karena suatu sebab tertentu misalnya
karena makanan yang bersifat karsinogen, polusi atau terpapar zat kimia
tertentu atau karena radiasi protoonkogen ini dapat berubah menjadi
onkogen, yaitu zat pemicu kanker.
Faktor Risiko terjadinya mioma uteri yaitu:
1. Usia penderita
Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia reproduksi dan
sekitar 40%-50% pada wanita usia di atas 40 tahun (Suhatno, 2007).
Mioma uteri jarang ditemukan sebelum menarke (sebelum mendapatkan
haid). Sedangkan pada wanita menopause mioma uteri ditemukan sebesar
10% (Joedosaputro, 2005).
2. Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi daripada
jaringan miometrium normal. (Djuwantono, 2005)
3. Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma
uteri mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma
dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri.
(Parker, 2007)
4. Indeks Massa Tubuh (IMT)
Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. (Parker, 2007)
5. Makanan
Dilaporkan bahwa daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan
daging babi menigkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau
menurunkan insiden mioma uteri (Parker, 2007).

6. Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar
esterogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. Hal
ini mempercepat pembesaran mioma uteri (Manuaba, 2003).
7. Paritas
Mioma uteri lebih banyak terjadi pada wanita dengan multipara
dibandingkan dengan wanita yang mempunyai riwayat frekuensi
melahirkan 1 (satu) atau 2 (dua) kali

2.3 PATHWAY
(NANDA 2015)
Herediter, pola hidup,
hormonal

Myoma Intranural (dinding


antar miometrium)

Penurunan imun tubuh

Myoma Uteri

Myoma submukosum
(tumbuh menjadi polip
dilahirkan melalui serviks)

Myoma subserosum

Resiko infeksi

Tanda/ gejala

Tindakan pembedahan
(histerektomi)

Pembesaran uterus

Hb rendah

Resiko kekurangan
volume cairan

Penekanan organ
sekitar

Tak tertangani d/ cepat

Resiko syok

Perlukaan

Kurang informasi ttg


prognosis penyakit

Pendarahan pervagina

Kerusakan integritas
jaringan

Ansietas

Hilangnya uterus
ovarium

Estrogen berkurang

Produksi kewanitaan
menurun
Libido seksual
menurun
Disfungsi seksual

Menekan vulva urinaris


dan rektum
Pola eliminasi terganggu

Retensi urin

Penekanan syaraf

Nyeri

Konstipasi

2.4 KLASIFIKASI
Mioma umumnya digolongkan berdasarkan lokasi dan ke arah mana
mereka tumbuh.
a. Lokasi
1. Cerivical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi
2. Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus
urinarius. Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali
tanpa gejala
b. Klasifikasi
1. Mioma Intramural
Merupakan mioma yang paling banyak ditemukan. Sebagian besar tumbuh
di antara lapisan uterus yang paling tebal dan paling tengah, yaitu
miometrium.
2. Mioma Subserosa
Merupakan mioma yang tumbuh keluar dari lapisan uterus yang paling
luar, yaitu serosa dan tumbuh ke arah rongga peritonium. Jenis mioma ini
bertangkai (pedunculated) atau memiliki dasar lebar. Apabila terlepas dari
induknya dan berjalan-jalan atau dapat menempel dalam rongga
peritoneum disebut wandering/parasitic fibroid

Ditemukan kedua

terbanyak.
3. Mioma Submukosa
Merupakan mioma yang tumbuh dari dinding uterus paling dalam
sehingga menonjol ke dalam uterus. Jenis ini juga dapat bertangkai atau
berdasarkan lebar. Dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian
dilahirkan melalui saluran serviks, yang disebut mioma geburt (Chelmow,
2005).

2.5 MANIFESTASI KLINIS


Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat mioma, besarnya tumor,
perubahan dan komplikasi yang terjadi. Gejala yang mungkin timbul
diantaranya:
1. Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore,
menoragia dan dapat juga terjadi metroragia. Antara penyebab perdarahan
ini

adalah:

endometrium

-pengaruh
sampai

ovarium

sehingga

adenokarsinoma

terjadilah

endometrium

hiperplasia
-permukaan

endometrium yang lebih luas dari biasa -atrofi endometrium di atas mioma
submukosum. -miometrium tidak dapat berkontraksi optimal kerana
adanya sarang mioma di antara serabut miometrium, sehingga tidak dapat
menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik (Prawirohardjo,
2007)
2. Nyeri terutama saat menstruasi. Perdarahan abnormal ini terjadi pada 30%
pasien mioma uteri dan perdarahan abnormal ini dapat menyebabkan
anemia defisiensi besi.Pada suatu penelitian yang mengevaluasi wanita
dengan mioma uteri dengan atau tanpa perdarahan abnormal, didapat data
bahwa wanita dengan perdarahan abnormal secara bermakna menderita
mioma intramural (58% banding 13%) dan mioma submukosum (21%
banding 1%) dibanding dengan wanita penderita mioma uteri yang
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

asimtomatik (Hadibroto, 2005).


Pembesaran perut bagian bawah.
Uterus membesar merata.
Infertilitas.
Perdarahan setelah bersenggama.
Disminore.
Abortus berulang.
Poliuri, retention urine, konstipasi serta edema tungkai dan nyeri panggul.
(Chelmow, 2005)

2.6 KOMPLIKASI
Komplikasi Mioma Uteri menurut Wiknjosastro, (2007) yaitu:
1. Degenerasi ganas
Keganasan umumnya terjadi ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus
yang telah diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma

10

uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam
menopause.
2. Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan
sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis, sehingga terjadi sindrom
abdomen akut. Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang
diperkirakan karena gangguan sirkulasi darah padanya.
3. Nekrosis dan infeksi
Pada mioma sub mukosum yang terjadi polip, ujungnya kadang dapat
melalui kanalis servikalis dan dialirkan ke vagina. Dalam hal ini
kemungkinan terjadi nekrosis dan infeksi sekunder, penderita mengeluh
tentang pendarahan yang bersifat menoragia atau metrogania dan leukea.
4. Perdarahan sampai terjadi anemia.
5. Pengaruh timbal balik mioma dan kehamilan.
6. Pengaruh mioma terhadap kehamilan .
a. Infertilitas.
b. Abortus.
c. Persalinan prematuritas dan kelainan letak.
d. Inersia uteri.
e. Gangguan jalan persalinan.
f. Perdarahan post partum.
g. Retensi plasenta.
h. Pengaruh kehamilan terhadap mioma uteri
i. Mioma cepat membesar karena rangsangan estrogen.
j. Kemungkinan torsi mioma uteri bertangkai.
2.7 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Mansjoer (2002), pemeriksaan yang dilakukan pada kasus
Mioma Uteri untuk menegakkan diagnosisnya adalah :
1. Pemeriksaan Darah Lengkap
Hb turun, Albumin turun, Lekosit turun/meningkat, Eritrosit turun.
2. USG (Ultrasonografi)
Terlihat massa pada daerah uterus.
3. Vaginal Toucher
Didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan
ukurannya.
4. Sitologi
Menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.
5. Rontgen
Untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat
tindakan operasi.

11

6. ECG
Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi
tindakan operasi.
7. Ultrasonografi
Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam
menetapkan adanya Mioma Uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama
bermanfaat pada uterus yng kecil. Uterus atau massa yang paling besar
paling baik diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma
Uteri

secara

khas

menghasilkan

gambaran

ultrasonografi

yang

mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran uterus.


Adanya klasifikasi ditandai oleh fokus-fokus hiperekoik dengan bayangan
akustik. Degenerasi kistik ditandai adanya daerah yang hipoekoik.
8. Histeroskopi
Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya Mioma Uteri submukosa,
jika tumornya kecil serta bertangkai. Tumor tersebut sekaligus dapat
diangkat.
9. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI sangat akurat dalam menggambarkan jumlah,ukuran dan lokasi
mioma, tetapi jarang diperlukan. Pada MRI, mioma tampak sebagai massa
gelap terbatas tegas dan dapat dibedakan dari miometrium yang normal.
MRI dapat mendeteksi lesi sekecil 3 mm yang dapat dilokalisasi dengan
jelas, termasuk mioma submukosa. MRI dapat menjadi alternatif
ultrasonografi pada kasus -kasus yang tidak dapat disimpulkan.

2.8 PENATALAKSANAAN
Penanganan bergantung pada intensitas gejala, ukuran, serta lokasi tumor,
dan usia pasien, paritas, status kehamilan, keinginan mempunyai anak, serta
kondisi kesehatan secara umum. Pilihan terapi meliputi tindakan nonbedah
dan tindakan bedah. Terapi farmakologi umumnya tidak efektif dalam jangka
waktu yang lama bagi tumor fibroid. (Kowalak, 2011). Di samping metode
observasi, metode nonbedah meliputi:
1. Preparat agonis GnRH untuk dengan cepat mensupresi pelepasan
gonadotropin hipofisis yang menimbulkan hipoestrogenemia berat,
berkurangnya volume uterus hingga 50 % (efek puncaknya tercapai

12

setelahterapi memasuki minggu ke-12), dan mengecilnya tumor sebelum


operasi

serta

berkurangnya

perdarahan

selama

pembedahan

dan

peningkatan hematokrit prabedah.Terapi ini tidak menyembuhkan karena


tumor akan terus membesar setelah terapi dihentikan. Peningkatan ukuran
tumor selama terapi dapat menunjukkan sarcoma uteri.Terapi dengan
preparat agonis GnRH sebaiknya dilakukan prabedah atau selama kurun
waktu hingga enam bulan pada wanita perimenopaus, yang setelah itu
segera mengalami menopause alami sehingga tindakan bedah dapat
dihindari.
2. NSAID (Nonsteroid Antiinflammatory Drugs)
Ibu profen sebagai obat antiinflamasi nonsteroid untuk mengatasi
dismenore dan gangguan rasa nyaman pada panggul. (Kowalak, et.al,
2011).
Terapi nonfarmakologis untuk mioma uteri antara lain :
1. Observasi
Bila uterus lebih kecil dari ukuran uterus kehamilan 12 minggu, tanpa
disertai penyulit lain.
2. Ekstirpasi atau pengangkatan seluruh massa tumor beserta kapsulnya
untuk mioma submukosa bertangkai atau mioma lahir, umumnya
dilanjutkan dengan tindakan D/K.
3. Laparotomi dan miomektomi
Hal ini dilakukan bila fungsi reproduksi masih dibutuhkan dan secara
teknis masih memungkinkan untuk dilakukan tindakan tersebut. Biasanya
tindakan ini dilakukan untuk mioma intramural, subserosa, dan subserosa
bertangkai.Namun walaupun hanya dilakukan miomektomi, kemungkinan
infertilitas pascatindakan sangat mungin terjadi.
4. Laparotomi dan Histerektomi
Tindakan ini dilakukan bila:
a. Fungsi reproduksi tidak diperlukan lagi
b. Pertumbuhan tumor sangat cepat
c. Sebagai tindakan hemostasis, dimana terjadi perdarahan yang terusmenerus dan tidak membaik dengan pengobatan.
d. Histerektomi yang dilakukan adalah histerektomi totalis tanpa
ovariektomi, namun bila mengalami kesulitan, dapat dilakukan
histerektomi subtotalis.
5. Ovariektomi Bilateral
13

Tindakan ini dilakukan untuk penderita dengan usia di atas 50 tahun.


Setelah dilakukan tindakan ini, penderita mendapatkan substitusi hormonal
(Achadiat, 2004).
2.9 ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
A. Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, pendidikan,
dan pekerjaan.
B. Keluhan utama
Klien biasanya merasakan nyeri panggul kronik. Nyeri bisa terjadi
saat menstruasi, setelah berhbungan seksual, atau ketika terjadi
penekanan pada panggul. Nyeriterjadi karena terpuntirnya mioma
yang bertangkai, pelebaran leher rahim akibat desakan mioma atau
degenerasi (kematian sel) dari mioma. pasien biasanya mengalami
perdarahan akibat penekanan pembuluh darah pada area uterus.
Keluhan lain yang dirasakan pasien dapat berupa lemah, lelah dan lesu
akibat perdarahan yang dialami pasien.
C. Riwayat kesehatan klien
Sejak kapan klien menderita penyakit, Apakah klien pernah
mengalami tindakan operasi pengangkatan sel tumor atau rahim.
D. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga pasien yang menderita penyakit mioma uteri.
E. Pengkajian ROS (Review of System):
1) System pulmonary (B1)
: tidak ada keluhan
2) System kardiovaskuler (B2) : nadi pasien tidak teratur, tekanan
darah kurang dari normal.
3) System neurologi (B3)

: nyeri, pusing, peningkatan suhu

tubuh
4) System perkemihan (B4)

: retensi urin

14

5) System pencernaan (B5)

: pasien mengalami mual, muntah

dan juga konstipasi.


6) System musculoskeletal

: merasa lemah

15

F. Pemeriksaan penunjang
1) USG
Pemeriksaan
USG

menghasilkan

gambaran

yang

mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun perbesaran


uterus.
2) Histeroskopi
Terlihat adanya mioma uteri submukosa, jika tumornya kecil serta
bertangkai.
3) MRI
Mioma tampak sebagai massa gelap terbatas tegas dan dapat
dibedakan dari miometrium normal.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan proses inflamasi dan spasme
reflek otot uterus
b) Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan berulang
c) Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan penekanan kandung
kemih
d) Gangguan eliminasi fekal berhubungan dengan penekanan pada rectum
e) Deficit perawatan diri, berhubungan dengan keletihan akibat anemia
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
a) Gangguan rasa nyaman : nyeri kronis berhubungan dengan proses
inflamasi dan spasme reflek otot uterus.
Tujuan :
1) Tingkat nyeri pasien dipertahankan pada skala 0-10
2) Pasien akan mengenali faktor-faktor yang meningkatkan dan
melakukan tindakan pencegahan nyeri.
Intervensi:
1) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi,
karakteristik, awitan/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan
faktor resipitasi nyeri.
2) Kaji faktor yang menurunkan toleransi nyeri.
3) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (misalnya umpan
balik biologis, relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi music,
relaksasi, distraksi, kompres hangat/dingin) sebelum, dan
setelahjika memungkinkan, selama aktivitas yang menyakitkan,

16

sebelum nyeri terjadi atau saat nyeri terjadi, dan selama


penggunaan tindakan pengurangan nyeri yang lain.
4) Bantu pasien dalam mengidentifikasi tingkat nyeri yang beralasan
dan dapat diterima.
5) Berikan informasi tentang nyeri, seperti peyebab nyeri, seberapa
lama akan berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur
6) Kolaborasi: pemberian analgesic sesuai dosis yang diprogramkan
b) Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan berulang
Tujuan/ Kriteria Evaluasi NOC:
1) Kekurangan volume cairan akan teratasi, dibuktikan dengan
2) Hemoglobin dan hematokrit pasien dalam batas normal
3) Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang
dalam waktu 24 jam
4) Menampilkan hidrasi yang baik (membrane mukosa lembab
maupun berkeringat)
5) Memiliki asupan cairan oral/intravena yang adekuat
6) Keseimbangan elketrolit dan asam-basa akan tercapai, dibuktikan
dengan: frekuensi nadi dan irama dalam rentang yang diharapkan,
elektrolit serum (Na, K, Ca,Mg, dll) dalam batas normal.
Intervensi :
1)
2)
3)
4)

Pengkajian
Pantau jumlah, warna dan frekuansi kehilangan cairan
Pantau perdarahan yang dikeluarkan melalui daerah vagina
Pantau status hidrasi (misalnya kelembapan mukosa oral,

keadekuatan nadi, dan tekanan darah ortostatik)


5) Pantau hasil laboratorium yang relevan dengan keseimbangan
cairan (misalnya kadar hematokrit, BUN, albumin, protein total,
osmolalitas serum, dan berat jenis urin.
Aktivitas kolaboratif:
1) Laporkan abnormalitas elektrolit
2) Pengaturan cairan (NIC): atur ketersediaan darah untuk transfuse,
bila perlu; berikan ketentuan penggantian NGT berdasarkan
haluaran, sesuai dengan kebutuhan; berikan terapi IV, sesuai
anjuran.

17

Aktivitas lain:
1) Tentukan jumlah cairan yang masuk selama 24 jam, hitung
asupan yang diinginkan sepanjang siang sore, dan malam hari.
2) Pengaturan cairan (NIC): tentukan asupan oral (misalnya, berikan
cairan oral yang disukai pasien; letakkan pada tempat yang
mudah dijangkau; dan berikan air segar), sesuai dengan keinginan
3) Pasang kateter urin bila perlu
4) Berikan cairan sesuai dengan kebutuhan
c) Gangguan eliminasi urin/retensi urin berhubungan dengan penekanan
pada kandung kemih
Tujuan / Kriteria Evaluasi NOC:
1) Pasien dapat menunjukkan pengosongan kandung kemih dengan
2)
3)
4)
5)

prosedur bersih kateterisasi intermittan mandiri


Pasien dapat bebas dari infeksi saluran kandung kemih
Pasien akan melaporkan penurunan spasme kandung kemih
Pasien mempunyai keseimbangan asupan dan haluaran 24 jam
Pasien dapat mengosongkan kandung kemih secara tuntas

Intervensi NIC :
1) Kaji kemampuan mengidentifikasi kemampuan untuk berkemih
2) Pantau asupan dan haluaran cairan
3) Penyuluhan untuk pasien dan keluarga: instruksikan pasien dan
keluarga untuk mencatat haluaran urin bila diperlukan.
Aktivitas kolaboratif
Rujuk ke perawatan terapi enterostoma utnuk instruksi kateterisasi
intermitten mandiri menggunakan prosedur bersih setiap 4-6 jam pada
saat terjaga, rujuk apda spesialis kontinensia urin jika diperlukan
Aktivitas lain:
1) Lakukan program pelatihan pengosongan kandung kemih
(bladder training)
2) Bagi cairan dalam sehari untuk menjamin asupan yang adekuat
tanpa menyebabkan kendung kemih over-distensi
3) Perawatan retensi urin (NIC): berikan privasi untuk eliminasi,
stimulasi reflek kandung kemih dengan menmpelkan es ke

18

abdomen dana menekan bagian dalam paha atau mengalirkan air,


berikan cukup waktu untuk pengosongan kandung kemih (10
menit), lakukan kateterisasi untuk mengeluarkan urin residu (jika
diperlukan), dan pasang kateter urin (jika diperlukan).
d) Gangguan eliminasi fekal berhubungan dengan penekanan pada rectum
Tujuan / Kriteria Evaluasi NOC:
1) Pola eliminasi dalam rentang yang diharapkan; feses lembut dan
berbentuk
2) Pasien dapat mengeluarkan feses tanpa bantuan obat-obatan
maupun yang lainnya
3) Pasien akan menunjukkan pengetahuan program defekasi yang
dibutuhkan untuk mengatasi efek samping pengobatan
Intervensi:
1) Kaji dan dokumentasikan frekuensi, warna, konsistensi feses,
keluarnya flatus, ada atau tidaknya bising usus dan distensi
abdomen 0pada keempat kuadran.
2) Informasikan kepada pasien kemungkinann konstipasi yang
dirangsang oleh obat
3) Ajarkan pasien tentang efek diet (misalnya cairan dan serat) pada
eliminasi
4) Tekankan penghindaran mengejan selama defekasi untuk
mencegah perubahan tanda vital, sakit kepala atau perdarahan.
5) Kolaborasi: pemberian obat pelembut feses seperti enema dan
laksatif, konsultasikan kepada ahli gizi untuk meningkatkan serat
dan cairan dalam diet.
e) Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan akibat anemia
Tujuan / Kriteria Evaluasi:
1) Pasien akan menerima bantuan atau perawatan total dari pemberi
asuhan, jika diperlukan
2) Pasien dapat mengungkapkan secara verbal kepuasan tentang
kebersihan tubuh dan hygiene oral
3) Pasien dapat mempertahankan mobilitas yang diperlukan utnuk
ke kamar mandi dan menyediakan perlengkapan mandi

19

4) Pasien mampu menghidupkan dan mengatur pancaran dan suhu


air
5) Pasien mampu membersihkan dan mengeringkan tubuh
6) Pasien mampu melakukan perawatan mulut
7) Pasien mampu menggunakan deodorant
Intervensi NIC:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Kaji kemampaun untuk menggunakan alat bantu


Kaji membrane mukosa oral dan kebersihan tubuh setiap hari
Kaji kondisi kulit saat mandi
Pantau adanya perubahan kemampuan fungsi
Pantau kebersihan kuku sesuai kemampuan perawatan diri pasien
Penyuluhan untuk pasien dan keluarga : anjurkan pasien dan
keluarga penggunaan metode alternative untuk mandi dan hygiene

oral
7) Aktivitas kolaboratif: rujuk pasien dan keluarga ke layanan social
untuk perawatan di rumah, gunakan ahli fisioterapi dan terapi
okupasi sebagai sumber-sumber dalam merencanakan tindakan
perawatan pasien (misalnya, untuk menyediakan perlengkapan
adaptif)
Aktivitas lain:
1) Dukung kemandirian dalam melakukan mandi dan hygiene oral,
bantu pasien hanya jika diperlukan
2) Libatkan keluarga dalam pemberian asuhan
3) Akomodasi pilihan dan kebutuhan klien seoptimal mungkin
(misalnya, mandi rendam vs. shower, waktu mandi, dll.)
4) Bantuan perawatan diri : Mandi/Higiene (NIC): berikan bantuan
sampai pasien benar-benar mampu melakukan perawatan diri,
letakkan sabun, handuk, deodorant, alat cukur, dan peralatan lain
yang dibutuhkan disamping tempat tidur atau kamar mandi;
fasilitasi pasien untuk menyikat gigi jika perlu.
5) Cukur pasien, jika diindikasikan
6) Tawarkan untuk mencuci tangan setelah eliminasi dan sebelum
4)

makan.

20

BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 PENGKAJIAN
Tanggal Pengkajian
Tanggal masuk
Ruang/Kelas
Nomer Register
Diagnosa Medis

: 02 Juni 2016
: 01 Juni 2016 pukul 17.00
: Belimbing / II
: 59-82-06
: Mioma Uteri

1. IDENTITAS KLIEN
A. Nama Klien
B. Jenis Kelamin
C. Usia
D. Status Perkawinan
E. Agama
F. Suku bangsa
G. Pendidikan
H. Bahasa yang digunakan
I. Pekerjaan
J. Alamat
K. Sumber Biaya
L. Sumber Informasi

: Ny S
: Perempuan
: 54 tahun
: Menikah
: Kristen
: WNI
:
: Indonesia
:
: Jln. ABD Rahman Soleh RT01/01 NO.16
: Asuransi

: Klien dan Keluarga

2. RESUME
Klien datang ke UGD pukul 14.12 dengan keluhan utama keluar
peranakan sejak 3 minggu yang lalu klien mengalami nyeri klien rencana
histerektomi tanggal 02 juni 2016 pukul 08.00 sudah masuk ruang
operasi, sudah diberi ceftriaxone 1 gr. Kembali kerungan belimbing pukul
12.30 terpasng ivfd RL 500cc terpasang kateter. Klien mengeluh takut,
nyeri, cemas karena muntah 1x cair setelah post op karena efek anastesi.
3. RIWAYAT KEPERAWATAN
A. Riwayat Kesehatan Sekarang:
1) Keluhan Utama
: Nyeri
2) Kronologi Keluhan
:
a) Faktor pencetus
: Luka insisi
21

b) Timbulnya keluhan
c) Lamanya
d) Upaya mengatasi

: Mendadak
: 1detik
: Tarik nafas dalam, Kompres air

hangat
B. Riwayat kesehatan masa lalu.
1) Riwayat Penyakit Sebelumnya (termasuk kecelakaan): Pernah
dirawat tahun 2005 dengan dx: GE
2) Riwayat Alergi (obat, makanan, binatang, lingkungan): Tidak Ada
3) Riwayat pemakaian obat : Tidak Ada
4) Riwayat kesehatan keluarga (genogram dan keterangan tiga
generasi dari klien)
C. Riwayat kesehatan keluarga (genogram dan keterangan tiga generasi
dari klien)
D. Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang menjadi
faktor resiko : Tidak Ada
E. Riwayat Psikososial dan Spiritual
:
1) Adakah orang terdekat klien
: Suami
2) Interaksi dalam keluarga
:
a) Pola komunikasi
: Terbuka
b) Pembuat keputusan
: Bersama
c) Kegiatan kemasyarakatan
: Tidak Ada
3) Dampak penyakit klien terhadap keluarga : Keluarga cemas,
4) Masalah yang mempengaruhi klien
: Tidak Ada
5) Mekanisme koping terhadap stress
( ) pemecahan masalah
( ) minum obat
( ) makan
( ) cari pertolongan
( ) tidur
( ) lain-lain (misal:marah,diam)
6) Persepsi klien terhadap penyakitnya
a) Hal yang sangat dipikirkan saat ini
: Ingin cepat pulang
b) Harapan setelah menjalani perawatan : Cepat sembuh
c) Perubahan yang dirasakan setelah jatuh sakit : Nyeri sehingga
terganggu melaksanakan aktifitas.
7) Sistem nilai kepercayaan :
a) Nilai-nilai yang bertentangan dengan kesehatan : Tidak Ada
b) Aktivitas agama/kepercayaan yang dilakukan : Solat
8) Kondisi

lingkungan

rumah

(lingkungan

rumah

mempengaruhi kesehatan saat ini) : Lingkungan rumah bersih


4. PENGKAJIAN FISIK
A. Pemeriksaan Fisik Umum
1) Berat badan
: 60kg
(Sebelum Sakit : 60 kg)
2) Tinggi badan
: 140 cm
3) Keadaan umum
: ( ) Ringan () Sedang ( ) Berat

22

yang

4) Pembesaran kelenjar getah bening : () Tidak ( ) Ya, Lokasi...


B. Sistem Penglihatan
1) Posisi mata
: () Simetris ( ) Asimetris
2) Kelopak mata
: () Normal ( ) Ptosis
3) Pergerakan bola mata : () Normal ( ) Abnormal
4) Konjungtiva
: () Merah Muda ( )Anemis ( )Sangat
Merah
5) Kornea

: () Normal ( ) Keruh/Berkabut
( ) Terdapat Perdarahan

6) Sklera

: () Ikterik ( ) Anikterik

7) Pupil
8) Otot-Otot Mata

: ()Isoko ( )Anisokor ( )Midriasis ( )Miosis


: () Tidak Ada Kelainan ( )Juling Keluar
( ) Juling Kedalam ( ) Berada Diatas
9) Fungsi Penglihatan : () Baik ( ) Kabur ( ) Dua Bentuk/Diplopia
10) Tanda-tanda radang : Tidak Ada
11) Pemakaian kacamata : Tidak
12) Pemakaian lensa kontak : Tidak
13) Reaksi terhadap cahaya : Baik
C. Sistem Pendengaran
1) Daun telinga
: Normal
2) Karakteristik serum (warna,konsistensi,bau): Normal
3) Kondisi telinga tengah
: Normal
4) Cairan dari telinga
: Tidak
5) Perasaan penuh ditelinga
: Tidak
6) Tinitus
: Tidak
7) Fungsi pendengaran
: Normal
8) Gangguan keseimbangan
: Tidak
9) Pemakaian alat bantu
D. Sistem Wicara
( ) Normal
( ) Aphasia
( ) Dysartria
( ) Anarthia

: Tidak

( ) Tidak :....
( ) Aphonia
( ) Dyphasia

E. Sistem Pernafasan
1) Jalan nafas
2) Pernafasan

: Bersih
: Tidak sesak

23

3) Menggunakan otot bantu pernafasan


4) Frekuensi
5) Irama
6) Jenis pernafasan
7) Kedalaman
8) Batuk
9) Sputum
10) Konsistensi
11) Tedapat darah
12) Palpasi dada
13) Perkusi dada
14) Suara nafas
15) Nyeri saat bernafas

: Tidak
: 20xMenit
: Teratur
: Spontan
: Dangkal
: Tidak
: Tidak
:
: Tidak
:
:
: Vesikuler
: Tidak

16) Penggunaan alat bantu nafas

: Tidak

F. Sistem Kardiovaskuler
1) Sirkulasi Peripher
a) Nadi : 70x/menit
Irama : teratur
Denyut : kuat
b) Tekanan Darah
c) Distensi vena jugularis
d) Temperatur Kuli
e) Warna Kulit
f) Pengisian kapiler

: 130/80mmHg
: Kanan Tidak
Kiri Tidak
: Hangat
: Pucat
: <3 detik

g) Edema

: Tidak

2) Sirkulasi Jantung
a) Kecepatan denyut apikal
b) Irama
c) Kelainan bunyi jantung
d) Sakit dada

: ........... x/menit
:
: Tidak Ada
: Tidak Ada

G) Sistem Hematologi
1) Pucat

: Ya

2) Perdarahan

: Tidak

H) Sistem Syaraf Pusat


1) Keluhan sakit kepala
2) Tingkat kesadaran
3) Glosgow coma scale

: Tidak
: Compos Mentis
: E: 4 M:6 V:5

24

4) Tanda-tanda peningkatan TIK


5) Gangguan sistem persyarafan
6) Pemeriksaan reflek :
(a) Reflek Fisiologis
(b) Reflek Patologis

: Tidak
: Tidak Ada
: Normal
: Tidak

I) Sistem Pencernaan
1) Keadaan mulut :
a) Gigi
b) Penggunaan gigi palsu
c) Stomatitis
d) Lidah kotor
e) Salifah
f) Muntah
g) Nyeri daerah perut
h) Skala nyeri
i) Lokasi dan karakter nyeri
j) Bising usus
k) Diare
l) Konsitipasi
m) Hepar

: Tidak
: Tidak
: Tidak
: Tidak
: Normal
: Tidak
: Ya, Lokasi kemdon
: 4-6
: Seperti ditusuk-tusuk
: 12 x/menit
: Tidak
: Tidak
: Tidak teraba

n) Abdomen

: Supel

J) Sistem endokrin
1) Pembesaran kelenjer tiroid
2) Nafas bau keton

: Tidak
: Tidak

3) Luka ganggren

: Tidak

K) Sistem Urogenital
Balance cairan

: Intake ....... ml ; Output ......

ml
Perubahan pola kemih
B.a.k
Distensi/ketegangan kandung kemih
Keluhan sakit pinggan
Skala nyeri

:
: Warna kuning jerni
:
: Tidak
:-

L) Sistem Integumen
1)
2)
3)
4)
5)

Turgor kulit
Temperatur kulit
Warna kulit
Keadaan kulit
Kelainan kulit

: Elastis
: Hangat
: Pucat
: Baik
: Tidak
25

6) Keadaan rambut

: Baik

M) Sistem Muskuloskeletel
Kesulitan dalam pergerakan
Sakit pada tulang,sendi, kulit
Fraktur
Kekuatan otot

: Tidak
: Tidak
: Tidak
: 4444

4444

4444

4444

5. DATA TAMBAHAN (PEMAHAMAN TENTANG PENYAKIT):


3.2 DATA PENUNJANG
Pemeriksaan Lab :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Ureum
Kreatinin
SGOT
SGPT

: 12,8
: 37
: 8,5
: 377
: 17
: 6,8
: 13
: 10

3.3 PENATALAKSANAAN
1. Medis:
a. Co Amoxiclav 3x1 (po)
b. Asam mefenamat 3x1 (po)
c. Ceftriaxone 1 gr (inj)
2. Cairan : ivfd RL 500cc 20tts/menit
3. Diet : biasa
3.4 DATA FOKUS
Nama Pasien : Ny.S

No. Rekam Medis : 59-82-06

Diagnosa

Nama Perawat

: Mioma uteri

: .........

Data subyektif
Klien mengatakan nyeri pada bagian

Data obyektif
Keadaan umum : sakit sedang

luka insisi

Kesadaran : Compos mentis


Tanda-tanda vital : TD : 130/80 mmHg
N: 70x/menit RR: 20x/menit S:36 c
P : nyeri saat bergerak

26

Q: seperti ditusuk
R: perut bawah
S: 6
T; hilang timbul
Pemeriksaan Fisik :
Kepala : normocepal, pertumbuhan
rambut merata
Mata: konjungtuva anemis, sklera
anikterik
Mulut: mukosa bibir basah
Jantung : Bj I/ Bj II (+)
Thorak paru: dada simetris, suara nafas
vaskuler
Abdomen: supel
Ekstremitas atas : terpasang ivfd RL
500cc 20tts/menit
Keadaan umum
Tingkat kesadaran
GCS : E : 4 M:6 V:5

Kekuatan otot :
4444

4444

4444

4444

Data penunjang :
HB: 12,8

HT : 37

ureum : 17

L : 8,5

kreatinin: 6,8

T: 377

SGOT : 13

SGPT : 10

Terapi

27

Lo Amoxiclan 3x1
Asam mefenamat 3x1
Ceftriaxone 1 gr
Diit : biasa

3.5 ANALISA DATA


No

Data

Masalah

.
1

DS : klien mengatakan nyeri pada

Gangguan nyaman nyeri

perut bagian bawah


DO: KU: sakit sedang
Kesadaran : composmentis
TD: 130/80 mmHg
N: 70x/menit
RR: 20x/menit
S: 36C
P: nyeri saat bergerak
Q: seperti ditusuk
R: perut bagian bawah
S: 6
T: hilang timbul
HB: 12,8
HT : 37

ureum : 17

L : 8,5

kreatinin: 6,8

T: 377

SGOT : 13

SGPT : 10
2

DS: klien mrngatakan nyeri

Resiko infeksi

DO: KU: sakit sedang


Kesadaran : composmentis
TD: 130/80 mmHg
N: 70x/menit

28

RR: 20x/menit
S: 36C
Skala nyeri 6
3.

DS: klien mengatakan badan

Defisit perawatan diri

lengket
DO: KU: sakit sedang
Kesadaran : composmentis
TD: 130/80 mmHg
N: 70x/menit
RR: 20x/menit
S: 36C
Klien terlihat tidak nyaman karena
badan lengket

29

3.6 DIAGNOSA KEPERAWATAN


(Sesuai Prioritas 1, 2, 3)
No
1.

Diagnosa keperawatan (P&E)


Gangguan nyaman nyeri b.d luka post histerektomi

Resiko infeksi b.d tindakan infasif


2.

Defisist perawatan diri b.d kelemahan fisik

3.

30

Nama jelas

3.7 RENCANA KEPERAWATAN


(Meliputi tindakan keperawatan independen dan interdependent)
Tgl

No

1.

Diagnosa

Tujuan dan kriteria

keperawatan

hasil

(P&E)
Gangguan

Setelah dilakukan

nyaman nyeri

intervensi selama

b.d luka post

3x24 jam diharapkan

histerektomi

nyeri berkurang
dengan KH:
- TTV klien dalam
batas normal
- Klien mengatakan
nyeri berkurang
- Klien tampak rileks

Rencana keperawatan

1. Kaji tanda tanda vital


2. Kaji PQRST
3. Ajarkan teknik
relaksasi misal teknik
tarik nafas dalam
4. Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi nyeri
seperti kebisingan
5. Atur posisi nyaman
klien

Resiko infeksi
b.d tindakan

Setelah dilakukan

infasif

intervensi selama

1. Kaji tanda-tanda

3x24 jam diharapkan

vital
2. Monitor tanda dan

resiko infeksi dapat


diatasi dengan KH :
-Klien bebas dari

3.
Defisit
Keperawatan

gejala infeksi local

tanda dan gejala

dan sistemik
3. Batasi pengunjung

infeksi
-Klien dapat

bila perlu
4. Pertahankan

menunjukan

tindakan antiseptic

kemampuan

pada daerah insisi

mencegah infeksi

diri b.d
Kelemahan
Fisik

Setelah dilakukan
intervensi selama
3x24 jam diharapkan
perawatan diri

31

1. Kaji kondisi klien


2. Motivasi klien untuk

Evaluasi

terpenuhi dengan KH
-Klien merasa
nyaman
- Kebutuhan
perawatan diri
terpenuhi

melakukan
perawatan diri
3. Bantu klien dalam
perawatan diri
4. Libatkan keluarga
dalam perawatan diri

32

3.8 PELAKSANAAN KEPERAWATAN


(CATATAN KEPERAWATAN)
Tgl/
Waktu

No. Dx

2 Juni 2016 Dx 1,2,3


Jam 10. 00

Jam 11.00
Dx 1

Tindakan Keperawatan dan


reaksi hasil
Mengukur tanda-tanda vital
TD : 130/80 mm/Hg
N : 70x/m
RR : 20x/m
S : 36 C
- Kaji skala Nyeri
P : Nyeri saat bergerak
Q : Seperti di tusuk-tusuk
R : Perut Bawah
S:6
T: Hilang Timbul
- Latihan Nafas dalam
- Atur posisi nyaman klien
- Pemberian Asam
Mefenamat 3x1 p.o

Jam 8.00

Mengkaji tanda dan


gejala infeksi

Pemeberian
Co Amoxiclav 3x1 (po)

Jam 13.00

Ceftriaxone 1 gr (inj)

Dx 2
3 Juni 2016
Jam 10.00

Membantu Proses
Eliminasi (BAB)

Jam 08.15
Dx 3

Mengukur tanda-tanda vital


TD : 120/80 mm/Hg
N : 70x/m
RR : 21x/m
S : 36 C

33

Paraf dan
nama jelas

Dx 1,2,3

Kaji skala Nyeri


P : Nyeri saat bergerak
Q : Seperti di tusuk-tusuk
R : Perut Bawah
S:6
T: Hilang Timbul

Latihan Nafas dalam


Pemberian asam

Jam 08.30

Dx 1

Mefenamat 3x1 p.o

Jam 11.30
-

Mengkaji tanda dan


gejala infeksi

4 juni 2016
Jam 8.30

Pemeberian
Co Amoxiclav 3x1 (po)
Ceftriaxone 1 gr (inj)

Jam 08.30
-

Membantu Mengganti
pakaian

Dx 2

Mengukur tanda-tanda
vital
TD : 120/80 mm/Hg
N : 80 x/m
RR : 21x/m
S : 37 C

Jam 08.30

Dx 3

Dx 1,2,3,

Jam 12.15

Kaji skala Nyeri


P : Nyeri saat bergerak
Q : Seperti di tusuk-tusuk
R : Perut Bawah
S:4
T: Hilang Timbul
Latihan Nafas dalam
Pemberian Asam
Mefenamat 3x1 p.o

Mengkaji tanda dan


gejala infeksi

34

Dx 1

Pemeberian
Co Amoxiclav 3x1 (po)
Ceftriaxone 1 gr (inj)

Pemberian cairan RL
500cc

Membantu Proses
Eliminasi (BAB)

Dx 2

Dx 3

35

3.9 EVALUASI
Hari/tgl/jam

Dx

Evaluasi hasil (SOAP)

Paraf/nama
jelas

2 juni 2016

Dx 1

S : Klien mengatakan nyeri di bagian


perut bawah
O:
-

TTV
TD : 130/80 mm/Hg
N : 70x/m
RR : 20x/m
S : 36 C

Skala Nyeri :

P : Nyeri saat bergerak


Q : Seperti di tusuk-tusuk
R : Perut Bawah
S:6
T: Hilang Timbul
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
- Latihan Nafas dalam
- Kontrol lingkungan yang dapat
Dx 2

mempengaruhi nyeri seperti


-

kebisingan
Atur posisi nyaman klien

S : Klien mengatakan nyeri di bagian


perut bawah
O:
-

TTV
TD : 130/80 mm/Hg
N : 70x/m
RR : 20x/m
S : 36 C

Hema 1 :
Hb : 12,8 g/dL

Dx 3

Ht : 37 vol %

36

L ; 8,5 ribu/ul
T : 377 ribu/ul
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan
-

Mengkaji tanda dan gejala

infeksi
Bersihkan area sekitar luka
operasi

S : Klien mengatakan badannya


lengket dan gatal
O:
3 juni 2016

Dx 1

TTV

TD : 130/80 mm/Hg
N : 70x/m
RR : 20x/m
S : 36 C
Klien tampak menggaruk-

garuk badannya
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan
- Bantu klien dalam perawatan
-

diri
Libatkan keluarga dalam
perawatan diri

S : Klien mengatakan nyeri di bagian


perut bawah
O:
Dx 2
-

TTV
TD : 120/80 mm/Hg
N : 70x/m
RR : 21x/m
S : 36 C

Skala Nyeri :

37

Dx 3

P : Nyeri saat bergerak


Q : Seperti di tusuk-tusuk
R : Perut Bawah
S:6
T: Hilang Timbul
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
- Latihan Nafas dalam
- Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti
-

kebisingan
Atur posisi nyaman klien

S : Klien mengatakan nyeri di bagian


perut bawah
O:
4 juni 2016

TTV
TD : 120/80 mm/Hg
N : 70x/m
RR : 21x/m
S : 36 C

Dx 1

A : Masalah belum teratasi


P : Intervensi di lanjutkan
-

Mengkaji tanda dan gejala

infeksi
Bersihkan area sekitar luka
operasi

S : Klien mengatakan badannya


lengket dan gatal
O:
-

TTV

TD : 120/80 mm/Hg
N : 70x/m
RR : 21x/m
S : 36 C
Klien tampak menggaruk-

Dx 2

38

garuk badannya
A ; Masalah belum teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
- Bantu klien dalam perawatan
-

diri
Libatkan keluarga dalam
perawatan diri

Dx 3

S : Klien mengatakan nyeri di bagian


perut bawah
O:
-

TTV
TD : 120/80 mm/Hg
N : 80 x/m
RR : 21x/m
S : 37 C

Skala Nyeri :

P : Nyeri saat bergerak


Q : Seperti di tusuk-tusuk
R : Perut Bawah
S:6
T: Hilang Timbul
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
- Latihan Nafas dalam
- Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti
-

kebisingan
Atur posisi nyaman klien

S : Klien mengatakan nyeri di bagian


perut bawah
O:
-

TTV
TD : 120/80 mm/Hg
N : 80 x/m

39

RR : 21x/m
S : 37 C
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan
-

Mengkaji tanda dan gejala

infeksi
Bersihkan area sekitar luka
operasi

S:
-

Klien mengatakan baju basah

dan bau
Klien mengatakan badan gerah

TTV

TD : 120/80 mm/Hg
N : 80 x/m
RR : 21x/m
S : 37 C
Klien tampak menggaruk-

O:

garuk badannya
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
- Bantu klien dalam perawatan
-

diri
Libatkan keluarga dalam
perawatan diri

5)

40

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Pengkajian
Pada pembahasan laporan kasus ini dalam pengkajian penulis menggunakan
metode wawancara pasien dan keluarga. Pemeriksaan fisik juga dilakukan dalam
memperoleh data pasien. Melalui pemeriksaan diperoleh data yang valid dan
sesuai kenyataan yang ada pada pasien saat itu. Sedangkan wawancara bila tidak
terarah dan tidak fokus membutuhkan waktu yang lama dan bisa saja mengatakan
yang tidak sebenarnya. Pengkajian pasien juga diperoleh dengan melihat status
perkembangan kesehatan di ruangan. Data yang diambil adalah pemeriksaan
penunjang dan pemeriksaan laboratorium.

4.2 Diagnosa
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan denganluka post histerektomi.
Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan
meningkat akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial,
digambarkan dalam istilah seperti kerusakan (International Association for the
Study of Pain) awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan
sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan
durasinya kurang dari enam bulan. Nyeri dapat didiagnosis berdasarkan
laporan pasien karena skala nyeri mencapai angka 6kadang. Nyeri dapat juga
menjadi etiologi yaitu faktor yang berhubungan untuk diagnosis keperawatan
yang lain.
2. Resiko Infeksi berhubungan dengan tindakan infasif. Dalam Kamus
Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan multiplikasi
mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang menimbulkan cedera

41

seluler setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin, replikasi intraseluler


atau reaksi antigen-antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya patogen tidak
berarti bahwa infeksi akan terjadi. Resiko infeksi dapat diangkat sebagai
diagnosa karena luka insisi yang di alami pasie dapat beresiko infeksi. Perlu
adanya monitoring luka bekas post operasi agar tidak terjadi infeksi sistemik
pada pasien.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik. Defisit
keperawatan diri adalah suatu kondisi pada seseorang yang mengalami
kelemahan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktifitas
perawatan diri secara mandiri seperti mandi ( hygiene ) , berpakaian / berhias,
makan dan BAB atau BAK ( toileting ). Defisit keperawatan diri dapat
diangkat diagnose karena berdasarkan data dari pasien, keluhan nyerinya
tidak bisa membuat pasien banyak bergerak sehingga pasien tidak bisa
melakukan perawatan diri secara mandiri.

42

4.1 KESIMPULAN
Diagnosa yang diambil kelompok pada kasus ini adalah Gangguan Rasa
Nyaman (Nyeri) dengan skala nyeri 6.
Penatalaksanaan yang dilakukan pada kasus ini adalah Operasi
Histerektomi.

43

DAFTAR PUSTAKA

Achadiat CM. 2004. Prosedur tetap Obstetri dan ginekologi. Jakarta : EGC
Bobak, Lowdermilk. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi keempat.
Jakarta:EGC.
Callahan MD MPP, Tamara L. 2005. Benign Disorders of the Upper Genital Tract
in Blueprints Obstetrics & Gynecology. Boston : Blackwell Publishing.
Chelmow

D.

2005.

Gynecologic

Myomectomy

Http://www.emedicine.com/med/topic3319.html. 20 November 2012


Crum MD, Christoper P& Kenneth R Lee MD.2003. Tumors of the Myometrium
in Diagnostic Gynecologic and Obstetric Pathology. Boston: Elseviers
Saunders.
Dewi.

2009.

Kti

Kejadian

mioma

uteri.

(http://ktikebidanan.blogspot.com/2011/01/mioma-uteri.html), diakses pada


tanggal 12 mei 2012.
Djuwantono T. 2005. Terapi GnRH Agonis Sebelum Histerektomi atau
Miomektomi. Farmacia Vol III NO.12 Juli 2004. Jakarta
Doenges, M.E. 2000 Rencana Keperawatan. Jakarta : EGC
Hadibroto Budi R, 2005. Mioma uteri. Dalam: Majalah Kedokteran Nusantara
Volume 38,No.3,September 2005: 255-260
Joedosapoetro MS. 2005. Ilmu Kandungan Wiknjosastro H, Saifudin AB,
Rachhimhadi T. Editor. Edisi Ke-2 .Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Mansjoer Arif. 2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Manuaba IBG. 2003. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetric dan Ginekologi.
Edisi 2. Jakarta : EGC
44

Marylynn. E.Doengus. 2000. Rencana Asuhan keperawatan, edisi 3, penerbit


buku kedokteran, Jakarta.
NANDA. 2005. Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2005 2006, Philadelphia.
Parker WH 2007. Etiology Symptomatology and Diagnosis of uterine Myomas.
Volume 87. Departmen of Obstetrics and gynecology UCLA School of
Medicine. California: American Society for Reproductive Medicine
Prawirohardjo Sarwono. 2010. Ilmu Kandungan Yayasan Bina Pustaka. Jakarta:
PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Wilkinson Judith M. 2007. Diagnosis Keperawatan NIC dan NOC. Jakarta :
EGC

45