Anda di halaman 1dari 2

Sistem Pertolongan Gawat Darurat Yang Terintegrasi

Sejak tahun 2000 Kementerian Kesehatan RI telah mengembangkan konsep Sistem


Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) memadukan penanganan gawat
darurat mulai dari tingkat pra rumah sakit sampai tingkat rumah sakit dan rujukan antara
rumah sakit dengan pendekatan lintas program dan multisektoral.
Berikut ini gambaran pelaksanaan Sistem Penanggulangan Penderita Gawat Darurat
Terpadu sesuai dengan Modul BTLS pro Emergency yaitu:
1. Ketika terjadi kecelakaan atau kegawatdaruratan medis maka penderita akan
terlebih dahulu ditemukan oleh orang awam yang ada disekitarnya.
2. Orang awab bertugas untuk mengamankan terlebih dahulu diri sendiri, lingkungan
dan penderita
3. Setelah mengamankan lingkungan dan korban, orang yang pertama kali
menemukan penderita harus mengaktifkan SPGDT dengan cara meminta bantuan
kepada pusat komunikasi gawat darurat (Dispatheraa).
4. Dispatcher yang menerima panggilan harus melakukan bimbingan pertolongan awal
kepada penolong pertama. Setelah itu dispather mendistribusikan informasi kepada
polisi, pemadam kebakaran, rescue dan ambulans gawat darurat yang terdekat
dengan lokasi kejadian.
5. Petugas yang datang kelokasi bertugas untuk melanjutkan pertolongan sebelumnya.
Selain itu polisi bertugas mengamankan lingkungan, pemadam bertugas
memadamkan api dan memeriksa potensi kebakaran, rescue bertugas untuk
mengeluarkan korban yang terjepit atau terperangkap
6. Petugas ambulans gawat darurat bertugas untuk stabilitas penderita ke rumah sakit
rujukan yang sudah dihubungi dan ditunjuk oleh dispatcher.
7. Sesampainya di rumah sakit rujukan petugas ambulans dan petugas UGD
melakukan serah terima penderita.
8. Petugas UGD melanjutkan tindakan sebelumnya, melakukan tindakan invasif dan
pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Petugas UGD juga menentukan rujukan
selanjutnya ke kamar operasi, ICU,ruang perawatan atau rumah sakit lain yang lebih
mampu.
9. Apabila akan melakukan rujukan ke rumah sakit lain maka petugas UGD harus
menghubungi dispatcher lagi untuk mencari rumah sakit rujukan yang tepat.
10. Penderita yang telah selesai mendapatkan perawatan di rumah sakit pulang ke
rumahnya dengan sehat atau memerlukan perawatan jalan/kontrol.
Dengan pelaksanaan SPGDT yang terintegrasi diharapkan tidak ada pasien pulang dalam
keadaan gagal mendapat pelayanan atau meninggal dunia, ini sebagai upaya pelayanan
prima yang dapat ditawarkan dalam menangani keadaan Gawat Darurat. Tujuan dari
Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD) adalah :
1. Mencegah bahaya kematian atau mempertahankan hidup
2. Mencegah cacat

3. Mencegah penurunan kondisi fisik


4. Mencegah infeksi
5. Mengurangi rasa sakit.

Cara memberikan pertolongan pertama i:


1. Jika melihat korban terjadi pendarahan, segera hentikan pendarahan dengan cara
diperban atau dibalut agar aliran darah terhenti.
2. Bagaimana mengangkat korban yang benar jika korban mengalami patah tulang.
3. Bagaimana cara memberi nafas buatan jika korban pingsan sebelum pertolongan
medis datang.
4. Bagaimana cara membalut luka korban dengan benar supaya tidak terjadi
pendarahan yang lebih parah.
5. Apabila melihat ada korban yang mengalami cidera, sebaiknya mencari bantuan
orang lain atau panggil paramedis dan jangan melakukan pertolongan sendiri.
6. Membawa korban dengan menggunakan kendaraan yang nyaman agar luka
korban tidak semakin parah.
Keberhasilan Penanggulangan Pasien Gawat Darurat Tergantung 4 Kecepatan :
1. Kecepatan ditemukan adanya penderita GD
2. kecepatan Dan Respon Petugas
3. Kemampuan dan Kualitas
4. Kecepatan Minta Tolong
Kemungkinan yang terjadi jika terlambat melakukan resusitasi
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Koordinasi Lintas Unit
0- 4 Menit

Kerusakan Sel-sel otak tidak diharapkan


Mati Klinis

4-8 menit

Mungkin sudah terjadi Kerusakan Sel-Sel Otak

8-10 menit

Sudah Mulai terjadi Kerusakan Otak


Mati Biologis

>10 menit

Hampir Dipastikan terjadi Kerusakan sel-sel Otak