Anda di halaman 1dari 20

SISTEM KARDIOVASKULAR

I. PRINSIP
1. Memenuhi kebutuhan suplai darah ke jaringan sesuai dengan aktivitas jaringan
2. Mempertahankan aliran darah ke jaringan spesifik seperti ke jantung, ke otak dan
ke ginjal, pada gangguan aliran darah (misal akibat perdarahan) dengan
mengurangi aliran darah ke jaringan lainnya
II. TUJUAN
Mahasiswa Mampu :
1. Menjelaskan pengertian tekanan darah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2. Menjelaskan fenomena pengaturan aliran darah.
3. Menjelaskan karakteristik darah dan manfaat penentuan parameter-parameter
hematologi.
III.

TEORI SINGKAT
1. PEMBULUH DARAH DAN TEKANAN DARAH
Sistem kardiovaskular merupakan sistem yang memberi fasilitas proses
pengangkutan berbagai substansi dari, dan ke sel-sel tubuh. Sistem ini terdiri dari organ
penggerak yang disebut jantung, dan sistem saluran yang terdiri dari arteri yang
mergalirkan darah dari jantung, dan vena yang mengalirkan darah menuju jantung.
Sistem peredaran darah atau sistem kardiovaskular adalah suatu sistem organ yang
berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu
dan pH tubuh (bagian dari homeostasis).
Ada dua jenis sistem peredaran darah: sistem peredaran darah terbuka, dan sistem
peredaran darah tertutup. Sistem peredaran darah, yang merupakan juga bagian dari
kinerja jantung dan jaringan pembuluh darah (sistem kardiovaskuler) dibentuk. Sistem
ini

menjamin

kelangsungan

hidup

organisme,

didukung

oleh

metabolisme

setiap sel dalam tubuh dan mempertahankan sifat kimia dan fisiologis cairan tubuh.
1. Pertama, darah mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel dan karbon dioksida
dalam arah yang berlawanan .
2. Kedua, yang diangkut dari nutrisi yang berasal pencernaan seperti lemak, gula dan
protein

dari

saluran

pencernaan

dalam

jaringan

masing-masing

mengonsumsi, sesuai dengan kebutuhan mereka, diproses atau disimpan.

untuk

Metabolit yang dihasilkan atau produk limbah (seperti urea atau asam urat) yang
kemudian diangkut ke jaringan lain atau organ-organ ekskresi (ginjal dan usus besar).
Juga mendistribusikan darah seperti hormon, sel-sel kekebalan tubuh dan bagian-bagian
dari sistem pembekuan dalam tubuh.
2. DARAH
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan)
tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan
oleh jaringantubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga
sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan
dengan darah diawali dengan katahemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa
Yunani haima yang berarti darah.
Darah adalah suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang
warnannya merah. Warna merah itu keadaannya tidak tetap tergantung pada banyaknya
kadar oksigen dan karbondioksida didalamnya. Darah yang banyak mengandung
karbon diogsida warnanya merah tua. Adanya oksigen dalam darah di ambil dengan
cara bernapas, dan zat tersebut sangat berguna pada peristiwa pembakaran/
metabolisme di dalam tubuh. Vikositas/ kekentalan darah lebih kental dari pada air
yang mempunyai BJ 1,041-1,065, temperatur 380C, dan PH 7,37-7,45.
Darah selamanya beredar di dalam tubuh oleh karena adanya kerja atau pompa
jantung. Selama darah beredar dalam pembuluh maka darah akan tetap encer, tetapi
kalau ia keluar dari pembuluhnya maka ia akan menjadi beku. Pembekuan ini dapat
dicegah dengan jalan mencampurkan ke dalam darah tersebut sedikit obat antipembekuan/sitrus natrikus. Dan keadaan ini akan sangat berguna apabila darah tersebut
diperlukan untuk transfusi darah.
Pada tubuh yang sehat atau orang dewasa terdapat darah sebanyak kira-kira 1/13
dari berat badan atau kira-kira 4-5 liter. Keadaan jumlah tersebut pada tiap-tiap orang
tidak sama, bergantung pada umur, pekerjaan, keadaan jantung, atau pembuluh darah.

A. Fungsi Darah:
1. Sebagai alat pengangkut yaitu:
a. Mengambil oksigen/zat pembakaran dari paru-paru untuk diedarkan
keseluruh jaringan tubuh.
b. Mengangkut karbon dioksida dari jaringan untuk dikeluarkan melalui
paru-paru.
c. Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan
dibagikan ke seluruh jaringan/alat tubuh.
d. Mengangkat/mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk
dikeluarkan melalui ginjal dan kulit.
2. Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit dan racun dalam tubuh
dengan perantaraan leukosit dan antibodi/zatzat anti racun.
3. Menyebarkan panas keseluruh tubuh.
B. Kandungan Darah
Kandungan dalam darah:
a. Air : 91%
b. Protein : 3% (albumin, globulin, protombin dan fibrinigen)
c. Mineral
: 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam fosfat,
magnesium, kalsium, dan zat besi).
d. Bahan organik : 0,1% (glukosa, lemak asam urat, kreatinin, kolesterol, dan
asam amino).
Golongan darah adalah pengklasifikasian darah dari suatu individu berdasarkan
ada atau tidak adanya zat antigen warisan pada permukaan membran sel darah merah.
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang
terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:
a. Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di
permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B
dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya
dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.
b. Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah
merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya.
Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah
dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif.
c. Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A
dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga,
orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan
golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan
3

golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama
AB-positif.
d. Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi
memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan
golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan
golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan
golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.
Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di dunia,
meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan darah A lebih
dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B. Karena golongan darah
AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B, golongan darah ini adalah jenis yang
paling jarang dijumpai di dunia.
Ilmuwan

Austria, Karl

Landsteiner,

memperoleh

penghargaan Nobel dalam

bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara
penggolongan darah ABO.

IV.

BAHAN DAN ALAT


1. PEMBULUH DARAH DAN TEKANAN DARAH
Sfigmomanometer
Stetoskop
2. DARAH
Alat:

Bahan:

1. Lanset darah
2. Hemositometer
3. Tabung reaksi
4. Kaca obyek
5. Pipet pengencer sel darah merah
6. Pipet pengencer sel darah putih
7. Mikroskop
8. Pipa kapiler hematokrit
9. Sentrifuga henatokrit
10. Alat pengukur hematocrit
11. Kertas test tallquist
12. Pipet sahli
13. Lilin
14. Tusuk gigi
15. Stop wach
16. Tali

1. Kapas
2. Alcohol 70%
3. Nacl
4. Na sitrat
5. Asam asetat
6. Gentian violet
7. Serum anti A, anti B dan
serum Rh

V.

PROSEDUR PERCOBAAN
1. PEMBULUH DARAH DAN TEKANAN DARAH
a. Pengukuran Tekanan Darah
Tekanan darah dapat ditentukan dengan cara palpatori atau auskultasi. Kedua cara
ini menggunakan ban yang dililitkan rapi pada lengan atas. Ban diikat sedemikian rupa
sehingga tabung-tabung karet mengarah ke ban bawah. Lengan disandarkan pada meja.
i.
Cara palpatori
Tutup sekrup pentil pada bola karet yang dipegang dengan tangan kanan.
Dengan ibu jari tangan kiri, rabalah nadi pada pergelangan tangan yang akan

diukur tekanannya.
Berangsurangsur kembangkan ban dengan memompa bola karet perhatikan
tekanan pada saat denyut nadi menghilang. NaikKan tekanan 10 mmHg lagi di

atas tekanan tadi.


Turunkan tekanan berangsur-angsur dengan cara perlahan-lahan membuka

sekrup pentil.
Tekanan manometer disaat munculnya kembali denyut nadi untuk pertama kali
adalah tekanan sistolik yang diukur.

ii.

Cara auskultasi
Ikatkan ban pada lengan atas.
Tempatkan bel stetoskope pada percabangan arteri bronchial menjadi arteri

ulnaris dan arteri radalis.


Naikan tekanan dalam ban, sehingga aliran dalam arteri radialis dan arteri

ulnaris dihambat.
Turunkan tekanan berangsur-angsur dengan membuka skrup pentil.
Catat tekanan saat bunyi terdengar untuk pertama kalinya.ini merupakan

tekanan sistolik.
Turunkan terus tekanan dalam ban, sampai pada suatu saat bunyi tidak

terdengar lagi.
Catat tekanan saat bunyi menghilang.inimerupakan tekanan diastolik.

Lakukan pengukuran tekanan darah terhadap 2 anggota dari masing-masing


kelompok, seseorang perempuan dan seorang laki-laki, menurut posisi dan aktivitas
yang tercantum pada table berikut:
Tabel
Hubungan Tekanan Dengan Posisi/Aktivitas Tubuh

Posisi

Tekanan Darah

Tekanan Darah

atau

Perempuan

Laki-laki

Aktifitas

(systole/diastole)

(systole/diastole)

Duduk
Berbaring
Kaki 90 tubuh
Berdiri
Kerja otak (diberi soal hitungan)
Gerak badan selama 1 menit

Bahas bagaimana kaitan antara perubahan tekanan darah dengan perubahan posisi
atau aktifitas dan bagaimana mekanismenya.
b. Hyperemia
i.
Hyperemia pasif/reaktif
Ikatkan seutas benang di atas sendi kedua pada sebuah jari tangan anda.

ii.

Biarkan beberapa menit.


Amati
peristiwa
yang

ukuran,perubahan suhu)
Mengapa jenis hyperemia ini dikatakan hiperimia tipe pasif?
Peristiwa fisiologi apa yang menyebabkannya?

terjadi

(perubahan

warna,perubahan

Hyperemia aktif/fungsional
Rendam sebuah jari tangan anda dalam air panas (dengan suhu

tertinggiyang dapat saudara tahan) biarkan beberapa menit.


Amati
peristiwa
yang
terjadi
(perubahan
warna,perubahan

ukuran,perubahan suhu)
Mengapa jenis hyperemia ini dikatakan hiperimia tipe aktif?
Peristiwa fisiologi apa yang menyebabkannya?
Catat perbedaan gejala yang timbul antara kedua tipe hyperemia ini.

2. DARAH
a. Anatomi
i.
Karakteristik dan Morfologi Darah
Cara memperoleh darah segar untuk pemeriksaan:

Bersihkan jari manis atau kelingking dengan kapas yang dibasahi dengan
etanol 70%. Biarkan etanol menguap.
7

Ambil darah dengan cara menusukan lanset steril keujung jari yang telah

dibersihkan.
Sebaiknya darah mengalir dengan sendirinya tanpa tekanan.
Jangan menggunakan tetes pertama.

(a) Cara pengisian pipet :


Pegang pipet dekat pada ujungnya.
Tempatkan ujung pipet tersebut pada tetesan darah segar sehingga darah

masuk sebanyak 0,5 tanda.


Isi pipet dengan cairan pengencer, pipet dengan keadaan horizontal

sebanyak yang ditentukan.


Jangan sampai terbentuk gelembung udara di dalam pipet.
Tutup ujung pipet dengan jari,kemudian kocok selama 2 menit.
Teteskan 2 tetes larutan encer ini pada hemocytometer.
Tutup hemocytometer dengan cover glass
Setelah setengah menit ,hitung jumlah sel darah dibawah mikroskop.

(b) Pengukuran sel darah merah :


Ambil darah segar.
Encerkan 200x dengan cairan pengencer sel darah merah yaitu natrium

sitrat 2.5%, kocok.


Teteskan 2 tetes pada hemositometer.
Hitung jumlah sel darah merah. Sel darah merah yang dihitung adalah sel
yang terdapat pada 5 kotak kecil pada kotak besar yang terdapat dipusat,

yaitu dari kotak-kotak kecil pada tiap sudut dan pada pusat kotak.
Sel darah merah yang menyentuh batas atau berada diatas batas ,hanya

dihitung pada 2 sisi yang saling tegak lurus dari kotak ybs.
Factor perhitungan untuk yang menghitung sel darah merah adalah
10.000. jadi untuk memperoleh nilai sel darah merah per mm 3 darah,
kalikanlah jumlah sel darah merah yang diperoleh dari hasil perhitungan
dengan 10.000. Faktor perhitungan ini diperoleh dari hasil perhitungan
antara volume kamar hitung pada hemositometer dengan factor
pengenceran. (Lihatlah pada literature, bagaimana bentuk sel darah
merah)

(c) Pengukuran sel darah putih:


Ambil darah segar
Encerkan 20x dengan cairan pengencer larutan Turk
Larutan Turk terdiri dari:
Asam asetat 1 ml
Lar.gentian violet 1% (dalam air) 1 ml
8

Aquadest ad 100 ml
Teteskan 2 tetes pada hemositometer
Hitung jumlah sel darah putih
Hitung jumlah neutrofil,eosinofil,basofil ,limfosit dan monosit serta

persentasinya terhadap sel darah putih total


Sel darah putih yang dihitung adalahyang terdapat pada 4 kotak besar

pada kedua sudut hemositometer


Sel darah putih yang berada pada batas ,dihitung dari dua sisi yang saling

tegak lurus dari kotak ybs.


Factor perhitungan untuk menghitung sel darah putih adalah 50. Jadi
untuk memperoleh nilai sel darah putih per mm3 darah, kalikanlah jumlah
sel darah putih yang diperoleh dari hasil perhitungan dengan 50. Faktor
perhitungan ini diperoleh dari hasil perhitungan antara volume kamar
hitung pada hemositometer dengan factor pengenceran. (Lihatlah pada
literature bentuk-bentuk sel darah putih)

(d) Hematokrit
Ambil darah segar dengan cara seperti di atas.
Tempatkan pipa kapiler hematokrit pada tetes tersebut.
Isi kapiler hematokrit, minimal s/d 2/3 penuh.
Tutup pipa kapiler yang telah berisi darah tersebut dengan lilin.
Letakan pipa-pipa kapiler pada chamber mikrosentrifuga sedemikian rupa
sehingga posisinya seimbangn (jika jumlah pipa kapiler yang disentrifuga
tidak memungkinkan untuk membuat posisi yang seimbang,dapat
ditambahkan pipa kapiler kosong sebagai penyeimbang).
Tutup chamber dengan tutup sentrifuga.
Sentrifuga dilakukan pada kecepatan tinggi selama 4 menit.
Tentukan nilai hematokrit :
Mengukur perbandingan tinggi antara darah (sel darah dan plasma)
dengan sel darah.
Hematokrit (%) = [(tinggi sel darah)/(tinggi sel darah &plasma)] x 100%. Atau
dapat pula dengan menggunakan alat pengukur hematokrit. Amati pula: warna
plasma, di bagian mana terdapat sel darah. Bandingkan nilai hematokrit dati lakilaki dan perempuan.
b. Fisiologi
i.
Penentuan Hb
a. Metode Tallquist
Prosedur:
Ambil satu tetes darah dengan kertas tallquist.
9

Tentukan prosentase Hb dengan membandingkan warna yang saudara


peroleh dengan warna pada kertas pembanding.

b. Metode sahli
Prosedur:
Tabung sahli diisi dengan HCL0,1 N s/d setinggi skala maksimal.
Aduk dengan menggunakan pengaduk yang tersedia.
Encerkan dengan HCL sampai warna campuran sama dengan warna

ii.

iii.

standard pada alat.


Pembacaan dilakukan pada penerangan yang wajar ,tidak di depan

jendela.
Angka yang dibaca pada skala langsung menunjukan kadar Hb darah.
Bandingkan hasil yang diperoleh dari ke-2 metode diatas.

Waktu Perdarahan
Ujung jari dilukai dengan lanset steri.
Catat waktu saat timbulnya tetes darah pertama.
Serap darah yang keluar dengan menggunakan kertas dapat menyerap,

misalnya tissue.
Catat waktu saat darah berhentimengalir(saat diserapkan,tidak ada bercak

darah pada tissue).


Selisih waktu antara saat timbulnya tetes darah pertama dengan saat darah

berhenti mengalir adalah waktu pendarahan.


Waktu Koagulasi
Ujung jari dilukai dengan lanset steril.
Isikan darah yang keluar dari ujung jari pada sebuah kapiler.
Pada interval waktu1/2 menit, patahkan sebagian dari pipa kapiler sampai

teramati terjadinya benang halus fibrin pada bagian yang dipatahkan.


Waktu koagulasi (waktu pembekuan darah) adalah selisih waktu antara
saat timbulnya tetes darah dari luka, sampai terbentuknya benang fibrin

iv.

tersebut.
Catat hasil yang diperoleh dari seluruh kelompok.

Penggolongan Darah
Prosedur:

Siapkan sebuah kaca obyek, beri garis tengah dengan lilin supaya kedua

bagian tidak berhubungan.


Beri tanda A dan B pada sudut kiri dan kanan masing-masing.
Teteskan serum anti A pada bagian bertanda A dan teteskan serum anti B
pada bagian bertanda B.
10

Teteskan satu tetes darah pada bagian A (anti A) kemudian campurkan ke2

cairan dengan tusuk gigi.


Amati terjadinya aglutinasi.
Teteskan satu tetes darah pada bagian B (anti B) kemudian campurkan

kedua cairan dengan tusuk gigi.


Amati terjadinya agulutinasi
Tentukan golongan darah saudara menurut table di bawah ini .

Tabel
Pengamatan Penentuan Golongan Darah
Golongan

Pengamatan

Tidak terjadi penggumpalan sel darah pada kedua sisi

Terjadi penggumpalan sel darah oleh serum anti A

Terjadi penggumpalan sel darah oleh serum anti B

AB

Terjadi penggumpalan sel darah pada kedua sisi

11

V.

DATA PENGAMATAN
1. PEMBULUH DARAH DAN TEKANAN DARAH
a. Pengukuran Tekanan Darah
Tabel
Hubungan Tekanan Dengan Posisi/Aktivitas Tubuh
Posisi

Tekanan Darah

Tekanan Darah

atau

Perempuan

Laki-laki

Aktifitas

(systole/diastole)

(systole/diastole)

Duduk

100/90 mmHg

110/90 mmHg

Berbaring

130/90 mmHg

100/90 mmHg

Kaki 90 tubuh

110/90 mmHg

110/90 mmHg

Berdiri

100/70 mmHg

120/80 mmHg

Kerja otak (diberi soal hitungan)

130/90 mmHg

110/90 mmHg

Gerak badan selama 1 menit

140/90 mmHg

120/90 mmHg

b. Hyperemia
Jenis Hyperemia
Pasif (reaktif)
Aktif (fungsional)

Warna
Merah
membiru
Memerah

12

Perubahan yang Terjadi


Ukuran

Suhu

Membengkak

Dingin

Mengkerut

Hangat

2. DARAH
a. Penentuan Hb
Jumlah Hb = 60, warna darah pada
kertas Tallquist dibandingkan dengan
warna darah pada kertas pembanding.

b. Waktu Pendarahan

Waktu Pendarahan = t1 t0
=70

t1 = waktu saat darah berhenti (detik)


t0 = waktu timbulnya tetes darah pertama

= 7 detik

(detik)

c. Waktu Koagulasi
Waktu Koagulasi

= t1 t0 t1 = waktu saat terbentuk benang fibrin (detik)


= 60 0
t0 = waktu timbulnya tetes darah pertama
= 60 detik

(detik)

d. Penggolongan Darah
Terjadi penggumpalan pada darah
yang ditetesi oleh serum Anti-A,
menunjukkan bahwa darah tersebut
masuk ke dalam golongan A.

13

VI.

PEMBAHASAN
1. PEMBULUH DARAH DAN TEKANAN DARAH
Pada praktikum Sistem Kardiovaskular untuk percobaan yang pertama yaitu
mengukur tekanan darah dalam berbagai aktivitas/posisi badan. Dibandingkan pula
perbedaan tekanan darah antara perempuan dengan laki-laki. Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan, tidak terlalu banyak perbedaan yang signifikan antara
tekanan darah perempuan ataupun laki-laki.
Hasil pengukuran tekanan darah perempuan pada saat berbaring (130/90
mmHg) lebih besar dibandingkan ketika dalam posisi duduk (100/90 mmHg), hal
ini dapat disebabkan karena perasaan yang kurang rileks. Praktikan yang diukur
tekanan darahnya tidak bisa tenang pada saat akan dilakukan pengukuran ketika
berbaring. Sehingga sedikitnya aktivitas fisik yang kurang tenang tersebut
mempengaruhi tekanan darah tersebut. Berbeda dengan laki-laki, tekanan darah
menunjukkan angka yang sama ketika dalam posisi duduk dan berbaring. Karena
pada saat pengukuran laki-laki ada pada keadaan yang tenang. Pada umumnya,
dalam posisi berbaring tekanan darah akan lebih rendah dari pada saat pasien
duduk atau yang disebut dengan istilah Miscellaneus faktor.
Pengukuran pada saat pemberian soal hitungan, tekanan darah perempuan
(130/90 mmHg) lebih tinggi dari laki-laki (110/90 mmHg). Hal ini disebabkan
karena perempuan lebih mudah merasakan stress/depresi. Stress diantaranya
ansietas, takut, nyeri dan stress emosi mengkibatkan stimulasi simpatik yang
meningkatkan frekuensi darah, curah jantung dan tahanan vascular perifer. Efekefek stimulasi simpatik meningkatkan tekanan darah.
Hasil tekanan darah pada perempuan (140/90 mmHg) lebih tinggi daripada
laki-laki (120/90 mmHg) setelah melakukan gerak badan/aktivitas fisik selama 1
menit. Perempuan akan lebih cepat merasakan lelah. Namun secara keseluruhan,
baik perempuan maupun laki-laki memberikan hasil pengukuran yang lebih tinggi
jika dibandingkan dengan hasil pengukuran ketika dalam posisi duduk. Dengan
gerakan badan selama 1 menit tersebut, jantung akan memompakan darah lebih
banyak ke seluruh tubuh dari ukuran normalnya.
Pada umumnya, setelah pubertas, laki-laki cenderung memiliki bacaan tekanan
darah yang lebih tinggi, dan setelah menopause perempuan cenderung memiliki
tekanan darah yang lebih tinggi daripada laki-laki pada usia tersebut.
Percobaan yang kedua yaitu melakukan percobaan untuk membandingkan
keadaan hiperemia. Hiperemia adalah suatu kondisi di mana darah akan sesak di
daerah tertentu dari tubuh. Hal ini ditandai dengan kemerahan pada daerah yang

terkena dan pembilasan. Daerah yang terkena mungkin juga terasa hangat
menyentuh. Kemacetan mungkin terjadi karena beberapa jenis obstruksi atau
peradangan, yang mencegah sirkulasi darah di kapiler.
Kondisi jari setelah diikat dengan seutas tali dapat dikategorikan sebagai
hiperemia pasif atau reaktif. Terjadi karena penyumbatan pembuluh darah.
Sumbatan di pembuluh darah merugikan mempengaruhi aliran darah, sehingga
menyebabkan darah mengumpul di bagian-bagian tertentu dari tubuh. Seseorang
yang hanya memiliki sebuah episode iskemia (berkurangnya pasokan darah yang
mengarah ke kekurangan oksigen) lebih mungkin untuk mendapatkan dipengaruhi
oleh kondisi ini. Sumbatan di pembuluh darah menurunkan tingkat oksigen dalam
darah, sehingga meningkatkan tingkat sisa metabolisme. Limbah ini juga dapat
mulai mengumpulkan di organ, yang pada gilirannya mungkin lebih menghalangi
aliran darah. Tanda karakteristik lain dari jenis ini adalah bahwa seseorang dapat
mengamati tanda merah pada menghilangkan band ketat (ikatan tali) ditempatkan di
sekitar tangan seseorang atau kaki. Kondisi ini bisa menjadi parah pada orang yang
terkena penyumbatan di arteri koroner.
Kondisi setelah jari direndam dengan air panas disebut dengan hiperemia
aktif, yang juga disebut hiperemia latihan atau hyperemia fungsional, adalah jenis
dimana peningkatan aliran darah ke bagian tertentu dari tubuh terjadi karena
peningkatan aktivitas metabolik dari jaringan atau organ. Hal ini bisa terjadi ketika
otot-otot dalam kontrak tubuh. Hal ini juga terjadi karena kombinasi dari hipoksia
pada jaringan (berkurangnya pasokan darah) dan produksi metabolit vasodilator.
Hipoksia menyebabkan peningkatan permintaan untuk oksigen, yang pada
gilirannya menyebabkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah). Pelebaran
pembuluh darah terjadi, seperti otot-otot halus yang ditemukan di dalam dinding
pembuluh darah rileks. Zat yang disebut vasodilator, seperti ion kalium, oksida
nitrat, karbon dioksida, dan adenosin, biasanya memicu proses ini. Metabolisme
jaringan yang meningkat meningkatkan aliran darah, yang kembali normal setelah
metabolisme dikembalikan ke normal.

2. DARAH
Percobaan selanjutnya pada praktikum Sistem Kardiovaskular yaitu
menentukan jumlah Hb (hemoglobin) dengan menggunakan Metode Tallquist.
Jumlah Hb diukur berdasarkan penyocokkan warna darah pada kertas Tallquist
terhadap kertas pembanding. Darah manusia berwarna merah, antara merah terang
apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah
pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein)
yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya
molekul-molekul oksigen.
Jumlah Hb setelah dicocokkan dengan kertas pembanding adalah 60.
Hemoglobin adalah molekul di dalam eritrosit (sel darah merah) dan bertugas
untuk mengangkut oksigen. Kualitas darah dan warna merah pada darah ditentukan
oleh kadar Hemoglobin. Nilai normal Hb :
Wanita

12-16 gr/dL

Pria

14-18 gr/dL

Anak

10-16 gr/dL

Bayi baru lahir

12-24gr/dL

Kemudian dilakukan percobaan waktu pendarahan, darah langsung keluar saat


ujung jari ditusuk oleh lanset. Setelah dibiarkan reda dengan menempelkannnya
pada tissue, terhitung waktu 7 detik. Waktu pendarahan merupakan selisih antara
waktu saat darah berhenti keluar dengan waktu tetes pertama darah keluar. Maka
didapatkan waktu pendarahannya 7 detik, karena tetes darah pertama keluar pada
waktu 0 detik (langsung keluar). Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu
pendarahan suatu darah yakni besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur,
besarnya tubuh dan aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu
pendarahan yang normal adalah 15 hingga 120 detik. Waktu pendarahan yang
diperoleh saat percobaan tidak terjadi terlalu lama, hal ini dapat disebabkan karena
luka tusukan dari lanset tidak terlalu besar.

Percobaan selanjutnya dilakukan untuk mengamati waktu koagulasi dari darah


yang diuji. Koagulasi adalah suatu proses yang rumit di dalam sistem koloid darah
yang memicu partikel koloidal terdispersi untuk memulai proses pembekuan dan
membentuk trombus. Koagulasi adalah bagian penting dari hemostasis, yaitu saat
penambalan dinding pembuluh darah yang rusak oleh keping darah dan faktor
koagulasi (yang mengandung fibrin) untuk menghentikan pendarahan dan memulai
proses perbaikan. Proses koagulasi terjadi segera setelah terjadinya luka pada
pembuluh darah dengan rusaknya endotelium. Langkah awal koagulasi adalah
dengan pelepasan komponen fosfolipid yang disebut faktor jaringan dan fibrinogen
sebagai inisiasi sebuah reaksi berantai. Segera setelah itu keping darah bereaksi
membentuk penyumbat pada permukaan luka, reaksi ini disebut hemostasis awal.
Hemostasis lanjutan terjadi hampir bersamaan. Protein dalam plasma darah yang
disebut faktor koagulasi merespon secara berjenjang dan sangat rumit untuk
membentuk jaring-jaring fibrin yang memperkuat penyumbatan keping darah.
Pembentukkan benang fibrin dari sel darah yang diuji terjadi pada detik ke-60.
Diuji dengan mematahkan pipa kapiler berisi darah yang dipatahkan setiap 15
detik. Trombosit mempunyai peranan penting untuk menghentikan perdarahan dan
memulai perbaikan pembuluh darah yang cedera. Trombosit adalah sel kecil yang
beredar dalam darah. Setiap trombosit berukuran garis tengah kurang dari 1/10000
centimeter. Terdapat 150 400 miliar trombosit dalam 1 liter darah normal.
Percobaan terakhir dari praktikum ini yaitu mengamati penggolongan darah.
Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan antara darah yang ditetesi oleh serum
anti-A dan serum anti-B. Pada darah yang ditetesi dengan serum anti-A terjadi
penggumpalan, sedangkan pada darah yang ditetesi dengan serum anti-B tidak
terjadi penggumpalan. Hal ini menunjukkan bahwa darah yang diamati adalah
golongan A.
Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A
di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B
dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya
dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.
Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel
darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum

darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat


menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif.
Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen
A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B.
Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari
orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun,
orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali
pada sesama AB-positif.
Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi
memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan
golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan
golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan
golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.

VII.

KESIMPULAN
1. Tekanan darah adalah tekanan yang yang ditimbulkan pada dinding arteri. Faktorfaktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah diantaranya stress, pengobatan,
jenis kelamin, waktu pengukuran (pagi/siang/sore), dan aktifitas fisik.
2. Berdasarkan pengaturan aliran darah, jantung memompakan darah melalui 2 sistem
sirkulasi, yaitu: sirkulasi pulmonar dan sirkulasi sistemik.
3. Karakteristik darah berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi golongan darah
A, B, AB, dan 0.
4. Penilaian dasar komponen sel darah yang dilakukan dengan menentukan jumlah sel
darah dan trombosit, persentase dari setiap jenis sel darah putih dan kandungan
hemoglobin (Hb). Hematologi meliputi pemeriksaan Hb, eritrosit, leukosit,
trombosit, dan hematokrit bermanfaat untuk mengevaluasi anemia, leukemia, reaksi
inflamasi dan infeksi, karakteristik sel darah perifer, tingkat hidrasi dan dehidrasi,
polisitemia, dan penyakit hemolitik.

VIII.

DAFTAR PUSTAKA
1. Online: http://yheniiwijayanti.blogspot.com/2013/04/mengukur-tekanan-darah.html
Diakses pada tanggal: 23 April 2014
2. Online: http://prasdb.blogspot.com/2013/05/hemoglobin-hb-trombosit-leukosit.html
Diakses pada tanggal: 23 April 2014
3. Online: http://pengetahuan-base.net/penyebab-hiperemia.html
Diakses pada tanggal: 23 April 2014
4. Online: http://id.wikipedia.org/wiki/Darah
Diakses pada tanggal: 23 April 2014
5. Online: http://id.wikipedia.org/wiki/Koagulasi
Diakses pada tanggal: 24 April 2014