Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Laporan keuangan merupakan hal yang sangat penting guna
untuk memperoleh informasi mengenai posisi keuangan dan apa saja
hasil-hasil

yang

telah

dicapai

selama

tahun

anggaran

yang

bersangkutan. Laporan keuangan tidak hanya dibuat oleh perusahaan


saja, melainkan

setiap pemerintah provinsi/kota/daerah

beserta

seluruh badan, dinas dan instansi pun harus mampu membuat


laporan

keuangan.

Jika

dalam

perusahaan

menggunakan

SAK

(Standar Akuntansi Keuangan) sebagai pedoman penyusunan laporan


keuangan, lain halnya di pemerintahan yang menggunakan SAP
(Standar Akuntansi Pemerintahan) sebagai pedomannya. Pemerintah
Daerah diberikan wewenang untuk menyelenggarakan pengelolaan
keuangannya sendiri, maka harus melakukan pertanggungjawaban
atas segala wewenang yang telah diberikan. Maka dengan itu
diperlukannya standar pelaporan keuangan. Namun selain adanya
SAP (Standar Akuntansi Pemerintahan) sebagai pedoman, proses
penyusunan laporan keuangan harus dilakukan secara efektif dan
efisien, tepat waktu, cepat dan tentunya data yang dihasilkan harus
akurat.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
mengilustrasikan

laporan

keuangan

sebuah

pemerintah daerah untuk satu periode akuntansi yang mencakup:


a. Pemda : Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan SAL,
dan Laporan Perubahan Ekuitas
b. PPKD : Neraca
c. SKPD Dinas Pendapatan : Neraca
C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah mengenai laporan keuangan Pemerintah
Daerah ini adalah untuk mengetahui bagaimana prosedur dalam
laporan keuangan Pemerintah Daerah. Selain itu tujuan pembuatan
makalah ini untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen
pengampu mata kuliah Akuntansi Sektor Publik II yang bersangkuta

BAB III
PEMBAHASAN
A.

STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN PERNYATAAN NO. 01


PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN
TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
Laporan

keuangan

merupakan

laporan

yang

terstruktur

mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan


oleh suatu entitas pelaporan.
Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi
mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja
keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para
pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai
alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan
pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk
pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas
entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Untuk memenuhi tujuan

umum

ini,

laporan

keuangan menyediakan informasi mengenai entitas pelaporan


dalam hal:
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

aset;
kewajiban;
ekuitas dana;
pendapatan;
belanja;
transfer;
pembiayaan; dan
arus kas.

KOMPONEN-KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN


Komponen-komponen yang terdapat dalam suatu set laporan
keuangan pokok adalah:
a)
b)
c)
d)

Laporan Realisasi Anggaran;


Neraca;
Laporan Arus Kas; dan
Catatan atas Laporan Keuangan.
2

Komponen-komponen laporan keuangan tersebut disajikan oleh


setiap entitas pelaporan, kecuali Laporan Arus Kas yang hanya
disajikan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan.
B. STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN PERNYATAAN NO. 02
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
STRUKTUR LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Laporan Realisasi Anggaran sekurang-kurangnya mencakup pos-pos
sebagai berikut:
(a)
(b)
(c)
(d)
(e)
(f)
(g)
(h)

Pendapatan
Belanja
Transfer
Surplus atau defisit
Penerimaan pembiayaan
Pengeluaran pembiayaan
Pembiayaan neto; dan
Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA / SiKPA)

INFORMASI YANG DISAJIKAN DALAM LAPORAN REALISASI


ANGGARAN

ATAU

DALAM

CATATAN

ATAS

LAPORAN

KEUANGAN
Entitas

pelaporan

menyajikan

klasifikasi

pendapatan

menurut jenis pendapatan dalam Laporan Realisasi Anggaran, dan


rincian lebih lanjut jenis pendapatan disajikan pada Catatan
atas Laporan Keuangan.
Entitas pelaporan menyajikan klasifikasi belanja menurut jenis
belanja dalam Laporan Realisasi Anggaran. Klasifikasi belanja
menurut organisasi disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran
atau di Catatan atas Laporan Keuangan. Klasifikasi belanja menurut
fungsi disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

C.

STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN PERNYATAAN NO. 03


LAPORAN ARUS KAS
ENTITAS PELAPORAN ARUS KAS
3

Entitas Pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu


atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan

wajib

menyampaikan

laporan

pertanggungjawaban berupa laporan keuangan yang terdiri dari:


(a) Pemerintah pusat;
(b) Pemerintah daerah; dan
(c) Satuan organisasi di lingkungan pemerintah pusat/daerah atau
organisasi lainnya, jika menurut peraturan perundang-undangan
satuan organisasi dimaksud wajib membuat laporan arus kas.
Entitas pelaporan yang wajib menyusun dan menyajikan laporan
arus

kas

adalah

unit

organisasi

yang

mempunyai

fungsi

perbendaharaan.
Unit organisasi yang mempunyai fungsi perbendaharaan adalah unit
yang ditetapkan sebagai bendaharawan umum negara/daerah
dan/atau kuasa bendaharawan umum negara/daerah.
PENYAJIAN LAPORAN ARUS KAS
Laporan arus kas menyajikan informasi penerimaan dan
pengeluaran kas selama periode tertentu yang diklasifikasikan
berdasarkan

aktivitas

operasi,

investasi

aset

nonkeuangan,

pembiayaan, dan nonanggaran.


Aktivitas Operasi
Arus masuk kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari:
(a)
(b)
(c)
(d)

Penerimaan Perpajakan;
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);
Penerimaan Hibah;
Penerimaan Bagian Laba perusahaan

negara/daerah

dan

Investasi Lainnya; dan


(e) Transfer masuk.
Arus keluar kas untuk aktivitas operasi terutama digunakan untuk
pengeluaran:
(a) Belanja Pegawai;
(b) Belanja Barang;
(c) Bunga;
4

(d)
(e)
(f)
(g)
(h)

Subsidi;
Hibah;
Bantuan Sosial;
Belanja Lain-lain/Tak Terduga; dan
Transfer keluar.
Jika suatu entitas pelaporan mempunyai surat berharga yang

sifatnya sama dengan persediaan, yang dibeli untuk dijual, maka


perolehan dan penjualan surat berharga tersebut diklasifikasikan
sebagai aktivitas operasi.
Jika entitas pelaporan mengotorisasikan dana untuk kegiatan
suatu entitas lain, yang peruntukannya belum jelas apakah sebagai
modal kerja, penyertaan modal, atau untuk membiayai aktivitas
periode

berjalan,

maka

pemberian

dana

tersebut

harus

diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi. Kejadian ini dijelaskan


dalam catatan atas laporan keuangan.
Aktivitas Investasi Aset Nonkeuangan
Arus masuk kas dari aktivitas investasi aset nonkeuangan terdiri
dari:
(a) Penjualan Aset Tetap;

(b) Penjualan Aset Lainnya.


Arus keluar kas dari aktivitas investasi aset nonkeuangan terdiri dari:
(a) Perolehan Aset Tetap;
(b) Perolehan Aset Lainnya.
Aktivitas Pembiayaan
Arus kas dari aktivitas pembiayaan mencerminkan penerimaan
dan pengeluaran kas bruto sehubungan dengan pendanaan defisit
atau

penggunaan

surplus

anggaran,

yang

bertujuan

untuk

memprediksi klaim pihak lain terhadap arus kas pemerintah dan


klaim pemerintah terhadap pihak lain di masa yang akan datang.
Arus masuk kas dari aktivitas pembiayaan antara lain:
(a)
(b)
(c)
(d)

Penerimaan
Penerimaan
Penerimaan
Penerimaan

Pinjaman;
Hasil Penjualan Surat Utang Negara;
dari Divestasi;
Kembali Pinjaman;
5

(e) Pencairan Dana Cadangan.


Arus keluar kas dari aktivitas pembiayaan antara lain:
(a)
(b)
(c)
(d)

Penyertaan Modal Pemerintah;


Pembayaran Pokok Pinjaman;
Pemberian Pinjaman Jangka Panjang; dan
Pembentukan Dana Cadangan.

Aktivitas Nonanggaran
Arus

kas

dari

aktivitas

nonanggaran

mencerminkan

penerimaan dan pengeluaran kas bruto yang tidak mempengaruhi


anggaran pendapatan, belanja dan pembiayaan pemerintah. Arus
kas dari aktivitas nonanggaran antara lain Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK) dan kiriman uang. PFK menggambarkan kas yang berasal dari
jumlah dana yang dipotong dari Surat Perintah Membayar atau
diterima secara tunai untuk pihak ketiga misalnya potongan Taspen
dan Askes. Kiriman uang menggambarkan mutase kas antar
rekening kas umum negara/daerah.
Arus

masuk

kas

dari

aktivitas

nonanggaran

meliputi

nonanggaran

meliputi

penerimaan PFK dan kiriman uang masuk.


Arus keluar

kas

dari

aktivitas

pengeluaran PFK dan kiriman uang keluar.


PELAPORAN ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI, INVESTASI
ASET NONKEUANGAN, PEMBIAYAAN, DAN NONANGGARAN
Entitas pelaporan melaporkan secara terpisah kelompok
utama penerimaan dan pengeluaran kas bruto dari aktivitas operasi,
investasi aset nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran kecuali
yang tersebut dalam paragraf 35.
Entitas pelaporan dapat menyajikan arus kas dari aktivitas operasi
dengan cara:
(a) Metode Langsung
Metode ini mengungkapkan pengelompokan utama penerimaan
dan pengeluaran kas bruto.
(b) Metode Tidak Langsung
Dalam metode ini, surplus atau defisit

disesuaikan dengan

transaksi- transaksi operasional nonkas, penangguhan (deferral)


atau pengakuan (accrual) penerimaan kas atau pembayaran
6

yang lalu/yang akan datang, serta unsur pendapatan dan belanja


dalam bentuk kas yang berkaitan dengan aktivitas investasi aset
nonkeuangan dan pembiayaan.
Entitas

pelaporan pemerintah pusat/daerah

sebaiknya menggunakan metode langsung dalam melaporkan


arus kas dari aktivitas operasi. Keuntungan penggunaan metode
langsung adalah sebagai berikut:
(a) Menyediakan informasi yang lebih baik untuk mengestimasikan
arus kas di masa yang akan datang;
(b) Lebih mudah dipahami oleh pengguna laporan; dan
(c) Data tentang kelompok penerimaan dan pengeluaran kas bruto
dapat langsung diperoleh dari catatan akuntansi.
PELAPORAN ARUS KAS ATAS DASAR ARUS KAS BERSIH
Arus kas yang timbul dari aktivitas operasi dapat dilaporkan
atas dasar arus kas bersih dalam hal:
(a) Penerimaan dan pengeluaran kas untuk kepentingan penerima
manfaat

(beneficiaries)

mencerminkan aktivitas
pemerintah.

arus
pihak

kas
lain

tersebut
daripada

lebih
aktivitas

Salah satu contohnya adalah hasil kerjasama

operasional.
(b) Penerimaan dan pengeluaran kas untuk transaksi-transaksi yang

perputarannya cepat, volume transaksi banyak, dan jangka


waktunya singkat.
TRANSAKSI BUKAN KAS
Transaksi

investasi

dan

pembiayaan

yang

tidak

mengakibatkan penerimaan atau pengeluaran kas dan setara kas


tidak dilaporkan dalam Laporan Arus Kas. Transaksi tersebut harus
diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Pengecualian
transaksi bukan kas dari Laporan Arus Kas konsisten dengan
tujuan laporan arus kas karena transaksi bukan kas tersebut
tidak

mempengaruhi

kas periode yang

bersangkutan. Contoh

transaksi bukan kas yang tidak mempengaruhi laporan arus kas


adalah perolehan aset melalui pertukaran atau hibah.
D. STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN PERNYATAAN NO. 04
7

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN


Catatan atas Laporan Keuangan harus disajikan secara
sistematis. Setiap pos dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca,
dan Laporan Arus Kas harus mempunyai referensi silang dengan
informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau
daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas.
Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah
penyajian

informasi

yang

diharuskan

dan

dianjurkan

oleh

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapanpengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar
atas laporan keuangan, seperti kewajiban kontinjensi dan komitmenkomitmen lainnya.
Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi tentang
penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan
yang memadai, antara lain:
(a) Menyajikan informasi

tentang

kebijakan

fiskal/keuangan,

ekonomi makro, pencapaian target Undang-undang APBN/Perda


APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam
pencapaian target;
(b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun
pelaporan;
(c) Menyajikan

informasi

tentang

dasar

penyusunan

laporan

keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk


diterapkan

atas

transaksi-transaksi

dan

kejadian-kejadian

penting lainnya;
(d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan
Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam
lembar muka laporan keuangan;
(e) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban
yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas
pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan
basis kas;

(f) Menyediakan

informasi

tambahan

yang

diperlukan

untuk

penyajian yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka


laporan keuangan.
Pengungkapan

untuk

masing-masing

pos

pada

laporan

keuangan mengikuti standar berlaku yang mengatur tentang


pengungkapan

untuk

pos-pos

yang

berhubungan.

Misalnya,

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan tentang Persediaan


mengharuskan pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan
dalam pengukuran persediaan.
E. SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah)
Satuan kerja perangkat daerah (SKPD) merupakan bagian dari
pemerintah daerah yang melaksanakan fungsi pemerintahan dan
pelayanan

publik,

baik

secara

langsung

ataupun

tidak.

Untuk

melaksanakan rugas pokok dan fungsi (Tupoksi)nya tersebut, SKPD


diberikan alokasi dana (anggaran) dan barang/aset yang dibutuhkan.
Oleh karena itu, kepala SKPD disebut juga Pengguna Anggaran (PA)
dan Pengguna Barang (PB).
Selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah
(PKPKD),

kepala

daerah

(Gubernur,

Bupati,

Walikota)

yang

mendelegasilan sebagian kewenangannya kepada kepala SKPD, pada


akhirnya akan meminta kepala SKPD membuat pertanggungjawaban
atas kewenangan yang dilaksanakannya. Bentuk pertanggungjawaban
tersebut bukanlah SPJ (surat pertanggungjawaban), tetapi berupa
laporan keuangan. Laporan keuangan yang disusun oleh SKPD adalah
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) sebagai pertanggungjawaban kepala
SKPD selaku PA dan Neraca selaku PB. Oleh karena kepala SKPD
bukanlah

pengguna

uang/kas,

maka

kepala

SKPD

tidak

perlu

menyusun Laporan Arus Kas.


Dengan demikian, penyebutan SKPD selaku entitas akuntansi
(accounting entity) pada dasarnya untuk menunjukkan bahwa SKPD
melaksanakan proses akuntansi untuk menyusun laporan keuangan
yang akan disampaikan kepada kepala daerah sebagai bentuk
9

pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah (yang mencakup


anggaran dan barang, diiringi dengan dana yang dikelola oleh
bendahara selaku pejabat fungsional).
Pertanggungjawaban atas uang/kas yang ada di SKPD dilakukan
oleh bendahara pengeluaran selaku pejabat fungsional (pasal 14
Permendagri 13/2006) keperbendaharaan. Artinya, selain membuat
pertanggungjawaban administratif kepada kepala SKPD, bendahara
juga

menyampaikan

pertanggungjawaban

fungsional

kepada

Bendahara Umum Daerah (BUD). Hal ini sejalan dengan yang


dinyatakan

dalam

UU

1/2004

tentang

perbendaharaan

bahwa

bendahara bertanggungjawab secara pribadi atas seluruh pengeluaran


yang dilakukannya.
Laporan Keuangan SKPD
SKPD diwajibkan menyusun laporan keuangan yang terdiri dari
LRA, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Berikut dijelaskan
secara ringkas ketiga laporan keuangan tersebut.
1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
LRA menyajikan informasi tentang anggaran SKPD, yang
terdiri dari pendapatan dan belanja, dan realisasi atas anggaran
tersebut. Informasi ini dapat dianalisis dengan melihat (a) selisih
antara anggaran dan realisasinya; (2) rasio-rasio antar-rekening,
misalnya rasio total belanja terhadap total pendapatan, belanja
langsung terhadap belanja tidak langsung, belanja langsung
terhadap total pendapatan, belanja langsung terhadap PAD, dsb.
Selisih antara anggaran dan realisasi disebut variansi
(variance). Secara teoretis, untuk pendapatan dan belanja, selisih
tersebut bisa nol, positif atau negatif. Pada praktiknya, jarang
terjadi selisih nol atau sama antara anggaran dan realisasinya.
Untuk

pendapatan,

biasanya

realisasi

lebih

besar

daripada

anggarannya (selisih positif), sedangkan untuk belanja, biasanya


negatif.

10

Selisih positif untuk rekening Pendapatan, khususnya PAD,


menunjukkan bahwa realisasi pendapatan melampaui target yang
ditetapkan. Biasanya selisih ini diartikan sebagai sebuah prestasi
atau

kinerja

yang

baik.

Namun,

harus

dipahami

bahwa

kemungkinan pencapaian (yang terlalu besar) tersebut diakibatkan


karena

penetapan

target

pendapatan

terlalu

rendah.

Dari

perspektid keagenan, hal ini menunjukkan perilaku moral hazard


pelaksana (SKPD) yang terlibat dalam penentuan target (aplikasi
dari penganggaran partisipatif di pemerintah daerah).
Jika selisih atau variansi belanja negatif, berarti realisasi atau
pengeluaran

kas

masih

berada

di

bawah

anggaran

(tidak

melampaui anggaran). Selisih negatif ini bisa bermakna banyak,


yakni:
Efisiensi: Hal ini terjadi jika capaian kinerja atau target outputoutcome telah tercapai, sementara dana yang disediakan tidak
dihabiskan seluruhnya. Namun, interpretasi seperti ini juga
harus dikritisi lebih jauh karena mungkin saja target dinyatakan

terlalu rendah dan anggaran dialokasikan terlalu tinggi.


Ada kegiatan yang belum selesai dilaksanakan atau dibayarkan.
Karena pekerjaan belum selesai atau belum dilakukan serah
terima barang, maka pembayaran belum dilakukan. Hal ini
menyebabkan anggaran belanja belum direalisasikan, sehingga
di LRA tercantum nilai realisasi belanja yang lebih kecil
daripada anggarannya. Konsekuensinya, kegiatan/pembayaran
akan dilanjutkan pada tahun anggaran berikutnya. Untuk itu,
SKPD

akan

menyusun

DPA-L

(DPA

Lanjutan),

yang

bisa

digunakan sebagai dasar untuk melakukan pembayaran, tanpa

harus menunggu APBD di-Perda-kan.


Ada kegiatan yang tidak jadi dilaksanakan. Beberapa alasan
yang menyebabkan suatu kegiatan tidak jadi dilaksanakan
adalah: (a) Kesalahan dalam perencanaan; (2) ketiadaan
sumber pendanaan; (3) keadaan luar biasa/tidak terduga; dan

(3) perubahan kebijakan pemerintah daerah dan pusat.


2. Neraca
11

Neraca memberikan informasi mengenai kondisi atau posisi


keuangan pada tanggal tertentu atau akhir tahun anggaran.
Informasi tentang kekayaan SKPD dan sumber-sumbernya tersaji
dalam laporan keuangan ini. Sesuai dengan standar akuntani untuk
pemerintahan yang berlaku di Indonesia (PP No.24/2005 tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan), hubungan antara aset dengan
rekening di pasiva bersifat paralel. Nilai komponen-komponen aset
memiliki kaitan langsung dengan sisi pasiva.
Perubahan aset/barang/kekayaan SKPD, yang tergambar dari
pembandingan antara neraca awal tahun dengan neraca akhir
tahun, dapat terjadi karena beberapa hal, di antaranya: (1) realisasi
belanja barang, misalnya untuk memperoleh alat tulis kantor; (2)
realisasi belanja modal, yang menyebabkan aset tetap bertambah;
(3) pengahpusan aset, misalnya dengan menghibahkan, menjual,
menukarkan, atau memusnahkan; dan (4) penerimaan hibah atau
bantuan dari pihak lain.
3. Catatan atas Laporan Keuangan
CALK memberikan informasi mengenai berbagai hal yang
tidak terbaca dari LRA dan Neraca. Berbeda dengan fungsi buku
besar pembantu, CALK tidak hanya merinci lebih jauh rekeningrekening

dalam

laporan

keuangan

tersebut,

tetapi

juga

menjelaskan berbagai kebijakan, pendekatan, metode, dan dasar


penentuan dan penyajian angka-angka LRA dan Neraca. Selain itu,
di dalam CALK juga dapat dijelaskan berbagai faktor, asumsi, dan
kondisi yang mempengaruhi angka-angka LK.
F. PPKD (Pejabat Pengelola Keuangan Daerah)
Untuk bisa menyusun laporan keuangan Pemda, terlebih dahulu
disusun laporan keuangan Satuan Kerja secara terpisah,
menyusun laporan keuangan

sebagai PPKD/BUD.

Pada

juga

PPKD

saat akan

disusun
laporan keuangan pemda maka laporan keuangan SKPD dan PPKDdigabung
kan untuk menjadi laporan keuangan tingkat Pemda. Formatlaporan
keuangan PPKD sama dengan laporan keuangan SKPD. Yang berbeda dari
kedua laporan keuangan tersebut adalah cakupan transaksi dan akun yang
digunakannya.
12

Laporan Keuangan PPKD dikeluarkan 2 kali dalam satu tahunanggaran,


yaitu:
1. Semester, yang dimulai dari periode Januari Juni
2. Tahunan, yang dimulai dari periode Januari Desember.
Laporan Keuangan yang dihasilkan oleh PPKD merupakan hasilproses
akuntansi sesuai dengan siklus akuntansi yang dilaksanakansebelumnya, yaitu
tahap pengidentifikasian dokumen sumber, tahappenjurnalan, dan tahap
posting ke buku besar tiap-tiap akun.
Langkah-langkah dalam penyusunan laporan keuangan PKPDsesuai
dengan kertas kerja yang dibuat terdiri atas: Neraca saldo, JurnalPenyesuaian,
Neraca Saldo setelah Penyesuaian, Jurnal Penutupan,Laporan Realisasi
Anggaran

(LRA)

sebelum

konversi

dan

Laporan

Realisasi Anggaran setelah konversi, kemudian menyusun Neraca sebel


um konversidan Neraca setelah konversi
G. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
1. Pengertian Laporan Keuangan Daerah
Laporan

Keuangan

Daerah

merupakan

informasi

yang

memuat data berbagai elemen struktur kekayaan dan struktur


finansial yang merupakan pencerminan hasil aktivitas tertentu.
Istilah Laporan Keuangan Pemerintah Daerah meliputi semua
laporan dan berbagai penjelasannya yang mengakui laporannya
tersebut akan diakui sebagai bagian dari laporan keuangan.
2. Bentuk dan Unsur-Unsur Laporan Keuangan Daerah
a. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas
pelaporan mengenai esset kewajiban dan ekuitas dana pada
tanggal tertentu. Unsur yang dicakup oleh neraca terdiri dari
asset, kewajiban dan ekuitas dana. Masing-masing unsur
didefinisikan sebagai berikut :
-

Asset diklasifikasikan ke dalam asset lancar jika diharapkan


dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual
dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan.
Asset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut
diklasifikasikan

sebagai

asset

nonlancar.

Asset

lancar

meliputi kas dan setara kas, piutang dan persediaan. Asset


13

nonlancar meliputi asset keuangan yang bersifat jangka


panjang, asset yang digunakan untuk kegiatan operasi
pemerintah dan asset tidak berwujud. Asset nonlancar
diklasifikasikan menjadi investasi permanen, asset tetap
lainnya dan konstruksi dalam pengerjaan. Asset nonlancar
lainnya diklasifikasikan sebagai asset lainnya, termasuk
dalam asset lainnya antara lain ; asset tidak berwujud dan
-

dana cadangan.
Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa
lalu

yang

penyelesaiannya

diharapkan

mengakibatkan

aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintahan. Dalam


konteks pemerintahan, kewajiban muncul antara lain karena
penggunaan

sumber

pembiayaan

pinjaman

dari

masyarakat, lembaga keuangan, entitas pemerintah lain


atau lembaga internasional. Kewajiban pemerintah juga
terjadi

karena

perikatan

pegawai

yang

bekerja

pada

pemerintahan atau dengan pemberi jasa lainnya. Setiap


kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum atau sebagai
konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau peraturan
perundang-undangan. Kewajiban di kelompokkan ke dalam
kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.
Kewajiban jangka pendek merupakan kewajiban yang harus
diselesaikan dalam waktu kurang dari dua belas bulan sejak
tanggal pelaporan, kewajiban yang penyelesaiannya baru
wajib dilakukan setelah dua belas bulan sejak tanggal
-

pelaporan.
Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang
merupakan selisih antara asset dan kewajiban pemerintah.
Ekuitas Dana dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Ekuitas Dana lancar, yaitu selisih antara asset lancar
dan dana cadangan atas kewajiban jangka pendek.

14

2. Ekuitas

Dana

Investasi,

yaitu

selisih

antara

asset

nonlancar dan dana cadangan atas kewajiban jangka


panjang.
3. Ekuitas Dana Cadangan, yaitu dana yang dicadangkan
untuk tujuan yang telah ditentukan sebelumnya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
b. Laporan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD)
Laporan realisasi menyajikan ikhtisar sumber, alokasi
pemakaian

sumber

pemerintah,

yang

anggaran

daya

ekonomi

menggambarkan

pendapatan,

belanja

dan

yang

dikelola

oleh

perbandingan

antara

pembiayaan

dengan

realisasinya dalam satu periode pelaporan. Komponen yang


dicakup secara langsung oleh Laporan Realisasi Anggaran
meliputi unsur pendapatan, belanja dan pembiayaan.
Masing-masing komponen didefinisikan sebagai berikut :
1. Pendapatan adalah semua penerimaan kas umum negara
atau kas daerah yang menambah ekuitas dana dalam
periode tahun anggaran bersangkutan yang menjadi hak
pemerintah pusat atau daerah, yang tidak perlu dibayar
diperoleh dibayar kembali pembayarannya oleh pemerintah.
2. Belanja adalah semua pengeluaran kas umum negara atau
kas daerah yang menguarangi ekuitas dana lancar dam
periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan
diperoleh kembali pembayarannya oleh pemerintah.
3. Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan
pemerintah, baik penerimaan maupun pengeluaran, yang
perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang dalam
penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk
menutup defisit dan atau memanfaatkan surplus anggaran.
Penerimaan pembiayaan dapat berasal dari pinjaman dan
hasil

divestasi.

Pengeluaran

pembiayaan

antara

lain
15

digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman


kepada entitas lain dan penyertaan modal oleh pemerintah.
c. Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan
dengan
transaksi

kegiatan

operasional,

nonanggaran

investasi,

pembiayaan

menggambarkan

saldo

dan
awal,

penerimaan, pengeluaran dan saldo akhir kas pemerintah pada


periode tertentu. Unsur yang dicakup secara langsung dalam
Laporan Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas,
yang masing-masing didefinisikan sebagai berikut :
1. Penerimaan adalah semua penerimaan kas umum negara
atau kas yang dibukukan dalam tahun anggaran yang
bersangkutan.
2. Pengeluaran adalah semua pengeluaran kas umum negara
atau kas daerah yang dibukukan dalam tahun anggaran
yang bersangkutan.
d. Catatan Atas Laporan Keuangan
Dalam laporan pertanggungjawaban keuangan daerah,
terdapat tiga bentuk laporan keuangan daerah dan sistem
akuntansi keuangan daerah ini, yaitu laporan perhitungan
APBD, laporan arus kas dan neraca daerah. Terdapat satu
bentuk laporan lagi yang dipersyaratkan oleh peraturan yang
berlaku yaitu nota perhitungan APBD. Catatan atas laporan
keuangan APBD merupakan dokumen yang disampaikan oleh
Kepala Daerah dihadapan sidang paripurna DPRD. Catatan atas
laporan keuangan pada dasarnya menurut kinerja keuangan
daerah dan ringkasan realisasi APBD yang disajikan dalam
laporan perhitungan APBD.
Catatan

atas

laporan

keuangan

mengungkapkan

hal-hal

sebagai berikut :
1. Menyajikan

informasi

tentang

kebijakan

fiskal

atau

keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang16

Undang APBN atau Perda APBD, berikut kendala dan


hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target.
2. Menyajikan

ikhtisar

pencapaian

kinerja

selama

tahun

pelaporan.
3. Mengajukan informasi tentang dasar penyusunan laporan
keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih
untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadiankejadian penting lainnya.
4. Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Standar
Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar
muka laporan keuangan.
5. Mengungkapkan

informasi

untuk

pos-pos

asset

dan

kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan


basis akrual yang dimodifikasi atas pendapatan dan belanja
serta rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas.
6. Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk
penyajian yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar
muka laporan keuangan.
4. Tujuan Laporan Keuangan Daerah
Menurut Indra Bastian yang diadopsi dari Public Sector
Comitee-IFAC (2001:128) tujuan Pelaporan Keuangan Sektor Publik
yaitu :
1. Tujuan secara umum

Memberikan informasi yang bermanfaat.

Memenuhi kebutuhan pemakai

2. Tujuan secara khusus


1. Mengidentifikasi sumber daya yang didapat dan digunakan
sesuai dengan anggaran yang telah disetujui secara umum.
2. Mengidentifukasi sumber daya yang didapat dan digunakan
sesuai.
17

3. Menyediakan informasi tentang sumber daya alokasi dan


penggunaan sumber daya keuangan.
4. Menyediakan informasi tentang cara organisasi sektor
publik membiayai aktivitas dan memenuhi kebutuhan kas.
5. Menyediakan informasi yang berguna dalam mengevaluasi
kemampuan manajemen dalam membiayai aktivitasnya dan
memenuhi komitmen serta kewajibannya.
6. Menyediakan informasi tentang kondisi keuangan dan
perubahannya oranisasi sektor publik.
7. Menyediakan informasi untuk mengevaluasi performansi
organisasi sektor publik terutama yang terkait dengan biaya
operasi efisiensi dan pencapaian target.
Laporan Keuangan Daerah merupakan representasi terstruktur
posisi keuangan dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu
entitas pemerintah daerah. Laporan Keuangan daerah untuk tujuan
umum

yaitu

mempunyai

peranan

prediktif

dan

prospektif,

menyediakan informasi yang berguna untuk memprediksi besarnya


sumber daya yang dibutuhkan untuk operasi yang berkelanjutan,
sumber daya dihasilkan dari operasi yang berkelanjutan, serta
resiko dan ketidakpastian yang terkait.
Untuk memenuhi tujuan tersebut, laporan keuangan daerah
menyediakan informasi mengenai entitas dalam hal ini :
1. Aktiva;
2. Kewajiban;
3. Ekuitas Dana Pendapatan;
4. Belanja;
5. Pembiayaan dan;
6. Arus Kas
H. Laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
18

Dasar HUkum Keuangan daerah dan APBD, Tujuan APBD, Fungsi


APBD - Cara Penyusunan APBD. Seperti halnya dengan pemerintah
pusat, pemerintah daerah baik tingkat provinsi, kota/kabupaten pun
juga menyusun perencanaan anggaran yang akan dilaksanakan dalam
satu tahun ke depan. Berikut ini akan dibahas halhal mengenai APBD.

Pengertian APBD
Pengertian APBD APBD adalah suatu rancangan keuangan
tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah
tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Seperti halnya
dengan APBN, rencana APBD diajukan setiap tahun oleh pemerintah
daerah kepada DPRD untuk dibahas dan kemudian disahkan sebagai
peraturan daerah.
Tujuan APBD
Pada dasarnya tujuan penyusunan APBD sama halnya dengan
tujuan

penyusunan

APBN.

APBD

disusun

sebagai

pedoman

penerimaan dan pengeluaran penyelenggara negara di daerah dalam


rangka

pelaksanaan

kemakmuran

otonomi

masyarakat.

daerah

Dengan

dan

untuk

meningkatkan

APBD

maka

pemborosan,

penyelewengan, dan kesalahan dapat dihindari.


Fungsi APBD
APBD yang disusun oleh setiap daerah memiliki fungsi sebagai berikut.
a. Fungsi Otorisasi
APBD berfungsi sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam
menjalankan pendapatan dan belanja untuk masa satu tahun.
b. Fungsi Perencanaan

19

APBD merupakan pedoman bagi pemerintah daerah dalam


menyusun perencanaan penyelenggaraan pemerintah daerah pada
tahun yang bersangkutan.
c. Fungsi Pengawasan
APBD merupakan pedoman bagi DPRD, BPK, dan instansi
pelaksanaan

pengawasan

lainnya

dalam

menjalankan

fungsi

pengawasannya.
d. Fungsi Alokasi
Dalam APBD telah digambarkan dengan jelas sumber-sumber
pendapatan

dan

alokasi

pembelanjaannya

yang

harus

dilaksanakan oleh pemerintah daerah.


e. Fungsi Distribusi
Sumber-sumber pendapatan dalam APBD digunakan untuk
pembelanjaan- pembelanjaan yang disesuaikan dengan kondisi
setiap daerah dengan mempertimbangkan asas keadilan dan
kepatutan.
Cara Penyusunan APBD
APBD

disusun

melalui

beberapa

tahap

kegiatan.

Kegiatan

tersebut, antara lain, sebagai berikut.


a. Pemerintah Daerah menyusun Rancangan Pendapatan dan Belanja
Daerah (RAPBD).
b. Pemerintah Daerah mengajukan RAPBD kepada DPRD untuk
dibahas bersama antara pemerintah daerah dan DPRD. Dalam
pembahasan ini pihak Pemerintah Daerah (Eksekutif) dilakukan
oleh Tim Anggaran Eksekutif yang beranggotakan Sekretaris
Daerah, BAPPEDA, dan pihak-pihak lain yang dianggap perlu,
sedangkan

DPRD

dilakukan

oleh

Panitia

Anggaran

yang

anggotanya terdiri atas tiap fraksi-fraksi.


c. RAPBD yang telah disetujui DPRD disahkan menjadi APBD melalui
Peraturan Daerah untuk dilaksanakan.
I. Ilustrasi Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
1. Neraca SKPD
NERACA
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN /KOTA
DINAS PENDAPATAN
PER 31 DESEMBER 2011 DAN 2010
20

N
O.
1 ASET
2 ASET LANCAR

URAIAN

3 Kas di Kas Daerah


4 Kas di Bendahara Pengeluaran
5 Kas di Bendahara Penerimaan
6 Investasi Jangka Pendek
7 Piutang Pajak
8 Piutang Retribusi
Bagian Lancar Pinjaman
9 Negara
Bagian Lancar Pinjaman
10 Daerah
Bagian Lancar Pinjaman
11 Pusat
Bagian Lancar Pinjaman
12 Daerah Lainnya

kepada Perusahaan
kepada Perusahaan
kepada Pemerintah
kepada Pemerintah

13 Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran


14 Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan
15 Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi
16 Piutang Lainnya
17 Persediaan
18 Jumlah Aset Lancar (3 s/d 17)
19 INVESTASI JANGKA PANJANG
20 Investasi Nonpermanen
21 Pinjaman kepada Perusahaan Negara
22 Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
23 Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya
24 Investasi dalam Surat Utang Negara
25 Investasi dalam Proyek Pembangunan
26 Investasi Nonpermanen Lainnya

2011

2010

Rp300.000.0
00
Rp50.000.00
0
Rp50.000.00
0
Rp100.000.0
00
Rp2.000.000.
000
Rp15.000.00
0
Rp2.500.000.
000
Rp1.500.000.
000
Rp1.000.000.
000
Rp1.500.000.
000
Rp280.000.0
00
Rp450.000.0
00
Rp300.000.0
00
Rp3.500.000.
000
Rp200.000.0
00
Rp13.745.0
00.000

Rp450.000.0
00
Rp100.000.0
00
Rp30.000.00
0
Rp30.000.00
0
Rp1.500.000.
000

Rp1.500.000.
000
Rp1.350.000.
000
Rp1.000.000.
000
Rp1.370.000.
000
Rp1.850.000.
000
Rp200.000.0
00

Rp1.750.000.
000
Rp1.200.000.
000
Rp1.400.000.
000
Rp1.450.000.
000
Rp2.050.000.
000
Rp190.000.0
00

Rp9.000.000
Rp2.000.000.
000
Rp1.300.000.
000
Rp1.200.000.
000
Rp1.000.000.
000
Rp300.000.0
00
Rp600.000.0
00
Rp430.000.0
00
Rp1.800.000.
000
Rp100.000.0
00
Rp10.849.0
00.000

21

Jumlah Investasi Nonpermanen (21 s/d


27 26)
28 Investasi Permanen
29 Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
30 Investasi Permanen Lainnya
31 Jumlah Investasi Permanen (29 s/d 30)
Jumlah Investasi Jangka Panjang (27 +
32 31)
33 ASET TETAP
34 Tanah
35 Peralatan dan Mesin
36 Gedung dan Bangunan
37 Jalan, Irigasi, dan Jaringan
38 Aset Tetap Lainnya
39 Konstruksi Dalam Pengerjaan
40 Akumulasi Penyusutan
41 Jumlah Aset Tetap (34 s/d 40)
42 DANA CADANGAN
43 Dana Cadangan
44 Jumlah Dana Cadangan (43)
45 ASET LAINNYA
46 Tagihan Penjualan Angsuran
47 Tuntutan Perbendaharaan
48 Tuntutan Ganti Rugi
49 Kemitraan dengan Pihak Ketiga
50 Aset Tak Berwujud
51 Aset Lain-Lain
52 Jumlah Aset Lainnya (46 s/d 51)
53 JUMLAH ASET (18+32+41+44+52)
54

Rp7.270.00
0.000

Rp8.040.00
0.000

Rp650.000.0
00
Rp2.450.000.
000
Rp3.100.00
0.000
Rp10.370.0
00.000

Rp600.000.0
00
Rp2.300.000.
000
Rp2.900.00
0.000
Rp10.940.0
00.000

Rp5.000.000.
000
Rp3.200.000.
000
Rp7.000.000.
000
Rp8.000.000.
000
Rp400.000.0
00
Rp60.000.00
0
Rp7.500.000.
000
Rp16.160.0
00.000

Rp4.900.000.
000
Rp3.000.000.
000
Rp6.600.000.
000
Rp7.800.000.
000
Rp300.000.0
00
Rp100.000.0
00
Rp5.000.000.
000
Rp17.700.0
00.000

Rp1.500.000.
000
Rp1.500.00
0.000

Rp1.300.000.
000
Rp1.300.00
0.000

Rp1.000.000.
000
Rp850.000.0
00
Rp700.000.0
00
Rp500.000.0
00
Rp300.000.0
00
Rp600.000.0
00
Rp3.950.00
0.000
Rp44.225.0
00.000

Rp1.200.000.
000
Rp700.000.0
00
Rp750.000.0
00
Rp400.000.0
00
Rp200.000.0
00
Rp400.000.0
00
Rp3.650.00
0.000
Rp43.139.0
00.000
22

55 KEWAJIBAN
56 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
57 Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
58 Utang Bunga
Bagian Lancar Utang Dalam
59 Pemerintah Pusat
Bagian Lancar Utang Dalam
60 Pemerintah Daerah Lainnya
Bagian Lancar Utang Dalam
61 Keuangan Bank
Bagian Lancar Utang Dalam
62 Keuangan Bukan Bank

Negeri Negeri Negeri - Lembaga


Negeri - Lembaga

63 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Obligasi


64 Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Lainnya
65 Utang Jangka Pendek Lainnya
Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (57 s/d
66 65)
67 KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
68 Utang Luar Negeri - Pemerintah Pusat
Utang Dalam Negeri - Pemerintah Daerah
69 Lainnya
Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan
70 Bank Utang
Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan
71 Bank Utang
72 Dalam Negeri- Obligasi
73 Utang Jangka Panjang Lainnya
Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (68 s/d
74 73)
75 JUMLAH KEWAJIBAN (66+74)
76 EKUITAS DANA
77 EKUITAS DANA LANCAR
78 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA)
79 Pendapatan yang Ditangguhkan
80 Cadangan Piutang
81 Cadangan Persediaan
Dana yang Harus Disediakan untuk
82 Pembayaran Utang Jangka pendek

Rp4.300.000.
000
Rp20.000.00
0
Rp1.500.000.
000
Rp1.250.000.
000
Rp1.350.000.
000
Rp750.000.0
00
Rp1.000.000.
000
Rp1.750.000.
000
Rp60.000.00
0
Rp11.980.0
00.000

Rp5.000.000.
000
Rp30.000.00
0
Rp1.650.000.
000
Rp1.300.000.
000
Rp1.000.000.
000
Rp900.000.0
00
Rp800.000.0
00
Rp1.500.000.
000
Rp100.000.0
00
Rp12.280.0
00.000

Rp2.700.000.
000
Rp1.100.000.
000
Rp2.660.000.
000
Rp1.200.000.
000
Rp1.150.000.
000
Rp1.350.000.
000
Rp10.160.0
00.000
Rp22.140.0
00.000

Rp2.500.000.
000
Rp1.200.000.
000
Rp3.000.000.
000
Rp1.250.000.
000
Rp1.197.000.
000
Rp1.500.000.
000
Rp10.647.0
00.000
Rp22.927.0
00.000

Rp2.500.000.
000
Rp400.000.0
00
Rp4.000.000.
000
Rp1.285.000.
000
Rp100.000.0
00

Rp312.000.0
00
Rp350.000.0
00
Rp3.000.000.
000
Rp2.000.000.
000
Rp150.000.0
00
23

83 Jumlah Ekuitas Dana Lancar (78 s/d 82)


84 EKUITAS DANA INVESTASI
85 Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang
86 Diinvestasikan dalam Aset Tetap
87 Diinvestasikan dalam Aset Lainnya
Dana yang Harus Disediakan untuk
88 Pembayaran Utang Jangka panjang
89 Jumlah Ekuitas Dana Investasi (85 s/d 88)
90 EKUITAS DANA CADANGAN
91 Diinvestasikan Dalam Dana Cadangan
92 JUMLAH EKUITAS DANA CADANGAN (91)
93 JUMLAH EKUITAS DANA (83+89+92)
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA
94 (75+93)

Rp8.085.00
0.000

Rp5.512.00
0.000

Rp3.000.000.
000
Rp3.000.000.
000
Rp1.000.000.
000
Rp3.000.000.
000
Rp10.000.0
00.000

Rp4.000.000.
000
Rp2.750.000.
000
Rp1.200.000.
000
Rp2.500.000.
000
Rp10.450.0
00.000

Rp4.000.000.
000
Rp4.000.00
0.000
Rp22.085.0
00.000
Rp44.225.0
00.000

Rp4.250.000.
000
Rp4.250.00
0.000
Rp20.212.0
00.000
Rp43.139.0
00.000

2. NERACA PPKD
NERACA
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN /KOTA
PPKD
PER 31 DESEMBER 2011 DAN 2010

N
0.
1 ASET
2 ASET LANCAR

URAIAN

3 Kas di Kas Daerah


4 Kas di Bendahara Pengeluaran
5 Kas di Bendahara Penerimaan
6 Investasi Jangka Pendek
7 Piutang Pajak
8 Piutang Retribusi
9 Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara
10 Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
11 Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat

2011

2010

Rp9.000.000.
000
Rp3.500.000.
000
Rp2.250.000.
000
Rp2.700.000.
000
Rp4.750.000.
000
Rp2.350.000.
000
Rp2.500.000.
000
Rp3.500.000.
000
Rp3.000.000.

Rp7.500.000.
000
Rp2.250.000.
000
Rp2.160.000.
000
Rp2.500.000.
000
Rp3.000.000.
000
Rp2.500.000.
000
Rp2.000.000.
000
Rp2.700.000.
000
Rp1.500.000.

24

12

Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah


Lainnya

13 Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran


14 Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan
15 Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi
16 Piutang Lainnya
17
1
8
1
9
20

Persediaan
Jumlah Aset Lancar (3 s/d 17)

000
Rp3.000.000.
000
Rp2.920.000.
000
Rp2.900.000.
000
Rp3.800.000.
000
Rp1.800.000.
000
Rp3.550.000.
000
Rp44.080.00
0.000

Rp2.500.000.
000
Rp2.370.000.
000
Rp2.700.000.
000
Rp3.480.000.
000
Rp3.950.000.
000
Rp2.000.000.
000
Rp17.000.00
0.000

Rp2.100.000.
000
Rp2.150.000.
000
Rp2.550.000.
000
Rp2.600.000.
000
Rp3.000.000.
000
Rp1.900.000.
000
Rp14.300.00
0.000

Rp4.450.000.
000
Rp3.450.000.
000
Rp7.900.000
.000
Rp24.900.00
0.000

Rp4.000.000.
000
Rp2.650.000.
000
Rp6.650.000
.000
Rp20.950.00
0.000

Rp15.000.000
.000
Rp8.200.000.
000
Rp11.000.000
.000
Rp20.000.000
.000
Rp7.725.000.
000
Rp6.500.000.
000
-

Rp10.900.000
.000
Rp7.000.000.
000
Rp9.000.000.
000
Rp17.507.000
.000
Rp8.500.000.
000
Rp4.500.000.
000
-

INVESTASI JANGKA PANJANG


Investasi Nonpermanen

21 Pinjaman kepada Perusahaan Negara


22 Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
23 Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya
24 Investasi dalam Surat Utang Negara
25 Investasi dalam Proyek Pembangunan
26 Investasi Nonpermanen Lainnya
2
7 Jumlah Investasi Nonpermanen (21 s/d 26)
28 Investasi Permanen
29 Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
30
3
1
3
2
3
3

000
Rp4.500.000.
000
Rp2.800.000.
000
Rp3.450.000.
000
Rp4.250.000.
000
Rp2.000.000.
000
Rp5.200.000.
000
Rp55.750.00
0.000

Investasi Permanen Lainnya


Jumlah Investasi Permanen (29 s/d 30)
Jumlah Investasi Jangka Panjang (27 + 31)
ASET TETAP

34 Tanah
35 Peralatan dan Mesin
36 Gedung dan Bangunan
37 Jalan, Irigasi, dan Jaringan
38 Aset Tetap Lainnya
39 Konstruksi Dalam Pengerjaan
40 Akumulasi Penyusutan

25

41 Jumlah Aset Tetap (34 s/d 40)


42 DANA CADANGAN
43 Dana Cadangan
4
4 Jumlah Dana Cadangan (43)
4
5 ASET LAINNYA
46 Tagihan Penjualan Angsuran
47 Tuntutan Perbendaharaan
48 Tuntutan Ganti Rugi
49 Kemitraan dengan Pihak Ketiga
50 Aset Tak Berwujud
51
5
2
5
3
5
4
5
5
5
6

Aset Lain-Lain
Jumlah Aset Lainnya (46 s/d 51)
JUMLAH ASET (18+32+41+44+52)

Rp45.000.000
.000
Rp12.407.000
.000

Rp3.550.000.
000
Rp3.550.000
.000

Rp4.000.000.
000
Rp4.000.000
.000

Rp2.500.000.
000
Rp1.950.000.
000
Rp2.750.000.
000
Rp1.720.000.
000
Rp1.600.000.
000
Rp2.600.000.
000
Rp13.120.00
0.000
Rp97.195.00
0.000

Rp2.000.000.
000
Rp800.000.00
0
Rp850.000.00
0
Rp600.000.00
0
Rp500.000.00
0
Rp400.000.00
0
Rp5.150.000
.000
Rp82.587.00
0.000

Rp8.600.000.
000
Rp500.000.00
0
Rp3.500.000.
000
Rp2.250.000.
000
Rp3.350.000.
000
Rp1.550.000.
000
Rp2.000.000.
000
Rp1.750.000.
000
Rp310.000.00
0
Rp23.810.00
0.000

Rp10.000.000
.000
Rp400.000.00
0
Rp2.950.000.
000
Rp2.700.000.
000
Rp2.900.000.
000
Rp1.700.000.
000
Rp1.500.000.
000
Rp1.500.000.
000
Rp290.000.00
0
Rp23.940.00
0.000

Rp5.800.000.

Rp4.500.000.

KEWAJIBAN
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

57 Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)


58 Utang Bunga
59 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat
Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Daerah

60 Lainnya

Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Lembaga

61 Keuangan Bank

Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Lembaga

62 Keuangan Bukan Bank

63 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Obligasi


64 Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Lainnya
65
6
6
6
7
68

Rp65.000.000
.000
Rp3.425.000.
000

Utang Jangka Pendek Lainnya


Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (57 s/d 65)
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Utang Luar Negeri - Pemerintah Pusat

26

69 Utang Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya


70 Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank Utang
71 Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank Utang
72 Dalam Negeri- Obligasi
73
7
4
7
5
7
6
7
7

Utang Jangka Panjang Lainnya


Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (68 s/d 73)
JUMLAH KEWAJIBAN (66+74)

000
Rp2.850.000.
000
Rp3.000.000.
000
Rp2.950.000.
000
Rp1.975.000.
000
Rp2.350.000.
000
Rp17.625.00
0.000
Rp41.565.00
0.000

Rp5.500.000.
000
Rp4.000.000.
000
Rp6.000.000.
000
Rp8.585.000.
000
Rp800.000.00
0
Rp23.285.00
0.000

Rp3.122.000.
000
Rp3.500.000.
000
Rp5.200.000.
000
Rp7.000.000.
000
Rp750.000.00
0
Rp18.072.00
0.000

Rp6.000.000.
000
Rp6.700.000.
000
Rp3.000.000.
000
Rp4.000.000.
000
Rp19.700.00
0.000

Rp7.000.000.
000
Rp5.750.000.
000
Rp1.200.000.
000
Rp2.500.000.
000
Rp16.450.00
0.000

Rp7.000.000.
000
Rp7.000.000
.000
Rp49.985.00
0.000
Rp97.195.00
0.000

Rp6.500.000.
000
Rp6.500.000
.000
Rp41.022.00
0.000
Rp82.587.00
0.000

EKUITAS DANA
EKUITAS DANA LANCAR

78 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA)


79 Pendapatan yang Ditangguhkan
80 Cadangan Piutang
81 Cadangan Persediaan
Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang

82 Jangka pendek
8
3 Jumlah Ekuitas Dana Lancar (78 s/d 82)
8
4 EKUITAS DANA INVESTASI

85 Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang


86 Diinvestasikan dalam Aset Tetap
87 Diinvestasikan dalam Aset Lainnya
Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang

88 Jangka panjang
8
9 Jumlah Ekuitas Dana Investasi (85 s/d 88)
90 EKUITAS DANA CADANGAN
91
9
2
9
3
9
4

000
Rp3.100.000.
000
Rp6.600.000.
000
Rp3.200.000.
000
Rp2.150.000.
000
Rp2.550.000.
000
Rp23.400.00
0.000
Rp47.210.00
0.000

Diinvestasikan Dalam Dana Cadangan


JUMLAH EKUITAS DANA CADANGAN (91)
JUMLAH EKUITAS DANA (83+89+92)
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (75+93)

27

28

3. NERACA GABUNGAN

NERACA GABUNGAN PPKD DAN SKPD


N
o

Uraian

ASET

ASET LANCAR

Kas di Kas Daerah


Kas di Bendahara
Pengeluaran
Kas di Bendahara
Penerimaan

Investasi Jangka Pendek

Piutang Pajak

Piutang Retribusi
Bagian Lancar Pinjaman
kepada Perusahaan
Negara
Bagian Lancar Pinjaman
kepada Perusahaan
Daerah
Bagian Lancar Pinjaman
kepada Pemerintah Pusat
Bagian Lancar Pinjaman
kepada Pemerintah
Daerah Lainnya
Bagian Lancar Tagihan
Penjualan Angsuran

9
1
0
1
1
1
2
1
3

PPKD

SKPD

GABUNGAN

2011

2010

2011

2010

Rp9.000.000.0
00
Rp3.500.000.0
00
Rp2.250.000.0
00
Rp2.700.000.0
00
Rp4.750.000.0
00
Rp2.350.000.0
00

Rp7.500.000.0
00
Rp2.250.000.0
00
Rp2.160.000.0
00
Rp2.500.000.0
00
Rp3.000.000.0
00
Rp2.500.000.0
00

Rp300.000.00
0

Rp450.000.00
0
Rp100.000.00
0

Rp2.500.000.0
00

2011

2010

Rp50.000.000
Rp100.000.00
0
Rp2.000.000.0
00

Rp30.000.000
Rp1.500.000.0
00

Rp15.000.000

Rp9.000.000

Rp9.300.000.0
00
Rp3.550.000.0
00
Rp2.300.000.0
00
Rp2.800.000.0
00
Rp6.750.000.0
00
Rp2.365.000.0
00

Rp2.000.000.0
00

Rp2.500.000.0
00

Rp2.000.000.0
00

Rp5.000.000.0
00

Rp4.000.000.00
0

Rp3.500.000.0
00
Rp3.000.000.0
00

Rp2.700.000.0
00
Rp1.500.000.0
00

Rp1.500.000.0
00
Rp1.000.000.0
00

Rp1.300.000.0
00
Rp1.200.000.0
00

Rp5.000.000.0
00
Rp4.000.000.0
00

Rp4.000.000.00
0
Rp2.700.000.00
0

Rp4.500.000.0
00
Rp2.800.000.0
00

Rp3.000.000.0
00
Rp2.920.000.0
00

Rp1.500.000.0
00
Rp280.000.00
0

Rp1.000.000.0
00
Rp300.000.00
0

Rp6.000.000.0
00
Rp3.080.000.0
00

Rp4.000.000.00
0
Rp3.220.000.00
0

Rp50.000.000

Rp30.000.000

Rp7.950.000.00
0
Rp2.350.000.00
0
Rp2.190.000.00
0
Rp2.530.000.00
0
Rp4.500.000.00
0
Rp2.509.000.00
0

29

1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
2
5
2
6
2
7
2
8
2
9
3
0
3

Bagian Lancar Tuntutan


Perbendaharaan
Bagian lancar Tuntutan
Ganti Rugi
Piutang Lainnya
Persediaan
Jumlah Aset Lancar (3
s/d 17)
INVESTASI JANGKA
PANJANG
Investasi Nonpermanen
Pinjaman kepada
Perusahaan Negara
Pinjaman kepada
Perusahaan Daerah
Pinjaman kepada
Pemerintah Daerah
Lainnya
Investasi dalam Surat
Utang Negara
Investasi dalam Proyek
Pembangunan
Investasi Nonpermanen
Lainnya
Jumlah Investasi
Nonpermanen (21 s/d
26)
Investasi Permanen
Penyertaan Modal
Pemerintah Daerah
Investasi Permanen
Lainnya
Jumlah Investasi

Rp3.450.000.0
00
Rp4.250.000.0
00
Rp2.000.000.0
00
Rp5.200.000.0
00
Rp55.750.00
0.000

Rp2.900.000.0
00
Rp3.800.000.0
00
Rp1.800.000.0
00
Rp3.550.000.0
00
Rp44.080.00
0.000

Rp450.000.00
0
Rp300.000.00
0
Rp3.500.000.0
00
Rp200.000.00
0
Rp13.745.00
0.000

Rp600.000.00
0
Rp430.000.00
0
Rp1.800.000.0
00
Rp100.000.00
0
Rp10.849.00
0.000

Rp3.900.000.0
00
Rp4.550.000.0
00
Rp5.500.000.0
00
Rp5.400.000.0
00
Rp69.495.000
.000

Rp3.500.000.00
0
Rp4.230.000.00
0
Rp3.600.000.00
0
Rp3.650.000.00
0
Rp54.929.000
.000

Rp2.500.000.0
00
Rp2.370.000.0
00

Rp2.100.000.0
00
Rp2.150.000.0
00

Rp1.500.000.0
00
Rp1.350.000.0
00

Rp1.750.000.0
00
Rp1.200.000.0
00

Rp4.000.000.0
00
Rp3.720.000.0
00

Rp3.850.000.00
0
Rp3.350.000.00
0

Rp2.700.000.0
00
Rp3.480.000.0
00
Rp3.950.000.0
00
Rp2.000.000.0
00

Rp2.550.000.0
00
Rp2.600.000.0
00
Rp3.000.000.0
00
Rp1.900.000.0
00

Rp1.000.000.0
00
Rp1.370.000.0
00
Rp1.850.000.0
00
Rp200.000.00
0

Rp1.400.000.0
00
Rp1.450.000.0
00
Rp2.050.000.0
00
Rp190.000.00
0

Rp3.700.000.0
00
Rp4.850.000.0
00
Rp5.800.000.0
00
Rp2.200.000.0
00

Rp3.950.000.00
0
Rp4.050.000.00
0
Rp5.050.000.00
0
Rp2.090.000.00
0

Rp17.000.00
0.000

Rp14.300.00
0.000

Rp7.270.000
.000

Rp8.040.000
.000

Rp24.270.000
.000

Rp22.340.000
.000

Rp4.450.000.0
00
Rp3.450.000.0
00
Rp7.900.000

Rp4.000.000.0
00
Rp2.650.000.0
00
Rp6.650.000

Rp650.000.00
0
Rp2.450.000.0
00
Rp3.100.000

Rp600.000.00
0
Rp2.300.000.0
00
Rp2.900.000

Rp5.100.000.0
00
Rp5.900.000.0
00
Rp11.000.000

Rp4.600.000.00
0
Rp4.950.000.00
0
Rp9.550.000.

30

1
3
2
3
3
3
4
3
5
3
6
3
7
3
8
3
9
4
0
4
1
4
2
4
3
4
4
4
5
4
6
4
7
4
8
4

Permanen (29 s/d 30)


Jumlah Investasi Jangka
Panjang (27 + 31)

.000
Rp24.900.00
0.000

.000
Rp20.950.00
0.000

.000
Rp10.370.00
0.000

.000
Rp10.940.00
0.000

.000
Rp35.270.000
.000

000
Rp31.890.000
.000

Rp15.000.000.
000
Rp8.200.000.0
00
Rp11.000.000.
000
Rp20.000.000.
000
Rp7.725.000.0
00
Rp6.500.000.0
00
Rp65.000.000.
000
Rp3.425.000
.000

Rp10.900.000.
000
Rp7.000.000.0
00
Rp9.000.000.0
00
Rp17.507.000.
000
Rp8.500.000.0
00
Rp4.500.000.0
00
Rp45.000.000.
000
Rp12.407.00
0.000

Rp5.000.000.0
00
Rp3.200.000.0
00
Rp7.000.000.0
00
Rp8.000.000.0
00
Rp400.000.00
0
Rp60.000.000
Rp7.500.000.0
00
Rp16.160.00
0.000

Rp4.900.000.0
00
Rp3.000.000.0
00
Rp6.600.000.0
00
Rp7.800.000.0
00
Rp300.000.00
0
Rp100.000.00
0
Rp5.000.000.0
00
Rp17.700.00
0.000

Rp20.000.000.
000
Rp11.400.000.
000
Rp18.000.000.
000
Rp28.000.000.
000
Rp8.125.000.0
00
Rp6.560.000.0
00
Rp72.500.000.
000
Rp19.585.000
.000

Rp15.800.000.0
00
Rp10.000.000.0
00
Rp15.600.000.0
00
Rp25.307.000.0
00
Rp8.800.000.00
0
Rp4.600.000.00
0
Rp50.000.000.0
00
Rp30.107.000
.000

Rp3.550.000.0
00
Rp3.550.000
.000

Rp4.000.000.0
00
Rp4.000.000
.000

Rp1.500.000.0
00
Rp1.500.000
.000

Rp1.300.000.0
00
Rp1.300.000
.000

Rp5.050.000.0
00
Rp5.050.000.
000

Rp5.300.000.00
0
Rp5.300.000.
000

Rp2.500.000.0
00
Rp1.950.000.0
00
Rp2.750.000.0
00
Rp1.720.000.0

Rp2.000.000.0
00
Rp800.000.00
0
Rp850.000.00
0
Rp600.000.00

Rp1.000.000.0
00
Rp850.000.00
0
Rp700.000.00
0
Rp500.000.00

Rp1.200.000.0
00
Rp700.000.00
0
Rp750.000.00
0
Rp400.000.00

Rp3.500.000.0
00
Rp2.800.000.0
00
Rp3.450.000.0
00
Rp2.220.000.0

Rp3.200.000.00
0
Rp1.500.000.00
0
Rp1.600.000.00
0
Rp1.000.000.00

ASET TETAP
Tanah
Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Aset Tetap Lainnya
Konstruksi Dalam
Pengerjaan
Akumulasi Penyusutan
Jumlah Aset Tetap (34
s/d 40)
DANA CADANGAN
Dana Cadangan
Jumlah Dana Cadangan
(43)
ASET LAINNYA
Tagihan Penjualan
Angsuran
Tuntutan Perbendaharaan
Tuntutan Ganti Rugi
Kemitraan dengan Pihak

31

9
5
0
5
1
5
2
5
3
5
4
5
5
5
6
5
7
5
8
5
9
6
0
6
1
6
2
6
3
6
4
6
5

Ketiga
Aset Tak Berwujud
Aset Lain-Lain
Jumlah Aset Lainnya
(46 s/d 51)
JUMLAH ASET
(18+32+41+44+52)

KEWAJIBAN
KEWAJIBAN JANGKA
PENDEK
Utang Perhitungan Fihak
Ketiga (PFK)
Utang Bunga
Bagian Lancar Utang
Dalam Negeri - Pemerintah
Pusat
Bagian Lancar Utang
Dalam Negeri - Pemerintah
Daerah Lainnya
Bagian Lancar Utang
Dalam Negeri - Lembaga
Keuangan Bank
Bagian Lancar Utang
Dalam Negeri - Lembaga
Keuangan Bukan Bank
Bagian Lancar Utang
Dalam Negeri - Obligasi
Bagian Lancar Utang
Jangka Panjang Lainnya
Utang Jangka Pendek
Lainnya

00
Rp1.600.000.0
00
Rp2.600.000.0
00
Rp13.120.00
0.000
Rp97.195.00
0.000

0
Rp500.000.00
0
Rp400.000.00
0
Rp5.150.000
.000
Rp82.587.00
0.000

0
Rp300.000.00
0
Rp600.000.00
0
Rp3.950.000
.000
Rp44.225.00
0.000

0
Rp200.000.00
0
Rp400.000.00
0
Rp3.650.000
.000
Rp43.139.00
0.000

00
Rp1.900.000.0
00
Rp3.200.000.0
00
Rp17.070.000
.000
Rp141.420.00
0.000

Rp800.000.000
Rp8.800.000.
000
Rp125.726.00
0.000

Rp8.600.000.0
00
Rp500.000.00
0

Rp10.000.000.
000
Rp400.000.00
0

Rp4.300.000.0
00

Rp5.000.000.0
00

Rp12.900.000.
000

Rp15.000.000.0
00

Rp20.000.000

Rp30.000.000

Rp520.000.000

Rp430.000.000

Rp3.500.000.0
00

Rp2.950.000.0
00

Rp1.500.000.0
00

Rp1.650.000.0
00

Rp5.000.000.0
00

Rp4.600.000.00
0

Rp2.250.000.0
00

Rp2.700.000.0
00

Rp1.250.000.0
00

Rp1.300.000.0
00

Rp3.500.000.0
00

Rp4.000.000.00
0

Rp3.350.000.0
00

Rp2.900.000.0
00

Rp1.350.000.0
00

Rp1.000.000.0
00

Rp4.700.000.0
00

Rp3.900.000.00
0

Rp1.550.000.0
00
Rp2.000.000.0
00
Rp1.750.000.0
00
Rp310.000.00
0

Rp1.700.000.0
00
Rp1.500.000.0
00
Rp1.500.000.0
00
Rp290.000.00
0

Rp750.000.00
0
Rp1.000.000.0
00
Rp1.750.000.0
00

Rp900.000.00
0
Rp800.000.00
0
Rp1.500.000.0
00
Rp100.000.00
0

Rp2.300.000.0
00
Rp3.000.000.0
00
Rp3.500.000.0
00

Rp2.600.000.00
0
Rp2.300.000.00
0
Rp3.000.000.00
0

Rp370.000.000

Rp390.000.000

Rp60.000.000

0
Rp700.000.000

32

6
6
6
7
6
8
6
9
7
0
7
1
7
2
7
3
7
4
7
5
7
6
7
7
7
8
7
9
8
0
8
1

Jumlah Kewajiban
Jangka Pendek (57 s/d
65)
KEWAJIBAN JANGKA
PANJANG
Utang Luar Negeri Pemerintah Pusat
Utang Dalam Negeri Pemerintah Daerah
Lainnya
Utang Dalam Negeri Lembaga Keuangan Bank
Utang
Dalam Negeri - Lembaga
Keuangan Bukan Bank
Utang
Dalam Negeri- Obligasi
Utang Jangka Panjang
Lainnya
Jumlah Kewajiban
Jangka Panjang (68 s/d
73)
JUMLAH KEWAJIBAN
(66+74)

Rp23.810.00
0.000

Rp23.940.00
0.000

Rp11.980.00
0.000

Rp12.280.00
0.000

Rp35.790.000
.000

Rp36.220.000
.000

Rp5.800.000.0
00

Rp4.500.000.0
00

Rp2.700.000.0
00

Rp2.500.000.0
00

Rp8.500.000.0
00

Rp7.000.000.00
0

Rp3.100.000.0
00

Rp2.850.000.0
00

Rp1.100.000.0
00

Rp1.200.000.0
00

Rp4.200.000.0
00

Rp4.050.000.00
0

Rp6.600.000.0
00

Rp3.000.000.0
00

Rp2.660.000.0
00

Rp3.000.000.0
00

Rp9.260.000.0
00

Rp6.000.000.00
0

Rp3.200.000.0
00
Rp2.150.000.0
00
Rp2.550.000.0
00

Rp2.950.000.0
00
Rp1.975.000.0
00
Rp2.350.000.0
00

Rp1.200.000.0
00
Rp1.150.000.0
00
Rp1.350.000.0
00

Rp1.250.000.0
00
Rp1.197.000.0
00
Rp1.500.000.0
00

Rp4.400.000.0
00
Rp3.300.000.0
00
Rp3.900.000.0
00

Rp4.200.000.00
0
Rp3.172.000.00
0
Rp3.850.000.00
0

Rp23.400.00
0.000
Rp47.210.00
0.000

Rp17.625.00
0.000
Rp41.565.00
0.000

Rp10.160.00
0.000
Rp22.140.00
0.000

Rp10.647.00
0.000
Rp22.927.00
0.000

Rp33.560.000
.000
Rp69.350.000
.000

Rp28.272.000
.000
Rp64.492.000
.000

Rp5.500.000.0
00
Rp4.000.000.0
00
Rp6.000.000.0
00
Rp8.585.000.0
00

Rp3.122.000.0
00
Rp3.500.000.0
00
Rp5.200.000.0
00
Rp7.000.000.0
00

Rp2.500.000.0
00
Rp400.000.00
0
Rp4.000.000.0
00
Rp1.285.000.0
00

Rp312.000.00
0
Rp350.000.00
0
Rp3.000.000.0
00
Rp2.000.000.0
00

Rp8.000.000.0
00
Rp4.400.000.0
00
Rp10.000.000.
000
Rp9.870.000.0
00

Rp3.434.000.00
0
Rp3.850.000.00
0
Rp8.200.000.00
0
Rp9.000.000.00
0

EKUITAS DANA
EKUITAS DANA LANCAR
Sisa Lebih Pembiayaan
Anggaran (SiLPA)
Pendapatan yang
Ditangguhkan
Cadangan Piutang
Cadangan Persediaan

33

8
2
8
3
8
4
8
5
8
6
8
7
8
8
8
9
9
0
9
1
9
2
9
3
9
4

Dana yang Harus


Disediakan untuk
Pembayaran Utang Jangka
pendek
Jumlah Ekuitas Dana
Lancar (78 s/d 82)
EKUITAS DANA
INVESTASI
Diinvestasikan dalam
Investasi Jangka Panjang
Diinvestasikan dalam Aset
Tetap
Diinvestasikan dalam Aset
Lainnya
Dana yang Harus
Disediakan untuk
Pembayaran Utang Jangka
panjang
Jumlah Ekuitas Dana
Investasi (85 s/d 88)
EKUITAS DANA CADANGAN
Diinvestasikan Dalam
Dana Cadangan
JUMLAH EKUITAS DANA
CADANGAN (91)
JUMLAH EKUITAS DANA
(83+89+92)
JUMLAH KEWAJIBAN
DAN EKUITAS DANA
(75+93)

Rp800.000.00
0
Rp23.285.00
0.000

Rp750.000.00
0
Rp18.072.00
0.000

Rp100.000.00
0
Rp8.085.000
.000

Rp150.000.00
0
Rp5.512.000
.000

Rp900.000.000
Rp31.370.000
.000

Rp900.000.000
Rp23.584.000
.000

Rp6.000.000.0
00
Rp6.700.000.0
00
Rp3.000.000.0
00

Rp7.000.000.0
00
Rp5.750.000.0
00
Rp1.200.000.0
00

Rp3.000.000.0
00
Rp3.000.000.0
00
Rp1.000.000.0
00

Rp4.000.000.0
00
Rp2.750.000.0
00
Rp1.200.000.0
00

Rp9.000.000.0
00
Rp9.700.000.0
00
Rp4.000.000.0
00

Rp11.000.000.0
00
Rp8.500.000.00
0
Rp2.400.000.00
0

Rp4.000.000.0
00
Rp19.700.00
0.000

Rp2.500.000.0
00
Rp16.450.00
0.000

Rp3.000.000.0
00
Rp10.000.00
0.000

Rp2.500.000.0
00
Rp10.450.00
0.000

Rp7.000.000.0
00
Rp29.700.000
.000

Rp5.000.000.00
0
Rp26.900.000
.000

Rp7.000.000.0
00
Rp7.000.000
.000
Rp49.985.00
0.000

Rp6.500.000.0
00
Rp6.500.000
.000
Rp41.022.00
0.000

Rp4.000.000.0
00
Rp4.000.000
.000
Rp22.085.00
0.000

Rp4.250.000.0
00
Rp4.250.000
.000
Rp20.212.00
0.000

Rp0
Rp11.000.000.
000
Rp11.000.000
.000
Rp72.070.000
.000

Rp0
Rp10.750.000.0
00
Rp10.750.000
.000
Rp61.234.000
.000

Rp97.195.00
0.000

Rp82.587.00
0.000

Rp44.225.00
0.000

Rp43.139.00
0.000

Rp141.420.00
0.000

Rp125.726.00
0.000

34

4. NERACA PEMDA
N
0.
1 ASET
2 ASET LANCAR

URAIAN

3 Kas di Kas Daerah


4 Kas di Bendahara Pengeluaran
5 Kas di Bendahara Penerimaan
6 Investasi Jangka Pendek
7 Piutang Pajak
8 Piutang Retribusi
Bagian Lancar Pinjaman
9 Negara
Bagian Lancar Pinjaman
10 Daerah
Bagian Lancar Pinjaman
11 Pusat
Bagian Lancar Pinjaman
12 Daerah Lainnya

kepada Perusahaan
kepada Perusahaan
kepada Pemerintah
kepada Pemerintah

13 Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran


14 Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan
15 Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi
16 Piutang Lainnya
17 Persediaan
18 Jumlah Aset Lancar (3 s/d 17)
19 INVESTASI JANGKA PANJANG
20 Investasi Nonpermanen
21 Pinjaman kepada Perusahaan Negara
22 Pinjaman kepada Perusahaan Daerah
23 Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya
24 Investasi dalam Surat Utang Negara
25 Investasi dalam Proyek Pembangunan
26 Investasi Nonpermanen Lainnya

2011

2010

Rp9.300.000.0
00
Rp3.550.000.0
00
Rp2.300.000.0
00
Rp2.800.000.0
00
Rp6.750.000.0
00
Rp2.365.000.0
00
Rp5.000.000.0
00
Rp5.000.000.0
00
Rp4.000.000.0
00
Rp6.000.000.0
00
Rp3.080.000.0
00
Rp3.900.000.0
00
Rp4.550.000.0
00
Rp5.500.000.0
00
Rp5.400.000.0
00
Rp69.495.000
.000

Rp7.950.000.0
00
Rp2.350.000.0
00
Rp2.190.000.0
00
Rp2.530.000.0
00
Rp4.500.000.0
00
Rp2.509.000.0
00
Rp4.000.000.0
00
Rp4.000.000.0
00
Rp2.700.000.0
00
Rp4.000.000.0
00
Rp3.220.000.0
00
Rp3.500.000.0
00
Rp4.230.000.0
00
Rp3.600.000.0
00
Rp3.650.000.0
00
Rp54.929.000
.000

Rp4.000.000.0
00
Rp3.720.000.0
00
Rp3.700.000.0
00
Rp4.850.000.0
00
Rp5.800.000.0
00
Rp2.200.000.0
00

Rp3.850.000.0
00
Rp3.350.000.0
00
Rp3.950.000.0
00
Rp4.050.000.0
00
Rp5.050.000.0
00
Rp2.090.000.0
00
35

Jumlah Investasi Nonpermanen (21 s/d


27 26)
28 Investasi Permanen
29 Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
30 Investasi Permanen Lainnya
31 Jumlah Investasi Permanen (29 s/d 30)
32 Jumlah Investasi Jangka Panjang (27 + 31)
33 ASET TETAP
34 Tanah
35 Peralatan dan Mesin
36 Gedung dan Bangunan
37 Jalan, Irigasi, dan Jaringan
38 Aset Tetap Lainnya
39 Konstruksi Dalam Pengerjaan
40 Akumulasi Penyusutan
41 Jumlah Aset Tetap (34 s/d 40)
42 DANA CADANGAN
43 Dana Cadangan
44 Jumlah Dana Cadangan (43)
45 ASET LAINNYA
46 Tagihan Penjualan Angsuran
47 Tuntutan Perbendaharaan
48 Tuntutan Ganti Rugi
49 Kemitraan dengan Pihak Ketiga
50 Aset Tak Berwujud
51 Aset Lain-Lain
52 Jumlah Aset Lainnya (46 s/d 51)
53 JUMLAH ASET (18+32+41+44+52)
54

Rp24.270.000
.000

Rp22.340.000
.000

Rp5.100.000.0
00
Rp5.900.000.0
00
Rp11.000.000
.000
Rp35.270.000
.000

Rp4.600.000.0
00
Rp4.950.000.0
00
Rp9.550.000.
000
Rp31.890.000
.000

Rp20.000.000.
000
Rp11.400.000.
000
Rp18.000.000.
000
Rp28.000.000.
000
Rp8.125.000.0
00
Rp6.560.000.0
00
Rp72.500.000.
000
Rp19.585.000
.000

Rp15.800.000.
000
Rp10.000.000.
000
Rp15.600.000.
000
Rp25.307.000.
000
Rp8.800.000.0
00
Rp4.600.000.0
00
Rp50.000.000.
000
Rp30.107.000
.000

Rp5.050.000.0
00
Rp5.050.000.
000

Rp5.300.000.0
00
Rp5.300.000.
000

Rp3.500.000.0
00
Rp2.800.000.0
00
Rp3.450.000.0
00
Rp2.220.000.0
00
Rp1.900.000.0
00
Rp3.200.000.0
00
Rp17.070.000
.000
Rp141.420.00
0.000

Rp3.200.000.0
00
Rp1.500.000.0
00
Rp1.600.000.0
00
Rp1.000.000.0
00
Rp700.000.000
Rp800.000.000
Rp8.800.000.
000
Rp125.726.00
0.000
36

55 KEWAJIBAN
56 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
57 Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
58 Utang Bunga
Bagian Lancar Utang Dalam Negeri 59 Pemerintah Pusat
Bagian Lancar Utang Dalam Negeri 60 Pemerintah Daerah Lainnya
Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Lembaga
61 Keuangan Bank
Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Lembaga
62 Keuangan Bukan Bank
63 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Obligasi
64 Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Lainnya
65 Utang Jangka Pendek Lainnya
Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (57 s/d
66 65)
67 KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
68 Utang Luar Negeri - Pemerintah Pusat
Utang Dalam Negeri - Pemerintah Daerah
69 Lainnya
Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank
70 Utang
Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan
71 Bank Utang
72 Dalam Negeri- Obligasi
73 Utang Jangka Panjang Lainnya
Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (68 s/d
74 73)
75 JUMLAH KEWAJIBAN (66+74)
76 EKUITAS DANA
77 EKUITAS DANA LANCAR
78 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA)
79 Pendapatan yang Ditangguhkan
80 Cadangan Piutang
81 Cadangan Persediaan
Dana yang Harus Disediakan untuk
82 Pembayaran Utang Jangka pendek
83 Jumlah Ekuitas Dana Lancar (78 s/d 82)
84 EKUITAS DANA INVESTASI

Rp12.900.000.
000
Rp520.000.000
Rp5.000.000.0
00
Rp3.500.000.0
00
Rp4.700.000.0
00
Rp2.300.000.0
00
Rp3.000.000.0
00
Rp3.500.000.0
00
Rp370.000.000
Rp35.790.000
.000

Rp15.000.000.
000
Rp430.000.000
Rp4.600.000.0
00
Rp4.000.000.0
00
Rp3.900.000.0
00
Rp2.600.000.0
00
Rp2.300.000.0
00
Rp3.000.000.0
00
Rp390.000.000
Rp36.220.000
.000

Rp8.500.000.0
00
Rp4.200.000.0
00
Rp9.260.000.0
00
Rp4.400.000.0
00
Rp3.300.000.0
00
Rp3.900.000.0
00
Rp33.560.000
.000
Rp69.350.000
.000

Rp7.000.000.0
00
Rp4.050.000.0
00
Rp6.000.000.0
00
Rp4.200.000.0
00
Rp3.172.000.0
00
Rp3.850.000.0
00
Rp28.272.000
.000
Rp64.492.000
.000

Rp8.000.000.0
00
Rp4.400.000.0
00
Rp10.000.000.
000
Rp9.870.000.0
00
Rp900.000.000
Rp31.370.000
.000

Rp3.434.000.0
00
Rp3.850.000.0
00
Rp8.200.000.0
00
Rp9.000.000.0
00
Rp900.000.000
Rp23.584.000
.000
37

85 Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang


86 Diinvestasikan dalam Aset Tetap
87 Diinvestasikan dalam Aset Lainnya
Dana yang Harus Disediakan untuk
88 Pembayaran Utang Jangka panjang
89 Jumlah Ekuitas Dana Investasi (85 s/d 88)
90 EKUITAS DANA CADANGAN
91 Diinvestasikan Dalam Dana Cadangan
92 JUMLAH EKUITAS DANA CADANGAN (91)
93 JUMLAH EKUITAS DANA (83+89+92)
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA
94 (75+93)

Rp9.000.000.0
00
Rp9.700.000.0
00
Rp4.000.000.0
00
Rp7.000.000.0
00
Rp29.700.000
.000
Rp0
Rp11.000.000.
000
Rp11.000.000
.000
Rp72.070.000
.000
Rp141.420.00
0.000

Rp11.000.000.
000
Rp8.500.000.0
00
Rp2.400.000.0
00
Rp5.000.000.0
00
Rp26.900.000
.000
Rp0
Rp10.750.000.
000
Rp10.750.000
.000
Rp61.234.000
.000
Rp125.726.00
0.000

5. PERUBAHAN EKUITAS

PEMERINTAH DAERAH
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER
2011 DAN 2010
N
O

URAIAN

EKUITAS AWAL

SURPLUS/DEFISIT-LO

3
4
5
6

DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN


KEBIJAKAN/KESALAHAN MENDASAR:
KOREKSI NILAI PERSEDIAAN
SELISIH REVALUASI ASET TETAP
LAIN-LAIN

EKUITAS AKHIR

2011
Rp61.234.000.
000
Rp50.500.000.
000
Rp20.287.000.
000

2010
Rp61.234.000.
000

Rp91.447.000
.000

Rp61.234.00
0.000

6. PERUBAHAN SAL

PEMERINTAH DAERAH
38

LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH


PER 31 DESEMBER 2011 DAN 2010
N
O

URAIAN

1 Saldo Anggaran Lebih Awal


Penggunaan SAL sebagai Penerimaan
2 Pembiayaan Tahun Berjalan
3

Subtotal (1 - 2)
Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran
4 (SiLPA/SiKPA)
5

Subtotal (3 + 4)
Koreksi Kesalahan Pembukuan Tahun
6 Sebelumnya
7 Lain-lain
Saldo Anggaran Lebih Akhir (5 + 6 +
8 7)

2011
Rp130.000.000
.000
Rp75.000.000.
000
Rp55.000.000.
000
Rp8.000.000.0
00
Rp63.000.000.
000
Rp50.000.000.
000
Rp75.000.000.
000
Rp188.000.00
0.000

2010
Rp120.000.000
.000
Rp60.000.000.
000
Rp60.000.000.
000
Rp3.434.000.0
00
Rp63.434.000.
000
Rp45.000.000.
000
Rp60.000.000.
000
Rp168.434.00
0.000

7. LAPORAN ARUS KAS

LAPORAN ARUS KAS


PEMERINTAH DAERAH
Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 2011
dan 2010 Metode Langsung
N
o.
Uraian
1 Arus Kas dari Aktivitas Operasi
2 Arus Masuk Kas
3

Pendapatan Pajak Daerah

Pendapatan Retribusi Daerah


Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah
5
yang Dipisahkan
6

Lain-lain PAD yang sah

Dana Bagi Hasil Pajak

2011

2010

Rp155.000.000
.000
Rp25.000.000.
000

Rp125.000.000
.000
Rp27.000.000.
000

Rp2.500.000.0
00

Rp3.000.000.0
00

Rp27.000.000.
000
Rp4.500.000.0
00

Rp25.000.000.
000
Rp5.000.000.0
00
39

Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam

Dana Alokasi Umum

10

Dana Alokasi Khusus

11

Dana Otonomi Khusus

12

Dana Penyesuaian

13

Pendapatan Hibah

14

Pendapatan Dana Darurat

15

Pendapatan Lainnya
Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d

16 15)
17 Arus Keluar Kas
18

Belanja Pegawai

19

Belanja Barang

20

Bunga

21

Subsidi

22

Hibah

23

Bantuan Sosial

24

Belanja Tak Terduga

25

Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota

26
27
28
29
30
31
32

Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota


Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke
Kabupaten/Kota
Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d
27)
Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi
(16 - 28)
Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset
Nonkeuangan
Arus Masuk Kas
Pendapatan Penjualan atas Tanah

Rp3.000.000.0
00
Rp300.000.000
.000
Rp3.000.000.0
00
Rp15.000.000.
000
Rp45.000.000.
000
Rp1.250.000.0
00
Rp4.000.000.0
00
Rp20.000.000.
000
Rp605.250.00
0.000

Rp3.500.000.0
00
Rp275.000.000
.000
Rp3.250.000.0
00
Rp17.000.000.
000
Rp50.000.000.
000
Rp1.000.000.0
00
Rp5.000.000.0
00
Rp22.000.000.
000
Rp561.750.00
0.000

Rp210.000.000
.000
Rp150.000.000
.000
Rp10.000.000.
000
Rp5.000.000.0
00
Rp10.000.000.
000
Rp1.750.000.0
00
Rp1.750.000.0
00
Rp1.000.000.0
00
Rp12.500.000.
000

Rp200.000.000
.000
Rp155.000.000
.000
Rp5.000.000.0
00
Rp6.000.000.0
00
Rp12.000.000.
000
Rp2.000.000.0
00
Rp1.000.000.0
00

Rp750.000.000

Rp500.000.000

Rp402.750.00
0.000
Rp202.500.00
0.000

Rp397.250.00
0.000
Rp164.500.00
0.000

Rp10.000.000.
000

Rp12.000.000.
000

Rp750.000.000
Rp15.000.000.
000

40

33
34
35
36
37

Pendapatan
Mesin
Pendapatan
Bangunan
Pendapatan
dan
Jaringan
Pendapatan
Lainnya

Penjualan atas Peralatan dan


Penjualan atas Gedung dan
Penjualan atas Jalan, Irigasi
dari Penjualan Aset Tetap

Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya


Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d

38 37)
39 Arus Keluar Kas
40

Belanja Tanah

41

Belanja Peralatan dan Mesin

42

Belanja Gedung dan Bangunan

43

Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan

44

Belanja Aset Tetap Lainnya

45

Belanja Aset Lainnya


Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d

46 45)
Arus
47 Aset
48 Arus
49 Arus

Kas Bersih dari Aktivitas Investasi


Nonkeuangan (38 - 46)
Kas dari Aktivitas Pembiayaan
Masuk Kas

50

Pencairan Dana Cadangan


Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang
51 Dipisahkan
52

Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat


Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah
Daerah
53
Lainnya
Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga
54 Keuangan Bank
Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga
Keuangan Bukan
55
Bank
56

Pinjaman Dalam Negeri - Obligasi

Rp5.000.000.0
00
Rp15.000.000.
000

Rp3.000.000.0
00
Rp12.500.000.
000

Rp20.000.000.
000

Rp15.000.000.
000

Rp7.000.000.0
00
Rp5.000.000.0
00
Rp62.000.000
.000

Rp8.500.000.0
00
Rp3.750.000.0
00
Rp54.750.000
.000

Rp2.200.000.0
00
Rp3.000.000.0
00
Rp7.000.000.0
00
Rp2.500.000.0
00
Rp8.900.000.0
00
Rp9.000.000.0
00
Rp32.600.000
.000
Rp29.400.000
.000

Rp2.000.000.0
00
Rp2.500.000.0
00
Rp5.000.000.0
00
Rp3.000.000.0
00
Rp9.000.000.0
00
Rp8.750.000.0
00
Rp30.250.000
.000
Rp24.500.000
.000

Rp5.000.000.0
00
Rp7.250.000.0
00
Rp25.000.000.
000

Rp5.750.000.0
00
Rp7.000.000.0
00
Rp22.500.000.
000

Rp22.500.000.
000

Rp25.000.000.
000

Rp17.500.000.
000

Rp20.000.000.
000

Rp18.000.000.
000

Rp15.000.000.
000

Rp15.000.000.
000

Rp12.500.000.
000
41

57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76

Pinjaman Dalam Negeri - Lainnya


Penerimaan Kembali Pinjaman kepada
Perusahaan
Negara
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada
Perusahaan
Daerah
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada
Pemerintah
Daerah Lainnya
Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d
60)
Arus Keluar Kas
Pembentukan Dana Cadangan
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam
Negeri
Pemerintah Pusat
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam
Negeri
Pemerintah Daerah Lainnya
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam
Negeri
Lembaga Keuangan Bank
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam
Negeri
Lembaga Keuangan Bukan Bank
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam
Negeri
Obligasi
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam
Negeri
Lainnya
Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan
Negara
Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan
Daerah
Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah
Daerah
Lainnya
Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d
73)
Arus Kas Bersih dari Aktivitas
Pembiayaan (61 - 74)
Arus Kas dari Aktivitas Nonanggaran

Rp5.500.000.0
00

Rp5.000.000.0
00

Rp8.000.000.0
00

Rp5.000.000.0
00

Rp3.500.000.0
00

Rp3.000.000.0
00

Rp7.000.000.0
00

Rp5.000.000.0
00

Rp134.250.00
0.000

Rp125.750.00
0.000

Rp15.000.000.
000
Rp20.000.000.
000

Rp18.000.000.
000
Rp25.000.000.
000

Rp2.000.000.0
00

Rp2.500.000.0
00

Rp5.000.000.0
00

Rp4.000.000.0
00

Rp3.500.000.0
00

Rp3.000.000.0
00

Rp4.000.000.0
00

Rp3.000.000.0
00

Rp3.000.000.0
00

Rp5.000.000.0
00

Rp1.000.000.0
00

Rp1.500.000.0
00

Rp5.000.000.0
00
Rp3.000.000.0
00

Rp3.000.000.0
00
Rp4.000.000.0
00

Rp4.000.000.0
00

Rp2.000.000.0
00

Rp65.500.000
.000
Rp68.750.000
.000

Rp71.000.000
.000
Rp54.750.000
.000
42

77 Arus Masuk Kas


Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga
78 (PFK)
Jumlah Arus Masuk Kas (78 s/d
79 78)
80 Arus Keluar Kas
Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga
81 (PFK)
Jumlah Arus Keluar Kas (81 s/d
82 81)
Arus Kas Bersih dari Aktivitas
83 Nonanggaran (79 - 82)
Kenaikan/Penurunan Kas (29 + 47 + 75
84 + 83)
85 Saldo Awal Kas di BUD
86

Saldo Akhir Kas di BUD (84 + 85)


Saldo Akhir Kas di Bendahara
87 Pengeluaran
Saldo Akhir Kas di Bendahara
88 Penerimaan
89

Saldo Akhir Kas (86 + 87 + 88)

Rp15.000.000.
000
Rp15.000.000
.000

Rp18.000.000.
000
Rp18.000.000
.000

Rp12.000.000.
000
Rp12.000.000
.000
Rp3.000.000.
000
Rp303.650.00
0.000
Rp9.500.000.
000
Rp313.150.00
0.000
Rp550.000.00
0
Rp200.000.00
0
Rp313.900.00
0.000

Rp12.500.000.
000
Rp12.500.000
.000
Rp5.500.000.
000
Rp249.250.00
0.000
Rp7.950.000.
000
Rp257.200.00
0.000
Rp350.000.00
0
Rp190.000.00
0
Rp257.740.00
0.000

8. LAPORAN APBD

APBD KABUPATEN/KOTA/PROVINSI TAHUN 2012


NO
.
1
2

KETERANGAN

NILAI

PENDAPATAN
PAD

Pajak Daerah

Retribusi Daerah

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah

Total PAD

Dana Perimbangan

Dana Bagi Hasil Pajak atau Bukan Pajak

Rp150.000.000
.000
Rp25.000.000.
000
Rp2.000.000.0
00
Rp25.000.000.
000
Rp202.000.000
.000

Rp5.000.000.0
00
43

10

Dana Alokasi Umum

11

Dana Alokasi Khusus

12

Total Dana Perimbangan

13

Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah

14

Hibah

15

Dana Darurat

16

Dana Bagi Hasil Pajak

17

Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus

18

Bantuan Keuangan dari Propinsi/Pemda

19

Total Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah

20

TOTAL PENDAPATAN

21
22

BELANJA DAERAH
Belanja Tidak Langsung

23

Belanja Pegawai

24

Belanja Bunga

25

Belanja Subsidi

26

Belenja Hibah

Belanja Bantuan Sosial


Belanja Bantuan Keuangan Kepada Prop/Kab/Kota dan
28 Pemerintah desa dan Parpol
27

29

Belanja Tidak Terduga

30

Total Belanja Tidak Langsung

31

Belanja Langsung

32

Belanja Pegawai

33

Belanja Barang dan Jasa

Rp350.000.000
.000
Rp35.000.000.
000
Rp390.000.000
.000

Rp1.000.000.0
00
Rp5.000.000.0
00
Rp9.000.000.0
00
Rp3.500.000.0
00
Rp2.500.000.0
00
Rp21.000.000.
000
Rp613.000.000
.000

Rp215.000.000
.000
Rp5.000.000.0
00
Rp7.000.000.0
00
Rp9.000.000.0
00
Rp1.500.000.0
00
Rp500.000.000
Rp1.000.000.0
00
Rp239.000.000
.000

Rp20.000.000.
000
Rp140.000.000
.000
44

34

Belanja Modal

35

Total Belanja Langsung

36

TOTAL BELANJA DAERAH

PEMBIAYAAN DAERAH
Penerimaan
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran
39 Sebelumnya (SILPA)

Rp130.000.000
.000
Rp290.000.000
.000
Rp529.000.000
.000

37
38

40

Pencairan Dana Cadangan

41

Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

42

Total Penerimaan

43

Pengeluaran

44 Penyertaan Modal (Investasi) Pemda


45

Total Pengeluaran

46

TOTAL PEMBIAYAAN DAERAH

Rp60.000.000.
000
Rp4.500.000.0
00
Rp10.000.000.
000
Rp74.500.000.
000

Rp2.000.000.0
00
Rp2.000.000.0
00
Rp76.500.000.
000

45

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulannya adalah Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
diatur dalam PSAP (Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan)
yang di mana dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan
daerah dijadikan sebagai standar atau pedoman penyusunannya.
Laporan keuangan daerah terdiri dari Neraca, Laporan APBD, Arus
Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Laporan

Keuangan

Daerah

merupakan

informasi

yang

memuat data berbagai elemen struktur kekayaan dan struktur


finansial yang merupakan pencerminan hasil aktivitas tertentu.
Istilah Laporan Keuangan Pemerintah Daerah meliputi semua
laporan dan berbagai penjelasannya yang mengakui laporannya
tersebut akan diakui sebagai bagian dari laporan keuangan.

46

DAFTAR PUSTAKA

PSAP 01-04
http://repository.upi.edu/3863/4/S_PEA_0805670_Chapter1.pdf
http://sipkd.magelangkab.go.id/materi/27122011/PENYIAPAN_LAPORAN_K
EUANGAN_PEMERINTAH_DAERAH.pdf
http://pengertian-pengertian-info.blogspot.co.id/2015/05/pengertianlaporan-keuangan-daerah.html
http://ekonomisku.blogspot.co.id/2014/07/pengertian-hukum-tujuanfungsi-penyusunan-apbd.html
https://www.scribd.com/doc/192846166/Bab-6-Laporan-Keuangan-PPKD

47

Anda mungkin juga menyukai