Anda di halaman 1dari 36

1

BAB I
TINJAUAN UMUM SENYAWA AKTIF
1.1

Deskripsi Umum
: Misoprostol
a. Nama obat
: Misoprostoli,
b. Sinonim
c.

Nama Kimia

misoprostolum,

misoprostol

(Martidale 2009, hal. 2013).


: methyl 7-[(1RS,2RS,3RS)-3-hydroxy-2-[(1E,4RS)-4hydroxy-4-methyloct-1-enyl]-5-oxocyclopentyl]
heptanoate

and

methyl

7-[(1RS,2RS,3RS)-3-

hydroxy-2-[(1E,4SR)-4-hydroxy-4-methyloct-1-

f.

enyl]-5-oxocyclopentyl]heptanoate
Rumus Molekul : C22H38O5
Bobot Molekul : 382,5
Pemerian
: Jernih, tidak berwarna atau kekuningan, higroskopis,

g.

Kandungan

d.
e.

cairan berminyak.
: 96,5 % hingga 102,0 % substansi anhidrat
(Department Of Health, 2009, hal 3999).

1.2

Sifat-Sifat Fisikokimia
a. Struktur Kimia

b. Kelarutan

(Department Of Health, 2009, hal 3999).


: Praktis tidak larut dalam air; larut dalam
alkohol; sedikit larut dalam asetonitril

c. Susut pengeringan

(Department Of Health, 2009, hal 3999).


: Tidak lebih dari 1%; menggunakan 1 ml
10 mg/ml larutan zat yang akan diperiksa
dalam methanol (Department Of Health,

2009, hal 3999).


d. Wadah dan penyimpanan : Simpan dalam wadah kedap udara pada
suhu sekitar -200C (Department Of Health,
2009, hal 3999).

BAB II
TINJAUAN FARMAKOLOGI
2.1

Golongan Obat Berdasarkan Farmakoterapi


Misoprostol termasuk dalam obat golongan analog prostaglandin

(Department Of Health, 2009, hal. 1475).


2.2

Indikasi
Pencegahan tukak lambung yang diinduksi NSAID (DIH 2011, hal. 1158).

Misoprostol, suatu analog prostaglandin memiliki sifat antisekresi dan pelindung,


mendukung penyembuhan tukak lambung. Senyawa ini dapat mencegah tukak
karena NSAID, serta pilihan yang tepat bagi pasien yang lemah atau sangat lansia
dimana penggunaan NSAID tidak mungkin dihentikan (BNF 61 hal 54, 2011).
2.3

Mekanisme Kerja Obat


Prostaglandin (PG)E2 dan PGI2 adalah prostaglandin utama yang disintesis

oleh mukosa gastrik; senyawa ini menghambat produksi asam dengan cara
berikatan dengan reseptor EP3 pada sel-sel parietal. Ikatan prostaglandin dengan
reseptor menyebabkan penghambatan adenilil siklase dan penurunan kadar AMP
siklik intrasel. PGE juga dapat mencegah terjadinya luka lambung berkat efek

sitoprotektifnya, yang meliputi stimulasi musin dan bikarbonat (Laurence L


hal.983, 2012).
2.4

Farmakokinetik
Absorpsi
Misoprostol diabsorpsi dengan cepat melalui pemberian oral. Setelah dosis
tunggal diberikan, penghambatan produksi sekresi asam lambung dapat
terlihat dalam waktu 30 menit, mencapai konsentrasi puncak plasma
setelah 60 sampai 90 menit. Makanan dan antasida menurunkan laju
absorpsi misoprostol, menyebabkan terjadinya penundaan dan penurunan
puncak konsentrasi asam misoprostol dalam plasma. Setelah pemberian
oral, penghambatan sekresi asam lambung berlangsung selama setidaknya
3 hours.Duration secara langsung berkaitan dengan dosis.
Terjadi peningkatan konsentrasi plasma puncak asam misoprostol dan
AUCs pada pasien dengan gangguan ginjal. Pada pasien geriatri, mungkin
terjadi peningkatan AUCs namun untuk konsentrasi plasma puncak tidak
terpengaruh. (AHFS, 2014).
Distribusi
Distribusi misoprostol ke dalam jaringan tubuh manusia dan cairan belum
dikarakterisasi sepenuhnya. Ikatan asam misoprostol dengan protein serum
sekitar 80-90% (AHFS, 2014).
Metabolisme
Misoprostol mengalami metabolisme lintas pertama yang ekstensif dan
cepat (de-esterifikasi) membentuk asam misoprostol (asam bebasnya),
yang merupakan metabolit utama obat dan bersifat aktif. Asam
misoprostol mengalami metabolisme lebih lanjut dengan beta oksidasi
rantai alpha, oksidasi omega rantai beta, dan konversi ke F analog
prostaglandin. Metabolisme menjadi bentuk tidak aktif ini dapat
berlangsung dalam berbagai jaringan, termasuk jaringan pencernaan dan
hati (AHFS, 2014).
Eliminasi
Waktu paruh eliminasi asam bebas tersebut sekitar 20-40 menit.
Eliminasinya sebagian besar melalui urin sebesar 73% dan sebagian kecil
melalui feses sebesar 15% (AHFS, 2014).

2.5
a.

Dosis dan Cara Pemberian


Administrasi
Cara pemberian tablet misoprostol yaitu secara oral. Kejadian diare akibat
misoprostol dapat dikurangi dengan pemberian obat dalam dosis terbagi
setelah makan dan pada malam hari, serta hindari dengan pemberian
bersamaan dengan yang mengandung magnesium atau antasid laksatif
lainnya (AHFS, 2014).

b.

Dosis
Dosis yang digunakan untuk tablet misoprostol berdasarkan indikasinya
yaitu sebagai pencegahan dari tukak lambung karena NSAID, dosis
dewasa adalah 200 mcg 4 kali sehari atau 400 mcg 2 kali sehari. Durasi
optimum misoprostol belum dijelaskan, keamanan dan efikasinya
ditetapkan hanya untuk periode sampai 3 bulan. Pengurangan dosis
misoprostol pada pasien kerusakan ginjal atau pada pasien geriatri belum
menunjukkan ketentuan, tetapi jika pasien tidak dapat mentoleransi dosis
dewasa biasa, dosis bisa dikurangi (AHFS, 2014).

2.6

Kontraindikasi
Misoprostol dikontraindikasikan pada pasien dengan hipersensitif pada

prostaglandin. Misoprostol tidak boleh digunakan untuk wanita hamil untuk


mengurangi resiko dari tukak lambung akibat NSAID. Misoprostol juga tidak
boleh diberikan pada wanita yang berpotensi melahirkan serta yang kemungkinan
kehamilan. Hal ini karena misoprostol dapat menimbulkan kontraksi dengan
uterus dan merangsang perdarahan uterus (AHFS, 2014)..
2.7
a.

Efek samping dan Toksisitas


Efek samping pada misoprostol yang sering terjadi yaitu : gangguan GI
seperti diare dan sakit perut. Efek yang jarang terjadi : konstipasi,
dispepsia, perut kembung, mual dan muntah, stimulasi uterin (kram di
bawah perut atau sekitar perut), perdarahan vagina (The Unites States
Pharmacopeial Convention 2007, hal.2010).

b.

Toksisitas: dosis akut letal dari obat pada manusia tidak diketahui, tetapi
dosis kumulatif misoprostol 1,6 mg sehari umumnya masih bisa
ditoleransi, terutama menghasilkan efek GI yang merugikan. LD 50 oral
berkisar dari 81 100 dan 27 138 mg/kg pada tikus dan mencit. LD 50 intraperitonial berkisar dari 40 62 dan 70 160 mg/kg pada tikus dan
mencit (AHFS, 2014).

2.8

Interaksi Obat
a. Makanan dan antasid: dapat menurunkan tingkat absorbsi misoprostol,
menyebabkan keterlambatan dan menurunkan konsentrasi plasma puncak
dari asam misoprostol, metabolite aktif obat. Antasid dan beberapa
makanan juga dapat menyebabkan penurunan bioavaibilitas

dari

misoprostol.
b. Efek dari klirens hepatic obat : misoprostol tidak terlihat dapat
menghambat metabolisme dari obat, termasuk diazepam atau propranolol
dengan sistem enzim hepatic sitokrom P-450 (AHFS, 2014)..
c. Menurunkan konsentrasi aspirin (AHFS, 2014).
d. Interaksi misoprostol dengan siklosporin, akan terjadi penurunan efek
nefrotoksik dari senyawa siklosporin (AHFS, 2014).

BAB III
PENGEMBANGAN FORMULA
3.1

Contoh Sediaan yang Beredar di Pasaran


Berikut ini contoh sediaan yang beredar di pasaran dapat dilihat pada

Tabel 3.1
Tabel 3.1 Sediaan yang beredar dipasaran
Nama Produk

Bentuk

Produsen

Komposisi

Chromalux
Citrosol
Gastrul
Invitec
Mipros

Sediaan
Tablet
Tablet
Tablet
Tablet
Tablet

Pharos
Otto
Fahrenheit
Kalbe Farma
Mahakam Beta

Misoprostol 200 mcg


Misoprostol 200 mcg
Misoprostol 200 mcg
Misoprostol 200 mcg
Misoprostol 200 mcg

Noprostol
Prosomed

Tablet
Tablet

Farma
Novell Pharma
Misoprostol 0,2 mg
Futamed
Misoprostol 0,2 mg
(MIMS Indonesia: Petunjuk Konsultasi, 2014).

3.2

Pra-Formulasi

3.2.1

Analisis Pemilihan Zat Aktif


Struktur Kimia

a. Kelarutan

(Department Of Health, 2009, hal 3999)


: Praktis tidak larut dalam air; larut dalam
alkohol; sedikit larut dalam asetonitril
(Martidale 2009, hal. 2013)

b. Susut pengeringan

: Tidak lebih dari 1%; menggunakan 1 ml


10 mg/ml larutan zat yang akan diperiksa
dalam methanol (Department Of Health,

2009, hal 3999).


c. Wadah dan penyimpanan : Simpan dalam wadah kedap udara pada
suhu sekitar -200C (Department Of Health
2009, hal. 2013)
3.2.2

Analisis Pemilihan Eksipien/Zat Tambahan

1.

Hypermellose (Rowe 2009, hal.326)


a. Pemerian
: Serbuk granul atau fibrous, warna putih atau putih
b. Kelarutan

kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa


: Larut dalam air dingin, membentuk larutan koloid
kental, praktis

tidak larut dalam air panas,

kloroform, etanol 95%, dan eter. Tetapi larut


dicampuran etanol dan diklorometan, campuran
methanol dan diklorometan, dan campuran air dan
alkohol. Larut dalam larutan aseton, campuran
diklorometan dan propan-2-ol, dan pelarut organik
c.
d.
e.
f.
g.
h.

2.

lainnya
Titik Lebur
: 190-200C
Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan beberapa agen oksidator
Stabilitas
: Stabil walaupun higroskopis setelah dikeringkan
pH
: Stabil pada pH 3-11
Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Fungsi
: Agen Pendispersi

Microcrystallin Cellulose (Rowe 2009, hal.129)


a. Pemerian
: Microcrystalline cellulose adalah selulosa yang
dimurnikan dan didepolymerized sebagian, putih,
tidak berbau, tidak berasa, kristal terdiri dari partikel
berpori, terdapat dalam ukuran partikel dan nilai

kelembaban yang berbeda yang memiliki sifat dan


b. Kelarutan

aplikasi yang berbeda


: Sedikit larut dalam 5% b/v larutan natrium
hidroksida; praktis tidak larut dalam air, asam encer,

dan pelarut organik


c. Titik Lebur
: 260270C
d. Inkompatibilitas : Microcrystalline cellulose inkompatibel dengan agen
e. Stabilitas

oksidator kuat
: Microcrystalline cellulose stabil meskipun bersifat

higroskopis
f. Wadah dan penyimpanan : Harus disimpan dalam wadah tertutup baik
g. Fungsi
h. Konsentrasi
3.

di tempat yang sejuk dan kering


: Pengisi dan Adsorben
: 20-90%

Crosspovidone (Rowe 2009, hal. 208)


a. Pemerian

: Serbuk higroskopis, putih atau putih kekuningan,


mudah mengalir, tidak berbau atau sedikit berbau,
praktis tidak berasa

b. Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air dan pelarut organik

c. Inkompatibilitas : Kompatibel dengan zat organik dan anorganik


d. Wadah dan Penyimpanan : Disimpan dalam wadah kedap udara,
ditempat sejuk dan kering

4.

e. Fungsi

: Penghancur

f. Konsentrasi

: 2-5%

Colloidal Silicon Dioxide (Rowe 2009, hal.185)


a. Pemerian

: Serbuk amorf, warna putih kebiruan, tidak berasa


dan tidak berbau

b. Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam pelarut organik, air, dan


asam kecuali asam hidroklorida. Larut dalam larutan

asam hidroklorida panas


c. Titik Lebur
: 1600C
d. PH
: 3,5-5,5
e. Wadah dan Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup baik

f. Fungsi
g. Konsentrasi
5.

: Glidant
: 0,1-1%

Hydrogenated, castor oil (Rowe 2009, hal.128)


a. Pemerian
: Serbuk atau serpihan, warna kuning pucat atau
b. Kelarutan

hampir putih.
: Praktis tidak larut dalam air, larut dalam aseton,

kloroform, dan metilen klorida


c. Inkompatibilitas : Kompatibel dengan sebagian besar lemak tumbuhan
dan hewan
d. Stabilitas
: Stabil pada temperatur sampai 150C
e. Wadah dan Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup baik,
ditempat sejuk dan kering
f. Fungsi
: Lubrikan
g. Konsentrasi
: 0,1-2%
Berdasarkan data preformulasi zat aktif Misoprostol, maka akan
dibuat sediaan tablet oral karena zat aktif Misoprostol memiliki aktifitas
farmakologis sebagai pelindung mukosa lambung pada dosis 200 mcg,
karena sediaan tablet cocok untuk dibawa dan digunakan secara langsung
dengan cepat saat diperlukan.
Bentuk sediaan yang akan dibuat adalah tablet oral dengan kekuatan
sediaan 200 mcg. Bentuk senyawa yang akan digunakan adalah bentuk
inaktif yang merupakan bentuk ester. Pemilihan tablet sebagai bentuk yang
dipakai dalam sediaan dengan pertimbangan dosis penggunaan yang kecil
dan sifatnya yang higroskopis.
Jika dibandingkan dengan bentuk sediaan oral lain, sediaan tablet
memiliki berbagai keuntungan, antara lain yaitu tablet memberi keuntungan
dalam bentuk dalam hal penyimpanan. Tablet juga mudah diberikan dan
dikontrol, mudah dibawa, dan ongkosnya rendah. Bagi dokter dosisnya
fleksibel serta menjamin ketepatan dosis (Lachman 2008, hal. 645-646).
3.3

Formulasi, Metode dan Pembuatan Sediaan

3.3.1

Formula
Sediaan yang akan dibuat adalah tablet Misoprostol 200 mcg dengan

formula pustaka yang didapat dari Greenstone (2012):

10

R/

Misoprostol
Hypermellose
Microcrystallin Cellulose
Sodium Starch Glycolate
Hydrogenated, Castor Oil
Tabel 3.2 Formula sediaan yang akan dibuat

Bahan
Misoprostol
Hypermellose
Microcrystallin Cellulose
Crospovidone
Hydrogenated, Castor Oil
Colloidal Silicon Dioxide

3.3.2

Fungsi
Zat aktif
Pendispersi
Pengisi dan adsorben
Penghancur
Lubrikan
Glidan

Berat per tablet


200 mcg
20 mg
50%
3%
1%
0,5%

Metode dan Pembuatan Sediaan


Metode pembuatan yang digunakan dalam formulasi ini adalah metode

kempa langsung dengan modifikasi pada zat aktif. Kempa langsung dipilih karena
sifat dari misoprostol yang bersifat higroskopis dan kekuatan sediaan yang dibuat
sangat kecil, sehingga lebih dipilih metode kempa langsung. Karena pemerian
misoprostol yang berupa minyak maka dikhawatirkan massa cetak yang terbentuk
tidak kompatibel, sehingga perlu dilakukan modifikasi zat aktif menjadi bentuk
serbuk dengan cara menambahkan agen pendispersi yang sesuai bagi misoprostol
dan selanjutnya ditambahkan pengisi sampai terbentuk massa serbuk.
Tablet Misoprostol yang akan dibuat sebanyak 10.000 tablet dengan bobot
tablet 50 mg. Berikut Tabel 3.2 yang merupakan perhitungan dan penimbangan
bahan-bahan untuk pembuatan tablet misoprostol.
Tabel 3.3 Perhitungan dan Penimbangan Bahan
Formula
Misoprostol
Hypermellose
Microcrystalin
Celluose

Bobot
0,2 mg
20 mg
50%

Bobot tiap
tablet
0,2 mg
20 mg
25 mg

Bobot 10.000
tablet
2g
200 g
250 g

11

Crospovidone
Hydrogenated,

3%
1%

1,5 mg
0,5 mg

15 g
5g

Castor Oil
Colloidal Silicon

0,5%

0,25 mg

2,5 g

Dioxide
Prosedur pembuatan tablet Misoprostol adalah sebagai berikut:
1) Timbang

Misoprostol,

Hypermellose,

Microcrystallin

Cellulose,

Crospovidone, Hydrogenated Castor Oil, Colloidal Silicon Dioxide sesuai


dengan kebutuhan.
2) Campurkan misoprostol dengan hypermellose, aduk hingga homogen
(campuran A)
3) Tambahkan Microcrystallin Cellulose, Crospovidone, Hydrogenated Castor
Oil ke dalam campuran A aduk hingga homogen selama 15 menit
4) Tambahkan dengan castor oil terhidrogenasi, aduk homogen sampai terbentuk
massa cetak tablet selama 5 menit.
5) Lakukan

IPC

massa

cetak

tablet

(homogenitas,

kecepatan

alir,

kompresibilitas, BJ)
6) Cetak tablet menggunakan punch yang sesuai sehingga diperoleh tablet
dengan bobot 50 mg
7) Lakukan evaluasi akhir tablet.
3.4

IPC dan Pengawasan Mutu Obat Jadi

3.4.1

In Process Control

1.

Uji Homogenitas
Tujuan

: Memastikan bahwa zat aktif terdistribusi merata di


dalam campuran

Prinsip

: Menetapkan kadar zat aktif dengan cara sampling


pada beberapa titik (atas, tengah, bawah) wadah
pencampur

Penafsiran hasil

: Campuran dinyatakan homogen jika kadar zat aktif


pada beberapa titik sama (Lachman et.al, 1986)

12

2.

Sifat aliran
Tujuan

: Menjamin keseragaman pengisian kedalam cetakan

Prinsip

: Menetapkan jumlah granul yang mengalir melalui alat


selama waktu tertentu.

Alat

: Flow Tester

Penafsiran Hasil

: Aliran granul baik jika waktu yang diperlukan untuk


mengalirkan > 4 g granul adalah 1 detik (Depkes RI,
1995).

3.

Kandungan Lembab
Tujuan

: Mengontrol kandungan lembab granul sehingga dapat


mengantisipasi masalah yang terjadi selama proses
pengempaan tablet, terutama kandungan lembab
menjadi faktor penyebabnya.

Prinsip

: Alat akan menentukan secara otomatis persentase


massa yang hilang (air, komponen yang mudah
menguap) selama pemanasan pada suhu tertentu
(70C)

4.

Alat

: Moisture balance

Penafsiran Hasil

: Kadar air yang baik 1-3 % (Lachman et.al, 1986).

BJ nyata, BJ mampat dan % Kompresibilitas (%K)


Tujuan

: Menjamin aliran granul yang baik

Prinsip

: Pengukuran BJ nyata dan BJ mampat berdasarkan


perbandingan bobot granul terhadap volume sebelum
dan setelah dimampatkan (diketuk 500x).
BJ nyata

bobot granul
volume granul

BJ mampat

bobot granul
volume mampat

13

%K

Penafsiran hasil

BJ mampat BJ nyata
BJ mampat

100%

: Jika % K:
o 5 10 % artinya aliran sangat baik
o 11 20 % artinya aliran cukup baik
o 21 - 25 % artinya aliran cukup
o >26 % artinya aliran buruk (Lachman et.al, 1986).

5.

Distribusi Ukuran Granul


Tujuan

: Memastikan distribusi ukuran granul mengikuti


distribusi normal

Alat

: Granulometer

Prinsip

: Granul dilewatkan melalui susunan pengayak dalam


berbagai ukuran, yang disusun bertingkat satu sama
lain dengan pengayak

berukuran paling halus

diletakkan di bawah. Granul yang tertinggal di tiap


pengayak ditimbang dan dihitung persentasenya serta
ukuran diameternya
Penafsiran hasil

: Distriubusi ukuran granul mengikuti kurva distribusi


normal (Lachman et.al, 1986).

3.4.2

Pengawasan Mutu Obat Jadi

1.

Organoleptik
Tujuan

: Penerimaan oleh konsumen

Prinsip

: Pemeriksaan organoleptik meliputi warna, bau dan


rasa

Penafsiran hasil

: Warna homogen, tidak ada bintik-bintik/noda, bau


sesuai spesifikasi (bau khas bahan, tidak ada bau yang

14

tidak sesuai), rasa sesuai spesifikasi (Lachman et.al,


1986).
2.

Keseragaman Ukuran
Tujuan

: Menjamin penampilan tablet yang baik


- Ketebalan adalah satu-satunya variabel berkaitan
dengan proses pencetakan
- Ketebalan dipengaruhi oleh: BJ ruah, BJ mampat

Alat
Pesyaratan

dan sifat aliran massa cetak


: Jangka sorong
: Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak
kurang dari 1 kali tebal tablet (Depkes RI, 1995).

3.

Keragaman Bobot
Tujuan

: Menjamin keseragaman kandungan zat aktif

Prinsip

: (untuk tablet tidak bersalut) Diambil 10 tablet secara


acak lalu ditimbang satu per satu dan dihitung bobot
rata-ratanya. Berdasarkan hasil penetapan kadar,
dihitung jumlah zat aktif dalam masing-masing dari
10 tablet tersebut dengan anggapan zat aktif
terdistribusi homogen.

Penafsiran hasil

: Hubungan antara Berat Rata-Rata Kaplet dengan


Perbedaan Persentase Maksimum yang Diperbolehkan
(Depkes RI, 1995).

Tabel 3.4 Hubungan Berat Rata-rata dengan Penyimpangan Berat rata-rata


Berat RataRata (mg)
25
26 150
151 300
>300

Penyimpangan berat rata-rata


B
A
15%
30 %
10%
20 %
7.5%
15 %
5%

15

4.

Keseragaman Kandungan
Tujuan

: Menjamin keseragaman kandungan zat aktif

Prinsip

: Menetapkan kadar 10 satuan tablet satu per satu


sesuai penetapan kadar

Penafsiran hasil

: Keseragaman dosis terpenuhi jika jumlah zat aktif


dalam masing-masing dari 10 tablet adalah 85-115%
dari yang tertera pada etiket dan simpangan baku
relatif 6%. Jika 1 satuan berada di luar rentang
tersebut dan tidak ada satuan berada dalam rentang
75,0-125,0% dari kadar yang tertera pada etiket atau
SBR > 6% atau jika kedua kondisi tidak terpenuhi
dilakukan uji 20 satuan tambahan Persyaratan:
Terpenuhi jika tidak lebih dari 1 satuan dari 30 sampel
terletak di luar rentang 85,0-115% dari kadar tablet
yang tertera pada etiket dan tidak ada satuan yang
terletak di luar rentang 75,0-125,0% dari kadar tablet
yang tertera pada etiket dan SBR 30 satuan tidak lebih
dari 7,8% (Depkes RI, 1995).

5.

Uji Disolusi
Tujuan

: Menentukan kesesuaian dengan persyaratan pelepasan


obat yang tertera dalam masing-masing monografi
untuk sediaan tablet.

Prinsip

: Menggunakan dua tahap pengujian yaitu tahap asam


dan tahap dapar menggunakan alat yang dinyatakan
pada masing-masing monografi.

Persyaratan

: Dalam waktu 45 menit harus larut tidak kurang dari


75%

Kondisi disolusi yang digunakan :

16

a) Alat

: tipe 1 atau 2 gunakan alat seperti yang tertera


pada masing-masing monografi

b) Media disolusi

: 900 mL air

c) Kecepatan

: 50 rpm (apparatus 2)

d) Waktu

: 45 menit

Tabel 3.5 Kriteria Penerimaan Uji Disolusi (Tahap Asam)


Tahap

yang

Kriteria Penerimaan

A1

diuji
6

Tidak satupun jumlah zat aktif yang terlarut melebihi

A2

10%
Rata-rata zat aktif yang terlarut dari 12 unit sediaan
(A1 + A2) tidak lebih dari 10% dan tidak satu unit
sediaan pun dari jumlah zat aktif yang terlarut lebih

A3

dari 25%
Rata-rata zat aktif yang terlarut dari 24 unit sediaan

12

(A1 + A2 + A3) tidak lebih dari 10% dan tidak satu


unit sediaan pun dari jumlah zat aktif yang terlarut
lebih dari 25%
Tabel 3.6 Kriteria Penerimaan Uji Disolusi (Tahap Dapar)
Tahap

yang diuji

Kriteria Penerimaan

B1
B2

6
6

Tiap unit sediaan tidak kurang dari Q + 5%


Rata-rata dari 12 unit (S1 +S2) Q dan tidak satu

12

unit sediaan yang lebih kecil dari Q -15%


Rata-rata dari 24 unit (S1 + S2+ S3) Q, tidak

B3

lebih dari 2 unit sediaan yang < Q -15% dan tidak


satu unit pun yang < Q - 25%

17

NB : Harga Q adalah jumlah zat aktif yang terlarut dalam kedua tahap asam
dan dapar yang tertera pada monografi.
(Depkes RI, 1995).
e)

Uji Waktu Hancur


Tujuan

: Menentukan kesesuaian dengan persyaratan waktu


hancur yang tertera dalam masing-masing monografi
untuk sediaan tablet dan kapsul (kecuali jika
dinyatakan untuk tablet kunyah, sustained release)

Prinsip

: Pengukuran waktu yang diperlukan tablet untuk


hancur sempurna dengan menggunakan alat uji waktu
hancur dalam media air (untuk tablet tidak bersalut)
bersuhu 37 2 kecuali dinyatakan lain dalam
monografi.

Penafsiran hasil

: Pada akhir batas waktu seperti yang tertera dalam


monografi,

semua tablet hancur sempurna. Bila 1

atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian


dengan 12 tablet lain. Tidak kurang dari 16 dari 18
tablet uji harus hancur sempurna (Depkes RI, 1995).
3.5

Pengemasan dan Penyimpanan Sediaan Akhir

3.5.1

Pengemasan Sediaan Akhir


Sediaan tablet misoprostol dikemas dalam kemasan primer berupa strip

dan kemasan sekunder berupa kotak yang diberi etiket dan brosur. Alasan sediaan
tablet dikemas dalam kemasan strip untuk menghindari tablet dari paparan udara
luar dan keadaan yang lembab. Keadaan tersebut harus dihindari karena zat
aktifnya bersifat higroskopis.

18

Kemasan Primer

PROSTOVAL tablet
Misoprostol 200 mcg
Diproduksi Oleh:
PT. Raka Farma
Jatinangor-Indonesia
No. Reg DKL
1500311710 A1
Exp. date
:
0617
No. Batch
06150101

HET
: Rp
60.000
(dicetak di bagian
belakang strip)

19

3.5.2

Cara Penyimpanan Dan Alasan

Sediaan tablet misoprostol yang telah dikemas lalu disimpan di tempat


wadah yang tertutup, di tempat yang kering pada suhu 25oC atau kurang. Hal ini
berkaitan dengan sifat zat aktif misoprostol yang higroskopis, sehingga harus
tersimpan dalam keadaan kering dan tidak lembab.

20

BAB IV
PENGUJIAN MUTU SERTA METODE ANALISIS

4.1

Struktur Molekul dan Dasar Analisis Zat Aktif

21

methyl 7-[(1RS,2RS,3RS)-3-hydroxy-2-[(1E,4RS)-4-hydroxy-4-methyloct-1-enyl]5-oxocyclopentyl]heptanoate and methyl 7-[(1RS,2RS,3RS)-3-hydroxy-2[(1E,4SR)-4-hydroxy-4-methyloct-1-enyl]-5-oxocyclopentyl]heptanoate


(Department Of Health, 2009, hal 3999)
Rumus kimia:
C22H38O5
Berdasarkan struktur Misoprostol, gugus fungsi yang terdapat pada zat aktif ini
adalah :
a. Metil
b. Alkohol (-OH)
c. Keton (C=O)
d. Ester (COOH)
Jenis ikatan yang terdapat dalam Misoprostol antara lain :
a. Ikatan Kovalen
b. Ikatan Hidrogen
Dasar analisis zat aktif didasarkan pemeriksaan gugus fungsi, yaitu:
1. Gugusan alkohol
Esterifikasi : tambahkan asam asetat atau salisilat dan beberapa tetes
asam sulfat pekat, lalu dipanaskan. Hasil : bau ester
Oksidasi menjadi aldehida : tambahkan larutan kalium permanganat dan
beberapa tetes asam sulfat encer. Tercium aldehida atau diuji dengan
pereaksi schiff terbentuk warna merah
2. Ester
Pada 30 mg zat tambahkan 0,5mL larutan hidroksilamin 7% dalam
metanol. 0,5 mL larutan KOH 10% dalam etanol dan beberapa tetes asam
klorida. Tambahkan larutan besi (III) klorida : warna merah
3. Gugus karbonil (keton)
Reaksi legal-rothera : tambahkan larutan Na nitroprusida dan beberapa
tetes amoniak terbentuk warna ungu merah.
4.2

Metode Analisis
Metode analisis yang diusulkan untuk pengujian mutu bahan baku (zat
aktif dan eksipien), bahan ruahan, dan obat jadi serta masalah yang
mungkin terjadi dalam metode analisis.

4.2.1

Zat Aktif
a. Metode analisis pengujian mutu zat aktif

22

Identifikasi menggunakan KCKT atau HPLC (Department Of Health,


2009, page 4000)
Alasan : Waktu analisis cepat, penentuan dapat dalam jumlah mikro, daya
pemisahan tinggi. Pada prinsipnya senyawa dapat dipisahkan dengan
metode KCKT jika senyawa tersebut dapat larut dalam pelarut yang
digunakan sebagai fase gerak. KCKT merupakan metode yang lebih baik
untuk cuplikan atau sampel yang jumlahnya sedikit.
b. Metode analisis eksipien yang digunakan dalam formulasi
Alasan : Eksipien yang digunakan dalam formulasi adalah hypermellose,
microcrystalin cellulose, hydrogen castrol oil, crospovidone, dan
colloidal silicon oxide. Setelah dilakukan studi struktur kimia dari
eksipien yang digunakan terdapat gugus fungsi seperti O-H, C-C, C=O,
C-N dan lain-lain. Sehingga metode analisis untuk eksipien dalam
formulasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode analisis
spektrofotometri

inframerah.

Dimana

dengan

menggunakan

spektrofotometri inframerah terdapat interaksi radiasi inframerah dengan


molekul menyebabkan terjadinya vibrasi dan/atau rotasi pada ikatan
dalam molekul pada bilangan gelombang tertentu. Daerah radiasi
elektromagnetik IR yang lazim digunakan dalam analisis senyawa
organik meliputi bilangan gelombang 4000-625cm-1 atau panjang
gelombang 2,5-16 m.
c. Metode analisis sediaan: KCKT atau HPLC
Alasan: Dilakukan dengan menggunakan metode KCKT atau HPLC
karena senyawa dapat dipisahkan dengan metode KCKT jika senyawa
tersebut dapat larut dalam pelarut yang digunakan sebagai fase gerak.
Pada pustaka fase gerak yang digunakan adalah acetonitrile. Sedangkan
hasil studi kelarutan eksipien yang digunakan pada formulasi
menunjukkan tidak adanya kelarutan pada acetonitrile. Sehingga tidak
mengganggu analisis dari kadar zat aktif dalam sediaan.

4.3
4.3.1

Prosedur Analisis Bahan Baku, Bahan Ruahan, dan Obat Jadi


Prosedur Analisis Bahan Baku
1) Spektrofotometer Inframerah

23

Penentuan spektrum serapan inframerah zat Misoprostol dilakukan


dengan metode plat kalium bromida menggunakan spektrofotometri
inframerah

dan

dibandingkan

dengan

spektrum

standar

yaitu

Misoprostol CRS: kedua spektrum menunjukkan intensitas absorpsi


yang serupa pada bilangan gelombang yang sama (Department Of
Health, 2009, page 4000).
2) Kromatografi Lapis Tipis
Lakukan pengujian dengan menggunakan kromatografi lapis tipis
dengan menggunakan plat silika gel R3. Fase geraknya terdiri atas
campuran toluen R, etil asetat R, etanol terdehidrasi R dan asam asetat
glasial R dengan perbandingan 8:2:1:0,1. Totolkan 100L dari
Misoprostol CRS dan bahan uji dengan konsentrasi 0.1mg per mL.
Masukkan plat yang sudah ditotolkan tersebut ke dalam chamber
kromatografi yang sudah berisi fase gerak. Biarkan plat hingga proses
migrasi selesai. Keluarkan plat dan dibiarkan mengering. Selanjutnya
disemprot penampak bercak iodine R dan amati kromatogram pada
sinar tampak. Prinsip dari pengujian ini adalah kemiripan posisi, warna
dan intensitas bercak dari standar dan sampel uji (WHO, 2015, page
47).
3) Penetapan Kadar
Dilakukan dengan alat kromatografi cair kinerja tinggi menggunakan
kolom stainless steel (15cm x 4.6cm) silika gel octadecylsilyl (5) 3.
Fase gerak berupa campuran asetonitril dan air dengan perbandingan
45:55.
Siapkan 2 larutan, dimana larutan pertama berupa campuran 0.1 mg
Misoprostol uji per mL dan larutan kedua berupa campuran 0.1 mg
Misoprostol CRS per mL.
Pertahankan suhu kolom pada 35oC. Operasikan laku alir (flow rate)
sebesar 1.5 mL per menit. Gunakan detektor UV yang diatur pada
panjang gelombang 200nm. Bandingkan hasil antara Misoprostol uji
dan standar (WHO, 2015, page 49).
4.3.2

Prosedur Analisis Produk Antara

24

Produk antara obat adalah setiap campuran bahan obat yang masih
memerlukan satu atau lebih tahapan pengolahan lebih lanjut untuk menjadi
produk ruahan obat. Dalam hal ini, pembuatan dengan metode kempa
langsung sehingga tidak menghasilkan produk antara.

4.3.3 Prosedur Analisis Produk Ruahan


A. Organoleptik
B. Uji Keseragaman Ukuran
Prosedur : Dilakukan pengukuran terhadap 20 tablet : diameter dan tebal
tablet menggunakan jangka sorong.
Kriteria : Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1
kali tebal tablet.
C. Uji Keseragaman Kandungan
Prosedur : Pilih tidak kurang dari 30 tablet. Dari 30 tablet tersebut,
tetapkan kadar 10 tablet satu per satu sesuai dengan cara yang tertera pada
penetapan kadar dalam monografi, kecuali dinyatakan lain. Persyaratan
keseragaman sediaan dipenuhi jika jumlah zat aktif dalam masing-masing
10 tablet yang ditetapkan dengan cara keragaman bobot terletak antara
85% -115% dari yang tertera pada etiket, dan simpangan baku relatif
kurang dari atau sama dengan 6%. Jika satu satuan terletak di luar rentang
85115% yang tertera pada etiket dan tidak ada satupun yang terletak
antara 75125% dari yang tertera pada etiket atau simpangan baku lebih
dari 6% atau jika kedua kondisi tidak dipenuhi lakukan uji 20 satuan
tambahan.
D. Uji Kekerasan Tablet
Prosedur : 10 tablet diambil secara acak, ukur kekerasan masing-masing
tablet dengan hardness tester. Catat skala yang terukur, kekerasan tablet
adalah harga rata2 ke-10 tablet. Variasi kekerasan dilihat dari harga SD.
Kriteria : Bobot tablet sampai 300 mg, 4 7 kg/cm 2. Bobot tablet 400
700 mg: 7 12 kg/cm2.
E. Uji Kerapuhan Tablet
Prosedur : 20 tablet diambil secara acak. Tablet dibersihkan dari debu
kemudian ditimbang (Wo), masukkan & uji (100x) putaran. Bersihkan
tablet dan timbang (Wt) dan hitung % friabilitas tablet :

25

% F = (Wo Wt)/Wo x 100%


Pada umumnya persen friabilitas yang dapat diterima adalah < 1%. Pada
proses pengukuran friabilitas, alat diputar dengan kecepatan 25 putaran per
menit dan waktu yang digunakan adalah 4 menit. Jadi ada 100 putaran.
F. Uji Disolusi Tablet
Prosedur : Masukkan sejumlah volume Media disolusi seperti yang tertera
dalam masing-masing monografi ke dalam wadah, pasang alat, biarkan
Media disolusi hingga suhu 37 0,5 C, dan angkat termometer.
Masukkan 1 tablet ke dalam alat, hilangkan gelembung udara dari
permukaan sediaan yang diuji dan segera jalankan alat pada laju kecepatan
seperti yang tertera dalam masing-masing monografi. Dalam interval
waktu yang ditetapkan atau pada tiap waktu yang dinyatakan, ambil
cuplikan pada daerah pertengahan antara permukaan Media disolusi dan
bagian atas dari keranjang berputar atau daun dari alat dayung, tidak
kurang 1 cm dari dinding wadah. Lakukan penetapan seperti yang tertera
dalam masing-masing monografi. Lanjutkan pengujian terhadap bentuk
sediaan tambahan.
Tabel 4.1 Kriteria Penerimaan Uji Disolusi
Ta
S1
ha
S2

6ya
6

Kriteria Penerimaan
Tiap unit sediaan tidak kurang dari Q + 5%
Rata-rata dari 12 unit (S1 +S2) adalah sama
dengan atau lebih besar dari Q dan tidak
satu unit sediaan yang lebih kecil dari Q

S3

12

-15%
Rata-rata dari 24 unit (S1 + S2+ S3) adalah

sama dengan atau lebih besar dari Q, tidak


H. Uji Waktu Hancur Tablet
Prosedur : Masukkan 1 tablet pada masing-masing tabung dari keranjang,
masukkan satu cakram pada tiap tabung dan jalankan alat, gunakan air
bersuhu 37 2 C sebagai media kecuali dinyatakan menggunakan cairan
lain dalam masing-masing monografi. Pada akhir batas waktu seperti yang
tertera dalam monografi, angkat keranjang dan amati semua tablet: semua
tablet harus hancur sempurna. Bila 1 tablet atau 2 tablet tidak hancur

26

sempurna, ulangi pengujian dengan 12 tablet lainnya: tidak kurang 16 dari


18 tablet yang diuji harus hancur sempurna.
I. Penetapan Kadar Tablet
4.3.4

Prosedur Analisis Produk Jadi


Larutan Uji
: ambil 20 tablet misoprostol gerus ad terbentuk
masa serbuk dan larutkan dalam asetonitril ad
100 mL (40 ppm). Hasilnya di sentrifus
sampai diperoleh pemisahan antara filtrat
dengan endapan. Filtrat diambil 1 mL dari
larutan uji dan di ad kan dengan 10 mL fase
gerak (400 ppm) (Larutan X).
Larutan Pembanding (A) : larutkan 1,0 mL larutan uji sampai 100,0 mL
dengan asetonitril R1.
Larutan Pembanding (B) : larutkan 1,0 mL larutan pembanding (A)
sampai 10,0 mL dengan asetonitril R1.
Larutan Pembanding (C) : larutkan 0,25 mg misoprostol impurity A CRS
dalam larutan pembanding (A) dan encerkan
sampai 10,0 mL dengan pelarut yang sama.
Larutan Pembanding (D) :larutkan 10,00 mg CRS misoprostol dalam
asetonitril R1 dan encerkan sampai 5,0 mL
Kolom
Fase dia

dengan pelarut yang sama.


: size = 0,25 m, = 4,6 mm;
: silica gel oktadesilsilil spherical partially end
capped untuk kromatografi R (% mm) dengan
luas permukaan spesifik 220 m2/g dan loading

Suhu
Fase gerak

karbon 7 persen;
: 40C.
: campurkan 45 volume asetonitril R1 dan 55
volume air R dan tambahkan 0,05 volume dari

Kecepatan aliran
Detection
Injection
Lakukan 3x pengujian

24,5 g/l larutan asam fosfat R.


: 0.75 mL/menit.
: Spektrofototometer pada 200 nm.
:10 l.

27

Retensi relatif dengan pembanding untuk misoprostol (Rt = sekitar 20


menit); pengotor A = sekitar 0,9 : pengotor E = sekitar 0,9: pengotor B
(puncak pertama) = sekitar 0,9 : (puncak kedua) = sekitar 0,95
Kesesuaian sistem : Pembanding (C)
Resolusi: minimum 1,9 antara puncak karena pengotor A dan misoprostol.\
Batas:
- jumlah pengotor A, B dan E: tidak lebih dari 1,3 kali luas puncak
utama

dalam

kromatogram

yang

diperoleh

dengan

larutan

pembanding (A) (1,3 persen);


- tiap pengotor lainnya: untuk setiap pengotor, tidak lebih dari area
puncak utama dalam kromatogram yang diperoleh dengan larutan
pembanding (B) (0,1 persen);
- total : tidak lebih dari 1,5 kali luas puncak utama dalam kromatogram
diperoleh dengan larutan pembanding (A) (1,5 persen);
- batas yang diabaikan: 0,5 kali luas puncak utama dalam kromatogram
yang diperoleh dengan larutan pembanding (B) (0,05 persen).
Pengotor :
A

R = H, R = OH: mixture of methyl 7-[(1RS,2SR,3SR)-3-hydroxy-2[(1E,4RS)-4-hydroxy-4-methyloct-1-enyl]-5oxocyclopentyl]heptanoate

and

methyl

7-[(1RS,2SR,3SR)-3-

hydroxy-2-[(1E,4SR)-4-hydroxy-4-methyloct-1-enyl]-5oxocyclopentyl]heptanoate (8-epimisoprostol),
B

R = OH, R = H: mixture of methyl 7-[(1RS,2SR,3RS)-3-hydroxy-2[(1E,4RS)-4-hydroxy-4-methyloct-1-enyl]-5oxocyclopentyl]heptanoate

and

methyl

7-[(1RS,2SR,3RS)-3-

hydroxy-2-[(1E,4SR)-4-hydroxy-4-methyloct-1-enyl]-5oxocyclopentyl]heptanoate (12-epimisoprostol),
C

mixture

of

methyl

7-[(1RS,2SR)-2-[(1E,4RS)-4-hydroxy-4-

methyloct-1-enyl]-5-oxocyclopent-3-enyl]heptanoate and methyl 7[(1RS,2SR)-2-[(1E,4SR)-4-hydroxy-4-methyloct-1-enyl]-5oxocyclopent-3-enyl]heptanoate (misoprostol A)


D methyl7-[2-[(1E,4RS)-4-hydroxy-4-methyloct-1-enyl]-5oxocyclopent-1-enyl]heptanoate (misoprostol B)

28

mixture of methyl 7-[(1RS,2RS,3SR)-3-hydroxy-2-[(1E,4RS)-4-

hydroxy-4-methyloct-1-enyl]-5-oxocyclopentyl]heptanoate and methyl 7[(1RS,2RS,3SR)-3-hydroxy-2-[(1E,4SR)-4-hydroxy-4-methyloct-1-enyl]-5oxocyclopentyl]heptanoate (11-epi misoprostol).


4.4 Pengujian Stabilitas Obat Jadi
Studi stabilitas merupakan serangkaian
mendapatkan

jaminan stabilitas

uji

yang

suatu produk,

didesain

yaitu

untuk

pemeliharaan

spesifikasi suatu produk yang dikemas dalam bahan pengemas yang telah
ditentukan dan disimpan dalam kondisi penyimpanan yang telah ditetapkan
pada rentang waktu tertentu (BPOM, 2012, hal. 302). Obat jadi dilakukan
pengujian stabilitas untuk mengetahui kestabilan obat, menentukan masa edar,
dan rekomendasi penyimpanan. Berdasarkan pedoman ASEAN (2013), uji
stabilitas untuk obat jadi misoprostol meliputi:
Tabel 4.2 Kondisi Pengujian Stabilitas
Pengujian

Kondisi Penyimpanan

Frekuensi Pengujian

Jangka Panjang

30oC 2oC
75% RH 5% RH

0, 3, 6, 9, 12, 18, 24

40oC 2oC
75% RH 5% RH

0, 3, dan 6 bulan.
Minimal 2 batch

Dipercepat

bulan.
Minimal 2 batch

BAB V
REGULASI/PERUNDANG-UNDANGAN
5.1

Registrasi Obat Jadi


Berdasarkan Keputusan Kepala BPOM Nomor: HK.03.1.23.10.11.08481

tentang kriteria dan tata laksana registrasi obat. Registrasi obat jadi dibagi atas
tiga kelompok, yaitu:
1. Obat baru
2. Produk biologi
3. Obat copy
Prosedur pendaftaran obat jadi (registrasi obat) dibagi menjadi dua
tahapan yaitu:

29

1. Pra registrasi
Untuk pertimbangan jalur evaluasi dan kelengkapan dokumen registrasi:
a. Obat baru (Jalur I: 100 HK, Jalur II: 150 HK, Jalur III: 300 HK)
b. Obat copy (Jalur I: 100 HK, Jalur II: 80 HK atau 150 HK)
Konsultasi kelengkapan dan persyaratan dokumen registrasi
2. Registrasi
Penyerahan dokumen registrasi dengan persyaratan sbb:
a. Mengisi form permintaan disket sesuai hasil Pra Registrasi atau
surat permohonan
b. Membayar biaya evaluasi
c. Mengisi disket
d. Menyerahkan berkas lengkap sesuai tujuan registrasi
Registrasi adalah prosedur pendaftaran dan evaluasi obat untuk mendapat
izin edar. Registrasi baru adalah registrasi obat yang belum mendapat izin edar di
Indonesia. Registrasi obat terdiri atas:
a. Registrasi baru
b. Registrasi variasi
c. Registrasi ulang
Registrasi baru terdiri atas :
a. Kategori 1

: registrasi obat baru dan produk biologi, termasuk


produk biologi sejenis (PBS) / similar

b. Kategori 2
c. Kategori 3

biotherapeutic product (SBP)


: registrasi obat copy
: registrasi sediaan lain yang mengandung obat

Alur Registrasi:
Pemohon

Mengisi Formulir
Permohonan
Pendaftaran

Pengiriman formlir ke
BPOM

Registrasi (6 bulan)

Mengisi Formulir
Tambahan
kelengkapan data

Pengiriman formlir ke
BPOM

Belum diterima
setelah 3 bulan

30

Persetujuan (no.
registrasi)

Kelengkapan
kurang;
penundaan
pendaftaran

Penolakan
pendaftaran

Gambar 5.1 Skema Alur Registrasi


Menurut Permenkes No 917/MENKES/PER/X/1993 tentang Wajib Daftar
Obat Jadi. Obat jadi sebelum diedarkan/dijual harus didaftarkan. Untuk
pendaftarannya harus memenuhi kriteria dan mengikuti tata laksana registrasi
obat sesuai dengan peraturan kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan
Republik Indonesia nomor HK.03.1.23.10.11.08481 tahun 2011.
Nomor registrasi sediaan misoprostol adalah DKL 1500311710 A1
Keterangan :
D

= Obat dengan nama dagang

= Golongan obat keras

= Produksi dalam negeri (lokal)

15

= Tahun pendaftaran obat jadi (15=2015)

003 = Nomor urut pabrik di Indonesia


017 = Nomor urut obat jadi yang disetujui oleh pabrik
10

= Nomor urut sediaan (tablet)

= Kekuatan obat jadi

= Kemasan utama untuk nama, kekuatan dan bentuk sediaan obat jadi
Berdasarkan Surat Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan No.

13650/D/SE/73, maka penulisan nomor batch diserahkan pada industri farmasi


yang bersangkutan, dan harus diberikan keterangan pada badan POM mengenai
sistem penomoran batch yang digunakan oleh industri farmasi tersebut sehingga
pada sediaan dicantumkan no. batch. Sediaan Misoprostol memiliki nomor batch
06150101

31

06 : Produk diproduksi bulan Juni


15 : Produk diproduksi tahun 2015
01 : Kode bentuk sediaan
01 : Nomor urut pembuatan
5.2 Penandaan sesuai Undang-Undang
Berdasarkan Ordonasi Obat Keras St. No. 419 tanggal 22 Desember 1949
yang menyebutkan bahwa obat berkhasiat keras ditetapkan oleh pejabat kesehatan
yang berwenang dengan cara mencantumkannya dalam daftar G = obat keras
(Gevaarlijk = berbahaya). Pada sediaan misoprostol berlaku aturan penandaan
sebagai berikut:
1.

SK MenKes No.193/Kab/B.VII/71 tanggal 21 Agustus 1971 tentang


Peraturan tentang Pembungkusan dan Penandaan Obat, seperti yang
tercantum dalam pasal 3 ayat (2), ayat (4), dan ayat (5) serta pasal 4. Menurut
SK Menkes No. 193/Kab/B.VII/71, pada bungkus luar dan wadah obat jadi
harus dicantumkan tanda atau etiket yang menyebutkan :

- nama jenis dan atau nama dagng obat


- bobot netto atau volume obat
- komposisi obat
- nomor pendaftaran
- nomor batch
- dosis
- cara penggunaan
- indikasi
- kontraindikasi
- nama pabrik dan alamatnya
- cara penyimpanan
- batas daluwarsa
- dan lain-lain.
2. Surat Edaran DirJen POM No.4266/AA/II/86 tanggal 26 Agustus 1986
tentang Tanda Khusus Obat Keras Daftar G. Tanda khusus untuk obat keras
adalah lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam
dengan huruf K yang menyentuh garis tepi, harus diletakkan sedemikian rupa
sehingga jelas terlihat dan mudah dikenali. Ukuran lingkaran tanda khusus
disesuaikan denga ukuran dan desain etiket dan bungkus luar dengan ukuran

32

diameter lingkaran terluar, tebal garis tebal, dan tebal huruf K yang
proporsional, berturut-turut minimal 1 cm, 1 mm, dan 1mm. Warna tanda
khusus obat keras daftar G harus sama atau mendekati warna contoh tanda
khusus di bawah ini :

5.4 Distribusi Obat Jadi


Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik
Indonesia Nomor Hk.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012 Tentang Pedoman Teknis
Cara Distribusi Obat Yang Baik, menyatakan bahwa ada beberapa aspek yang
mempengaruhi cara distribusi obat yang baik diantaranya :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Manajemen Mutu
Organisasi, Manajemen, dan Personalia
Bangunan dan Peralatan
Operasional
Inspeksi Diri
Keluhan, Obat dan/atau Bahan Obat Kembalian, Diduga Palsu dan

Penarikan Kembali.
g. Transportasi
h. Fasilitas Distribusi Berdasar Kontrak
i. Dokumentasi
Sarana distribusi obat adalah PBF dan PBF Cabang yang sudah menerapkan
Pedoman Teknis CDOB pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat dan/atau
bahan obat wajib.
Berdasarkan PP 51 tahun 2009,
Pasal 14:
Setiap fasilitas distribusi atau panyaluran sediaan farmasi berupa obat
harus memiliki seorang apoteker sebagai penanggung jawab.
Pasal 15.
Pekerjaan kefarmasian dalam fasilitas distribusi atau penyaluran sediaan
farmasi harus memenuhi cara distribusi yang baik yang ditetapkan oleh
menteri.

33

Sediaan

tablet

misoprostol

merupakan

golongan

obat

keras

sehingga

penyalurannya harus dikendalikan agar tidak terjadi penyalahgunaan maupun


toksisitas. Selain itu, penggunaannya oleh dokter atau perawat, perlu diberikan
informasi obat terlebih dahulu oleh apoteker untuk menjamin kualitas penggunaan
obat.
Adapun secara garis besar alur distribusi obat adalah sebagai berikut :
Industri Farmasi (Produsen) Pedagang besar farmasi Sarana distribusi obat
jadi lain (Apotek, Rumah sakit, dan toko obat)
Karena misoprostol adalah sediaan obat golongan keras maka distribusinya hanya
sampai ke apotek, klinik dan rumah sakit dan tidak boleh didistribusikan ke toko
obat.

BAB VI
INFORMASI OBAT JADI
6.1

Pelayanan Informasi Obat

34

1.

Tablet misoprostol merupakan obat antiinflamasi golongan analog


prostagalandin yang diindikasikan untuk Pencegahan tukak lambung

2.

yang diinduksi oleh penggunaan NSAID.


Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh misoprostol diantaranya
gangguan GI seperti diare dan sakit perut. Efek yang jarang terjadi :
konstipasi, dispepsia, perut kembung, mual dan muntah, stimulasi

3.

uterin (kram di bawah perut atau sekitar perut), perdarahan vagina.


Tablet Misoprostol diminum sehari 4 tablet 200 mg sesudah makan

4.

makanan untuk mengurangi iritasi saluran pencernaan.


Pasien disarankan untuk memberitahukan kepada dokter mengenai
obat lain yang dikonsumsi.

6.2

Brosur Obat Jadi

35

DAFTAR PUSTAKA

ASEAN. 2013. ASEAN Guideline on Stability Study of Drug Product. Bali


BMJ Group. British National Formulatory (BNF) 61, 2011. London: BMJ Group
and the Royal Pharmaceutical Society of Great Britain, pp. Hal 54
BPOM RI. 2012. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Department of Health. 2009. British Pharmacopoeia 2009. London: British
Pharmacopoeia Commission Office.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Greenstone LLC. 2012. Material Safety Data Sheet Misoprostol Tablet.
Greenstone LLC. Peapack.
Lachman, L., Lieberman, H.A., Kanig, J.L. 1986. The Theory and Practice of
Industrial Pharmacy. Philadelpia Martin, A, J. Swarbrick, and A.
Cammarata. 1990. Farmasi Fisik. Jakarta: Penerbit UI Press.
Laurence L., John S., dan Keith L.P. 2012. Goodman & Gilmans The
Pharmacological Basis of Therapeutics 10th Edition. McGraw-Hill
Companies Inc. New York.
McEvoy, G.K., E. K. Snow, J.Miller. 2014. AHFS Drug Information. American
Society of Health-System Pharmacists. Bethesda.

36

MIMS Indonesia. 2014. MIMS Indonesia: Petunjuk Konsultasi. Edisi 14. Jakarta:
Bhuana Ilmu Populer.
Rowe, C.R., Sheskey, J.P., Welter, J.P. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Exipents 6th edition. USA: American Pharmaceutical Association.
World Helath Organisation. 2015. WHO Drug Information

Consultation

Documents Vol. 29 No. 1. Geneva: World Health Organisation.

LAMPIRAN