Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

S
DENGAN GANGUAN SISTEM PERNAFASAN : EFUSI PLEURA DI RUANG
GEMA SOKA BAWAH
RSUP PERSAHABATAN JAKARTA

Nama: Dani Tangdilintin


NIM : 18160000059

PROGAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU
2016

LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S
DENGAN GANGUAN SISTEM PERNAFASAN : EFUSI PLEURA
DI RUANG GEMA SOKA BAWAH RSUP PERSAHABATAN JAKARTA

Telah Disahkan
Pada tanggal:
. September 2016

Mengetahui :

Pembimbing Akademik

(....)

Pembimbing Klinik

( Widiawati. A. SKep, Ns )

PROGAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU
2016
1

LAPORAN PENDAHULUAN
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
A.

Tinjauan anatomi dan fisiologi sistem pernafasan


1.

Anatomi Sistem pernafasan


a. Hidung
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai 2 lubang (kavum
nasi) dan dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi) di dalamnya terdapat bulubulu yang berguna untuk menyaring.
b. Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan makanan terdapat di bawah dasar
tenggorokan, di belakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang
leher. Faring dibagi dalam 3 bagian, yaitu :
1)

Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana disebut Nasofaring.

2)

Bagian tengah yang sama tingginya dengan itsmus fausium disebut


Orofaring.

3)

Bagian bawah sekali dinamakan laringofaring.

c. Laring
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara, terletak di
depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis.
d. Trakea
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri
dari tulang rawan berbentuk kuku kuda (huruf C) panjang trakea 9-11 cm dan di
belakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos.
e. Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian
vertebra torakalis ke-4 dan ke-5. mempunyai struktur yang berupa sama dengan
trakea dan dilapisi oleh dinding sel yang sama.
Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri, terdiri dari
6-8 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping
dari bronkus kanan, terdiri dari 9-12 cincin, mempunyai 2 cabang.

f. Paru-paru
Paru-paru terletak pada rongga dada. Masing-masing paru berbentuk kerucut.
Paru kanan dibagi oleh dua buah fisura kedalam tiga lobus atas, tengah dan
bawah. Paru kiri dibagi oleh sebuah tisuda ke dalam dua lobus atas dan bawah.
Permukaan datar paru menghadap ke tengah rongga dada atau kavum
mediastinum. Pada bagian tengah terdapat tampuk paru-paru atau hillus paruparu dibungkus oleh selaput yang tipis disebut Pleura (Syaifudin B.AC , 1992,
104).
Pleura merupakan membran tipis, transparan yang menutupi paru dalam dua
lapisan : Lapisan viseral, yang dekat dengan permukaan paru dan lapisan
parietal menutupi permukaan dalam dari dinding dada. Kedua lapisan tersebut
berlanjut pada radix paru. Rongga pleura adalah ruang diantara kedua lapisan
tersebut.

Gambar 1: Organ System Pernafasan

2.

Fisiologi
Sistem pernafasan atau disebut juga sistem respirasi yang berarti bernafas
lagi mempunyai peran atau fungsi menyediakan oksigen (O2) serta mengeluarkan
carbon dioksida (CO2) dari tubuh. Fungsi penyediaan O2 serta pengeluaran CO2
merupakan fungsi yang vital bagi kehidupan.
Proses respirasi berlangsung beberapa tahap antara lain :
a.

Ventilasi
Adalah proses pengeluaran udara ke dan dari dalam paru. Proses ini terdiri
atas 2 tahap :

Inspirasi yaitu pergerakan udara dari luar ke dalam paru. Inspirasi terjadi
dengan adanya kontraksi otot diafragma dan interkostalis eksterna yang
menyebabkan volume thorax membesar sehingga tekanan intra alveolar
menurun dan udara masuk ke dalam paru.
Ekspirasi yaitu pergerakan udara dari dalam ke luar paru yang terjadi bila
otot-otot expirasi relaxasi sehingga volume thorax mengecil yang secara
otomatis menekan intra pleura dan volume paru mengecil dan tekanan intra
alveola menurun sehingga udara keluar dari paru.
b.

Pertukaran gas di dalam alveol dan darah.

c.

Transport gas
Yaitu perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan
bantuan darah (aliran darah).

d.

Pertukaran gas antara darah dengan sel-sel jaringan.Metabolisme


penggunaan O2 di dalam sel serta pembuatan CO2 yang juga disebut
pernafasan seluler. (Alsagaff H, Abdul Moekty, 1995, 15).

Permukaan rongga pleura berbatasan lembab sehingga mudah bergerak satu ke


yang lainnya. Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga kosong diantara
kedua pleura karena biasanya hanya terdapat sekitar 10-20 cc cairan yang merupakan
lapisan tipis serosa yang selalu bergerak secara teratur (Soeparman, 1990, 785). Setiap
saat jumlah cairan dalam rongga pleura bisa menjadi lebih dari cukup untuk
memisahkan kedua pleura, maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh
pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga pleura ke dalam
mediastinum. Permukaan superior dari diafragma dan permukaan lateral dari pleura
parietis disamping adanya keseimbangan antara produksi oleh pleura parietalis dan
absorbsi oleh pleura viseralis . Oleh karena itu ruang pleura disebut sebagai ruang
potensial. Karena ruang ini normalnya begitu sempit sehingga bukan merupakan ruang
fisik yang jelas.

B.

Pengertian
Efusi pleura merupakan suatu gejala yang serius dan dapat mengancam jiwa
penderita. Efusi pleura yaitu suatu keadaan terdapatnya cairan dengan jumlah
berlebihan dalam rongga pleura. Efusi pleura dapat di sebabkan antara lain karena
tuberkulosis, neo plasma atau karsinoma, gagal jantung, pnemonia, dan infeksi virus
maupun bakteri (Ariyanti, 2003)
Efusi pleura adalah jumlah cairan non purulen yang berlebihan dalam rongga
pleural, antara lapisan visceral dan parietal (Mansjoer Arif, 2001).
Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak
diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi
biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang
pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas
yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C
Suzanne, 2002).
Efusi pleura adalah salah satu kelainan yang mengganggu sistem pernapasan
Efusi pleura sendiri sebenarnya bukanlah diagnosa dari suatu penyakit melainkan
hanya lebih merupakan symptom atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura
adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura, dimana
kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson, MD,
1995, Waspadji Sarwono (1999, 786)
Efusi pleura suatu keadaan yang dapat mengancam jiwa karena terjadi
pengumpulan cairan dalam rongga pleura yang merupakan komplikasi atau penyakit
sekunder dari suatu penyakit lain.

Gambar 2: Efusi Pleura

C.

Penyebab

Penyebab efusi pleura dapat di bedakan berdasarkan jenis cairan yang terbentuk,
cairan pleura dibagi menjadi transudat, eksudat dan hemoragis
1. Transudat
Pada efusi jenis transudat ini keseimbangan kekuatan menyebabkan pengeluaran
cairan dari pembuluh darah. Mekanisme terbentuknya transudat karena
peningkatan tekanan hidrostatik (CHF), penurunan osmotik (hipoalbumin) dan
tekanan negative intra pleura yang meningkat (atelektaksis akut). Ciri-ciri cairan:
a.
b.
c.
d.

Serosa jernih
Berat jenis rendah (dibawah 1.012)
Terdapat limfosit dan mesofel tetapi tidak ada neutrofil
Protein < 3%

Penimbunan cairan transudat dalam rongga pleura dikenal dengan hydrothorax,


penyebabnya:
a. Payah jantung
b. Penyakiy ginjal (SN)
c. Penyakit hati (SH)
d. Hipoalbuminemia (malnutrisi, malabsorbsi)
2. Eksudat
Eksudat ini terbentuk sebagai akibat penyakit dari pleura itu sendiri yang
berkaitan dengan peningkatan permeabilitas kapiler (missal pneumonia) atau
drainase limfatik yang berkurang (missal obstruksi aliran limfa karena
karsinoma). Ciri cairan eksudat:
a.
b.
c.
d.
e.

Berat jenis > 1.015 %


Kadar protein > 3% atau 30 g/dl
Ratio protein pleura berbanding LDH serum 0,6
LDH cairan pleura lebih besar daripada 2/3 batas atas LDH serum
normal
Warna cairan keruh

Penyebab dari efusi eksudat ini adalah:


a. Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis,
pneumonia,virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke
rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena
trauma. DiIndonesia 80% karena tuberculosis.
b. Kanker : karsinoma bronkogenik, mesotelioma atau penyakit metastatic ke
paru atau permukaan pleura.
c. Infark paru
3. Effusi hemoragis dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma,

infark paru,

tuberkulosis.

4. Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, effusi dibagi menjadi unilateral dan
bilateral. Efusi yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan
penyakit penyebabnya akan tetapi effusi yang bilateral ditemukan pada penyakitpenyakit dibawah ini :Kegagalan jantung kongestif, sindroma nefrotik, asites,
infark paru, lupus eritematosus systemic, tumor dan tuberkolosis.
D.

Manifestasi klinik
1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan,
setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan
sesak napas.
2. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri
dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak
keringat, batuk, banyak riak.
3. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan
cairan pleural yang signifikan.
4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena
cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam
pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah
pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung
(garis Ellis Damoiseu).
5. Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian
atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena
cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati
vesikuler melemah dengan ronki.
6. Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

E.

Patofisiologi
Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan.
Dalam keadaan fisiologi cairan didalam rongga pleura berkisar antara 10-20 cc yang
cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis dan cairan
ini bervariasi pada latihan fisik. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena
adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sedangkan tekanan
hidrostatik intra pleura adalah minus 5 cm H2O. Menurut teori driving pressure adalah sama
7

dengan perbedaan tekanan hidrostatik ( tekanan intra pleura dikurangi tekanan hidrostatik
kapiler dikurangi dengan tekanan hidrostatik antara kapiler dan tekanan ini besarnya 6
cmH2O). Jadi dasar pembentukan cairan ini adalah perbedaan tekanan hidrostatik lebih besar
dari tekanan osmotik.
Pada pleura visceralis terjadi sebaliknya dimana perbedaan tekanan osmotik lebih besar
dari pada tekanan hidrostatik. Pada pleura visceralis terjadi pengisapan cairan dengan
kekuatan pengisapan sama dengan perbedaan tekanan osmotik intra kapiler dan intra pleura
(reabsorbsion pressure 9 mmHg). Cairan diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura
viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase
cairan disini mencapai 1 liter seharinya.
Sebagaimana diketahui tekanan hidrostatik intra kapiler pada pleura parietalis 30
mmHg, tetapi tekanan hidrostatik kapiler pada pleura visceralis 11 mmHg. Sedangkan faktor
yang lain dapat dianggap konstan , yakni tekanan hidrostatik intra pleura 5 mm Hg, tekanan
osmotik intra pleura 6 mmHg dan tekanan osmotik intra kapiler 32 mmHg. Dengan perkataan
lain di pleura parietalis berlaku rumus:

PD

= (PHC-PHP)-(POC-POP)
= (30-(-5)-(32-6)
= 9 cmH2O
Pada pleura visceralis :
PD
= (11-(-5)-(32-6)
= - 10 cmH20
Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila
keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat
inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal
jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura.
Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan
tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang menurun. Eksudat
dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler
sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel
darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat
jenisnya rendah.

F.

Patways

G.

Pemeriksaan Penunjang
1.

Pemeriksaan Radiologi
Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dan di
konfirmasi dengan foto thoraks. Dengan foto thoraks posisi lateral decubitus
dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml,
sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak cairan dalam rongga pleura

sebanyak 300 ml. Pada foto thoraks posisi AP atau PA ditemukan adanya
sudut costophreicus yang tampak tumpul diafragma kelihatan meninggi.
2.

CT scan dada
CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa
menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor

3.

USG dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya
sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.

4.

Torakosentesis
Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan
pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis
(pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke
dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal).

5.

Biopsi Pleura
Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan
biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa.
Biopsi ini berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura dengan melalui
biopsi jalur percutaneus. Biopsi ini digunakan untuk mengetahui adanya sel-sel
ganas atau kuman-kuman penyakit (biasanya kasus pleurisy tuberculosa dan
tumor pleura).

6.

Bronkoskopi
Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang
terkumpul.

7.

Pemeriksaan Laboratorium
Bila efusi pleura telah didiagnosis, penyebabnya harus diketahui, kemudian cairan
pleura diambil dengan jarum, tindakan ini disebut thorakosentesis. Setelah
didapatkan cairan efusi dilakukan pemeriksaan seperti:
1)

Pemeriksaan Biokimia
Komposisi kimia seperti protein, laktat dehidrogenase (LDH), albumin,
amylase, pH, dan glucose. Secara biokimia effusi pleura terbagi atas
transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut :
Transudat

Eksudat
10

Kadar protein dalam serum


Kadar protein dalam effusi 9/dl

<3

>3

Kadar protein dalam effusi

< 0,5

> 0,5

Kadar LDH dalam effusi (1-U)

< 200

> 200

Kadar LDH dalam effusi

< 0,6

> 0,6

Berat jenis cairan effusi

< 1,016

> 1,016

Kadar LDH dalam serum

Rivalta

Negatif

Positif

Disamping pemeriksaan tersebut diatas, secara biokimia diperiksakan juga


cairan pleura :
-

Kadar pH dan glukosa. Biasanya merendah pada penyakit-penyakit


infeksi, arthritis reumatoid dan neoplasma

Kadar amilase. Biasanya meningkat pada paulercatilis dan metastasis


adenocarcinona.

2)

3)

Analisa cairan pleura


-

Transudat

: jernih, kekuningan

Eksudat

: kuning, kuning-kehijauan

Hidrothorax

: putih seperti susu

Empiema

: kental dan keruh

Empiema anaerob

: berbau busuk

Mesotelioma

: sangat kental dan berdarah

Perhitungan sel dan sitologi untuk mengidentifikasi adanya keganasan


Leukosit 25.000 (mm3):empiema
Banyak Netrofil

: pneumonia, infark paru, pankreatilis, TB paru

Banyak Limfosit

: tuberculosis, limfoma, keganasan.

Eosinofil meningkat

: emboli paru, poliatritis nodosa, parasit dan

Eritrosit

: mengalami peningkatan 1000-10000/ mm3 cairan


tampak

hemorogis,

sering

dijumpai

jamur
pada

pankreatitis atau pneumoni. Bila erytrosit > 100000


(mm3 menunjukkan infark paru, trauma dada dan
keganasan.
Misotel banyak

: Jika

terdapat

mesotel

kecurigaan

TB

bisa

disingkirkan.
11

Sitologi

: Hanya

50 - 60 % kasus- kasus keganasan dapat

ditemukan

sel

ganas. Sisanya

kurang

lebih

terdeteksi karena akumulasi cairan pleura lewat


mekanisme obstruksi, preamonitas atau atelektasis
(Alsagaff Hood, 1995 : 147,148)
4)

Bakteriologis
Dilakukan pemeriksaan gram, kultur, sensitifitas untuk mengetahui
kemungkinan terjadi infeksi bakteri. Jenis kuman yang sering ditemukan
dalam cairan pleura adalah pneumo cocclis, E-coli, klebsiecla, pseudomonas,
enterobacter. Pada pleuritis TB kultur cairan terhadap kuman tahan asam
hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20 %.

H.

Penatalaksanaan
1.

Aspirasi cairan pleura


Punksi pleura ditujukan untuk menegakkan diagnosa efusi plura yang dilanjutkan
dengan pemeriksaan mikroskopis cairan. Disamping itu punksi ditujukan pula
untuk melakukan aspirasi atas dasar gangguan fugsi restriktif paru atau terjadinya
desakan pada alat-alat mediastinal. Jumlah cairan yang boleh diaspirasi
ditentukan atas pertimbangan keadaan umum penderita, tensi dan nadi. Makin
lemah keadaan umum penderita makin sedikit jumlah cairan pleura yang bisa
diaspirasi untuk membantu pernafasan penderita. Komplikasi yang dapat timbul
dengan tindakan aspirasi :
a.

Trauma
Karena aspirasi dilakukan dengan blind, kemungkinan dapat mengenai
pembuluh darah, saraf atau alat-alat lain disamping merobek pleura parietalis
yang dapat menyebabkan pneumothorak.

b.

Mediastinal Displacement
Pindahnya struktur mediastinum dapat disebabkan oleh penekaran cairan
pleura tersebut. Tetapi tekanan negatif saat punksi dapat menyebabkan
bergesernya kembali struktur mediastinal. Tekanan negatif yang berlangsung
singkat menyebabkan pergeseran struktur mediastinal kepada struktur semula
atau struktur yang retroflux dapat menimbulkan perburukan keadaan
terutama disebabkan terjadinya gangguan pada hemodinamik.

12

c.

Gangguan keseimbangan cairan, Ph, elektroit, anemia dan


hipoproteinemia.
Pada aspirasi pleura yang berulang kali dalam waktu yang
lama dapat menimbulkan tiga pengaruh pokok :
1) Menyebabkan berkurangnya berbagai komponen intra
vasculer yang dapat menyebabkan anemia, hipprotein, air
dan berbagai gangguan elektrolit dalam tubuh
2) Aspirasi
pleura

cairan

pleura

menimbulkan

tekanan

cavum

yang negatif sebagai faktor yang menimbulkan

pembentukan cairan pleura yang lebih banyak


3) Aspirasi pleura dapat menimbulkan sekunder aspirasi.
2.

Water Seal Drainage


Telah dilakukan oleh berbagai penyelidik akan tetapi bila WSD ini dihentikan
maka akan terjadi kembali pembentukan cairan.

3.

Penggunaan Obat-obatan
Penggunaan berbagai obat-obatan pada pleura effusi selain hasilnya yang
kontraversi juga mempunyai efek samping. Hal ini disebabkan pembentukan
cairan karena malignancy adalah karena erosi pembuluh darah. Oleh karena itu
penggunaan citostatic misalnya tryetilenthiophosporamide, nitrogen mustard, dan
penggunaan zat-zat lainnya seperi atabrine atau penggunaan talc poudrage tidak
memberikan hasil yang banyak oleh karena tidak menyentuh pada faktor
patofisiolgi dari terjadinya cairan pleura.
Pada prinsipnya metode untuk menghilangkan cairan pleura dapat pula
menimbulkan gangguan fungsi vital .

4.

Thoracosintesis
Dapat dengan melakukan apirasi yang berulang-ulang dan dapat
pula dengan WSD atau dengan suction dengan tekanan 40
mmHg. Indikasi untuk melakukan torasentesis adalah :
a.

Menghilangkan

sesak

napas

yang

disebabkan

oleh

akumulasi cairan dalam rongga plera.


b.

Bila therapi spesifik pada penyakit prmer tidak efektif atau


gagal.

c.

Bila terjadi reakumulasi cairan.


13

Pengambilan pertama cairan pleura jangan lebih dari 1000 cc,


karena pengambilan cairan pleura dalam waktu singkat dan
dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan oedema paru
yang ditandai dengan batuk dan sesak.
Kerugian :
a. Tindakan thoraksentesis menyebabkan kehilangan protein
yang berada dalam cairan pleura.
b. Dapat menimbulkan infeksi di rongga pleura.
c. Dapat terjadi pneumothoraks.
5.

Radiasi
Radiasi pada tumor justru menimbulkan effusi pleura disebabkan
oleh karena kerusakan aliran limphe dari fibrosis. Akan tetapi
beberapa publikasi terdapat laporan berkurangnya cairan setelah
radiasi pada tumor mediastinum.

I.

Pengkajian keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin,
alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai,
status pendidikan dan pekerjaan pasien.
b. Keluhan Utama
1) Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari
pertolongan atau berobat ke rumah sakit.
2) Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa :
sesak nafas, rasa berat pada dada, nyeri pleuritik akibat iritasi pleura
yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas
serta batuk non produktif.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tandatanda
seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritik, rasa berat pada dada, berat badan
menurun dan sebagainya.

d. Riwayat Penyakit Dahulu

14

Perlu ditanyakan apakah pasienpernah menderita penyakit seperti TBC paru,


pneumoni, gagal jantung, trauma, asites dan sebagainya. Hal ini diperlukan
untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakitpenyakit yang
disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru, asma, TB paru dan lain
sebagainya
f. Riwayat Psikososial
Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta
bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.
g. Pengkajian Pola Fungsi
1) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Adanya tindakan medis danperawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan
persepsi tentang kesehatan, tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah
terhadap pemeliharaan kesehatan.
2) Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok, minum alcohol dan penggunaan
obat-obatan bias menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit.
h. Pola nutrisi dan metabolisme
1) Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme, kita perlu melakukan pengukuran
tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien,
2) Perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien
dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak
nafas dan penekanan pada struktur abdomen.
3) Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit. pasien dengan effusi
pleura keadaan umumnyalemah.
i. Pola eliminasi
1) Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan defekasi
sebelum dan sesudah MRS.
2) Karena keadaan umum pasien yang lemah, pasien akan lebih banyak bed rest
sehingga akan menimbulkan konstipasi, selain akibat pencernaan pada struktur
abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot tractus degestivus.

j. Pola aktivitas dan latihan


1) Akibat sesak nafas, kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi
2)
Pasien akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal.
3) Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada.
4) Untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu
oleh perawat dan keluarganya.
k. Pola tidur dan istirahat
15

1) Adanya nyeri dada, sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh
terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat
2) Selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang
ke lingkungan rumah sakit, dimana banyak orang yang mondar-mandir, berisik dan
l.

lain sebagainya.
Pemeriksaan Fisik
1) Status Kesehatan Umum
Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan pasien secara
umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa, sikap dan perilaku
pasien terhadap petugas, bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat
kecemasan dan ketegangan pasien.
2) Sistem Respirasi
a) Inspeksi Pada pasien effusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung,
iga mendatar, ruang antar iga melebar, pergerakan pernafasan menurun.
Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang diketahui
dari posisi trakhea dan ictus kordis. RR cenderung meningkat dan pasien
biasanya dyspneu.
b) Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya >
250 cc. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada
yang tertinggal pada dada yang sakit.
c) Suara perkusi redup sampai pekak tegantung jumlah cairannya. Bila cairannya
tidak mengisi penuh rongga pleura, maka akan terdapat batas atas cairan
berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam
posisi duduk. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux. Garis ini paling jelas
di bagian depan dada, kurang jelas di punggung.
d) Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. Pada posisi duduk cairan
makin ke atas makin tipis, dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari
parenkian paru, mungkin saja akan ditemukan tanda tanda auskultasi dari
atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan.
3) Sistem Cardiovasculer
a) Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis, normal berada pada ICS 5
pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm. Pemeriksaan ini bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung.
b) Palpasi untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus
diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung, perlu juga
memeriksa adanya thrill yaitu getaran ictuscordis.
16

c) Perkusi untuk menentukan batas jantung dimana daerah jantung terdengar


pekak. Hal ini bertujuan untuk menentukan adakah pembesaran jantung atau
ventrikel kiri.
d) Auskultasi untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau gallop dan
adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala payah jantung serta
adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah.
4) Sistem Pencernaan
a) Pada inspeksi perlu diperhatikan, apakah abdomen membuncit atau datar, tepi
perut menonjol atau tidak, umbilicus menonjol atau tidak, selain itu juga perlu
di inspeksi ada tidaknya benjolan-benjolan atau massa.
b) Auskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya
5-35kali per menit.
c) Pada palpasi perlu juga diperhatikan, adakah nyeri tekan abdomen, adakah
massa (tumor, feces), turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi
pasien, apakah hepar teraba.
d) Perkusi abdomen normal tympani, adanya massa padat atau cairan akan
menimbulkan suara pekak (hepar, asites, vesikaurinarta, tumor).
5) Sistem Neurologis
a) Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga diperlukan
pemeriksaan GCS. Adakah composmentis atau somnolen atau comma
b) Pemeriksaan refleks patologis dan refleks fisiologisnya.
c) Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti pendengaran,
penglihatan, penciuman, perabaan dan pengecapan.
6) Sistem Muskuloskeletal
a) Pada inspeksi perlu diperhatikan adakah edema peritibial
b) Palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta
dengan pemerikasaan capillary refiltime.
c) Dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian
dibandingkan antara kiri dan kanan.
7) Sistem Integumen
a) Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene, warna ada tidaknya lesi pada
kulit, pada pasien dengan efusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya
kegagalan sistem transport O2.
b) Pada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin, hangat,
demam). Kemudian texture kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor kulit untuk
mengetahui derajat hidrasi seseorang,
J.

Diagnosa Keperawatan
1. Pola napas tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan),
gangguan musculoskeletal, nyeri/ansietas, proses inflamasi
17

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya akumulasi sekret
jalan napas
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kemampuan ekspansi
paru, kerusakan membran alveolar kapiler
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat mengenai
proses penyakit dan pengobatan
K.

No
1

Intervensi Keperawatan
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Bersihan Jalan Nafas tidak

NOC

NIC

NOC :
NIC :
Airway suction

Respiratory
status
:
Efektif berhubungan dengan
1.Pastikan
kebutuhan oral /
Ventilation
adanya akumulasi sekret jalan Respiratory status :
tracheal suctioning
2.Auskultasi suara nafas
Airway patency
napas
sebelum dan sesudah
Aspiration Control
suctioning.
Kriteria Hasil :
3.Informasikan pada klien
Mendemonstrasikan
dan keluarga tentang
batuk efektif dan
suctioning
suara nafas yang
4.Minta klien nafas dalam
bersih, tidak ada
sebelum
suction
sianosis dan dyspneu
dilakukan.
(mampu
5.Berikan
O2
dengan
mengeluarkan
menggunakan
nasal
sputum,
mampu
untuk
memfasilitasi
bernafas
dengan
suksion nasotrakeal
mudah, tidak ada
6.Gunakan alat yang steril
pursed lips)
sitiap
melakukan
Menunjukkan jalan
tindakan
nafas yang paten 7.Anjurkan pasien untuk
(klien tidak merasa
istirahat dan napas dalam
tercekik,
irama
setelah
kateter
nafas,
frekuensi
dikeluarkan
dari
pernafasan
dalam
nasotrakeal
rentang
normal, 8.Monitor status oksigen
tidak ada suara nafas
pasien
abnormal)
9.Ajarkan
keluarga
Mampu
bagaimana
cara
mengidentifikasikan
melakukan suksion
dan mencegah factor 10. Hentikan suksion dan
yang
dapat
berikan oksigen apabila
menghambat jalan
pasien
menunjukkan
nafas
bradikardi, peningkatan
saturasi O2, dll.
Airway Management
1.Buka
jalan
nafas,
guanakan teknik chin lift
atau jaw thrust bila perlu
18

2.Posisikan pasien untuk


memaksimalkan
ventilasi
3.Identifikasi
pasien
perlunya
pemasangan
alat jalan nafas buatan
4.Pasang mayo bila perlu
5.Lakukan fisioterapi dada
jika perlu
6.Keluarkan sekret dengan
batuk atau suction
7.Auskultasi suara nafas,
catat
adanya
suara
tambahan
8.Lakukan suction pada
mayo
9.Berikan bronkodilator bila
perlu
10. Berikan pelembab udara
Kassa
basah
NaCl
Lembab
11. Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan
status O2
2

Pola Nafas tidak efektif b.d


penurunan

ekspansi

(akumulasi udara/cairan)

NOC :

paru

NIC :

Respiratory status : Airway Management


Ventilation
1.Buka
jalan
nafas,
Respiratory status :
guanakan teknik chin
Airway patency
lift atau jaw thrust bila
Vital sign Status
perlu

Kriteria Hasil :

2.Posisikan pasien untuk


Mendemonstrasikan
memaksimalkan
batuk efektif dan
ventilasi
suara nafas yang 3.Identifikasi
pasien
bersih, tidak ada
perlunya pemasangan
sianosis dan dyspneu
alat jalan nafas buatan
(mampu
4.Pasang mayo bila perlu
mengeluarkan
5.Lakukan fisioterapi dada
sputum,
mampu
jika perlu
bernafas
dengan
6.Keluarkan
sekret dengan
mudah, tidak ada
batuk atau suction
pursed lips)
7.Auskultasi
suara nafas,
Menunjukkan jalan
catat adanya suara
nafas yang paten
tambahan
(klien tidak merasa
tercekik,
irama 8.Lakukan suction pada
nafas,
frekuensi
mayo
pernafasan
dalam 9.Berikan
bronkodilator
rentang
normal,
bila perlu
tidak ada suara nafas 10. Berikan
pelembab
abnormal)

19

udara Kassa basah


NaCl Lembab
Atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan
status O2

Tanda Tanda vital


dalam
rentang
normal
(tekanan 11.
darah,
nadi,
pernafasan)

Terapi Oksigen
1.Bersihkan mulut, hidung
dan secret trakea
2.Pertahankan jalan nafas
yang paten
3.Atur
peralatan
oksigenasi
4.Monitor aliran oksigen
5.Pertahankan
posisi
pasien
6.Onservasi adanya tanda
tanda hipoventilasi
7.Monitor
adanya
kecemasan
pasien
terhadap oksigenasi
Vital sign Monitoring
1.Monitor TD, nadi, suhu,
dan RR
2.Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
3.Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri
4.Auskultasi TD pada
kedua lengan dan
bandingkan
5.Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
6.Monitor kualitas dari
nadi
7.Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
8.Monitor suara paru
9.Monitor pola pernapasan
abnormal
10. Monitor suhu, warna,
dan kelembaban kulit
11. Monitor
sianosis
perifer
20

12. Monitor
adanya
cushing triad (tekanan
nadi yang melebar,
bradikardi,
peningkatan sistolik)
13. Identifikasi penyebab
dari perubahan vital
sign
3

Gangguan

pertukaran

gas

NOC :
NIC :
berhubungan dengan penurunan Respiratory Status : Airway Management
Gas exchange
1.Buka
jalan
nafas,
kemampuan ekspansi paru, Respiratory Status :
guanakan teknik chin
lift atau jaw thrust bila
kerusakan membran alveolar
ventilation
perlu
Vital Sign Status
kapiler
2.Posisikan pasien untuk
Kriteria Hasil :
memaksimalkan
Mendemonstrasikan
ventilasi
peningkatan
3.Identifikasi
pasien
ventilasi
dan
perlunya pemasangan
oksigenasi
yang
alat jalan nafas buatan
adekuat
4.Pasang
mayo bila perlu
Memelihara
5.Lakukan fisioterapi dada
kebersihan paru paru
jika perlu
dan bebas dari tanda
6.Keluarkan sekret dengan
tanda
distress
batuk atau suction
pernafasan
7.Auskultasi suara nafas,
Mendemonstrasikan
catat adanya suara
batuk efektif dan
tambahan
suara nafas yang 8.Lakukan suction pada
bersih, tidak ada
mayo
sianosis
dan 9.Berika
bronkodilator
dyspneu
(mampu
bial perlu
mengeluarkan
10. Barikan
pelembab
sputum,
mampu
udara
bernafas
dengan 11. Atur intake untuk
mudah, tidak ada
cairan
pursed lips)
mengoptimalkan
Tanda tanda vital
keseimbangan.
dalam
rentang 12. Monitor respirasi dan
normal
status O2
Respiratory
Monitoring
1.Monitor rata rata,
kedalaman, irama dan
usaha respirasi
2.Catat
pergerakan
dada,amati
kesimetrisan,
21

penggunaan
otot
tambahan, retraksi otot
supraclavicular
dan
intercostal
3.Monitor suara nafas,
seperti dengkur
4.Monitor pola nafas :
bradipena, takipenia,
kussmaul,
hiperventilasi, cheyne
stokes, biot
5.Catat lokasi trakea
6.Monitor kelelahan otot
diagfragma (gerakan
paradoksis)
7.Auskultasi suara nafas,
catat area penurunan /
tidak adanya ventilasi
dan suara tambahan
8.Tentukan
kebutuhan
suction
dengan
mengauskultasi crakles
dan ronkhi pada jalan
napas utama
9.auskultasi suara paru
setelah tindakan untuk
mengetahui hasilnya

Kurang

pengetahuan

berhubungan dengan informasi


yang tidak adekuat mengenai
proses penyakit dan pengobatan

NOC :
NIC :
Kowlwdge : disease Teaching : disease
Process
process
penilaian
Kowledge : health 1.Berikan
tentang
tingkat
Behavior
pengetahuan
pasien
Kriteria Hasil :
tentang
proses
Pasien dan keluarga
penyakit yang spesifik
menyatakan
patofisiologi
pemahaman tentang 2.Jelaskan
dari
penyakit
dan
penyakit,
kondisi,
bagaimana hal ini
prognosis
dan
berhubungan dengan
program pengobatan
anatomi dan fisiologi,
Pasien dan keluarga
dengan cara yang
mampu
tepat.
melaksanakan
3.Gambarkan tanda dan
prosedur
yang
gejala yang biasa
dijelaskan
secara
muncul pada penyakit,
benar
dengan cara yang tepat
Pasien dan keluarga 4.Gambarkan
proses
mampu menjelaskan
penyakit, dengan cara
22

kembali apa yang


yang tepat
dijelaskan
5.Identifikasi
perawat/tim
kemungkinan
kesehatan lainnya
penyebab, dengna cara
yang tepat
6.Sediakan informasi pada
pasien tentang kondisi,
dengan cara yang tepat
7.Hindari harapan yang
kosong
8.Sediakan bagi keluarga
informasi
tentang
kemajuan
pasien
dengan cara yang tepat
9.Diskusikan perubahan
gaya
hidup
yang
mungkin
diperlukan
untuk
mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang dan
atau
proses
pengontrolan penyakit
10. Diskusikan
pilihan
terapi atau penanganan
11. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara
yang
tepat
atau
diindikasikan
12. Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan
cara yang tepat
13. Rujuk pasien pada
grup atau agensi di
komunitas
lokal,
dengan cara yang tepat
14. Instruksikan
pasien
mengenai tanda dan
gejala
untuk
melaporkan
pada
pemberi
perawatan
kesehatan, dengan cara
yang tepat

L.

Daftar Pustaka

23

Alfarisi. 2010. Definisi dan Klasifikasi Efusi Pleura. Diakses pada tanggal 8 April 2012
pada

http://doc-alfarisi.blogspot.com/2011/05/definisi-dan-klasifikasi-efusi-

pleura.html
Brunner & Suddart, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol 3, Edisi 8,
Penerbit RGC, Jakarta.
Johnson, M.,et all, 2002, Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition,
IOWA Intervention Project, Mosby.
Mc Closkey, C.J., Iet all, 2002, Nursing Interventions Classification (NIC) second
Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.
Smeltzer C Suzanne. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah, Brunner and
Suddarths, Ed 8 Vol 1. Jakarta: EGC.
BAB II
LAPORAN KASUS

24