Anda di halaman 1dari 49

BAB I

GAYA
Pendahuluan
Dalam Mekanika Teknik, gaya dapat diartikan sebagai muatan
yang berkerja pada suatu konstruksi.
Sifat Gaya :
1. Mempunyai besaran
2. Mempunyai arah
3. Mempunyai titik tangkap
Satuan : kilogram (kg), Newton (N)
Penggambarannya : sepotong garis lurus yang berujung tanda
panah
P
A

Gaya P mempunyai besaran, arah dan titik tangkap yaitu A


- Panjang melukiskan besarnya gaya
- Tanda panah melukiskan arah kerja gaya
Pembagian gaya menurut macamnya :
1. Gaya terpusat (Point load)
Contoh : gaya tekan pada lantai akibat berat orang yang berdiri
di lantai
P

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

2. Gaya terbagi (Distributed load)


a. Terbagi Rata : seperti gaya tekan angin
b. Teratur : seperti gaya tekan air pada bendungan
c. Tak teratur
3. Gaya momen
a. Momen lentur (My, Mz)
b. Momen torsi (puntir) (Mx)
y
Mz

Mx
x

My

Kesetimbangan Gaya :
a. Kesetimbangan 2 gaya :
Dua gaya dikatakan setimbangan, jika besarnya sama, arahnya
berlawanan dan segaris kerja
P1

P2

P1 dan P2 adalah 2 gaya setimbang


b. Kesetimbangan 3 gaya :
Apabila gaya yang satu dengan resultante 2 gaya lainnya,
mempunyai besaran yang sama, segaris kerja dan arah
berlawanan.
P
2

P1

P3

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

R adalah resultante P1 dan P2 .


P3 dan R besarnya sama, arah
berlawanan dan segaris kerja.

Mencari Resultante 2 Gaya :


1. Cara jajaran genjang
R adalah diagonal jajarangenjang yang dibentuk oleh gaya P1
dan P2
P2

P1

2. Cara segitiga gaya:


R adalah resultante gaya P1 dan P2
P1
P2
R

Syarat-syarat gaya dalam keadaan setimbang


P1,P2,P3 setimbang dan dapat digambarkan sebagai segitiga gaya
tertutup dan saling kejar
P2

P1
P2

P1
A

P3

P3

Jadi syarat untuk gaya-gaya setimbang adalah saling kejar dan


harus melalui titik pertemuan (yaitu titik A lihat gambar). Gerakan
saling kejar ini dinamakan rotasi.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

Segitiga banyak gaya (poligon gaya):


Gaya- gaya P1, P2, P3, P4, P5, P6 sebarang arahnya. Gaya-gaya
tersebut terletakpada 1 bidang datar (coplanar = sebidang).
P6
P4
P1
P2
P3

P5

Kita dapat menggambarkan segitiga banyak gaya.


P6

P1

P2

P5

P4

Poligan gaya tersebut saling


kejar dan tertutup sehinggga
gaya P1 s/d P6 berada dalam
kesetimbangan.

P3

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

Menguraikan 1 gaya menjadi gaya-gaya lain menurut gaya


kerja a, b, c :
A

P1

Ri
c
P2

P3

Gaya P harus diuraikan menjadi :


P1 menurut garis kerja a
P2 menurut garis kerja b
P3 menurut garis kerja c

P2

P3

R1

P
P1

Caranya :
P1
P

P2
P3

R1

Uraikan dulu P menjadi P1 lalu R1 diurai atas P2 dan P3


Caranya :
1. Garis kerja gaya P diperpanjang sampai memotong garis a di
A
2. Perpotongan garis b dan c dinamakan B
3. Hubungan A dan B
4. P diurai atas P1 menurut garis kerja a dan R1 menurut garis
AB
5. R1 diurai atas P2 menurut garis kerja b dan P3 menurut garis
kerja c

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

Pengertian Perletakan :
Didalam mekanika teknik ada 4 macam perletakan :
1. Engsel : (sendi = hinge), Diberi notasi :
Sifat engsel :
1. Dapat menahan gaya-gaya vertikal dan horisontal
2. Tidak dapat menahan momen (rotasi)
P1
Daun pintu

P1
P1

Kita tinjau engsel pintu berikut : Apabila titik A diberi gaya P,


maka gaya P dapat diurai menjadi P1 (searah daun pintu) dan P2
(tegak lurus daun pintu). Gaya P1 dapat diimbangi oleh gaya K
yang melalui engsel, sedangkan gaya P2 akan mengakibatkan
pergerakan daun pintu. Jadi engsel tidak dapat menahan rotasi
(momen).
2. Rol , diberi tanda
Sifat rol :
1. Dapat menahan gaya yang vertikal (tegak lurus rol)
2. Tak dapat menahan gaya horizontal (// bidang rol)

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

P1

P
P2

Tinjau sepatu roda berikut :


Apabila dikerjakan gaya P, maka P diurai
atas P1 tegak lurus lantai dan P2 yang //
lantai.
P1 dapat ditahan oleh rol
P2 tidak dapt ditahan oleh rol, sehingga
sepatu roda akan bergerak horisontal.

3. Jepit : tanda
Contoh : papan loncat yang ada di kolam renang, dimana
ujungnya (salah satu) terjepit.
Sifat jepit :
1. Dapat menahan gaya vertikal
2. Dapat menahan gaya horisontal
3. dapat menahan momen.
4. Pendel : diberi tanda
Sifat pendel :
hanya dapat memikul gaya yang searah dengannya.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

Gaya Luar & Gaya Dalam (External Forces & Internal


Forces) :
Gaya Luar :
Adalah gaya-gaya yang bekerja diluar konstruksi
Gaya-gaya luar dapat berupa :
- Gaya vertikal horisontal (P&H)
- Momen Lentur (M)
- Momen Puntir
P
H

Gaya Dalam :
Adalah gaya-gaya yang bekerja di dalam konstruksi, berupa :
reaksi, momen, lintang, normal.
Khusus untuk normal, ada perjanjian tanda :
Normal tekan : - (negatip)
Normal tarik : + (positip)
P

+
P

Normal dikatakan tekan : apabila gaya dalam tsb arahnya ke titik


pertemuan
Normal dikatakan tarik : apabila gaya dalam tsb arahnya keluar
titik pertemuan.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

BAB II
RANGKA BATANG
STATIS TERTENTU
Teori dan rumus-rumus :
Jika rangka batnag terbentuk kumpulan segitiga-segitiga, maka
akan tetap bentuknya (stabil).

Ada hubungan antara banyaknya batang dengan titik-titik hubung


(joint) dari batang, Kalau kita perhatikan rangka batang diatas :
Jumlah batang (notasi : m = member) = 11
Jumlah titik kumpul batang (notsi j = joint) =7
Hubungan tersebut ditulis sebagai :
M = 2j - 3
Apabila rangka memenuhi rumus ini, termasuk rangka batang
statis tertentu, disebut statis terentu dalam.
Ada lagi pengertian statis tertentu luar, yaitu jumlah reaksi
perletakan yang tak diketahui adalah 3 buah.
Jadi konstruksi rangka batang harus kita teliti apakah termasuk
statis tertentu luar ataukah statis tertentu dalam.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

Kita perhatikan konstruksi rangka batang dibawah ini :

B
RAH

A
RAV

RBV

Konstruksi ini termasuk statis tertentu luar, sebab jumlah reaksi


yang tidak diketahui ada 3 buah yaitu RAV, RAH, RBV
Kita lihat apakah temasuk statis tertentu dalam.
Jumlah batang (= m)
= 18
Jumlah titik kumpul (= j) = 10
M ? apakah 2j-3
18 20-3
18 17 ada kelebihan 1 batang
Jadi konstruksi termasuk statis tak tentu dalam derajat 1 ( ada
kelebihan 1 batang).
Catatan :
Untuk menghitung gaya-gaya batang pada konstruksi rangka
batang statis tak tentu dalam, akan kita pelajari di Mek Rek II.
Kita perhatikan konstruksi rangka batang berikut ini :

Konstruksi ini termasuk statis tak tentu luar sebab lebih dari 3
reaksi yang tidak diketahui besarnya, tetapi termasuk statis tertentu
dalam sebab memenuhi rumus : m = 2j - 3

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

10

Cara menghitung gaya-gaya batang yang diakibatkan oleh beban


luar pada konstruksi rangka batang statis tertentu dalam dan luar :
1. Metode kesetimbangan titik pertemuan (methode of joint)
2. Diagram Cremona
3. Metode of section (metode potongan)
a. Dipergunakan untuk mengecek kebenaran hasil
diagaram cremona
b. Dapat dilaksanakan dengan 2 cara :
1). Cara Analitis (disebut cara RITTER)
2). Cara grafis (disebut cara CULMANN)
CARA 1. METODE KESETIMBANGAN TITIK
PERTEMUAN.
Yang paling diingat adalah :
a. Apabila gaya dalam (normal) batang adalah tekan maka
arah gaya tersebut akan menuju ke titik pertemuan.
b. Apabila gaya dalam (normal) batang adalah tarik maka
arah gaya tersebut menjauhi titik pertemuan.

Sb. elemen

Prinsip dari metode ini :


Kesetimbangan gaya-gaya batang disetiap titik kumpul batang
dapat dilakukan dengan cara analitis yaitu :
H = 0; V = 0 atau secara grafis.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

11

Kita perhatikan konstruksi dibawahi ini :


P

P
D

C
1

11

P
3 E

12 13

10

P
4 F

14 15

P
5

16 17

K 8

P
D

C
1

H 7

11
10

P
3 E

12 13
L

P
4 F

14 15

K 8

P
5

16 17

H 7
B

Langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah sbb :


1. Dicek dulu apakah konstruksi termasuk statis tertentu dalam dan
luar
Catatan :
Jika konstruksi termasuk statis tak tentu dalam dan luar ,
perhitungan dengan cara lain (ada di Mek Rek II)
2. Batang-batang diberi nomor, penomoran ini bebas mulai dari
batang ujung. Pada gambar diatas, nomor batang dari 1 s/d 17.
Titik kumpul batang juga diberi nama.
3. Cari perletakan analitis atau grafis.
4. Setelah kita peroleh reaksi perletakan, maka mulai dilakukan
metode ini, mulai dari titik C, sebab jika dimulai dari titik A,
ada tiga gaya batang yang tidak diketahui yaitu 1,10,11
(maksimum 2 gaya yang belum diketahui besarnya pada suatu
titik kumpul).
Jadi kita mulai dari titik C, kita
gambarkan poligon gaya (pakai skala)
2

P
S1

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

Ingat :
setlah kita gambar P, mka selanjutnya
gambarlah garis kerja gaya 2, lalu garis
kerja gaya 1 ( jadi kita menggambar
searah jarum jam).

12

Disini gaya batang 2 (= S2) = 0 Arah S1


menuju kititik pertemuan.
Jadi S1 negatip (-)
Kita mulai di titik A :
c

Setelah itu gambarkanlah arah ini pada


rangka batang gbr (b).
S10 dan S11 belum tahu

Ingat : perputaran kita searah jarum jam.

RA

11
10

RA

Kita mulai di titik D :


????????? :
P

3
11

12

S11
P

S12
S3

RA
jarak ab; S1 jarak ac
S11
jarak cd (tekan -)
S10
jarak db (tarik +)
S12 dan S3 tak diketahui
S3 = - ; S12 = Kita mulai dari tittik L,E,K,F,H,G dan
terakhir dititik B.

5. Akan kita peroleh gaya batang 1 s/d 17

CARA 2. DIAGRAM CREMONA


Prinsipnya adalah metode kesetimbangan titik pertemuan.
Langkah-langkah yang harus kita lakukan :
1. Seluruh garis sistem rangka batang digambar dengan skala.
2. Batang-batang diberi nomor (cara penomoran bebas, tapi
disarankan berurutan agar mudah diketahui).
3. Reaksi-reaksi perletakan dicari secara grafis ( sebelum itu
kita haarus tahu apakah konstruksi termasuk statis tertentu
dalam dan luar)
4. Setelah kita peroleh reaksi perletakan, maka kita mulai
menggambar poligon gaya(pakai skkala) yang tertutup dan
slaing kejar.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

13

CARA 3. METHODE OF SECTION secara ANALITIS


(CARA RITTER)
Metode potongan ini digunakan untuk menghitung gaya batang
dengan jalan melakukan potongan batang-batang tersebut oleh
garis potongan, lalu meninjau kesetimbangan konstruksi dikiri atau
kanan potongan.
Kita tinjau konstruksi rangka batang di bawah ini :
P

1 H

2
A

RA

E
a

B
a

RB

1. Kita akan mencari besarnya gaya-gaya batang 1,2,3 akibat


beban-beban luar, maka kita lakukan potngan a-a,yang
memotong ketiga batang tersebut.
2. Kita dapat meninjau konstruksi dikiri potongan atau dikanan.
3. Kita tinjau konstruksi di kiri potngan a-a
P
F

P
G

S1

S2
A

S3

RA

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

Kita anggap pada batang 1,2, dan 3 gaya


tarik (menjauhi potongan)
a. Mc = 0
RA.a-P(a)+S1(a) = 0
S1 dapat ditentukan
b. MH = 0
RA.2a-S3.a-P.2a-P.a = 0
S3 dapat ditentukan
c. H = 0
S2 cos+S1+S3 = 0
S2 dapat ditentukan

14

4. Kita boleh juga meninjau konstruksi sebelah kanan potongan.


Dengan mempergunakan:
P
P
P
a. MC = 0
K
S1 H
RB.3a+P.3a+P.2a+P.a-S1.a = 0
L
S1 dapat ditentukan
S2
b. MH = 0

C
S3 D
E
B
RB.2a+S3.a+P.2a+P.a = 0
S3 dapat ditentukan
RB
c. H = 0
S2 cos +S1+S3 = 0
S2 dapat ditentukan
Catatan : Apabila harga-harga S1, S2, S3 yang diperoleh
berlawanan tandanya dengan yang dimisalkan semula, berarti
gaya-gaya batang tersebut adalah tekan (-).

CARA 4. METHODE OF SECTION SECAR GRAFIS


(CULMANN)
Langkah-langkah yang harus kita lakukan:
P
F

1 H

P
K

P
L

2
A

RA

B
RB

1. Kita cari reaksi-reaksi perletakan secara grafis (RA&RB)


2. Lakukan potongan batang 1,2,3

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

15

3. Gambar konstruksi di kiri potongan (boleh juga kanan


potongan) pakai skala
P

P
G

1
2

RA

3.1. Cari resultante antara RA dan gaya luar (P dan P) secara


grafis misalkan garis kerja resultante tsb adalah 1.
Perpanjangan garis kerja batang 3 sampai memotong garis 1
dititik M
Hubungkan M dan H
Gaya R diimbangi oleh S3 dan R1 dimana garis kerja R1 adalah
MH

Lalu R1 atas S1 dan S2


Akan diperoleh gaya-gaya batang S1,S2,S3
4. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat contoh soal.
RANGKA BATANG GABUNGAN (Compound Trusses)
Kita tinjau rangka batang dibawah ini:

Rangka batang ini termasuk Simple Trusses (rangka batang


sederhana)

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

16

Jika dua atau lebih rangka batang yang sederhana ini kita
gabungkan dengan syarat bahwa konstruksi tetap tidak berubah
bentuk dan masih termasuk statis tertentu dalam, maka akan
diperoleh rangka batang kompon
C

Rangka ACD dan BCE adalah rangka sederhana dan ACB adalah
rangka batang kompon (compon trusses)

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

17

BAB III
GAYA-GAYA DALAM
A. Momen Lentur (Bending Moment) : notasi M
Kita tinjau balok AB, A adalah sendi, B adalah rol.
Garis sistem
A

Garis sistem merupakan garis berat balok tersebut


P
x
A

B
a

b
L

Pada balok bekerja gaya P sejarak a dari perletakan A.


Kita tinjau suatu potongan sejauh x dari A.
Kita tahu bahwa reaksi di A = P.b/L dan di B = P.a/L lalu ditinjau
potongan sebelah kiri :
M kiri terhadap potongan = -P.b/L.x
Catatan : tanda momen (perjanjian)
.+

- .

Tinjau kanan potongan :


M kanan terhadap potongan = +P.a/L(L-x)-P.(a-x)
P
= P.x/L(L-a)
= P.x.b/L
P.a/L
a

b
L-x

Jadi Mkiri = Mkanan, sedangkan arahnya berlawanan.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

18

Perjanjian tanda momen :


Balok AB dibebani gaya P, balok
melentur ke bawah, maka tanda
momen adalah positif +

P
A

Balok CD, (C terjepit, D bebas)


dibebani P dititik d.
Balok akan melengkung dengan
arah kelengkungan keatas, maka
tanda momen adalah negatip +

P
D
C

B. Gaya Lintang (Shear Force) = gaya geser : notasi D atau Q


atau S atau L
Tinjau balok tersebut :
P
x
P.b/L

x
a

P.a/L

+
-

Pada potongan sejauh x dari A : (interval x adalah 0xa)


Litang pada potongan tersebut = P.b/L tandanya + .
Pada potongan x dari titik B : 0xb lintang dipotongan
tersebut = P.a/L, tandanya
Ingat : tanda gaya lintang .

. -

Catatan : Gaya lintang D adalah turunan pertama dari M


D=

dM
dx

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

19

C. Gaya Normal (axial) (notasi : N = normal)


Gaya normal bekerja sejajar garis sistem.

P adalah gaya normal sentris


P

P adalah gaya normal eksentris tegak

P adalah gaya normal eksentris serong

Perjanjian tanda :
Normal + jika menimbulkan tarik pada balok
Normal jika menimbulkan tekan pada balok
Beban-beban yang bekerja
1. Beban terpusat : contoh orang berdiri diatas lantai
P

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

20

2. Beban terbagi rata , contoh pelat beton, balok beton, baja,


kayu, dll
30
60

4m
q = 0,432t/m

B
4m

Kita lihat balok beton seperti tergambar di atas :


Data-data :
Panjang 4 meter, lebar 30 cm, tinggi 60 cm. Beban yang bekerja
adalah terbagi rata. Kita tahu berat jenis beton 2,4 ton/m3. Jadi
besarnya beban terbagi rata = 0,6.0,3.2,4 = 0,432 t/m
Catatan : m maksudnya meter lari, yaitu permeter arah
memanjang balok.
3. Beban segitiga : contoh gaya tekan air pada dinding bak
q

4. Beban trapesium
q t/m

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

21

BAB IV
TITIK BERAT, GARIS NETRAL DAN MOMEN
INERSIA
Pengertian statis momen :
Y

dA

Kita tinjau suatu penampang berbentuk seperti tergambar.


Elemen seluas dA berjarak x dan y dari sumbu x dan y
Statis momen terhadap ab X = Sx
= Ax.dA
Statis momen terhadap sumbu Y = Sy
= A y.dA
Jadi statis momen suatu luasan terhadap salah satu sumbu adalah
luas dikalikan jarak titik berat luasan tersebut terhadap sumbu yang
ditinjau.
Y
x

A
y

Sx = A. y
Sx = A. x

dimana x , y adalah koordinat titik berat

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

22

Pengertian Titik Berat dan Garis Netral.


Kita tinjau penampang segita berikut :
C

h
0
A

x
B

Titik berat segitiga dibentuk oleh perpotongan garis-garis berat


segitiga. 0 adalah titik berat. Garis yang melalui 0 dan // AB
disebut garis netral.
Untuk mencari lokasi titik berat kita gunakan rumus : statis momen
terhadap suatu sumbu = 0
Contoh : Kita akan mencarikan lokasi titik berat penampang
berbentuk L berikut.
Caranya sebagai berikut :
m
x2
1. Cari sumbu sebagai
l
referensi misalnya diambil
y2
II
sumbu 1-1 dan m-m
y
2. Jarak titik berat bagian I
y1
terhadap y sb 1-1 = y1,
0
terhadap sumbu m-m = x1
I
3. Jarak titik berat bagian II
terhadap sumbu 1-1 = y2, thd
x1
sb m-m = x2
x
4. Ordinat titik berat (x, y )

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

23

Statis momen terhadap sb 1-1= 0


(luas I) . y1 + (luas II) . y2 = (luas I + luas II) .
y = ..

Statis momen terhadap sumbu m-m = 0


(luas I) . x1 + (luas II) . x2 = (luas I + luas II) .
x =

Momen Inersia :
Kita tinjau penampang di bawah ini:
Y

dA
x
X
y

0 dalah titik berat. Sumbu X dan Y melalui titik 0


Momen inersia terhadap sb X:
2

Ix = A y .dA
Momen inersi thd sb Y :
Iy = A x2 .dA

Ix + Iy = Ip
Ip adalah inersia polar
Product of Inersia = Ixy = A x. y dA

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

24

Rumus Steiner :
Y

Y
b

X
a

Momen inersia terhadap sumbu yang tidak melalui titik berat


benda dinyatakan dengan rumus Steiner.
Ix = Ix + A.a2
Iy = Iy + a.b2
Ixy = Ixy+A.a.b
Dimana :
a
= jarak sumbu x ke x
b
= jarak sumbu y ke y
Pengertian sumbu utama, sumbu simetri.
Y

Pada penampang persegi di atas :


Sumbu X membagi dua penampang sama besar, demikian juga
sumbu Y
Sumbu X dan sumbu Y disebut sumbu simetris.
Sumbu X dan smbu Y juga disebut sumbu utama karena Ixy = 0

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

25

BAB V
TEGANGAN (STRESS)
A. Hubungan antara beban terbagi rata (q), lintang (D) dan
momen (M)
Kita tinjau balok AB yang dibebani terbagi rata q t/m

Mx

Mx+dMx
Dx+dDx

Dx

dX

Tinjau elemen antara potongan nm dan pr.


Pada potongan mn bekerja gaya dalam :
Momen : Mx
Lintang : Dx
Pada potongan pr, bekerja gaya dalam :
Momen : Mx+dMx
Lintang : Dx + dDx
Elemen ini berada dalam keadaan setimbang : artinya jumlah
momen terhadap suatu titik (ambil titik 0) = 0
Akan diperoleh : Dx = dM x hubungan lintang dan momen
dx
-Mx+(Mx+dMx)-Dx.dx+q dx (dx/2) = 0
BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

26

dimana q dx (dx/2) diabaikan karena nilainya kecil


diperoleh :
hubungan beban dan lintang
dM
x
Dx =
dx
Jumlah gaya vertikal = 0
Dx - (Dx+dDx) -q dx = 0
diperoleh :
q = - dD x

hubungan beban dan lintang

dx

B. Jenis-jenis tegangan
1. Tegangan lentur : murni (tanpa adanya normal), dengan gaya
normal (tarik atau tekan)
2. Tegangan normal (tarik atau tekan)
3. Tegangan geser
4. Tegangan puntir
C. Tegangan lentur murni (pure bending stress) :

x =

M .y
I

= momen inersia terhadap sumbu z (sumbu yang tegak lurus


arah beban yang bekerja)
I/y = W , disebut momen tahanan

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

27

Serat atas tekan


Serat atas tekan

q t/m
y1

y2

Serat bawah tarik


Serat bawah tarik

maksimum terjadi diserat terbawah (serat tarik), disebut tarik max


M. y

max=

minimum terjadi diserat atas (serat tekan) , disebut tekan max


min =

dan
1

M. y

disebut section modulus = w


2

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

28

Catatan : Hukum Hooke

L
P

Batang lurus dibebani gaya normal sentris P, dengan luas


penampang =A. Akibat gaya P tersebut, terjadi perubahan panjang
sebesar L, yang menurut Hooke :
1. Berbanding lurus dengan besar gaya P
2. Berbanding lurus dengan panjang batang semula(L)
3. Berbanding terbalik dengan luas penampang
4. Tergantung pada sifat kenyal batang yaitu modulus elastisitas
(E) dapat dinyatakan dengan rumus :
P.L
L=
A.E
Dalam menghitung tegangan yang terjadi dalam balok, ada
beberapa asumsi sebagai berikut :
1. Penampang melintang balok setelah terjadinya lenturan akan
tetap sama dengan penampang melintang sebelum melentur.
2. Balok terdiri atas bahan yang homogen dan mengikuti Hukum
Hooke. Harga E (modulus elastisitas) untuk tarik = untuk tekan
3. Perubahan pada potongan melintang balok setelah lenturan
diabaikan

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

29

D. Lentur dengan Gaya Normal Tarik / Tekan yang Bekerja


Sentris
Kita tinjau balok AB dibebani oleh beban terpusat P yang
membentuk sudut dengan garis sistem balok.
Serat atas tekan

P
l
A

ya

yb
Serat bawah tarik

Pada balok akan bekerja momen lentur (M) dan normal (N)
Potongan l-l :
Akibat normal :
A = luas penampang balok
N
N =
N = gaya normal tekan
A
Akibat momen :
serat atas

M
W atas

serat bawah =

; W atas =

M
W bawah

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

Ix
y atas

; W bawah =

Ix
y bawah

30

Kombinasi pembebanan akibat normal dan momen:

M tekan

M +N tekan

M tarik

M +N tarik

Garis netral yang tadinya tepat berada ditengah-tengah penampang


(balok berpenampang persegi) akan bergeser kebawah mendekati
serat bawah (serat tarik)
Apabila gaya normal berupa tarik, maka garis netral yang tadinya
ditengah-tengah penampang (persegi) akan bergeser keatas
mendekati serat atas (serat tertekan)

M tekan

M +N tekan
-

=
+

+
M tarik

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

M +N tarik

31

E. Tegangan Normal
Jika gaya normal bekerja tepat pada titik berat penampang, maka
dikatakan bahwa gaya normal tsb bekerja sentris
Lokasi N
a
N
A

Balok AB dibebani gaya normal sentris N


dimana:
A = luas penampang balok
N = gaya normal

N
N =
A

Gaya Normal Eksentris


Jika gaya normal bekerja tidak pada titik berat penampang,
dikatakan bahwa gaya normal tersebut eksentris
Jika gaya normal bekerja pada titik yang terletak pada sumbu X
atau Y dikatakan gaya normal eksentris tegak.
Jika gaya normal bekerja pada titik yang tak terletak pada sumbu X
atau sumbu Y, dikatakan gaya normal eksentris serong (miring)
Y

ey

Lokasi N

Lokasi N

Lokasi N

ey

X
X

ex

Gaya normal eksentris tegak

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

ex

Gaya normal eksentris miring

32

Kita tinjau gaya normal eksentris tegak :


Lokasi N
N

N.ey

ey
N

N kita pindahkan ke garis netral, menimbulkan momen M=N.ey


M . y ( N . e y ). y
M tarik
=
=
Ix
Ix

N tekan

( N . e y ). 1 h
2 = ( N . ey)
=
1 b h3
1 b h2
12
6
N
=
b.h

Ada 3 kemungkinan keadaan :

Jika M tarik

>

N tekan

M tekan

+
M tarik

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

M +N tekan

+
M +N tarik

33

Jika M tarik

= N tekan

M tekan

M +N tekan

+
M tarik

Jika M tarik

< N tekan

M tekan

M +N tekan

+
M tarik

M +N tekan

Agar pada penampang terjadi tegangan sejenis (yaitu tekan


maksimum di serat atas dan tekan di serat bawah atau berharga
nol);
Maka M tarik N tekan

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

34

Agar terjadi tegangan tekan saja pada penampang maka :


Untuk N bekerja eksentris pada suatu titik di sumbu X :

ey 1/6 h
Untuk N bekerja eksentris pada suatu titik di sumbu Y :
ey 1/6 b

Kalau kita gambar syarat batas ini pada penampang balok, maka
diperoleh bidang KERN (bidang inti)
1

3
h

A
D

1/6h X
1/6h
h
4

Bidang Kern (inti) : adalah tempat


kedudukan titik titik lokasi gaya
normal (N) tekan dimana tegangan
yang terjadi pada penampang
tersebut adalah sejenis (tekan pada
serat atas dan bawah).

1/6 b 1/6 b
1

Pada gambar diatas :


- Apabila gaya normal bekerja di titik A, maka tegangan pada
titik-titik yang terletak pada garis 4-4 sama dengan nol.
- Apabila gaya normal bekerja di titik C, maka tegangan pada
titik-titik yang terletak pada garis 3-3 sama dengan nol.
- Apabila gaya normal bekerja di titik B, maka tegangan pada
titik-titik yang terletak pada garis 1-1 sama dengan nol.
- Apabila gaya normal bekerja di titik D, maka tegangan pada
titik-titik yang terletak pada garis 2-2 sama dengan nol.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

35

F. Pelat Terletak Di Atas Tanah :


Pada mekanika teknik I ini akan kita bahas pelat diatas tanah
dengan syarat bahwa pelat tersebut kaku sekali, sehingga apabila
diberi beban maka pelat tidak melentur tetapi mengalami
penurunan yang sama besarnya disetiap titik.
Untuk pelat di atas tanah yang mengalami lentur dibahas di
mektek 2.
N

pelat melentur

tanah
Pelat mengalami penurunan
(kekakuan pelat tak berhingga)

Dalam prakteknya, pelat diatas tanah adalah sbb :


N
N

pondasi batu kali

pondasi tapak beton

Kita tinjau pelat di atas tanah yang dibebani oleh N. N bekerja


sejarak e dari as pelat.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

36

N e

Tampak atas

Diagram tegangan akibat


M dan N jika e > 1/6 h

Diagram tegangan akibat


M dan N jika e = 1/6 h

Diagram tegangan akibat


M dan N jika e < 1/6 h

Didalam menghitung pondasi, selalu diusahakan agar eksentrisitas


e <1/6 h, agar pada penampang terjadi tegangan sejenis (tekan
semua). Jika e >1/6 h maka ada bagian pondasi yang mengalami
tarikan, sehingga kemungkinan besar ada bagian podasi terangkat
keatas.
G. Tegangan Geser (Shearing Stress):
Kita tinjau balok yang terdiri atas dua balok tersusun. Jika tidak
ada gesekan pada permukaan bidang kontak antara kedua balok
tersebut, maka balok akan melentur seperti tergambar.
Akan terjadi tegangan geser pada bidang kontak yang besarnya
sama, dengan arah berlawanan.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

37

Tegangan geser yang bekerja pada bidang penampang sama


besarnya dengan tegangan geser yang bekerja pada bidang //
bidang netral.
N
b

h
B

h
h
B

D.S
b.I

dimana :
S = statis momen terhadap garis netral dari luas
elemen yang ditinjau.
D = lintang
b = lebar balok

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

38

BAB VI
GARIS PENGARUH MOMEN, LINTANG, NORMAL,
REAKSI BALOK STATIS TERTENTU (Influence
Lines)
Pengertian beban bergerak, beban hidup, beban mati dan
diagram pengaruh :

Dalam konstruksi khususnya pada jembatan, ada bermacammacam beban bergerak seperti mobil, kereta api, dll.
Beban bergerak ini disebut beban hidup (life load), sedangkan
berat sendiri gelagar, pelat dll disebut beban mati (dead load).
Sekarang kita tinjau balok AB (terjepit di A dan B bebas)
P

B
P

MA

P adalah beban bergerak, kita


berikan jarak sebesar x dari
lokasi gaya P sampai titik B.
Harga x variable. Untuk harga x
yang berbeda-beda akan kita
peroleh harga MA yang berbedabeda pula.
Apabila harga momen jepit MA
digambarkan, akan diperoleh
suatu diagaram disebut diagram
pengaruh momen jepit MA.

1m

Diagram pengaruh MA

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

39

Kegunaan diagram pengaruh tersebut adalah sbb:


Jika kita ingin mengetahui besarnya MA akibat GP yang bekerja
sejarak 1 meter dari B, maka kita bisa tahu dari diagram tsb (lihat
gambar).
Beban bergerak bias berupa :
1. Beban bergera terpusat

P1

P2

P3

P1

P2

P3

Dalam prakteknya adalah eban kendaraan (mobil)


2. Beban terbagi rata
q t/m

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

40

Garis pengaruh reaksi perletakan (disingkat GP reaksi)


P

B
L
GP RA

P
P
P
GP RB
P

P
P
P

P bergerak diatas balok AB.


P berada x dari titik B :
RA = x/L . P
RB = (L-x)/L . P
Untuk
x =0
RA = 0;
RB = P
x = L RA = P; RB = P
x = L RA = P; RB = P
x = L RA = P; RB = P
x=L
RA = P;
RB = 0
Biasanya untuk menggambarkan garis pengaruh, beban P diambil
1 ton.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

41

Garis pengaruh lintang dan momen :


Akan dicari momen dan lintang
x P=1
pada potongan 1-1 bekerja a dari A
A
B
akibat P=1 ton bergerak diatas AB.
a
P berada antara A dan pot1 :
x

P=1t

0xa :

GP M1-1
La
.a
L

La
L

a
L

GP D1-1

RA = (L-x)/L
M1-1 = RA.a - 1(a-x)
Lx
=
.a - (a-x)
L
untuk :
x = 0 M1-1 = 0
x = a M1-1 = (L-a)/L.a
D1-1 = RA-1
= (L-x) / L-1 = -x/L
untuk :
x = 0 D1-1 = 0
x = a D1-1 = -a/L

P berada pot 1-1 dan B :

a<xL
RA = (L-x)/L
M1-1 = RA.a
= (L-x) / L.a
Untuk
x =a
M1-1 = (L-a) / L.a
x =L
M1-1 = 0
D1-1 = RA = (L-x)/L
Untuk
x =a
D1-1 = (L-a)/L
x =L
D1-1 = 0
BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

42

Posisi beban terbagi rata bergerak (panjangnya = bentang


balok) yang menghasilkan momen maksimum, lintang
maksimum pada pot
1-1 balok AB.
q t/m
a

B
L
1
q t/m

GP M1-1
q t/m

GP D1-1

q t/m

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

GP P1-1

Beban terbagi rata bergerak


diatas AB.
Untuk memperoleh momen
maksimum + :
Potongan 1-1, maka beban
tersebut diletakkan penuh diatas
AB (daerah positip dari
diagaram M1-1)
Karena apada diagram GP M1-1,
tak ada diagram negatip, maka
momen maksimum negatip
potongan 1-1 tidak ada.
Untuk memperoleh lintang
maksimum + :
Maka beban terbagi rata
diletakkan
diatas
diagram
negatip GP D1-1

Lintang maksimum +, pot 1-1 =


luas diagram D1-1 positip
dikalikan q
Lintang maksimum -, pot 1-1 =
luas diagram D1-1 negatip
dikalikan q
Momen maksimum +, pot 1-1 =
luas diagram M1-1 positip
dikalikan q

43

Posisi beban terbagi rata (panjangnya lebih kecil dari pada


bentang) bergerak, yang menghasilkan momen maksimum,
lintang maksimum pot 1-1 balok AB (A sendi, B rol)
1 q t/m
A

d
a

+
d

GP D1-1

+
d

Untuk memperoleh lintang maks


+ pot 1
Beban terbagi rata diletakkan
seperti tergambar.
Lintang maks + = luas yang diarsir
dikalikan q
Untuk memperoleh lintang maks
pot 1
Beban terbagi rata diletakkan
seperti tergambar.
Lintang maks - = luas yang diarsir
dikalikan q.

GP D1-1

y2

y1
M=

GP M1-1

La
.a
L

Posisi beban terbagi rata untuk


memperoleh momen maksismum +
potongan 1-1
Ujung beban terbagi rata sebelah
kiri diletakkan sejauh x dari
potongan 1-1

M + y2
M + y1
(d x) +
x
2
2
Momen maksimum potongan 1-1 : q .(luas yang diarsir)
M1-1 = q ( (M+y2)(d-x) + (M+y1).x)
= q (- Mx x.y2+ M.d + d.y2 +.x. y1 + M.x)
= q (y1.x + M.d + d,y2 - .y2.x)
Luas bagian yang diarsir =

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

44

dimana
y1 : M = (a-x):a
ax
y1 =
M
a
y2 : M = (L-a-d + x) : (L-a)
Lad + x
d x
y2 =
M = M 1

La
La
M1-1 = q (M.(a-x).x + M.d + d.M(1-(d-x)/(L-a))-M.x(1(d-x)/(L-a))
= q (-Mx2/(2a)+M.d- M.d(d-x)/(L-a)+(Mx(d-x))/(2(L-a)
Untuk memperoleh M1-1 maksimum dM1-1/dx=0
Mx
M .d
M .d
M .x
(+
+
+
)=0
2 a 2( L a ) 2( L a ) L a
diperoleh :
x
d
x
- +
+
=0
a La La
x d
= atau
a L
x dx
=
atau
a La
x
a
+
d a La
y1 = M(a-x)/a = M-M.x/1 = M-M.d/L = M(L-d)/L
y2 = M(1-(d-x)/(L-a)) =M(1-x/a) = M(1-d/L) = M(L-d)/L
y1 = y2
Jadi untuk memperoleh momen maksimum + potongan 1-1, beban
terbagi rata diletakkan diatas diagram GP M1-1 sedemikian rupa
sehingga ordinat garis pengaruh di ujung beban terbagi rata
tersebut sama besar (y1 = y2).

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

45

Posisi beban terpusat bergerak yang menghasilkan lintang


maksimum, momen maksimum pada potongan 1-1 balok AB
(A sendi, B rol)
Rangkaian beban terpusat P1 s/d
P1 P2
P4 bergerak diatas balok AB
P
P4
1 3
(dari B ke A)
A
B
Akan ditentukan posisi beban
a
1
sedemikian
rupa
sehingga
menghasilkan
lintang
dan
P1 P2
momen max di potongan 1-1.
P3 P4
+

y1

y3

y2

P1

P2

P3

y4 GP D1-1

(keadaan 2)
D = -P1.y1+P2.y2+P3.y3+P4.y4

P4

y1

+
y2

P1

P2

P3

y3

y4

GP D1-1

P4

y1

y2 y3

P1

y1

y4

P2

P3

y2 y3

GP D1-1

P4

+
y4

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

Posisi beban ang meghasilkan


intang maks + potongan 1-1:
(keadaan 1)
D = P1.y1+P2.y2+P3.y3+P4.y4

Dipilih harga maksimum.


Posisi beban yang
menghasilkan lintang
maksimum potongan 1-1
(keadaan 1)
D = P1.y1+P2.y2+P3.y3+P4.y4

(keadaan 2)
D = P1.y1+P2.y2+P3.y3+P4.y4
GP D1-1

Dipilih harga terbesar.

46

Posisi beban yang


menghasilkan momen maks +
potongan 1-1:
Misalkan beban yang berada
antara potongan 1-1 dan A
adalah P1, P3

d
R1

P1

P2

P3

P4

GP M1-1

y1

y2

Sedangkan antara 1-1 dan B


adalah P3 dan P4

P1

P2

P3

Resultante P1 dan P2 adalah R1,


berjarak x dari potongan 1-1
Resultante P3 dan P4 adalah R2
erjarak (d-x) dari potongan 1-1
Jarak R1 dan R2 adalah d

P4

GP M1-1

Momen potongan 1-1:


M1-1 = R1.y1+R2.y2
Dimana y1 = (c-x) / c.M
Y2 = (L-c-d+x) / (L-c).M

M1-1 = R1.M.(c-x)/c + R2.M(L-c-d+x)/(L-c)

d M 11
dx
dM1-1

M
Lc
= (R1/c+R2/(L-c)).M
= Mdx (R2/(L-c)-R1/c)
= -R1.M/c + R2.

Misalkan pada saat P2 melewati potongan 1-1 dari arah B, harga


R2 - R1 = positip
Lc c

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

47

R2 - R1 = negatip
Lc c
berarti saat P2 tepat berada dipotongan 1-1, akan diperoleh harga
maksimum (ingat: harga maksimum dan minimum ANALISA I)

Lalu setelah P2 melewati potongan 1-1, harga

Kesimpulan :
Untuk memperoleh momem maksismum + potongan 1-1, keadaan
pembebanan dicoba-coba sedemikian rupa sehingga kita peroleh
harga + dan dari (R2/(L-c) - R1/c)dari 2 keadaan pembebanan.

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

48

Posisi beban terpusat bergerak, yang menghasilkan momen


maksimum + pada lokasi beban tersebut :

P1

P2

P3

P4

B
C

Kita tinjau balok AB (A sendi,


B rol) beban terpusat bergerak
P1 s/d P4. Bergerak diatas AB
dari B ke A akan dicari momen
maksimum pada lokasi gaya P3
(titikC)

Resultante P1 s/d P4 adalah R


berjarak d dari C (posisi gaya
P1 P2
P3)
P3 P4
A
B R berjarak x dari A
C
RA = (L-x)L . R
L
MC = (L-x) / L.(x+d)-M
Dimana : M = momen-momen akibat beban dikiri titik C terhadap
titik C
MC = R/L (x.L+L.d-x2-xd)-M
Syarat MC, maksimum :
d MC
=0
dx
R
(L-2x-d) = 0
L
x
= (L-d)
L-x
=d
Kesimpulan : Untuk memperoleh momen maksimum potongan C
(lokasi gaya P3) maka pertengahan dari jarak antara resultante R &
titik C merupalan as balok AB

BAHAN AJAR MEKANIKA REKAYASA I

49

Anda mungkin juga menyukai