Anda di halaman 1dari 11

POLA PERGERAKAN DAN AKTIVITAS BERBELANJA

KONSUMEN PASAR TRADISIONAL


Studi Kasus : Pasar Desa Terpadu Arjasari, Desa Arjasari, Kecamatan Arjasari,
Kabupaten Bandung
Deni Supriatna, Romeiza Syafriharti, Ir., MT.
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer
Universitas Komputer Indonesia
Bandung
Email : dhymazif@yahoo.co.id
ABSTRAK
Pasar Tradisional yang ada di Desa Arjasari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung
membutuhkan peningkatan pelayanan karena tidak hanya melayani Desa Arjasari saja. Tetapi
juga melayani desa-desa lainnya di Kecamatan Arjasari. Sebagai tahap awal untuk
meningkatkan pelayanannya, maka perlu dilakukan penelitian tentang pola pergerakan dan
aktivitas berbelanja konsumen pasar tersebut. Dengan demikian, peningkatan pelayanan tidak
hanya menyangkut kelengkapan kebutuhan di pasar, tetapi juga aksesibilitasnya.
Dalam penelitian ini, yang ingin dilihat adalah hubungan antara variabel-variabel pola
pergerakan yang terdiri dari asal pergerakan dan moda transportasi dengan variabel-variabel
aktivitas berbelanja yaitu frekuensi dan waktu berbelanja serta produk yang dibeli. Hubungan
antar variabel-variabel tersebut diteliti dengan metode Crosstabs. Hubungannya dideskripsikan
sesuai dengan pola hubungan yang terjadi. Dalam penelitian ini, data diperoleh dari 100
responden dengan menggunakan kuesioner. Pemilihan responden diambil dengan
menggunakan teknik Random Sampling.
Konsumen yang berbelanja sebagian besar adalah masyarakat di Kecamatan Arjasari
itu sendiri, khususnya Desa Arjasari, Desa Pinggirsari dan Desa Patrolsari serta hanya sedikit
yang berasal dari luar Kecamatan Arjasari. Kebanyakan konsumen berbelanja menggunakan
sepeda motor pribadi, ojek dan angkutan umum (angkot). Konsumen merupakan masyarakat
yang selalu berbelanja setiap hari pada pagi hari yaitu pada jam 05.00-07.00 WIB. Produk yang
dibeli kebanyakan merupakan kebutuhan pokok seperti beras, gula, terigu, minyak goreng,
telur, sayuran dan tahu tempe.
Dari hasil pengujian crosstabs ditemukan bahwa tidak semua variabel yang diuji
mempunyai hubungan. Hasil pengujian tersebut yang mempunya hubungan adalah variabel asal
pergerakan dengan variabel moda transportasi, variabel frekuensi berbelanja dengan variabel
waktu berbelanja, dan variabel frekuensi berbelanja dengan variabel produk yang dibeli.
Kata kunci : pasar, konsumen, asal pergerakan, moda transportasi, frekuensi, waktu, produk
yang dibeli

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Keberadaan pasar tradisional di
Kecamatan
Arjasari
menjadi
sentral
dikarenakan pasar berada pada pusat perkotaan
dan pusat kegiatan di Kecamatan Arjasari.
Pada awalnya Pasar Desa Terpadu Arjasari
didirikan oleh pengembang untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan untuk Komplek
perumahan Kota Baru Arjasari. Cakupan
pelayanan
pasar
diperuntukkan
bagi
masyarakat
komplek
perumahan
dan
sekitarnya. Pada perkembangannya pasar ini
terabaikan dan ditinggalkan oleh pengembang.
Pertimbangan berada pada lahan desa, maka
pengelolaan pasar diambil alih oleh
pemerintah Desa Arjasari, sehingga menjadi
BUMDes.
Pasar tradisional pada dasarnya
memiliki potensi untuk dapat dikembangkan
lebih baik lagi. Ketergantungan masyarakat
Indonesia akan pasar tradisional tidak dapat
dilepaskan, karena kemudahan dan telah
menjadi budaya yang turun temurun. Pasar
tradisional di Arjasari juga memiliki potensi
untuk dapat dikembangkan lebih baik,
misalnya dikembangkan menjadi pasar wisata
dan rekreasi atau pasar pertanian. Ditinjau dari
kepemilikan pasar sebagai
BUMDes,
seharusnya pasar dapat dikembangkan melalui
pemerintah desa yang dapat dengan leluasa
menjadikan pasar sebagai pendapatan
pemerintah desa.
Sebagai Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes), Pasar Arjasari memiliki fungsi
yang sangat penting dalam roda perekonomian
Kecamatan Arjasari, setiap kebutuhan rumah
tangga dapat terpenuhi dengan baik, hal ini tak
lepas dari program Kecamatan Arjasari dalam
bidang pengembangan sektor ekonomi warga.
Sebagai Desa yang dinamis dan bergerak
menuju arah yang lebih baik, Arjasari dengan
salah satu misi nya Nguatkeun Posisi
Ekonomi Arjasari Salaku Sentra Pertanian,
Peternakan Jeung Perdagangan berusaha
sebaik mungkin untuk memperkuat sektor ini
sebagai pusat ekonomi warga. Maka perlu
dilakukan penelitian tentang pola pergerakan
dan aktivitas berbelanja konsumen pasar
tersebut. Dengan demikian, peningkatan
pelayanan
tidak
hanya
menyangkut

kelengkapan kebutuhan di pasar, tetapi juga


aksesibilitasnya.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di
atas, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana pola pergerakan konsumen
Pasar Desa Terpadu Arjasari?
b. Bagaimana aktivitas berbelanja
konsumen pasar?
c. Bagaimana hubungan pola pergerakan
konsumen pasar dengan aktivitas
berbelanja konsumen?
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pasar
Pasar dalam arti sempit adalah tempat
terjadi permintaan dan penawaran bertemu,
dalam hal ini lebih condong ke arah pasar
tradisional. Sedangkan dalam arti luas adalah
proses transaksi antara permintaan dan
penawaran, dalam hal ini lebih condong ke
arah pasar modern.
Pasar Tradisional (Menurut Perpres
No.112 Tahun 2007) adalah pasar yang
dibangun dan dikelola oleh Pemerintah,
Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha
Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah
termasuk kerja sama dengan swasta dengan
tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda
yang dimiliki / dikelola oleh pedagang kecil,
menengah, swadaya masyarakat atau koperasi
dengan usaha skala kecil, modal kecil dan
dengan proses jual beli barang dagangan
melalui tawar menawar.
Ciri-ciri pasar tradisional :
Proses jual beli barang dan lain-lain
melalui proses tawar menawar harga;
Barang yang dijual umumnya keperluan
memasak, dapur dan rumah tangga;
Harga barang yang di perjualbelikan
relatif murah dan terjangkau;
Area pasar tradisional biasanya di tempat
yang terbuka.
Fungsi dan peran pasar tradisional :
Pasar sebagai pusat perekonomian;
Pasar sebagai pusat kegiatan sosial dan
kebudayaan;

Pasar sebagai pusat interaksi sosial;


Pasar tradisional, sebuah identitas budaya;
Pasar sebagai pusat informasi dan
komunikasi;
Pasar sebagai tempat hiburan; dan
Peranan pasar terhadap perkembangan
wilayah pedesaan.
2.2. Transportasi dan Pergerakan
Transportasi adalah kegiatan memindahkan atau mengangkut sesuatu dari satu tempat
ke tempat lain (Morlok, 1978). Transportasi
adalah suatu sistem yang terdiri dari
prasarana/sarana dan sistem pelayanan yang
memungkinkan adanya pergerakan ke seluruh
wilayah sehingga terakomodasi mobilitas
penduduk, dimungkinkan adanya pergerakan
barang, dan dimungkinkannya akses ke semua
wilayah (Tamin, 2012).
Pergerakan berkaitan dengan perilaku
manusia dalam menentukan pola perjalanan
yang akan dilakukan, dengan terlebih dahulu
memutuskan pola aktivitas sehari-hari
(Srinivasan, 2004). Pengaruh terhadap
perilaku pergerakan adalah aksesibilitas atau
jarak jangkauan pelayanan angkutan umum,
jarak terhadap pusat kota, dan jarak terhadap
fasilitas lokal seperti lokasi kerja, sekolah,
fasilitas belanja dan fasilitas rekreasi (Yunus,
2005).
Perjalanan yang dilakukan oleh orangorang dapat dilihat dari sejumlah atribut atau
ukuran-ukuran sebagai berikut: (Meyer dan
Miller, 1984):
1. Maksud perjalanan (bekerja, sekolah,
berbelanja dan lain-lain);
2. Waktu ketika melakukan perjalanan;
3. Tempat asal perjalanan;
4. Tempat tujuan perjalanan;
5. Kendaraan yang digunakan dalam
perjalanan;
6. Rute dari tempat asal ke tempat tujuan
yang dipilih dalam melakukan perjalanan;
dan
7. Frekuensi (jumlah perjalanan tiap satuan
waktu) dalam perjalanan.
Dalam penelitian ini variabel-variabel
yang diambil untuk pola pergerakan konsumen
yaitu tempat asal (asal pergerakan) dan
kendaraan
yang
digunakan
(moda

transportasi). Sedangkan untuk variabel waktu


ketika melakukan perjalanan dan frekuensi
dalam perjalanan diambil sebagai variabel
perilaku berbelanja. Maka variabel di atas
menjadi variabel uji untuk perilaku berbelanja
konsumen ke pasar.
Untuk variabel lainya maksud perjalanan,
tempat tujuan perjalanan, dan rute dari asal ke
tempat tujuan berjalan tidak diambil dalam
pengujian penelitian ini. Untuk maksud
perjalanan dikarenakan maksud yang dituju
adalah untuk berbelanja ke pasar saja. Untuk
tempat tujuan pula tidak diambil menjadi
variabel penelitian karena tempat tujuan
perjalanan hanya menuju pasar saja. Juga
untuk rute pun sama karena tidak semua asal
daerah konsumen yang berbelanja ke pasar
tidak terlayani oleh angkutan umum yang ada.
2.3. Perilaku Berbelanja Konsumen
Perilaku konsumen didefinisikan sebagai
proses pengambilan keputusan dan kegiatan
individu yang terlibat dalam pemilihan,
evaluasi,
perolehan,
penggunaan
dan
mendapatkan barang dan jasa (Loudon & Della
Bitta). Perilaku yang bermotivasi diawali
dengan pengenalan kebutuhan (Engel,
Backwell, Miniard, 1993)
Dalam pemilihan produk oleh konsumen
tidak lepas dari kebutuhannya sebab adanya
kebutuhan akan mengarahkan pemikiran dan
perbuatan. Kebutuhan akan diekspresikan
dalam perilaku pembelian dan konsumsi
(Engel, Blackwell, Miniard, 1993). Sehingga
dengan mengenali kebutuhan konsumen maka
dapat memprediksikan perilaku konsumen
karena konsumen tidak akan membeli suatu
produk jika tidak memuaskan kebutuhan.
Pengenalan kebutuhan akan mendorong
organisme untuk berperilaku lebih jauh untuk
pemecahan masalah jika kebutuhan yang
dikenali cukup penting dan pemecahan
kebutuhan
tersebut
dalam
batas
kemampuannya (Engel, Blackwell, Miniard,
1993). Keputusan konsumen sehubungan
dengan pemilihan dalam pembelian suatu
produk sangat dipengaruhi oleh sumber daya
ekonomi yang dimiliki (Engel, Blackwell,
Miniard, 1993; Kotler, 1994).

3. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI


3.1. Gambaran Umum Kecamatan Arjasari
Wilayah studi dalam penelitian ini
adalah Kecamatan Arjasari, memiliki luas
lahan 4.935,30 km2 atau 5.362,535 Ha yaitu
terdiri dari : 11 desa. Secara administratif,
Kecamatan Arjasari mempunyai batas wilayah
sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kecamatan Baleendah dan
Kecamatan Pameungpeuk
Sebelah Selatan : Kecamatan Banjaran
dan Kecamatan Pacet
Sebelah Barat : Kecamatan Banjaran dan
Kecamatan Pameungpeuk
Sebelah Timur : Kecamatan Ciparay dan
Kecamatan Pacet

lahan dipakai fasilitas keperluan umum


sebanyak 62,125 Ha (2,46%).
Jumlah penduduk Kecamatan Arjasari
tahun 2014 sebanyak 96.534 jiwa terdiri dari
48.784 jiwa penduduk berjenis kelamin lakilaki dan 47.750 jiwa berjenis kelamin
perempuan. Sebaran penduduk terbanyak
adalah Desa Batukarut, sebanyak 11.547 jiwa
(11,96%), Desa Lebakwangi sebanyak 11.314
jiwa (11,72%), Desa Arjasari sebanyak 10.420
jiwa (10,79%) dan paling sedikit Desa
Ancolmekar sebanyak 5.162 jiwa (5,35%).
Kepadatannya penduduk yaitu 24 jiwa/ha,
sebaran yang tidak merata pada setiap desanya.
Kepadatan tertinggi di Desa Batukarut (65
jiwa/ha), kepadatan terendah di Desa
Pinggirsari (12 jiwa/ha).
Jenis jalan di Kecamatan Arjasari terdiri
dari jalan provinsi 1,5 km, jalan kabupaten
13,5 km dan jalan desa 125,1 km. Angkutan
umum terdiri dari rute Ciparay-RancakoleArjasari sebanyak 11 unit, rute ArjasariBatukarut-Banjaran sebanyak 23 unit dan rute
Batukarut-Banjaran
sebanyak
9
unit.
Angkutan umum lainnya adalah ojek.
Terminal merupakan terminal tipe C, dan
beririsan langsung dengan lokasi pasar dengan
jalur utama di Jalan Raya Arjasari.

Gambar 1. Peta Administrasi Kecamtan Arjasari

Tabel 1
Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Menurut Desa di Kecamatan Arjasari Tahun 2015
No.

Desa

Luas
()

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Batukarut
Mangunjaya
Mekarjaya
Baros
Lebakwangi
Wargaluyu
Arjasari
Pinggirsari
Patrolsari
Rancakole
Ancolmekar
Jumlah

177,80
367,20
322,00
419,70
316,70
463,00
768,80
871,00
547,80
307,80
373,50
4.935,30

Jumlah
Penduduk

Kepadatan
Penduduk

11.547
7.771
5.833
8.739
11.314
7.536
10.420
10.367
8.038
9.807
5.162
96.534

65
21
18
21
36
16
14
12
15
32
14
24

Sumber : Kecamatan Arjasari Dalam Angka, Tahun 2015

Luas Kecamatan Arjasari adalah sebesar


5.362,535 Ha. Sama dengan kecamatan pada
umum guna lahan di Kecamatan Arjasari
merupakan guna lahan campuran. Guna lahan
di Kecamatan Arjasari di dominasi oleh tanah
sawah yaitu sebanyak 1.705,512 Ha (67,55%),

3.2. Gambaran Umum Pasar Arjasari


Lokasi Pasar Arjasari berada di Desa
Arjasari, Kecamatan Arjasari. Jalan utama
yang melalui pasar adalah Jalan Raya Arjasari
yang menghubungkan Wilayah Pengembangan Banjaran dengan Wilayah Pengembangan
Majalaya. Pasar merupakan Badan Usaha
Milik Desa (BUMDes) dengan luas lahan yang
dimiliki 3.500 m2, peruntukan lahan milik Desa
Arjasari. Aspek strategis pasar yaitu jalan
lintas yang melintasi pasar, kedekatan
terminal, dan, kedekatan dengan sumber
produk, kedekatan dengan pusat pemerintahan
setempat.
Pasar Arjasari terdapat 3 (tiga) jenis
ruang usaha yaitu kios, los, dan PKL. Ukuran
kios (3 x 2,5 m2), los (3 x 2,5 m2) dan PKL (2
x2 m2). Pasar meliputi 118 unit kios, 72 unit
Los dan 21 PKL. Jenis dagangan yang dijual
di pasar mayoritas berupa kebutuhan pokok
sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gula,
terigu dan telur.

Kondisi
lingkungan
dan
sarana
prasarana kurang terjaga dan terpelihara, tidak
adanya tempat sampah serta TPS tidak
dipergunakan sebagaimana mestinya. Tempat
parkir kurang tertata dan tidak jelas
keberadaannya, tidak terdapatnya tempat
bongkar muat barang, pedagang belum
terkelompok dengan baik, jalur (lorong)
pejalan kaki kurang lebar, tidak dijumpai ruang
terbuka hijau untuk publik.

4) Desa lain di luar Kecamatan Arjasari yaitu


desa-desa yang ada di luar Kecamatan
Arjasari (Desa Jelekong dan Desa
Mekarlaksana).

Gambar 3. Peta Asal Pergerakan Konsumen Pasar

Tabel 2
Tabulasi Silang Antara Asal Pergerakan dengan
Moda Transportasi
No. Asal Pergerakan

1 Desa Arjasari
8,0
2,0
Desa Pinggirsari
2
4,0 13,0
dan Desa Patrolsari
Desa Lain di Kec.
3
6,0
9,0
Arjasari
Desa di Luar Kec.
4
0,0
3,0
Arjasari
Total 18,0 27,0
Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Mobil
Pribadi
Sepeda
Motor
Pribadi
Berjalan
kaki

Moda Transportasi (%)

Ojek

4. ANALISIS POLA PERGERAKAN


DAN AKTIVITAS BERBELANJA
KONSUMEN PASAR TRADISIONAL
4.1. Pola Pergerakan Konsumen
Asal pergerakan konsumen dibagi
menjadi beberapa karakter sebaran konsumen
yaitu Desa Arjasari sebanyak 26,0%, Desa
Pinggirsari dan Desa Patrolsari sebanyak
47,0%, desa lainnya di Kecamatan Arjasari
sebanyak 23,0% dan desa yang berada di luar
Kecamatan Arjasari sebanyak 4,0%. Moda
transportasi yang digunakan konsumen dalam
berbelanja yaitu sepeda motor pribadi (41%),
ojek (27%) dan angkutan umum (18 %).
Sedangkan paling sedikit memilih memakai
mobil pribadi (5,0%) dan berjalan kaki (9,0%).
Dalam pengujian asal pergerakan
konsumen
diklasifikasikan
berdasarkan
kedekatan dengan posisi pasar, yaitu :
1) Desa Arjasari yaitu posisi pasar itu berada;
2) Desa dekat pasar yaitu desa yang
berdekatan dengan lokasi pasar (Desa
Pinggirsari dan Desa Patrolsari);
3) Desa lain di Kecamatan Arjasari yaitu
desa-desa yang ada di dalam satu
kecamatan (Desa Batukarut, Mangunjaya,
Mekarjaya,
Baros,
Lebakwangi,
Wargaluyu, Rancakole dan Ancolmekar);

Angkutan
Umum

Gambar 2. Peta Lokasi Pasar

Kebanyakan konsumen yang berasal Desa


Arjasari, Desa Pinggirsari dan Desa Patrolsari
menggunakan sepeda motor pribadi untuk
berbelanjake pasar sedangkan Desa lainnya
tidak menggunakan sepeda motor pribadi,
namun berupa ojek, serta hanya sedikit yang
menggunakan angkutan umum. Dari hasil
analisis hubungan asal pergerakan konsumen
dengan moda transportasi dipengaruhi oleh :
Banyaknya kendaraan pribadi yaitu
sepeda motor.
Perkerasan jalan berupa aspal dan beton
sampai ke pelosok desa.
Aksebilitas dan kemudahan penggunaan
sepeda
motor
maupun
ojek,
memungkinkan pemilihan moda tersebut
menjadi pilihan utama.
Beririsan langsung dengan jalan raya
Arjasari sehingga dapat dijangkau dengan
mudah oleh angkutan umum maupun
angkutan pribadi.

Total

2,0

10,0

4,0

26,0

3,0

22,0

5,0

47,0

0,0

8,0

0,0

23,0

0,0

1,0

0,0

4,0

5,0

41,0

9,0

100,0

5
Tabel 3
Tabulasi Silang Antara Frekuensi Berbelanja dan
Waktu Berbelanja

4,0
,0
1,0
,0
1,0
1,0
7,0

15.00
18.00

09.00
12.00

07.00
09.00

Selalu
10,0 17,0
3,0
Sering Sekali 11,0
9,0
1,0
Sering
2,0
4,0
1,0
Jarang
1,0
5,0
6,0
Jarang Sekali
2,0
1,0
3,0
Tidak Tentu
2,0
1,0
3,0
Total
28,0 37,0 17,0
Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

12.00
15.00

1
2
3
4
5
6

05.00
07.00

Frekuensi
Berbelanja

No

> 05.00

Waktu Berbelanja (%)

1,0
,0
1,0
,0
1,0
3,0
6,0

2,0
1,0
1,0
1,0
,0
,0
5,0

Total

37,0
22,0
10,0
13,0
8,0
10,0
100,0

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Gambar 4. Diagram Hubungan Asal Pergerakan dengan


Moda Transportasi

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Gambar 5. Diagram Hubungan Frekuensi dengan Waktu


Berbelanja

Tabel 4
Tabulasi Silang Antara Frekuensi Berbelanja dan
Produk yang Dibeli

3,0
3,0
1,0
1,0
1,0
0,0
9,0

0,0
1,0
0,0
0,0
0,0
3,0
4,0

0,0
1,0
0,0
0,0
1,0
1,0
3,0

4,0
1,0
1,0
0,0
1,0
2,0
9,0

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Gambar 6. Diagram Hubungan Frekuensi dengan Produk


yang Dibeli

Total

1,0
2,0
1,0
1,0
0,0
0,0
5,0

Lainnya

7,0
3,0
2,0
0,0
0,0
0,0
12,0

Bahan & peralatan


perawatan rumah

6,0
1,0
1,0
1,0
0,0
1,0
10,0

Pakaian, Sepatu,
Sandal

6,0
4,0
3,0
1,0
1,0
1,0
16,0

Makanan dan
Minuman

10,0
6,0
1,0
9,0
4,0
2,0
32,0

Garam & Bumbu


Masak

Selalu
Sering Sekali
Sering
Jarang
Jarang Sekali
Tidak Tentu
Total

Tahu dan Tempe

1
2
3
4
5
6

Frekuensi
Berbelanja

Daging Sapi, Ayam, &


Ikan

No.

Sayur-sayuran &
Buah-buahan

Produk yang Dibeli (%)

Beras, Gula, Minyak


Goreng, Terigu, Telur

4.2. Aktivitas Berbelanja Konsumen


Konsumen adalah masyarakat bertempat
tinggal di Kecamatan Arjasari, mayoritas
konsumen penduduk desa Pinggirsari, Arjasari
dan Patrolsari, datang ke pasar dengan sepeda
motor pribadi maupun ojek dan selalu
berbelanja setiap hari. Waktu berbelanja pukul
> 05.00 s.d 09.00. Berbelanja kebutuhan pokok
seperti beras, gula, minyak goreng, telur,
sayuran dan tahu tempe.
Produk yang banyak dibeli oleh konsumen
di Pasar Arjasari adalah barang kebutuhan
sehari-hari, seperti : sayuran, beras, gula,
minyak goreng, terigu, telur, tahu tempe, dan
bumbu masak yang menunjukkan angka
sebesar 62%. Sementara konsumen yang
berbelanja daging sapi, ayam, dan ikan
sebanyak 10% dan yang berbelanja alat rumah
tangga sebanyak 1%.
Hubungan aktivitas berbelanja dilihat dari
frekuensi berbelanja dengan waktu berbelanja
dipengaruhi oleh pasar tradisional yang relatif
jam sibuk pasar terjadi di pagi hari, pasar selalu
buka setiap hari, dan barang yang dijual berupa
beras, gula, minyak goreng, terigu, telur,
sayuran dan tahu tempe. Adapun hubungan
frekuensi berbelanja dengan produk yang
dibeli adalah kebutuhan pokok konsumen
tersedia setiap hari, pasar tradisional
merupakan penyedia kebutuhan sandang dan
pangan, dan sembako merupakan produk
utama pasar, banyaknya pedagang yang
menyediakan beras, gula, minyak goreng,
terigu, telur, sayuran dan tahu tempe.

37,0
22,0
10,0
13,0
8,0
10,0
100

6
Tabel 5
Tabulasi Silang Antara Waktu Berbelanja dan
Produk yang Dibeli

3,0
3,0
1,0
1,0
1,0
0,0
9,0

0,0
1,0
0,0
0,0
0,0
3,0
4,0

0,0
1,0
0,0
0,0
1,0
1,0
3,0

Total

1,0
2,0
1,0
1,0
0,0
0,0
5,0

Lainnya

7,0
3,0
2,0
0,0
0,0
0,0
12,0

Bahan & peralatan


perawatan rumah

6,0
1,0
1,0
1,0
0,0
1,0
10,0

Pakaian, Sepatu,
Sandal

6,0
4,0
3,0
1,0
1,0
1,0
16,0

Makanan dan
Minuman

10,0
6,0
1,0
9,0
4,0
2,0
32,0

Garam & Bumbu


Masak

Tahu dan Tempe

< 05.00
05.00 07.00
07.00 09.00
09.00 12.00
12.00 15.00
15.00 18.00
Total

Daging Sapi, Ayam, &


Ikan

1
2
3
4
5
6

Waktu
Berbelanja

Sayur-sayuran &
Buah-buahan

No.

Beras, Gula, Minyak


Goreng, Terigu, Telur

Produk yang Dibeli (%)

4,0
1,0
1,0
0,0
1,0
2,0
9,0

37,0
22,0
10,0
13,0
8,0
10,0
100

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Sumber: Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Gambar 8. Diagram Hubungan Asal Pergerakan dengan


Frekuensi Berbelanja

Hubungan dengan waktu berbelanja, hasil


analisis crosstabs menunjukkan nilai
signifikansi 0.518 > (0.05) maka ini
berarti bahwa tidak ada hubungan antara
asal pergerakan dengan waktu berbelanja.
Tabel 7
Tabulasi Silang Antara Asal Pergerakan dengan
Waktu Berbelanja

15.00
18.00

4.3. Hubungan Pergerakan Konsumen


dengan Variabel Aktivitas Berbelanja
a) Hubungan asal pergerakan dengan
aktivitas berbelanja
Hubungan dengan frekuensi berbelanja,
hasil analisis crosstabs menunjukkan
nilai signifikansi 0.976 > (0.05) maka ini
berarti bahwa tidak ada hubungan antara
asal pergerakan dengan intensitas
frekuensi berbelanja konsumen.

Desa Arjasari
Desa Pinggirsari dan
Desa Patrolsari
Desa Lain di
Kecamatan Arjasari
Desa di Luar
Kecamatan Arjasari
Total

12.00
15.00

1
2

09.00
12.00

Gambar 7. Diagram Hubungan Waktu Berbelanja dengan


Produk yang Dibeli

07.00
09.00

Asal Pergerakan

05.00
07.00

No

Sumber: Penelitian Pasar Arjasari, 2016

> 05.00

Waktu Berbelanja (%)

11,0
13,0

8,0
17,0

2,0
8,0

2,0
3,0

3,0
3,0

0,0
3,0

26,0
47,0

4,0

9,0

6,0

2,0

0,0

2,0

23,0

0,0

3,0

1,0

0,0

0,0

0,0

4,0

28,0

37,0

17,0

7,0

6,0

5,0

100,0

Total

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Tabel 6
Tabulasi Silang Antara Asal Pergerakan dengan
Frekuensi Berbelanja
Total

11,0
15,0

6,0
9,0

1,0
7,0

3,0
6,0

3,0
4,0

2,0
6,0

26,0
47,0

9,0

6,0

2,0

3,0

1,0

2,0

23,0

2,0

1,0

0,0

1,0

0,0

0,0

4,0

37,0

22,0

10,0

13,0

8,0

10,0

100,0

Sering
Sekali

Tidak
Tentu

Jarang
Sekali

Desa Arjasari
Desa Pinggirsari dan
Desa Patrolsari
Desa Lain di
Kecamatan Arjasari
Desa di Luar
Kecamatan Arjasari
Total

Jarang

1
2

Asal Pergerakan

Selalu

No

Sering

Frekuensi Berbelanja (%)

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Gambar 9. Diagram Hubungan Asal Pergerakan dengan


Waktu Berbelanja

Hubungan dengan produk yang dibeli,


hasil analisis crosstabs menunjukkan
nilai signifikansi 0.586 > (0.05) ini berarti
bahwa tidak ada hubungan antara asal
pergerakan dengan produk yang dibeli.

7
Tabel 8
Tabulasi Silang Antara Asal Pergerakan dengan
Produk yang Dibeli

4,0

2,0

4,0

3,0

1,0

0,0

2,0

2,0

26,0

15,0

9,0

6,0

3,0

2,0

5,0

3,0

0,0

4,0

47,0

7,0

1,0

2,0

5,0

0,0

3,0

1,0

1,0

3,0

23,0

2,0

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

4,0

32,0

16,0

10,0

12,0

5,0

9,0

4,0

3,0

9,0

100,0

Total

Lainnya

Bahan & peralatan


perawatan rumah

8,0

Tahu dan Tempe

Pakaian, Sepatu,
Sandal

Makanan dan
Minuman

Desa Pinggirsari
dan Desa Patrolsari
Desa Lain di
Kec.Arjasari
Desa di Luar Kec.
Arjasari
Total

Garam & Bumbu


Masak

Desa Arjasari

Daging Sapi, Ayam,


& Ikan

Asal Pergerakan

Sayur-sayuran &
Buah-buahan

No.

Beras, Gula, Minyak


Goreng, Terigu, Telur

Produk yang Dibeli (%)

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Sumber: Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Gambar 11. Diagram Hubungan Moda Transportasi dengan


Frekuensi Berbelanja

Hubungan dengan waktu berbelanja, hasil


analisis crosstabs menunjukkan nilai
signifikansi 0.466>(0.05) maka ini berarti
bahwa tidak ada hubungan antara moda
transportasi yang dipilih oleh konsumen
dengan waktu berbelanja konsumen.
Tabel 10
Tabulasi Silang Antara Moda Transportasi dengan
Waktu Berbelanja
12.00
15.00

15.00
18.00

Angkutan Umum
Ojek
Mobil Pribadi
Sepeda motor
pribadi
Berjalan kaki
Total

09.00
12.00

b) Hubungan Moda Transportasi dengan


Variabel Aktivitas Berbelanja Konsumen
Hubungan dengan frekuensi berbelanja,
hasil analisis crosstabs menunjukkan
nilai signifikansi 0.388 > (0.05) maka ini
berarti bahwa tidak ada hubungan antara
moda transportasi yang dipilih oleh
konsumen dengan frekuensi berbelanja
konsumen.

1
2
3
4

07.00
09.00

Sumber: Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Gambar 10. Diagram Hubungan Asal Pergerakan dengan


Produk yang Dibeli

Moda
Transportasi

05.00
07.00

No

> 05.00

Waktu Berbelanja (%)

8,0
5,0
1,0
11,0

4,0
11,0
2,0
18,0

2,0
8,0
0,0
6,0

1,0
1,0
1,0
3,0

1,0
1,0
1,0
1,0

2,0
1,0
0,0
2,0

18,0
27,0
5,0
41,0

3,0
28,0

2,0
37,0

1,0
17,0

1,0
7,0

2,0
6,0

0,0
5,0

9,0
100,0

Total

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Tabel 9
Tabulasi Silang Antara Moda Transportasi dengan
Frekuensi Berbelanja

1
2
3
4
5

Angkutan Umum
Ojek
Mobil Pribadi
Sepeda motor
pribadi
Berjalan kaki
Total

Tidak
Tentu

Jarang
Sekali

Jarang

Sering

Moda
Transportasi

Sering
Sekali

No

Selalu

Frekuensi (%)

Total

Sumber: Penelitian Pasar Arjasari, 2016

7,0
7,0
2,0
18,0

2,0
9,0
2,0
8,0

3,0
3,0
0,0
4,0

1,0
4,0
0,0
6,0

3,0
1,0
0,0
4,0

2,0
3,0
1,0
1,0

18,0
27,0
5,0
41,0

3,0
37,0

1,0
22,0

0,0
10,0

2,0
13,0

0,0
8,0

3,0
10,0

9,0
100,0

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Gambar 12. Diagram Hubungan Moda Transportasi dengan


Waktu Berbelanja

Hubungan dengan Produk yang Dibeli,


hasil analisis crosstabs menunjukkan
nilai signifikansi 0.587>(0.05) maka ini
berarti bahwa tidak ada hubungan antara
moda transportasi yang dipilih oleh
konsumen dengan produk yang dibeli.

8
Tabel 11
Tabulasi Silang Antara Moda Transportasi dengan
Produk yang Dibeli
Pakaian, Sepatu,
Sandal

Bahan & peralatan


perawatan rumah

Lainnya

Total

4,0
7,0
1,0
15,0

5,0
4,0
1,0
6,0

2,0
3,0
0,0
3,0

4,0
4,0
0,0
4,0

0,0
3,0
0,0
1,0

1,0
3,0
1,0
4,0

0,0
2,0
0,0
2,0

1,0
1,0
0,0
1,0

1,0
0,0
2,0
5,0

18,0
27,0
5,0
41,0

5,0
32,0

0,0
16,0

2,0
10,0

0,0
12,0

1,0
5,0

0,0
9,0

0,0
4,0

0,0
3,0

1,0
9,0
9,0 100,0

Tahu dan Tempe

Makanan dan
Minuman

Garam & Bumbu


Masak

Angkutan Umum
Ojek
Mobil Pribadi
Sepeda motor
pribadi
Berjalan kaki
Total

Daging Sapi, Ayam, &


Ikan

1
2
3

Moda
Transportasi

Sayur-sayuran & Buahbuahan

No.

Beras, Gula, Minyak


Goreng, Terigu, Telur

Produk yang Dibeli (%)

Sumber: Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Sumber : Penelitian Pasar Arjasari, 2016

Gambar 13. Diagram Hubungan Moda Transportasi dengan


Produk yang Dibeli

4.4. Hubungan Variabel-variabel


Pergerakan Konsumen dan Aktivitas
Berbelanja
Berdasarkan hasil rekapitulasi maka
hubungan antara variabel-variabel pola
pergerakan dengan karakteristik aktivitas
berbelanja konsumen adalah sebagai beriku :
1) Variabel yang memiliki hubungan:
Asal pergerakan dengan moda
transportasi yang digunakan
Frekuensi berbelanja dengan waktu
berbelanja
Frekuensi berbelanja dengan produk
yang dibeli
2) Variabel yang tidak memiliki hubungan :
Asal pergerakan dengan frekuensi
berbelanja
Asal pergerakan dengan waktu
berbelanja
Asal pergerakan dengan produk yang
dibeli
Moda transportasi dengan frekuensi
berbelanja
Moda transportasi dengan waktu
berbelanja

Moda transportasi dengan produk yang


dibeli
Waktu berbelanja dengan produk yang
dibeli
5. KESIMPULAN
Pola pergerakan konsumen pasar
tersebar ke seluruh desa di Kecamatan Arjasari
dan juga sampai ke Desa Jelekong Kecamatan
Baleendah dan Desa Mekarlaksana Kecamatan
Ciparay. Konsumen yang berasal dari
Kecamatan Arjasari total sebanyak 96%
sisanya 4% merupakan konsumen yang berasal
dari luar Kecamatan Arjasari. Konsumen
memilih moda transportasi 41% diantaranya
memilih memakai sepeda motor pribadi, serta
27% di antarannya memilih menggunakan ojek
dan 18% pengunjung menggunakan kendaraan
umum untuk mencapai lokasi pasar.
Hubungan pola pergerakan dan aktivitas
berbelanja konsumen adalah sebagai berikut :
1) Adanya hubungan antara asal pergerakan
konsumen dengan moda transportasi yang
digunakan untuk berbelanja ke pasar.
Kebanyakan konsumen asal Desa
Pinggirsari
dan
Desa
Patrolsari
menggunakan sepeda motor pribadi,
sedangkan
Desa
Arjasari
tidak
menggunakan sepeda motor pribadi,
namun yang dipakai adalah angkutan
umum, ojek.
2) Adanya hubungan antara frekuensi
berbelanja konsumen dengan waktu
berbelanja ke pasar. Kebanyakan
konsumen selalu (setiap hari) berbelanja
pada jam 05.00-07.00, sedangkan
konsumen yang sering (3 kali seminggu)
tidak berbelanja berbelanja pada waktu
sebelum jam 05.00, namun berbelanja jam
07.00-09.00, jam 15.00-18.00.
3) Adanya hubungan antara frekuensi
berbelanja konsumen dengan produk yang
dibeli. Kebanyakan konsumen selalu
(setiap hari) berbelanja produk beras, gula,
minyak goreng, terigu dan telur,
sedangkan sering (3 kali seminggu) tidak
berbelanja beras, gula, minyak goreng,
terigu dan telur, namun berbelanja
sayuran, pakaian.
4) Konsumen yang berbelanja pada jam
05.00-07.00 berbelanja sayuran/ buah-

5)

6)

7)

8)

9)

buahan, juga berbelanja beras, gula,


minyak goreng, terigu dan telur.
Sedangkan berbelanja pada waktu
sebelum jam 05.00, maka tidak adanya
hubungan antara waktu berbelanja
konsumen dengan produk yang dibeli di
pasar.
Konsumen yang berasal dari Desa Arjasari
ternyata tidak ditentukan oleh frekuensi
selalu berbelanja (setiap hari) berbelanja.
Konsumen yang sering (3-4 kali
seminggu) berasal dari Desa Pinggirsari
dan Desa Patrolsari, Desa Pinggirsari dan
Desa Patrolsari ataupun desa dalam satu
kecamatan. Hal tersebut menunjukkan
tidak adanya hubungan antara asal
pergerakan konsumen dengan frekuensi
berbelanja
Konsumen yang berasal Desa Arjasari
ternyata tidak ditentukan oleh waktu
berbelanja sebelum jam 05.00 pagi. Pada
jam 07.00-09.00 berasal dari Desa
Pinggirsari dan Desa Patrolsari, Desa
Pinggirsari dan Desa Patrolsari ataupun
desa dalam satu kecamatan. Hal tersebut
menunjukkan tidak adanya hubungan
antara asal pergerakan konsumen dengan
waktu berbelanja.
Konsumen yang berasal Desa Arjasari
ternyata tidak ditentukan oleh produk
yang dibeli seperti beras, gula, minyak
goreng, terigu dan telur. Produk yang
dibeli yaitu beras, gula, minyak goreng,
terigu dan telur, konsumennya berasal dari
Desa Pinggirsari dan Desa Patrolsari,
Desa Pinggirsari dan Desa Patrolsari
ataupun desa dalam satu kecamatan. Hal
tersebut menunjukkan tidak adanya
hubungan antara asal pergerakan
konsumen dengan produk yang dibeli.
Konsumen yang selalu berbelanja (setiap
hari) ternyata tidak ditentukan oleh moda
transportasi angkutan umum. Konsumen
jarang berbelanja (2 setiap seminggu
sekali) menggunakan angkutan umum,
ojek, ataupun sepeda motor pribadi. Hal
tersebut menunjukkan tidak adanya
hubungan antara moda transportasi yang
digunakan konsumen dengan frekuensi
berbelanja.
Konsumen yang selalu berbelanja pada
jam 05.00-07.00 ternyata tidak ditentukan

oleh moda transportasi angkutan umum.


Pada waktu sebelum jam 05.00 berbelanja
menggunakan angkutan umum, ojek,
ataupun Sepeda motor pribadi. Hal
tersebut menunjukkan tidak adanya
hubungan antara moda transportasi yang
digunakan konsumen dengan waktu
berbelanja.
10) Konsumen yang menggunakan angkutan
umum ternyata tidak ditentukan oleh
produk yang dibeli seperti beras, gula,
minyak goreng, terigu dan telur.
Konsumen yang menggunakan sepeda
motor pribadi atau ojek juga membeli
beras, gula, minyak goreng, terigu dan
telur. Hal tersebut menunjukkan tidak
adanya
hubungan
antara
moda
transportasi yang digunakan konsumen
dengan produk yang dibeli.
PUSTAKA
Buku Teks
Afifuddin, H. 2009. Metodologi Penelitian
Kuantitatif. Bogor : Gahlia Indonesia
Miro F. 2012. Pengantar Sistem Transportasi.
Jakarta Timur : Erlangga
Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Bogor :
Gahlia Indonesia.
Sumarno. 2002. Memadu Metode Penelitian
(Kualitatif dan Kuantitatif). Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Tamin, Ofyar.Z. 1997. Perencanaan dan
Permodelan Transportasi. Edisi Pertama.
Bandung: Penerbit ITB.
Tamin, Ofyar.Z. 2000. Perencanaan dan
Permodelan Transportasi. Edisi Kedua.
Bandung: Penerbit ITB.
Trihendradi, Cornelius. 2010. Step by Step
SPSS 18 Analisis Data Statistik.
Yogyakarta : Andi Yogyakarta.
Warpani, Suwardjoko. 1990. Merencanakan
Sistem Perangkutan. Bandung : Penerbit
ITB
Peraturan Daerah :
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor
112 Tahun 2007. Tentang Penataan dan
Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat
Perbelanjaan dan Toko Modern.
Peraturan Menteri Perdagangan Dalam Negeri.
Nomor 20 Tahun 2012. Tentang Kajian

10

Pengelolaan Pasar Tradisional Peraturan


Menteri.
Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor
8 Tahun 2012. Tentang Perizinan
Perdagangan di Kabupaten Bandung
Peraturan Bupati Nomor 3 Tahun 2009.
Tentang Petunjuk Operasional Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung
Tahun 2007-2027.
Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor
20 Tahun 2009. Tentang Pembangunan,
Penataan dan Pengendalian Pasar.
Tugas Akhir/Tesis/Disertasi
Lazuardy, I. Ramdhani. 2009. Analisa
Probabilitas
Pemilihan
Moda
Transportasi Antara Sepeda Motor
Dengan
Angkutan
Umum
Pada
Kecamatan Pacoran Mas Kota Depok.
Tugas Akhir Teknik Sipil dan
Perencanaan ITS.
Rahmansyah, A. Fauzi. 2016. Identifikasi
Penggunaan Moda Transportasi Maksud
Bekerja di Kota Tasikmalaya (Studi
Kasus: Kecamatan Chideung dan
Kecamatan Tamansyari). Tugas Akhir
Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota
Universitas Komputer Indonesia.
Rusdaya, Cecep. 2009. Identifikasi Faktor
Berdasarkan Bauran Pemasaran Yang
Paling Dominan Sebagai Daya Saing
Pasar Tradisional (Studi Kasus Di Pd.
Pasar Simpang Dago). Tugas Akhir
Teknik Sipil Universitas Komputer
Indonesia.
Jurnal
Juahari, A. Kusdiman. 2013. Analisis Sosial
Ekonomi
Pembangunan
Pasar
Cicalengka. Jurnal Jurusan Administrasi
Negara. (4) : 128-167, 188-193
Hardiono. 2013. Analisis Karakteristik
Tarikan Pergerakan Pengunjung Wanita
Yang Memiliki Sepeda Motor Dengan
Pola Pergerakan Rumah Pasar Rumah
di Kota Makassar. Jurnal Sipil.
Jamaludin. 2015. Pasar Desa, Peran
Pemerintah dan Potensi Pendapatan
Daerah. Jurnal Kabar Tangerang.
Purwanti, N. Indah dkk. 2013. Mengkaji
Perbandingan Pola Perilaku Konsumen di

Pasar Modern (Retail) dan di Pasar


Tradisional. Jurnal Ekonomi
Sari, Saranita Kencana. 2010. Analisis
Perilaku Konsumen yang Berbelanja pada
Pasar Tradisional, Studi Kasus Pada
Konsumen Pasar Soponyono Rungkut.
Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis.
UCEO, Ciputra. 2015. Perilaku Konsumen:
Definisi dan Proses Mengenali Perilaku
Konsumen. Jurnal Enterplenership.
Widiarta, I. Bagus. Putu. 2010. Analisis
Pemilihan Moda Transportasi Untuk
Perjalanan Kerja. Jurnal Ilmiah Tektik
Sipil. Vol 14, No. 2, Juli 2010

Anda mungkin juga menyukai