Anda di halaman 1dari 12

Anestesi pada Kateterisasi Jantung Anak

PENDAHULUAN
Peningkatan jumlah tindakan anestesi di luar kamar operasi terutama tindakan anestesi
di laboratorium kateterisasi jantung. Tindakan kateterisasi jantung pada awalnya murni
untuk diagnostik namun sejak awal tahun 2000 perkembangan kateterisasi telah
mengarah ke terapi terutama kateterisasi intervensi. Pada rumah sakit anak Boston
kateterisasi intervensi tahun 2000 telah mencapai 60% dari semua prosedur
kateterisasi jantung1. Kebanyakan dari prosedur kateterisasi diagnostik dapat dilakukan
dengan sedasi pada hampir semua umur. Kateterisasi intervensi biasanya butuh waktu
yang lebih lama dan berpotensi mengganggu hemodinamik sehingga anestesi umum
lebih diutamakan. Laboratorium kateterisasi merupakan lingkungan yang cukup
menyulitkan bagi anestesiologis melakukan anestesi. Harus ada kerjasama yang
optimal antara pediatrik kardiologis dengan anestesiologis untuk memfasilitasi dan
memberikan
pelayanan
yang
optimal.
Manajemen anestesi pada laboratorium kateterisasi tergantung pada evaluasi pasien
praprosedural.
Memhami status kardiovaskuler pasien serta memahami tinndakan intervensi dan hasil
akhir
yang
diharapakan.
Data hemodinamik pasien sangat dibutuhkan sebelum intervensi dan pen! ng karena
bila hasil diagnostik yang diharapkan maka kondisi yang diharapkan harus senormal
mungkin (contoh nafas spontan dengan udara kamar, telentang). Selama anestesi efek
konsentrasi oksigen,ventilasi mekanik dan efek hemodinamik dari obat-obat anestesi
dapat mengubah data hemodinamik dan mempengaruhi interpretasi. Namun asidosis
respiratorik karena nafas spontan juga dapat mengganggu hasil data yang didapat,
sebaiknya kalau pasien dengan ventilasi mekanik harus dibuat dengan normoventilasi.
Posprosedural harus dilakukan di ruang pemulihan atau rawat intensif.
Sejarah
kateterisasi
jantung
Pada tahun 1929 dokter Werner Forssmann melakukan pemasangan kateter ke axilla
sendiri denganpanduan radiologi dan cermin ke jantung kanannya sendiri, ini
dilakukannya dengan tujuan memberikan adrenalin langsung ke jantung pasien melalui
kateter karena sebelumnya pemberian adrenalin pada pasien henti jantung dengan
menyuntikkan langsung keotot jantung lewat dinding dada. Dokter warner mendapat
hadiah nobel pada tahun 1956 atas prosedur yang dilakukannya. Tahun 1930 Dewey
melakukan pengukuran curah jantung dengan metode Ficks, Andrecournad
mempublikasikannnya pertama kali tahun 1941. Tahun 1950 Zimmerman danMason
melakukan kateterisasi secara retrograde. Tahun 1953 Zeldinger mengembangkan
pendekatan percutaneous. Tahun 1959 Ross dan Cope mengembangkan kateterisasi
transeptal. Tahun 1977 Andrew Gruentzig melakukan pertamakali PTCA. Tahun 19801990 terjadi pengembangan kateterisasi diagnostik. Tahun 2000 perkembangan
meningkat
dengan
kateterisasi
intervensi.
(2)
Defenisi
katerisasi
jantung
Kateterisasi jantung adalah prosedur diagnostik dan intervensi yang dilakukan untuk
menilai fungsi jantung dan pembuluh darah secara komprehensif dimana satu atau

lebih kateter dimasukkan melalui pembuluh darah perifer dilengan seperti vena dan
arteri antecubital atau dari tungkai vena dan arteri femoralis dengan panduan pesawat
fluoroskopi dan dapat melakukan terapi koreksi anatomi untuk memperbaiki fungsi
fisiologis
jantung.
(3)
Manajemen
kateterisasi
pada
kelainan
kongenital
Penyakit jantung kongenital saat ini mulai dapat di atasi dengan kateterisasi intervensi
pada laboratorium kateterisasi (4,5). Perubahan fisiologis bahkan komplikasi sering
terjadi. Anestesiologis seringkali diminta mendampingi untuk kenyamanan dan
keamanan sertamonitoring setiap perubahan fisiologis (6). Tabel memperlihatkan daftar
kelainan kongenital yang dapat diterapi dengan kateterisasi intervensi beserta efek
fisiologis
dan komplikasinya.
Perkembangan teknik dalam manajemen kelainan jantung kongenital telah mengubah
manajemen anestesi jantung anak. ASD, VSD, PDA dan koarktasio aorta saat ini dapat
diterapi dengan kateterisasi intervensi dan tidak harus dengan pembedahan., bahkan
dapat dilakukan dengan prosedur rawat sehari.(8-11)

Percutaneous stent sudah digunakan sebagaiteknik untuk menunda pembedahan.


Perkembangan lebih lanjut adalah penggantian katup pulmoner, katup ditanam melalui
vena jugularis. Teknik ini telah didemonstrasikan dengan morbiditas dan mortalitas yang
rendah.
Kateterisasi intervensi seperti tabel diatas dapat dilakukan untuk melengkapi
pembedahan dan memperluas terapi yang masa sebelumnya tidak dapat dilakukan(12).
Penatalaksanaan anestesi pada kateterisasi dengan penyakit jantung kongenital
Kateterisasi jantung anak sebagai alat diagnostik dilakukan pertama kali tahun
1947(13). Pada tahun 1958 Smith dkk melaporkan pengalaman anesteikk dengan
sedasi yang disebut lytic cocktail yang luas digunakan dan disebut DPT mixture yaitu
Demerol (meperidine), Phenargan (prometazine) dan Thorazine (chlorpromazine)(14).
Tujuan sedasi pada kateterisasi jantung adalah untuk mencapai keadaan pasien yang
kooperatif dan meminimalisasi interferensi dengan parameter hemodinamik, dimana
data
yang
ditemukan
harus
senormal
mungkin.
Perkembangan diagnostik noninvasif pada kardiologi anak terutama echocardiografi
meningkat sehingga pengambilan data anatomi dan fisiologi melalui kateterisasi jantung
berkurang. Saat ini perkembangan lebih mengarah pada kateterisasi intervensi.
Kateterisasi biasanya jarang bisa ditoleransi oleh anak yang sadar. Anak sering
membutuhkan anestesi umum untuk mencegah kecelakaan karena gerakan anak.
Respirasi, miokard dan metabolik harus dinilai selama kateterisasi pada pasien dengan
penyakit jantung kongenital. Neonatus mempunyai cadangan respirasi yang terbatas
dan mudah terjadi gagal nafas. Peningkatan komplians dinding dada penurunkan
kapasitas
fungsional
residual
dan
meningkatnya
closing
capacity.
Diafragma adalah organ utama respirasi dan setiap abdomen distended akan
mempengaruhi kapasitas residual fungsional dan mempercepat desaturasi jika
hipoventilasi
atau
sumbatan
jalan
nafas.

Miokard bayi baru lahir mempunyai keterbatasan kontraktilitas karena masa otot yang
rendah dan adanya gangguan diastolik karena berkurangnya pemendekan otot.
Peningkatan afterload sangat sedikit bisa ditoleransi. Curah jantung tidak dapat di!
ngkatkan dengan meningkatkan volume sekuncup. Curah jantung sangat tergantung
pada laju jantung. Neonatus juga sangat tergantung pada kalsium ekstraseluler dalam
menjaga
kontraktilitas.
Neonatus dan infant mempunyai rasio luas permukaan tubuh yang lebih besar
dibandingkan berat badan, laju metabolik juga lebih besar dan risiko besar hipotermia.
Radiasi dan konveksi dari cairan dingin dan duk operasi yang basah dapat
menyebabkan pasien kehilangan panas. Harus ada strategi pemanasan untuk
mencegah kejadian hipotermia yang dapat mengakibatkan lambatnya waktu pulih sadar
dari
sedasi
dan
anestesi.
Rencana sedasi dan atau anesthesia umum pada pasien kateterisasi jantung dimana
anestesiologis harus mengerti penyakit yang mendasarinya, manfaat kateterisasi, dan
perubahan hemodinamik yang disebabkan oleh anestesi Efek samping kardiovaskuler
dan respirasi karena obat-obat dan teknik anestesi harus dipertimbangkan dengan halhal untuk mencegah distorsi dalam pengukuran hemodinamik, ventilasi sebaiknya
dengan room air disaat pengambilan data. Obat sedasi dan anestesi harus seminimal
mungkin
mempengaruhi
kardiovaskuler.
Pada ins! tusi tertentu kardiologis melakukan sedasi untuk diagnostik sederhana.
Protokol berdasarkan guidelines of American Academy of Pediatricks (15), dan
American Society of Anesthesiologist(16). Untuk prosedur yang lama, intervensi yang
komplek atau pasien kritis, anestesiologis biasanya diminta untuk melakukan sedasi
atau anestesi umum. Penutupan ASD dan VSD yang membutuhkan transesofageal
echocardiografi untuk mengontrol penempatan alat membutuhkan anestesi umum
dengan
intubasi
endotrakea.
Sebelum memulai prosedur, fasilitas harus disiapkan untuk penatalaksanaan anestesi
yang aman. Lokasi laboratorium dekat dengan kamar operasi. Semua peralatan dan
monitor yang diperlukan harus ditempatkan ditempat yang mudah di akses,
diantaranyasumber oksigen, suksion, sumber listrik, pembuangan dan semua monitor
untuk monitor intraoperatif sesuai American Society of Anestesiologist (17). Monitoring
rutin diantaranya elektrokardiografi , tekanan darah non invasif, pulse oksimetri, suhu,
end tidal CO2 baik melalui nasal untuk nafas spontan maupun sirkuit nafas pada
anesthesia umum, alat pencegah hipotermia Tabel 2. Akses intravena harus diamankan
sebelum sedasi dan selama prosedur. Petunjuk puasa menurut American Society of
Anesthesiogist harus diikuti (18). Tabel 3. Karena status kardiovaskuler dapat
mengalami perburukan selama prosedur obat-obat resusitasi harus tersedia dalam
dosis yang tepat sebelum memulai tindakan. Antibiotik profilaksis harus tersedia bila
dibutuhkan.

Sumber
Teknik

American

Academy

of

pediatric(15)
sedasi

Obat-obatan dan dosis sedasi biasanya mempunyai efek minimal terhadap


hemodinamik pada pasien dengan kompensasi yang baik. Per! mbangan yang lain
adalah menjaga jalan nafas dan mencegah depresi nafas. Personil yang terlibat harus
terla! h bantuan hidup dasar pediatrik dan sangat dianjurkan menguasai bantuan hidup
lanjut, mempunyai tanggung jawab untuk terus menerus memantau dan mencatat tanda
vital, jalan nafas, ven! lasi yang cukup dan medikasi sesuai protokol yang dianut (15).
Sedasi dengan infus continue harus dilakukan oleh personil yang menguasai
manajemen jalan nafas. Pilihan sedasi disertai analgesia merupakan cara yang efektif
(19).
Teknik sedasi banyak cara yang dilakukan, bayi dapat diberikan 50-100mg/kg peroral
chloralhidrat sebelum ditransfer ke ruangan laboratorium, namun cara ini sering gagal
(20). Sedasi klasik dengan campuran DPT pertama digunakan 195814 efek sedasinya
sangat lambat hilangnya karena masa kerjanya yang panjang dan berhubungan dengan
sedasi yang berlebihan dengan akibat depresi nafas atau sedasi yang dangkal yang
berakibat prosedur tidak dapat dilakukan. Dosis DPT yang umum digunakan 2mg/kg
meperidin, 1mg/kg promethazine dan 1mg/kg chlorpromazine. Komposisi klasik adalah
25mg meperidin, 6,25 mg promethazine dan 6,25 mg chlorpromazine dan diberikan
0,11ml/kg sampai 2ml. Saat ini protokol sedasi yang popular adalah midazolam 0,71mg/kg peroral atau 0,1-0,2mg/kg intravena ditambahkan 0.1-0,2 mg/kg morfin
intramuskular atau intravena untuk mendapatkan sedasi dan analgesia yang cukup
(20). Sejak tahun 1969 ketamin menjadi pilihan utama sedasi kateterisasi, dapat
digunakan intramuscular 3-8mg/kg, 1mg/kg intravena dilanjutkan 50-70ug/kg/min untuk
pemeliharaan atau midazolam oral dengan dosis 10mg/kg10. Ketamin sebaiknya
diberikan dengan an! sialogoge seper! glikopirolat 0,005mg/kg untuk mencegah
hipersalivasi. Ketamin dapat menjaga stabilitas kardiovaskuler kecuali pada pasien
dengan fungsi ventrikel yang buruk yang dapat berakibat memburuknya fungsi
kardiovaskuler. Protokol yang lain yang aman adalah ketamin midazolam dengan dosis
ketamin 1-2mg/kg dan midazolam 0,1-0,2mg/kg (21). Alfentanil dan fentanil juga telah
dipelajari untuk sedasi (22). Premedikasi flunitrazepam 0,1mg/kg po, fentanil dosis
inkrimental 0,5-1 ug/kg menghasilkan sedasi yang cukup dengan depresi nafas yang
minimal. Alfentanil 3-5 ug/kg dosis inkrimental juga menghasilkan sedasi yang cukup
kedua cara ini membutuhkan perha! an dari anestesiologis. Masa kerja sangat singkat
remifentanil juga dapat diberikan pada dosis 0,1mg/kg/min dengan bolus 0,02 mg/kg,
sering sedasi tidak cukup dan kadang ditambah dengan ketamin(23).
Anestesi
Umum
Persiapan
Faktor pasien dan prosedur menjadi pertimbangan ketika merencanankan anestesi
umum. Sedasi dapat digunakan untuk hampir semua diagnostik, namun pasien dengan
cadangan kardiorespirasi terbatas mungkin tidak dapat mentoleransi prosedur yang
lama dalam sedasi intravena, terutama bila terjadi depresi nafas atau obstruksi jalan
nafas. Kateterisasi intervensi berhubungan dengan komplikasi yang dapat mengancam
nyawa. Distress pernafasan dapat terjadi pada pasien jika mempunyai penyakit gagal
jantung kongestif, hipertensi pulmoner atau terbatasnya gerakan diafragma karena
pembesaran hati atau asites. Penilaian preanestesi sangat menentukan implikasi
fisiologis dan anatomis terhadap kelainan jantung, fungsi kardiorespirasi, efek anestesi

atau sedasi dan efek dari prosedur kateterisasi dan intervensinya. Penilaian utama
adalah jalan nafas, kardiovascular, sistim respirasi, tanda vital, saturasi, gejala klinis
yang berhubungan dengan kelainan jantung seperti sianotik, gagal tumbuh, ispa dll.
Laboratorium yang relevan seperti hemoglobin, fungsi koagulasi, ginjal,elektrolit dan
golongan
darah
serta
riwayat
kateterisasi
sebelumnya
bila
ada.
Premedikasi
Tindakan awal adalah pemberian premedikasi untuk memfasilitasi perpisahan dengan
orang-tua dan harus diberikan secara titrasi seseuai kondisi klinis pasien. Penting sekali
dari awal mencegah stress dan ansietas pada pasien terutama untuk pasien yang
kemungkinan
lebih
dari
satu
intervensi.
Induksi
Pasien stabil atau toleransi baik biasanya dapat menerima induksi intravena dengan
baik seperti thiopental maupun propofol. Untuk yang hemodinamik terbatas pilihannya
adalah ketamin, etomidate, opiod dan benzodiazepine kombnasi (24-25)
Midazolam intravena ditoleransi baik pada kebanyakan pasien namun hipotensi dapat
juga terjadi pada pasien gagal jantung yang sedikit terkompensasi yang tergantung
pada endogen katekolamin untuk menjaga tahanan perifer dan tekanan darah.
Opioid merupakan analgesia yang kuat namun tanpa sedasi sehingga perlu
dikombinasikan dengan sedatif seperti benzodiazepin. Opiod sintetik seperti fentanil.
Alfentanil dan sufentanil sangat sedikit melepaskan histamine dibandingkan morfi n
sehingga tidak punya efek vasodilatasi dan hipotensi, memblok stress respon sesuai
dosis sehingga dapat menjaga stabiltas sistemik maupun pulmoner(17). Sangat
berguna selama prosedur kateterisasi. Remifentanil merupakan opiod dengan masa
kerja sangat singkat karena segera dimetabolisme oleh nonspesifi k esterase. Masa
kerjanya hanya 3 sampai 5 menit sehingga harus diberikan secara continue.
Remifentanil mempunyai efek depresi nafas sangat kuat sehingga pasien harus di
intubasi dan diberikan ventilasi tekanan positif. Sangat berguna untuk pasien dengan
cadangan kardiorespirasi yang terbatas karena analgesia tanpa mempengaruhi
hemodinamik. Pasien biasanya langsung pulih bila dihen! kan dan efek samping
minimal
karena
masa
kerja
yang
singkat.
Ketamin adalah derivate phencyclidin sebagai anesthesia disosiatif. Yang bekerja di
sistim limbik menghasilkan analgesia yang kuat, onset cepat, durasi pendek 10-15
menit, efektif diberikan baik intramuscular maupun intravena. Dosis tinggi ketamin 75100 ug/kg/min sebagai infusan continue dapat menghasilkan anesthesia umum yang
cukup dengan efek minimal pada kardiovaskuler karena baik laju nadi maupun tekanan
darah meningkat karena pelepasan katekolamin dan penghambatan ambilan kembali
dari pasca ganglion. Namun obat ini merupakan depresan miokard sehingga harus hatihati pada pasien dengan fungsi miokard terbatas. Ventilasi terkontrol dibutuhkan untuk
menjaga kadar gas darah tetap normal, cara ini sangat berguna untuk pasien sakit.
Efek pada pulmonal biasanya terjadi sedikit peningkatan tekanan arteri pulmonal, untuk
menjaga agar tidak terlalu pertahankan normoventilasi. Sekresi jalan nafas meningkat
walaupun jalan nafas tetap terbuka namun aspirasi dapat terjadi. Penting sekali pasien
puasa sebelum pemberian ketamin dan harus tersedia peralatan jalan nafas.

Peningkatan sekresi jalan nafas dapat memicu laringospasme selama manipulasi jalan
nafas dan sebaiknya diberikan an! sialogoge seper! atropine dan glikopirolat bersamaan
dengan
pemberian
ketamin.
Efek
samping
terbesar adalah delirium, halusinasi dan mimpi buruk. Dapat dikurangi dengan
pemberian
benzodiazepine.
Tiopental dan methoheksital adalah barbiturat kerja singkat dan dapat digunakan pada
prosedur kateterisasi intervensi dan diberikan oleh orang yang terlatih dalam anestesi.
Efek samping yang siknifikan adalah depresi miokard dan hipotensi karena vasodilatasi.
Hipotensi dapat terjadi pada pasien dengan fungsi kardiovaskular yang terbatas
Propofol adalah derivate phenol yang terlarut dalam kacang soya dan phospolipid telur
membentuk emulsi yang dapat diberikan intravena. Kegunaannya terutama untuk
induksi dan telah ditambahkan sebagai salah satu obat yang dapat dipergunakan untuk
anestesi intravena total dengan atau tanpa sedasi midazolam oral, anesthesia di induksi
dengan propofol 1-2 mg/kg dilanjutkan dengan pemeliharaan 100-150ug/kg/min. Anakanak membutuhkan dosis propofol yang lebih besar dibandingkan dewasa(26).
Keuntungan popofol onset dan masa kerja singkat, waktu pulih sadar cepat, mudah
dititrasi
dan
punya
efek
anti
muntah
dan
euphoria,
namun propofol mempunyai insiden hipotensi dan desaturasi ringan yang lebih tinggi
dibandingkan ketamin (27). sehingga terbatas penggunaannya pada kateterisasi
jantung terutama dengan fungsi kardiovaskular terbatas. Propofol dapat dikombinasikan
dengan remifentanil yang dapat menghasilkan stabilitas kardiovaskuler yang lebih baik.
Etomidate adalah agen induksi dengan keuntungan depresi minimal pada
kardiovaskuler dan respirasi dan pemulihan yang cepat. Dosis induksi 0,3mg/kg cepat
menghilangkan kesadaran dengan durasi 3-5 menit, nyeri pada tempat suntikan,
gerakan spontan, cegukan dan mioklonus. Reflek jalan nafas meningkat dengan risiko
laringospasme terbatas hanya sebagai obat induksi pada pasien dengan cadangan
kardiovaskular
terbatas.
Induksi dengan inhalasi yang kuat seperti sevofluran dan halothan dilakukan pada
pasien dengan fungsi kardiovaskular stabil dan terkompensasi dengan baik. Perhatian
lebih pada teknik ini adalah pasien dengan gagal jantung atau pasien dengan
dekompensasi dengan volume cairan yang berlebih, hipertensi pulmoner, tekanan
afterload yang besar. Induksi dilakukan bila sulit mendapat akses intravena karena
pasien tidak kooperatif. Sekali pasien terinduksi segera dilakukan pencarian jalur
intravena dan segera berikan analgesia opiod dan pelumpuh otot untuk memfasilitasi
intubasi kemudian gas inhalasi di! trasi disesuaikan dengan hemodinamik pasien. Efek
sampingnya adalah inotropik negatif dan vasodilatasi, obtruksi jalan nafas dapat terjadi
saat induksiyang dapat berakibat desaturasi dan hipoksia serta kehilangan curah
jantung pada pasien dengan fungsi kardiovaskular terbatas. Depresi pada neonatus
lebih besar lagi karena otot jantung yang belum matang. Penggunaan gas inhalasi
sevoflurane telah terbuk! sebagai agen ideal dibandingkan gas inhalasi yang lain.(28)
Sevoflurane direkomendasikan untuk pasien yang membutuhkan anestesi umum
dengan intubasi endotrakea. Pelumpuh otot non depol dipilih yang masa kerjanya
pendek atau sedang untuk mencegah paralisis yang lama pasca prosedur. Sebaiknya
diberikan obat anesthesia lokal EMLA (eutectic mixture of lidocaine and prilocaine)
ditempat penusukan kateter akan sangat mengurangi dosis sedasi dan opioid yang
dibutuhkan
.

Pemeliharaan anestesi dapat dengan anestesi intravena total (fentanil,


ketamin/midazolam, opioid dan pelumpuh otot), inhalasi (nitrous oksida dengan
isofluran atau sevofluran) atau kombinasi dengan teknik. Status klinis pasien, lama
prosedur, manajemen pasca prosedur dan biaya, isofluran adalah agen yang paling
sering digunakan untuk pemeliharaan dapat menyebabkan vasodilatasi dan depresi
miokard pada dosis tinggi. Halothan sudah jarang digunakan karena efek depresi
miokard yang besar, masa pulih sadar yang besar dan efek hepatotoksik. Selain itu
halothan juga memicu aritmia pada kondisi hiperkarbia dan peningkatan kadar
katekolamin
endogen.
Terbatasnya jalan nafas, prosedur yang lama, perubahan hemodiamik karena fungsi
kardiovaskular terbatas dan perubahan pada tahanan paru karena perubahan PaCO2,
PaO2, atau ven! lasi spontan selama anestesi umum. Intubasi dengan pelumpuh otot
disertai ventilasi tekanan positif dapat mengontrol PaCO2 danPaO2. Namun ven! lasi
tekanan positif dapat mengurangi preload pada pulmonal maupun sistemik dan
meningkatkan afterload pada pulmonal dan menurunkan afterload sistemik sehingga
dapat
mempengaruhi
interpretasi
data
yang
didapat.
Penggunaan LMA direkomendasikan untuk untuk mengontrol ven! lasi tanpa perlu
penambahan pelumpuh otot pada pasien dengan tanpa risiko aspirasi.LMA sangat baik
digunakan pada anak ukuran kecil yang sangat mudah hipoventilasi dengan hanya
sedasi
(29).
Prosedur kateterisasi telah lebih invasif, menggunakan kateter ukuran besar dan
multipel, perdarahan yang lebih banyak dan lebih nyeri pada pasien yang lebih kecil.
Ruang kateterisasi jantung harus bersebelahan dengan kamar operasi bedah jantung
dengan kondisi, dokter bedah dan dokter anestesi siap untuk melakukan pembedahan
dan anestesi bila terjadi komplikasi mayor akibat peningkatan prosedur invasif (30).
Walaupun banyak pasien pediatrik dapat disedasi oleh kardiologis, prosedur yang
komplek pada anak sakit membutuhkan perawatan anestesi. Monitoring dan
manajemen hemodinamik dibutuhkan pada banyak prosedur invasif pada anak dan
berkontribusi
pada
kesuksesan
prosedur
(31).
Banyak pasien dapat dilakukan dengan sedasi intravena namun banyak juga yang
membutuhkan anestesi umum. Pemilihan teknik anestesi sangat tergantung pada
kondisi
pasien,
prosedur
dan
an!
sipasi
komplikasi.
Manajemen anestesi kadang dipengaruhi oleh lingkungan laboratorium. Masalah
termasuk
sulitnya
akses kepasien, cahaya yang kurang, radiasi dan kurangnya komunikasi dengan
kardiologis. Anestesiologis harus mengupayakan monitor sendiri yang tidak terkait
dengan monitor dari operator, selain itu akses jalan nafas dan jalur intravena yang
mudah dicapai sehingga pencegahan dan pertolongan segera dari komplikasi dapat
segera dilakukan. Anestesiologis juga harus memiliki pengetahuan tentang prosedur
kateterisasi
dan
kemungkinan
komplikasi
yang
timbul.
Masalah
dan
komplikasi
hemodinamik
Komplikasi yang timbul tergantung dari jenis prosedur intervensi, dan biasanya
berhubungan
dengan akses perkutaneous pembuluh darah besar baik arteri maupun vena. Setiap
masalah yang timbul biasanya segera tanpa ada peringatan. Seperti di dalam kamar

operasi kesukesesan manajemen komplikasi tergantung pada kesigapan dan aksi dari
anestesiologis
bekerjasama
dengan
radiologis
dan
kardiologis.
Kehilangan kontrol terhadap emboli dan alat penutup, sten dan coil dapat menyebabkan
emboli paru dan sistemik. Alat emboli harus bisa diambil kembali dengan menggunakan
kateter, namun kadang diperlukan tindakan pembedahan untuk mengambil alat ini. Jika
alat ini tersangkut pada jantung dan pembuluh darah besar, mesin CPB kadang
dibutuhkan.
Komplikasi lain yang mungkin timbul adalah kerusakan pada pembuluh darah besar
terutama arteri pulmoner pada tindakan dilatasi katup pulmoner dan areri pulmoner
yang di tandai dengan aneurisma, diseksi dan rupture yang ditandai hemoptisis, atau
masuknya kontras kepleura, atau timbulnya robekan paru yang sangat mengancam
nyawa. Bila timbul harus dilakukan intubasi endotrakea untuk mengontrol jalan nafas
dan berikan ventilasi tekanan positif, berikan resusitasi cairan dan darah untuk menjaga
tekanan perfusi, heparin harus diberikan anti dotnya yaitu protamin. Perdarahan dapat
berhenti namun ada yang tidak terkendali yang dapat berakibat kematian dan
memerlukan
tindakan
operasi
segera.
(32)
Edem paru juga dapat timbul karena peningkatan aliran darah paru yang besar secara
tiba-tiba dan memberikan tekanan pada paru yang tidak terperfusi selama ini dengan
gejala batuk, hipoksemia, distress pernafasan, hemoptisis. Penatalaksanaan dengan
melakukan intubasi endotrakea segera kalau perlu sebelum tindakan pasien sudah
terintubasi
(33).
Emboli udara dapat terjadi pada pemasangan alat penutup shunting ASD, VSD dan
PDA, alat cukup besar adalah rongga potensial untuk masuknya udara kepembuluh
darah, penggantian kateter yang berulang yang dapat timbul iskemia mioard dengan
gejala berupa perubahan segmen ST, hipotensi, desaturasi, bradikardia yang
kebanyakan respon dengan aspirasi udara diikuti dengan penutupan tempat masuk dan
pemberian vasoaktif untuk menjaga tekanan perfusi koroner . Bila emboli kesistemik
dapat
menyebabkan
stroke
dengan
defisit
neurologis
Regurgitasi mitral dan trikuspid kadang dapat mengganggu hemodinamik ketika kateter
besar melewati bagian ini. Kateter besar dapat mengakibatkan stenosis, masalah ini
dapat diatasi dengan reposisi kateter dan kadang dibutuhkan inotropik dan monitoring
ketat. Curah jantung dapat turun tiba-tiba kekeka terjadi regurgitasi akut yang dapat
menyebabkan dekompensasi sirkulasi yang bisa berakibat kardiak arrest. Harus segera
dilakukan resusitasi dengan obat vasoaktif dan cairan. Jika terjadi kerusakan katup
harus
segera
dilakukan
operasi.
Bahaya lain adalah perforasi miokard karena wire atau kateter atau karena prosedur
septostomi yang dapat mengakibatkan kardiak tamponade. Harus segera dilakukan
volum dan presure suportif dan drainase dengan pericardiosintesis sesegara mungkin,
jaga nafas tetap spontan dan persiapan operasi jantung terbuka bila perlu.
Pengaruh
posisi
Terdapat risiko tekanan karena prosedur yang lama dan meja radiologis yang keras.
Harus dilakukan proteksi yang cukup terutama pada daerah yang rentan penekanan
seper!
pleksus
brakhialis
apabila
lengan
diabduksikan
terlalu
lebar.
Karena sulitnya jalan nafas dan akses intravena karena posisi pesawat fl uroskopi,
radiasi dan pemisahan dengan ruangan control yang biasanya anestesiologis

memonitoring.
.
Pelvis biasanya diangkat yang dapat mengakibatkan. Isi abdomen terdorong kesefalad
yang membuat risiko ke respirasi dan dapat memperburuk ven! lasi dan perfusi
terutama
neonatus
dan
infant.

Perawatan
pasca
kateterisasi
Pemulihan pasca tindakan harus dilakukan diruang pulih sadar yang disediakan dekat
dengan laboratorium. Monitoring dan perawatan yang memadai harus tersedia . Tanda
vital harus diukur se! ap 15 menit selama 1 jam dan lebih jarang sesudahnya jika pasien
stabil. Kalau pasien mengalami anesthesia umum perawatan harus sesuai dengan
standar
American
Society
of
Anestesi
(26).
Karena kebanyakan prosedur merupakan rawat sehari monitor komplikasi vaskular
dilakukan selama 4 jam sebelum pasien keluar dari fasilitas laboratorium. Pada saat itu
pasien sudah sadar penuh dan minum air putih secukupnya. Karena efek osmo! k dari
bahan kontras harus diberikan hidrasi yang cukup. Tempat pungsi arteri harus cukup
tertutup dan tidak ada rembesan darah. Perfusi dari distal pungsi harus dinilai dan
tanda vital pasien dalam batas normal. Berkurangnya pulsa nadi distal dari pungsi
kemungkinan terjadi spasme vaskular dan kalau berlangsung lebih dari 2 jam
kemungkinan terjadi thrombosis. Bila komplikasi ini timbul harus dirawat di rumah sakit
dan diberikan terapi anti koagulan selama 24-48 jam. Terapi ini cukup untuk
mengembalikan aliran darah dan nadi. Kadang-kadang dibutuhkan obat trombolisis
untuk
mengembalikan
perfusi.
Kateterisasi biasanya tidak terlalu nyeri sehingga analgesia dengan asetaminophen
sudah cukup menghilangkan nyeri. Pasien sakit kemungkinan butuh rawat intensif
samapai status kardivaskularnya stabil. Tindakan balon dilatasi atau sten dan
pemasangan
alat
penutup
septum
harus
dirawat
dirumah
sakit.
SIMPULAN
Prosedur kateterisasi telah berkembang dari awalnya untuk diagnos! k menjadi
terapai berupa kateterisasi intervensi.
2.
Penatalaksanaan anestesi harus mempertimbangkan,persiapan, kondisi pasien,
prosedur tindakan dan kemungkinan komplikasi yang timbul
3.
Anestesiologis harus siap memberikan penatalaksanaan bila terjadi keadaan
emerjensi
4.
Pasca anestesi pasien harus diper! mbangkan tempat perawatan tergantung
kondisi awal pasien, prosedur dan komplikasi yang timbul.
1.

DAFTAR

PUSTAKA

Verma R. Keane JF. Percutaneous therapy of structural heart disease. Pediatric


Disease. Prog Cardiovascular Disease 1997;40:37-54
1.

Kozak M. Robertson BJ. Chambers CE. Cardiac catheteiriza! on laboratory:


Diagnos! c and Therapeutic Procedures In the Adult Pa! ent. Kaplans Cardiac
Anesthesia. Saunders Elsevier. 5Ed. Philadelphia. 2006;12:299-354
3.
Http://medical dic! onary. thefreedic! onary.com/cardiac+catheterization
4.
Rashkind WJ Transcatheter treatment of congenital heart disease. Circulation
1983;67:771716.
5.
Perry SB, Keane JF, Lock JE. Interven! onal catheterization in pediatric
congenital and acquired heart disease. Am J Cardiol 1988;61:109G117G.
6.
Laussen PC, Hansen DD, Perry SB, et al. Transcatheter closure of ventricular
septal defects: hemodynamic instability and anesthe! c management. Anesth Analg
1995;80:10761082.
7.
Harrington JS. Shukla AC. Hickey PR. Anesthesia for Surgical Treatment of
Congenital Heart Disease: A Problem-Oriented Approach. Anesthesiology. Mc Graw Hill
Medical Companies. Inc. USA. 2008;52:1174-1212
8.
Preopera! ve transcatheter closure of congenital muscular ventricular septal
defects. N Engl J Med 1991;324:13121317.
9.
Lock JE, Rome JJ, Davis R, et al. Transcatheter closure of atrial septal defects.
Experimental studies. Circulation1989;79:10911099.
10.
Rome JJ, Keane JF, Perry SB, et al. Double-umbrella closure of atrial defects.
Ini! al clinical applications. Circula! on 1990;82:751758.
11.
Wessel DL, Keane JF, Parness I, et al. Outpatient closure of the patent ductus
arteriosus. Circulation 1988;77:10681071
12.
Bonhoeff er P, Boudjemline Y, Qureshi SA, et al. Percutaneous inser! on of
thepulmonary valve. J Am Coll Cardiol 2002; 39:16641669.
13.
Hollinger I. Mi' nach A. Cardiac Catheterization and Other Radiographic
Examination. Pediatric Cardiac Anesthesia.4 ed.Lippincot Willian and Wilkins
2005;7:112-135
14.
Smith C. Rowe RD. Vlad P. Seda! on of Children for Cardiac Catheteriza! on with
an atarac! c mixture. Canadian Anaesthesia Society Journal. 1958;5:35-40
15.
CharlessJT. Wilson S. Guidelines for Moni' oring and Management of Pediatric
Pa! ents During and After Sedation for Diagnostic and Therapeutic Procedure:An
Update American Academy of Pediatric. Pediatrics 2006;118:6:2587-2602
16.
Practiced Guidelines for Seda! on and Analgesia by Non-Anesthesiologist. An
Updated Report By The American Society of Anesthesiologist Task Force on Sedation
and Analgesia by Non Anesthesiologist. Anesthesiologi 2002;96:1004-1017
17.
Standards for basic anesthe! c monitoring. American Society of Anesthesiologist.
Approved by the ASA house of Delegates on October 21, 1986 and Last Amended on
October 20, 2010 with an effective date of Juli 2011
18.
Practice Guidelines for preoperative fasting and the Use of Pharmacologic
Agents to Reduce the Risk of Pulmonary Aspira! on: Applica! on to Healthy Patients
Undergoing Elec! ve Procedures.: A Report by the American Society of Anesthesiologist
Task Force on Preopera! ve Fas! ng. Anesthesiology 1999;90:896-905
2.

Mace E. Cravero JV. Clinical Policy: Evidence Based Approach to Pharmacologic


Agents Used in Pediatric Sedation and Analgesia in the Emergency Department. Ann
Emerg Medicine 2004;44:342-377
20.
Use of Chloral Hydrate for Seda! on in Children. American Academy of Pediatric.
Pediatric 1993;92:471-473
21.
Anthony S. Frederick O. Seda! on for Pediatric procedures using ketamine and
midazolam in primarily adult Intensive Care Unit:A Retrospec! ve Evalua! on. Cri! cal
Care Medicine 1998;26:1900-1904
22.
Meretoja OA. Rai! anen P. Alfentanil and fentanil sedation in infants and small
children during cardiac catheteriza! on. Canadian Journal Anesthesia.1990;37:624-628
23.
Deonmez A. Kizilkan A. Breksum H, et al. One Centers Experience with
Remifentanil infusion for pediatric cardiac catheteriza! on. Journal Cardiothoracic and
Vascular Anesthesia2001;15-736-739
24.
Hickey PR. Hansen DD. Cramolini GM. Pulmonary and Systemic Hemodynamic
Responses to Ketamine in Infants with Normal and Elevated Pulmonary Vascular
Resistance. Anesthesiology 1985;62:287-293
25.
Hickey PR. Hansen DD. Wessel DL. Pulmonary and Systemic Hemodynamic
Responses to Fentanyl in Infants. Anesthesia Analgesia 1985;64:483-486
26.
Frankville DD. Spear RM. Dyck JB. The Dose of Propofol Required to Prevent
Children from Moving During Magne! c Resonance Imaging. Anesthesiology
1993;79:953-958
27.
Compara! on of Propofol vs Ketamine for Anesthesia in pediatric pa! ent cardiac
catheteriza! on. Anesthesia-Analgesia 1992;74:490-494
28.
Russel IA. Hance WCM. Gregory G. The Safety and Efficacy of Sevofl urane in
Infants and Children with Congenital Heart Disease. Anesthesia Analgesia
2001;92:1152-1158
29.
Chhibber AK. Fickling K. Kolano W, et al. Compara! on of End Tidal and Arterial
Carbon Dioxide in Infants Using Laringeal Mask and Endotracheal Tube. AnesthesiaAnalgesia 1997;84:51-53
30.
Hickey PR. Wessel DL. Streitz SL, et al. Transcatheter Closure of Atrial Septal
Defects Hemodynamic Complication and Anesthetic Management. AnesthesiaAnalgesia 1992;74:44-50
31.
Malviya S, Burrows FA, Johnston AE, et al. Anaesthetic experience with
paediatric interven! onal cardiology. Can J Anaesth 1989;36:320324.
32.
Rothman A, Perry SB, Keane JF, et al. Early results and follow-up of balloon
angioplasty for branch pulmonary artery stenoses. J Am Coll Cardiol 1990;15:1109
1117.
33.
Arnold LW, Keane JF, Kan JS, et al. Transient unilateral pulmonary edema after
successful balloon dila! on of peripheral pulmonary artery stenosis. Am J Cardiol
1988;62:327330.
34.
Practice Guidelines for Postanesthetic care. A Report by the American Society of
Anesthesiologist Task Force on Postanesthe! c Care. Anesthesiology 2002;96:742-752
19.