Anda di halaman 1dari 14

BAB 4

EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF :
TEMPAT DAN WAKTU
Pada pertimbangan ini menempatkan suatu ilmu pengetahuan, yang .....
akan memberikan pertama, gambaran kejadian, distribusi dan jenis penyakit, pada
waktu yang berbeda, dan poin yang bervariasi permukaan bumi Dan kedua, akan
memandang sejumlah hubungan penyakit ini dengan kondisi luar disekitar individu
dan menentukan cara hidupnya (Hirsh, 1883).
Pernyataan Hirsch, meskipun ditulis hampir satu abad yang lalu
mendefinisikan ilmu pengetahuan yang dia sebut patologi historis dan geografis,
mewujudkan pemikiran sekarang tentang pentingnya tempat dan waktu terhadap
penyakit.

Hal ini dengan tegas menyatakan bahwa frekuensi penyakit biasanya

beragam berdasarkan lokasi geografis dan periode waktu. Hal ini menyiratkan bahwa
variasi frekuensi ini memberikan petunjuk etiologi. Pada bab ini kita akan
menjelajahi beberapa sumber, manifestasi dan implikasi variasi frekuensi penyakit
berdasarkan tempat dan waktu.
TEMPAT
Frekuensi penyakit dapt berhubungan dengan tempat kejadian dalam
hubungannya dengan keadaan area baik karena batas-batas alami, seperti bentang
pegunungan, sungai atau padang pasir, maupun karena batas politis.
Batas alam
Batas alam kemungkinannya lebih berguna dibanding garis politis untuk
memahami etiologi suatu penyakit. Suatu area didefinisikan sebagai batas alam yang
memiliki frekuensi tinggi atau rendah suatu penyakit karena dikarakteristikkan oleh
sejumlah kondisi lingkungan dan iklim tertentu seperti temperatur, kelembaban, curah

hujan, ketinggian, kandungan mineral tanah, dan persediaan air. Lebih dari itu, batas
fisik memisahkan suatu wilayah dari area terdekat dapat menuju kepada isolasi suatu
kelompok populasi yang dibedakan berdasarkan keturunan genetik atau kebudayaan
sosial. Kontur alam juga mempengaruhi aktivitas ekonomi dan pola transportasi,
termasuk akses ke fasilitas pelayanan medis.
Karakteristik lingkungan fisik dan biologis dapat menyebabkan penaykit
tertentu menjadi prevalen secara khusus pada area tertentu. Penyakit yang berdasrkan
pada kondisi lingkungan

tertentu dapat dipertimbangkan sebagai penyakit tempat.

Penyakit parasitik dan menular lainnya, yang memberikan perbedaan yang tajam
pada kejadian di daerah tropis dengan daerah hangat, merupakan contoh penyakit
tempat seperti ini. Contoh lainnya adalah endemik gondok pada daerah yang kurang
iodium dan penyakit fungus tertentu, atau mikosis. Salah satu mikosis,
coccidiomicosis, yang juga dikenal sebagai demam lembah San Joaquin ditemukan
pada bagian barat daya Amerika Serikat yang panas dan kering. Yang lainnya,
histoplasmosis, ditemukan ditemukan pada daerah sepanjang lembah sungai yang
kelembabannya tinggi. Gambar 4-1 memperlihatkan variasi geografis nyata terhadap
sensitiitas histoplsma ( yaitu tes kulit positif

terhadap ekstraksi organisme

Histoplasma capsulatum) pada rekruitmen angkatan laut Amerika Serikat yang masa
hidupnya bertempat pada satu kota. Persentase reaktor bervariasi dari 5 persen pada
banyak area ke lebih dari 80 persen sepanjang lembah sungai pada bagian pusat
negara.
Contoh lain epidemiologi tempat adalah distribusi geografi yang tidak
teratur pada kasus email gigi berwarna, kondisi yang ditemukan berkaitan dengan
kandungan flouride air minum pengetahuan tentang hubungan ini mengarah pertama
pada indentifikasi peranan flouride dalam mencegah kerusakan gigi, dan selanjutnya
pada flouridisasi buatan persediaan air minum.
Dua kondisi lain dengan distribusi geografik yang berbeda adalah
limphoma Burkitt dan sklerosis
neoplasma

berganda. Limphoma Burkitt adalah endemik

malignan di Papua Nugini dan daerah ekuator Afrika. Lokalisasi

neoplasma ini pada area rendah dengan temperatur dan curah hujan tinggi,
sebagaimana kejadian puncaknya pada masa kanak-kanak, menjelaskan bahwa
organisme yang dibawa lahir dapat menjadi agen etiologik. Bukti selanjutnya etiologi
infeksi telah dicapai dengan pemulihan berulang virus yang dikenal sebagai virus
Epstein-Barr (EB) dari biakan sel tumor Burkitt dan hasil teratur titer yang tinggi
pada virus EB ini pada pasien Afrika dengan limphoma Burkitt.
Sclerosis berganda, suatu penyakit yang progresif dengan berkembang
umumnya pada orang dewasa muda, memperlihatkan pola tipe geografis yang
berbeda. Penyakit ini jarang pada ekuator antara lintang 30 0 sampai 350. Penyakit ini
meningkat seiring meningkatnya jarak dari ekuator pada kedua belahan bumi selatan
dan utara.
Berlawanan dengan diatas yaitu dua contoh fenomena lokasi goegrafis
yang sangat bergantung

pada pengaruh

sosial dan budaya. Pertama

berkaitan

dengan perkembangan intelektual anak-anak yang tinggal pada area terisolasi di


bagian tenggara Amerika Serikat. Dibandingkan dengan anak-anak dengan latar
belakang etnis sama yang tinggal pada daerah yang tidak terisolasi dengan sekolah
yang lebih baik, anak-anak pegunungan memperlihatkan nilai IQ yang rendah,
khususnya pada tes verbal. Secara nyata isolasi fisik mereka membatasi paparan
pendidikan dan budaya yang perlu untuk perkembangan normal.
Ilustrasi kedua berkaitan dengan kuru penyakit neurologik fatal yang
berlokasi di salah satu area Papua Nugini utamanya pada salah satu suku, penduduk
asli Fore. Kondisi ini kelihatannya disebabkan karena praktek kanibalisme yang
mengarah pada paparan agen menular dengan periode laten yang lama. Ketika area
tersebut telah dibawah kontrol pemerintah Australia, berbagai praktek suku, termasuk
kanibalisme, telah dihilangkan dan kuru telah lenyap. Secara insidental, tidak bentuk
batas geografi yang membatasi area kuru ; anggota suku muncul sebagai faktor kunci
dalam distribusinya.

Subdivisi Politis
Disamping hubungan antara batas alam dan

iklim terhadap kejadian

penyakit, adalah sering lebih tepat menghubungkan statistik penyakit berdasarkan


batas politis karena data untuk

ini telah tersedia. Unit politik ukurannya dapat

bervariasi dari keseluruhan negara sampai kota besar, kota kecil dan daerah sektor.
Tidak hanya kerja subdivisi politis yang memberikan pembilang bagi angka dari data
sensus tapi petugas lokal sering mengumpulkan informasi kasus karena kebutuhan
administratif mereka sendiri. Sebagai contoh, departemen kesehatan suatu kota
memerlukan informasi tentang jumlah orang yang baru terdiagnosa tuberkulosis aktif
pada yang tinggal pada wilayah hukumnya., jumlah bayi prematur yang
membutuhkan supervisi perawat kesehatan, atau jumlah anak terbelakang yang tidak
dapat masuk sekolah.
Batas negara dan politis dapat coterminous. Dengan demikian, Sungai
Mississippi menyatakan batas negara dan pegunungan Andes memisahkan Argentina
dan Chili. Masalah terakhir dicontohkan dengan variasi indikator kesehatan dan sosial
ekonomi pada sebagian besar kota-kota besar. Di Philadelfia, angka kematian bayi
23,0 per 1000 pada tahun 1971 menutupi lebih dua kali lipat variasi angka dari 13,6
sampai 31,5 untuk distrik kesehatan kota yang berbeda.
Ketika batas politis menggabungkan area yang heterogen, penting untuk
menguji data oleh subdivisi untuk mengapreasiasi distribusi penyakit dan untuk
merencanakan dengan tepat pelayanan kesehatan. Sebaliknya, ketika subdivisi politis
memisahkan unit yang seharusnya digabung, terdapat keuntungan besar untuk
regionalisasi. Konsep ini datang kedepan terus meningkat pada komunitas yang
bergulat dengan masalah seperti persediaan air, polusi udara, kontrol vektor, dan
ketetapan pelayanan medis gawat darurat. Sehubungan dengan konsep penyediaan
statistik berguna untuk perencanaan regional, sensus sekarang memberikan data yang
berhubungan dengan konglomerasi kota besar yang diketahui sebagai area statistik
metropolitan standar.(Bab 10).

Untuk semua kota besar, unit geografi yang disebut bidang sensus telah
dirancang. Pada awalnya, hal ini memiliki karakter yang homogen. Beberpa waktu
kemudian beberapa

bidang memiliki kecenderungan untuk berubah dalam

pendapatan, komposisi ras, dan seterusnya.


seperti ini tidak

Meskipun demikian, keheterogenan

menganggu secara signifikan kegunaan manfaat bidang sensus

sebagai unit ekologi. Karena data kesejahteraan sosial dan ekonomi tersedia dari
sensus Amerika Serikat, klasifikasi berdasarkan bidang sensus berlanjut untuk
menghasilkan informasi pada faktor sosial dan ekonomi sebagaimana halnya pada
distribusi geografi penyakit. Tentu saja, jumlah kasus penyakit untuk suatu bidang
sensus atau area yang dirancang lainnya harus dikonversi pada suatu angka sebelum
frekuensi penyakit dapat diintrepetasikan ; tanpa informasi ini perbedaan kerapatan
populasi dapat membuat suatu penyakit kelihatan sering atau jarang terjadi pada suatu
area tertentu.
Pemetaan Faktor Lingkungan
Untuk menguji distribusi penyakit meskipun secara khusus, merupakan
praktek yang umum dengan memplot individu berdasarkan bidang sensus atau blok
pada peta. Representasi atas faktor lingkungan semacam ini sebagai persediaan air,
rute susu, arah angin bertiup, bus sekolah dan seterusnya dapat memberikan sebuah
petunjuk tentang cara penyebaran.
Contoh berikut mengilustrasikan manfaat analisis lingkungan semacam ini.
Pada awal musim panas 1960, wabah hepatitis terjadi di dua komunitas kecil
Connecticut. Teradapat 23 kasus pada bulan Juli dan 9 kasus di bulan Agustus pada
tahun itu. Investigasi menyatakan bahwa semua dari 20 anak-anak pada gelombang
awal kasus berada pada sekolah gabungan. Sekolah itu terdiri dari taman kanak-kanak
sampai kelas enam sekolah dasar, tapi penyakit menimpa pada kelas tiga sampai
enam. Tidak ada kasus pada anak yang berada di sekolah yang bersebelahan.
Lokalisasi kasus pada kelas tiga sampai enam mengesampingkan
penyebaran orang ke orang pada bus sekolah sebagaimana

transmisi

melalui

makanan dan minuman di kafetaria, karena semua anak menerima paparan seperti itu.
Studi suplai air (gambar 4-2)memberikan suatu penjelasan. Meskipun sejak katup
telah ditutup beberapa bulan lebih awal, ada dua suplai air yang terpisah di sekolah.
Satu sumber air, sumber air timur, mensuplai tiga air mancur yang digunkan anak
pada taman kanak-kanak sampai kelas dua ; tidak ada dari anak ini yang mengalami
hepatitis. Air dari dua mata air lain, yang berhubungan, mensuplai kelas yang lebih
tinggi. Pada pengujian selama tahun sekolah berikutnya, mata air barat dengan cepat
memperlihatkan kontaminasi bakteri.
Perbedaan Kota-Desa
Dalam menggambarkan tren distribusi kota-desa populasi penduduk
Amerika Serikat, kemungkinan fakta utama adalah meluasnya migrasi dari daerah
pertanian ke kota selama 100 tahun. Faktor yang mendasarinya yaitu mekanisasi
pekerjaan pertanian dan menimbulkan konsekuensi pengurangan jumlah pekerjaan ,
yang disertai dengan kesempatan kerja dan hal yang menarik lainnya di kota.
Sedangkan 50 tahun lalu populasi penduduk masih seimbang antara kota dan desa,
sekarang populasi penduduk lebih banyak di kota (73,5 persen pada sensus tahun
1970). Proporsi signifikan yang masih tinggal di daerah pedesaan tidak
menguntungkan disebabkan karena buta huruf, kurangnya lapangan kerja, malnutrisi,
penyakit, dan rendahnya personil dan fasilitas kesehatan. Beberapa daerah pedesaan
khususnya Appalchia, kota kecil di Lousiana, reservasi India yang dikontrol,
mempertahankan isolasi yang tetap menjaga penduduknya jauh dari kemajuan abad
21.
Terdapat sejumlah masalah kesehatan yang ganjil yang menimpa pekerja
pertanian. Kecelakaan lahan pertanian menyisakan penyebab serius kecacatan dan
kematian; kecacatan dan kematian

merupakan hasil dari pemakaian

peralatan

mekanik tanpa pelatihan dan supervisi memadai yang standar pada operasi industri.
Bahaya potensial lainnya berhubungan dengan pekerjaan pertanian meliputi penyakit

silo, kanker kulit akibat paparan radiasi ultraviolet yang berulang, dan terpapar
pestisida dan berbagai mikroorganisme (yaitu; antraks, tetanus, dan aktimikes)
Salah satu kelompok ditemukan pada area perkotaan di banyak bagian
negara terdiri dari pekerja migran yang berpindah-pindah dari satu komunitas ke
komunitas lain mengikuti masa panen. Meskipun keadaan yang mengerikan dimana
mereka tinggal telah tersebar dengan luas, masalah kesehatan mereka masih
menyisakan hal yang serius. Pada tahun 1972 wabah masif demam tipoid (lebih dari
2000 kasus) terjadi pada kamp pekerja migran di Florida karena polusi persediaan air
kamp.
Pada bagian lain, kota juga memberikan beragam bahaya kesehatan. Salah
satu masalah utamanya adalah polusi udara. Konsentrasi pabrik industri dan jumlah
kendaraan bermotor yang banyak telah mengarah pada penurunan kritis kualitas
udara di area perkotaan. Badan Perlindungan Lingkungan dan rekan pendampingnya
pada pemerintah pusat dan lokal telah menguraikan garis besar perubahan ekstensif
yang diperlukan untuk mengembalikan penurunan kualitas lingkungan. Disamping
beberapa bagian yang sukses, penerjemahan proposal mereka ke dalam program yang
komprehensif menghadapi tantangan besar.
Sebagai tambahan masalah lingkungan, kota besar berlanjut dihadapkan
dengan konsekuensi kesalahan pengaturan anomi dan sosial, termasuk pembunuhan
dan aksi kekerasan lainnya, sebagaimana pola perilaku yang mudah menyebarkan
penyakit seksual dan penggunaan obat terlarang. Sebagai catatan insidental, masalah
ini tidak terbatas hanya pada kota besar. Komunitas lebih kecil mengalami
permasalahan yang sama. Dampak lain pada kesehatan perubahan keadaan dari desa
ke kota telah dijelaskan sebelumnya (hal. 31).
Pada awalnya pola hidup penduduk desa dan kota kemungkinan berbeda
lebih dari apa yang mereka lakukan sekarang. Isolasi penduduk desa telah menurun
karena peningkatan transportasi dan komunikasi. Hal yang sama, daerah pedesaan
lebih mudah dijangkau oleh penduduk kota. Lebih lanjut dengan perkembangan area
suburban yang luas disekitar kota besar, sejumlah besar pekerja terpapar bahaya

keadaan kondisi kota hari ini dan kemudian menetap pada lingkungan yang menahan
beberapa bahaya area kota tertentu, seperti paparan terhadap penyakit Inggris dari
gigitan kutu, ensepahalitis yang dibawa nyamuk, dan rabies dari binatang feral.
Faktor lain juga mengurangi perbedaan kota-desa dalam pola penyakit yang
berhubungan dengan pekerjaan. Program untuk memberantas tuberkulosis sapi dan
bruselosis pada ternak telah mengurangi resiko penyakit ini pada pekerja di bidang
pertanian.
Perbandingan Internasional
Salah satu batas politis yang paling penting bagi epidemiologi adalah antar
negara. Angka penyakit dan kematian untuk setiap negara memberikan informasi
yang diperlukan untuk memonitor status kesehatan negara. Perbandingan indeks
kesehatan ini digunakan secara meluas untuk menilai kemajuan relatif pengontrolan
penyakit. Perbandingan ini juga menarik karena dapat memberikan petunjuk terhadap
penyebab penyakit. Frekuensi yang kontras penyakit tertentu dapat digunakan untuk
studi hubungan yang mungkin iklim dan faktor ekologi sebagaimana dengan indeks
sosial ekonomi, kebudayaan dan genetik.
Dalam membuat perbandingan frekuensi penyakit antar negara, seseorang
harus waspada bahwa perbedaan yang muncul dapat diciptakan oleh faktor
pengacau., seperti variasi akurasi diagnostik, ketidaklengkapan pelaporan, dan
klasifikasi dan proses statistik data.
Salah satu contoh perbedaan pemberian diagnostik berasal dari penyakit
pernapasan. Untuk bertahun-tahun terdapat perdebatan terhadap perbedaan utama
yang muncul dalam perilaku penyakit pernapasan obstruktif, kronik yang terlihat di
Inggris dan Amerika Serikat, di Inggris memiliki angka bronkitis yang lebih tinggi,
dan Amerika Serikat memiliki empisema yang lebih tinggi. Setelah melakukan suatu
studi yang menggunakan pertanyaan standar dan protokol pengujian pada pasien
khusus di kedua negara, Fletcher dkk (1964) menyimpulkan bahwa perbedaan

antara bronkitis di Inggris dan emphisema di Amerika Serikat merupakan persoalan


semantik.
Hal yang sama, rangkaian luas studi lintas negara diagnosis psikiatrik
menunjukkan perbedaan pemberian label psikiatrik oleh psikiater di New York dan
London. Hal ini dapat dijelaskan pada bagian angka yang lebih tinggi schizoprenia di
Amerika Serikat dan psikosis depresif di Inggris. Psikiater New York

yang

ditemukan menggunakan diagnosis schizoprenia lebih luas dibanding rekan kerja


mereka di London.
Banyak perbedaan internasional secara subtansif besar dan sangat
bertentangan yang dapat dijelaskan secara artifak. Sebagai contoh, untuk kanker
payudara dan perut, berbeda enam kali lipat antara negara yang angka tertinggi dan
terendah. Perbedaan tajam seperti ini memberikan peluang untuk untuk merumuskan
dan menguji hipotesis etiologik.
Studi Migran
Salah satu tipe studi yang berusaha untuk memisahkan genetik dari faktor
lingkungan berfokus pada migran. Perbandingan angka penyakit dan kematian untuk
migran yang tinggal bersama keluarganya dapat dilakukan studi kelompok yang
memiliki genetik sama pada kondisi lingkungan yang berbeda. Perbandingan antara
migran dan penduduk asli negara atau area baru memberikan informasi kelompok
yang berbeda gen yang hidup pada lingkungan yang sama. Sementara itu studi
semacam ini membantu dalam memisahkan faktor tempat dari faktor manusia, faktor
yang diseleksi pada migrasi harus tetap diingat selama intrepetasi hasil.
Beberapa kelompok migran telah menjadi sumber informasi epidemilogi
yang berharga. Angka kematian migran Jepang di Amerika Serikat telah dipelajari
secara intensif karena pola kematian akibat kanker dan penyakit kardiovaskular
hampir sama pada kedua negara. Gambar 4-3 dan 4-4 mengilustrasikan perbedaan
observasi kanker payudara dan kanker perut.

Kedatangan besar kaum Yahudi dari semua penjuru dunia ke Israel berguna
untuk studi epidemiologi. Sebagai contoh, distribusi geografi yang ganjil sclerosis
berganda telah dijelaskan sebelumnya pada bab ini. Ketika angka penyakit ini
dipelajari pada imigrasi ke Israel, mereka ditemukan mencerminkan karakteristik
angka pada negara asal. Kelompok dengan angka yang tinggi tetap berada pada resiko
tinggi walaupun bertahun tahun setelah migrasi. Hal ini mungkin bahwa hal ini
mencerminkan paparan terhadap agen menular pada usia awal hidup.
Kanker usus memberikan hal yang kontras terhadap pola yang digambarkan
untuk sclerosis berganda. Untuk alasan yang tak jelas, angka kematian akibat kanker
usus lebih tinggi ada area perkotaan dibandingkan area pedesaan di Amerika Serikat
dan ditempat lainnya. Dalam mengevaluasi angka kematian berdasarkan tempat
tinggal sekarang dan sebelumnya, Haenzel dan Dawson (1965) menemukan bahwa
angka kematian akibat kanker usus cenderung mencerminkan jenis tempat tinggal
pada saat kematian dibandingkan tempat tinggal pada awal hidup.
WAKTU
Studi kejadian penyakit berdasarkan waktu merupakan aspek dasar analisis
epidemiologi. Kejadian biasanya dinyatakan dalam bulanan atau tahunan.
Sebagaimana telah disebutkan, tahun setiap sepuluh tahun sekali (1960, 1970) secara
khusus berguna karena memberikan perhitungan sensus dibandingkan populasi yang
diperkirakan untuk perhitungan angka. Jika tidak terdapat cukup kasus penyakit
tertentu secara tahunan untuk angka yang stabil, kasus beberapa tahun disekitar
sensus dapat digabungkan.
Tiga macam perubahan dengan waktu dapat diidentifikasikan. Pertama
terdiri atas variasi jangka panjang yang disebut tren sekular. Kedua fluktuasi berkala
tahunan atau dasar lain, perubahan siklik. Dan terakhir, yaitu fluktuasi jangka pendek,
sebagaimana yang ditemukan pada epidemi penyakit menular. Tren sekular dan
perubahan siklik akan dibahas disini. Fluktuasi jangka pendek akan dibahas pada Bab
12.

Tren Sekular
Istilah ini mengarah pada perubahan selama periode waktu yang panjang,
tahun atau dekade. Tren seperti ini dapat terjadi pada kondisi menular atau tidak
menular.
Gambar 4-5 memperlihatkan tren pada kasus kematian untuk beberapa
kelompok umur antara tahun 1900 sampai 1964. dipteri, tuberkulosis, infeksi
gastrointestinal, pneumonia, dan influenza semuanya memperlihatkan penurunan
tajam frekuensi selama periode waktu ini. Sebagai konsekuensi penurunan penyakit
menular sebagai penyebab kematian, kecelakaan muncul sebagai penyebab utama
kematian.
Contoh menarik tren sekular pada bagian pertumbuhan dan perkembangan
adalah perubahan pada umur menarche (datangnya menstruasi) di barat laut Eropa
antara tahun 1840 sampai 1970. perubahana nutrisi kemungkinan berperan dalam
penurunan tajam umur menarche.
Tren sekular pada abad ini telah terjadi pada angka kematian akibat kanker
di beberapa tempat. Pada gambar 4-7 dan 4-8memperlihatkan penurunan angka
kematian akibat kanker perut dan peningkatan kanker paru dan pankreas. Sebaliknya,
terdapat perubahan kecil pada angka kematian akibat kanker payudara selam waktu
ini. Tren sekular angka kematian akibat kanker paru dibahas selanjutnya pada Bab 5.
contoh lain tren sekular diberikann pada gambar 1-3 (emphisema) dan 4-16 (demam
reatik dan kolera).
Dalam

penilaian

tren

sekular

pada

kematian

seseorang

harus

mempertimbangkan kepada perluasan apa mereka mencerminkan perubahan kejadian


dan berapa banyak mereka dapat mencerminkan perubahan dalam ketahanan hidup.
Lebih lanjut, tren sekular pada mortalitas dan morbiditas mungkin berhubungan
dengan artifak, seperti perubahan indeks pendugaan dokter, metode diagnostik, dan
dalam aturan pelaporan dan pengkodean penyebab kematian pada sertifikat kematian.
Secara umum, semakin besar perbedaan yang diobservasi akan semakin
nyata. Tapi meski dengan perubahan nyata subtansial , seperti yang terjadi pada

mortalitas akibat kanker perut dan paru, kemampuan diagnostik yang meningkat
harus dikesampingkan sebagai penjelasan yang mungkin. Suatu studi penurunan
angka kematian akibat kanker perut mengindikasikan bahwa perubahan yang nampak
untuk mengeluarkan efek yang mungkin dalam cara diagnosa dari satu bentuk kanker
perut ke bentuk lainnya. Dengan cara yang sama, Gillian menemukan bukti kenaikan
nyata kanker paru, meskipun dia menyimpulkan bahwa kesalahan diagnosis awal
beberapa kanker paru sebagai tuberkulosis kemungkinan memicu perbesaran nyata
peningkatan sepanjang waktu.
Salah satu konsekuensi tren sekular adalah efeknya pada distribusi umur
penyakit pada titik waktu tertentu. Untuk pemahaman utuh dinamika yang mendasari
perubahan sekular, mungkin perlu untuk menganaklisa penyakit berkaitan dengan
pengalaman chort kelahiran.
Siklik
Perubahan siklik mengarah pada kejadian kembali perubahan frekuensi
penyakit. Siklik dapat tahunan (musiman) atau memiliki periode lain. Sebagai contoh,
epidemi campak

digunakan untuk kejadian setiap dua atau tiga tahun. Epidemi

influenza A cenderung terjadi dalam siklus dua sampai tiga tahun, sementara
Influenza B lebih jarang, terjadi setiap empat sampai enam tahun.
Fluktuasi musiman frekuensi penyakit dan kematian diobservasi pada
berbagai kondisi., untuk menular dan tidak menular. Angka kematian keseluruhan
(semua kasus) berfluktuasi tajam berdasarkan musim, dengan angka lebih tinggi pada
musim dingin dibandingkan musim panas. Gambar 4-9 memperlihatkan fluktuasi
musiman ini sebagaimana dua periode singkat ekses mortalitas berhubungan dengan
epidemi influenza pada Januari dan Februari tahun 1970 dan 1972.
Analisis musiman secara khusus telah berguna untuk mengevaluasi
kemungkinan peranan vektor serangga karena temperatur dan kelembaban
memberikan kondisi terbatas untuk jenis transmisi ini. variasi penyakit menular
musiman juga dapat berhubungan dengan perbedaan aktivitas seseorang. Sebagai

contoh, mandi dam memancing memberikan paparan terhadap Leptospira pada air
yang terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi. Bagaimanapun, karakteristik
kejadian musiman berbagai infeksi membingungkan. Sifat musiman beberapa
penyakit yang menyebar luas berdasarkan rute enterik juga tidak dijelaskan secara
utuh.
Kondisi noninfeksi perkiraan tertentu juga menunjukkan variasi musiman.
Kejadian musiman tenggelam dan luka bermain ski dapat dengan mudah
diperkirakan, tapi hubungan musiman lain masih tetap kabur.
Pengelompokkan Waktu dan Tempat
Pada lima tahun lalu terdapat pertimbangan yang menarik kemunculan
beberapa kelompok leukimia. Hitherto, kasus kondisi yang jarang ini telah
dipertimbangkan tidak berhubungan satu sama lain. Jika hal ini dapat menunjukkan
bahwa kasus yang terjadi secara berkelompok berhubungan dengan waktu dan jarak
lebih dari yang dapat diharapkan berdasarkan kesempatan, maka dapat memberikan
bukti yang kuat dalam mendukung etiologi yang umum.
Jika level epidemi yang sangat rendah diduga, prosedur statistik biasa
untuk menunjukkan jumlah kasus yang berlebihan tidak cukup. Teknik khusus telah
dikembangkan untuk menganalisa kasus untuk kemungkinan pengelompokkan jarakwaktu. Dengan teknik seperti ini beberapa kelompok leukimia yang muncul tidak
dipastikan, tapi beberapa terlihat mewakili hasil yang valid.
Laporan terbaru yaitu pada epidemi penyakit Hodgkin meluas. Pada wabah
ini,. lebih dari 30 orang berhubungan secara sosial di Albani, New York, kebanyakan
dari mereka lulus

sekolah menengah atas, yang ditemukan menderita penyakit

Hodgkin atau limpa padat antara tahun 1948 sampai 1971. Penentuan signifikansi
statistik hubungan antar kasus tidak bisa diselesaikan karena kurangnya pembilang
yang pasti. Pada studi berikutnya, penyelidik yang sama menemukan bukti untuk
transmisi penyakit Hodgkin orang ke orang diantara guru dan siswa yang berada pada

sekolah yang sama. Mengingat fakta bahwa penyelidik lainnya tidak memastikan
pengelompokkan waktu-tempat pada penyakit Hodgkin, dibutuhkan studi lebih lanjut
RANGKUMAN
Pengobatan populasi mensyaratkan bahwa batas area suatu studi harus
dispesifikasikan. Implisit pada istilah tempat adalah pertimbangan kondisi iklim
dan alam sebagaimana batas politis. Subdivisi politis berguna utamanya untuk
perencanaan dan administrasi pelayanan kesehatan, sementara klasifikasi berdasarkan
kondisi alam cenderung lebih berguna dalam mencari petunjuk terhadap etiologi
penyakit. Apapun objeknya, konsep tempat ,yang didefiniskan dengan jelas sebagai
area geografi yang berhubungan dengan populasi, merupakan pusat studi
epidemiologi.
Analisis epidemiologi juga mensyaratkan bahwa kasus terjadi pada suatu
waktu. Tipe utama variasi waktu fluktuasi sekular, siklik dan jangka pendek
merupakan

garis

besarnya.

Kita

menyatakan

nilai

studi

migran

untuk

menggambarkan kontribusi relatif keturunan genetik dan lingkungan pada etiologi


penyakit. Kita menyimpulkan berdasarkan referensi studi epidemiologi sekarang yang
dirancang untuk menguji kejadian kemungkinan pengelompokkan penyakit pada
waktu dan tempat tertentu.

ibnuridwan2006