Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ISK

(infeksi saluran kemih)

Disusun oleh:
Henok ferdinan

00000008423

Igo pretheli

00000008415

Indriani permatasari

00000008422

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
TANGERANG, BANTEN
2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saluran kemih merupakan salah satu organ yang paling sering terjadi infeksi bakteri.
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya
invasi mikroorganisme pada saluran kemih (Purnomo, 2003). Saluran kemih sering
merupakan sumber bakteriemia yang disebabkan oleh penutupan mendadak oleh batu atau
instrumentasi pada infeksi saluran kemih, seperti pada hipertrofi prostat dengan prostatitis
(Sukandar, 2006).
Infeksi saluran kemih ini dapat menyerang pasien dari segala usia mulai dari bayi yang
baru lahir, anak-anak, remaja hingga orang tua (Purnomo, 2003). Infeksi ini juga lebih
sering dijumpai pada wanita daripada laki-laki hal ini terjadi karena uretra wanita lebih
pendek dari pada laki-laki sehingga memudahkan bakteri masuk kedalam saluran kemih
dan menyerang organ sekitar serta letak meatus uretra wanita yang berdekatan dengan
anus, membuat bakteri lebih mudah masuk kedalam saluran perkemihan dan menginfeksi
(Lumbanbatu, 2003).
Dalam keadaan normal saluran kemih tidak mengandung bakteri, virus, atau
mikroorganisme lainnya, dengan kata lain bahwa diagnosis ISK ditegakkan dengan
membuktikan adanya mikroorganisme di dalam saluran kemih. Namun karena belum
adanya labolatorium yang menunjang memeriksa adanya bakteri dalam urin maka
diagnosis ISK dapat dinyatakan positif bila terdapat > 5 leukosit/ lapang pandang besar
(LPB) sedimen air kemih. Mikroorganisme paling sering menyebabkan ISK adalah
escherichia coli, klebisiella, proteus, staphyloccus aureus, steptococus enterococcus (Tessy
dkk, 2011).
Sasaran terapi pada infeksi saluran kemih adalah mikroorganisme penyebab infeksi.
Oleh karena itu, pengobatan ISK sebagian besar menggunakan antibiotik. Pemilihan jenis
terapi antibiotik yang diberikan sangat berperan dalam perkembangan mikroorganisme
patogen, karena setiap antibiotik membutuhkan waktu untuk mencapai sel target dan
mikroorganisme di dalam jaringan yang terinfeksi tereliminasi sehingga tujuan terapeutik
dapat tercapai (Katzung dan Bertram, 1998). 2 Pada kasus infeksi saluran kemih perlu

dilakukan terapi antibiotik dengan segera dikarenakan mencegah mikroorganisme


menginfeksi secara ascending, sehingga pemberian antibiotik spektrum luas perlu
dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan specimen untuk mengetahui jenis bakteri dan
untuk menentukan terapi yang paling tepat. Hal ini juga dilakukan agar meminimalkan
persentase komplikasi, karena semakin cepat melakukan terapi maka kemungkinan
mikroorganisme tersebut menginfeksi jaringan lain akan semakin kecil, dan pemberian
antibiotik berspektrum luas sangat diperlukan untuk menekan aktivitas bakteri, walaupun
masih ada kemungkinan terjadinya resistensi obat (Brooks dkk, 1996).
Menurut WHO sebanyak 25 juta kematian diseluruh dunia pada tahun 2011,
sepertiganya disebabkan oleh penyakit infeksi (WHO, 2011). Infeksi saluran kemih (ISK)
merupakan infeksi dengan keterlibatan bakteri tersering di komunitas dan hampir 10%
orang pernah terkena ISK selama hidupnya. Sekitar 150 juta penduduk di seluruh dunia
tiap tahunnya terdiagnosis menderita infeksi saluran kemih. Prevalensinya sangat bervariasi
berdasar pada umur dan jenis kelamin, dimana infeksi ini lebih sering terjadi pada wanita
dibandingkan dengan pria yang oleh karena perbedaan anatomis antara keduanya
(Rajabnia, 2012).
Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2011, infeksi saluran kemih termasuk kedalam
kumpulan infeksi paling sering didapatkan oleh pasien yang sedang mendapatkan
perawatan di pelayanan kesehatan (Health care-associated infection). Infeksi saluran kemih
(ISK) merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian serius. Di Amerika dilaporkan
bahwa setidaknya 6 juta pasien datang ke dokter setiap tahunnya dengan diagnosis ISK.
Dengan adanya laporan terhadap peningkatan penderita Infeksi saluran kemih, kini banyak
penelitian terhadap terapi pada infeksi saluran kemih (Widayati dkk, 2004). Infeksi saluran
kemih menempati posisi kedua tersering (23,9%) di negara berkembang setelah infeksi
luka operasi (29,1%) sebagai infeksi yang paling sering didapatkan oleh pasien di fasilitas
kesehatan. ISK merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang cukup signifikan
(Pezzlo, 1992). Bahkan tercatat Infeksi saluran kemih di Indonesia insiden dan
prevalensinya masih cukup tinggi. 3 Keadaan ini tidak terlepas dari tingkat dan taraf
kesehatan masyarakat Indonesia yang masih jauh dari standart yang berdampak langsung
pada kasus infeksi saluran kemih di Indonesia (Widayati dkk, 2004).
Hal ini perlu mendapat perhatian khusus dari kalangan praktisi medis yang berjumpa
langsung dengan kasus ISK di klinik karena bila kasus ISK tidak dilakukan manajemen

terapi yang baik dan benar akan dapat menimbulkan komplikasi yang tidak diinginkan,
mulai dari yang paling ringan (misalnya febris generalisata) hingga yang fatal (misalnya
gagal ginjal akut ataupun gagal ginjal kronik) serta akan adanya resistensi antibiotik pada
terapi infeksi saluran kemih (Sukandar, 2006). Resistensi obat antimikroba merupakan
masalah yang dapat terjadi karena penggunaan obat antibiotik yang kurang tepat.
Mekanisme resistesi tersebut adalah dengan menghasilkan enzim yang merusak aktivitas
obat, mengubah permeabilitas, dan mengubah struktur sasaran obat (Katzung dan Bertram,
1998).
1.2 Peran Perawat
Peran perawat terkait asuhan pasien dengan ISK yaitu:

Membantu klien untuk mengetahui penyakit yang diderita klien


Membantu klien menjalankan terapi sampai tuntas
Membantu klien memenuhi kebutuhan dasar yang tidak bisa terpenuhi secara mandiri

oleh klien
Memberikan edukasi kepada klien terkait masalah penyakit
Mengkaji klien untuk menentukan intervensi apa yang sesuai dengan kondisi klien
Membantu klien untuk melakukan teknik relaksasi atau pengalihan perhatian dari nyeri
Mengevaluasi setiap implementasi.

1.3 Tujuan Penulisan Laporan


- Tujuan Umum:

Mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah ISK secara
komperhensif.

-Tujuan Khusus :

Mampu memahami teori, konsep medik dan keperawatan klien dengan ISK
Mampu melakukan pengkajian kepada klien dengan ISK dengan baik dan benar
Mampu menentukan diagnosa keperawatan pada klien ISK dengan tepat dan menentukan

prioritas
Mampu membuat rencana keperawatan pada klien dengan ISK
Mempu membuat implementasi keperawatan pada klien dengan ISK
Mampu mengevaluasi keperawatan yang telah diberikan pada klien dengan ISK.

BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN
2.1 TERLAMPIR

BAB III
LAPORAN KASUS

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN

FACULTY OF
NURSING
UNIVERSITAS
PELITA HARAPAN

I.

II.

Nama Pasien

Tn. F

Ruang/Kamar

RSUS 2D12

Tanggal Masuk RS

28 september 2016

Tanggal Pengkajian

30 september 2016

Cara Masuk

Asal Masuk

Diagnosa Medik

Front Office
Sindrom nefrotik, ISK

Biodata
A. Identitas Klien
Nama ( inisial )
Jenis Kelamin
Umur/ tanggal lahir
Status Perkawinan
Agama
Suku / bangsa
Pendidikan
Pekerjaan

: Tn. F
: laki-laki
: 16 tahun/ 02 oktober 2000
: belum menikah
: islam
: indonesia
: SMA
: pelajar

B. Identitas Penanggung
Nama ( inisial )
Jenis kelamin
Pekerjaan
Hubungan dengan klien

: Ny.A
: perempuan
: ibu rumah tangga
: Ibu

Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama

: nyeri saat berkemih, mengeluh pusing ,ada mual

dan muntah sebanyak 2 kali,urine sedikit, edema pada kedua tungkai


2. Riwayat keluhan utama
a. Mulai timbulnya keluhan : 1 minggu sebelum masuk RS
b. Sifat keluhan
: menetap

c. Lokasi
: seluruh tubuh
d. Keluhan yang menyertai :BAK sering,nyeri tekan pada sudut
kortovertebra,hematuria,sesak ,susah berjalan
e. Faktor pencetus keluhan : nyeri
f. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan : mengunjungi dokter di
klinik
3. Riwayat Penyakit
Data Subjektif:
Klien mengatakan tidak pernah menderita sakit akut/kronik apapun,begitupun
dengan keluarga klien.
4. Alergi
5. kebiasaan
Merokok (berapa batang /bungkus sehari)
Minum alkohol
Minum kopi
Minum obat-obatan
III.

IV.

Riwayat keluarga
Ayah pasien
Ibu Pasien
Pemeriksaan Fisik
1. Tanda-tanda vital
Pukul 14.00
TD
: 110/70 mmHg
Nadi : 92x/menit
Nyeri ( aktivitas/istirahat)
Pukul 16.00
TD
: 120/80mmHg
Nadi : 82x/menit
Nyeri ( aktivitas/istirahat)

: tidak ada
: tidak
: tidak
: tidak
: paracetamol

: tidak
: Tidak

Suhu
Pernapasan

: 37,20C
: 23x/menit

Suhu
pernapasan

: 36,40C
:20x/menit

: 6/2

: 4/2

2. Kepala dan leher


Data Subjektif:
- Klien mengatakan pusing
- Klien mengatakan tidak mampu berdiri karena kepalanya yang pusing dan
nyeri
Data Objektif:
Keadaan kepala :
Rambut: distribusi rambut merata ,hitam,tidak ada lesi atau massa

Penglihatan :
Konjungtiva
: merah muda
Pakai kaca mata
: tidak
Diplopia
: tidak
Peradangan
:tidak
Operasi
: tidak ada
Pembesaran kelenjar tiroid : tidak

Sklera: tidak ada ikterik

Pendengaran
Data Subjektif: klien dapat mendengar dan menjawab pertanyaan dengan baik.
Data Objektif:
Gangguan pendengaran
Nyeri
Peradangan
Tinnitus

: tidak
: tidak
: tidak
: tidak

Hidung
Data Subjektif: Klien mengatakan penciumannya tidak mengalami masalah
Data Objektif: normal,septum bentuk simetris,tidak ada polip
Alergi Rhinnitus
Tipe Alergen
Riwayat Polip
Sinusitis
Epistaksis

: tidak ada
: tidak ada
: tidak
: tidak
: tidak

Tenggorokan dan mulut


Data Subjektif: Klien mengatakan merasa pahit ketika menelan makanan
Data Objektif:
Keadaan gigi
: utuh, tidak berlubang
Caries
: tidak ada
Memakai gigi palsu
: tidak
Gangguan bicara
: tidak
Gangguan menelan
: tidak
kelenjar getah bening
: tidak ada pembesaran
Kelenjar parotis
: tidak teraba massa
Lidah
: bersih,pucat,indera pengecapan baik
Rongga mulut
: kering dan pucat
3. Pernapasan
Data Subjektif: klien mengeluh sedikit merasa sesak

Data Objektif:
Inspeksi:
- Nafas klien teratur: 23 x/menit
Perkusi
:
Cairan : tidak ada
Massa
:
tidak ada

Udara

: ya

Auskultasi :
Inspirasi

: teratur

Ekspirasi : teratur

Ronchi

: tidak ada

Wheezing : tidak ada

Krepitasi

: tidakada

Clubbing Finger

:tidak

4. Pencernaan
Data Subjektif
- Klien mengatakan tidak nafsu makan
- Klien mengatakan mual dan muntah sebanyak 2 kali
Data Objektif
Inspeksi
Turgor kulit : kering
Keadaan bibir
Basah
: tidak
Pecah : ya
Keadaan rongga mulut
Warna Mukosa : merah
Luka/ perdarahan :tidak ada
Tanda-tanda radang : tidak Keadaan gusi : baik
Keadaan abdomen
Warna kulit : merata
Luka :tidak ada
Pembesaran : tidak ada
Keadaan rektal
Luka
: tidak ada
Perdarahan :tidak ada
Hemmoroid : tidak ada
Lecet/ tumor/ bengkak :tidak ada
Auskultasi
Bising usus/Peristaltik : terdapat bising usus 10x/menit
Bunyi vaskuler
: tidak
Perkusi
Cairan :ya
Massa :tidak
Palpasi

Udara : tidak

Tonus otot :normal


Massa
: tidak

Nyeri : tekan pada sudut kortovertebra

5. Cardiovaskuler
Inspeksi :
Kesadaran
: Compos Mentis
Bentuk dada
: simetris
Bibir/sianosis
: pucat/ tidak
Kuku
: merah muda
Capillary Refill
:2 detik
Tangan : edema/ tidak : tidak
Kaki : edema/ tidak : tidak
Sendi : edema/ tidak : tidak
Palpasi :
Ictus cordis/Apical Pulse: ada, teraba
Vena jugularis
: ada
Perkusi
:
pembesaran jantung : tidak
Auskultasi: BJ I
: normal
Murmur
: tidak ada
6. Persyarafan
Tingkat kesadaran
Kejang
Jenis kelumpuhan
Parasthesia
Koordinasi gerak
Cranial Nerves
Reflexes

BJ II : normal

: compos mentis
GCS (E/M/V):4/6/5
: tidak ada
::: lambat karena nyeri yang dirasakan
:baik
: baik

7. Musculoskeletal
DS: klien mengatakan merasa lemas sehingga malas untuk melakukan aktivitas.
Nyeri otot
: tidak ada
Refleksi sendi
: baik
kekuatan otot :5/5
5/5
Atropi / hyperthropi : tidak ada
Range of Motion (ROM): bebas (restrain)
8. Kulit/ Integumen
Rash :tidak ada
Turgor :kurang elastis
Kelembaban : kering
Petechie: tidak ada
Lain lain:-

Lesi : tidak ada


Warna : kecoklatan

9. Reproduksi
Data subjektif
Klien mengatakan tidak ada hambatan dalam reproduksi.

Data Objektif

V.

Keadaan perineal
Lesi pada organ
Masalah lain

: tampak bengkak
: tidak terkaji
: tidak ada

Pola Kegiatan Sehari-hari ( ADL )


A. Nutrisi
1. Kebiasaan :
Pola makan
Frekuensi makan
Nafsu makan
Makanan pantangan
Makanan yang disukai
Banyaknya minuman dalam sehari

: teratur
: 3 x/hari
: kurang baik
: tidak ada
: semua jenismakanan
: 1000 ml , Klien mengeluh sering

merasa haus
Jenis minuman dan makanan yang tidak disukai : tidak ada
BB :68 kg TB : 185 cm
Kenaikan/Penurunan BB: klien mengalami penurunan BB dari 71 kg ke 68 kg
saat mengalami sakit selama 1 minggu sebelum masuk RS.
2. Perubahan selama sakit : klien mengatakan tidak ada napsu makan, perut
terasa mual dan ada muntah sebanyak 2 kali dalam satu hari, klien
mengatakan lebih banyak minum air daripada makan karena terasa mual.
B. Eliminasi
DS:
Klien mengatakan nyeri di daerah genital
Klien merasa gelisah dan tidak nyaman
Klien mengatakan sering berkemih tapi sedikit
DO:
Kandung kemih teraba
genital tampak bengkak
1. Buang air kecil (BAK)
a. Kebiasaan
Frekuensi dalam sehari :3-5x Warna
: kuning
Bau : normal
Jumlah/ hari : Tidak tahu
b. Perubahan selama sakit :
Frekuensi dalam sehari :7-10x
Warna
: keruh
Bau : normal
Jumlah/ hari : 400 ml/hari

2. Buang air besar (BAB)


a. Kebiasaan :
Frekuensi dalam sehari :1 kali sehari
Warna :kuning kecoklatan
Bau : normal
Konsistensi : padat
b. Perubahan selama sakit : tidak ada perubahan

C. Olah raga dan Aktivitas


Kegiatan olah raga yang disukai : volley ball
Apakah olah raga dilaksanakan secara teratur : ya, ada jadwal latihannya
Aktivitas klien adalah sekolah, latihan voli,dan main bersama teman
Setelah sakit : klien hanya di tempat tidur saja
D. Istirahat dan tidur
Tidur malam jam : 22.00
Bangun jam : 06.00
Tidur siang jam : Bangun jam : Apakah mudah terbangun : klien mengatakan biasanya bangun untuk buang air
kecil dan nyeri yang di rasakan.
Apa yang dapat menolong untuk tidur nyaman : biasanya klien mendengarkan
musik.
VI.

Pola Interaksi Sosial


Siapa orang yang penting/ terdekat
: ibunya
Organisasi sosial yang diikuti
: tidak ada
Jika mempunyai masalah apakah dibicarakan

dengan

orang

lain

yang

dipercayai/terdekat :ya
Bagaimana anda mengatasi suatu masalah dalam keluarga : dibicarakan bersama
Bagaimana interaksi dalam keluarga : baik
Bagaiamana interaksi dengan lingkungan sekitar: sangat baik, klien aktif dalam
VII.

kegiatan olahraga voli


Kegiatan Sosial
Keadaan rumah dan lingkungan
Status rumah
Bising / tidak
Banjir / tidak

: kurang rapih
: rumah pribadi
: tidak
: Tidak, hanya saat hujan selalu ada genangan air.

VIII.

Kegiatan Keagamaan
Ketaatan menjalankan ibadah
: hanya sholat pada hari jumat saja.
Keterlibatan dalam organisasi keagamaan : tidak ada

IX.

Keadaan Psikologis Selama Sakit

Persepsi klien terhadap penyakit yang diderita: klien mengatakan sakit menggangu
aktivitasnya
Persepsi klien terhadap keadaan kesehatannya : klien mengatakan kesehatan sangat
terganggu dan ingin cepat sembuh.
Pola interaksi dengan tenaga kesehatan dan lingkungannya : baik.

X.

Data Laboratorium
Jenis pemeriksaan

Hasil

Nilai nomal

a. Laboratorium
Hematology
Full Blod Count

L 18.20 g/dl

15.50-17.70 g/dl

L 32.28 %

35.00-47.00 %

-Hemoglobin

6.28 10^6/ul

3.80-5.20 10^6/uL

-Hematocrite

H 12,52 10^3/ul

3.60-11.00 10^3/uL

-Erytrocite (RBC)
-White Blood Cell (WBC)
1%

0-1 %

Differential Count

6%

1-3 %

-Basophil

20%

2-6 %

-Eosinophil

65 %

50 -70 %

-Band neutrophil

20 %

25-40 %

-Segment Neutrophil

5%

2-8 %

-Lympochyte

200.000 10^3/ul

150.00 440.00 10^3/ul

26,001 g/L

26,001 g/L

2,08 g/L

2,08 g/L

-monocyte
-Platelete Count
Urine biochesmistry
Protein
Albumin

XI.

Penggobatan
XII.

FARMAKOLOGI

Nama obat

Dosis

Rute pemberian

Frekuensi obat

Indikasi

Trimephorim

obat
80 mg

obat
PO

BD

Sebagai antibiotik

Sulfamethasole
Aldactone

400 mg
25 mg

PO
PO

BD
OD

Sebagai antibiotik
Sebagai diuretic untuk
mengurangi pembengkakan

Ibuprofen
Ringer Laktat (RL)

400 mg
500 ml

PO
IV

OD
/8 JAM

Sebagai analgesik pereda nyeri


Mengembalikan keseimbangan
cairan pada dehidrasi

ANALISA DATA

klien mengatakan:

nyeri di daerah kelamin

tidak nyaman dengan

2.

Data Objektif (DO)


(hasil observasi, pemeriksaan fisik,

Data Subjektif (DS)


(Keluhan Pasien + laporan keluarga)

No.

laboratorium)
klien tampak:

nyeri

yang

dirasakan
merasa gelisah

Tampak klien berkeringat dingin.


Saat dipalpasi ada nyeri tekan di sudut

kortovertebra
Skala nyeri : 6/2
Alat genital klien bengkak

Klien mengatakan :

Sering berkemih

Merasa penuh dikandung

Masalah Keperawatan
(Kesimpulan DS dan DO)

kemih
Nyeri seperti
saat

terbakar

buang

Frekuensi

dalam sehari :7-10x


Warna urine: keruh
Jumlah urine 350 ml/hari
Kandung kemih teraba

Nyeri akut

berkemih
Gangguan eliminasi urin

air

kecil(disuria)
3

Klien mengatakan :

Sering merasa Haus

Merasa lemah saat melakukan aktivitas.

Hidrasi kulit: kering


Mukosa bibir: kering dan pucat
BB klien 60 kg,TB klien 185 cm
Tampak klien hanya di tempat
tidur( bed rest)

Intervensi Keperawatan

Kekurangan volume cairan

Diagnosa

Tujuan dan kriteria hasil

Nyeri akut b.d


proses
inflamasi
ditandai dengan
keringat
dingin,skala
nyeri
6/2,ketidaknya
manan terkait
nyeri,gelisah

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 5 jam, nyeri
berkurang-hilang
kriteria hasil:
1. Mampu
mengontrol
nyeri
2. Nyeri
berkurang atau
tidak ada,
skala <4
3. Perasaan
nyaman
setelah nyeri
berkurang
4. Mampu
beristirahat
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 5 jam,eliminasi
urin kembali.

Gangguan
eliminasi urin
berhubungan
dengan
penyempitan
ureter akibat
proses
inflamasi
ditandai rasa
penuh di
kandung

kriteria hasil:
1. Kandung
kemih kosong
secara penuh
2. Intake cairan
dalam rentang
normal
3. Tidak ada nyeri
saat berkemih

Implementasi
1.

Melakukan pengkajian

2.

nyeri (PQRST)
Pemberian obat

3.

analgesik
Mengajarkan teknik
relaksasi ( napas

4.

Rasional
1.

2.

dalam )
Mengajarkan klien
untuk melakukan

3.

aktivitas yang disukai


4.

1.
2.
3.
4.

5.

6.

kemih,nyeri
saat berkemih

Memonitor keadaan
saat berkemih
mengkaji nyeri klien
sewaktu berkemih
Memonitor intake dan
output cairan
mengedukasi klien dan
keluarga menghitung
output cairan
mengedukasi klien
untuk menyediakan
waktu 10 menit
mengosongkan
kandung kemih
mengedukasi klien
untuk melakukan
sugesti berkemih
dengan semprotan air

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Kekurangan
volume cairan
berhubungan
dengan
kegagalan
mekanisme
regulasi
ditandai turgor
kulit tidak

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 5 jam, volume
cairan intravascular
kembali normal.
kriteria hasil:
1. Elastisitas
turgor kulit
baik
2. Membrane
mukosa

1.
2.
3.

4.

Memonitor vital sign


Memonitor hidrasi
kulit
menganjurkan klien
minum air dengan
spray
menganjurkan klien
untuk minum jus buah

1.

2.

3.

Mengetahui
tingkat keparahan
nyeri dan
intervensi yang
akan dilakukan.
Analgesik sebagai
obat untuk
mengurangi rasa
nyeri.
Teknik napas
dalam membantu
mengurangi nyeri
Melakukan
aktivitas yang
disukai untuk
mengalihkan
perasaan nyeri
yang dirasakan.
Untuk melihat
tanda dan gejala
dari gangguan
eliminasi urin
Untuk mengkaji
adanya kesulitan
eliminasi urin
Memonitor untuk
melihat masukan
dan keluar cairan
Memungkinkan
keakuratan
perhitungan urine
walaupun tidak
ada perawat
Waktu yang agak
lama akan
memungkinkan
tidak adanya
residu air kemih
Semprotan air ke
ureter memicu
keluarnya urine
Vital sign akan
mengalami
penurunan jika
terjadi kekurangan
cairan.
Gangguan Status
hidrasi(kelembapa
n,turgor,mukosa)
akan menentukan
kekurangan
volume cairan.
Memungkinkan

Hasil
Klien masih
merasa nyeri
walaupun sudah
berkurang
menjadi 4/2

Klien masih
merasa nyeri saat
berkemih namun
lebih sedikit pergi
ke kamar mandi
karena waktu
toileting
sebelumnya lama.

Belum terlihat
perubahan besar
namun klien
menyatakan
bahwa dengan
menggunakan
spray jauh lebih
baik tidak
menimbulkan
rasa haus
walaupun harus

elastic,mukosa
kering, rasa
haus berlebihan

3.

lembab
Tidak ada rasa
haus
berlebihan
4.

tidak keringnya
mukosa bibir
walaupun ada
pembatasan cairan.
Jus buah banyak
mengandung
cairan dan vitamin
yang bermanfaat
bagi tubuh.

pembatasan
cairan.

Evaluasi
Tanggal/waktu

Diagnosa keperawatan

Evaluasi

30-09-16/Pukul 15.00

Nyeri akut b.d proses inflamasi


ditandai dengan keringat
dingin,skala nyeri
6/2,ketidaknyamanan terkait
nyeri,gelisah

S:
Nama : Tn.F
Umur : 16 Thn
klien mengeluh ada nyeri di daerah genital
O:
alat genital tampak bengkak,skala nyeri: 6/2
A:
Tn.F umur 16 thn mengalami radang pada saluran kemih
P:
Anjurkan klien untuk minum antibiotik teratur

30-09-16/pukul 16.00

Gangguan eliminasi urin


berhubungan dengan
penyempitan saluran kemih
akibat proses inflamasi ditandai
rasa penuh di kandung

S:
Klien mengeluh kandung kemih terasa penuh, klien mengeluh
nyeri saat berkemih
O:
Kandung kemih teraba

kemih,nyeri saat berkemih


A:
Klien mengalami gangguan eliminasi urin
P:
-

30-09-16/pukul 17.00

Kekurangan volume cairan


berhubungan dengan kegagalan
mekanisme regulasi ditandai
turgor kulit tidak elastic,mukosa
kering, rasa haus berlebihan

Lakukan pemeriksaan IVP= untuk melihat


penyempitan terjadi dimana
Anjurkan klien untuk mengompres kandung kemih
dengan air dingin

S:
Klien mengeluh rasa haus berlebihan
O:
Mukosa bibir kering
Turgor kulit tidak elastic

A:
Klien mengalami kekurangan volume cairan
P:
-

Cek HT klien
Cek tanda-tanda vital klien
Cek albumin

BAB 1V
PEMBAHASAN
Infeksi saluran kemih adalah suatu keadaan adanya invasi mikroorganisme pada saluran
kemih(agus,tessy,2001). Penyakit saluran kemih disebabkan oleh bakteri E.coli hampir 75%90%, staphylococcus 5%-15%, klebsiella,proteus enterococci ( samir,2006). Menurut black
tahun

2014,

infeksi

saluran

kemih

juga

dapat

disebabkan

oleh

Chlamydia

trachomatis,trichmomonas vaginalis,neiserria gonnorea dan herpes simpleks. Adapun tanda dan


gejalanya dibagi atas dimana letak infeksinya, jika di kandung kemih( disuria, sering buang
air,buang

air

sedikit-sedikit,nyeri

keruh,hematuria,bakteriuria

suprapubik,

buang

asimtomatik,mual-muntah).

air

Uretra

tidak
(

tuntas,

bengkak

urine
lapisan

mukosa,nyeri,merah pada lapisan mukosa uretra,piuria,sekresi cairan uretra-pria). Uretritispielonefritis ( demam tinggi,mengigil,nyeri tekan pada sudut kortovertebra,sakit kepala,nyeri
otot,kelesuan).
Dari hasil pengkajian yang kami lakukan penyebab klien terkena ISK adalah kebersihan
perineal yang kurang terjaga dan kebiasaan klien menahan kencing,dari tanda dan gejala yang
kami amati dan kami temukan pada klien, klien mengeluh nyeri di daerah genital,tidak nyaman
dengan nyeri yang dirasakan,merasa gelisah dan klien tampak berkeringat dingin, alat genital
klien bengkak,ada nyeri tekan saat dibagian kortovertebra,didapatkan juga skala nyeri 6/2, maka
dari itu kami mengambil diagnosa keperawatan nyeri akut dank lien mendapatkan terapi
ibuprofen sebagai analgesic dan juga antiinflamasi serta kami melakukan intervensi dengan cara
mengalihkan nyeri kegiatan yang klien sukai juga ada teknik relaksasi(napas dalam) namun
belum berhasil sepenuhnya karena keterbatasan waktu sehingga skala nyeri masih 4/2 yang

dalam kategori nyeri menganggu.Selain itu, Klien mengatakan Sering berkemih,Merasa penuh
dikandung kemih, Nyeri seperti terbakar saat buang air kecil(disuria) dan Frekuensi berkemih
dalam sehari :7-10x,Warna urine: keruh,Jumlah urine 350 ml/hari,Kandung kemih teraba
sehingga kami mengambil diagnosa gangguan eliminasi urin dan intervensi yang kami berikan
adalah merangsang rasa berkemih dan mencoba menganjurkan klien untuk menyediakan waktu
yanglama untuk berkemih. Tanda lain yang menunjukan klien terkena ISK adalah Klien
mengatakan Sering merasa Haus,Merasa lemah saat melakukan aktivitas dan Hidrasi kulit:
kering,Mukosa bibir: kering dan pucat,BB klien 60 kg,TB klien 185 cm,Tampak klien hanya di
tempat tidur( bed rest) sehingga kami mengambil diagnosa keperawatan kekurangan volume
cairan yang kami intervensi dengan tetap mempertimbangkan edema pada kaki klien.
Dari seluruh tanda dan gejala yang kami tuliskan dalam laporan ini hanya edema dan rasa haus
berlebih yang tidak ada pada manifestasi klinis ISK pada LP kami. klien yang kami kaji juga
ternyata ada diagnose medis pendamping yaitu sindrom nefrotik sedangkan dalam teori
komplikasi tidak menyertakan sindrom nefrotik. Selain itu juga, kami juga kesulitan dalam
melakukan intervensi karena klien kurang terbuka karena mungkin umurnya yang masih remaja
namun kami terbantu dengan adanya seorang ibu yang membantu untuk mengarahkan anaknnya.
BAB V
KESIMPULAN
Infeksi saluran kemih adalah suatu keadaan adanya invasi mikroorganisme pada saluran
kemih(agus,tessy,2001). Penyakit saluran kemih disebabkan oleh bakteri E.coli hampir 75%-90%,
staphylococcus 5%-15%, klebsiella,proteus enterococci ( samir,2006). Menurut black tahun 2014, infeksi
saluran kemih juga dapat disebabkan oleh Chlamydia trachomatis,trichmomonas vaginalis,neiserria
gonnorea dan herpes simpleks. Adapun tanda dan gejalanya dibagi atas dimana letak infeksinya, jika di
kandung kemih( disuria, sering buang air,buang air sedikit-sedikit,nyeri suprapubik, buang air tidak
tuntas, urine keruh,hematuria,bakteriuria asimtomatik,mual-muntah). Uretra ( bengkak lapisan
mukosa,nyeri,merah pada lapisan mukosa uretra,piuria,sekresi cairan uretra-pria). Uretritis-pielonefritis
( demam tinggi,mengigil,nyeri tekan pada sudut kortovertebra,sakit kepala,nyeri otot,kelesuan).

Dari kasus yang kami dapatkan disebabkan oleh kebersihan perineal yang kurang dan kebiasaan
menahan kencing. Karena hal itu bakteri masuk ke saluran dan menginfeksi di saluran kemih dan
air kemih yang tidak terbuang juga dapat terjadi infeksi. Dari tanda gejala yang dinyatakan klien

maupun keluarga kami mengambil 3 diagnosa yaitu nyeri akut, gangguan eliminasi urin,dan
kekurangan volume cairan. Dari sinilah di tuntut peran perawat yang tetap mempertimbangkan
beberapa hal misalnya diagnose kekurangan volume cairan, perawat tetap melakukan intervensi
namun tidak melupakan diagnose medis lainnya sindrom nefrotik sehingga klien tidak
mengalami kelebihan volume cairan. Melalui laporan ini kami satu kelompok belajar untuk
melakukan lebih banyak intervensi mandiri.kami mengharapkan juga laporan ini dapat menjadi
media belajar untuk yang lain dalam memberikan asuhan keperawatan pada ISK.
DAFTAR PUSTAKA

Nanda,jilid 2,2015
Black,joyce.2014. keperawatan medikal bedah: edisi 8 buku 2.elsevier: singapura
Rendy clevo,TH margareth. 2012. Asuhan keperawatan medikal bedah dan penyakit dalam.
Nuha medika: Yogyakarta
Shah,samir. 2006. Infectious diseases. Blacwell publishing: Australia
Snell,Richard.2006. Anatomi klinik: untuk mahasiswa kedokteran. EGC: Jakarta
Le fever,joyce.2008. pedoman pemeriksaan laboratorium dan diagnostic. EGC: jakarta
Ekass yunus. efektivitas penggunaan antibiotik siprofloksasin dan ofloksasin pada pasien infeksi
saluran kemih di Rumah Sakit Islam Gorontalo?. 2015
(http://eprints.ung.ac.id/12058/2/2015-1-1-48201-821411050-bab1-01082015122447.pdf)