Anda di halaman 1dari 26

PEMERINTAH KABUPATEN BULUKUMBA

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA
JALAN SER1KAYA No. 17 Telp (0413) 81290,81292 Fax. 83030

KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA


NOMOR: /SK/RSUD-BLK/./2016

TENTANG
PEMBERLAKUAN PANDUAN PASIEN RISIKO JATUH
DI RSUD H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA BULUKUMBA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


DIREKTUR RSUD H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA

Menimbang :

a. bahwa untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan


bermutu tinggi di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba
periu dibuat Panduan Pasien Risiko Jatuh yang akan menjalani
perawataMerapi di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba,
b. bahwa agar Panduan Pasien Risiko Jatuh dapat terlaksana dengan
baik, perlu adanya kebijakan Direktur RSUD H. Andi Sulthan Daeng
Radja Bulukumba sebagai landasan bagi pemberlakuan Panduan
Pasien Risiko Jatuh di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja
Bulukumba,

c. bahwa berdasarkan pertimbangari sebagaimana dimaksud dalam butir


a dan b, perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur RSUD H. Andi
Sulthan Daeng Radja Bulukumba,

Mengingat :

1. Undang-Undang
Konsumen,

Nomor

Tahun

1999

tentang

Perlindungan

2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran,


3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit,
5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan,
6. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan,
7. Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
1438/Menkes/PER/lX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran,
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1691/Menkes/PER/VII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah
Sakit,
9. Surat Keputusan Menten Kesehatan Republik Indonesia Nomor
828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Tehnis Standar Pelayanan
Ininimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota,
10. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 15 tahun 2008 tentang
Regionalisasi Sistem Rujukan Rumah Sakit di Provensi Sulawesi
Selatan,

11. Keputusan Bupati Bulukumba Nomor Kpts.1178/XII/2013 tentang


Penerapan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
Daerah Rumah Sakit Uumum Daerah H. Andi Sulthan Daeng Radja
Kabupaten Bulukumba.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan :

Pertama

: Memberlakukan Panduan Risiko Pasien Jatuh di RSUD


H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba

Kedua

: Panduan Pasien Risiko Jatuh di RSUD H. Andi Sulthan


Daeng Radja sebagaimana terlampir dalam keputusan ini

Ketiga

: Akibat yang ditimbulkan keputusan ini dibebankan pada


biaya operasional RSUD. H. Andi Sulthan Daeng Radja
Bulukumba

Keempat

: Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkannya


dan apabila terdapat kekeliruan di dalamnya akan
dilakukan perbaikan seperlunya

Ditetapkan di : Bulukumba
Tanggal

Direktur

: .

Dr. Hj. WAHYUNI. AS, MARS


Nip. 19641121 198803 2 002

KATA PENGANTAR

Dalam rangka program peningkatan mutu dan keselamatan pasien dalam


pengkajian pasien risiko jatuh. Maka Koinite Peningkatan Mutu dan
Keselamatan Pasien dengan Instatasi Terkait menyusun Panduan Pasien
Risiko Jatuh RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja untuk seluruh petugas yang
berkewajiban memberikan pelayanan pengkajian pasien risiko jatuh kepada
pasien dan keluarga selama mendapat layanan kesehatan di RSUD H. Andi
Sulthan Daeng Radja

Dengan adanya Panduan Pasien Risiko Jatuh di RSUD H. Andi Sulthan


Daeng Radja ini diharapkan meningkatkan efisiensi dan efektifitas
penyelenggaraan rumah sakit dalam melakukan pelayanan kesehatan guna
peningkatan kesehatan masyarakat se optimal mungkin

Semoga dengan adanya Panduan Pasien Risiko Jatuh di RSUD H. Andi


Sulthan Daeng Radja dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan

harapan dalam upaya peningkatan mutu pelayanan RSUD H. Andi Sulthan


Daeng Radja

Bulukumba, 15 Juli 2015

Ketua Koinite PMKP

Dr. Hj. WAHYUNI. AS, MARS


Nip. 19641121 198803 2 002

DAFTAR ISI
Kebijakan
Kata Pengantar
Daftarisi
Tim Penyusun
Bab I Defenisi
Bab II Ruang Lingkup
Bab III Tata Laksana Pencegahan
A. Pencegahan
B. Pendekatan Diagnostik
C. Penatalaksanaan
D. Check List Assesment Risiko Jatuh
Bab IV Dokumentasi
Lampiran
1SPO Pemasangan Gelang Risiko Pasien Jatuh
2. Form RM 002 Triase dan Pengkajian IGD
3. Form RM 007 Pengkajian Keperawatan Awal Pasien Masuk IRNA
4. Form RM 008 Pengkajian Kebidanan dan Kandungan Rawat inap
5. Form RM 057 Pengkajian Restraian
6. Form RM 082 Check List Penilaian Risiko Jatuh Pasien Anak
7. Form RM 083 Check List Penilaian Risiko Jatuh Pasien Dewasa

TIM PENYUSUN

1.
2.
3.
4.

BABI
DEFENISI

Pasien jatuh adalah suatu peristiwa dimana seorang pasien


jatuh, dengan arah jatuh ke lantai, dengan atau tanpa ada yang
Im enyaksikan, dengan atau tanpa cedera penyebab atuh dapat disebabkan
karena faktor fisik atau lingkungan. Penyebab jatuh ada yang dapat
diantisipasi sebelumnya dan ada yang tidak dapat diantisipasi.

Falls atau pasien jatuh merupakan insiden di rumah sakit yang sering terjadi
dan dapat mengakibatkan cedera serius dan kematian. Pasien jatuh
merupakan adverse event kedua terbanyak dalam institusi perawatan
kesehatan setelah kesalahan pengobatan/medication errors (AHRQ). Insiden
pasien jatuh tidak hanya berdampak pada fisik pasien tetapi juga dampak
keuangan yang ditanggung pasien dan rumah sakit.

BAB II
RUANG LINGKUP

Faktor-faktor risiko yang dapat diantisipasi harus dicari untuk mencengah


jatuh. Faktor tersebut adalah :

1. Intrinsikltisik/berhubungan dengan kondisi pasien :


a. Riwayat jatuh sebelumnya
b. Inkontinensia
c. Gangguan keseimbangan, gaya beqalan, atau kekuatan
d. Gangguan mobilitas

e. Gangguan kognitif/ psikologis


f. Usia > 65 tahun
g. Status keehatan yang buruk
h. Gangguan muskuloskeletal; seperti atntis, penggatian sendi, defornitas
i. Penyakit kronis; seperti
penyakit paw dan diabetes

osteoporosis,

penyakit

kardiovaskuler,

j. Penyakit neurologi; seperti stroke dan parkinson


k. Masalah nutrisi
l. Medikamentosa (terutama konsumsi > 4 jenis obat)

2. Ekstrinsikl lingkungan:
a. Lantai basah/silau, ruang berantakan, pencahayaan kurang, handrail
tidak adekuat, kabel lepas
b. Alas kaki tidak pas
c. Dudukan toilet yang rendah
d. Kursi dan tempat tidur beroda

e. Rawat inap berkepanjangan


f. Peralatan yang tidak aman
g. Peralatan rusak
h. Tempat tidur ditinggalkan dalam posisi tinggi

BAB Ill
TATA LAKSANA PENCEGAHAN

A. Pencegahan
Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila
sudah teradi jatuh pasti terjadi komplikasi, mesipun ringan tetap
memberatkan.

Ada tiga usaha pokok untuk pencegahan, antara lain : (Tinetti, 1992;
Van-Der-Cammen, 1991; Reuben, 1996)
1. Identifikasi Faktor Risiko
Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya
faktor intrinsik risiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan sesorik,
neurologik, muskuloskeletal dan penyakt sisteinik yang sering
mendasari/ menyebabkan jatuh

Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan


jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak
menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-benda
kecil yang susah dilihat. peralatan rumah tangga yang sudah tidak
aman (lapuk, dapat bergeser sendiri) sebaiknya diganti, peralatan
rumah ini sebaiknya diletakkan sedeinikian rupa sehingga tidak
menggangu jalan/ tempat aktifltas lansia. Kamar mandi dibuat tidak
licin, sebaiknya diberii pegangan pada diridirignya, pintu yang mudah
dibuka. WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan
didiridirig.

Obat-obatan yang menyebabkan hipotensi postural, hipoglikeinik atau


penurunan kewaspadaan harus diberikan sangat selektif dan dengan
penjelasan yang komprehensif pada lansia dan keluarganya tentang
risiko teijadiriya jatuh akibat ininum obat tertentu.

Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripod,
kruk atau walker harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan,
aman tidak mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan
lansia.

2. Penilaian Keseimbangan dan Gaya Berjalan (Gait)


Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya
dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Penilaian
posturas sway sangat diperlukan untuk mencegah terjadiriya jatuh

pada lansia. Bila goyangan badan pada saat berjalan sangat berisiko
jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi medik.
Penilaian gaya berjan (Gait) juga harus dilakukan dengan cermat apak
penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah
kekuatan otot ekstreinitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa
bantuan. Kesemuanya itu harus dikoreksi bila terdapat
kelainan/penurunan.

3. MengaturlMengatasi Fraktur Situasional


Faktor situasional yang bersifat serangan akutleksaserbasi akut,
penyakit yang diderita lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin
kesehatan lansia secara periodik. Faktor situasional bahaya
lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan
Iingkungan seperti tersebut diatas. Faktor situasional yang berupa
aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan
penderita. Perlu diberitahukan pada penderita aktifitas fisik seberapa
jauh yang aman bagi penderita, aktifitas tersebut tidak boleh
melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasil
pemeriksaan kondisi fisik. Bila lansia sehat dan tidak ada batasan
aktifitas fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan aktifltas fisik
sangat melelahkan atau beresiko tinggi untuk terjadiriya jatuh.

B. Pendekatan Diagnostik
Setiap penderita lansia jatuh, harus dilakukan assesmen seperti dibawah
ini :

1. Riwayat Penyakit (Jatuh)


Anamnesis dilakukan baik terhadap penderita ataupun saksi mata
jatuh atau keluarganya. Anamnesis ini meliputi:
a. Seputar jatuh : mencari penyebab jatuh inisalnya terpeleset,
tersandung, berjalan, perubahan posisi badan, waktu mau berdiri
jongkok, sedang makan, sedang buang air kecil atau besat, sedang
batuk atau bersin, sedang menoleh tiba-tiba atau aktifitas lain.
b. Gejala yang menyertai: nyeri dada, berdebar-debar, nyeri kepala
tiba-tiba, vertigo, pingsan, lemas, konfusio, inkontinens, sesak
nafas
c. Kondisi komorbid yang relevan : pernah stroke, parkinsonism,
osteoporosis, sering kejang, penyakit jantung, rematik, depresi,
defisit sensorik
d. Review obat-obatan yang diininum : anti hipertensi, diuretik,
autoniinik bloker, anti depresan, hipnotik, anxiolitik, analgetik,
psikotropik.
e. Review keadaan lingkungan : tempat jatuh, rumah maupun tempattempat kegiatannya.

2. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda vital: nadi, tensi, respirasi, suhu badan (panas/hipoterini)
b. Kepala dan leher : penurunan visus, penurunan pendengaran,
nistagmus, gerakar, yang menginduksi ketidak seimbangan, bising.
c. Jantung : antinia, kelainan katup.

d. Neurologi : perubahan status mental, defisit fokal, neuropati perifer,


kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor.
e. Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi
problem kaki (podiaktrik), deforinitas

3. Assesmen Fungsional
Dilakukan observasi atau pencanan terhadap:
a. Fungsi gait dan keseimbangan : obsevasi pasien ketika bangku
dan duduk dikursi, ketika berjalan, ketika membelok atau berputar
badan, ketika mau duduk dibawah.
b. Mobilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat
bantu, memakai kursi roda atau dibantu.
c. Aktifitas kehidupan sehari-hari : mandi, berpakain, bepergian,
kontinens.

C. Penata Laksanaan
Tujuan penata laksanaan ini untuk mencegah terjadiriya jatuh berulang
dan menerapi komplikasi yang terjadi, mengembalikan fungsi AKS terbaik,
mengembalikan kepercayaan diri penderita.

Penatalaksaan penderita jatuh dengan mengatasi atau ininiliininasi faktor


risiko, penyebab jatuh dan menangani komplikasinya. Penatalaksanaan
ini harus terpadu dan membutuhkan kerja tim yang terdiri dari dokter
(genaktrik, neurologik, bedah ortopedi, rehabilitasi medik, psikiatrik, dan
lain-lain), sosiomedik, arsitek dan keluarga penderita.

Penatalaksanaan besifat individual, artinya berbeda untuk setiap kasus


karena perbedaan faktor-faktor yang bekerja sama mengakibatkan jatuh.
Bila penyebab merupakan penyakit akut penanganannya menjadi lebih
mudah, sederhana, dan langsung bisa menghilangkan penyebab jatuh
secara efektif tetapi lebih banyak pasien jatuh karena kondisi kronik,
multifaktorial sehingga diperlukan terapi gabungan antara obat
rehabilitasi, perbaikan lingkungan, dan perbaikan kebiasaan lansia itu.
Pada kasus lain intervensi dilakukan untuk mencegah terjadiriya jatuh
ulangan, inisalnya pembatasan bepergian/aktifitas fisik, penggunaan alat
bantu gerak.

Untuk penderita dengan kelemahan otot ekstreinitas bawah dan


penurunan fungsional terapi difokuskan untuk meningkatkan kekuatan
dan ketahanan otot sehingga memperbaiki fungsionalnya. Sayangnya
sering terjadi kesalahan, terapi rehabilitasi hanya diberikan sesaat
sewaktu penderita mengalaini jatuh, padahal terapi ini diperlukan terus
menerus sampai terjadi peningkatan kekuatan otot dan status fungsional.
Penelitian yang dilakukan dalam waktu 1 tahun di Amerika serikat
terhadap pasien jatuh umur lebih dari 75 tahun, didapatkan peningkatan
kekuatan otot dan ketahanannya baru terlihat nyata setelah menjalani
terapi rehabilitasi 3 bulan, semakin lama lansia melakukan latihan
semakin baik kekuatannya.

Terapi untuk penderita dengan penununan gait dan keseimbangan


difokuskan untuk mengatasi/mengeliininasi penyebabnya/faktor yang
mendasarinya penderita dimasukkan dalam program gait trenhing.

Latihan strengthening dan pemberian alat bantu jalan. Biasanya program


rehabilitasi ini dipimpin oleh fisioterapis. Program ini sangat membantu
penderita dengan stroke, fraktur kolum femonis, arthritis, parkinsonisme.

Penderita dengan dissines sindrom, terapi ditunjukkan pada peyakit


kardiovaskuler yang mendasari, menghentikan obat-obat yang
menyebabkan hipotensi postural seperti beta bloker, diuretik, anti
depresan dan lain-lain.

Terapi yang tidak boleh dilupakan adalah memperbaiki lingkungan rumah/


tempat kegiatan lansia seperti dipencegahan jatuh.

D. Checklist Assessment Risiko Jatuh


1. Indikator usaha menurunkan risiko cedera karena jatuh
a. Semua pasien baru diriilai risiko jatuhnya dan penilaian diulang jika
diindikasikan oleh perubahan kondisi pasien atau pengobatan, dan
lain nya
b. Hasil pengukuran dimonitor dan ditindaklanjuti sesuai derajat risiko
jatuh pasien guna mencegah pasien jatuh serta akibat tak terduga
lainnya
2. Prosedur
a. Seluruh pasien rawat inap diriilai risiko jatuhnya dengan
menggunakan checklist penilaian risiko jatuh
b. Pasien anak memakai formulir : checklist penilaian risiko pasien
anak skala Humpty Dumpty
c. Pasien dewasa memakai formulir : penilaian risiko jatuh dewasa
skala jatuh Morse (Morse Fall ScaIe/MFS)
d. Pengkajian risiko ulang dilakukan jika ada perubahan kondisi, atau
pengobatan
3. Check list penilaian risiko jatuh pasien anak: skala Humpty Dumpty
pasien rawat inap
Parameter
Umur

Kriteria
Dibawah 3 tahun
3 - 7 tahun

Skor
4
3

Jenis Kelamin

Daignosa

Gangguan Kognitif
Faktor Lingkungan

Respon Terhadap
Operasi/Obat
PenenanglEfek
Anestesi

Penggunaan Obat

7 - 13 tahun
> 13 tahun
Laki-laki
Perempuan
Kelainanan Neurologi
Perubahan dalam oksigenasi (masalah saluran
nafas, dehidrasi, aneinia, anoreksia, sinkop/sakit
kepala dll)
Kelainan psikis/perilaku
Diagnosa lain
Tidak sadar terhadap keterbatasan
Lupa keterbatasan
Mengetahui kemampuan diri
Riwayat jatuh dan tempat tidur saat bayi - anak

2
1
2
1
4
3

Pasien menggunakan alat bantu atau box atau


mebel
Pasien berada di tempat tidur
Di Luar ruang rawat
Dalam 24 Jam
Dalam 48 Jam riwayat jatuh
> 48 Jam

Bermacam-macam obat yang digunakan: obat


sedatif (kecuali pasien ICU yang menggunakan
sedasi dan paralisis), Hipnotik, Barbiturat,
Fenotiazin, Antidepresan, Laksans I Diuretika,
Narkotik)
Salah satu dari pengobatan diatas
Pengobatan lain-lain
Total

2
1
3
2
1
4

2
1
3
2
1

2
1

Keterangan :
Risiko Tinggi
= 12
Risiko Rendah
= 7 - 11
Skor Ininimal
=7
Skor Maksimal
= 23
4. Protokol pencegahan pasien jatuh pasien anak
a. Standar Risiko Rendah (skor 7 - 11)
1) Orientasi ruangan
2) Posisi tempat tidur rendah dan ada remnya
3) Ada pengaman samping tempat tidur dengan 2 atau 4 sisi
pengaman.
Mempunyai luas tempat tidur yang cukup untuk mencegah
tangan dan kaki atau bagian tubuh lain terjepit

4) Menggunakan alas kaki yang tidak licin untuk pasien yang


dapat berjalan
5) Nilai kemampuan untuk ke kamar mandi dan bantu bila
dibutuhkan
6) Akses untuk menghubungi petugas kesehatan mudah
dijangkau.
Terangkan kepada pasien mengenai fungsi dan alat tersebut
7) Lingkungan harus bebas dan peralatan yang mengandung
risiko
8) Penerangan lampu harus cukup
9) Penjelasan pada pasien dan keluarga harus tersedia
10)Dokumen pencegahan pasien jatuh ini harus berada pada
tempatnya
b. Standar Risiko Tinggi (skor 12)
1) Pakaikan gelang risiko jatuh berwarna kuning
2) Terdapat tanda peringatan pasien risiko jatuh
3) Penjelasan pada pasien atau orang tuanya tentang protokol
pencegahan pasien jatuh
4) Cek pasien minimal setiap satu jam
5) Temani pasien pada saat mobilisasi
6) Tempat tidur pasien harus disesuaikan dengan perkembangan
tubuh pasien
7) Pertimbangkan penempatan pasien, yang perlu diperhatikan
diletakkan dekat Nurse Station
8) Perbandingkan pasien dengan perawat 1:3, Iibatkan keluarga
pasien sementara perbandingan belum memadai
9) Evaluasi terapi yang sesuai. Pindahkan semua peralatan yang
tidak dibutuhkan keluar ruangan
10)Pencegahan pengamanan yang cukup, batasi ditempat tidur
11) Berikan pintu terbuka setiap saat kecuali pada pasien yang
membutuhkan ruang isolasi
12)Tempatkan pasien pada posisi tempat tidur yang rendah kecuali
pada pasien ditunggu keluarga
13)Semua kegiatan yang dilakukan pada pasien harus di
dokumentasikan
5. Check list penilaian risiko jatuh pasien dewasa : Skala Jatuh Morse
(Morse Fall Scale/MFS)
Faktor Resiko

Skala

Riwayat Jatuh Yang Baru atau


Dalam 3 Bulan Terakhir

Ya
Tidak

Score
Hasil
Standar
25
0

Ya
Tidak
Furniture
Menyokong Tongkat /
Menggunakan Alat Bantu
Alat Penopang / Walker
Bed Rest
Ya
Heparin
Tidak
Terganggu
Gaya Berjalan
Lemah
Lupa/Pelupa
Kesadaran
Baik
Jumlah Score
Keterangan:
Risiko Tinggi (Alert Segitiga Merah)
= 15
Risiko Sedang (Alert Segitiga Kuning) = 25 - 44
Risiko Rendah (Alert Segitiga Hijau)
= 24
Diagnosis Medis Sekunder > 1

15
0
30
15
0
20
0
20
10
15
0

6. Cara Melakukan Scoring


a. Riwayat Jatuh
1) Skor 25 pasien pernah jatuh sebelum perawatan saat ini, atau
jika ada riwayat jatuh fisiologis karena kejang atau gangguan
gaya berjalan menjelang dirawat
2) Skor 0 bila tidak pemah jatuh
3) Catatan : bila pasien jatuh untuk pertama kali skor langsung 25
b. Diagnosis Sekunder
1) Skor 15 jika diagnosis medis lebih dan satu dalam status pasien
2) Skor 0 jika tidak
c. Bantuan beijalan
1) Skor 0 jika pasien berjalan tanpa alat bantu/dibantu,
menggunakan kursi roda, atau tirah baring dan tidak bangkmt
dan tempat tidur sama sekali
2) Skor 15 jika pasien menggunakan kruk, tongkat atau walker
3) Skor 30 jika pasien berjalan mencengkram furniture untuk
topangan
d. Menggunakan Infus
1) Skor 20 jika pasien di infus
2) Skor 0 jika tidak
e. Gaya berjalanltransfer
1) Skor 0 jika gaya berjalan normal dengan ciri beijalan dengan
kepala tegak, lengan terayun bebas disamping tubuh, dan
melangkah tanpa ragu-ragu
2) Skor 10 jika gaya berjalan lemah, membungkuk tapi dapat
mengangkat kepala saat beijalan tanpa kehilangan
keseimbangan. Langkah pendek-pendek dan mungkin diseret

3) Skor 30 jika gaya beqalan terganggu, pasien mengalaini


kesulitan bangkit dan kursi, berupaya bangun dengan
mendorong
lengan
kursi
atau
dengan
melambung
(menggunakan beberapa kali upaya untuk bangkit). Kepala
tertunduk, melihat kebawah. Karena keseimbangan pasien
buruk, beliau mengenggam furniture, orang atau alat bantu
jalan dan tidak dapat berjalan tanpa bantuan.
f. Status mental
Skor 0 jika penilaian diri terhadap kemampuan berjalannya normal.
Tanyakan pada pasien, Apakah bapak/ibu dapat pergi ke kamar
mandi sendirii atau penlu bantuan? ujika jawaban hasil menilai
diriinya konsisten dengan kemampuan ambulasi, pasien diriilai
normal.

7. Tingkat Risiko Ditentukan Sebagai Berikut


Timgkat Resiko
Tindakan beresiko
Resiko rendah
Resiko tinggi

Skor MFS
0 24
25 50
> 51

Tindakan
Perawatan yang baik
Lakukan intervensi jatuh standar
Lakukan intervensi jatuh risti

a. lntervensi Jatuh Standar


1) Tingkatkan observasi bantuan yang sesuai saat ambulasi
2) Keselamatan lingkungan : hindari ruangan yang kacau balau,
dekatkan bel dan telfon, biarkan pintu terbuka, gunakan lampu
malam hari serta pagar tempat tidur
3) Monitor kebutuhan pasien secara berkala (minimal tiap dua
jam) : tawarkan kebelakang (kamar kecil) secara teratur
4) Edukasi perilaku yang lebih aman saat jatuh atau transfer
5) Gunakan alat bantu jalan (walker, handrail)
6) Anjurkan pasien menggunakan kaos kaki atau sepatu yang
tidak licin
b. Intervensi Jatuh Risiko Tinggi
1) Pakaikan gelang risiko jatuh berwarna kuning
2) Intervensi jatuh standar
3) Strategi mencegah jatuh dengan penilaian jatuh yang Iebih
detail seperti analisa cara berjalan sehingga dapat ditentukan
intervensi spesifik seperti menggunakan terapi fisik atau alat
bantu jalan jenis terbaru untuk membantu mobilisasi
4) Pasien ditempatkan dekat nurse station
5) Handrail mudah dijangkau pasien dan kokoh

6) Siapkan dijalan keluar dan tempat tidur : alat bantu jalan,


komod
7) Lantai kamar mandi dengan karpet anti slip/tidak licin, serta
anjuran menggunakan tempat duduk di kamar mandi saat
pasien mandi
8) Dorong partisipasi keluarga dalam keselamatan pasien.
9) Jangan tinggalkan pasien sendirii dikamar, samping tempat
tidur atau toilet

BAB IV
DOKUMENTASI

Pendokumentasan risiko pasien jatuh di RSUD H. Andi Sulthan Daeng


Radja, meliputi :
1. Rekam medis, meliputi:

a. Form RM 002 Triase dan Pengkajiari IGD


b. Form RM 007 Pengkajian Keperawatari Awal Pasien Masuk IRNA
c. Form RM 008 Pengkajian Kebidanan dan Kandungan Rawat inap
d. Form RM 057 Pengkajian Restraian
e. Form RM 082 Check List Penilaian Risiko Jatuh Pasien Anak Skala
Humpty Dumpty Pasien Rawat inap
f. Form RM 083 Check List Penilaian Risiko Jatuh Pasien Dewasa
Skala Jatuh Morse (Morse Fall Scale/MFS)
2. Gelang pasien risiko jatuh

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA
KABUPATEN BULUKUMBA

STANDAR PROSEDUR
OPRASIONAL

PEMASANGAN GELANG PASIEN RISIKO JATUH


Nomor Dokumen

Tanggal

Nomor Revisi
0

Halaman 1/2

Direktur,

Dr. Hj. Wahyuni AS, MARS


NIP. 19641121 199803 2 002
PENGERTIAN

Proses penandaan pada pasien risiko jatuh untuk pasien yang akan
mendapatkan pelayanan perawatan dan terapi di rawat inap

TUJUAN

1. Memudahkan identifikasi pada pasien yang mempunyai risiko


jatuh
2. Memberikan tindakan pencegahan agar pasien tidak terjatuh
saat diberikan pelayanan di rumah sakit

KEBIJAKAN

1. Undang - Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan


Konsumen
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1691 /Menkes/PER/VII/2011 tentang
Keselamatan Pasien di Rumah Sakit
3. Keputusan Direktur RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Nomor

298/SK/RSUD-BLK/01.VII/2015
Panduan Pasien Risiko Jatuh

PROSEDUR

tentang

Pemberlakukan

1. Pastikan identitas pasien pada form identitas (untuk pasien


dengan gangguan jiwa) pasangkan klip risiko jatuh pada form
identitas
2. Pasien non jiwa : cuci tangan
3. Ucapkan salam
4. Perkenalkan dirI
5. (Untuk pasien NAPZA Non jiwa), Mintah pasien menyebutkan
nama dan tanggal lahir kemudian mencocokkan dengan gelang
identitas.
(Untuk pasien dengan ganguan jiwa), mintah pasien
menyebutkan
6. (Untuk pasien NAPZA Non jiwa), jelaskan tujuan dan prosedur
tindakan pemasangan penanda kIip (tujuan ditambahkan
penandalklip wama kuning untuk memudahkan petugas
mencegah dan mengawas kemungkinan risiko jatuh)
7. Tanyakan kesiapan pasien
8. Petugas memasangkan klip wama kuning pada gelang pasien
dan form identitas pasien (untuk pasien NAPZA
Non jiwa). Pada pasien denqan gangguan jiwa maka

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


H. ANDI SULTHAN DAENG RADJA
KABUPATEN BULUKUMBA

STANDAR PROSEDUR
OPRASIONAL

PEMASANGAN GELANG PASIEN RISIKO JATUH


Nomor Dokumen

Nomor Revisi
0

Tanggal

Halaman 2/2

Direktur,

Dr. Hj. Wahyuni AS, MARS


NIP. 19641121 199803 2 002
kuning dipasangkan form identitas pasien dan baju pasien di
sablong dengan wama kuning diatas dada kiri
9. Cuci tangan

UNIT TERKAIT
1. Instalasi Rawat Jalan
2. Instalasi Rawat inap

3.
4.
5.
6.
7.

Instalasi Gawat Darurat


Instalasi Perawatan Intensif
Instalasi Laboratorium
Instalasi Fisioterapi
Unit Kamar Bersalin