Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS

NEURODERMATITIS
Oleh : Metta Maulida Rizqia Haq(030.11.190)
I. PENDAHULUAN
Neurodermatitis adalah peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip ditandai dengan kulit
tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol menyerupai batang kayu, akibat garukan atau
gosokan yang berulang-ulang karena berbagai rangsangan pruritogenik.Pruritus memainkan
peran sentral dalam timbulnya pola reaksi kulit berupa likenifikasi dan prurigo nodularis.
Hipotesis mengenai pruritus dapat oleh karena adanya penyakit yang mendasari, misalnya gagal
ginjal kronis, obstruksi saluran empedu, diabetes melitus, penyakit kulit yang mendasari seperti
dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi, gigitan serangga dan aspek psikologik dengan tekanan
emosi.(1)
Penderita mengeluh gatal sekali, bila timbul malam hari dapat mengganggu tidur. Rasa
gatal memang tidak terus menerus, biasanya pada waktu sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk
tidak digaruk. Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit edematosa,
lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah berskuama dan menebal, likenifikasi
dan ekskoriasi; sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan kulit normal tidak jelas. Gambaran
klinis dipengaruhi juga oleh lokasi dan lamanya lesi.(1)
Neurodermatitis jarang terjadi pada anak, tetapi lebih sering terjadi pada dewasa ke atas,
terutama pada usia 30 50 tahun. Kasus neurodermatitis pada wanita lebih banyak dibanding
pada pria.Keluhan penderita biasanya adalah rasa gatal yang amat sangat dan dapat mengganggu
tidur. Rasa gatal tidak terus menerus, biasanya pada saat tidak sibuk dan bila muncul sangat sulit
untuk menahan keinginan untuk menggaruk. Penderita merasa enak setelah digaruk hingga luka
setelah rasa gatal hilang digantikan dengan rasa nyeri.(1)
Gatal merupakan gejala yang paling dominan dan memicu keinginan untuk menggaruk,
yang lama kelamaan dapat berkembang menjadi plak likenifikasi. sehingga menimbulkan suatu
kondisi kronis pada kulit yang disebabkan oleh kebiasaan menggaruk yang terus menerus.
Lokasi paling umum adalah tengkuk , pergelangan kaki , daerah anogenital dan kulit kepala .

(2)

(3)

Prevalensi neurodermatitis di dunia dalam angka pasti belum diketahui.Dalam suatu penelitan

dari kelompok yang merasa kulitnya gatal, 12% dari golongan tersebut termasuk kedalam
neurodermatitis.(4)
Di RSUD Kardinah Tegal tahun 2015 terdapat 117 kasus neurodermatitis baru. Dari 117 kasus
baru, 47 kasus baru terdiri dari laki-laki dan 70 kasus baru terdiri atas perempuan.Jumlah kasus
neurodermatitis berdasarkan kelompok usia yaitu 0 untuk usia <4 tahun, 6 kasus untuk usia 5-14
tahun, 19 kasus untuk usia 15-24 tahun, 38 kasus untuk usia 25-44 tahun, 40 kasus untuk usia
45-64 tahun dan 14 kasus untuk usia > 65 tahun.
Gambar 1. Prevalensi Neurodermatitis Berdasarkan Jenis Kelamin di RSUD
Kardinah Tahun 2015

Gambar 2. Prevalensi Neurodermatitis Berdasarkan Kelompok Usia di RSUD


Kardinah Tahun 2015

II. KASUS
Seorang wanita berusia 49 tahun dengan pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga, beralamat
di Jl. Mawar Gg.4 No.30, beragama Islam, suku bangsa Jawa, berpendidikan terakhir SLTP
berstatus sudah menikah, datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal pada
tanggal 24 Maret 2016 pukul 10.00 WIM dengan keluhan utama bruntus-bruntus merah, terasa
gatal dan terasa menebal disertai bersisik pada punggung tangan kanan.
A. Anamnesis Khusus
(Autoanamnesis pada hari Kamis tanggal 24Maret 2016 pukul 10.00 WIB di Poliklinik
Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal)
Pasien mengeluh terdapat bruntus-bruntus merah,terasa gatal dan terasa menebal disertai
bersisik yang terasa pada punggung tangan kanan sejak satu tahun yang lalu. Satu tahun yang
bruntus-bruntus merah tersebut berawal dari tangan yang yang tersiram minyak goreng di
sebagian kecil punggung tang kanan dan sedikit cipratan minyak goring di tangan kiri. Kemudian
pasien memberikan garam di tempat lokasi luka akibat minyak goreng tersebut sehingga kulit
yang luka terlihat seperti melepuh. Kemudian selama berangsur-angsur dan masa penyembuhan
kulit mulai membaik kembali dan meninggalkan bercak berwarna coklat dan sering terasa gatal.
Lima bulan kemudian pasien mengatakan bercak coklat sebelumnya timbul semakin
melebar tidak terasa nyeri namun lebih terasa gatal, sehingga pasien sering menggaruknya.
Karena sering digaruk hingga kulit lecet dan lama kelamaan terasa semakin menebal dan
permukaan kulit yang sering mengelupas. Selain itu kulit juga terasa semakin kering dan menjadi
sedikit lebih gelap dan berbatas tegas dibanding kulit sekitarnya. Kemudian karena hal ini terasa
semakin mengganggu pasien memeriksakan diri ke poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD
Kardinah. Kemudian pasien mengatakan diberikan obat minum berupa CTM. Selain itu, pasien
juga diberikan salep berwarna putihyang dioleskan dua kali sehari selama hampir satu minggu,
tetapi pasien mengatakan lupa nama salep tersebut.Pasien mengatakan gejala bruntus-bruntus
merah yang disertai gatal semakin berangsur-angsur membaik hingga keluhan gatal menghilang
meskipun bercak coklat di punggung tangan tidak menghilang. Keluhan tidak timbul kembali
dalam satu bulan selanjutnya.
Satu bulan kemudian pasien mengatakan keluhan bruntus-bruntus merah terasa gatal, kulit
terasa menebal dan bersisik timbul kembali. Pasien mengatakan keluhan gatal kerap timbu

sewaktu-waktu terutama saat pasien sedang menonton tv dan juga menjelang tidur malam hari.
Kemudian pasien datang kembali memeriksakan diri ke RSUD Kardinah. Kemudian pasien
mengatakan diberikan obat salep racikan berwarna putih ditempatkan di pot, dioleskan 2 kali
sehari di lokasi luka pagi dan sore hari. Obat tersebut diberikan untuk 1 minggu selanjutnya.
Pasien mengatakan keluhan berkurang selama menggunakan obat dan timbul kembali ketika obat
habis.
Sebelum berobat di RSUD Kardinah pasien pernah datang ke Puskesmas, namun di
Puskesmas pasien tidak mendapatkan pengobatan sehingga langsung diberikan surat rujukan
untuk dapat dilakukan pemeriksaan di RSUD Kardinah.
Pasien mengatakan kurang lebih 15 tahun yang lalu pasien pernah mengalami giduran atau
bentolbantol berukuran besar berwarna merah terasa gatal diseluruh tubuh yang kerap timbul
apabila terpapar udara dingin. Namun pasien menyangkal adanya asma, flu atau alergi yang
sering timbul, bersin pagi hari juga disangkal.
Pasien menyangkal pernah mendapati sisik yang menyertai bruntus-bruntus merah tersebut
terasa tebal, kasar, dan berlapis. Pasien juga menyangkal pernah mendapati bercak tersebut pada
bagian seperti siku dan lutut. Pasien juga menyangkal jika saat menggaruk bagian bercak
tersebut akan terlihat perdarahan berupa titik-titik kecil ataupun pada kulit yang sehat jika
digaruk akan terbentuk lesi yang mirip dengan lesi yang sudah ada sebelumnya. Pasien juga
menyangkal adanya kelainan lain yang muncul didaerah bukal, lidah dan bibir. Pasien
menyangkal adanya riwayat penyakit kencing manis, gagal ginjal kronis, dan riwayat
pembesaran kelenjar tiroid. Tidak ada anggota keluarga yang tinggal satu rumah yang memiliki
keluhan sama seperti pasien.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Status Generalis

Keadaan Umum

: Baik, tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital

Tekanan darah

: 110/80 mmHG

Nadi

: 88x/menit

Suhu

: 36,8o C

Pernafasan

: 18x/menit

Berat badan

: 65 kg

Tinggi

: 160 cm

Status gizi

: Overwight (BMI = 25,4)

Kepala

: Normocephali

Kulit kepala

: Tidak tampak kelainan kulit yang bermakna

Mata

: Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)

Hidung

: Tidak ada septum deviasi, sekret (-)

Mulut

: Bibir sianosis (-), karies gigi (-), geographic tongue (-),


tonsil T1-T1 tenang, faring tidak hiperemis

Telinga

: Normotia, serumen -/-

Leher

: Tidak terdapat pembesaran KGB dan tiroid

Toraks

- Paru
Inspeksi
Auskultasi

: Kedua lapang paru simetris saat statis dan dinamis


:Suara napas vesikuler pada kedua lapang paru, ronki (-/-),
wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi

: Tidak tampak pulsasi iktus kordis

Auskultasi : Bunyi jantung I /II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi

: Datar

Auskultasi

: Bising usus (+)

Genitalia

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas

Superior

: Oedem (-), deformitas (-), kelainan kulit (-), kelainan

kuku : diskolorasi (-), pitting nail (-), onikolisis (-).

Inferior

: Oedem (-), deformitas (-), kelainan kulit (-), kelainan

kuku : diskolorasi (-), pitting nail (-), onikolisis (-).


2. Status Dermatologikus

Distribusi : Regional

Ad Regio

: Dorsum manus dekstra-sinistra

Lesi

: Multipel, diskret, bentuk bulat, sirkumskripta, menonjol dari

permukaan kulit, ukurannumularis,kering

Efloresensi : makula hiperpigmentasi, skuama, likenifikasi

Gambar 3. Daerah punggung tangan kanan

Gambar 4.Daerah punggung tangan kanan (diperbesar)

Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
C. Resume
Seorang wanita berusia 49 tahun dengan pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga, beralamat
di Jl. Mawar Gg.4 No.30, beragama Islam, suku bangsa Jawa, berpendidikan terakhir SLTP
berstatus sudah menikah, datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal pada
tanggal 24 Maret 2016 pukul 10.00 WIM dengan keluhan utama bruntus-bruntus merah, terasa
gatal dan terasa menebal disertai bersisik pada punggung tangan kanan.
Dari anamnesis didapatkan, keluhan berupa bruntus-bruntus merah,terasa gatal dan terasa
menebal disertai bersisik yang terasa pada punggung tangan kanan sejak satu tahun yang lalu.
Satu tahun yang bruntus-bruntus merah tersebut berawal dari tangan yang yang tersiram minyak
goreng di sebagian kecil punggung tang kanan dan sedikit cipratan minyak goring di tangan kiri.
Kemudian pasien memberikan garam di tempat lokasi luka akibat minyak goreng tersebut
sehingga kulit yang luka terlihat seperti melepuh. Kemudian selama berangsur-angsur dan masa
penyembuhan kulit mulai membaik kembali dan meninggalkan bercak berwarna coklat dan
sering terasa gatal.
Lima bulan kemudian pasien mengatakan bercak coklat sebelumnya timbul semakin
melebar tidak terasa nyeri namun lebih terasa gatal, sehingga pasien sering menggaruknya.
Karena sering digaruk hingga kulit lecet dan lama kelamaan terasa semakin menebal dan
permukaan kulit yang sering mengelupas. Selain itu kulit juga terasa semakin kering dan menjadi
sedikit lebih gelap dan berbatas tegas dibanding kulit sekitarnya.
Pasien mengatakan kurang lebih 15 tahun yang lalu pasien pernah mengalami giduran atau
bentolbantol berukuran besar berwarna merah terasa gatal diseluruh tubuh yang kerap timbul
apabila terpapar udara dingin. Namun pasien menyangkal adanya asma, flu atau alergi yang
sering timbul, bersin pagi hari juga disangkal.
Pasien menyangkal pernah mendapati sisik yang menyertai bruntus-bruntus merah tersebut
terasa tebal, kasar, dan berlapis. Pasien juga menyangkal pernah mendapati bercak tersebut pada
bagian seperti siku dan lutut. Pasien juga menyangkal jika saat menggaruk bagian bercak
tersebut akan terlihat perdarahan berupa titik-titik kecil ataupun pada kulit yang sehat jika

digaruk akan terbentuk lesi yang mirip dengan lesi yang sudah ada sebelumnya. Pasien juga
menyangkal adanya kelainan lain yang muncul didaerah bukal, lidah dan bibir. Pasien
menyangkal adanya riwayat penyakit kencing manis, gagal ginjal kronis, dan riwayat
pembesaran kelenjar tiroid. Tidak ada anggota keluarga yang tinggal satu rumah yang memiliki
keluhan sama seperti pasien.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal. Status
dermatologikus didapatkan distribusi regional pada punggung tangan kanan. Lesi Multipel,
diskret, bentuk bulat, sirkumskripta, menonjol dari permukaan kulit, ukurannumularis,kering.
Efloresensinya adalah makula hiperpigmentasi, skuama dan likenifikasi.
D. Diagnosis Banding
Neurodermatitis
Psoriasis
Liken planus
Dermatitis atopi
E. Diagnosis Kerja
Neurodermatitis
F. Usulan Pemeriksaan
a. Neurodermatitis
Pemeriksaan Histopatologi:
Gambaran berupa ortokeratosis, hipergranulosis, akantosis dengan rate ridges
memanjang teratu. Bersebukan sel radang limfosit dan histiosit di sekitar pembuluh
darah dermis bagian atas, fibroblas bertambah, kolagen menebal. Pada prorigo
nodularis akantosis pada bagian tengah lebih tebal, menonjol lebih tinggi dari
permukaan, sel Schwan berproliferasi, dan terlihat hiperplasi neural. Kadang terlihat
krusta yang menutup sebagian epidermis.
G. Penatalaksanaan
1. Umum

Memberikan edukasi untuk tidak menggaruk bagian kulit yang terasa gatal.

Memberikan edukasi kepada pasien mengenai penyakit yang diderita serta


pengobatannya.

Memotivasi pasien untuk kontrol dengan rutin dan tidak menghentikan


pengobatan tanpa seizin dokter.

2. Khusus

Oral
-

Anti histamine

: Cetirizine 1x10 mg

Topikal
-

Kortikosteroid topikal : Bethametasone dipropionate 0,05% dalam bentuk


salep yang dioleskan pagi hari dan Clobetasol propionate 0,05% dalam
bentuk dioleskan pada sore dan malam hari pada punggung kaki kanan.

Decubal dalam bentuk cream dioleskan pada pagi dan sore hari.

H. Prognosis

ad vitam

ad functionam

: ad bonam

ad sanationam

: dubia ad bonam

: ad bonam

III. PEMBAHASAN
Neurodermatitis adalah peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip ditandai
dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol menyerupai batang kayu, akibat
garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai rangsangan pruritogenik.Pruritus
memainkan peran sentral dalam timbulnya pola reaksi kulit berupa likenifikasi dan prurigo
nodularis. Hipotesis mengenai pruritus dapat oleh karena adanya penyakit yang mendasari,
misalnya gagal ginjal kronis, obstruksi saluran empedu, diabetes melitus, penyakit kulit yang
mendasari seperti dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi, gigitan serangga dan aspek
psikologik dengan tekanan emosi.(1)
Penderita mengeluh gatal sekali, bila timbul malam hari dapat mengganggu tidur. Rasa
gatal memang tidak terus menerus, biasanya pada waktu sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk

tidak digaruk. Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit edematosa,
lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah berskuama dan menebal, likenifikasi
dan ekskoriasi; sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan kulit normal tidak jelas. Gambaran
klinis dipengaruhi juga oleh lokasi dan lamanya lesi.(1)
Neurodermatitis jarang terjadi pada anak, tetapi lebih sering terjadi pada dewasa ke atas, terutama
pada usia 30 50 tahun. Kasus neurodermatitis pada wanita lebih banyak dibanding pada pria.Keluhan
penderita biasanya adalah rasa gatal yang amat sangat dan dapat mengganggu tidur. Rasa gatal tidak terus
menerus, biasanya pada saat tidak sibuk dan bila muncul sangat sulit untuk menahan keinginan untuk
menggaruk. Penderita merasa enak setelah digaruk hingga luka setelah rasa gatal hilang digantikan
dengan rasa nyeri.(1)

Gambaran klinis lesi biasanya tunggal, dapat pula lebih dari satu. Awalnya berupa plak
eritematosa dan edema atau kelompok papul. Selanjutnya karena garukan yang terus menerus
maka bagian tengah akan menebal, kering dan berskuama. Tepi hiperpigmentasi serta batas
tegas. Ukuran lesi lentikular sampai plakat, umumnya lonjong. Letak lesi dapat dimana saja, asal
mudah dicapai dengan tangan. Tetapi yang biasa menjadi predileksi dari neurodermatitis adalah
skalp, tengkuk, sisi leher, lengan bagian ekstensor, pubis, vulva, skrotum, perianal, paha bagian
medial, lutut, tungkai bawah lateral, pergelangan kaki bagian depan dan punggung kaki.(1)
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien, terdapat lesi di punggung
tangan kanan yang gejala klinis dan efloresensi nya mengarah kepada neurodermatitis. Adapun
diagnosis banding pada kasus ini, yaitu: psoriasis, liken plaus dan dermatitis atopik.
Psoriasis ialah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif. Ditandai
dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar. Jika skuama
digores menunjukkan tanda tetesan lilin. Pada psoriasis terdapat 2 fenomena, yaitu Koebner dan
Auspitz. Predileksi penyakit ini biasanya pada perbatasan daerah scalp ,perbatasan saerah scalp
denggan wajah, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku dan lutut, serta daerah lumbosakral. (4)
Pada namun pada kasus pasien ini tidak ditemukan tanda tetesan lilin yang khas pada psoriasis.

Gambar 5. Psoriasis

Liken planus ditandai dengan timbulnya papul-papul yang mempunyai warna dan
konfigurasi yang khas. Papul-paul berwarna merah biru dan polygonal,berskuama berbentuk
siku-siku. Kadang-kadang ada cekungan di sentral (delle).Garis-garis anyaman berwarna putih
(strie Wickham) dapat dilihat pada permukaan papul.Tempat predileksi kelainan utama adalah
pada ekstremitasbawah danlebih sering di fleksor bagian pergelangan tangan atau lengan bawah,
distribusinya simetrik. Sangat gatal umumnya membaik dalam 1-2 tahun. Pada pasien tidak
terdapat tanda-tanda liken planus yang khas.(5)

Gambar 6. Liken Planus

Dermatitis atopik adalah dermatitis kronis dan residif, disertai gatal, yang umumnya sering
terjadi pada masa bayi dan anak-anak, berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum
dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita (dermatitis atopik, rhinitis alergika dan atau asma
bronkial).(6)Pada dewasa distribusi dermatitis atopik kurang karakteristik sering mengenai tangan
dan pergelangan tangan dapat pula ditemukan setempat misalnya di bibir, vulvva dan skalp. Lesi
kering agak menimbul papul datar dan cenderung bergabung menjadi plak likenifikasi dengan
sedikit skuama dan sering terjadi ekskoriasi dan eksudasi karena garukan. Pada remaja dan
dewasa dermatitis atopik berlangsung lama kemudian cendurung membaik setelah usia 30 tahun
jarang sampai usia pertengahan hanya sebagian kecil berlangsung sampai tua. (7). Pada kasus ini,
pasien mengatakan kurang lebih 15 tahun yang lalu pasien pernah mengalami giduran atau
bentol-bentol berukuran besar berwarna merah terasa gatal diseluruh tubuh yang kerap timbul
apabila terpapar udara dingin. Namun pasien menyangkal adanya asma, flu atau alergi yang
sering timbul, bersin pagi hari juga disangkal.

Gambar 7. Dermatitis Atopik


Pada kasus ini, terapi yang diberikan berupa kortikosteroid topikal Bethametason
dipropionate 0,05%, cara kerja obat ini yaitu mengurangi peradangan dengan menstabilkan
membran leukosit lisosom, mencegah pelepasan hidrolase asam yang merusak dari leukosit,
menghambat akumulasi makrofag di daerah yang meradang, mengurangi adhesi leukosit ke
kapiler endotelium, mengurangi permeabilitas dinding kapiler dan pembentukan edema,
penurunan komponen pelengkap, antagonis aktivitas histamin dan pelepasan kinin dari substrat
dan mengurangi proliferasi fibroblast, deposisi kolagen, dan pembentukan jaringan parut
berikutnya.
Selanjutnya adalah pemberian Clobetasol propionate 0,05%, cara kerja obat ini yaitu
menekan mitosis dan menambah sintesis protein yang mengurangi peradangan dan menyebabkan
vasokonstriksi. Selain itu, clobetasol juga secara bersamaan memiliki efek mengurangi
hiperkeratosis. Selanjutnya pemberian Decubal cream bertujuan untuk mengurangi efek kulit
kering yang terdapat pada neurodermatitis. Sediaan bentuk cream ini berfungsi sebagai emolien.
(8)

Emolien adalah bahan oklusif yang membantu hidrasi kulit dengan cara mengoklusi

permukaan kulit dan menahan air di stratum korneum. Sehingga mengurangi efek kulit kering
dan membantu mempertahankan kelembaban kulit. Selain itu juga diberikan antihistamin
cetirizine untuk simptomatis mengurangi keluhan gatal. (9)

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda S,.Sularsito SA. Dermatitis.Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Editors.


Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6. Jakarta:FKUI. 2010. p.147-8.
2. Hari B. Manogna A. Chandini M. Vidyadhara S. A case of Neurodermitis Circumscripta
with Generelized Pruritis. Int J Med Health Sci. Jan 2015, Vol 4; Issue-1. Available at:
http://www.ijmhs.net/articles/1421236494A_Case_of_Neurodermitis_Circumscripta_wit
h_Generalized_Pruritis.pdf. Accessed on 28 March 2016.
3. Hogan
DJ,Et
al.Lichen
simplex
chronicus.

Available

at:

http://emedicine.medscape.com/article/1123423-overview#a6 .Accesed on 28 March


2016.
4. Djuanda A. Dermatosis Eritroskuamosa. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S.
Editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6. Jakarta:FKUI. 2010. p.189-202
5. Natahusada EC. Liken Planus. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Editors. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6. Jakarta:FKUI. 2010. p.282-3
6. Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit.
Jakarta : EGC.
7. Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit.
Jakarta : EGC.
8. Decubal clinic. MIMS. Available at: http://www.mims.co.uk/drugs/skin/eczema-pruritus-dryskin-conditions/decubal-clinic. Accessed on: 28 March 2016.
9. Djuanda S,.Sularsito SA. Dermatitis.Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Editors.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 6. Jakarta:FKUI. 2010. p.138-147