Anda di halaman 1dari 21

Referat Abortus

OLEH:
Jordan Sugiarto 11 2015 385
Adnan Firdaus B. Husin 11 2015 285
Edy Sujono 11 2015 386
PEMBIMBING:
dr. Vinsensius Harry, Sp.OG
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN & KANDUNGAN
RUMAH SAKIT BAYUKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
PERIODE 4 JULI 10 SEPTEMBER 2016
1

BAB I
PENDAHULUAN

Kata abortus (aborsi, abortion) berasal dan bahasa Latin aboriri-keguguran (to
miscarry). Menurut ahli, abortus adalah persalinan kurang bulan sebelum usia janin yang
memungkinkan untuk hidup, dan dalam hal ini kata ini bersinonim dengan keguguran.
Abortus juga berarti induksi penghentian kehamilan untuk menghancurkan janin. Meskipun
dalam konteks medis kedua kata tersebut dapat dipertukarkan, pemakaian kata abortus oleh
orang awam mengisyaratkan penghentian kehamilan secara sengaja. Karena itu, banyak
orang cenderung memakai kata keguguran untuk menunjukkan kematian janin spontan
sebelum janin dapat hidup (viable). Yang makin membingungkan, pemakaian sonografi dan
pengukuran kadar gonadotropin korion manusia (hCG) secara luas memungkinkan kita
mengidentifikasi kehamilan pada tahap yang sangat dini bersama dengan istilah-istilah
untuk menjelaskan hal-hal di atas. Beberapa contoh adalah early pregnancy failure. Di
sepanjang buku ini, kami menggunakan semua kata-kata ini pada satu atau lain waktu.
Durasi kehamilan juga digunakan untuk mendefinisikan dan mengklasifikasikan
abortus untuk kepentingan statistik dan legal. Sebagai contoh, National Center for Health
Statistics, Centers for Disease Control and Prevention, dan World Health Organization
mendefinisikan abortus sebagai penghentian kehamilan sebelum gestasi 20 minggu atau
dengan janin memiliki berat lahir kurang dari 500 g. Meskipun demikian, definisi tetap
bervariasi sesuai hukum yang berlaku di masing-masing negara bagian.

BAB II
PEMBAHASAN

Abortus
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup
di luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat kurang
dari 500 gram.
Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan, sedangkan abortus
yang terjadi dengan sengaja dilakukan tindakan disebut abortus provokatus. abortus
provokatus ini dibagi 2 kelompok yaitu abortus provokatus medisinalis dan abortus
provokatus kriminalis. Disebut medisinalis bila didasarkan pada pertimbangan dokter untuk
menyelamatkan ibu. Di sini pertimbangan dilakukan oleh minimal 3 dokter spesialis yaitu
spesialis Kebidanan dan Kandungan, spesialis Penyakit Dalam, dan Spesialis Jiwa. Bila perlu
dapat ditambah pertimbangan oleh tokoh agama terkait. setelah dilakukan terminasi
kehamilan, harus diperhatikan agar ibu dan suaminya tidak terkena trauma psikis di
kemudian hari.
Angka kejadian abortus yang diketahui, 15 - 20 % merupakan abortus spontan atau
kehamilan ektopik. Sekitar 5 % dari pasangan yang mencoba hamil akan mengalami 2
keguguran yang berurutan, dan sekitar 1 % dari pasangan mengalami 3 atau lebih keguguran
yang berurutan. Rata-rata terjadi 114 kasus abortus per jam. Sebagian besar studi
menyatakan kejadian abortus spontan antara 15 - 20 % dari semua kehamilan. Kalau dikaji
lebih jauh kejadian abortus sebenarnya bisa mendekati 50 %. Hal ini dikarenakan tingginya
angka chemical pregnancy loss yang tidak bisa diketahui pada 2 - 4 minggu setelah konsepsi.
Abortus habitualis adalah abortus yang terjadi berulang tiga kali secara berturut-turut.
Kejadiannya sekitar 3-5 %. Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1 kali
abortus spontan, pasangan punya risiko 15 % untuk mengalami keguguran lagi, sedangkan
bila pernah 2 kali, risikonya akan meningkat 25 %. Beberapa studi meramalkan bahwa risiko
abortus setelah 3 abortus berurutan adalah 30 - 45 %.

Etiologi
Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan. Umum- nya
lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak di antaranya adalah sebagai berikut:

Faktor genetik. Translokasi parental keseimbangan genetik

Mendelian-multifaktor

Robertsonian

Resiprokal

Kelainan kongenital uterus

Anomalli duktus mulleri

Septum uterus

Uterus bikornis

Inkompetensi serviks uterus

Mioma uteri

Sindroma asherman

Autoimun

Mediasi imunitas humoral

Mediasi imunitas seluler

Defek fase luteal

Faktor endokrin eksternal

Antibodi antitiroid hormon

Sintesis LH yang tinggi


4

Infeksi

Hematologi

Lingkungan

Usia kehamilan saat terjadinya abortus bisa memberi gambaran tentang


penyebabnya. Sebagai contoh, antipbospholipid syndrome (APS) dan
inkompetensi serviks sering terjadi setelah trimester pertama.
Penyebab genetik
Sebagian besar abortus spontan disebabkan oleh kelainan kariotip embrio.
Paling sedikit 50 % kejadian abortus pada trimester pertama merupakan kelainan
sitogenetik. Bagaimanapun, gambaran ini belum termasuk kelainan yang disebabkan
oleh gangguan gen tunggal (misalnya kelainan Mendelian) atau mutasi pada beberapa
lokus (misalnya gangguan poligenik atau multifaktor) yang tidak terdeteksi dengan
pemeriksaan kariotip.1
Separuh dari abortus karena kelainan sitogenetik pada trimester pertama berupa
trisomi autosom. Triploidi ditemukan pada 16 % kejadian abortus, di mana terjadi
fertilisasi ovum normal haploid oleh 2 sperma (dispermi) sebagai mekanisme patologi
primer. Trisomi timbul akibat dari nondisjunction meiosis selama gametogenesis pada
pasien dengan kariotip normal.
Pengelolaan standar menyarankan untuk pemeriksaan genetik amniosentesis semua ibu
hamil dengan usia yang lanjut, yaitu di atas 35 tahun karena angka kejadian kelainan
kromosom/trisomi akan meningkat setelah usia 35 tahun.
Struktur kromosom merupakan kelainan kategori ketiga. Kelainan struktural terjadi pada
sekitar 3 % kelainan sitogenetik pada abortus. Ini menunjukkan bahwa kelainan struktur
kromosom sering diturunkan dari ibunya. Kelainan struktur kromosom pada pria bisa
berdampak pada rendahnya konsentrasi sperma, infertilitas, dan bisa mengurangi peluang
kehamilan dan terjadinya keguguran.1
Kelainan sering juga berupa gen yang abnormal, mungkin karena adanya mutasi gen
yang bisa mengganggu proses implantasi bahkan menyebabkan abortus. Contoh untuk
5

kelainan gen tunggal yang sering menyebabkan abortus berulang adalah myotonic
dystrophy, yang berupa autosom dominan dengan penetrasi yang tinggi, kelainan ini
progresif, dan penyebab abortusnya mungkin karena kombinasi gen yang abnormal dan
gangguan fungsi uterus. Kemungkinan juga karena adanya mosaik gonad pada ovarium atau
testis.
Gangguan jaringan konektif lain, misalnya Sindroma Marfan, Sindroma Ehlers-Danlos
homosisteinuri dan pseudoaxantboma eUsticum. Juga pada perempuan dengan sickle cell
anemia berisiko tinggi mengalami abortus. Hal ini karena adanya mikroinfark pada
plasenta. Kelainan hematologik lain yang menyebabkan abortus misalnya disfibrinogenemi, defisiensi faktor XIII, dan hipofibrinogenemi afibrinogenemi kongenital.
Abortus berulang bisa disebabkan oleh penyatuan dari 2 kromosom yang abnormal, di
mana bila kelainannya hanya pada salah satu orang tua, faktor tersebut tidak diturunkan.
Studi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa bila didapatkan kelainan kariotip pada
kejadian abortus, maka kehamilan berikutnya juga berisiko abortus.1
Penyebab anatomik
Defek anatomi uterus diketahui sebagai penyebab komplikasi obstretik. Seperti abortus
berulang, prematuritas, serta malpresentasi janin. Insiden kalinan bentuk uterus berkisar
1/200 sampai 1/600 perempuan. Pada perempuan dengan riwayat abortus, ditemukan
anomali uteri pada 27% pasien. Penyebab terbanyak abortus karena kelainan anatomik uterus
adalah septum uterus (40 - 80 %). kemudian uterus bikornis atau uterus didelfis atau
unikomis (10 - 30 %). Mioma uteri bisa menyebabkan baik infertilitas maupun abortus
berulang.
Sindroma asherman bisa menyebabkan gangguan implantasi serta pasokan darah pada
permukaan endometrium. Resiko abortus antara 25-80% bergantung pada berat ringannya
gangguan. Untuk bisa mendiagnosis kelainan ini bisa menggunakan histerosalpingografi
(HSG) dan ultrasonografi.
Penyebab autoimun
Terdapat hubungan yang nyata antara abortus berulang dan penyakit autoimun. Misalnya,
pada Systematic Lupus Erythematosus (SLE) dan Antiphospholipid Antibodies (aPA). aPA

merupakan antibodi spesifik yang didapati pada perempuan dengan SLE 2. Kejadian abortus
spontan di antara pasien SLE sekitar 10 %, dibanding populasi umum. aPA merupakan
antibodi yang akan berikatan dengan sisi negatif dari fosfolipid. Paling sedikit ada 3 bentuk
aPA yang diketahui mempunyai arti klinis yang penting, yaitu Lupus Anticoagulant (LAC),
anticardiolipin antibodies (aCLs), dan biologically false-positive untuk syphilis (FP-STS).
APS (antiphospholipid syndrome) sering juga ditemukan pada beberapa keadaan obstetrik,
misalnya pada preeklampsia, IUGR dan prematuritas. Beberapa keadaan lain yang
berhubungan dengan APS yaitu trombosis arteri-vena, trombositopeni autoimun, anemia
hemolitik, korea dan hipertensi pulmonum.3
The International Consensus Workshop pada 1998 mengajukan klasifikasi kriteria untuk
APS, yaitu meliputi4:

Trombosis vaskuler:

Satu atau lebih episode trombosis arteri, venosa atau kapilar yang dibuktikan
dengan gambaran Doppler, pencitraan, atau histopatologi

Pada histopatologi, trombosisnya tanpa disertai gambaran inflamasi

Komplikasi kehamilan:

Tiga atau lebih kejadian abortus dengan sebab yang tidak jelas, tanpa kelainan
anatomik, genetik, atau hormonal

Satu atau lebih kematian janin di mana gambaran morfologi secara sonografi
normal

Satu atau lebih persalinan prematur dengan gambaran janin normal dan berhubungan
dengan preeklampsia berat atau insufisiensi plasenta yang berat

Kriteria laboratorium

aCL: IgG dan atau IgM dengan kadar yang sedang atau tinggi pada 2 kali atau
lebih pemeriksaan dengan jarak lebih dari atau sama dengan 6 minggu

aCL diukur dengan metode ELISA standar

Antibodi fosfolipid/antikoagulan

Pemanjangan tes skrining koagulasi fosfolipid (misalnya aPTT, PT dan CT)

Kegagalan untuk memperbaiki tes skrining yang memanjang dengan


penambahan plasma platelet normal

Adanya perbaikan nilai tes yang memanjang dengan penambahan fosfolipid

Singkirkan dulu kelainan pembekuan darah yang lain dan pemakaian heparin

aPA ditemukan kurang dari 2 % pada perempuan hamil yang sehat, kurang dari 20 % pada
perempuan yang mengalami abortus dan lebih dari 33 % pada perempuan dengan SLE. Pada
kejadian abortus berulang ditemukan infark plasenta yang luas, akibat adanya atherosis dan
oklusi vaskular kini dianjurkan pemeriksaan darah terhadap beta-2 glikoprotein 1 yang lebih
spesifik.
Pemberian antikoagulan misalnya aspirin, heparin, IL-3 intravena menunjukkan hasil
yang efektif. Pada percobaan binatang, kerja IL-3 adalah menyerupai growtb hormone
plasenta dan melindungi kerusakan jaringan plasenta.5
Trombosis plasenta pada APS diawali adanya peningkatan rasio tromboksan terhadap
prostasiklin, selain juga akibat dari peningkatan agregrasi trombosit, penurunan c-reaktif
protein dan peningkatan sintesis platelet-activating factor. Secara klinis lepasnya kehamilan
pada pasien APS sering terjadi pada usia kehamilan di atas 10 minggu.6
Pengelolaan secara umum meliputi pemberian heparin subkutan, aspirin dosis rendah,
prednison, imunoglobulin, atau kombinasi semuanya. Studi case-control menunjukkan
pemberian heparin 5.000 U 2x/hari dengan 81 mg/hari aspirin meningkatkan daya tahan
janin dari 50 % jadi 80 % pada perempuan yang pernah mengalami abortus lebih dari 2 kali
tes APLAs positif. Yang perlu diperhatikan ialah pada penggunaan heparin jangka panjang,
perlu

pengawasan

terhadap

risiko

kehilangan

massa

tulang,

perdarahan,

serta

trombositopeni.5,6
Penyebab infeksi
Teori peran mikroba infeksi terhadap kejadian abortus mulai diduga sejak 1917, ketika
8

DeForest dan kawan-kawan melakukan pengamatan kejadian abortus berulang pada


perempuan yang ternyata terpapar brucellosis. Beberapa jenis organisme tertentu diduga
berdampak pada kejadian abortus antara lain:

Virus

Sitomegalovirus

Rubela

Herpes Simpleks Virus (HSV)

Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Parvovirus

Parasit

Toksoplasmosis Gondii

Plasmodium Falsiparum

Spirokaeta

Treponema Pallidum

Berbagai teori diajukan untuk mencoba menerangkan peran infeksi terhadap risiko
abortus/EPL, di antaranya sebagai berikut7:

Adanya metabolik toksik, endotoksin, eksotoksin, atau sitokin yang berdampak


langsung pada janin atau unit fetoplasenta

Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin atau cacat berat sehingga janin
sulit bertahan hidup.

Infeksi plasenta yang berakibat insufisiensi plasenta dan bisa berlanjut kematian janin.

Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman genitalia bawah (misal


Mikoplasma hominis, Klamidia> Ureaplasma urealitikum, HSV) yang bisa
9

pening
#

penun
0

penu

mengganggu proses implantasi

Amnionitis (oleh kuman gram-positif dan gram-negatif, Listeria monositogenes).

Memacu perubahan genetik dan anatomik embrio, umumnya oleh karena virus se-

Kadar
terutama
Bukti

lama kehamilan awai (misalnya rubela, parvovirus B19, sitomegalovirus, koksakie

hemostat

virus B, varisela-zoster, kronik sitomegalovirus CMV, HSV)

dengan r
yang beri

Faktor Hormonal

saat usia
vasospasi

Ovulasi, implantasi, serta kehamilan dini bergantung pada koordinasi yang baik sistem
hormon maternal. Oleh karena itu, perlu perhatian langsung terhadap sistem secara

nekrosis

keseluruhan, fase luteal, dan gambaran hormon setelah konsepsi terutama kadar

Defisie

progesteron.8

plasenter
dari 22 /

Diabetes mellitus

Homo
sistein.

Perempuan dengan diabetes yang dikelola dengan baik risiko abortusnya tidak

trombosj

lebih jelek jika dibanding perempuan yang tanpa diabetes. Akan tetapi perempuan

berulang

diabetes dengan kadar HbAlc tinggi pada trimester pertama, risiko abortus dan

yang di<

malformasi janin meningkat signifikan. Diabetes jenis insulin-dependen dengan

ngembal

kontrol glukosa tidak adekuat punya peluang 2-3 kali lipat mengalami abortus.

Kadar progesteron yang rendah

Macam

Progesteron punya peran penting dalam mempengaruhi reseptivitas endometrium

Dikens
terjadi.

terhadap implantasi embrio. Proses fisiologi korpus luteum, dan sejak itu diduga
bahwa kadar progesteron yang rendah berhubungan dengan risiko abortus. Support

Abort

fase luteal punya peran kritis pada kehamilan sekitar 7 minggu, yaitu saat di mana
trofoblas harus menghasilkan cukup steroid untuk menunjang kehamilan.
Pengangkatan korpus luteum sebelum usia 7 minggu akan menyebabkan abortus.
Dan bila progesteron diberikan pada pasien ini, kehamilan bisa diselamatkan.

Defek fase luteal


Konsep insufisiensi progesteron saat fase luteal, dan kejadian ini dilaporkan pada
23 - 60 % perempuan dengan abortus berulang. Sayangnya belum ada metode yang
10

Abon
darah
kandi
Di
pada
tidal
terti
mas
mel
mei
p05

ma
inf

bisa dipercaya untuk mendiagnosis gangguan ini. Pada penelitian terhadap


perempuan yang mengalami abortus lebih dari atau sama dengan 3 kali, didapatkan
17 % kejadian defek fase luteal. Dan, 50 % perempuan dengan histologi defek fase
luteal punya gambaran progesteron yang normal.9

Pengaruh hormon terhadap aktivitas desidua


Perubahan endometrium jadi desidua mengubah semua sel pada mukosa uterus.
Perubahan morfologi dan fungsional ini mendukung proses implantasi juga proses
migrasi trofoblas dan mencegah invasi yang berlebihan pada jaringan ibu. Di sini
berperan penting interaksi antara trofoblas ekstravillous dan infiltrasi leukosit pada
mukosa uterus. Sebagian besar sel ini berupa Large Granular Lymphocytes (LGL)
dan makrofag, dengan sedikit sel T dan sel B. Sel NK dijumpai dalam jumlah
banyak, terutama pada endometrium yang terpapar progesteron. Peningkatan sel
NK pada tempat implantasi saat trimester pertama mempunyai peran penting
dalam kelangsungan proses kehamilan karena ia akan mendahului membunuh sel
target dengan sedikit atau tanpa ekspresi HLA. Trofoblas ekstravillous (dengan
pembentukan cepat HLA1) tidak bisa dihaneufkan oleh sel NK desidua, sehingga
memungkinkan terjadinya invasi optimal untuk plasentasi yang normal.

Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan


Berbagai bahan pernah dilaporkan berkaitan dengan peningkatan insiden abortus.
Tembakau. Merokok dilaporkan berkaitan dengan peningkatan risiko abortus euploidi. Dua
studi menunjukkan bahwa risiko abortus meningkar secara linier seiring dengan jumlah
batang rokok yang dihisap setiap hari.
Alkohol. Baik abortus spontan maupun anomali janin dapat ditimbulkan oleh seringnya
mengonsumsi alkohol dalam 8 minggu pertama kehamilan. Risiko ini tampaknya berkaitan
dengan frekuensi dan dosis. Konsumsi alkohol derajat rendah selama kehamilan dilaporkan
tidak berkaitan dengan peningkatan signifikan risiko abortus.
Kafein. Wanita yang minum sedikitnya lima cangkir kopi per hari mengalami sedikit
peningkatan risiko abortus, dan balwa di atas ambang ini, risiko berkorelasi secara linier.
Peningkatan signifikan abortus hanya pada wanita yang mengonsumsi paling sedikit 500mg
11

kafein setiap hari- kira-kira setara dengan lima cangkir kopi. Wanita hamil yang kadar
metabolit kafeinnya (paraxantin) sangat tinggi mengalami peningkatan dua kali lipat risiko
keguguran. Mereka menyimpulkan bahwa konsumsi kafein moderat kecil kemungkinannya
menjadi penyebab abortus spontan.
Radiasi. Dalam dosis terapetik yang diberikan untuk mengobati keganasan, radiasi jelas
merupakan suatu abortifasien. Meskipun dosis yang lebih rendah kurang toksik, dosis yang
menyebabkan abortus pada manusia tidak diketahui pasti. Pajanan ke dosis kurang dari lima
rads tidak meningkatkan risiko keguguran.
Kontrasepsi. Kontrasepsi oral atau bahan spermisidal yang digunakan dalam krim dan gel
kontrasepsi tidak berkaitan dengan peningkatan angka keguguran. Namun, jika alat
kontrasepsi dalam rahim tidak dapat mencegah kehamilan, risiko abortus, dan secara
spesifik abortus septik, meningkat secara substantif.
Toksin Lingkungan. Menilai secara akurat hubungan antara pajanan lingkungan dan
keguguran bukan suatu hal yang mudah. Mungkin dijumpai kesulitan dalam mengukur
intensitas dan durasi pajanan, dan tidak banyak tersedia informasi untuk menyimpulkan
secara pasti keterlibatan atau ketidak-terlibatan suatu bahan. Beberapa studi mendapatkan
bahwa arsen, timbal, formaldehida, benzena, dan etilen oksida mungkin menyebabkan
keguguran. Monitor video dan pajanan ke medan elektromagnetiknya tidak meningkatkan
angka keguguran. Demikian juga, tidak ditemukan adanya efek pajanan ke ultrasonografi di
tempat kerja. Dilaporkan terjadi peningkatan risiko keguguran pada perawat gigi yang
terpajan ke nitrosa oksida 3 jam atau lebih per hari di kamar praktik yang tidak memiliki
peralatan pengisap gas. Sebelum pemakaian alat semacam ini, wanita yang terpajan ke gas
anestetik di pekerjaannya memperlihatkan peningkatan risiko keguguran. Dalam suatu metaanalisis lainnya, ditemukan peningkatan kecil risiko abortus spontan pada staf wanita yang
bekerja dengan obat-obat kemoterapetik sitotoksik.
Trauma
Trauma abdomen mayor dapat memicu abortus. Namun, hal ini jarang terjadi. Efek yang
ditimbulkan oleh trauma minor sulit diketahui pasti. Secara umum, trauma tidak banyak
berkontribusi dalam insiden abortus.
Faktor Hematologik
12

Beberapa kasus abortus berulang ditandai dengan defek plasenta dan adanya mikrotrombi pada pembuluh darah plasenta. Berbagai komponen koagulasi dan fibrinolitik
memegang peran penting pada implantasi embrio, invasi trofoblas, dan plasentasi. Pada
kehamilan terjadi keadaan hiperkoagulasi dikarenakan:

Peningkatan kadar faktor prokoagulan

Penurunan faktor antikoagulan

Penurunan aktivitas fibrinolitik

Kadar faktor VII, VIII, X dan fibrinogen meningkat selama kehamilan normal, terutama
pada kehamilan sebelum 12 minggu.
Perempuan dengan riwayat abortus berulang, sering terdapat peningkatan produksi
tromboksan yang berlebihan pada usia kehamilan 4-6 minggu, dan penurunan produksi
prostasiklin saat usia kehamilan 8 - 1 1 minggu. Perubahan rasio tromboksanprostasiklin memacu vasospasme serta agregrasi trombosit, yang akan menyebabkan
mikrotrombi serta nekrosis plasenta. Juga sering disertai penurunan kadar protein C dan
fibrinopeptida.
Defisiensi faktor XII (Hageman) berhubungan dengan trombosis sistematik ataupun
plasenter dan telah dilaporkan juga berhubungan dengan abortus berulang pada lebih
dari 22 % kasus.
Homosistein merupakan asam amino yang dibentuk selama konversi metionin ke
sistein. Hiperhomosisteinemi, bisa kongenital ataupun akuisita, berhubungan dengan
trombosis dan penyakit vaskular dini. Kondisi ini berhubungan dengan 21 % abortus
berulang. Gen pembawa akan diturunkan secara autosom resesif. Bentuk terbanyak
yang didapat adalah defisiensi folat. Pada pasien ini, penambahan folat akan
mengembalikan kadar homosistein normal dalam beberapa hari.
Macam-macam abortus
Dikenal berbagai macam abortus sesuai dengan gejala, tanda, dan proses patologi yang
terjadi.10,11

13

1. Abortus Iminens
Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam
kandungan.
Diagnosis abortus iminens biasanya diawali dengan keluhan perdarahan pervaginam
pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu. Penderita mengeluh mulas sedikit atau
tidak ada keluhan sama sekali kecuali perdarahan pervaginam. Ostium uteri masih
tertutup besarnya uterus masih sesuai dengan umur kehamilan dan tes kehamilan urin
masih positif. Untuk menentukan prognosis abortus iminens dapat dilakukan dengan
melihat kadar hormon hCG pada urin dengan cara melakukan tes urin kehamilan
menggunakan urin tanpa pengenceran dan pengenceran 1/10. Bila hasil tes urin masih
positif keduanya maka prognosisnya adalah baik, bila pengenceran 1/10 hasilnya negatif
maka prognosisnya dubia ad malam. Pengelolaan penderita ini sangat bergantung pada
informed consent yang diberikan. Bila ibu ini masih menghendaki kehamilan
maka pengelolaan harus maksimal untuk mempertahankan kehamilan ini. Pemeriksaan
USG diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan janin yang ada dan mengetahui
keadaan plasenta apakah sudah terjadi pelepasan atau belum. Diperhatikan ukuran
biometri janin/kantong gestasi apakah sesuai dengan umur kehamilan berdasarkan
HPHT. Denyut jantung janin dan gerakan janin diperhatikan di samping ada tidaknya
hematoma retroplasenta atau pembukaan kanalis servikalis. Pemeriksaan USG dapat
dilakukan baik secara transabdominal maupun transvaginal. Pada USG transabdominal
jangan lupa pasien harus tahan kencing terlebih dahulu untuk mendapatkan acoustic
window yang baik agar rincian hasil USG dapat jelas.
Penderita diminta untuk melakukan tirah baring sampai perdarahan berhenti. Bisa diberi
spasmolitik agar uterus tidak berkontraksi atau diberi tambahan hormon progesteron
atau derivatnya untuk mencegah terjadinya abortus. Obat-obatan ini walaupun secara
statistik kegunaannya tidak bermakna, tetapi efek psikologis kepada penderita sangat
menguntungkan. Penderita boleh dipulangkan setelah tidak terjadi perdarahan dengan
pesan khusus tidak boleh berhubungan seksual dulu sampai lebih kurang 2 minggu.

14

Gambar 1. Abortus iminens, abortus insipiens, dan missed abortion

2. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks telah mendatar dan ostium
uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses
pengeluaran.
penderita akan merasa mulas karena kontraksi yang sering dan kuat, perdarahannya
bertambah sesuai dengan pembukaan serviks uterus dan umur kehamilan. Besar uterus masih
sesuai dengan umur kehamilan dengan tes urin kehamilan masih positif. Pada pemeriksaan
USG akan didapati pembesaran uterus yang masih sesuai dengan umur kehamilan, gerak
janin dan gerak jantung janin masih jelas walau mungkin sudah mulai tidak normal, biasanya
terlihat penipisan serviks uterus atau pembukaannya. Perhatikan pula ada tidaknya pelepasan
plasenta dari dinding uterus.
Pengelolaan penderita ini harus memperhatikan keadaan umum dan perubahan keadaan
hemodinamik yang terjadi dan segera lakukan tindakan evakuasi/pengeluaran hasil konsepsi
disusul dengan kuretase bila perdarahan banyak. Pada umur kehamilan di atas 12 minggu,
uterus biasanya sudah melebihi telur angsa tindakan evakuasi dan kuretase harus hati-hati,
15

kalau perlu dilakukan evakuasi dengan cara digital yang kemudian disusul dengan tindakan
kuretase sambil diberikan uterotonika.
3. Abortus Kompletus
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu
atau berat janin kurang dari 500 gram.
Semua hasil konsepsi telah dikeluarkan, osteum uteri telah menutup, uterus sudah mengecil
sehingga perdarahan sedikit. Besar uterus tidak sesuai dengan umur kehamilan. Pemeriksaan
USG tidak perlu dilakukan bila pemeriksaan secara klinis sudah memadai. Pada
pemeriksaan tes urin biasanya masih positif sampai 7 - 1 0

hari setelah abortus.

Pengelolaan penderita tidak memerlukan tindakan khusus ataupun pengobatan. Biasanya


hanya diberi roboransia atau hematenik bila keadaan pasien memerlukan. Uterotonika tidak
perlu diberikan.
4. Abortus Inkompletus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal. Batasan
ini juga masih terpancang pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram. Sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam uterus di
mana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan dalam
kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum. Perdarahan biasanya masih terjadi
jumlahnya pun bisa banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa, yang
menyebabkan sebagian placental site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus.
Pasien dapat jatuh dalam keadaan anemia atau syok hemoragik sebelum sisa jaringan
konsepsi dikeluarkan. Pengelolaan pasien harus diawali dengan perhatian terhadap keadaan
umum dan mengatasi gangguan hemodinamik yang terjadi untuk kemudian disiapkan
tindakan kuretase. Pemeriksaan USG hanya dilakukan bila kita ragu dengan diagnosis secara
klinis. Besar uterus sudah lebih kecil dari umur kehamilan dan kantong gestasi sudah sulit
dikenali, di kavum uteri tampak massa hiperekoik yang bentuknya tidak beraturan.

16

Cadangk
ah

rasa

sembi
biasanya
n
pemeriks

a; ngecil,

dar tanda
kehi
hatikan
k<

Gambar 2. Abortus kompletus dan abortus inkompletus

nogenemi

Bila terjadi perdarahan yang hebat, dianjurkan segera melakukan pengeluaran sisa hasil
konsepsi secara manual agar jaringan yang mengganjal terjadinya kontraksi uterus segera

s Pengelo
baik
karer

perdarah
tal
Selanjutnya dilakukan tindakan kuretase. Tindakan kuretase harus dilakukan secara hati- ai
dikeluarkan, kontraksi uterus dapat berlangsung baik dan perdarahan bisa berhenti.
hati sesuai dengan keadaan umum ibu dan besarnya uterus. Tindakan yang dianjurkan ialah
dengan karet vakum menggunakan kanula dari plastik. Pascatindakan perlu diberikan
uterotonika parenteral ataupun per oral dan antibiotika. Transfusi diberikan jika Hb < 8 gr%

pender
kehamila
n
tindakan
<

5. Missed Abortion

retase

bila

Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum
kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan.
Penderita missed abortion biasanya tidak merasakan keluhan apapun kecuali merasakan
pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang diharapkan. Bila kehamilan di atas 14 minggu
sampai 20 minggu justru merasakan rahimnya semakin mengecil dengan tanda-tanda
kehamilan sekunder pada payudara mulai menghilang.
Kadangkala missed abortion juga diawali dengan abortus iminens yang kemudian
merasa sembuh, tetapi pertumbuhan janin terhenti. Pada pemeriksaan tes urin
kehamilan biasanya negatif setelah satu minggu dari terhentinya pertumbuhan
kehamilan. Pada pemeriksaan USG akan didapatkan uterus yang mengecil, kantong
gestasi yang mengecil, dan bentuknya tidak beraturan disertai gambaran fetus yang
17

kurang di
untuk me

tidak ada tanda- tanda kehidupan. Bila missed abortion berlangsung lebih dari 4
minggu harus diperhatikan kemungkinan terjadinya gangguan penjendalan darah
oleh karena hipofibrinogenemia sehingga perlu diperiksa koagulasi sebelum tindakan
evakuasi dan kuretase.
Pengelolaan missed abortion perlu diutarakan kepada pasien dan keluarganya secara
baik karena risiko tindakan operasi dan kuretase ini dapat menimbulkan komplikasi
perdarahan atau tidak bersihnya evakuasi/kuretase dalam sekali tindakan. Faktor mental
penderita perlu diperhatikan, karena penderita umumnya merasa gelisah setelah tahu
kehamilannya tidak tumbuh atau mati. Pada umur kehamilan kurang dari 12 minggu
tindakan evakuasi dapat dilakukan secara langsung dengan melakukan dilatasi dan kuretase bila serviks uterus memungkinkan. Bila umur kehamilan di atas 12 minggu atau
kurang dari 20 minggu dengan keadaan serviks uterus yang masih kaku dianjurkan untuk
melakukan induksi terlebih dahulu untuk mengeluarkan janin atau mematang-kan kanalis
servikalis. Beberapa cara dapat dilakukan antara lain dengan pemberian infus intravena
cairan oksitosin dimulai dari dosis 10 unit dalam 500 cc dekstrose 5 % tetesan 20 tetes
per menit dan dapat diulangi sampai total oksitosin 50 unit dengan tetesan dipertahankan
untuk mencegah terjadinya retensi cairan tubuh. Jika tidak berhasil penderita
diistirahatkan satu hari dan kemudian induksi diulangi biasanya maksimaj 3 kali. Setelah
janin atau jaringan konsepsi berhasil keluar dengan induksi ini dilanjutkan dengan
tindakan kuretase sebersih mungkin.
Pada dekade belakangan ini banyak tulisan yang telah menggunakan prostaglandin atau
sintetisnya untuk melakukan induksi pada missed abortion. Salah satu cara yang banyak
disebutkan adalah dengan pemberian mesoprostol secara sublingual sebanyak 400 mg yang
dapat diulangi 2 kali dengan jarak enam jam. Dengan obat ini akan terjadi pengeluaran hasil
konsepsi atau terjadi pembukaan ostium serviks sehingga tindakan evakuasi dan kuretase
dapat dikerjakan untuk mengosongkan kavum uteri. Kemungkinan penyulit pada tindakan
missed abortion ini lebih besar mengingat jaringan plasenta yang menempel pada dinding
uterus biasanya sudah lebih kuat. Apabila terdapat hipofibrinogenemia perlu disiapkan
transfusi darah segar atau fibrinogen. Pascatindakan kalau perlu dilakukan pemberian infus
intravena cairan oksitosin dan pemberian antibiotika.

18

6. Abortus Habitualis
Abortus habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut.
Penderita abortus habitualis pada umumnya tidak sulit untuk menjadi hamil kembali, tetapi
kehamilannya berakhir dengan keguguran/abortus secara berturut-turut. Bishop melaporkan
kejadian abortus habitualis sekitar 0,41 % dari seluruh kehamilan.
Penyebab abortus habitualis selain faktor anatomis banyak yang mengaitkannya dengan
reaksi imunologik yaitu kegagalan reaksi terhadap antigen lymphocyte trophoblast cross
reactive (TLX). Bila reaksi terhadap antigen ini rendah atau tidak ada, maka akan terjadi
abortus. Kelainan ini dapat diobati dengan transfusi leukosit atau heparinisasi. Akan tetapi,
dekade terakhir menyebutkan perlunya mencari penyebab abortus ini secara lengkap
sehingga dapat diobati sesuai dengan penyebabnya.
Salah satu penyebab yang sering dijumpai ialah inkompetensia serviks yaitu keadaan di
mana serviks uterus tidak dapat menerima beban untuk tetap bertahan menutup setelah
kehamilan melewati trimester pertama, di mana ostium serviks akan membuka (inkompeten)
tanpa disertai rasa mules/kontraksi rahim dan akhirnya terjadi pengeluaran janin. Kelainan
ini sering disebabkan oleh trauma serviks pada kehamilan sebelumnya, misalnya pada
tindakan usaha pembukaan serviks yang berlebihan, robekan serviks yang luas sehingga
diameter kanalis servikalis sudah melebar.
Diagnosis inkompetensia serviks tidak sulit dengan anamnesis yang cermat. Dengan
pemeriksaan dalam/inspekulo kita bisa menilai diameter kanalis servikalis dan didapati
selaput ketuban yang mulai menonjol pada saat mulai memasuki trimester kedua. Diameter
ini melebihi 8 mm. Untuk itu, pengelolaan penderita inkompetensia serviks dianjurkan untuk
periksa hamil seawal mungkin dan bila dicurigai adanya inkompetensia serviks harus
dilakukan tidakan untuk melakukan fiksasi pada serviks agar dapat menerima beban dengan
berkembangnya umur kehamilan. Operasi dilakukan pada umur kehamilan 12-14 minggu
dengan cara SHIRODKAR atau McDONALD dengan melingkari kanalis servikalis dengan
benang sutera/ MERSILENE yang tebal dan simpul baru dibuka serta umur kehamilan aterm
dan bayi siap dilahirkan.
7. Abortus Infeksiosus, Abortus Septik
Abortus infeksiosus ialah abortus yang disertai infeksi pada alat genitalia. Abortus septik
19

ialah abortus yang disertai penyebaran infeksi pada peredaran darah tubuh atau
peritoneum (septikemia atau peritonitis).
Kejadian ini merupakan salah satu komplikasi tindakan abortus yang paling sering terjadi
apalagi bila dilakukan kurang memperhatikan asepsis dan antisepsis.
Abortus infeksiosus dan abortus septik perlu segera mendapatkan pengelolaan yang
adekuat karena dapat terjadi infeksi yang lebih luas selain di sekitar alat genitalia juga ke
rongga peritoneum, bahkan dapat ke seluruh tubuh (sepsis, septikemia) dan dapat jatuh
dalam keadaan syok septik.
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang cermat tentang upaya tindakan abortus yang
tidak menggunakan peralatan yang asepsis dengan didapat gejala dan tanda panas tinggi,
tampak sakit dan lelah, takikardia, perdarahan pervaginam yang berbau, uterus yang
membesar dan lembut, serta nyeri tekan. Pada laboratorium didapatkan tanda infeksi dengan
leukositosis. Bila sampai terjadi sepsis dan syok, penderita akan tampak lelah, panas tinggi,
menggigil, dan tekanan darah turun.
Pengelolaan pasien ini harus mempertimbangkan keseimbangan cairan tubuh dan perlunya
pemberian antibiotika yang adekuat sesuai dengan hasil kultur dan sensitivitas kuman yang
diambil dari darah dan cairan fluksus/fluor yang keluar pervaginam. Untuk tahap pertama
dapat diberikan Penisilin 4 x 1,2 juta unit atau Ampisilin 4x1 gram ditambah Gentamisin 2 x
80 mg dan Metronidazol 2x1 gram. Selanjutnya antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur.
Tindakan kuretase dilaksanakan bila keadaan tubuh sudah membaik minimal 6 jam setelah
antibiotika adekuat diberikan. Jangan lupa pada saat tindakan uterus dilindungi dengan
uterotonika.
Antibiotik dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam dan bila dalam waktu 2 hari pemberian
tidak memberikan respons harus diganti dengan antibiotik yang lebih sesuai. Apabila
ditakutkan terjadi tetanus, perlu ditambah dengan injeksi ATS dan irigasi kanalis
vagina/uterus dengan larutan peroksida (H2O2) kalau perlu histerektomi total secepatnya

20

DAFTAR PUSTAKA
1) Byrne JL, Ward K. Genetics Factors in Reccurent Abortion, Clin Obstet Gynecol,
1994 Sept, 37 (3): 693-704
2) Magid MS, Kaplan C, Sammaritano LR, et al. Placental Pathology in Systemic Lupus
Erythematosus: A prospective Study, Am J Obstet Gynecol, 1998 Jul, 179(1): 226-34
3) Kutteh WH. Antiphospholipid Antibody-Associated Recurrent Pregnancy Loss,
Treatment with Heparin and Low-Dose Aspirin is Superior to Low-dose Aspirin
Alone, Am J Obstet Gynecol, 1996 May, 174 (5): 1584-9
4) Wilson WA, Gharavi AE, Koike T, et al. International Consensius Statement on
Preliminary Classification Criteria for Definite Antiphospholipid Syndrome: Report of
International Workshop, Arthritis Rheum, 1999 Jul, 42(7): 1309-11
5) Kutteh WH. Antiphospholipid Antibody-Associated Recurrent Pregnancy Loss,
Treatment with Heparin and Low-Dose Aspirin is Superior to Low-dose Aspirin
Alone, Am J Obstet Gynecol, 1996 Apr, 35(4): 402-7
6) Rai R, Cohen H, Dave M, Regan L. Randomised Controlled Trial of Aspirin and
Aspirin plus Heparin in Pregnant Women With Reccurent Misscarriage Associated
with Phospholipid Antibodies (or Antiphospholipid Antibodies), Brit Med Journal
1997 Jan 25, 314(7076): 253-7
7) Summers PR. Microbiology Relevant to Reccurent Miscarriage, Clin Obstet Gynecol,
1994 Sept, 37(3): 722-9
8) Coulam-CB, Stern-JJ. Endocrine Factors Associated with Reccurent Spontaneous
Abortion, Clin Obstet Gynecol, 1994 Sept, 37(3): 1364-9
9) Tuppala M, Bjorses UM, Stenman UH, et al. Luteal Phase Defect in Habitual
Abortion: Progesterone in Saliva, Fertil Steril, 1991 Jul, 56(1):41-4
10) Uzelac PS, Garmet SH. Early Pregnancy Risk in: Current Diagnosis and Treatment
Obstetrics and Gynecology 10th Edition edited by DeCherney AH, Nathan I, Goodwin
TM, Laufer N, Mcgraw-Hill, New york, 2007:259-72
American Collage of Obstetricians and Gynecologist: Management Of

11)

Reccurent Early Pregnancy Loss. ACOG Practice Bulletin No.24. American College
of Obstetricians and Gynaecologist, 2001

21