Anda di halaman 1dari 6

BAB V.

TANAH TERGENANG
Tanah tergenang atau tanah sawah ditandai dengan adanya genangan
air dalam waktu yang lama selama pertubuhan tanaman padi. Tanaman padi
dapat

tumbuh

baik

mengembangkan

pada

suasana

tanah

tergenang

karena

kemampuannya

aerobik

dalam

lingkungan

perakarannya

(rhizopheres).
Penggenangan menyebabkan terjadinya perubahan sifat fisik, kimia,
elektrokimia dan biologik pada tanah.

Perubahan ini menyebabkan

hubungan tanaman - tanah sangat berbeda dengan hubungan tanaman


tanah pada tanah yang tidak tergenang.
5.1. Perubahan Fisik Tanah
Penggenangan akan menyebabkan perubahan-perubahan fisik fisik
pada tanah yang meliputi :

(1) agregat-agregat tanah menjadi jenuh air

sehingga gumpalan-gumpalan tanah pecah menjadi butiran yang lebih halus,


(2) mineral-mineral montmorilonit mulai mengembang, (3) oksida-oksida besi
dan mangan direduksi, (4) silikat dan bahan organik mengalami hidrasi dan
menyebabkan pengembangan, (5) gaya kohesi di dalam agregat-agregat
berkurang

dan

kohesi

di

antara

agregat-agregat

bertambah,

(6)

meningkatnya permeabilitas tanah karena terlepasnya udara dari pori-pori


tanah, dan (7) penurunan perkolasi karena hancurnya agregat dan
penyumbatan pori-pori tanah.
Pelumpuran adalah usaha mengolah dan mengduk-aduk tanah dalam
keadaan basah atau jenuh air. Pelumpuran menyebabkan hacurnya agregat
tanah menjadi butiran tunggal.

Pelumpuran yang sempurna hanya dapat

dicapai jika pengolahan tanah dilakukan dalam basah atau jenuh air.
Tingkat

pelumpuran

bervariasi

menurut

sifat-sifat

tanah

dan

pengolahannya : (1) tanah yang mengandung banyak liat lebih mudah


1

dilumpurkan

dibanding

mengandung

banyak

pasir,

(2)

tanah

yang

mengandung liat montmorilonit lebih banyak lebih mudah dilumpurkan


dibandingkan dengan tanah yang mengandung banyak kaolinit, (3) tanah
yang banyak mengandung natrium paling mudah dilumpurkan, (4) tanah yang
banyak mengandung bahan organik lebnih sukar dilumpurkan, dan (5) tanah
yang tinggi kandungan oksida besi dan aluminiumnya

juga lebih sukar

dilumpurkan.
Pelumpuran tanah pertujuan : (1) berkurangnya pori-pori non-kapiler
(pori

makro)

dan

bertambahnya

pori-pori

kapiler

(pori

mikro),

(2)

meningkatnya berat isi tanah, dan (3) berkurangnya perembesan dan


perkolasi air.

Pengaruh pelumpuran tanah terhadap laju drainase atau

perembesan air pada 6 jenis contoh tanah dapat dilihat pada (Tabel 5.1).
Pada tabel tersebut, terlihat bahwa pelumpuran dapat menyebabkan
berkurang laju perkolasi hingga mencapai 1000 kali.
Tabel 5.1. Laju darainase pada jenis tanah yang berbeda
setelah pelumpuran
Jenis Tanah

Jenis Mineral

Psament
Silisium
Fluvent
Caampuran
Asquept
Monmorilonit
Aqualf
Monmorilonit
Ustox
Kaolinit
Andept
Alofan
Rata-rata
Sumber : Paerunan, dkk., 2002.

Fraksi Liat
(%)
9,0
24,0
30,0
40,0
64,0
46,0
2,0

Laju Drainase (cm/jam)


Granulasi
Lumpur
267,0
0,45
215,0
0,17
183,0
0,05
26,0
0,05
155,0
0,05
214,0
0,31
217,0
0,18

5.2. Perubahan Kimia


1. Perubahan Lapisan Oksidasi dan Reduksi.

Tanah tergenang tidak seluruhnya tereduksi. Lapisan paling atas


setebal 1 10 mm tetap berada pada keadaan oksidasi, tergantung
tekanan oksigen terlarut dalam air.

Lapisan teroksidasi berwarna

keloklatan karena dalam keadaan aerobik.

Sedangkan lapisan

tereduksi yang ada dibawahnya berwarna biru kelabu atau hitam yang
disebabkan warna senyawa fero (Fe

2+

). Tingkat reduksi pada lapisan

tanah bagian bawah sangat dipengaruhi olkeh keberadaan bahan


organik dan aktivitas jasad mikkro terhadap bahan organik tersebut.
2. Perubahan pH.
Penggenangan

dapat

menaikkan

pH

tanah

masam

dan

menurunkan pH alkalis (basa) setelah beberapa minggu penggenangan.


Pada tanah masam, pH akan berubah mendekati netral atau
netral karena adanya pembebasan ion OH - melalui reduksi Fe(OH)3
seperti pada reaksi berikut ini.
Fe(OH)3 + e-

Fe(OH)2

OH+

Pada tanah alkalis, pH berubah mendekati netral atau netral


karena adanya pelapukan bahan organik oleh jasad mikro yang
menyebabkan bertambahnya tekanan parsial CO 2 dan meningkatnya ion
H+ dari asam karbonat seperti pada reaksi berikut ini.
H2CO3 +

e-

H+

HCO3-

3. Dekomposisi Bahan Organik.


Pada tanah tergenang dekomposisi bahan oraganik berlangsung lebih lambat dibanding pada tanah aerobik. Bakteri aerobik
kurang efisien melapuk bahan organik pada tanah tergenang. Proses
dekomposisi dalam keadaan anaerobik berlangsung pada tingkat energi
yang lebih rendah, oleh karena itu memerlukan energi yang lebih renda.
Produk akhir dekomposisi bahan organik pada tanah tergenang
(anaerobik) dan tanah aerobik juga berlainan. Produk aerobik seperti
3

CO2, NO3-, dan SO4-. Sedangkan produk anaerobik seperti CO 2, NH4+,


metan, amina, merkaptan , H2S dan residu yang kurang mengalami
humifikasi.
4.

Transformasi Berbagai Unsur.


Oksidasi dan redukasi adalah proses pemindahan elektron.

Pada oksidasi elektron dilepaskan (donor elektron) dan pada reduksi


elektron diserap (akseptor elektron). Dalam proses reduksi komponenkompnentanah yang berada pada tingkat oksidasi tinggi berlaku sebagai
akseptor elektron. Oksida-oksida direduksi menurut urutan : (1) nitrat
menjadi nitrit dan gas N2, (2) ferri menjadi ferro, dan (3) hasil
dekomposisi bahan organik seperti sulfat dan sulfit menjadi sulfida.
Reaksi-reaksi utama dalam proses reduksi (Tabel 5.2) sebagai berikut:
Tabel 5.2. Reaksi-reaksi yang terjadi pada
kondisi tanah tereduksi
No

Reaksi
+

1
O2 + 4H + 4 e
2
NO3- + 12H+ + 10 e3
MnO2 + 4H+ + e4
Fe (OH)3 + e5
SO42- + H2O + e6
SO32- + 3H2O + 6 eSumber : Paerunan, dkk., 2002.

2H2O
N2 + 6H2O
2+
Mn
+ 2H2O
Fe (OH)2 + OHSO32- + 2 OHS2- + 6 OH-

a. Transformasi Nitrogen
Sejumlah besar nitrogen dalam tanah terikat dalam bahan
organik.

Nitrogen dalam bahan organik akan mengalami proses

mineralisasi
menghasilkan

jikan

terdapat

nitrat

(NO3-)

cukup

oksigen

menurut

menjadi NH4+ menjadi NO2 menjadi NO3-.

urutan

(aerasi
pross:

baik)

dan

N-Organik

Dalam suasana anaerobik,

aktivitas bakteri Ntrosomonas sp dalam mengoksidasi amonium (NH 4+)


4

menjadi nitrat (NO3-) terhambat, sehingga mineralisasi N-organik


terhenti hanya pada pembentukan ion NH 4+ dan stabil dalam lapisan
tanah tereduksi (tanah tergenang).
b. Transformasi Mangan
Kelarutan mangan (Mn2+) sebagai akibat penggenangan karena
adanya reduksi Mn4+ menjadi Mn2+.

Sebaliknya penggenangan

menghilangkan keracunan mangan pada tanah-tanah aerobik masam


disebabkan Mn2 cepat berkurang bila pH naik sampai netral (pH 7,0).
c. Transformasi Fosfor
Konsentrasi fosfor dalam larutan tanah meningkat karena
penggenangan.

Peningkatan kelarutan fosfor karena : (1) reduksi

fosfat ferri menjadi fosfat ferro yang lebih larut, (2) melarutnya lapisanlapisan oksida yang menyelimuti senyawa fosfat sehingga fosfat
menjadi lebih tersedia, (3) pada pH tinggi hidrolisa fosfat yang terikat
pada besi dan alumunium menyebabkan lepasnya P yang terfiksasi,
(4) meningkatnya mineralisasi P-oraganik pada tanah-tanah masam
karena meningkatnya pH tanah sekitar netral, (5) mineral apatit
bertambah larut pada tanah-tanah berkapur bila pH tanah turun
menjadi netral, dan (6) meningkatnya difusi ion H 2PO4 pada larutan
tanah dalam kedaan tergenang.
d. Tranformasi Sulfur
Pada tanah tergenag reduksi sulfat menjadi sulfida terjadi pada
lapisan reduksi, sedangkan oksidasi sulfur atau sulfida terjadi pada
lapisan oksidasi atau dalam daerah perakaran tanaman padi. Pada
keadaan sangat reduktif, ion-ion sulfat akan direduksi menjadi sulfit
dan sulfida oleh bakteri Desulfovibrio sp.
Ketersediaan sulfur turun dengan terbentuknya S 2, karena S2diendapkan dalam bentuk FeS yang immobil dalam tanah. Bentuk
5

sulfida ini akan tersedia bagi tanaman bila dioksidasi oleh oksigen
yang dikeluarkan oleh akar tanaman padi. Pada tanah-tanah yang
mengandung rendah besi, H 2S mungkin banyak terbentuk dan
menyebabkan keracunan pada tanaman.
5.3. Perubahan Biologik
Oksigen dalam tanah segera turun menjadi nol dalam waktu kurang
dari 1 hari setelah penggenangan. Kecepatan difusi oksigen dalam air hanya
seperseribu kecepatan difusi oksigen dalam udara bebas. Mula-mula jasad
mikro aerobik dengan cepat mengkonsumsi sisa oksigen dan kemudian
menjadi dorman dan akhirnya mati. Jasad mikro anaerobik fakultatif dan
anaerobik berkembang dan mengambil alih dekomposisi bahan organik.
Perubahan susunan jasad mikro menyebabkan perubahan-perubahan
biokimia dalam tanah. Peranan biokimia jasad mikro meliputi : (1) proses
pelarutan, (2) fiksasi, (3) mineralisasi, (4) immobilisasi, (5) oksidasi, dan (6)
reduksi.
Peranan biokimia yang terpentimg dari bakteri pada tanah tergenang
adalah dalam proses reduksi berbagai unsur. Nitrat, oksida mangan, oksida
besi dan sulfat direduksi oleh bakteri-bakteri anaerobik. Aktivitas jasad mikro
tidak hanya menyangkut transformasi komponen-komponen organik dan
anorganik, tetapi juga perubahan pH dan potensial redoks.