Anda di halaman 1dari 38

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Hasil evaluasi GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium) yang
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah yang bekerja sama dengan
Balai Litbang GAKI Borobudur Magelang

pada tahun 2004 dengan jumlah

sampel yang dikembangkan hingga di tingkat kecamatan menunjukkan angka


prevalensi GAKI Jawa Tengah adalah 9,68%. Berdasarkan hasil tersebut,
meskipun Jawa Tengah termasuk endemik ringan bila ditelusur lebih jauh ternyata
terdapat kabupaten yang termasuk endemik berat, yaitu Kabupaten Temanggung
(44,82%) dan endemik sedang Kabupaten Wonosobo (24,93%). Di samping itu
juga terdapat 26 kecamatan endemik berat, 19 kecamatan endemik sedang dan 98
kecamatan endemik ringan (Profil Kesehatan Propinsi Jawa Tengah Tahun 2004,
2004).
Kabupaten Magelang, yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi
Jawa Tengah, menjadi daerah endemik GAKI. Tiga belas kecamatan merupakan
endemik berat, tujuh kecamatan endemik sedang, dan satu kecamatan endemik
ringan. Tiga belas kecamatan daerah endemik berat meliputi Salam, Muntilan,
Ngluwar, Srumbung, Dukun, Sawangan, Grabag, Kaliangkrik, Windusari,
Kajoran, Ngablak, Tegalrejo, dan Candimulyo (13 Kecamatan di Magelang
Endemik Berat Kurang Yodium, 2003).

Pada berbagai observasi di lapangan dan klinis, telihat bahwa defisiensi


iodium (terutama di daerah endemik GAKI), memberikan manifestasi berdampak
negatif, antara lain: 1) gondok, merupakan reaksi adaptasi terhadap kekurangan
iodium, 2) kanker tiroid, 3) defisiensi tiroid, 4) hipotiroidisme, 5) kretin endemik
dengan berbagai kelainan susunan sistem saraf pusat (Djokomoeljanto, 2004).
Menurut American Thyroid Association, hipotiroid adalah keadaan dimana
kelenjar tiroid kurang aktif. Hipotiroidisme berarti bahwa kelenjar tiroid tidak
dapat menghasilkan hormon tiroid yang cukup untuk menjaga metabolisme tubuh
secara normal. Penderita hipotiroid memiliki jumlah hormon tiroid di bawah
normal dalam darahnya (Hypothyroidism, 2012).
Jumlah hormon tiroid yang berkurang akan meningkatkan jumlah
kolesterol dalam darah karena terganggunya metabolisme lemak dan kolesterol
dan berkurangnya ekskresi kolesterol oleh hati ke dalam empedu. Peningkatan
kolesterol dalam darah biasanya berkaitan dengan meningkatnya aterosklerosis.
Oleh karena itu, banyak pasien hipotiroidisme, terutama yang disertai dengan
gejala miksedema, akan menderita arteriosklerosis (Guyton, 2008).
Diabetes melitus (DM) tipe II, yang juga disebut diabetes melitus
tidak tergantung insulin (NIDDM), disebabkan oleh penurunan sensitivitas
jaringan target terhadap efek metabolisme insulin. Penurunan sensitivitas
terhadap insulin ini seringkali disebut sebagai resistensi insulin. Penurunan
sensitivitas insulin mengganggu penggunaan dan penyimpanan karbohidrat,
yang akan meningkatkan kadar gula darah dan merangsang peningkatan sekresi

insulin sebagai upaya kompensasi. Terdapat perubahan zat-zat dalam darah pada
koma diabetikum, salah satunya adalah kolesterol yang mencapai 360 mg/dl,
dibandingkan dengan kadar yang normal 180 mg/dl (Guyton, 2008).
Pada hipertiroid subklinis, penambahan dosis hormon tiroid tidak
menambah sensitivitas hormon insulin. Di sisi lain, kurangnya hormon tiroid
akan mengakibatkan resistensi insulin yang ditandai dengan menurunnya
penggunaan glukosa yang dimediasi oleh hormon insulin (Gabriela Brenta dkk.,
2009).
Keadaan hipotiroid pada penderita DM tipe II akan memperparah
peningkatan kadar kolesterol. Kekurangan hormon tiroid akan menyebabkan
peningkatan kolesterol dan peningkatan resistensi insulin. Pada penderita DM
tipe II juga terjadi peningkatan kolesterol. Sehingga keadaan kekurangan
hormon tiroid pada penderita DM tipe 2 akan lebih meningkatkan kadar
kolesterol dalam darah.
Penelitian tentang kadar kolesterol total serum pada penderita DM tipe
II hipotiroid dan non-hipotiroid belum banyak dilakukan, khususnya di daerah
endemik GAKI. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan pentelitian
tentang bagaimana kadar kolesterol pada penderita DM tipe II hipotiroid
dibandingkan dengan non-hipotiroid di daerah endemik GAKI.

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:


Berlapang-lapanglah dalam majelis. Maka lapangkanlah, niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah
kamu. Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Q.S. Al-Mujadilah: 11).

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, masalah yang
dirumuskan adalah :
Apakah terdapat perbedaan kadar kolesterol total serum pada penderita DM tipe
II hipotiroid dan non-hipotiroid di daerah endemik GAKI?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar kolesterol
total serum pada penderita diabetes mellitus tipe II hipotiroid dan nonhipotiroid di daerah endemik GAKI.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat tentang manifestasi lanjut yang
mungkin terjadi dari diabetes mellitus tipe 2 dengan hipotiroid terhadap
kadar

kolesterol

dalam

darah

sehingga

masyarakat

akan

lebih

memperhatikan kesehatannya mengenai penyakit hipotiroid dan diabetes


mellitus tipe II.
2. Bagi Puskesmas dan Dinas Kesehatan Setempat
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi puskesmas
dan dinas kesehatan setempat agar lebih memperhatikan kesehatan
penderita DM tipe II hipotiroid. Sehingga prevalensi gondok endemik di
daerah tersebut bisa menurun dan manifestasi lanjut dari meningkatnya
kadar kolesterol dalam darah pada penderita DM tipe II hipotiroid bisa
dihindari.
3. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Mengetahui perubahan kadar kolesterol pada penderita DM tipe II
hipotiroid dibandingkan dengan non-hipotiroid di daerah endemik GAKI.
E. Keaslian Penelitian
Sepengetahuan peneliti, penelitian tentang kadar kolesterol total serum
pada penderita diabetes mellitus tipe II hipotiroid dan non-hipotiroid di daerah
endemik GAKI, belum banyak dilakukan. Tetapi penelitian-penelitian yang mirip
dengan judul di atas sudah pernah dilakukan. Di antaranya adalah penelitian yang
dilakukan Diez JJ dan Iqlesias (2014) yang meneliti tentang kadar kolesterol dan
trigliserid pada pasien diabetes tipe II dengan hipotiroidisme subklinis. Perbedaan
penelitian peneliti dengan penelitian tersebut adalah penelitian ini untuk
mengetahui kadar kolesterol pada pasien DM tipe II hipotiroid dibandingkan
dengan non-hipotiroid di daerah endemik GAKI. Penelitian yang dilakukan Diez
JJ dan Iqlesias menggunakan populasi di Negara Spanyol dan tidak dijelaskan
secara rinci daerah tersebut.

Kedua adalah penelitian yang dilakukan S. Josten, Mutmainnah, dan


Hardjoeno yang meneliti tentang profil lipid penderita diabetes mellitus tipe 2.
Perbedaan penelitian peneliti dengan penelitian tersebut adalah penelitian ini
untuk mengetahui kadar kolesterol pada pasien DM tipe II hipotiroid
dibandingkan dengan non-hipotiroid di daerah endemik GAKI. Penelitian yang
dilakukan S. Josten, Mutmainnah, dan Hardjoeno tidak menggunakan sampel
penderita DM tipe II dengan hipotiroid di daerah endemik GAKI tetapi
menggunakan rekam medik penderita DM tipe II di RSUP Dr. Wahidin
Sudirohusodo.
Ketiga adalah penelitian yang dilakukan oleh Khofi Khafizhah Fatkhur
(2014) yang meneliti tentang kadar kolesterol total pada ibu menyusui hipotiroid
dan non-hipotiroid di daerah endemik GAKY. Perbedaan penelitian peneliti
dengan penelitian tersebut adalah penelitian ini menggunakan responden pasien
DM tipe II hipotiroid dan non-hipotiroid. Penelitian yang dilakukan Khofi
Khafizhah Fatkhur menggunakan responden ibu menyusui hipotiroid dan nonhipotiroid.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid terletak di atas trakea dan di bawah laring. Kelenjar ini
terdiri atas dua lobus yang dihubungkan oleh suatu jembatan jaringan, yaitu
isthmus. Isthmus tiroid terletak menyilang pada cincin trakea ketiga, keempat,
dan kelima, sementara lobusnya terletak pada kedua sisi di bawah perlekatan
m. sternohioideus ke kartilago tiroid. Bila terjadi pembesaran kelenjar tiroid,
strap muscles akan teregang dengan kencang di atasnya dan vagina karotika
tergeser ke lateral. Gambaran diagnostik yang penting adalah benjolan tiroid
ikut bergerak saat menelan (Barasi, 2007).
Sel-sel sekretorik utama tiroid tersusun atas gelembung-gelembung
berongga, yang masing-masing membentuk unit fungsional yang disebut
folikel. Pada potongan mikroskopik, folikel tampak sebagai cincin-cincin sel
folikel yang meliputi lumen bagian dalam yang dipenuhi koloid, suatu bahan
proteinaseosa berwarna merah muda dan berfungsi sebagai tempat
penyimpanan ekstrasel hormon tiroid. Di ruang interstitium di antara folikelfolikel terdapat sel sekretorik jenis lain, yaitu sel C (disebut demikian karena
mengeluarkan hormon peptide kalsitonin), yang berperan dalam metabolisme
kalsium (Sherwood, 2012).

Saat kelenjar tidak aktif, koloid berjumlah banyak, folikel berukuran


besar, dan sel-sel yang membatasinya tipis. Bila kelenjar aktif, folikel menjadi
kecil, sel-selnya kuboid atau kolumnar, dan tepi folikel mengalami lekukan
yang membentuk banyak lakuna reabsorbsi kecil (Ganong, 2008).
Kelenjar tiroid divaskularisasi oleh dua arteri, yaitu (1) arteri tiroidea
superior yang terbagi menjadi dua cabang yang berjalan turun sepanjang
margo posterior dan margo superior, dan (2) arteri tiroidea inferior. Pada
kelenjar tiroid juga terdapat tiga vena di tiap sisi, yaitu vv. tiroidea superior
dan media yang mengalir menuju v. jugularis interna, dan v. tiroidea inferior
yang mengalir ke v. brakiosefalika sinistra (Barasi, 2007).
2. Hormon tiroid
a. Sintesis dan Sekresi Hormon Tiroid
Fungsi tiroid diatur oleh hormon perangsang tiroid (TSH, thyroidstimulating hormone = tirotropin) dari hipofisis anterior. Sebagian sekresi
hormon TSH diatur oleh thyrotropin-releasing hormone (TRH) dari
hipotalamus dan berada di bawah kontrol umpan balik negatif oleh
peningkatan kadar hormon tiroid dalam darah yang bekerja di hipofisis
anterior dan hipotalamus (Ganong, 2008).
Hormon utama yang disekresi oleh tiroid adalah tiroksin (T 4) dan
triiodotironin (T3). Kedua hormon tersebut adalah asam amino yang
mengandung iodium. Sejumlah kecil cadangan triiodotironin (RT3) dan
senyawa lain juga ditemukan dalam darah vena tiroid. T3 lebih aktif daripada

T4, sedangkan RT3 tidak aktif. Iodium adalah bahan mentah yang penting
untuk sintesis hormon tiroid. Iodium yang terdapat dalam makanan diubah
menjadi iodida dan diabsorbsi. Asupan iodium harian minimal untuk
mempertahankan fungsi tiroid normal adalah 150 g pada orang dewasa tetapi
di Amerika Serikat asupan makanan rata-rata adalah sekitar 500 g/h
(Ganong, 2008).
Di kelenjar tiroid, iodida mengalami oksidasi menjadi iodium dan
berikatan ke posisi karbon 3 residu tirosin yang merupakan bagian dari
molekul tiroglobulin di koloid. Tiroglobulin adalah glikoprotein yang
memiliki berat molekul 660.000. Tiroglobulin dibentuk oleh sel tiroid dan
disekresikan ke dalam koloid oleh eksositosis granula yang juga mengandung
tiroid peroksidase, enzim yang mengatalisis oksidasi I - dan pengikatannya.
Hormon tiroid tetap terikat pada molekul tiroglobulin sampai disekresikan.
Saat disekresi, koloid diabsorbsi oleh sel tiroid, ikatan peptide mengalami
hidrolisis, dan T3 serta T4 bebas dilepaskan ke dalam kapiler. Dengan
demikian, sel-sel tiroid memilik tiga fungsi, yaitu mengumpulkan dan
memindahkan iodium, membentuk tiroglobulin dan mengeluarkannya ke
dalam koloid, serta mengeluarkan hormon tiroid dari tiroglobulin dan
menyekresikannya ke dalam sirkulasi (Ganong, 2008).
Dalam proses pembentukan hormon, produk pertama adalah
monoiodotirosin (MIT). MIT kemudian mengalami iodinasi di posisi karbon 5
untuk membentuk diiodotirosin (DIT). Dua molekul DIT kemudian

10

mengalami suatu kondensasi oksidatif membentuk T4 dengan pengeluaran


rantai sisi alanine dari molekul yang membentuk cincin luar. Tiroid
peroksidase berperan dalam penggabungan dan iodinasi. T3 dibentuk melalui
kondensasi MIT dengan DIT. Sejumlah kecil RT3 juga terbentuk melalui
kondensasi DIT dengan MIT. Kelenjar tiroid manusia menyekresi sekitar 80
g (103 nmol) T4, 4g (7 nmol) T3, dan 2 g (3,5 nmol) RT3 per hari. Namun,
MIT dan DIT tidak disekresikan (Ganong, 2008).
Normalnya, kadar T4 plasma total pada orang dewasa adalah sekitar 8
g/dl (103 nmol/L) dan kadar T3 plasma adalah sekitar 0,15 g/dl (2,3
nmol/L). Sebagian besar keduanya terikat pada protein plasma. Hormon tiroid
bebas dalam plasma berada dalam keseimbangan dengan hormon tiroid yang
terikat pada protein plasma dan jaringan. Hormon tiroid bebas ditambahkan ke
cadangan sirkulasi oleh kelenjar tiroid. Hormon tiroid bebas dalam plasma
inilah yang secara fisiologis aktif dan menghambat sekresi TSH oleh hipofisis.
Di dalam sirkulasi terdapat keseimbangan antara bentuk aktif bebasnya
dengan bentuk inaktif terikat. Fungsi pengikatan protein adalah untuk
mempertahankan cadangan hormon yang siap dibebaskan dalam jumlah besar
(Ganong, 2008).
Protein plasma yang mengikat hormon tiroid adalah albumin pengikat
tiroksin (thyroxine-binding prealbumin, TBPA), transtiretin, dan globulin
pengikat tiroksin (thyroxine-binding globulin, TBG). Sebagian besar T4 dalam
sirkulasi terikat pada TBG. Secara normal, 99,98% T4 terdapat dalam bentuk

11

terikat dalam plasma; kadar T4 bebas hanya sekitar 2 ng/dL. Hanya terdapat
sedikit T4 dalam urin. T3 tidak terlalu kuat terikat; dari 0,15 g/dL yang secara
normal terdapat dalam plasma, 0,2% (0,3 ng/dL) berada dalam keadaan bebas.
Sisa 99,8% terikat pada protein, 46% pada TBG dan sebagian besar sisanya
pada albumin, serta serta sangat sedikit pengikatan pada transtiretin. Lebih
sedikitnya T3 yang terikat ini berkaitan dengan kenyataan bahwa T3 memiliki
waktu paruh yang lebih singkat daripada T4 dan kerjanya di jaringan jauh
lebih cepat. RT3 juga berikatan dengan TBG (Ganong, 2008).
Bila terjadi pengikatan konsentrasi protein pengikat tiroid dalam
plasma yang mendadak dan menetap, konsentrasi hormon tiroid bebas
menurun. Namun, perubahan ini bersifat sementara karena penurunan
konsentrasi hormon tiroid bebas dalam sirkulasi akan merangsang sekresi
TSH, yang pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan pembentukan
hormon tiroid bebas. Akhirnya, akan tercapai keseimbangan baru, yaitu
kuantitas total hormon tiroid dalam darah meningkat tetapi konsentrasi
hormon bebas, kecepatan metabolisme, dan kecepatan sekresi TSH-nya
normal. Perubahan serupa dengan arah sebaliknya juga terjadi apabila
konsentrasi protein pengikat tiroid menurun. Dengan demikian, pasien yang
mengalami peningkatan atau penurunan konsentrasi protein pengikat,
terutama TBG, bukan mengalami hipertiroid ataupun hipotiroid, melainkan
eutiroid (Ganong, 2008).

12

Tabel 1. Efek berbagai konsentrasi protein-protein pengikat hormon tiroid


dalam plasma terhadap berbagai parameter fungsi tiroid setelah keseimbangan
tercapai.

Keadaan

Hipertiroidisme

Konsentras
i Protein
Pengikat

T4, T3,
RT3
Plasm
a Total

T4, T3,
RT3
Plasm
a
Bebas

TSH
Plasm
a

Normal

Tinggi

Tinggi

Rendah

Rendah Rendah

Tinggi

Hipotiroidisme
Normal
Estrogen,
Metadon, heroin,
Tinggi
tranquilizer
mayor, klofibrat
Glukokortikoid,
androgen,
Rendah
danazol,
asparaginase
Sumber : Ganong, 2008

Tinggi

Keadaan
Klinis

Hipertiroi
d
Hipotiroid

Normal Normal

Eutiroid

Rendah Normal Normal

Eutiroid

b. Efek Hormon Tiroid


Menurut Ganong (2008), efek hormon tiroid antara lain :
1) Efek Kalorigenik
T4 dan T3 meningkatkan konsumsi O2 hampir di semua jaringan yang
aktif secara metabolik. Pengecualiannya adalah pada otak orang
dewasa, testis, uterus, kelenkar limfa, limpa, dan hipofisis anterior.
Sebagian dari efek kalorigenik hormone tiroid disebabkan oleh
metabolisme asam lemak yang dimobilisasi oleh hormon ini.
2) Efek pada Jantung

13

Efek pada jantung meliputi efek kronotropik dan inotropik. Efek kronotropik hormon tiroid pada jantung melalui mekanisme peningkatan
jumlah

dan

afinitas

reseptor

adrenergik-.

Sedangkan

efek

ionotropiknya dengan cara memperkuat respons terhadap katekolamin


darah serta meningkatkan proporsi rantai berat myosin (dengan
aktivitas ATPase yang lebih tinggi).
3) Efek pada sistem Saraf
Pada sistem saraf hormon tiroid memiliki efek tehadap perkembangan
otak normal.
4) Efek pada Otot Rangka
Pada sebagian besar pasien hipertiroidisme, terjadi kelemahan otot
(miopati tirotoksisitas) dan apabila hipertiroidismenya berat dan
berkepanjangan, miopati yang terjadi mungkin akan lebih parah.
Kelemahan otot sebagian disebabkan oleh peningkatan katabolisme
protein. Hormon tiroid mempengaruhi ekspresi gen MHC baik di otot
rangka maupun otot jantung. Namun, efek yang ditimbulkan bersifat
kompleks dan kaitannya dengan

miopati masih belum diketahui

pasti. Hipotiroidisme juga berkaitan dengan kelemahan otot, kram,


dan kekakuan otot.
5) Efek pada Metabolisme Karbohidrat
Hormon tiroid meningkatkan kecepatan penyerapan karbohidrat dari
saluran cerna.
6) Efek pada Metabolisme Kolesterol
Hormon tiroid menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Kadar
kolesterol plasma turun sebelum kecepatan metabolisme meningkat,

14

yang mengisyaratkan bahwa efek ini tidak bergantung pada stimulasi


konsumsi O2. Penurunan kadar kolesterol plasma disebabkan oleh
peningkatan pembentukan reseptor LDL di hati yang menyebabkan
peningkatan pemindahan kolesterol dari sirkulasi oleh hati. Namun,
analog hormon tiroid belum dapat secara klinis menurunkan kadar
kolesterol plasma tanpa menyebabkan peningkatan metabolisme.
7) Efek pada Pertumbuhan
Hormon tiroid penting untuk pertumbuhan dan pematangan tulang
yang normal. Pada

hipotiroid, pertumbuhan tulang melambat dan

penutupan epifisis tertunda. Tanpa adanya hormon tiroid, sekresi


hormon pertumbuhan juga terhambat, dan hormon tiroid juga
memperkuat efek hormon pertumbuhan pada jaringan.
3. Hipotiroidisme
a. Sebab Terjadinya Hipotiroidisme
1) Hipotiroidisme Sentral
Hipotiroidisme sentral dibedakan menjadi dua, yaitu hipotiroidisme
sekunder

dan

hipotiroidisme

tersier.

Hipotiroidisme

sekunder

merupakan gangguan fisiologi tiroid karena kegagalan hipofisis.


Sedangkan hipotiroidisme tersier merupakan gangguan fisiologis tiroid
karena kegagalan di hipotalamus. Keluhan klinis tidak hanya karena
desakan tumor, gangguan visus, sakit kepala, tetapi juga karena
produksi hormon yang berlebih (ACTH pada penyakit Cushing,

15

hormon pertumbuhan pada akromegali, prolactin yang menyebabkan


galaktorea pada wanita dan impotensi pada pria.
2) Hipotiroidisme Primer
Hipotiroidisme Primer bisa disebabkan oleh : a) Hipogenesis atau
agenesis

kelenjar

tiroid,

b)

destruksi

kelenjar

tiroid

akibat

pascaoperasi, pascaradiasi, tiroiditis autoimun, tiroiditis pascapartum,


tiroiditis subakut (De Quervain), dishormonogenesis atau defek pada
enzim yang berperan pada langkah-langkah hormonogensis, dan
karsinoma, c) Hipotiroidisme sepintas (transient) yang merupakan
keadaan hipotiroidisme yang cepat menghilang. Kasus ini sering
dijumpai, misalnya pasca pengobatan RAI dan pasca tiroidektomi
subcostalis (Djokomoeljanto, 2009).
b. Patofisiologi Hipotirodisme.
Gangguan pada

hipotalamus atau hipofisis dapat mempengaruhi

fungsi tiroid , namun penyakit lokal dari kelenjar tiroid yang menyebabkan
penurunan produksi hormon tiroid adalah penyebab paling umum dari
hipotiroidisme . Dalam keadaan normal , tiroid menyekresikan 100-125 nmol
T4 per hari dan hanya sejumlah kecil dari T3 . Waktu paruh dari T4 adalah
sekitar 7-10 hari . T4 prohormon diubah menjadi T3 , bentuk aktif dari hormon
tiroid , di jaringan perifer dengan 5' - deiodination . Pada awal proses penyakit
terjadi mekanisme kompensasi untuk mempertahankan kadar T3. Penurunan
produksi T4 menyebabkan peningkatan sekresi TSH oleh kelenjar hipofisis.

16

Selanjutnya, TSH merangsang kelenjar tiroid hipertrofi dan hiperplasia serta


aktivitas 5' - deiodinase, sehingga meningkatkan produksi T3 (Orlander, 2014).
Defisiensi hormon tiroid akan menimbulkan berbagai efek. Efek
sistemik ditimbulkan oleh penurunan proses metabolisme atau efek langsung
dari infiltrasi miksedema yang merupakan akumulasi glukosaminoglikan
dalam jaringan. Keadaan hipotiroid akan menyebabkan perubahan pada organ
jantung

berupa

penurunan

kontraktilitas, pembesaran

jantung,

efusi

perikardial, penurunan denyut nadi, dan penurunan curah jantung. Pada


saluran gastrointestinal, terjadi achlorhydria dan intestinal transit time yang
berkepanjangan disertai dengan stasis lambung. Selain itu, keadaan
hipotiroidisme menyebabkan pubertas tertunda, anovulasi, ketidakteraturan
menstruasi, dan infertilitas. Skrining TSH harus dilaksanakan secara rutin
untuk penyelidikan atas ketidakteraturan menstruasi atau infertilitas (Orlander,
2014).
Penurunan kadar hormon tiroid dapat menyebabkan peningkatan kadar
kolesterol total, peningkatan low-density lipoprotein ( LDL ) kolesterol, serta
perubahan kadar high-density lipoprotein (HDL) kolesterol karena perubahan
metabolic

clearence.

Selain

itu,

hipotiroidisme

dapat

menyebabkan

peningkatan resistensi insulin (Orlander, 2014).


c. Gejala Hipotiroidisme
Keluhan utama pada pasien hipotiroidisme adalah kurang energi,
manifestasinya adalah lesu, lamban bicara, mudah lupa, dan obstipasi.

17

Metabolisme rendah menyebabkan bradikardia, tak tahan dingin, berat badan


naik, dan anoreksia. Secara psikologis, pasien hipotiroidisme mengalami
depresi, meskipun nervositas dan agitasi dapat terjadi. Pasien hipotiroidisme
juga mengalami oligomenorea, infertil, dan peningkatan aterosklerosis. Semua
tanda di atas akan hilang dengan pengobatan. Pada hipotiroidisme dengan
tumor hipofisis akan mengalami gangguan pada visusnya, sakit kepala, dan
muntah. Sedangkan jika terjadi kegagalan pada fungsi hormon tropiknya,
misalnya karena ACTH berkurang, dapat terjadi kegagalan faal korteks
adrenal dan sebagainya. Keluhan dan tanda klinik hipotiroidisme secara
spesifik dapat dilihat pada tabel 2.
d. Penegakan Diagnosis Hipotiroidisme
Alat skrining yang paling sensitif untuk hipotiroidisme primer adalah
pengukuran kadar TSH. Jika kadar TSH di atas rentang normal, langkah
selanjutnya adalah mengukur kadar free T4 atau free thyroxine index (FTI),
yang berfungsi sebagai pengganti dari tingkat hormon bebas. Pengukuran
rutin T3 tidak dianjurkan (Orlander, 2014).
Pasien dengan hipotiroidisme akan menunjukkan hasil sebagai berikut:
1) peningkatan TSH dengan penurunan T4 atau FTI, 2) peningkatan TSH
(biasanya 4,5-10,0 mIU/L) dengan free T4 normal atau FTI normal,
dikategorikan sebagai hipotiroidisme ringan atau subklinik. Kelainan pada
hitung darah lengkap dan profil metabolisme yang dapat ditemukan pada
pasien dengan hipotiroidisme meliputi: 1) anemia, 2) dilusi hiponatremia, 3)

18

hiperlipidemia, 4) peningkatan kreatinin secara reversibel, 5) peningkatan


pada transaminase dan kreatinin kinase (Orlander, 2014).
Tabel 2. Keluhan dan Tanda Klinik pada Hipotiroidisme dari Satu Seri Kasus
Keluhan
Rel %
Keluhan
Rel %
Rasa capek
99
Obstipasi
58
Intoleransi
terhadap
92
Edema ekstremiras
56
dingin
88
Kesemutan
56
Kulit terasa kering
88
Rambut
rontok
49
Lamban
88
Pendengaran berkurang
45
Muka seperti bengkak
81
Anoreksia
43
Rambut alis mata lateral
rontok
76
Nervositas
43
Rambut rapuh
74
Kuku mudah patah
41
Bicara lamban
68
Nyeri
otot
36
Berat badan meningkat
68
Menorrhagia
33
Mudah lupa
64
Nyeri
sendi
29
Dispnea
64
Angina
pectoris
21
Suara serak
61
Dysmenorrhoea
18
Otot lembek
60
Eksoftalmus
11
Depresi
Tanda klinik
Rel %
Kulit kering
88
Gerak lamban
88
Edema wajah
88
Kulit dingin
82
Alis lateral rontok
81
Rambut rapuh
76
Fase relaksasi reflex
76
achilles menurun
7
Bicaranya lamban
Lidah tebal
Sumber : Djokomoeljanto (2009)
4. GAKI
a. Iodium di Alam

Tanda klinik
Suara serak
Kulit pucat
Otot lembek, kurang
kuat
Obesitas
Edema perifer
Eksoftalmus
Bradikardia
Suhu rendah

Rel %
64
63
61
59
56
11
?
?

19

Sumber utama iodium di alam adalah di air laut dan udara, walaupun
kadarnya hanya sedikit. Karena iodium larut dalam air maka erosi oleh sebab
apapun akan mengikis iodium dari permukaan tanah dan membawanya ke
laut. Hal ini terlihat jelas bahwa banyak daerah gondok endemik terjadi pada
daerah berkapur dan daerah yang mengalami erosi. Sumber iodium antara
lain: a) air tanah, b) air laut mengandung sedikit iodium sehingga kandungan
garam rendah, c) plankton, ganggang laut dan organisme laut lain berkadar
iodium tinggi sebab organisme ini mengonsentrasikan iodium dari lingkungan
sekitarnya, d) sumber bahan organik yang berada dalam oksidan, desinfektan,
iodophor, zat warna makanan dan kosmetik, dan vitamin yang beredar di
pasaran menambah iodium juga, e) ikan laut, cumi-cumi yang dikeringkan
mengandung banyak iodium (Djokomoeljanto, 2009).
b. Konsep GAKI
Gondok endemik hingga kini masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang penting di Indonesia maupun di negara berkembang.
Defisiensi iodium merupakan satu spektrum luas dan mengenai semua segmen
usia, dari fetus hingga dewasa sehingga gondok tidak identik dengan GAKI.
Kepentingan klinis GAKI tidak hanya didasarkan atas akibat desakan mekanis
yang disebabkan oleh gondok, tetapi justru gangguan fungsi lain yang dapat
dan sering menyertainya, seperti gangguan perkembangan mental dan
rendahnya IQ, hipotiroidisme, dan kretin endemik (Djokomoeljanto, 2009).

20

GAKI adalah satu spektrum gangguan yang luas sebagai akibat


defisiensi iodium dalam makanan yang berakibat atas menurunnya kapasitas
intelektual dan fisik pada orang-orang yang kekurangan iodium, serta dapat
bermanifestasi sebagai gondok, retardasi mental, defek mental serta fisik, dan
kretin endemik. Semua gangguan pada populasi tersebut dapat dicegah
dengan masukan iodium yang cukup pada penduduknya (Djokomoeljanto,
2009).
Berat ringannya endemik dapat dinilai dengan memeriksa ekskresi
yodium urin (EYU). Dalam keadaan seimbang, yodium yang masuk ke dalam
tubuh dianggap sama dengan yang diekskresikan melalui urin. Jadi,
pemeriksaan urin dianggap menggambarkan masukan yodium. Data yang
dimaksud dinyatakan sebagai jumlah mikrogram ekskresi yodium sehari (ug
I-/24 jam urin) atau dinyatakan dalam mikrogram yodium per gram kreatinin
urin sewaktu (ug I/g kreatinin urin) atau ug I/dl urin. Daerah endemik dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Endemik grade I (endemik ringan) :
Endemik dengan nilai median ekskresi yodium urin lebih dari 50 ug l/g
kreatinin, atau median urin antara 5,0-9,9 ug/dl. Dalam keadaan ini,
kebutuhan hormon tiroid untuk pertumbuhan fisik maupun mental
terpenuhi, prevalensi gondok anak sekolah 5-20%.
2) Endemik grade II (endemik sedang) :
Endemik dengan nilai median ekskresi yodium urin antara 25-50 ug l/g
kreatinin, atau median antara 2,0-4,9 ug/dl. Hormon tiroid mungkin tidak

21

tercukupi. Terdapat risiko terjadinya hipotiroidisme tetapi tidak terlihat


kretin endemik yang jelas. Prevalensi gondok anak sekolah sampai dengan
30%.
3) Endemik grade III (endemik berat) :
Endemik dengan nilai median eksresi yodium urin kurang dari 25 ug l/g
kreatinin, atau median kurang dari 2 mg/dl. Terjadi risiko sangat tinggi
untuk lahirnya kretin endemik dengan segala akibatnya. Prevalensi
gondok anak sekolah lebih dari 30%, prevalensi kretin endemik dapat
mencapai 110% (Djokomoeljanto, 2009).
5. Diabetes Mellitus Tipe II
Diabetes mellitus tipe II lebih sering dijumpai daripada tipe I. Diabetes
mellitus tipe II dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi insulin plasma
(hiperinsulinemia). Hal ini terjadi sebagai upaya kompensasi oleh sel beta
pankreas terhadap penurunan sensitivitas jaringan terhadap efek metabolisme
insulin, yaitu suatu kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin. Penurunan
sensitivitas insulin mengganggu penggunaan dan penyimpanan karbohidrat
yang akan meningkatkan kadar gula darah dan merangsang peningkatan
sekresi insulin sebagai upaya kompensasi (Guyton, 2008).
Perkembangan resistansi insulin dan gangguan metabolisme glukosa
biasanya terjadi secara bertahap, yang dimulai dengan peningkatan berat
badan dan obesitas. Akan tetapi, mekanisme yang menghubungkan obesitas
dengan

resistansi

insulin

masih

belum

pasti.

Beberapa

penelitian

menunjukkan bahwa jumlah reseptor insulin di otot rangka, hati, dan jaringan

22

adiposa pada orang obese lebih sedikit daripada jumlah reseptor pada orang
yang kurus. Namun kebanyakan resistansi insulin agaknya disebabkan
kelainan jaras sinyal yang menghubungkan reseptor yang teraktivasi dengan
berbagai efek selular. Gangguan sinyal insulin agaknya disebabkan efek
toksik dari akumulasi lipid di jaringan seperti otot rangka dan hati akibat
kelebihan berat badan (Guyton, 2008).
Resistansi insulin merupakan bagian dari serangkain kelainan yang
sering disebut sebagai sindrom metabolik. Beberapa gambaran sindrom
metabolik meliputi: 1) obesitas, terutama akumulasi lemak abdomen, 2)
resistensi insulin, 3) hiperglikemia puasa, 4) abnormalitas lipid seperti
peningkatan kadar trigliserida darah dan penurunan kolesterol lipoprotein
berdensitas tinggi di darah, dan 5) hipertensi. Peran kontribusi resistensi
insulin dalam beberapa komponen sindrom metabolik masih belum jelas,
meskipun sudah jelas bahwa resistensi insulin merupakan penyebab utama
terjadinya peningkatan kadar gula darah (Guyton, 2008).
Pasien dengan diabetes mellitus tipe II mungkin sama sekali tidak
memperlihatkan gejala apapun. Pada hiperglikemia yang lebih berat, pasien
tersebut mungkin menunjukkan manifestasi klinis seperti polidipsia, poliuria,
lemah, somnolen, dan penglihatan kabur. Biasanya mereka tidak mengalami
ketoasidosis karena pasien ini tidak defisiensi insulin secara absolut namun
hanya relatif. Sejumlah insulin tetap disekresi dan masih cukup untuk
menghambat ketoasidosis. Kadar insulin pada pasien mungkin berkurang,

23

normal, atau tinggi, tetapi tetap tidak memadai untuk mempertahankan kadar
glukosa darah normal (Price, 2012).
Kriteria diagnostik diabetes mellitus tipe II menurut American
Diabetes Association (ADA) :
a. glukosa darah puasa lebih dari atau sama dengan 126 mg/dL (7.0 mmol /L),
atau
b. glukosa darah 2 jam, lebih dari atau sama dengan 200 mg/dL (11,1
mmol/L) selama 75-g tes toleransi glukosa oral (OGTT), atau
c. glukosa darah sewaktu lebih dari atau sama dengan 200 mg/dL (11,1
mmol/L) pada pasien dengan gejala klasik hiperglikemia.
Kadar hemoglobin A1c (HbA1c) lebih dari atau sama dengan 6,5%
merupakan kriteria diagnostik utama atau kriteria opsional walaupun hal ini
masih menjadi kontroversi (Khardori, 2014).
Komplikasi DM tipe II terdiri atas komplikasi mikrovaskular,
makrovaskular, dan komplikasi neuropatik. Hiperglikemia berperan pada
timbulnya komplikasi mikrovaskular dan komplikasi metabolik. Yang
termasuk

komplikasi

mikrovasular

adalah

pada

retina,

ginjal,

dan

kemungkinan penyakit neuropatik. Komplikasi makrovaskular kurang


berhubungan dengan glikemia. Risiko penyakit kardiovaskular merupakan
contoh dari komplikasi makrovaskular. Penyakit kardiovaskular terkait
dengan sebagian resitensi insulin yang diikuti kelainan lipid sebagai berikut:
1) sedikit peningkatan kadar low-density lipoprotein (LDL), 2) penurunan
kadar high-density lipoprotein (HDL), dan 3) peningkatan kadar trigliserida
(Khardori, 2014).
6. Kolesterol
a. Metabolisme Lipoproten

24

Di dalam darah manusia ditemukan tiga jenis lipid, yaitu kolesterol,


trigliserid, dan fosfolipid. Menurut National Cholesterol Education Program
Adult Panel III (NCEP-ATP III), kadar kolesterol normal atau dikatakan
optimal adalah kurang dari 200 mg/dl. Oleh karena sifat lipid yang susah larut
dalam lemak, maka perlu dibuat zat terlarut. Untuk itu dibutuhkan suatu zat
pelarut yaitu suatu protein yang dikenal dengan nama apolipoprotein atau
apoprotein. Senyawa lipid dengan apoprotein dikenal dengan nama
lipoprotein. Setiap jenis lipoprotein memiliki Apo tersendiri. Setiap
lipoprotein terdiri atas kolesterol (bebas atau ester), trigliserida, fosfolipid,
dan apoprotein. Lipoprotein berbentuk sferik dan mempunyai inti trigliserid
dan kolesterol ester dan dikelilingi oleh fosfolipid dan sedikit kolesterol
bebas. Apoprotein ditemukan pada permukaan lipoprotein. (Adam, 2009).
Adam (2009) mengemukakan bahwa metabolisme lipoprotein dapat
dibagi atas tiga jalur, yaitu jalur metabolisme eksogen, jalur metabolisme
endogen, dan jalur reverse cholesterol transport. Kedua jalur pertama
berhubungan dengan metabolisme kolesterol LDL dan trigliserida, sedangkan
jalur reverse cholesterol transport khusus mengenai metabolisme kolesterolHDL
1) Jalur metabolisme eksogen
Makanan berlemak yang kita makan terdiri atas trigliserida dan
kolesterol. Selain kolesterol yang berasal dari makanan, dalam usus juga
terdapat kolesterol dari hati yang dieksresi besama empedu ke usus halus.

25

Baik lemak di usus halus yang berasal dari makanan maupun yang berasal
dari hati disebut lemak eksogen. Trigliserida dan kolesterol dalam usus
halus diserap ke dalam enterosit mukosa usus halus. Trigliserid diserap
sebagai asam lemak bebas sedangkan kolesterol akan diserap sebagai
kolesterol. Di dalam usus halus asam lemak bebas akan diubah lagi
menjadi trigliserid, sedangkan kolesterol mengalami esterifikasi menjadi
kolesterol ester. Kolesterol ester dan trigliserid bersama fosfolipid dan
fosfolipid dan apolipoprotein akan membentuk lipoprotein yang dikenal
dengan nama kilomikron.
Kilomikron ini akan masuk ke saluran limfe dan akhirnya melalui
duktus torasikus akan masuk ke dalam aliran darah. Trigliserid dalam
kilomikron akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase yang
berasal dari endotel menjadi asam lemak bebas (free fatty acid (FFA) =
non-esterified fatty acid (NEFA)). Asam lemak bebas dapat disimpan
sebagai trigliserid kembali di jaringan lemak (adipose), tetapi bila terdapat
dalam jumlah yang banyak sebagian akan diambil oleh hati menjadi bahan
untuk pembentukan trigliserid hati. Kilomikron yang sudah kehilangan
sebagian besar trigliserid akan menjadi kilomikron remnant yang
mengandung kolesterol ester dan akan dibawa ke hati.
2) Jalur metabolisme endogen
Trigliserid dan kolesterol yang disintesi di hati akan disekresi ke dalam
sirkulasi sebagai lipoprotein VLDL. Dalam sirkulasi, trigliserid di VLDL
akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase (LPL), dan

26

VLDL berubah menjadi IDL yang juga akan mengalami hidrolisis dan
berubah menjadi LDL. Sebagian dari VLDL, IDK, dan LDL akan
mengangkut kolesterol ester kembali ke hati. LDL adalah lipoprotein yang
paling banyak mengandung kolesterol. Sebagian dari kolesterol di LDL
akan dibawa ke hati dan jaringan steroidogenik lainnya seperti kelenjar
adrenal, testis, dan ovarium yang mempunyai reseptor untuk kolesterolLDL. Sebagian lagi dari kolesterol LDL akan mengalami oksidasi dan
ditangkap reseptor scavenger-A (SR-A) di makrofag dan akan menjadi sel
busa (foam cell). Makin banyak kadar kolesterol-LDL dalam plasma
makin banyak yang akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh sel
makrofag. Jumlah kolesterol yang akan teroksidasi tergantung dari
kolesterol yang terkandung di LDL.
3) Jalur Reverse Cholesterol Transport
HDL dilepaskan sebagai partikel kecil miskin kolesterol yang
mengandung apolipoprotein (apo) A, C, dan E; dan disebut HDL nascent.
HDL nascent berasal dari usus halus dan hati, mempunyai bentuk gepeng
dan mengandung apolipoprotein A1. HDL nascent akan mendekati
makrofag untuk mengambil kolesterol yang tersimpan di makrofag.
Setelah mengambil kolesterol dari makrofag, HDL nascent berubah
menjadi HDL dewasa yang berbentuk bulat. Agar dapat diambil oleh HDL
nascent, kolesterol (kolesterol bebas) di bagian dalam makrofag harus
dibawa ke permukaan membran sel makrofag oleh suatu transporter yang

27

disebut

adenosine

triphosphate-bindin

cassette

transporter-l

atau

disingkat ABC-1.
Setelah mengambil kolesterol bebas dari sel makrofag, kolesterol
bebas akan diesterifikasi menjadi kolesterol ester oleh enzim lecithin
cholesterol acyltransferase (LCAT). Selanjutnya, sebagian kolesterol ester
yang dibawa oleh HDL akan mengambil dua jalur. Jalur pertama ialah ke
hati dan ditangkap oleh scavenger receptor class B type 1 dikenal SR-B1.
Jalur kedua adalah kolesterol ester dalam HDL akan dipertukarkan dengan
trigliserid dari VLDL dan IDL dengan bantuan cholesterol ester transfer
protein (CETP). Dengan demikian fungsi HDL sebagai penyerap
kolesterol dari makrofag mempunya dua jalur yaitu langsung ke hati dan
jalur tidak langsung melalui VLDL dan IDL untuk membawa kolesterol
kembali ke hati.
b. Hubungan Hipotiroidisme dengan Kadar Kolesterol
Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol, salah
satunya adalah hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid akan meningkatkan
kolesterol

darah,

sedangkan

kelebihan

hormon

tiroid

menurunkan

konsentrasinya (Guyton, 2008).


Hipotiroidisme adalah keadaan yang menunjukkan rendahnya hormon
tiroid atau berkurangnya efek hormon tiroid pada jaringan (Djokomoeljanto,
2009). Hormon tiroid berperan dalam mengontrol berbagai metabolisme zat di
dalam tubuh, salah satunya adalah metabolisme kolesterol. Hormon tiroid
menurunkan kadar kolestreol dalam darah karena terjadi peningkatan

28

pembentukan reseptor LDL di hati yang menyebabkan peningkatan


pemindahan kolesterol dari sirkulasi oleh hati (Ganong, 2008).
Penelitian yang dilakukan Bamashmoos, dkk. (2013) di Kuwait
University Hospital menunjukkan bahwa dari 50 sampel yang terdiri atas 30
sebagai kelompok uji dan 20 sebagai kelompok kontrol, terdapat kenaikan
kadar kolesterol yang signifikan pada pasien hipotiroidisme sebanyak 58%.
c. Hubungan DM tipe II dengan Kadar Kolesterol
Kadar kolesterol yang tinggi berisiko terhadap penyakit DM tipe II.
Kadar kolesterol yang tinggi menyebabkan terjadinya kerusakan sel beta
pankreas yang akhirnya mengakibatkan DM tipe II. Terdapat beberapa
penelitian yang menunjukkan bahwa kadar kolesterol yang tinggi lebih
berisiko terhadap DM tipe II, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan
Trisnawati dan Setyorogo (2013). Penelitian yang dilakukan di Puskesmas
Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat menunjukkan bahwa distribusi
responden berdasarkan kadar kolesterol tinggi lebih berisiko daripada
responden yang kadar kolesterolnya normal (Trisnawati, 2013).
DM tipe II merupakan kombinasi dari resistansi insulin, tidak
adekuatnya sekresi insulin, dan sekresi glukagon yang berlebih (Khadori,
2014). Kurangnya insulin akan menyebabkan peningkatan kadar kolesterol.
Pada kondisi koma diabetikum juga menunjukkan kadar kolesterol yang
tinggi (Guyton, 2008).

29

Dari penjelasan di atas, maka DM tipe II dan peningkatan kadar


kolesterol sangat berkaitan dan saling mempengaruhi antara keduanya.
7. Hubungan Hipotiroidisme pada Penderita DM Tipe II terhadap
Kadar Kolesterol
Keadaan hipotiroidisme dan DM tipe II menunjukkan kadar kolesterol
di atas normal. Hormon tiroid yang rendah menyebabkan kenaikan kadar
kolesterol. Pada DM tipe II juga menunjukkan kadar kolesterol yang tinggi.
Keadaan hipotiroid akan memperparah kenaikan kadar kolesterol yang sudah
tinggi pada penderita DM tipe II.
Terdapat keterkaitan antara hipotiroid dengan DM tipe II. Pada
penderita hipotiroid terjadi peningkatan sensitivitas glikolisis. Glikolisis
merupakan suatu proses pelepasan energi dari molekul glukosa. Produk akhir
glikolisis selanjutnya dioksidasi untuk menghasilkan energi. Peningkatan
sensitivitas glikolisis dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa dalam
darah. Apabila terjadi kenaikan kadar glukosa dalam darah dalam jangka
waktu yang lama, dapat menyebabkan kerusakan jaringan-jaringan atau organ
di dalam tubuh. Termasuk juga pankreas yang berusaha terus menerus
menghasilkan insulin untuk mengkompensasi agar glukosa darah menurun.
Dari sensitivitas glikolisis tersebut dapat terjadi penurunan insulin. Penurunan
jumlah insulin dapat menyebabkan terganggunya peran insulin dalam
memelihara metabolisme dalam tubuh, salah satunya adalah metabolisme
karbohidrat (Guyton, 2008).

30

Penelitian yang dilakukan Brenta dkk. (2009) juga menunjukkan


bahwa kurangnya hormon tiroid akan mengarah ke keadaan resistensi insulin
karena penurunan pembuangan glukosa di dalam otot skelet dan jaringan
adipose.

31

B. Kerangka Konsep

Daerah endemik GAKI


Kondisi hipotiroid +
diabetes melitus tipe II

Gangguan metabolisme tubuh dan


resistensi insulin
Peningkatan kadar kolesterol
Gambar 1. Kerangka Konsep

C. Hipotesis
Kadar kolesterol total serum pada penderita diabetes melitus tipe II
hipotiroid lebih tinggi dibandingkan dengan diabetes mellitus tipe II nonhipotiroid di daerah endemik GAKI.

32

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental karena peneliti
tidak melakukan intervensi terhadap sampel. Rancangan penelitian yang
dilakukan adalah cross-sectional. Subyek penelitian ini dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu kelompok uji dan kelompok kontrol. Kelompok uji adalah
kelompok pasien DM tipe II hipotiroid, sedangkan kelompok kontrol adalah
kelompok pasien DM tipe II yang tidak menderita hipotiroid. Kedua kelompok
diperiksa kadar glukosa darah dan kolesterol total.
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien DM tipe II di daerah
endemik GAKI.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien DM tipe II hipotiroid dan nonhipotiroid. Penentuan sampel dengan metode purposive sampling.
3. Kriteria Inklusi
a. Kelompok Sampel
1) Pasien DM tipe II hipotiroid
2) Menderita hipotiroid, dapat dilihat dari pemeriksaan fisik (adanya
gondok pada leher) dan skoring yang mendukung diagnosis
hipotiroid
3) Berpuasa minimal 8 jam sebelum dilakukan pengambilan darah
4) Bertempat tinggal di daerah endemik GAKI Desa Ngargosoko
Kecamatan Srumbong Kabupaten Magelang

33

b. Kelompok kontrol
1) Pasien DM tipe II non hipotiroid
2) Berpuasa minimal 8 jam sebelum dilakukan pengambilan darah
3) Bertempat tinggal di daerah endemik GAKI Desa Ngargosoko
Kecamatan Srumbong Kabupaten Magelang
4. Kriretia Eksklusi
Mempunyai riwayat penyakit metabolisme yang terkait dengan parameter
yang akan diuji

C. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di daerah endemik GAKI, yaitu Kecamatan
Srumbung, Kabupaten Magelang. Spesimen diperiksa di Laboratorium LPTT
Universitas Gajah Mada untuk pemeriksaan kadar kolesterol total serum. Untuk
mengetahui apakah responden dalam kondisi hipotiroid atau non hipotiroid,
ditentukan melalui hasil skoring. Adapun waktu penelitian adalah 20 Oktober
2014 24 Desember 2014.
D. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas
Pasien DM tipe II di daerah endemik GAKI
2. Variabel Tergantung
Kadar kolesterol total serum
E. Definisi Operasional
1. Kondisi hipotiroid ditegakkan melalui hasil skoring dengan jumlah skor >
20. Daftar skoring berisi 25 pertanyaan mengenai gejala klinis hipotiroid
yang diadaptasi dari lembaga kesehatan di Amerika dan sudah

34

distandardisasi dan digunakan Balai Penelitian GAKI Magelang. Tiap


jawaban pasien atas pertanyaan akan diberi skor sesuai kriteria yang ada.
2. Kadar kolesterol total adalah pengukuran kadar kolesterol serum yang
diukur secara enzimatik dengan spektrofotometer, skala rasio. Kadar
kolesterol total serum :
a. Optimal
: < 200 mg/dl
b. Diinginkan
: 200 239 mg/dl
c. Tinggi
: 240 mg/dl
(Djokomoeljanto, 2009)
3. Kadar glukosa darah puasa diukur dengan alat screening pengukur
glukosa darah (easy touch).

Menurut American Diabetes Association

(ADA), DM tipe II ditegakkan apabila glukosa darah puasa lebih dari atau
sama dengan 126 mg/dL (7.0 mmol /L) dan terdapat tiga gejala spesifik,
yaitu polidipsi, poliuri, dan polifagi.
4. Daerah endemik GAKI adalah kawasan dimana konsumsi rata-rata iodium
penduduknya tidak mencukupi kebutuhan tubuh, sehingga timbul
hipotiroidisme (Djokomoeljanto, 2006).
F. Alat dan bahan penelitian
1. Alat yang digunakan
a. Spuit injeksi 5 cc
b. Handscoon
c. Kapas steril dan alkohol
d. Alat screening pengukur gula darah (easy touch)
e. Tourniquet
f. Coolbox dan dry ice
g. Tabung darah
h. Seperangkat alat gelas dan tabung kimia
i. Kuvet
j. Pipet piston
k. Spektrofotometer
l. Vortex
m. Sentrifuge
2. Bahan yang digunakan

35

a. Bahan kimia yang digunakan, meliputi : larutan reagensia (CHODPAP +Buffer), aquades, reagen, larutan standar kolesterol.
b. Bahan yang diperiksa adalah darah yang diambil dari vena mediana
cubiti sampel, kemudia di-centrifuge dan diambil serumnya.
G. Jalannya Penelitian
Subyek di daerah
endemik GAKI
Pengambilan data penderita DM tipe II
di Puskesmas Kecamatan Srumbung
Srumbung
Pemeriksaan fisik, skoring, dan
pengambilan sampel darah

Kelompok uji
(hipotiroid, skoring > 20)

Kelompok kontrol
(non-hipotiroid, skoring < 20)

Pemeriksaan kadar
kolesterol total serum
Gambar 2. Tahapan Pelaksanaan Penelitian
1. Diambil sampel pasien DM tipe II di daerah endemik GAKI Kecamatan
Srumbung, Kabupaten Magelang.
2. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan sesuai data yang didapatkan
dari Puskesmas Kecamatan Srumbung. Sampel diambil di rumah para penderita
DM tipe II dengan terlebih dahulu meminta izin kepada kepala pedukuhan
setempat.

36

3. Pada hari yang telah disepakati, dilakukan pemeriksaan fisik, skoring, dan
pengambilan sampel darah dari vena mediana cubiti terhadap. Daftar skoring
berisi 25 pertanyaan mengenai gejala klinis hipotiroid yang diadaptasi dari
lembaga kesehatan di Amerika dan sudah distandardisasi dan digunakan Balai
Penelitian GAKI Magelang. Tiap jawaban pasien atas pertanyaan akan diberi skor
sesuai kriteria yang ada. Sedangkan sebagian kecil sampel darah diperiksa kadar
GDP menggunakan easy touch saat itu juga, sebagian lagi dimasukkan ke tabung
darah untuk diperiksa kadar kolesterol total serum di Laboratorium LPPT UGM.
4. Setelah diketahui hasil skoring, subyek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
kelompok hipotiroid untuk hasil skoring > 20 dan kelompok non-hipotiroid untuk
hasil skoring < 20.
5. Sampel darah diperiksa di Laboratorium LPPT Universitas Gajah Mada untuk
pemeriksaan kadar kolesterol total serum. Teknik pemeriksaan dan penghitungan
kadar kolesterol total serum dengan metode CHOD PAP, Fotometrik Enzimatik :
a. Pemisahan serum
1) Sentrifuse sampel darah pada kecepatan 4000 rpm selama 10 menit atau
12.000 rpm selama 2 menit
2) Pindahkan serum / fase cair ke tube baru
3) Simpan dalam freezer sampai dilakukan pengukuran
b. Pemeriksaan kadar kolesterol total serum
1) Blanko akuades 10 l + reagent 1000 l
2) Standart (200 mg/dl) 10 l + reagent 1000 l
3) Sampel serum/ plasma 10 l + reagent 1000 l
4) Dicampur masing-masing hingga homogen
5) Inkubasi 20 menit pada suhu kamar (RT) (24 - 30C)
6) Pembacaan dengan metode endpoint dan panjang gelombang 543 nm.
7) Penghitungan kadar (otomatis pada spectrophotometer Microlab 300):

37

Kadar Kolesterol=

|Sampel|
x konsentrasi standart
|Standart|

(200 mg/dl)

Abs = Absorbansi

H. Analisis Data
Data dianalisis dengan seperangkat alat computer menggunakan metode
Independent Sample t-Test. Data hasil pengukuran dianalisis dengan uji Independent
Sample t-Test jika persebaran kedua kelompok normal. Data diuji dengan Mann
Whitney test jika persebaran kedua kelompok data tidak normal.

I. Etik Penelitian
1. Meminta ethical clearance dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan surat pengantar yang
akan ditunjukkan ke Puskesmas dan Posyandu Kecamatan Srumbung, serta ke
Dinas Kesehatan Magelang sebelum melakukan penelitian.
2. Setelah dilakukan sosialisasi oleh pakar di bidang kesehatan mengenai penelitian
ini, selanjutnya peneliti meminta persetujuan responden (informed consent).
3. Semua informasi dan data data dalam penelitian ini hanya dipakai untuk
keperluan ilmiah sehingga kode dan identitas responden dijamin kerahasiannyaa.

38