Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
Tonsilitis merupakan suatu peradangan atau pembengkakan jaringan tonsil bersama
pengumpulan leukosit, bakteri patogen, dan juga sel - sel epitel mati. Tonsilitis kronis tanpa
diragukan merupakan penyakit tenggorokan yang berulang. Gambaran klinis bervariasi, dan
diagnosis sebagian besar tergantung pada inspeksi. Pada umumnya, terdapat dua gambaran yang
secara menyeluruh berbeda yang tampaknya cocok dimasukkan kategori tonsilitis kronis. Pada satu
jenis tonsila membesar, dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian kripta tampak
mengalami stenosis, tapi eksudat, yang seringkali purulen, dapat diperlihatkan dari kripta kripta
tersebut. Pada beberapa kasus satu atau dua kripta membesar, dan suatu bahan seperti keju atau
seperti dempul amat banyak dapat diperlihatkan dari kripta. Infeksi kronis biasanya berderajat
rendah adalah nyata. Gambaran klinis lain yang sering adalah dari tonsil yang kecil, biasanya
membuat lekukan dan seringkali dianggap sebagai kuburan dimana tepinya hiperemis, dan
sejumlah kecil sekret purulen yang tipis, seringkali dapat diperlihatkan dari kripta. Biakan tonsila
dengan penyakit kronis biasanya menunjukkan beberapa organisme yang virulensinya relatif rendah
dan, pada kenyataannya, jarang menunjukkan streptokokus beta hemolitikus.(1)
Pembesaran tonsil/amandel bisa sangat besar sehingga tonsil kiri dan kanan saling bertemu
dan dapat mengganggu jalan pernapasan.(11)
Penyebab dari tonsilitis jenis ini berbeda dengan tonsilitis pada umumnya. Penyebab
penyakit tonsilitis kronis ini adalah kuman golongan Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus
viridans, dan Streptococcus pyogenes. Pada individu yang rentan, peradangan dapat disebabkan
oleh faktor lain selain infeksi kuman itu sendiri. Faktor yang lain tersebut antara lain;(11)

debu

asap rokok
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

makanan berminyak

kelelahan

cuaca

buah-buahan
Karena terus menerus mengalami kontak dengan faktor diatas, akibatnya tonsil mengalami

radang berulang. Berulangnya radang ini, mengakibatkan tonsil menjadi membesar dan mengalami
pembengkakan, bahkan sampai menghalangi jalan nafas.(11)
Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok,
beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan
pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.(7,9)
Karena proses radang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa juga jaringan limfoid
terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan
mengalami pengerutan sehingga kripti melebar. Secara klinik kripti ini tampak diisi oleh detritus.
Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan
dengan jaringan di sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar
limfa submandibula.(7,9)
Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus
melebar dan beberapa kripti terisi oleh dendritus. Rasa ada yang mengganjal di tenggorok,
dirasakan kering di tenggorok dan nafas berbau.(7,9)
Gejala umum tonsilitis meliputi(7,8,9)

merah dan/atau bengkak pada tonsil

kaku dan bengkak pada leher

sakit tenggorokan

sulit menelan makanan

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

batuk

sakit kepala

sakit mata

demam

hidung mampet
Tonsilitis kronis dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa rinitis kronik,

sinusitis, atau otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau
limfogen dan dapat timbul endokarditis, artritis, miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis,
pruritus, urtikaria, dan furunkulosis.(7,9)
Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil. Tindakan
ini dilakukan pada kasus kasus dimana penatalaksanaan medis atau yang lebih konservatif gagal
untuk meringankan gejala gejala. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian penisilin yang
lama, irigasi tenggorokan sehari hari, dan usaha untuk membersihkan kripta tonsilaris dengan alat
irigasi gigi atau oral. Ukuran jaringan tonsil tidak mempunyai hubungan dengan infeksi kronis atau
berulang.(1,3,7)
Tonsilektomi adalah kasus bedah yang paling banyak dilakukan oleh dokter spesialis Telinga
Hidung Tenggorokan (THT) sehingga sering dianggap sebagai bedah yang kecil saja, namun tetap
ada resiko karena dokter melakukan suatu tindakan memanipulasi organ tubuh. Banyak sekali
komplikasinya, antara lain: 1) rasa nyeri setelah operasi tonsilitis kronis tersebut, 2) serangan tonsil
yang berulang atau tonsilitis relaps, 3) sumbatan jalan nafas, 4) timbulnya abses peritonsil dan 5)
komplikasi terberat yaitu kematian.(3,11)
Tonsilitis kronis yang sering berulang lebih dari 3 kali dalam setahun, menyebabkan
sumbatan jalan nafas seperti mengorok dan tidak respon terhadap obat adalah indikasi absolut dari
tonsilektomi, apalagi tonsilitis kronisnya mengakibatkan demam sehingga anak tersebut kejang
demam.(3,11)
Tonsilektomi dengan atau tanpa adenoidektomi dilakukan sering dalam usaha untuk
mengendalikan penyakit faring berulang, obstruksi jalan nafas atas, dan otitis media kronis. Dengan
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

munculnya antibiotik dan pengertian yang lebih baik dari fungsi imunologi jaringan limfoid faring,
menjadi perlu untuk berhati hati mempertimbangkan kembali indikasi indikasi pada prosedur
prosedur ini.(1)
Walaupun mungkin terdapat berbagai pendapat tentang indikasi yang pasti untuk
tonsilektomi pada anak anak, terdapat sedikit perselisihan pendapat tentang indikasi prosedur ini
pada orang dewasa. Tonsilektomi biasanya dilakukan pada dewasa muda yang menderita episode
ulangan tonsilitis, selulitis peritonsilaris, atau abses peritonsilaris. Tonsilitis kronis dapat
menyebabkan hilangnya waktu bekerja yang berlebihan.(1)
Anak anak jarang menderita tonsilitis kronis atau abses peritonsilaris. Paling sering,
mereka mengalami episode berulang tonsilitis akut dan hipertrofi penyerta. Beberapa episode
mungkin disebabkan oleh virus atau bakteri. Diskusi kemudian mengenai kapan saat atau setelah
berapa kali episode tindakan pembedaham dibutuhkan. Pedoman pedoman yang biasanya dapat
diterima sekarang ini ditunjukkan pada bagian ini.(1)
Keputusan akhir untuk melakukan tonsilektomi tergantung pada kebijaksaan dokter yang
merawat pasien. Mereka sebaiknya menyadari kenyataan bahwa tindakan ini merupakan prosedur
pembedahan mayor yang bahkan hari ini masih berlum terbebas dari komplikasi komplikasi yang
serius.(1)
The American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery Clinical Indicators
Compendium tahun 1995 menetapkan indikasi tonsilektomi:(9)
1. Serangan tonsilitis lebih dari tiga kali per tahun walaupun telah mendapatkan terapi yang
adekuat.
2. Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan
pertumbuhan orofasial.
3. Sumbatan jalan nafas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan nafas, sleep
apnea, gangguan menelan, gangguan berbicara, dan cor pulmonale.
4. Rinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak berhasil hilang
dengan pengobatan.
5. Nafas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan.
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

6. Tonsilitis berulang yang disebabkan oleh bakteri grup A streptococcus hemoliticus.


7. Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan.
8. Otitis media efusa/otitis media supuratif.
Jika terdapat infeksi streptokokus berulang, mungkin terdapat karier pada orang orang
yang tinggal serumah, dan biakan pada anggota keluarga dan pengobatan dapat menghentikan
siklus infeksi rekuren.(1)
Pertimbangan dan pengalaman ahli dalam menilai manfaat indikasi indikasi ini yang akan
diberikan pada pasien, tentu saja semuanya sama penting. Seperti juga indikasi pembedahan, tentu
terdapat non indikasi dan kontraindikasi tertentu yang juga harus diperhatikan, karena telah
menjadi mode untuk melakukan jenis pembedahan ini untuk mengatasi masalah masalah ini.(1)
Non indikasi dan kontraindikasi untuk tonsilektomi adalah di bawah ini:(1)
1. Infeksi pernafasan bagian atas yang berulang
2. Infeksi sistemik atau kronis
3. Demam yang tidak diketahui penyebabnya
4. Pembesaran tonsil tanpa gejala gejala obstruksi
5. Rinitis alergika
6. Asma
7. Diskrasia darah
8. Ketidakmampuan yang umum atau kegagalan untuk tumbuh
9. Tonus otot yang lemah
10. Sinusitis
Tonsilektomi dapat dilakukan pada individu individu yang mempunyai deformitas
palatoskisis. Walaupun, terdapat keadaan keadaan yang meringankan terhadap petunjuk prosedur
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

pembedahan ini, dan pasien harus diberitahu mengenai kemungkinan timbulnya efek pada kualitas
suara akibat prosedur pembedahan.

BAB II
PEMBAHASAN
Kata anestesia diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes yang menggambarkan keadaan
tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan
nyeri pembedahan. Analgesia ialah pemberian obat untuk menghilangkan nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran pasien.(5)
Anestesiologi ialah ilmu kedokteran yang pada awalnya berprofesi menghilangkan nyeri dan
rumatan pasien sebelum, selama dan sesudah pembedahan. Definisi anestesiologi berkembang terus
sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran. Definisi yang ditegakkan oleh The American Board
of Anesthesiology pada tahun 1989 ialah mencakup semua kegiatan profesi atau praktek yang
meliputi hal hal sebagai berikut:(5)
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

1. Menilai, merancang, menyiapkan pasien untuk anestesia.


2. Membantu pasien menghilangkan nyeri pada saat pembedahan, persalinan atau pada saat
dilakukan tindakan diagnostik terapeutik.
3. Memantau dan memperbaiki homeostasis pasien perioperatif dan pada pasien dalam
keadaan kritis.
4. Mendiagnosis dan mengobati sindroma nyeri.
5. Mengelola dan mengajarkan Resusitasi Jantung Paru (RJP).
6. Membuat evaluasi fungsi pernafasan dan mengobati gangguan pernafasan.
7. Mengajarkan, memberi supervisi dan mengadakan evaluasi tentang penampilan personel
paramedik dalam bidang anestesia, perawatan pernafasan dan perawatan pasien dalam
keadaan kritis.
8. Mengadakan penelitian tentang ilmu dasar dan ilmu klinik untuk menjelaskan dan
memperbaiki perawatan pasien terutama tentang fungsi fisiologis dan respons terhadap obat.
9. Melibatkan diri dalam administrasi rumah sakit, pendidikan kedokteran dan fasilitas rawat
jalan yang diperlukan untuk implementasi pertanggungjawaban.
Beberapa tipe anestesi adalah:(2)

Pembiusan total hilangnya kesadaran total

Pembiusan lokal hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada sebagian
kecil daerah tubuh)

Pembiusan regional hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade
selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya

ANESTESI UMUM
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

Definisi
Anestesi umum adalah suatu keadaan dimana hilangnya kesadaran disertai dengan hilangnya
perasaan sakit di seluruh tubuh akibat pemberian obat obatan anestesi dan bersifat reversibel.(10)
Anestesi umum dapat diberikan secara:(10)
1. Inhalasi
2. Intravena
3. Intramuskular
Indikasi anestesi umum:(10)
1. Pada bayi dan anak anak
2. Pembedahan pada orang dewasa dimana anestesi umum disukai oleh ahli bedah walaupun
dapat dilakukan dengan anestesi lokal
3. Operasi besar
4. Pasien dengan gangguan mental
5. Pembedahan yang lama
6. Pembedahan yang dengan lokal anestesi tidak begitu praktis dan memuaskan
7. Pasien dengan obat obat anestesi lokal pernah mengalami alergi
Penilaian dan Persiapan Pra Anestesia
Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor penyumbang sebab- sebab
terjadinya kecelakaan anestesia. Dokter spesialis anestesiologi seyogianya mengunjungi pasien
sebelum pasien dibedah, agar ia dapat menyiapkan pasien, sehingga pada waktu pasien dibedah
dalam keadaan bugar.(5)

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

Kadang kadang dokter spesialis anestesiologi mempunyai waktu terbatas untuk


menyiapkan pasien, sehingga persiapan kurang sempurna. Penundaan jadwal operasi akan
merugikan semua pihak, terutama pasien dan keluarganya.(5)
Tujuan utama kunjunga pra anestesia ialah untuk mengurangi angka kesakitan operasi,
mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.(5)
Terjadinya kasus salah identitas dan salah operasi bukan cerita untuk menakut nakuti atau
dibuat buat, karena memang pernah terjadi di Indonesia. Identitas setiap pasien harus lengkap dan
harus dicocokkan dengan gelang identitas yang dikenakan pasien. Pasien ditanya lagi mengenai hari
dan jenis bagian tubuh yang akan dioperasi.(5)
Anamnesis
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia sebelumnya sangatlah penting
untuk mengetahui apakah ada hal hal yang perlu mendapat perhatian khusus, misalnya alergi,
mual muntah, nyeri otot, gatal gatal, atau sesak nafas pasca bedah, sehingga kita dapat
merancang anestesia berikutnya dengan lebih baik. Kita harus pandai pandai memilah apakah cerita
pasien termasuk alergi atau efek samping obat.(5)
Beberapa peneliti menganjurkan obat yang kiranya menimbulkan masalah di masa lampau
sebaiknya jangan digunakan ulang, misalnya halotan jangan digunakan ulang dalam waktu tiga
bulan, suksinilkolin yang menimbulkan apnoe berkepanjangan juga jangan diulang.(5)
Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan 1 2 hari sebelumnya untuk eliminasi nikotin
yang mempengaruhi sistem kardiosirkulasi, dihentikan beberapa hari untuk mengaktifkan kerja silia
jalan pernafasan dan 1 2 minggu ntuk mengurangi produksi sputum. Kebiasaan minum alkohol
juga harus dicurigai akan adanya penyakit hepar.(5)
Pemerikaan Fisik
Pemeriksaan keadaan gigi geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar sangat penting
untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. Leher pendek dan kaku
juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi.(5)
Pemeriksaan rutin lain secara sistematik tentang keadaan umum tentu tidak boleh
dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi semua sistem organ tubuh pasien.(5)
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

Pemeriksaan Laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan penyakit yang
sedang dicurigai. Banyak fasilitas kesehatan yang mengharuskan uji laboratorium secara rutin
walaupun pada pasien sehat untuk bedah minor, misalnya pemeriksaan darah kecil (Hb, laukosit,
masa perdarahan, dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada usia pasien di atas 50 tahun ada
anjuran pemeriksaan EKG dan foto thoraks. Praktek praktek semacam ini harus dikaji ulang
mengingat biaya yang harus dikeluarkan dan manfaat minimal uji uji semacam ini.(5)
Kebugaran untuk anestesia
Pembedahan elektif boleh ditunda tanpda batas waktu untuk menyiapkan agar pasien dalam
keadaan bugar, sebaliknya pada operasi sito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.(5)
Klasifikasi Status Fisik
Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang ialah yang
berasal dari The American Society of Anesthesiologists (ASA). Klasifikasi fisik ini bukan alat
prakiraan risiko anestesi, karena dampak samping anestesia tidak dapat dipisahkan dari dampak
samping pembedahan.(5)
Kelas I

: Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.

Kelas II

: Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.

Kelas III

: Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktifitas rutin terbatas.

Kelas IV

: Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktifitas rutin dan
penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.

Kelas V

: Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan hidupnya tidak
akan lebih dari 24 jam.

Pada bedah cito atau emergency biasanya dicantumkan huruf E.


Masukan Oral

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

10

Refleks laring mengalami penurunan selama anestesia. Regurgitasi isi lambung dan kotoran
yang terdapat dalam jalan nafas merupakan risiko utama pada pasien pasien yang menjalani
anestesia Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk operasi
elektif dengan anestesia harus dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama periode tertentu
sebelum induksi anestesia.(5)
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6 8 jam, anak kecil 4 6 jam dan pada bayi 3 4
jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi anestesia. Minuman bening, air
putih, teh manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas
boleh 1 jam sebelum induksi anestesia.(5)
Premedikasi
Premedikasi ialah pemberian obat 1 2 jam sebelum induksi anestesia dengan tujuan untuk
melancarkan induksi, rumatan bangun dari anestesia di antaranya:(5,6)
1. Meredakan kecemasan dan ketakutan
2. Memperlancar induksi anestesia
3. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
4. Meminimalkan jumlah obat anestetik
5. Mengurangi mual muntah pasca bedah
6. Menciptakan amnesia
7. Mengurangi isi cairan lambung
8. Mengurangi refleks yang membahayakan
Obat obat yang digunakan sebagai premedikasi adalah:(6)
1. Obat antikolinergik
2. Obat sedatif
3. Obat analgetik narkotik\
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

11

Tanda-Tanda Anastesi Umum


Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter dalam 4 stadium (stadium III dibagi
menjadi 4 plana), yaitu:(10)

Stadium I
Stadium I (analgesi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya kesadaran.
Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya
rasa sakit). Tindakan pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar, dapat
dilakukan pada stadium ini.

Stadium II
Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi) dimulai dari hilangnya kesadaran dan refleks
bulu mata sampai pernafasan kembali teratur. Pada stadium ini terlihat adanya eksitasi dan
gerakan yang tidak menurut kehendak, pasien tertawa, berteriak, menangis, menyanyi,
pernapasan tidak teratur, kadang-kadang apnoe dan hiperpnu, tonus otot rangka meningkat,
inkotinensia urin dan alvi, muntah, midriasis, hipertensi serta takikardia. Stadium ini harus
cepat dilewati karena dapat menyebabkan kematian.

Stadium III
Stadium III (pembedahan) dimulai dengan teraturnya pernapasan sampai pernapasan
spontan hilang. Stadium III dibagi menjadi 4 plana, yaitu:
-

Plana I : Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut seimbang, terjadi gerakan bola
mata yang tidak menurut kehendak, pupil miosis, refleks cahaya ada, refleks
lakrimasi meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada, dan belum tercapai
relaksasi otot lurik yang sempurna ( tonus otot mulai menurun).

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

12

Plana II : Pernapasan teratur, spontan, perut dada, volume tidak menurun, frekuensi
meningkat, bola mata tidak bergerak, terfiksasi di tengah, pupil midriasis, refleks
cahaya mulai menurun, relaksasi otot sedang dan refleks laring hilang sehingga dapat
diketjakan intubasi.

Plana III : Pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai paralisis,
lakrimasi tidak ada, pupil midriasis dan sentral, refleks laring dan peritonium tidak
ada,relaksasi otot lurik hampir sempurna (tonus otot semakin menurun).

Plana IV: Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal paralisis total,
pupil sangat midriasis, refleks cahaya hilang, refleks sfingter ani dan kelenjar air
mata tidak ada, relaksasi otot lurik sempurna (tonus otot sangat menurun).

Stadium IV
Stadium IV (paralisis medula oblongata) dimulai dengan melemahnya pernapasan perut
dibanding stadium III plana IV. Pada stadium ini tekanan darah tidak dapat diukur,denyut
jantung berhenti, dan akhirnya terjadi kematian. Kelumpuhan pernapasan pada stadium ini
tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan.

Persyaratan minimum untuk anestesi umum


Kebutuhan infrastruktur minimum untuk anestesi umum termasuk ruang yang cukup terang
dari ukuran yang memadai, oksigen, sebuah suction, monitor sesuai standar ASA (American Society
of anestesi), termasuk denyut jantung, tekanan darah, EKG, pulse oksimetri, kapnografi, temperatur,
dan konsentrasi oksigen yang terinspirasi dan dihembuskan dan agen anestesi yang berlaku.(5,10)
Selain ini, beberapa peralatan yang diperlukan untuk memberikan agen anestesi. Ini
mungkin hal yang sederhana seperti jarum dan jarum suntik, jika obat tersebut akan diberikan
seluruhnya melalui intravena. ketersediaan mesin gas juga harus diperhatikan serta defibrilator
jantung, dan ruang pemulihan dengan individu yang terlatih.(5,10)

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

13

1. Induksi
Pasien sekarang siap untuk induksi anestesi umum, bagian penting dari proses anestesi.
Tujuan induksi bukan untuk menganastesi, tetapi hanya untuk memulai agar proses anastesi cepat
dan nyaman. Pasien diusahakan tenang dan diberikan O 2 melalui sungkup muka. Obat-obat induksi
diberikan secara intravena seperti tiopental, ketamin, diazepam, midazolam, dan propofol. Jalan
nafas dikontrol dengan sungkup muka atau pipa nafas orofaring/nasofaring. Setelah itu dilakukan
intubasi trakea. Setelah kedalaman anastesi tercapai, posisi pasien disesuaikan dengan posisi operasi
yang akan dilakukan, misalnya telentang, telungkup, litotomi, miring, duduk dan lain-lain. (5,10)

2. Pemeliharaan
Ada beberapa metode pemeliharaan anastesi dan banyak obat yang dipilih oleh ahli anastesi,
dan sedikit berubah. Obat-obat inhalasi (haloten, influren, isofluren) dapat digunakan sebagai
suplemen untuk nitrogen oksida. Analgesik parenteral, biasanya intravena (morfin, pethidin,
fentanil) boleh digunakan dengan maksud yang sama. Metode intravena sering dikombinasikan
dengan relaksasi otot (yang disebabkan oleh obat-obat spesifik), dan efek dari kombinasi ini
membuat ventilasi paru-paru terkendali menjadi penting. Metode inhalasi lebih lazim diterapkan
bila ventilasi berlangsung spontan.(5,10)

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

14

Selama operasi berlangsung dilakukan pemantauan anastesi. Hal-hal yang dipantau adalah
fungsi vital (pernafasan, tekanan darah, nadi dan kedalaman anastesi) misalnya adanya gerakan,
batuk, mengedan, perubahan pola nafas, takikardia, hipertensi, keringat, air mata, midriasis.
Ventilasi pada anastesi umum dapat secara spontan, bantu atau kendali tergantung jenis, lama dan
posisi operasi.(5)
Dimana pemeliharan jalan nafas dan pemberian ventilator dengan pemasangan endotrakeal
tube. Intubasi trakhea adalah tindakan memasukkan pipa trakhea ke dalam trakhea melalui rima
glottis, sehingga ujung distalnya berada kira-kira di pertengahan trakhea antara pita suara dan
bifurkasio trakhea. Indikasi sangat bervariasi dan umumnya digolongkan sebagai berikut pertama
menjaga patensi jalan napas oleh sebab apapun baik kelainan anatomi, bedah khusus, bedah posisi
khusus, pembersihan sekret jalan napas, kedua mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
misalnya saat resusitasi, memungkinkan penggunaan relaksan dengan efisien, ventilasi jangka
panjang, ketiga pencegahan aspirasi dan regurgitasi.(5)
Teknik yang digunakan manuver tripel jalan nafas terdiri dari: kepala ekstensi pada sendi
atlanto-oksipital, mandibula didorong kedepan pada kedua angulus mandibula, mulut dibuka.(5)

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

15

Dengan manuver ini diharapkan lidah terangkat dan jalan nafas bebas, sehingga gas atau
udara lancar masuk trakea lewat hidung atau mulut.(5)
Jika manuver tripel kurang berhasil, maka dapat dipasang jalan nafas mulut - faring lewat
mulut (OPA, orol pharyngeal airway) atau jalan nafas hidung - faring lewat hidung (NPA, naso
pharyngeal airway).(5)
NPA berbentuk pipa bulat berlubang di tengahnya dibuat dari bahan karet lateks lembut.
Pemasangan harus hati-hati dan untuk menghindari trauma mukosa hidung pipa diolesi dengan
jelly.(5)
OPA :berbentuk pipa gepeng lengkung seperti huruf c, berlubang di tengahnya dengan salah
satu ujungnya bertangkai dengan dinding lebih keras untuk mencegah kalau pasien menggit lubang
tetap paten.(5)
Alat - alat yang yang digunakan ialah sungkup muka, laringoskop, pipa endotrakeal, pipa
orofaring atau nasofaring, plaster, stilent, mandren, sambungan - sambungan, suction.(5)
1) Sungkup muka
Sungkup muka merupakan pengantar udara/gas anastesi dari alat resusitasi atau sistem
anastesi ke jalan nafas pasien. Bentuknya dibuat sedemikian rupa sehingga ketika digunakan untuk
bernafas spontan atau dengan tekanan positif tidak bocor dan gas masuk semua ke trakea lewat
mulut dan hidung. Bentuk sungkup muka sangat beragam, bergantung usia.(5,6)
Sungkup laring ialah alat jalan nafas berbentuk sendok terdiri dari pipa besar berlubang
dengan ujung menyerupai sendok yang pinggirnya dapat dikembang - kempiskan seperti balon pada
pipa trakea. Tangkainya dapat berupa pipa keras dari polivinil atau lembek dan spiral untuk menjaga
supaya tetap paten.(5,6)
Dikenal 2 macam sungkup laring adalah: (5,6)
1. Sungkup laring standar dengan satu pipa nafas.
2. Sungkup laring dengan dua pipa yaitu satu pipa nafas standart dan lainnya pipa tambahan
yang ujung distalnya berhubungan dengan esofagus.
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

16

Ukuran

Usia

Berat badan
(kg)

1.0

Neonatus

<3

1.3

Bayi

3 10

2.0

Anak kecil

10-20

2.3

Anak

20 30

3.0

Dewasa kecil

30 40

4.0

Dewasa normal

40 60

5.0

Dewasa besar

> 60

2) Laringoskopi dan intubasi


Fungsi laring adalah mencegah benda asing masuk paru. Laringoskopi ialah alat yang
digunakan untuk melihat laring secara langsung supaya kita dapat memasukkan pipa trakea dengan
baik dan benar. Secara garis besar dikenal dua macam laringoskop:
1. Bilah daun (blade) lurus (Macintosh) untuk bayi anak - dewasa.
2. Bilah lengkung (Miller, magill) untuk anak besar - dewasa.

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

17

3) Pipa trakea (endotracheal tube)


Mengantar gas anastetik langsung ke dalam trakea dan biasanya dibuat dan bahan standar
polivinil - klorida. Ukuran diameter lubang pipa trakea dalam milimeter. Karena penampung trakea
bayi, anak kecil dan dewaasa berbeda, penampang melintang trakea bayi dan anak kecil dibawah
usia 5 tahun hampir bulat, sedangkan dewasa seperti huruf D, Maka untuk bayi anak digunakan
tanda kaf (cuff) dan untuk anak besar - dewasa dengan kaf, supaya tidak bocor. Penggunaan kaf
pada bayi - anak kecil dapat membuat trauma selaput lendir trakea dan selain itu jika kita ingin
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

18

menggunakan pipa trakea dengan kaf pada bayi harus menggunakan ukuran pipa trakea yang
diameternaya lebih kecil dan ini membuat risiko tahanan nafas lebih besar. (5,6)

Pipa trakea dan peruntukannya:

Usia

Diameter
(mm)

Skala French

Jarak sampai
bibir (cm)

Prematur

2.0 2.5

10

10

Neonatus

2.5 3.5

12

11

1 6 bulan

3.0 4.0

14

11

1 tahun

3.5 4.0

16

12

1 4 tahun

4.0 5.0

18

13

4 6 tahun

4.5 5.5

20

14

6 8 tahun

5.0 5.5

22

15 16

8 10 tahun

5.5 6.0

24

16 17

10 -12 tahun

6.0 6.5

26

17 18

12 14 tahun

6.5 7.0

28 30

18 22
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

19

Dewasa wanita

6.5 8.5

28 30

20 24

Dewasa pria

7.5 10.0

32 34

20 24

Cara memilih pipa trakhea untuk bayi dan anak kecil :


Diameter dalam pipa trakhea (mm)

= 4.0 + umur (tahun)

Panjang pipa oro-trakheal (cm)

= 12 + umur (tahun)

Panjang pipa naso-trakheal (cm)

= 12 + umur (tahun)

4) Pipa orofaring/nasofaring
Alat ini digunakan untuk mencengah obstruksi jalan nafas karena jatuhnya lidah dan faring
pada pasien yang tidak dintubasi.
5) Plaster untuk menfiksasikan pipa trakea setelah tidakan intubasi.

6) Stilet atau forsep intubasi.


Stilet (mandren) digunakan untuk mengatur kelengkungan pipa endotrakeal sebagai alat
bantu saat insersi pipa forsep intubasi (magill) digunakan untuk memanipulasi pipa endotrakeal
nasal atau pipa nasogastrik melalui orofaring. Biasanya dibantu dengan laringoskop.
7) Suction
Digunakan untuk membersihkan jalan nafas2,6

Cara tindakan intubasi:(5,6)


1. Persiapan: pasien dalam posisi tidur telentang, oksiput diganjal dengan bantal sehingga
kepala dalam posisi ekstensi serta trakea dan laringoskop berada dalam satu garis lurus
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

20

2. Oksigenasi: Setelah dilakukan anastesi dan pelumpuh otot lakukan oksigenasi dengan
pemberian O2 100 % minimal 2 menit. Sungkup muka dipenggang dengan tangan kiri dan
balon dengan tangan kanan.
3. Laringoskop: mulut pasien dibuka dengan tangan kanan dan gagang laringoskop dipengang
dengan tangan kiri. Daun laringoskop dimukakan dari sudut kanan mulut.lidah didorong
dengan daun tersebut kekiri dan lapangan pandangan akan terbuka. Daun laringoskop
didorong ke dalam rongga mulut. Gagang diangkat dengan lengan kiri dan akan terlihat
uvula, faring, serta epiglottis. Ekstensi kepala dipertahankan dengan tangan kanan. Epiglotis
diangkat sehingga tampak aritenoid dan pita suara yang tampak keputihan berbentuk huruf
V.
4. Pemasangan pipa endotrakeal: pipa dimasukkan dengan tangan kanan melalui sudut kanan
mulut sampai balon pipa tepat melewati pita suara. Bila perlu sebelum memasukkan pipa,
asisten diminta untuk menekan laring posterior sehingga pita suara jelas terlihat.bila
mengganggu, stilet dicabut. Ventilator/oksigenasi diberikan dengan tangan kanan memompa
balon dan tangan kiri menfiksasi pipa. Balon pipa dikembangkan dan daun laringoskop
dikeluarkan. Pipa difiksasikan dengan plester.
5. Mengontrol letak pipa: dada pastikan berkembang saat diberikan ventilasi.sewaktu
dilakukan ventilasi dilakukan auskultasi dada dengan menggunakan stetoskop. Diharapkan
suara napas kanan dan kiri sama. Bila dada ditekan terasa udara di pipa endotrakeal.
6. Ventilasi: pemberian ventilasi sesuai dengan kebutuhan pasien.

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

21

Ekstubasi
1. Ekstubasi ditunda sampai pasien benar- benar sadar, jika:(5)
-

intubasi kembali akan menmbulkan kesulitan

pasca ekstubasi ada resiko aspirasi

2. Ekstubasi dikerjakan umumnya pada keadaan anestesi sudah ringan dengan catatan tidak
akan terjadi spasme laring.
3. Sebelum ekstubasi, bersihkan rongga mulut laring faring dari sekret dan cairan lainnya.

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

22

Perbandingan sifat alat jalan napas

Sungkup Muka

Sungkup Laring

Pipa Trakhea

Intervensi

Perlu dipegang

Tak perlu dipegang Tak perlu dipegang

Kualitas jalan napas

Cukup baik

Cukup atau baik

Sangat baik

Akses kepala leher

Jelek

Baik

Baik

Ventilasi spontan

Prosedur sangat pendek Prosedur lama

Prosedur lama

Ventilasi kendali

Prosedur sangat pendek Prosedur lama

Prosedur sangat lama

3. Pengembalian
Masa pengembalian ini merupakan bagian pertama pemulihan dan dikerjakan dibawah
pengawasan langsung ahli anastesi dan biasanya dilakukan di dalam ruang operasi. Konsentrasi zat
anastesi inhalasi, selain nitrogen oksida, dikurangi menjelang akhir dari suatu anastesi. Dibuat
perkiraan tentang lamanya sisa operasi dan konsentrasi inhalasi dikurangi sampai nol berdasarkan
kelarutannya (zat anastesi yang sangat larut dapat dihentikan lebih dini daripada zat anastesi yang
tidak larut karena kadar zat anastesi yang larut di otak dengan sendirinya akan berkurang secara
perlahan).(5)
Bila anastesi dilakukan dengan ventilasi spontan dan konsentrasi zat anastesi inhalan yang
dihirup dikurangi sampai nol, nitrogen oksida juga dapat dihentikan. Beberapa saat kemudian
pasien berespon terhadap semua rangsangan, sehingga manuver terakhir ini tidak boleh dimulai
sampai pembedahan selesai. Oksigen diberikan selama beberapa menit. Kalau tidak, nitrogen oksida
yang berdifusi dari darah ke dalam alveoli akan mengurangi konsentrasi oksigen di alveoli dan
dapat terjadi hipoksemia arterial.(5)
4. Pemulihan Pasca-Operasi

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

23

Setelah operasi selesai pasien dibawa ke ruang pemulihan (recovery room) atau ke ruang
perawatan intensif (bila ada indikasi). Secara umum ekstubasi dilakukan pada saat pasien dalam
anestesi ringan atau sadar. Di ruang pemulihan dilakukan pemantauan keadaan umum, kesadaran,
tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, sensibilitas nyeri, perdarahan dari drainage, dll. (5)
Pemeriksaan tekanan darah, frekuensi nadi dan frekuensi pernapasan dilakukan paling tidak
setiap 5 menit dalam 15 menit pertama atau hingga stabil, setelah itu dilakukan setiap 15 menit.
Pulse oxymetri dimonitor hingga pasien sadar kembali. Pemeriksaan suhu juga dilakukan. (5)
Seluruh pasien yang sedang dalam pemulihan dari anestesi umum harus dapat oksigen 3040% selama pemulihan karena dapat terjadi hipoksemia sementara. Pasien yang memiliki resiko
tinggi hipoksia adalah pasien yang mempunyai kelainan paru sebelumnya atau yang dilakukan
tindakan operasi di daerah abdomen atau di daerah dada. (5)

ANESTESI SPINAL
Definisi
Anestesi spinal berasal dari pernyataan lokal dan lokal anestetic drugs memasuki
subarachnoid di lumbal interspace block saraf ganglion radix anterior posterior dan bagian dari
spinal cord menimbulkan hilangnya aktifitas autonomik, sensorik dan motorik. Block spinal cord
mulai berlangsung dari kaudal kemudian berjalan terus ke cephalic.(5,6)
Indikasi anestesi spinal:
A. Pembedahan
1. Ekstremitas bawah meliputi jaringan lemak, pembuluh darah dan tulang.
2. Perineum termasuk anal, rectum bawah dan dindingnya atau pembedahan saluran kemih.
3. Abdomen bagian bawah dan dindingnya.
4. Abdomen bagian atas termasuk cholecystectomi, penutupan ulcus gastricus dan transfer
colostomi. Spinal anestesi pada pembedahan abdomen bagian atas tidak diindikasikan
pada semua pasien yang menyebabkan perubahan fisiologis.(5,6)
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

24

B. Obstetric
1. Vaginal delivery
2. Seksio caesaria
C. Diagnosa dan terapi pada nyeri

I. Kontra indikasi:
A. Absolut
1. Kelainan darah. Bahayanya adalah pemasukan yang berlebih pada fleksus dengan
adanya jarum spinal yang dapat mengakibatkan kompresi spinal cord.
2. Septicemia, meningitis dapat terjadi.
3. Pertambahan tekanan intrakranial.
4. Pasien menolak persetujuan.
5. Infeksi kulit.
6. Penyakit sistemik dengan gejala sisa neurologik.
7. Hipotensi.
8. Preeksisting spinal cord sklerosis dan multiple sklerosis.
B. Relatif
1. Perdarahan
2. Kelainan pada punggung
3. Penyakit saluran nafas
4. Kepribadian psikotik
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

25

5. Anak-anak menjadi kaget dengan mati rasa dan paresis


6. Penyakit saluran nafas akut
7. Distensi abdominal
8. Menimbulkan rasa penuh di lambung high spinal anestesi mengganggu batuk sehingga
aspirasi lebih mudah.
II.

Persiapan Pasien
Pasien sebelumnya diberi informasi tentang tindakan ini (informed concernt) meliputi

pentingnya tindakan ini dan komplikasi yang mungkin terjadi.(5,6)


Pemeriksaan fisik dilakukan meliputi daerah kulit tempat penyuntikan untuk menyingkirkan
adanya kontraindikasi seperti infeksi. Perhatikan juga adanya scoliosis atau kifosis. Pemeriksaan
laboratorium yang perlu dilakukan adalah penilaian hematokrit. Masa protrombin (PT) dan masa
tromboplastin parsial (PTT) dilakukan bila diduga terdapat gangguan pembekuan darah.(5,6)

III.

Perlengkapan
Tindakan anestesi spinal harus diberikan dengan persiapan perlengkapan operasi yang

lengkap untuk monitor pasien, pemberian anestesi umum, dan tindakan resusitasi. (5,6)
Jarum spinal dan obat anestetik spinal disiapkan. Jarum spinal memiliki permukaan yang
rata dengan stilet di dalam lumennya dan ukuran 16G sampai dengan 30G. Obat anestetik lokal
yang digunakan adalah prokain, tetrakain, lidokain, atau bupivakain. Berat jenis obat anestetik lokal
mempengaruhi aliran obat dan perluasan daerah teranestesi. Pada anestesi spinal jika berat jenis
obat lebih besar dari berat jenis CSS (hiperbarik), maka akan terjadi perpindahan obat ke dasar
akibat gravitasi. Jika lebih kecil (hipobarik), obat akan berpindah dari area penyuntikan ke atas. Bila
sama (isobarik), obat akan berada di tingkat yang sama di tempat penyuntikan. Pada suhu 37 oC
cairan serebrospinal memiliki berat jenis 1,003-1,008. (5,6)
Perlengkapan lain berupa kain kasa steril, povidon iodine, alkohol, dan duk steril juga harus
disiapkan. (5,6)
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

26

Jarum spinal. Dikenal 2 macam jarum spinal, yaitu jenis yang ujungnya runcing seperti
ujung bamboo runcing (Quincke-Babcock atau Greene) dan jenis yang ujungnya seperti ujung
pensil (whitacre). Ujung pensil banyak digunakan karena jarang menyebabkan nyeri kepala pasca
penyuntikan spinal. (5,6)
IV.

Teknik Anestesi Spinal


Berikut

langkah

langkah

dalam

melakukan

anestesi

spinal,

antara

lain:

Posisi pasien duduk atau dekubitus lateral. Posisi duduk merupakan posisi termudah untuk tindakan
punksi lumbal. Pasien duduk di tepi meja operasi dengan kaki pada kursi, bersandar ke depan
dengan tangan menyilang di depan. Pada posisi dekubitus lateral pasien tidur berbaring dengan
salah

satu

sisi

tubuh

berada

di

meja

operasi.

Posisi permukaan jarum spinal ditentukan kembali, yaitu di daerah antara vertebrata lumbalis
(interlumbal). (5,6)
Lakukan

tindakan

asepsis

dan

antisepsis

kulit

daerah

punggung

pasien.

Lakukan penyuntikan jarum spinal di tempat penusukan pada bidang medial dengan sudut 10 o-30o
terhadap bidang horizontal ke arah cranial. Jarum lumbal akan menembus ligamentum
supraspinosum, ligamentum interspinosum, ligamentum flavum, lapisan duramater, dan lapisan
subaraknoid. (5,6)
Cabut

stilet

lalu

cairan

serebrospinal

akan

menetes

keluar.

Suntikkan obat anestetik lokal yang telah disiapkan ke dalam ruang subaraknoid. Kadang-kadang
untuk memperlama kerja obat ditambahkan vasokonstriktor seperti adrenalin. (5,6)
V.

Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah hipotensi, nyeri saat penyuntikan, nyeri punggung,

sakit kepala, retensio urine, meningitis, cedera pembuluh darah dan saraf, serta anestesi spinal total.
(5,6)

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

27

BAB III
KESIMPULAN

Seorang wanita berusia 28 tahun, dengan diagnosa tonsilitis akan menjalani operasi
tonsilektomi. Rencana anestesi dengan teknik general anestesi dengan menggunakan endotrakeal
tube. Teknik ini dipilih dengan indikasi bahwa lapangan operasi berada di daerah rongga mulut
sehingga nantinya akan sulit untuk memonitor pernafasan pasien. Dengan pemasangan tube,
nantinya pernafasan pasien akan dikontrol dengan ventilator.
Diharapkan dengan teknik anestesi seperti ini, pasien dapat terkontrol tanda vitalnya,
kemudian proses operasi pasien berlangsung dengan lancar dan dengan perbaikan yang minim
kendala.

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

28

LAPORAN KASUS
ANAMNESA PRIBADI
Nama

: Siti Aisyah

Umur

: 28 Tahun

Jenis Kelamin

: perempuan

Agama

: Islam

MR

: 83 76 - 23

Tanggal Masuk

: 2 Januari 2013

ANAMNESA PENYAKIT
Keluhan Utama

: kesulitan menelan

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

29

Telaah

: Pasien datang dengan keluhan kesulitan menelan, terasa seperti ada


yang mengganjal sejak 3 bulan ini. Nyeri juga dirasakan oleh pasien
yang bersifat hilang timbul.
BAK (+) normal
BAB (+) normal

RPT: tidak jelas


RPO: paramex

KEADAAN PASIEN SEBELUM OPERASI


B1 (Breath)

Airway

: Clear

Frekuensi Nafas

: 22 x / menit

Suara Pernapasan

: vesikuler

Suara Tambahan

:-

Foto Thorak

: tak

Riwayat Asma / Sesak / batuk / Alergi : -/-/-/-

B2 ( Blood)

Akral

: H/M/K

Tekanan Darah

: 120/70 mmHg

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

30

Frekuensi Nadi

: 80 x/menit, reguler

Temperatur

: 36,70C

Riwayat Hipertensi

:-

Hb/Ht/Leu/Trombosit : 13,9/41,6/12240/355.000

PTT/INR/APT

: 12,1/,96/24

EKG

: SR

B3 (Brain)

Sensorium

: Compos Mentis ; GCS : 15

Reflek Cahaya

: +/+

Pupil

: Isokor

Riwayat Kejang

:-

B4 (Bladder)

Urine

:+

Volume

: cukup

Warna

: kuning

Ur/Cr/UA

: 20/0,63/6,1

B5 (Bowel)

Abdomen

: Soepel

Peristaltik

: (+) Normal

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

31

Mual / Muntah

BAB/Flatus

: +/+

Riwayat DM

:-

: -/-

B6 (Bone)

Fraktur

:-

Oedema

:-

Pemeriksaan Laboratorium:

Bilirubin Total

: 0,46

Bilirubin Direct

: 0,10

Alkalin Fosfat

: 87

SGOT

: 17

SGPT

: 13

KGD Adrandom

: 96

Na/K/Cl

: 146 / 4,1 / 1,09

Penunjang lainnya

:-

Diagnosis

: Tonsilitis Kronis

PS ASA

: ASA 1

Rencana tindakan

: tonsilektomi

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

32

Rencana Anestesi: GA - ETT (General Anestesi Endotrakeal Tube)

Posisi

: Supine

Persiapan
1. Sio
2. Pemasangan IV line dan three way
3. Puasa 6-8 jam sebelum operasi
4. Hygiene dan berdoa
Persiapan Obat
1. Premedikasi:

Midazolam 5 mg

Fentanyl 50 g

2. Medikasi :

Propofol 100 mg

Ketorolac 30 mg

Ecron 5 mg

Persiapan Cairan
1. RL : 2 fls

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

33

Tanggal Operasi

: 4 Januari 2013

Nama

: Siti Aisyah

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 28 tahun

Diagnose Prabedah

: tonsilitis kronis

Jenis Pembedahan

: tonsilektomi

Diagnose Pasca Bedah

: Post tonsilektomi

Lama Anestesi

: 09.35 - 10.10

Lama Operasi

: 09.35 -

Jenis Anestesi

: GA - ETT

Anestesi Dengan

: O2, N2O, Isofluran

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

34

Tehnik Anestesi

: Posisi kepala: head up pre oksigenase 5 10 inj. Propofol


100 mg sleep non apnoe insersi ETT no. 7,5 cuff (+) SP
ka = ki fiksasi

Respirasi

: terkontrol dengan ventilator

Posisi

: supine

Infuse

: RL di regio dorsum manus sinistra

Medikasi

: Propofol 100 mg
Ketorolac 30 mg
Ecron 5 mg

Perdarahan:
Kassa basah

: IIIIIIII x 10 cc = 80 cc

Kassa basah

: III x 5 = 15 cc

Handuk

:-

Suction

: 30 cc

Total

: 125 cc

Jumlah Cairan Masuk


PO: 500 cc
DO : 500 cc
Jumlah Cairan Keluar
PO

: kateter tidak terpasang

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

35

DO

: kateter tidak terpasang

EBV

: 65 x 70 = 4550

EBL

: 10 % = 455 cc
20 % = 910 cc
30 % = 1365 cc

Post Operasi Pasien dipindahkan ke Recovery Room


Therapy:
Bed rest
O 2 2 - 3 l/i
IVFD RL 20 gtt/i
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam
Antibiotik dan obat lainnya sesuai TS bagian THT

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

36

DAFTAR PUSTAKA
1. Adam, Boies, Highler, Buku Ajar Penyakit THT, edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta, 1997, 337 342.
2. Anestesi. http://id.wikipedia.org/wiki/Anestesi (accessed 10 Januari 2013)
3. Ballenger J.J, Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher, jilid 1, Penerbit
Binarupa Aksara, Jakarta, 2010, 346 358.
4. Harry, Tonsilitis Kronis Radang Amandel. http://klikharry.com/2012/02/02/tonsilitistonsilitis-kronis-radang-amandel/ (accessed 10 Januari 2013)
5. Latief S.A, Suryadi K, Dachlan R, Petunjuk Praktis Anestesiologi, edisi 2, Penerbit Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2009,
1; 29 95.
GA ETT pada Tonsilitis Kronis

37

6. Mangku G, Senapathi T.G.A, Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi, Penerbit Indeks,
Jakarta, 2010, 23 86.
7. Putra S.P, Asmoro S.S., Silman E, et al, Kapita Selekta Kedokteran, jilid 1, Penerbit Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2001, 120.
8. Radang Amandel. http://id.wikipedia.org/wiki/Radang_amandel (accessed 10 Januari 2013)
9. Rusmarjono, Soepardi E.A, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala
Leher, edisi 6, Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2007, 223
224.
10. Siahaan, SM, Anestesi Umum dan Anestesi Lokal. Fakultas Kedokteran UMI, Medan, 2012,
1 - 52.
11. Tonsilitis Kronik. http://health.detik.com/readpenyakit/695/tonsilitis-kronik (accessed 10

Januari 2013)

GA ETT pada Tonsilitis Kronis

38