Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


JENIS JENIS ANGGARAN SEKTOR PUBLIK

Oleh :
Erinta Tria Yulianda
Akuntansi 4 B
201410170311101

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat NYA sehingga makalah ini dapat
tersusun hingga selesai . Tidak lupa saya juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan
dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun
pikirannya.
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar
menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalamansaya, Saya yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itusaya sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, 27 Maret 2016

Penyusun

DAFTAR PUSTAKA

Kata Pengantar ...................................................................................................................

ii

Daftar Pustaka ....................................................................................................................

iii

Bab I Pendahuluan.............................................................................................................

Latar Belakang.......................................................................................................................

Rumusan Masalah.................................................................................................................

Tujuan ...................................................................................................................................

Bab II Pembahasan.............................................................................................................

Perkembangan Anggaran Publik...........................................................................................

Anggaran Tradisonal..............................................................................................................

Pendekatan NPW...................................................................................................................

Bab III Penutup..................................................................................................................

12

Kesimpulan............................................................................................................................

12

Daftar Pustaka........................................................................................................................

13

BAB I
PENDUHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam organisasi sektor publik, penganggaran merupakan suatu proses politik. Pada sektor
swasta, anggaran merupakan bagian dari rahasia perusahaan yang tertutup untuk publik,
sebaliknya pada sektor publik anggaran justru harus diinformasikan kepada publik untuk dikritik,
didiskusikan, dan diberi masukan.
Anggaran sektor publik penting karena beberapa alasan, yaitu karena anggaran merupakan alat
bagi pemerintah untuk mengarahkan sosial-ekonomi, menjamin kesinambungan, dan
meningkatkan kualitas hidup masyarakat, anggaran juga diperlukan karena adanya masalah
keterbatasan sumber daya sedangkan keinginan masyarakat yang tak terbatas dan terus
berkembang, dan anggaran juga diperlukan untuk menyakinkan bahwa pemerintah telah
bertanggung jawab terhadap rakyat.
Pada dasarnya terdapat beberapa jenis pendekatan dalam perencanaan dan penyusunan anggaran
sektor publik. Secara garis besar terdapat dua pendekatan utama yang memiliki perbedaan
mendasar. Kedua pendekatan tersebut adalah anggaran tradisional atau anggaran konvensional
dan pendekatan baru yang sering dikenal dengan pendekatan New Public Management.
1.2 Rumusan Masalah
1. Perkembangan anggaran sektor publik ?
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan anggaran tradisional ?
3. Bagaimana anggaran public dengan pendekatan NPM ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui perkembangan anggaran sektor public
2. Untuk mengetahui anggaran tradisional
3. Untuk mengetahui anggaran public dengan pendekatan NPM
BAB II
PEMBAHASAN
1

2.1 Perkembangan anggaran sektor publik


Sistem anggaran sektor publik dalam perkembangannya telah menjadi instrumen kebijakan
multi-fungsi yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi. Hal tersebut
terutama tercermin pada komposisi dan besarnya anggaran yang secara langsung
merefleksikan arah dan tujuan pelayanan masyarakat yang diharapkan. Anggaran sebagai alat
perencanaan kegiatan publik yang dinyatakan dalam satuan moneter sekaligus dapat
digunakan sebagai alat pengendalian. Agar fungsi perencanaan dan pengawasan dapat
berjalan dengan baik, maka sistem anggaran serta pencatatan atas penerimaan dan
pengeluaran

harus

dilakukan

dengan

cermat

dan

sistematis.

Sebagai sebuah sistem, perencanaan anggaran sektor publik telah mengalami banyak
perkembangan. Sistem perencanaan anggaran publik berkembang dan berubah sesuai dengan
dinamika perkembangan manajemen sektor publik dan perkembangan tuntutan yang muncul
di masyarakat. Pada dasarnya terdapat beberapa jenis pendekatan dalam perencanaan dan
penyusunan anggaran sektor publik. Secara garis besar terdapat dua pendekatan utama yang
memiliki perbedaan mendasar. Kedua pendekatan tersebut adalah:
1. Anggaran tradisional atau anggaran konvensional
2. Pendekatan baru yang sering dikenal dengan pendekatan New Public Management.

2.2 Anggaran Tradisional


Anggaran tradisional merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan di negara
berkembang dewasa ini.
Terdapat dua ciri utama dalam pendekatan ini, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Cara penyusunan anggaran yang didasarkan atas pendekatan incrementalism


Struktur dan susunan anggaran yang besifat line-item.
Cenderung sentralistis
Bersifat spesifikasi
Tahunan
Menggunakan prinsip anggaran bruto

Struktur anggaran tradisional dengan ciri-ciri tersebut tidak mampu mengungkapkan besarnya
dana yang dikeluarkan untuk setiap kegiatan, dan bahkan anggaran tradisional tersebut gagal
2

dalam memberikan informasi tentang besarnya rencana kegiatan. Oleh karena tidak tersedianya
berbagai informasi tersebut, maka satu-satunya tolok ukur yang dapat digunakan untuk tujuan
pengawasan hanyalah tingkat kepatuhan penggunaan anggaran.
Berikut merupakan penjelasan dari ciri utama penganggaran tradisional :
Incrementalism
Penekanan dan tujuan utama pendekatan tradisional adalah pada pengawasan dan
pertanggungjawaban yang terpusat. Anggaran tradisional bersifat incrementalism, yaitu hanya
menambah atau mengurangi jumlah rupiah pada item-item anggaran yang sudah ada sebelumnya
dengan menggunakan data tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menyesuaikan besarnya
penambahan atau pengurangan tanpa dilakukan kajian yang mendalam.
Masalah utama anggaran tradisional adalah terkait dengan tidak adanya perhatian terhadap
konsep value for money. Konsep ekonomi, efisiensi dan efektivitas seringkali tidak dijadikan
pertimbangan dalam penyusunan anggaran tradisional.
Dengan tidak adanya perhatian terhadap konsep value for money ini, seringkali pada akhir tahun
anggaran terjadi kelebihan anggaran yang pengalokasiannya kemudian dipaksakan pada
aktivitas-aktivitas

yang

sebenarnya

kurang

penting

untuk

dilaksanakan.

Akibat digunakannya harga pokok pelayanan historis tersebut adalah suatu item, program, atau
kegiatan akan muncul lagi dalam anggaran tahun berikutnya meskipun sebenarnya item tersebut
sudah tidak relevan dibutuhkan. Perubahan anggaran hanya menyentuh jumlah nominal rupiah
yang disesuaikan dengan tingkat inflasi, jumlah penduduk, dan penyesuaian lainnya.

Line-item
Ciri lain anggaran tradisional adalah struktur anggaran bersifat line-item yang didasarkan atas
dasar sifat (nature) dari penerimaan dan pengeluaran. Metode line-item budget tidak
memungkinkan untuk menghilangkan item-item penerimaan atau pengeluaran yang telah ada
dalam struktur anggaran, walaupun sebenarnya secara riil item tertentu sudah tidak relevan lagi
untuk digunakan pada periode sekarang. Karena sifatnya yang demikian, penggunaan anggaran
tradisional tidak memungkinkan untuk dilakukan penilaian kinerja secara akurat, karena satu3

satunya tolok ukur yang dapat digunakan adalah semata-mata pada ketaatan dalam menggunakan
dana

yang

diusulkan.

Penyusunan anggaran dengan menggunakan struktur line-item dilandasi alasan adanya orientasi
sistem anggaran yang dimaksudkan untuk mengontrol pengeluaran. Berdasarkan hal tersebut,
anggaran tradisional disusun atas dasar sifat penerimaan dan pengeluaran, seperti misalnya
pendapatan dari pemerintah atasan, pendapatan dari pajak, atau pengeluaran untuk gaji,
pengeluaran untuk belanja barang, dan sebagainya, bukan berdasar pada tujuan yang ingin
dicapai dengan pengeluaran yang dilakukan.

Kelemahan Anggaran Tradisional


Dilihat dari berbagai sudut pandang, metode penganggaran tradisional memiliki beberapa
kelemahan, antara lain:
1. Hubungan yang tidak memadai (terputus) antara anggaran tahunan dengan rencana
pembangunan jangka panjang.
2. Pendekatan incremental menyebabkan sejumlah besar pengeluaran tidak pernah diteliti
secara menyeluruh efektivitasnya.
3. Lebih berorientasi pada input daripada output. Hal tersebut menyebabkan anggaran
tradisional tidak dapat dijadikan sebagai alat untuk membuat kebijakan dan pilihan
sumberdaya, atau memonitor kinerja. Kinerja dievaluasi dalam bentuk apakah dana telah
habis dibelanjakan, bukan apakah tujuan tercapai.
4. Sekat-sekat antar departemen yang kaku membuat tujuan nasional secara keseluruhan
sulit dicapai. Keadaan tersebut berpeluang menimbulkan konflik, overlapping,
kesenjangan, dan persaingan antar departemen.
5. Proses anggaran terpisah untuk pengeluaran rutin dan pengeluaran modal/investasi.

6. Anggaran tradisional bersifat tahunan. Anggaran tahunan tersebut sebenarnya terlalu


pendek, terutama untuk proyek modal dan hal tersebut dapat mendorong praktik-praktik
yang tidak diinginkan (korupsi dan kolusi).
7. Sentralisasi penyiapan anggaran, ditambah dengan informasi yang tidak memadai
menyebabkan lemahnya perencanaan anggaran. Sebagai akibatnya adalah munculnya
budget padding atau budgetary slack.
8. Persetujuan anggaran yang terlambat, sehingga gagal memberikan mekanisme
pengendalian untuk pengeluaran yang sesuai, seperti seringnya dilakukan revisi anggaran
dan manipulasi anggaran.
9. Aliran informasi (sistem informasi finansial) yang tidak memadai yang menjadi dasar
mekanisme pengendalian rutin, mengidentifikasi masalah dan tindakan.

2.3 Pendekatan New Public Management.


Anggaran publik dengan pendekatan new publik management (NPM) mulai dikenal sejak
tahun 1980-an yang mulai merubah sistem anggaran tradisional yang terkesan kaku,
birokratis, dan hierarkis menjadi lebih fleksibel dan mementingkan pasar. NPM
cenderung memiliki karaktristik umum diantaranya komprehensif/komparatif, terintegrasi
dan lintas departemen, proses pengambilan keputusan yang rasional, berjangka panjang,
spesifikasi tujuan dan perangkingan prioritas, analisis total cost dan benefit, berorientasi
input, output, dan outcome, bukan sekedar input, serta adanya pengawasan kinerja.
Salah satu model pemerintah pada masa NPM dikenal dengan konsep Reinventing
Government yang diusulkan oleh Osborn dan Gaebler (1992)

.Pandangan baru yang diterapkan pemerintah menurut Osborn dan Gaebler adalah:

1. Pemerintah katalis yang berfokus pada pemberian pengarahan bukan dan bukan
produksipelayanan publik.
2. Pemerintah yang berorientasi pada pelanggan dan bukan birokrasi
3. Pemerintah yang dapat menyuntikkan semangat kompetisi dalam pemberian pelayanan
public.
4. Pemerintah antisipatif yang berupaya mencegah daripada mengobati.
5. Pemerintah yang berorientasi pada mekanisme pasar (sistem insentif) dan bukan
mekanisme administratif (sistem prosedur dan pemaksaan).
6. Pemerintah wirausaha yang mampu menciptakan pendapatan dan tidak sekedar
membelanjakan.
7. Perubahan pada pemerintah yang sentralistis/hierarki menuju pemerintah desentralisasi.
8. Pemerintah yang mencoba untuk memberdayakan masyarakat daripada melayani.
9. Pemerintah yang dapat mengubah organisasi yang digerakkan oleh peraturan menjadi
organisasi yang digerakkan oleh misi.
10. Pemerintah yang berorientasi terhadap hasil.
Terdapat tiga jenis penganggaran sektor publik yang merupakan bagian dari NPM yang saat ini
digunakan dengan penekanan yang berbeda-beda untuk setiap pendekatan tersebut. Ketiga
pendekatan dalam penganggaran ini adalah aggaran kinerja (performance budgeting), planning,
programming, and budgeting system (PPBS), dan zero-based budgeting(ZBB).

Anggaran Kinerja ( Performance Budgeting)

Konsep anggaran kinerja disusun untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terdapat pada
anggaran tradisional khususnya ketiadaan tolok ukur yang digunakan untuk pengukuran kinerja.
Pendekatan ini didasarkan pada tujuan dan sasaran kinerja dan oleh karena itu anggaran
digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Manfaat yang dapat dihasilkan dari model pendekatan anggaran kerja diantaranya adalah:

1. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas dengan menfokuskan sumber daya menuju


outcome yang kritis dan penting.
2. Meningkatkan pengambilan keputusan mengenai cara yang paling efektif untuk
menggunakan sumber daya publik yang terbatas.
3. Meningkatkan operasi dengan menghubungkan anggaran dengan kinerja program
sepanjang waktu.
4. Meningkatkan pemahaman dan komunikasi tentang isu dan prioritas kritis pada sumber
daya.
5. Membuat manajer lebih akuntabel untuk keputusan program yang mempengaruhi
outcome anggaran, dan.
6. Mendukung manajemen dengan menghubungkan hasil anggaran dan pengukuran kinerja
anggaran dengan pengukuran kinerja program dalam proses pengawasan, pengevaluasian,
dan pelaporan hasil.

Planning, Programming , and Budgeting System (PPBS)

PPBS merupakan teknik penganggaran yang didasarkan pada teori sistem yang berorientasi
pada output dan tujuan dengan penekanan utamanya adalah alokasi sumber daya berdasarkan
analisis ekonomi. Sistem anggaran PPBS tidak mendasarkan pada struktur organisasi
tradisional yang terdiri daridivisi-divisi, namun berdasarkan program, yaitu pengelompokan
aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu.
PPBS adalah salah satu model penganggaran yang ditujukan untuk membantu manajemen
pemerintah dalam membuat keputusan alokasi sumber daya secara lebih baik. Hal tersebut
disebabkan sumber daya yang dimiliki pemerintah terbatas jumlahnya, sementara tuntutan
masyarakat tidak terbatas jumlahnya.

Proses Implementasi PPBS


Langkah-langkah implementasi PPBS meliputi:
1. Menentukan tujuan umum organisasi dan tujuan unit organisasi dengan jelas.

2. Mengidentifikasi program-program dan kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah


ditetapkan.
3. Mengevaluasi berbagai alternatif program dengan menghitung cost-benefit dari masingmasing program.
4. Pemilihan program yang memiliki manfaat besar dengan biaya yang kecil.
5. Alokasi sumber daya ke masing-masing program yang disetujui.
PPBS mensyaratkan organisasi menyusun rencana jangka panjang. Kuncinya adalah bahwa
program-program yang disusun harus terkait dengan tujuan organisasi dan tersebar ke seluruh
bagian organisasi. Sistem pelaporan anggaran PPBS harus mampu melaporkan hasil
(manfaat) program bukan sekedar jumlah pengeluaran yang telah dilakukan.
Karakteristik PPBS
1. Berfokus pada tujuan dan aktivitas (program) untuk mencapai tujuan.
2. Secara eksplisit menjelaskan implikasi terhadap tahun anggaran yang akan datang
karena PPB S berorientasi pada masa datang.
3. Mempertimbangkan semua biaya yang terjadi.
4. Dilakukan analisis secara sistematik atas berbagai alternatif program, yang meliputi:
a. Identifikasi tujuan
b. Identifikasi secara sistematik alternatif program untuk mencapai tujuan
c. Estimasi biaya total dari masing-masing alternatif program
d. Estimasi manfaat (hasil) yang ingin diperoleh dari masing-masing alternatif
program.
Kelebihan PPBS
1. Memudahkan dalam pendelegasian tanggung jawab dari manajemen puncak ke
manajemen menengah.
2. Dalam jangka waktu panjang dapatmengurangi beban kerja.
3.
Memperbaiki kualitas pelayanan melalui pendekatan sadar biaya (costconsciousness/cost awareness) dalam perencanaan program.
4. Lintas departemen sehingga dapat meningkatkan komunikasi, koordinasi, dan kerja
sama antar departemen.
5. Menghilangkan program yang overlopping atau bertentangan dengan pencapaian
tujuan organisasi.
6. PPBS menggunakan teori marginal utility,sehingga mendorong alokasi sumber daya
secara optimal.

Kelemahan PPBS
1. PPBS membutuhkan sistem yang canggih, ketersediaan data, adanya sistem
pengukuran, dan staf yang memiliki kapabilitas tinggi.
2. Implementasi PPBS membutuhkan biaya yang besar karena PPBS membutuhkan
teknologi yang canggih.
3. PPBS bagus secara teori, namun sulit untuk diimplementasikan.
4. PPBS mengabaikan realitas politik dan realitas organisasi sebagai kumpulan manusia
yang kompleks.
5. PPBS merupakan teknik anggaran yang statistically oriented. Penggunaan statistik
terkadang kurang tajam untuk mengukur keseluruhan efektivitas program.
6. Pengaplikasian PPBS menghadapi masalah teknis. Hal ini terkait dengan sifat
program dalam alokasi biaya. Sementara itu sistem akuntansi dibuat berdasarkan
departemen bukan program.

Pendekatan Zero Based Budgeting (ZBB)


Konsep Zero Based Budgeting (ZBB) dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan yang ada
pada system anggaran tradisional yaitu penyusunan anggaran yang bersifat line-item dan
incremental. ZBB tidak berpatokan pada anggaran tahun lalu untuk menyusun anggaran
tahun ini, penentuan anggaran didasarkan pada kebutuhan saat ini.
Proses implementasi ZBB
Proses implementasi ZBB terdiri dari 3 (tiga) tahap, yaitu :
1. Identifikasi unit-unit keputusan
Setiap pusat pertanggungjawaban merupakan unit pembuat keputusan yang salah satu
fungsinya menyiapkan anggaran. Suatu unit keputusan merupakan kumpulan dari
unit-unit keputusan level yang lebih kecil.
2. Penentuan paket-paket keputusan
Paket keputusan merupakan gambaran komprehensif mengenai bagian dari aktivitas
organisasi atau fungsi yang dapat dievaluasi secara individual. paket keputusan dibuat
oleh manajer yang harus menunjukkan detail estimasi biaya dan pendapatan yang
dinyatakan dalam bentuk pencapaian tugas dan perolehan manfaat. Ada dua jenis paket
keputusan, yaitu :
1) Paket keputusan mutually-exclusive

Adalah paket-paket keputusan yang memiliki fungsi sama. Apabila dipilihsalah


satu paket kegiatan atau program, maka konsekuensinya adalah menolak semua
alternative yang lain.
2) Paket keputusan incremental
Paket ini merefleksikan tingkat usaha yang berbeda (dikaitkan dengan biaya)
dalam melaksanakan aktivitas tertentu. Terdapat base package yang menunjukkan
tingkat minimal suatu kegiatan, dan paket lain yang tingkat aktivitasnya lebih
tinggi yang akan berpengaruh terhadap kenaikan level aktivitas dan juga
berpengaruh terhadap biaya. Setiap paket memiliki biaya dan manfaat yang dapat
ditabulasikan dengan jelas.
3. Meranking dan mengevaluasi paket keputusan
Tahap ini merupakan jembatan untuk menuju proses alokasi sumber daya di antara
berbagai kegiatan yang beberapa diantaranya sudah ada dan lainnya baru sama sekali.
Keunggulan dari Zero Based Budgeting
a. Jika ZBB dilaksanakan dengan baik maka dapat menghasilkan alokasi sumber daya
b.
c.
d.
e.

secara lebih efisien.


ZBB berfokus padavalue for money
Memudahkan untuk mengidentifikasi terjadinya inefisiensi dan ketidakefektivan biaya.
Meningkatkan partisipasi manajemen level bawah dalam proses penyusunan anggaran.
Merupakan cara yang sistematik utnuk menggeser status quo dan mendorong organisasi
untuk selalu menguji alternative aktivitas dan pola perilaku biaya serta tingkat
pengeluaran.

Kelemahan dari Zero Based Budgeting


a. Prosesnya memakan waktu lama (time customing), terlalu teoretis dan tidak praktis,
membutuhkan biaya yang besar, serta menghasilkan kertas kerja yang menumpuk karena
b.
c.
d.
e.

pembuatan paket keputusan.


ZBB cenderung menekankan manfaat jangka pendek.
Implementasi ZBB membutuhkan teknologi yang maju.
Masalah dalam proses merangking dan mereview paket keputusan.
Untuk melakukan perangkingan paket keputusan dibutuhkan staf yang memiliki keahlian

yang mungkin tidak dimiliki organisasi.


f. Memungkinkan munculnya kesan yang keliru bahwa semua paket keputusan harus masuk
anggaran.
g. Implementasi ZBB menimbulkan masalah keperilakuan dalam organisasi.

10

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Anggaran sektor public memiliki 2 pendekatan yaitu Anggaran tradisional atau anggaran
konvensional dan pendekatan New Public Management. Anggaran tradisonal merupakann
pendekatan yang paling banyak digunakan di negara berkembang dewasa ini dan memiliki
ciri utama yaitu Incrementalism dan Line-item. Sedangkan pendekatan New Public
Management (NPM) merupakan pendekatan yang mulai dikenal sejak tahun 1980-an dan
mulai merubah sistem anggaran tradisional yang terkesan kaku, birokratis, dan hierarkis
menjadi lebih fleksibel dan mementingkan pasar. Pada pendekatan ini terdapat 3 Jenis
penganggaran yaitu aggaran kinerja (performance budgeting), planning, programming, and
budgeting system (PPBS), dan zero-based budgeting(ZBB).Disetiap pendekatan anggaran
sektor public ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing.

11

DAFTAR PUSTAKA

Agn.(2011),Pendekatan

dan

jenis

jenis

Anggaran

Sektor

Publik.(Online).Tersedia:

http://karangtangis.blogspot.co.id/2011/02/pendekatan-dan-jenis-jenis-anggaran.html.(27 Maret
2016)
Donsantosa.(2009),Jenis - Jenis Anggaran Sektor Publik.(Online).Tersedia: http://kumpulanartikel-ekonomi.blogspot.co.id/2009/06/jenis-jenis-anggaran-sektor-publik.html.(27

Maret

2016)
Palumba.Sukiman.(2012),Jenis

jenis

Anggaran

Sektor

Publik.(Online).Tersedia:

http://menarailmuku.blogspot.co.id/2012/11/jenis-jenis-anggaran-sektor-publik.html.(27

Maret

2016)

12