Anda di halaman 1dari 33

REFERAT

PEMERIKSAAN PENDENGARAN

PENYUSUN:
Soraya Alamudi
030.11.277

PEMBIMBING:
Dr. Renie Augustine, Sp. THT

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG DAN


TENGGOROKAN
RSUD BUDHI ASIH
PERIODE 1 FEBRUARI 5 MARET 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya referat dengan
judul Pemeriksaan Pendengaran ini dapat terselesaikan penyusunannya tepat waktu dalam
rangka memenuhi salah satu tugas sebagai Ko-asisten yang sedang menjalani kepaniteran
klinik di bagian THT RSUD Budhi Asih periode 1 Februari 5 Maret 2016.
Dengan selesainya referat ini tidak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada dr.
Renie Augustine, Sp. THT-KL. Sebagai pembimbing dalam penyusunan referat juga sebagai
pembimbing selama kepaniteraan dalam klinik THT ini.
Sepenuhnya saya menyadari bahwa referat ini sangat jauh dari sempurna dan masih
terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat
membangun sangat saya harapkan untuk perbaikan referat ini dalam pembuatan selanjutnya.
Terlepas dari segala kekurangan yang ada, semoga referat ini berguna bagi kita semua.

Jakarta, Agustus 2016

Penyusun

LEMBAR PENGESAHAN

Referat dengan judul :

Pemeriksaan Pendengaran

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan THT RSUD Budhi Asih periode 1 Februari 5 Maret 2016

Disusun oleh
Soraya Alamudi
030.11.277

Jakarta, . 2016

Mengetahui

Korpanit THT RSUD Budhi Asih


dr. Renie Augustine, Sp. THT-KL

SIP : 2.2.01.3172.0830/40.01/05.11.1

DAFTAR ISI

HALAMAN
KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR..................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................. 2
2.1 Anatomi....................................................................................................... 2
2.2 Fisiologi hidung.......................................................................................... 4
2.3 Definisi epistaksis....................................................................................... 5
2.4 Epidemiologi............................................................................................... 6
2.5 Etiologi....................................................................................................... 6
2.5.1 Lokal................................................................................................. 6
2.5.2 Sistemik............................................................................................ 8
2.6 Patofisiologi................................................................................................ 13
2.7 Diagnosis.................................................................................................... 14
2.7.1 Anamnesis......................................................................................... 14
2.7.2 Pemeriksaan fisik.............................................................................. 15
2.7.3 Pemeriksaan penunjang.................................................................... 16
2.8 Tatalaksana.................................................................................................. 17
2.9 Komplikasi.................................................................................................. 20
2.10 Diagnosis banding.................................................................................... 21
2.11 Pencegahan............................................................................................... 21
2.12 Prognosis................................................................................................... 22
BAB III KESIMPULAN...............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................

20
21

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Anatomi hidung...........................................................................................

Gambar 2.2 Anatomi vaskuler suplai darah septum nasi. Pleksus Kiesselbachs........... 3
Gambar 2.3 Regio mukosa.............................................................................................. 5
Gambar 2.4 Gambaran sagital MR pada solitary fibrous tumor dengan masa tumor dan

epistaksis dan gambaran angiogram angiofibroma juvenil dengan obstruksi hidung dan
epistaksis.........................................................................................................................
Gambar 2.5 Perdarahan telangiektasis cavum nasi sinistra............................................
Gambar 2.6 a. Pembekuan darah normal........................................................................
Gambar 2.6b. Pembekuan darah tidak normal................................................................
Gambar 2.7. Epistaksis anterior......................................................................................
Gambar 2.8. Epistaksis posterior....................................................................................
Gambar 2.9 rinoskopi anterior........................................................................................
Gambar 2.10 Endoskopi pada epistaksis posterior.........................................................
Gambar 2.11 Algoritma tatalaksana epistaksis...............................................................

7
9
9
9
14
14
16
17
20

BAB I
PENDAHULUAN

Telinga berfungsi sebagai organ pendengaran dan keseimbangan yang terdiri


dari telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.Pendengaran merupakan salah
satu sensori manusia yang amat penting untuk hidup. (Dorland) Gangguan pendengaran
terbahagi tiga yaitu ringan (30-50dB), sedang (50-70dB) dan berat (>70db, yang
merupakan gangguan pendengaran bilateral). Sekitar 1-2 neonatus per 1000 kelahiran
mempunyai gangguan pendengaran yang sedang atau unilateral. Prevalensi ini akan
berganda sewaktu usia neonatus tersebut 19 tahun. Di Amerika Syarikat, Gangguan
pendengaran sensorineuronal (SNHL) > 26dB terjadi pada 13 per 1000 anak yang masih
sekolah manakala gangguan pendengaran sensorineuronal yang >45dB terjadi pada
3/1000 anak yang masih sekolah. (Haddad) Gangguan pendengaran dan ketulian dapat
terjadi pada semua usia sejak lahir sampai usia lanjut, gangguan ini agak sulit disadari
berbanding gangguan sensori yang lain terutamannya pada anak yang baru lahir.
Konsekeunsi gangguan pendengaran dan ketulian tidak hanya berakibat pada
terganggunya perkembangan bicara dan bahasa, namun tahap selanjutnya akan
menyebabkan hambatan perkembangan akademik, ketidakmampuan bersosialisasi,
perilaku emosional dan berkurangnya kesempatan memperoleh pekerjaan. Deteksi dini
amat sangat besar pengaruhnya dalam hal mengurangi dampak kecacatan yang lebih
besar kemudian hari, terutama pada bayi, karena erat kaitannya dengan perkembangan
bicara dan bahasa. (Dynio Honrubia) Di Indonesia berdasarkan survei kesehatan indra
pendengaran di tujuh provinsi tahun 1994-1996, sebesar 0.1% penduduk menderita tuli
kongenital. Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa prevalensi gangguan
pendengaran pada anak kelompok usia 0-4 tahun, 5-6 tahun dan 7-18 tahun berturut-turut
sebesar 8,3%, 9,5% dan 10,4%. Berdasarkan data kunjungan poliklinik Departemen THT
FKUI/RCSM tahun 2005, didapati prevalensi gangguan Universitas Sumatera Utara13
pendengaran anak usia 6 bulan hingga 6 tahun sebesar 36,92%. (Adeline Eva et.al)Pada
suatu penelitian skrinning pendengaran yang dilaksanakan oleh Jenny Bashiruddin di
enam rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya menggambarkan 297 per 12 757 bayi baru
lahir yaitu (23 per 1000) mempunyai gangguan pendengaran. Berat badan lahir

merupakan timbangan pertama yang dilakukan dalam sejam setiap kelahiran bayi. Berat
badan lahir yang rendah (BBLR) merupakan berat bayi lahir yang kurang dari 2500g.
(WHO). Menurut penelitian yang dikendalikan oleh Cone-Wesson et.al (2000), sebanyak
11 per 535 bayi iaitu 2% bayi yang BBLSR menderita gangguan pendengaran.
Sedangkan penelitian Ari-Even Roth et.al (2006) sebanyak 49 per 337 bayi BBLSR yang
mempunyai gangguan pendengaran. Korres studi et.al (2005) 6 per 19 bayi BBLSR
mempunyai gangguan pendengaran. Kedua -dua penelitian mengenai gangguan
pendengaran sensorineuronal juga melakukan penelitian terhadap pusat pengolahan
auditori si pasien, menurut penelitian tersebut sekitar 2,6% pasien anak BBLR
mangalami kesulitan untuk mengimbas kembali informasi auditori apabila mereka
dibebani dengan kalimat yang terlalu panjang. Gangguan ini secara tidak langsung akan
mempengaruhi kemampuan IQ, membaca, mengeja dan mengira serta menyukarkan anak
untuk bersosialasi. (R Cristobal, J S Oghalai)Prevalensi neonatus BBLSR yang mendapat
refer pada skrinning pendengaran adalah lebih tinggi berbanding neonatus yang berat
lahirnya normal karena neonatus BBLSR mengalami kadar pengumpulan cairan di
telinga tengah yang lebih tinggi dari neonatus normal dan gangguan pendengaran ini
dikatakan hanya berlangsung sementara. Justeru itu, deteksi dini skrinning pendengaran
pada neonatus dengan BBLR dapat mencegah dari gangguan pendengaran lanjutan.(R
Cristobal,

Oghalai)Pada

tahun

1933

National

Institute

of

Health

ConsensusConferencepertama kali menganjurkan program Universal Newborn Hearing


Screening. Setahun kemudian The Joint Committee on Infant Hearingmerekomendasikan
deteksi gangguan pendengaran harus dilakukan sebelum usia 3 bulan dan dilakukan
Universitas Sumatera Utara14 intervensi sebelum usia 6 bulan. Pada tahun 1999,
American Academy of Pediatrics (AAP) mendukung pernyataan tersebut. (Lily Rundjan
et.al) Pemeriksaan awal gangguan pendengaran yang dilakukan pada neonatus berat
badan lahir rendah adalah emisi otoakustik. Emisi otoakustik merupakan suara dengan
intensitas rendah yang dihasilkan pada koklea yang normal, baik secara spontan maupun
respon dari rangsang akustik. (VR Thomson) Menurut Joint Committee on Infant Hearing
berat badan lahir rendah merupakan faktor risiko gangguan pendengaran pada neonatus.
(Lily Rundjan et.al) Berdasarkan uraian diatas, penulis ingin melakukan penelitian

mengenai hasil pemeriksaan awal emisi otoakustik pada neonatus berat badan lahir
rendah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Anatomi

Secara umum telinga terbagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga
luar sendiri terbagi atas daun telinga, liang telinga dan bagian lateral dari membran timpani.Daun
telinga di bentuk oleh tulang rawan dan otot serta ditutupi oleh kulit. Ke arah liang telinga
lapisan tulang rawan berbentuk corong menutupi hampir sepertiga lateral, dua pertiga lainnya
liang telinga dibentuk oleh tulang yang ditutupi kulit yang melekat erat dan berhubungan dengan
membran timpani. Bentuk daun telinga dengan berbagai tonjolan dan cekungan serta bentuk
liang telinga yang lurus dengan panjang sekitar 2,5 cm, akan menyebabkan terjadinya resonansi
bunyi sebesar 3500 Hz.
Telinga tengah berbentuk seperti kubah dengan enam sisi. Telinga tengah terbagi atas tiga
bagian dari atas ke bawah, yaitu epitimpanum terletak di atas dari batas atas membran timpani,
mesotimpanum disebut juga kavum timpani terletak medial dari membran timpani dan
hipotimpanum terletak kaudal dari membran timpani.Organ konduksi di dalam telinga tengah
ialah membran timpani, rangkaian tulang pendengaran, ligamentum penunjang, tingkap lonjong

dan tingkap bundar.Kontraksi otot tensor timpani akan menarik manubrium maleus ke arah
anteromedial, mengakibatkan membran timpani bergerak ke arah dalam, sehingga besar energi
suara yang masuk dibatasi.
Fungsi dari telinga tengah akan meneruskan energi akustik yang berasal dari telinga luar
kedalam koklea yang berisi cairan. Sebelum memasuki koklea bunyi akan diamplifikasi melalui
perbedaan ukuran membran timpani dan tingkap lonjong, daya ungkit tulang pendengaran dan
bentuk spesifik dari membran timpani. Meskipun bunyi yang diteruskan ke dalam koklea
mengalami amplifikasi yang cukup besar, namun efisiensi energi dan kemurnian bunyi tidak
mengalami distorsi walaupun intensitas bunyi yang diterima sampai 130 Db. Aktifitas dari otot
stapedius disebut juga reflek stapedius pada manusia akan muncul pada intensitas bunyi diatas
80 dB (SPL) dalam bentuk reflek bilateral dengan sisi homolateral lebih kuat. Reflek otot ini
berfungsi melindungi koklea, efektif pada frekuensi kurang dari 2 khz dengan masa latensi 10
mdet dengan daya redam 5-10 dB. Dengan demikian dapat dikatakan telinga mempunyai filter
terhadap bunyi tertentu, baik terhadap intensitas maupun frekuensi.

Gambar 1. Anatomi Telinga


Telinga dalam terdiri dari organ kesimbangan dan organ pendengaran. Telinga dalam
terletak di pars petrosus os temporalis dan disebut labirin karena bentuknya yang kompleks.
Telinga dalam pada waktu lahir bentuknya sudah sempurna dan hanya mengalami pembesaran
seiring dengan pertumbuhan tulang temporal. Telinga dalam terdiri dari dua bagian yaitu labirin
tulang dan labirin membranosa. Labirin tulang merupakan susunan ruangan yang terdapat dalam
pars petrosa os temporalis ( ruang perilimfatik) dan merupakan salah satu tulang terkeras. Labirin
tulang terdiri dari vestibulum, kanalis semisirkularis dan koklea.Vestibulum merupakan bagian
yang membesar dari labirin tulang dengan ukuran panjang 5 mm, tinggi 5 mm dan dalam 3 mm.
Dinding medial menghadap ke meatus akustikus internus dan ditembus oleh saraf. Pada dinding
medial terdapat dua cekungan yaitu spherical recess untuk sakulus dan eliptical recess untuk

utrikulus. Di bawah eliptical recess terdapat lubang kecil akuaduktus vestibularis yang
menyalurkan duktus endolimfatikus ke fossa kranii posterior diluar duramater.
Di belakang spherical recess terdapat alur yang disebut vestibular crest. Pada ujung
bawah alur ini terpisah untuk mencakup recessus kohlearis yang membawa serabut saraf kohlea
kebasis kohlea. Serabut saraf untuk utrikulus, kanalis semisirkularis superior dan lateral
menembus dinding tulang pada daerah yang berhubungan dengan N. Vestibularis pada fundus
meatus akustikus internus. Di dinding posterior vestibulum mengandung 5 lubang ke kanalis
semisirkularis dan dinding anterior ada lubang berbentuk elips ke skala vestibuli koklea.

Gambar 2. Anatomi Telinga Dalam


Ada tiga buah semisirkularis yaitu kanalis semisirkularis superior, posterior dan lateral
yang terletak di atas dan di belakang vestibulum. Bentuknya seperti dua pertiga lingkaran dengan
panjang yang tidak sama tetapi dengan diameter yang hampir sama sekitar 0,8 mm. Pada salah
satu ujungnya masing-masing kanalis ini melebar disebut ampulla yang berisi epitel sensoris
vestibular dan terbuka ke vestibulum. Ampulla kanalis superior dan lateral letaknya bersebelahan
pada masing-masing ujung anterolateralnya, sedangkan ampulla kanalis posterior terletak
dibawah dekat lantai vestibulum. Ujung kanalis superior dan inferior yang tidak mempunyai
ampulla bertemu dan bersatu membentuk crus communis yang masuk vestibulum pada dinding
posterior bagian tengah. Ujung kanalis lateralis yang tidak memiliki ampulla masuk vestibulum
sedikit dibawah cruss communis.

Kanalis lateralis kedua telinga terletak pada bidang yang hampir sama yaitu bidang
miring ke bawah dan belakang dengan sudut 30 derajat terhadap bidang horizontal bila orang
berdiri. Kanalis lainnya letaknya tegak lurus terhadap kanal ini sehingga kanalis superior sisi
telinga kiri letaknya hampir sejajar dengan posterior telinga kanan demikian pula dengan kanalis
posterior telinga kiri sejajar dengan kanalis superior teling kanan.
Koklea membentuk tabung ulir yang dilindungi oleh tulang dengan panjang sekitar 35
mm dan terbagi atas skala vestibuli, skala media dan skala timpani. Skala timpani dan skala
vestibuli berisi cairan perilimfa dengan konsentrasi K+ 4 mEq/l dan Na+ 139 mEq/l. Skala media
berada dibagian tengah, dibatasi oleh membran reissner, membran basilaris, lamina spiralis dan
dinding lateral, berisi cairan endolimfa dengan konsentrasi K + 144 mEq/l dan Na+ 13 mEq/l.
Skala media mempunyai potensial positif (+ 80 mv) pada saat istirahat dan berkurang secara
perlahan dari basal ke apeks.

Gambar 3 Kohklea
Organ corti terletak di membran basilaris yang lebarnya 0.12 mm di bagian basal dan
melebar sampai 0.5 mm di bagian apeks, berbentuk seperti spiral. Beberapa komponen penting
pada organ corti adalah sel rambut dalam, sel rambut luar, sel penunjang Deiters. Sel-sel rambut
tersusun dalam 4 baris, yang terdiri dari 3 baris sel rambut luar yang terletak lateral terhadap
terowongan yang terbentuk oleh pilar-pilar Corti, dan sebaris sel rambut dalam yang terletak di
medial terhadap terowongan. Sel rambut dalam yang berjumlah sekitar 3500 dan sel rambut luar
dengan jumlah 12000 berperan dalam merubah hantaran bunyi dalam bentuk energi mekanik
menjadi energi listrik.

Gambar 4. Organ Corti

2.1.1

Vaskularisasi Telinga Dalam


Vaskularisasi telinga dalam berasal dari A. Labirintin cabang A. Cerebelaris
anteroinferior atau cabang dari A. Basilaris atau A. Verteberalis. Arteri ini masuk ke
meatus akustikus internus dan terpisah menjadi A. Vestibularis anterior dan A. Kohlearis
communis yang bercabang pula menjadi A. Kohlearis dan A. Vestibulokohlearis. A.
Vestibularis anterior memperdarahi N. Vestibularis, urtikulus dan sebagian duktus
semisirkularis. A.Vestibulokohlearis sampai di mediolus daerah putaran basal kohlea
terpisah menjadi cabang terminal vestibularis dan cabang kohlear. Cabang vestibular
memperdarahi sakulus, sebagian besar kanalis semisirkularis dan ujung basal kohlea.
Cabang kohlear memperdarahi ganglion spiralis, lamina spiralis ossea, limbus dan
ligamen spiralis. A. Kohlearis berjalan mengitari N. Akustikus di kanalis akustikus
internus dan didalam kohlea mengitari modiolus.
Vena dialirkan ke V.Labirintin yang diteruskan ke sinus petrosus inferior atau
sinus sigmoideus. Vena-vena kecil melewati akuaduktus vestibularis dan kohlearis ke
sinus petrosus superior dan inferior.
2.1.2 Persarafan telinga dalam
N.Vestibulokohlearis (N.akustikus) yang dibentuk oleh bagian kohlear dan
vestibular, didalam meatus akustikus internus bersatu pada sisi lateral akar N.Fasialis dan
masuk batang otak antara pons dan medula. Sel-sel sensoris vestibularis dipersarafi oleh
N.Kohlearis dengan ganglion vestibularis (scarpa) terletak didasar dari meatus akustikus
internus. Sel-sel sensoris pendengaran dipersarafi N.Kohlearis dengan ganglion spiralis
corti terletak di modiolus.
2

Fisiologi Pendengaran

Beberapa organ yang berperan penting dalam proses pendengaran adalah membran
tektoria, sterosilia dan membran basilaris. Interaksi ketiga struktur penting tersebut sangat
berperan dalam proses mendengar. Pada bagian apikal sel rambut sangat kaku dan terdapat

penahan yang kuat antara satu bundel dengan bundel lainnya, sehingga bila mendapat stimulus
akustik akan terjadi gerakan yang kaku bersamaan. Pada bagian puncak stereosillia terdapat
rantai pengikat yang menghubungkan stereosilia yang tinggi dengan stereosilia yang lebih
rendah, sehingga pada saat terjadi defleksi gabungan stereosilia akan mendorong gabungangabungan yang lain, sehingga akan menimbulkan regangan pada rantai yang menghubungkan
stereosilia tersebut. Keadaan tersebut akan mengakibatkan terbukanya kanal ion pada membran
sel, maka terjadilah depolarisasi. Gerakan yang berlawanan arah akan mengakibatkan regangan
pada rantai tersebut berkurang dan kanal ion akan menutup. Terdapat perbedaan potensial antara
intra sel, perilimfa dan endolimfa yang menunjang terjadinya proses tersebut. Potensial listrik
koklea disebut koklea mikrofonik, berupa perubahan potensial listrik endolimfa yang berfungsi
sebagai pembangkit pembesaran gelombang energi akustik dan sepenuhnya diproduksi oleh sel
rambut luar.
Pola pergeseran membran basilaris membentuk gelombang berjalan dengan amplitudo
maksimum yang berbeda sesuai dengan besar frekuensi stimulus yang diterima. Gerak
gelombang membran basilaris yang timbul oleh bunyi berfrekuensi tinggi (10 kHz) mempunyai
pergeseran maksimum pada bagian basal koklea, sedangkan stimulus berfrekuensi rendah (125
kHz) mempunyai pergeseran maksimum lebih kearah apeks. Gelombang yang timbul oleh bunyi
berfrekuensi sangat tinggi tidak dapat mencapai bagian apeks, sedangkan bunyi berfrekuensi
sangat rendah dapat melalui bagian basal maupun bagian apeks membran basilaris. Sel rambut
luar dapat meningkatkan atau mempertajam puncak gelombang berjalan dengan meningkatkan
gerakan membran basilaris pada frekuensi tertentu. Keadaan ini disebut sebagai cochlear
amplifier.

Gambar 5. Skema Fisiologi Pendengaran


Skema proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh telinga luar,
lalu menggetarkan membran timpani dan diteruskan ketelinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran tersebut melalui daya ungkit tulang
pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi
getar yang telah diamplifikasikan akan diteruskan ke telinga dalam dan di proyeksikan pada
membran basilaris, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan
membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya
defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion
bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut,
sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi
pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran.
3 Pemeriksaan Pendengaran
Pemeriksaan pendengaran adalah tes yang dilakukan untuk menentukan tingkat
kemampuan mendengar seseorang. Apakah ada pada ambang normal, kurang atau lebih.Anda
mungkin tidak melihat diri Anda sebagai orang dengan gangguan pendengaran. Anda hanya
mengalami kesulitan memahami apa yang orang katakan dalam situasi bising. Ada berbagai
macam tes pendengaran, antara lain:

Audiometri

Audiometri adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui level pendengaran
seseorang. Audiometri tidak hanya dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran, tetapi
juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan
gangguan pendengaran. Uji audiometri terdiri dari beberapa macam, antara lain:
1. Pure tone Audiometry (Audiometri nada murni)
Pada pemeriksaan audiometri nada murni perlu dipahami hal-hal seperti ini, nada
murni, bising NB (narrow band) dan WN (white noise), frekuensi, intensitas bunyi,
ambang dengar, nilai nol audiometrik, standar ISO dan ASA, notasi pada audiogram,
jenis dan derajat ketulian serta gap dan masking.
Untuk membuat audiogram diperlukan alat audimeter. Bagian dari audiometer tombol
pengatur intensitas bunyi, tombol pengatur frekuensi, headphone untuk memeriksa AC
(hantaran udara), bone conductor untuk memeriksa BC (hantaran tulang).
Untuk pemeriksaan audiogram, dipakai grafik AC, yaitu dibuat dengan garis lurus
penuh (intesitas yang diperiksa antara 125-8000 Hz) dan grafik BC yaitu dibuat dengan
garis terputus-putus (intensitas yang diperiksa : 250-4000 Hz). Untuk telinga kiri
dipakai warna biru, sedangkan telinga kanan, warna merah.

Gambar 2.5 Tes Audiometri


Jenis dan Derajat Ketulian Serta Gap Pada Audiogram Telinga:
Pada interpretasi audiogram harus ditulis telinga yang mana, apa jenis
ketuliannya, bagaimana derajat ketuliannya, misal : telinga kiri tuli campura sedang.
Dalam menentukan derajat ketulian, yang dihitung hanya ambang dengar hantaran
udaranya (AC) saja.
Derajat ketulian ISO :
o 0 25 dB = normal
o > 25 40 dB = tuli ringan
o > 40 55 dB = tuli sedang
o > 55 70 dB = tuli sedang berat
o > 70 90 dB = tuli berat
o > 90 dB = tuli sangat berat
Jenis ketulian :
o Normal :
AC dan BC sama atau < 25 dB, atau AC dan BC berimpit,
tidak ada gap
o Tuli perseptif (sensorineural)
AC dan BC > 25 dB, atau AC dan BC berimpit (tidak ada gap)
o Tuli konduktif

BC normal atau < 25 dB, atau > 25 dB, atau antara AC dan BC
terdapat gap
o Tuli campur
BC > 25 dB, atau AC > BC terdapat gap
2. Play Audiometri (Audiometri Anak)
Bertujuan untuk menilai ambang pendengaran berdasarkan respons yang telah
dilatih (conditioned) melalui kegiatan bermain terhadap stimulus bunyi.
Stimulus bunyi diberikan melalui ear phone sehingga dapat diperoleh ambang
pada masing-masing frekuensi (frequency-specific) dan masing- masing telinga (ear
specific). Dengan teknik ini, dapat ditentukan jenis dan derajat ganggguan
pendengaran. Dilakukan untuk anak usia 30 bulan - 5 tahun.. Prosedur Pemeriksaan
yaitu, terlebih dahulu anak dilatih
memberikan respons melalui kegiatan bermain, misalnya memasukkan sebuah balok ke
dalam kotak; bila anak mendengar suara dengan intensitas (kekerasan bunyi) tertentu.
Selanjutnya intensitas diturunkan sampai diperoleh intensitas terkecil di mana anak
masih memberikan respons terhadap bunyi. Bila suara diganti dengan ucapan (katakata) dapat juga ditentukan speech reception threshold (SRT).
Langkah-langkah CPA:
1. Dengan bantuan pemeriksa, anak memegang benda misalnya balok,
berdekatan dekat dengan telinga namun tidak sampai menyentuh.
2. Stimulus auditori yang telah diketahui di atas ambang anak diberikan dan
pemeriksa mengarahkan tangan anak untuk membuat respon seperti
menjatuhkan balok dalam suatu kontainer. Pada awalnya stimulus dapat
diberikan intensitas tinggi dari headset portabel. Hadiah diberikan bila anak
dapat berespon.
3. Kondisi ini berlanjut terus sampai anak memperlihatkan perilaku (jatuhnya
balok pada kontainer atas keinginan sendiri).
4. Earphone digunakan pada anak dan tes dilanjutkan dengan 500 dan 2000 Hzuntuk
yang pertama, kemudian 1000 dan 4000 Hz untuk setiap telinga.

Gambar. Contoh pemeriksaan play audiometri

3. Speech Audiometry (Audiometri Tutur)


Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih
yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi, untuk
mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Prinsip audiometri tutur hampir
sama dengan audiometri nada murni, hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan
daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. Kata-kata tersebut dapat dituturkan
langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur,
kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya,
atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman, kemudian baru
diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Penderita diminta untuk
menirukan dengan jelas setip kata yang didengar, dan apabila kata-kata yang didengar
makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan, pendengar diminta untuk
mnebaknya. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari
tiap denah pada tiap intensitas. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang
absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar, sedangkan ordinatnya adalah
presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. Dari audiogram tutur dapat
diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu :

a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang


dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar, yang lazimnya disebut
persepsi tutur atau NPT, dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB).
b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan
bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai
diskriminasi tutur atau NDT. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi
maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar, sedangkan intensitas suara
barapa saja. Dengan demikian, berbeda dengan audiometri nada murni pada
audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat
nilai ambang (NPT), tetapi juga jauh diatasnya.
Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-kata
yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50%
tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat.
Kriteria orang tuli :
Ringan

masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB

Sedang

masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB

Berat

sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB

Berat

sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB


Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi, apabila

seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat


bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi, dikeraskan
oleh ABD sehingga bisa terdengar. Prinsipnya semua tes pendengaran agar
akurat hasilnya, tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Karena
kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah, kalau ada
gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. Pada audiometri tutur,
memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang

dipaparkan kependrita. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai


dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya, bila mendengar
intensitas bisa diturunkan 0 dB, berarti pendengaran baik. Tes sebelum
dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok
atau tidak (ada cairan dalam telinga), apakah ada kotoran telinga (serumen),
apakah ada lubang gendang telinga, untuk menentukan penyabab kurang
pendengaran.\

Free Field Test (FFT)


1. Behavioral Observational Audiometry (BOA)
Pemeriksaan pendengaran yang subjektif karena respon dari bayi
dan anak tidak konsisten. Namun demikian pemeriksaan behavioral memiliki
kemampuan frequency spesific. Tentu saja, nilai sensitivitas dan spesifitasnya
kurang dibandingkan pemeriksaan objektif seperti OAE dan BERA. Idealnya
dilakukan di ruang kedap suara, bila tidak tersedia dapat di ruangan biasa tetapi
cukup tenang. Bila tidak tersedia sarana pemeriksaan yang lebih objektif, dapat
dimanfaatkan untuk bayi dibawah 6 bulan misalnya pemeriksaan Behavioral
Observation Test (BOT) atau Behavioral Observation Audiometry (BOA). Pada
anak usia 6 bulan atau lebih pemeriksaan behavioral juga dapat dilakukan untuk
konfirmasi pemeriksaan objektif yang telah dilakukan, terutama bila menghadapi
kendala untuk memperoleh pemeriksaan yang bersifat frequency spesific.
Tujuan BOA yaitu menentukan ambang pendengaran berdasarkan
unconditioned responses terhadap bunyi; misalnya refleks behavioral. Untuk
menilai bayi/anak 0 - 6 bulan.
Persyaratan BOA:
Pemeriksaan di ruang kedap suara
Respon bayi dinilai oleh 2 orang pemeriksa
Stimulus berjarak 1 meter dari dari telinga, di belakang garis lapang pandangan
Stimulus : Audiometer + loud speaker

Intensitas stimulus dikalibrasi dengan sound level meter


Langkah-langkah BOA:
1. Anak duduk diantara 2 pengeras suara. Lebih baik pada ruangan yang kedap
suara. Apabila anak tidak mau dipisahkan dari orang tuanya, anak dapat
diletakan dipangkuan orang tuanya. Orang tua diintruksikan untuk
tidak
memicu anak untuk bergerak, akan lebih baik bila anak duduk di kursi kecil
atau kursi tinggi untuk membatasi pergerakannya.
2. Untuk menjaga ruang tes tetap sunyi, suara percakapan dan suara lain harus
minimal. Anak dialihkan perhatiannya dengan melihat gambar atau bermain
dengan mainan yang tidak bersuara. Audiologist mengarahkan aktifitas anak.

3. Stimulus (tutur, warbled tone, atau nada sederhana) diperdengarkan pertama


kali pada 0 dbHL. Apabila tidak ada respon (perubahan tingkah laku) yang
terlihat, intensitas dinaikan setiap 10 dB hingga timbul respon. Prosedur ini
diulang 2-3 kali. (misal terjadi respon pada 30 dB, maka pada 30 dB diulang
2-3 kali). Ketika menggunakan stimulus nada murni, digunakan 500 dan 2000
Hz untuk pertama kali. Apabila anak masih kooperatif, frekuensi pada 1000
dan 4000 Hz juga di tes pada anak tersebut.
4. Perubahan perilaku termasuk menolehkan kepala atau melokalisasi smber
bunyi, memulai aktifitas atau berhenti beraktifitas, melebarnya mata atau
mengedip, meningkat / menurunan frekuensi menyusui, meningkatnya
respirasi, mengeluarkan suara atau mencari sumber bunyi, Interval waktu
antar stimulus harus bervariasi untuk menghindari pola. Penting
untuk
melihat anak antara stimulus untuk menentukan seberapa sering perubahan
perilaku terjadi tanpa adanya stimulus. Apabila ragu anak tersebut berspon
atau tidak, intensitas harus dinaikan dan perubahan perilaku lebih
jelas
apabila anak berespon.
5. Untuk menghindari kelelahan, tes harus dilakukan secepat mungkin, apabila

tidak ada respon ynag terlihat pada intensitas rendah, stimulus yang intens
harus dilakukan untuk merangrang respon kaget.
Keterbatasan BOA yaitu tidak dapat menentukan threshold
(ambang pendengaran). Prosedur Behavioral Obsevation Test sama dengan
BOA,
tetapi menggunakan stimulus yang tidak terukur frekuensi dan
intensitasnya
(misalnya bertepuk tangan)

Gambar. Contoh ruangan pemeriksaan BOA

Tes Ewing, merupakan tes distraksi dengan mengamati respons


anak berupa menolehnya kepala tanpa conditioning dengan menggunakan 6
jenis
stimulus yang diberikan pada jarak 1 m di belakang anak :
16
1. Bunyi : psss-psss untuk menggambarkan suara frekuensi tinggi
2. Suara frekuensi rendah : uuh- uuh
3. Suara sendok dan cangkir ( white noise )
4. Suara remasan kertas ( frekuensi 6000 Hz )
5. Suara bel (frekuensi puncak 2000 Hz
6. Mainan giring-giring ( frekuensi puncak 4000 Hz )

Pada prinsipnya ada 4 jenis stimulus yang dipakai untuk refleks


orientasi bayi terhadap suara:

. Suara manusia atau kata-kata ( live voice )


Bunyi alat musik : perkusi ( genderang ) ,bel, triangle
Alat tiup : 120-1900 Hz
Suara-suara yang mudah dikenal : bunyi decak mulut, ketukan pintu, remasan
kertas atau plastik
Noise maker sederhana yang dapat dipakai untuk tes BOA:
Bola ping-pong diisi 6 butir beras panjang, 40 dB, 10 cm dibelakang telinga
anak diberi tangkai untuk pegangan ; tangkai diputar2 secara perlahan
Terompet 100 dB, 10 cm dibelakang telinga anak
Plastik diremas-remas, 40 dB, 10 cm dibelakang telinga
Menggesek tepi cangkir dengan sendok 4000 Hz
Mengetuk dasar cangkir dengan sendok 900 Hz
Suara mulut sssss 4000 Hz
Suara mulut oe-oe-oe 250 Hz
2. Visual Reinforcement Audiometry (VRA)
VRA bertujuan untuk menentukan ambang pendengaran bayi 7-30
bulan dengan menilai conditioned response (respons yang telah dilatih
terlebih
dahulu). Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk menentukan ambang
pendengaran. Keterbatasan : karena stimulus berasal dari pengeras
suara (loudspeaker), maka ambang yang diperoleh menunjukkan kondisi
telinga yang lebih baik. 4181. Prosedur pemeriksaan yaitu, bayi dilatih
terlebih dahulu untuk memberikan respons khusus (misal memutar kepala)
terhadap stimulus bunyi dengan kekerasan bunyi (intensitas ambang dengar
yaitu stimulus terkecil yang masih menghasilkan respons.

Langkah-langkah VRA :
1. Ruangan tes diatur dengan meletakan speaker berwarna hitam di sudut
ruangan. Di dalam speaker tersebut dapat muncul ilumiasi cahaya yang
bergerak (misal pergerkan boneka menabuh gendang yang mengeluarkan
cahaya dan suara).
2. Anak didudukan sendirian pada kursi atau pangkuan orang tua diantara dua
speaker. Anak dialihkan perhatiannya dengan melihat gambar atau bermain
dengan mainan yang tidak bersuara.

3. Stimulus (tutur, warbled tone, or nada sederhana) diperdengarkan pertama


kali pada 70 dbHL diatas perkiraan ambang dengar anak dan kotak yang
mengandung mainan diberikan cahaya. Perhatian anak dialihkan
dengan
melihat mainan tersebut. Kondisi ini berlanjut terus dan stimulus auditori
berganti-ganti diantara speaker dengan stimulus auditori dan visual
ditampilkan secara simultan untuk jangka waktu 3-4 detik.
4. Apabila anak terkondisikan, stimulus auditori ditampilkan tanpa rangsang
visual. Mainan yang bercahaya di dalam kotak pengeras suara, hanya sebagai
hadiah untuk anak apabila terdapat rangsang. Prosedur ini terus berlangsung
dengan intensitas stimulus semakin menurun hingga anak tidak berespon.

2.3.2

Electro Acoustic Impedance


1. Timpanometri
Tes Timpanometri
Timpanometri dilakukan untuk mengetahui keadaan di telinga
tengah. Misalnya, apakah ada cairan, gangguan rangkaian tulang
pendengaran (ossicular chain), kekakuan gendang telinga atau
bahkan gendang telinga terlalu lentur.
Alat yang digunakan dalam pemeriksaan timpanometri adalah
timpanometer.
Timpanogram adalah suatu penyajian berbentuk grafik dari
kelenturan relatif sistem timpano osikular sementara tekanan udara
di liang telinga diubah-ubah. Kelenturan maksimal diperoleh pada
tekanan udara normal, dan berkurang jika tekanan udara
ditingkatkan atau diturunkan. Individu dengan pendengaran normal
atau dengan gangguan sensorineural akan memperlihatkan sistem
timpano osikular yang normal.
Gambaran hasil timpanometri tersebut adalah:

tipe A mengindikasikan bahwa kondisi telinga tengah


normal.

tipe B terdapat cairan di telinga tengah.

tipe C terdapat gangguan fungsi tuba eustachius.

tipe AD terdapat gangguan rangkaian tulang pendengaran.

tipe AS terdapat kekakuan pada tulang pendengaran


(otosklerosis)
2. Acoustics Reflex (Refleks Akustik)

Pemeriksaan reflek akustik terpenting adalah reflek


kokleopalpebral dan reflek muskulus stapedius atau middle ear
muscle reflexes (MEMR). MEMR memberikan informasi dalam
menilai fungsi membran timpani dan keseluruhan sistem
auditorik. Beberapa penelitian klinis menunjukkan bahwa
MEMR pada manusia merupakan suatu fenomena yang stabil dan
dapat digunakan sebagai alat diagnostik yang cukup sempurna
untuk menilai fisiologi otot telinga tengah dan keseluruhan
sistem auditorik.
Prinsip Dasar Pemeriksaan Reflek Akustik Pemeriksaan reflek
akustik merupakan pengukuran kontraksi muskulus stapedius
sebagai respon dari stimulus akustik dengan intensitas tinggi (70100 dB diatas nilai ambang), kekuatan kontraksi akan
meningkat seiring dengan peningkatan intensitas suara. Ketika
muskulus stapedius kontraksi, terjadi peningkatan kekakuan
tulang pendengaran yang mempengaruhi immittancetelinga
tengah dalam waktu yang cepat dan terjadi pada kedua sisi
telinga, ipsilateral sedikit lebih kuat dengan nilai ambang yang
lebih rendah. Perubahan immittance telinga tengah tersebut
dapat dideteksi
menggunakan audiometri impedans sebagai
MEMR atau biasa disebut dengan reflek akustik.
Jaras Pemeriksaan Reflek Akustik
Perjalanan jaras dari pemeriksaan reflek akustik
terdiri dari reseptor, neuron aferen, pusat reflek, neuron eferen dan
efektor (gambar 5). Reseptor adalah koklea sedangkan efektor
adalah muskulus stapedius. Pusat reflek di pons bagian kaudal
tepatnya di nukleus olivarius, yang merupakan tempat lintasan
neuron aferen
menuju ke neuron eferen.16,25,26 Komponen aferen adalah
nervus koklearis yang merupakan sel bipolar ganglion
spiralis di dalam kanalis spiralis mediolus pada sisi yang
terstimulasi,
akson sentral ganglion spiralis memasuki batang otak bersamasama dengan nervus vestibularis di dalam sulkus di bawah
pons lalu berlanjut ke nukleus koklearis (nukleus ventral dan
nukleus dorsal nervus koklearis) di pons.16,25,26 Dari nukleus
koklearis ventral ipsilateral jaras utama berlanjut ke sebelah
lateral korpus trapezoid di anterior formasio retikuler yaitu
nukleus olivarius
superior ipsilateral yang berhubungan dengan berbagai nukleus
nervus kraniales (nukleus N.V dan N.VII) melalui fasikulus
longitudinal medialis dan pedunkulus olivarius superior. Pada

akhirnya, jaras dari nukleus olivarius superior ipsilateral menuju


ke nukleus motorik N.VII dan komponen eferen yaitu N.VII
yang mensarafi muskulus stapedius ipsilateral. Beberapa
jaras
yang berasal dari nukleus koklearis ventral mengadakan
penyilangan ke arah berlawanan bersama dengan bentukan
terakhir korpus
trapezoid di nukleus olivarius superior kontralateral dan
berlanjut ke komponen eferen kontralateral. Dari nukleus
koklearis ventral ipsilateral terdapat jaras yang langsung menuju
ke daerah di sisi medial nukleus motorik N.VII dan N.VII yang
mengakibatkan kontraksi muskulus stapedius ipsilateral.
Beberapa jaras dari nukleus olivarius superiormengadakan
penyilangan ke arah berlawanan menuju ke nukleus motorik
N.VII dan N.VII kontralateral.
Jenis Pemeriksaan Reflek Akustik
Terdapat 2 jenis pemeriksaan reflek akustik yaitu ipsilateral dan
kontralateral. Pada pemeriksaan reflek akustik ipsilateral pada
telinga yang sama dilakukan pemberian stimulus akustik
maupun pemeriksaan respon muskulus stapedius. Jalur yang
diperiksa meliputi telinga tengah, koklea, N. VIII, nukleus
koklearis ventral, nukleus olivarius superior, N. VII beserta
nukleus otoriknya dan muskulus stapedius, kesemuanya pada sisi
ipsilateral. Pada pemeriksaan reflek akustik kontralateral, satu si
si telinga diberikan stimulus akustik sedangkan pada telinga yang
berlawanan dilakukan pemeriksaan respon muskulus stapedius.
Jalur yang diperiksa meliputi telinga tengah, koklea, N. VIII,
nukleus koklearis ventral bagian ipsilateral, jalur yang menyilang
korpus trapezoid, nukleus olivarius superior kontralateral,
N.VII beserta
nukleus motoriknya dan muskulus stapedius
kontralateral.
Penilaian dan Interpretasi Pemeriksaan Reflek Akustik
Terdapat 3 hal penting dalam rangka penilaian dan inter
pretasi pemeriksaan reflek akustik yaitu 1). muncul atau
tidaknya reflek akustik (gambar 6); 2). nilai ambang reflek
akustik; dan 3). reflek akustik decay. 25,26,27 Apabila reflek
akustik ipsilateral muncul/(+) dengan nilai ambang yang
normal (70-100 dB SL) dengan rerata 85 dB HL, maka dapat disim
pulkan bahwa jalur jaras reflek akustik ipsilateral dalam keadaan
utuh, pendengaran normal atau tidak terdapat KP baik tipe
konduktif maupun sensorineural pada telinga tersebut.

Peningkatan nilai ambang atau tidak munculnya reflek akus


tik disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu terdapat KP
konduktif, KP sensorineural dan parese N.VII. Pada KP
sensorineural derajat sedang sampai berat sekali reflek akustik
tidak muncul karena stimulus akustik yang diterima oleh komponen
aferen reflek akustik tidak adekuat dan tidak dapat diteruskan ke
jaras berikutnya.
Pemeriksaan Reflek Akustik pada Bayi dan Anak
Pemeriksaan reflek akustik pada bayi dan anak memiliki
reliabi
litas yang tinggi bila digunakan pemeriksaan ipsilateral dengan
stimulus frekuensi tinggi (1000 Hz). Rerata nilai ambang reflek
akustik pada neonatus sebesar 70 dB HL, sekitar 15 dB lebih
rendah dibandingkan dewasa karena ukuran liang telinga luar yang
masih kecil.
Kelebihan dan Kekurangan Pemeriksaan Reflek Akustik
Kelebihan pemeriksaan reflek akustik antara lain bersifat obyektif,
cepat, tidak tergantung respon perilaku anak, relatif tidak
dipengaruhi oleh bising lingkungan, harga alat lebih murah,
dapat
menentukan
parese
N.VII,
mewakili
sistem
pendengaran perifer dan keseluruhan sistem auditorik sampai
setinggi pons bagian
kaudal, dan tidak perlu tenaga ahli. 16,25,26 Kekurangan
pemeriksaan reflek akustik antara lain dipengaruhi oleh proses
patologis di telinga luar dan telinga tengah serta ukuran
alatyang relatif besar.Bila aktivator intensitas suara alat periksa
melebihi 100 dB, maka hasil reflek akustik pada penderita KP
ringan sampai sedang (21-60 dB) masih mungkin muncul/(+).
Bila aktivator intensitas suara alat periksa maksimal sebesar 100
dB, maka hasil reflek akustik pada penderita KP ringan (2130db)masih mungkin muncul/(+). Proses patologis di telinga luar
dan telinga tengah dapat disingkirkan dengan pemeriksaan
timpanometer, sehingga bayi dan anak dengan timpanogram tipe A
saja yang memenuhi syarat untuk dilakukan pemeriksaan reflek
akustik ipsilateral dalam rangka untuk mendeteksi KP
sensorineural.
1. Eustachian Tube Function (Fungsi Tuba Eustachius)
1. Tes Valsalva

Prinsip tes ini adalah untuk membuat tekanan positif


di
dalam
nasofaring sehingga udara masuk ke tuba Eustachius. Untuk
melakukan tes ini, pasien memencet hidungnya diantara ibu
jari
dan jari telunjuk, ambil nafas dalam, tutup mulutnya dan coba untuk
meniup udara ke telinga. Jika udara masuk telinga tengah,
membran timpani akan terdorong ke lateral yang dapat di ferifikasi
dengan otoskop atau mikroskop. Jika terdapat perforasi
membran
timpani, akan terdengar suara mendesis atau jika terdapat sekret di
telinga tengah, suara retak akan terdengar.
Kegagalan tes ini tidak membuktikan tersumbatnya tuba karena
sekitar 65% orang berhasil melakukan tes ini. Tes ini harus di
hindarkan jika terdapat atropic scar dari membran timpani yang
dapat menyebabkan ruptur, dan adanya infeksi hidung dan
nasofaring dapat menyebabkan otitis media.
2. Tes Politzer
Tes ini dilakukan pada anak-anak yang tidak bisa melakukan
tes valsalva. Pada tes ini, olive-shaped dari kantong
Politzer dimasukkan kelubang hidung pasien yang ingin
dites, lubang hidung yang lain di tutup, dan kantong ditekan
bersamaan dengan saat pasien menelan.

3. Tes Toynbee
Perasat
Toynbee
menimbulkan
tekanan
negatif.
ini
dilakukan
dengan meminta pasien untuk menelan sementara hidung
ditutup.
Ini menarik udara dari telinga tengah ke dalam nasofaring dan
menyebabkan gerakan kedalam membran timpani yang diverifikasi
dengan pemeriksaan otoskopi atau dengan mikroskop.
4. Tympanometri
Pada tes ini, tekanan positif dan negatif diberikan pada liang telinga
luar dan pasien menelan berulang-ulang. Kemampuan tuba
menyeimbangkan tekanan positif dan negatif yang menandakan
fungsi tuba normal. Tes dapat dilakukan pada pasien dengan

membran timpani yang perforasi atau intak.

2.3.3 Otoacoustic Emission (OAE)


Pemeriksaan OAE merupakan pemeriksaan elektrofisiologic untuk
menilai fungsikoklea yang objektif, otomatis (menggunakana
kriteria PASS / lulus refer / tidak lulus) tidak infasif , mudah, tidak
membutuhkan waktu lama dan praktis sehingga sangat efisien untuk
program skrining pendengaran bayi baru lahir (universal new born
hearing screening). Suara yang berasal dari dunia luar diproses oleh
koklea menjadi stimulus listrik, selanjutnya dikirim kebatang otak
melalui saraf pendengaran. Sebagian energy bunyi tidak dikirim ke
saraf pendengaran melainkan kembali menuju ke liang telinga.
Proses ini mirip dengan peristiwa echo (kemp echo).
Produk sampingan koklea ini selanjutnya disebut sebagai emisi
otoakustik (otoacoustic emission). Koklea tidak hanya menerima
dan memproses bunyi tetapi juga dapat memproduksi energy bunyi
dengan intesitas rendah yang berasal ari sel rambut luar koklea
(outer hair cells). Terdapat 2 jenis OAE yaitu spontaneus OAE
(SPOAE) dan Evoked OAE.
- SPOAE adalah mekanisme aktif koklea untuk memproduksi OAE
tanpa harus diberikan stimulus, namun tidak semua orang
dengan pendengaran normal mempunyai SPOAE.
- EOAE hanya akan timbul bila diberikan stimulus akustik yang
dibedakanmenjadi, Trasient evoked OAE (TEOAE) dan
distortion product OAE (DPOAE). Pada TEOAE stimulus
akustik berupa click sedangkan DPOAE menggunakan stimulus
berupa 2 buah nada murni yang berbeda frekuensi dan inensitasnya.
Pemeriksaan dilakukan diruangan yang tenang. Pada mesin OAE
generasi terakhir nilai OAE secara otomatis akan dikoreksi
dengan noise yang terjadi selama pemeriksaan. Artefak yang
terjadi akan diseleksi saat itu juga (real time) hal tersebut
menyebabkan nilai sensitifitas dan spesifitas OAE yang tinggi.
Untuk memperoleh hasil yang optimal diperlukan pemilihan probe
(sumbat liang telinga) sesuai ukuran liang telinga. Sedative tidak
diperlukan bila bayi dan anak kooperatif.
2.3.4

Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA)

Istilah lain yaitu Auditory Brainstem Response (ABR), atau


Evoked Response Audiometri
(ERA). BERA merupakan
pemeriksaan
elektrofisiologik
untuk
menilai
integritas

sistemauditorik, bersifat objektif, tidak invasive. Dapat digunakan


untuk memeriksa bayi, anak, dewasa dan penderita koma.
Pemeriksaan ini merupakan suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi
N VIII, dengan cara merekam potensial listrik yang dikeluarkan sel
koklea selama menempuh perjalanan mulai telinga dalam hingga
inti-inti tertentu di batang otak. Pemeriksaan dilakukan dengan
menggunakan elektroda permukaan yang dilekatkan pada kulit
kepala atau dahi dan prosesus mastoid atau lobules telinga. Prinsip
dari pemeriksaan BERA adalah menilai perubahan potensial
listrik otak setelah pemberian rangsang sensoris berupa bunyi.
Rangsangan bunyi yang diberikan melalui headphone akan
menempuh perjalanan melalui saraf ke VIII (gelombang I), nucleus
koklearis
(gelombang
II),
nucleus
olivarius
superior
(gelombang III), lemnikus lateralis (gelombang IV), kolikulus
inferior (gelombang V) kemudian menuju korteks auditoris di
lobus temporal otak. Perubahan potensial listrik di otak akan
diterima oleh ketiga elektroda di kulit kepala, dari gelombang yang
timbul di setiap nucleus saraf sepanjang jalur saraf pendengaran
tersebut dapat dinilai benuk gelombang dan waktu yang diperlukan
dari saat pemberian rangsang suara sampai mastoideus),
atau
pada kedua lobules auricular yang dihubungkan dengan
preamplifier. Untuk menilai fungsi batang otak pada umumnya
digunakan bunyi rangsang click, karena dapat mengurangi artefak.
Rangsangan ini diberikan melalui headphone secara unilateral dan
rekaman dilakukan pada masing-masing telinga. Reaksi yang
timbul akibat rangsang suara sepanjang jalur saraf pendengaran
dapat dibedakan menjadi beberapa bagian. Pembagian ini
berdasarkan waktu yang diperlukan mulai dari saat pemberian
rangsang suara sampai menimbulkan reaksi dalam bentuk
gelombang. Terdapat tiga gelombang yaitu:
1. Early Response yang timbul dalam waktu kurang dari
10 mili detik, merupakan reaksi dari batang otak.
2. Middle Response antara 10-15 mili detik, yang merupakan
reaksi thalamus, dan korteks auditorium primer
3. Late Response antara 50-500 mili detik, merupakan reaksi dari
area auditorius primer dan sekitarnya.
Berikut dibawah ini merupakan penilaian BERA:
1. Masa laten absolut gelombang I, III, V
2. Beda masing-masing masa laten absolut (Interwave latency I-V,
I-III, III-V)

3. Beda masa laten absolut telinga kanan dan kiri (interaneural


latency)
4. Beda masa laten pada penurunan intensitas bunyi (latency
intensity function)
5. Rasio amplitude gelombang V/I, yaitu rasio antara nilai puncak
gelombang V ke puncak gelombang I yang akan meningkat dengan
menurunnya intensitas.
2.3.5

Auditory steady state response (ASSR)


Pemeriksaan elektrofisiologis lain untuk menilai AEP adalah
Auditory Steady State Response (ASSR), atau kadangkadang dikenal juga sebagai Steady-State Evoked Potential
(SSEP). ASSR adalah salah satu metode pemeriksaan
terbaru yang dapat digunakan oleh para audiologis untuk
menentukan prediksi ambang pendengaran pada anak-anak.

Tujuan ASSR adalah untuk membuat estimasi


audiogram statistik yang akurat. Pada respons dari ABR
diukur dalam microvolts, sedangkan pada ASSR diukur
dalam nanovolts. Pada dasarnya, cara pemeriksaan pada tes
ASSR ini sama dengan pemeriksaan pada BERA. Yang
membedakan adalah frekuensi yang diperiksa serta
gambaran hasil tes. Hasil tes BERA gambarannya berupa
gelombang-gelombang sedangkan hasil tes ASSR berupa
audiogram. Biasanya, jika dalam pemeriksaan BERA tidak
ditemukan gelombang V di intensitas 80 dB, maka
disarankan untuk melakukan tes ASSR untuk mengetahui
berapa derajat gangguan pendengaran bayi atau anak.
Hasil tes ASSR ini sangat penting digunakan dalam
pemilihan dan pengaturan alat bantu dengar, terutama pada
alat bantu dengar digital programmable. Ketepatan gain atau
amplifikasi yang diberikan harus sesuai dengan hasil tes
ASSR dan hasil tes pendengaran subyektif yang
mendukung, yaitu Free Field Test.

BAB III
KESIMPULAN

Gangguan pendengaran pada anak bisa bisa merupakan


suatu kelainan kongenital ataupun suatu kelainan yang didapat. Gangguan
pendengaran pada anak ini jika tidak cepat dideteksi dan ditangani bisa
mengakibatkan gangguan perkembangan pada anak khususnya
perkembangan bicara dan belajarnya.
286. Pemeriksaan gangguan pendengaran ini bisa dilakukan
semenjak anak masih bayi, tidak perlu menunggu anak bisa bicara. Anak
yang mengalami faktor resiko memiliki gangguan pendengaran serta
keterlambatan dalam bicara dan belajar sapatutnya dicurigai memiliki
gangguan pendengaran sehingga merupakan suatu indikasi untuk
melakukan pemeriksaan pendengaran.

287. Pada prinsipnya metode tes pendengaran pada anak dibedakan


menjadi dua, yaitu jenis pemeriksan subjektif meliputi Behavioral Observation
Audiometry (BOA), Visual Reinforcement Audiometry (VRA), Conditioned Play
Auidometry (CPA) dan Pure tone Audiometry (PTA), tes objektif meliputi
timpanometri, Otoacoustic Emission (OAE), Brain Evoked Response Audiometry
(BERA) dan Audiometry Steady State Respons (ASSR). Tipe pemeriksaan yang
digunakan tergantung dari usia yang akan diperiksa, tingkah laku dan kecurigaan
diagnostik. Namun bila memungkinkan, tetap dianjurkan untuk mengkonfirmasi
hasilnya dengan pemeriksaan objektif.

DAFTAR PUSTAKA
1. Khariwala SS, Weber PC. 2014. Anatomy and Physiology of
Hearing. Dalam: Johnson JT, Rosen CA, Bailey BJ, penyunting. Bailey's
Head and Neck Surgery--otolaryngology.Edisi ke 5: Wolters Kluwer
Health/Lippincott Williams & Wilkins.
2. Helmi. Fisiologi telinga tengah dan fungsi pendengaran pada b
eberapa
kelainan telinga tengah. Jakarta: Balai penerbit FK UI; 2005.
p. 42-68.
3. Olusanya BO, Somefun AO, Swanepoel DW. 2008. The Need for
Standardization of Methods for Worldwide Infant Hearing Screening: A
Systematic Review. The Laryngoscope.118(10):1830-6
4. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementrian Kesehatan
RI. 2010. Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit.
Jakarta
5. Halloran DR, Hardin JM, Wall TC. 2009. Validity of pure-tone
hearing screening at well-child visits. Arch Pediatr Adolesc

Med.163(2):158-63.
6. Bashiruddin J. 2014. Perkembangan bicara dan bahasa pada anak.
Pada Continuing Professional Development Program (CPDP IX) Course
and Workshop. Penatalaksanaan Gangguan Pendengaran & Perkembangan
Berbicara pada Anak. Kelompok Studi Neurotologi PP PERHATI-KL &
departemen THT FKUI-RS DR. Cipto Mangunkusumo. Jakarta
7. Abiratno SF. 2014. Tes fungsi persepsi wicara pada anak. Pada
Continuing Professional Development Program (CPDP IX) Course and
Workshop. Penatalaksanaan Gangguan Pendengaran & Perkembangan
Berbicara pada Anak. Kelompok Studi Neurotologi PP PERHATI-KL &
departemen THT FKUI-RS DR. Cipto Mangunkusumo. Jakarta.
8. Gelfand SA. 2011. Assessment of Infant and Children. Dalam:
Gelfand SA, penyunting. Essentials of Audiology.Edisi ke 3. New York:
Thieme. h. 261-80
9. Faisa S. Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Pada Anak. Melalui:
http://hearing.kasoem.co.id/pendengaran/32-deteksi-dini-gangguanpendengaran-pada-anak-1-?showall=1. Journal [serial on the Internet]. Date.
10. American Speech-Language Hearing Association. Guidelines for the audiologic
assessment of children from birth to 5 years of age [homepage on the internet]. c2004 [updated
2005 Jul 17; cited 2006 Feb 25]. Available from: http://www.asha.org/members/deskref
journals/deskref/default.
11. Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran (Tuli). In:
In: Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin
J, Restuti RD, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung
, Tenggorok, Kepala & Leher, Edisi Ketujuh.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2012.
12. Amundsen GA. Audiometry. In: Pfenininger JL, editor. Pfenninger and Fowlers Procedures
for Primary Care, Third Edition. Missouri: Mosby; 2011.
13. Campbell KCM, Mullin G. Impedance audiometry (homepage in internet) last update
2006 June 22 (cited 2008 December 25); (35 screens). Available from: URL:
http://emedicine.medscape.com/specialties

.
14.

Attias J, Al-Masri M., Abu Kader. The prevalence of congenital and early onset hearing
loss in Jordanian and Israeli infants. International journal of audiology 2006; 45: 528-36.