Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL

A. PENGERTIAN

Isolasi sosial merupakan kondisi kesendirian yang di alami oleh


individu dan diterima sebagai ketentuan orang lain sebagai suatu
keadaan yang negatif atau mengancam (Towsend, 2008). Isolasi
sosial adalah suatu keadaan dimana individu mengalami suatu
kebutuhan atau mengharapakan untuk melibatkan orang lain,
akan tetapi tidak dapat membuat hubungan tersebut (Carpenito,
2004). Sedangkan menurut Kim (2006) isolasi sosial merupakan
kesendirian yang dialami individu dan dirasakan sebagai beban oleh
orang lain dan sebagai keadaan yang negatif atau mengancam.
Keadaan ketika individu atau kelompok mengalami atau
merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan
dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak
(Carpenito-Moyet, 2007). Kondisi sendirian, yang dialami individu dan
dipersepsikan disebabkan orang lain dan sebagai kondisi yang negatif
dan mengancam (Townsend, 2010).
B. RENTANG RESPON SOSIAL

Rentang Respon Sosial


Respon adaptif

Solitut
Manipulasi
Otonomi
Kebersamaan
Narkisme
Saling ketergantungan

Respon maladaptif

Kesepian
Menarik diri

Impulsif
Ketergantungan

Gambar.1.1 Rentang respon sosial, (Stuart and Sundeen, 1998).


Keterangan dari rentang respon sosial :
1. Solitut (Menyendiri) : Solitut atau menyendiri merupakan respon
yang dibutuhkan seorang untuk merenung apa yang telah
dilakukan dilingkungan sosialanya dan suatu cara untuk
nmenentukan langkahnya.
2. Otonomi:
Kemapuan
individu
untuk
mentukan
dan
maenyampaikan ide, pikiran, perasaan dalam hubungan social.
3. Kebersamaan (Mutualisme) : Perilaku saling ketergantungan
dalam membina hubungan interpersonal.
4. Saling ketergantungan (Interdependent) : Suatu kondisi dalam
hubungan interpersonal dimana hubungan tersebut mampu
untuk saling memberi dan menerima.
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

5. Kesepian : Kondisi dimana seseorang merasa sendiri, sepi, tidak


danya perhatian dengan orang lain atau lingkunganya.
6. Menarik diri : Kondisi dimana seseorang tidak dapat
mempertahankan
hubungan
dengan
orang
lain
atau
lingkunganya.
7. Ketergantungan (Dependent) : Suatu keadaan individu yang tidak
menyendiri, tergantung pada orang lain.
8. Manipulasi : Individu berinteraksi dengan pada diri sendiri atau
pada tujuan bukan berorientasi pada orang lain/ tidak dapat
dekat dengan orang lain.
9. Impulsive: Keadaan dimana individu tidak mampu merencanakan
sesuatu. Mempunyai penilaian yang buruk dan tidak dapat
diandalkan.
10. Narkisme: Secara terus menerus berusaha mendapatkan
penghargaan dan pujian. Individu akan marah jika orang lain
tidak mendukungnya. (Townsend M.C, 2010)
C. KARAKTERISTIK PERILAKU

Karakteristik perilaku isolasi sosial yang dapat ditemukan antara lain:


Karakteristik Mayor
1. Mengeskpresikan perasaan kesepian, dan penolakan.
2. Keinginan untuk kontak lebih banyak dengan orang lain tetapi tidak
mampu.
3. Melaporkan ketidaknyamanan dalam situasi sosial.
4. Menggambarkan kurang hubungan yang berarti (Carpenito-Moyet,
2007).
Karakteristik Minor
1. Merasakan waktu berjalan lambat
2. Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dan mengambil keputusan
3. Perasaan tidak berguna
4. Perasaan penolakan
5. Kurang aktivitas secara verbal maupun fisik
6. Tampak depresif, cemas atau marah
7. Kegagalan untuk berinteraksi dengan orang lain didekatnya
8. Sedih, afek dangkal
9. Tidak komunikatif
10.
Menarik diri
11.
Kontak mata buruk
12.
Larut dalam pikiran dan ingatan sendiri
D. PROSES TERJADINYA MASALAH

Karena isolasi sosial adalah status subjektif, semua pengaruh


yang membuat perasan seseorang menjadi kesepian harus divalidasi
karena penyebabnya bervariasi dan individu menunjukkan kesepiannya
dalam cara yang berbeda-beda (Carpenito-Moyet, 2007). Keadaan
isolasi sosial dapat diakibatkan dari berbagai situasi, dan masalah
kesehatan yang berhubungan dengan kehilangan hubungan yang telah
terbentuk atau kegagalan untuk mempertahankan hubungan ini
(Carpenito-Moyet, 2007). Penyebab dari isolasi sosial adalah harga diri
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

rendah yaitu perasaan negative terhadap


diri
sendiri,
hilang
kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan yang ditandai
dengan adanya perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah
terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan
martabat, percaya diri kurang dan juga dapat mencederai diri,
(Carpenito, 2000).
1. Faktor Predisposisi
a. Biologis
1) Riwayat keluarga dengan gangguan jiwa, Diturunkan melalui
kromosom orangtua (kromosom keberapa masih dalam
penelitian). Diduga kromosom no.6 dengan kontribusi genetik
tambahan nomor 4, 8, 15 dan 22. Pada anak yang kedua
orangtuanya tidak menderita, kemungkinan terkena penyakit
adalah satu persen. Sementara pada anak yang salah satu
orangtuanya menderita kemungkinan terkena adalah 15%.
Dan jika kedua orangtuanya penderita maka resiko terkena
adalah 35 persen.
2) Kembar indentik berisiko mengalami gangguan sebesar 50%,
sedangkan kembar fraterna berisiko mengalami gangguan
15%
3) Riwayat janin saat pranatal dan perinatal trauma, penurunan
komsumsi oksigen pada saat dilahirkan, prematur, preeklamsi,
malnutrisi, stres, ibu perokok, alkhohol, pemakaian obatobatan, infeksi, hipertensi dan agen teratogenik. Anak yang
dilahirkan dalam kondisi seperti ini pada saat dewasa (25
tahun) mengalami pembesaran ventrikel otak dan atrofi
kortek otak.
4) Nutrisi: Adanya riwayat gangguan nutrisi ditandai dengan
penurunan BB, rambut rontok, anoreksia, bulimia nervosa.
5) Keadaan kesehatan secara umum: obesitas, kecacatan fisik,
kanker, inkontinensia sehingga menjadi malu, penyakit
menular AIDS,
6) Sensitivitas biologi: riwayat peggunaan obat, riwayat terkena
infeksi dan trauma kepala serta radiasi dan riwayat
pengobatannya.
Ketidakseimbangan
dopamin
dengan
serotonin neurotransmitter
7) Paparan terhadap racun : paparan virus influenza pada
trimester 3 kehamilan dan riwayat keracunan CO, asbestos
karena mengganggu fisiologi otak
b. Psikologis
1) Adanya riwayat kerusakan struktur dilobus frontal yang
menyebabkan suplay oksigen dan glukosa terganggu di mana
lobus tersebut berpengaruh kepada proses kognitif sehingga
anak mempunyai intelegensi dibawah rata-rata dan
menyebabkan kurangnya kemampuan menerima informasi
dari luar.
2) Keterampilan komunikasi verbal yang kurang, misalnya tidak
mampu berkomunikasi, komunikasi tertutup (non verbal),
gagap, riwayat kerusakan yang mempunyai fungsi bicara,
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

misalnya trauma kepala dan berdampak kerusakan pada area


broca dan area wernich.
3) Moral:
Riwayat
tinggal
di
lingkungan
yang
dapat
mempengaruhi moral individu, misalnua keluarga broken
home, ada konflik keluarga ataupun di masayarakat
4) Kepribadian: orang yang mudah kecewa, mudah putus asa,
kecemasan yang tinggi dan menutup diri
5) Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan:
a) Orang tua otoriter, selalu membandingkan, yang
mengambil jarak dengan anaknya, penilaian negatif yang
terus menerus
b) Anak yang diasuh oleh orang tua yang suka cemas, terlalu
melindungi, dingin dan tidak berperasaan
c) Penolakan atau tindak kekerasan dalam rentang hidup klien
d) Konflik orang tua, disfungsi sistem keluarga
e) Kematian orang terdekat, adanya perceraian
f) Takut penolakan sekunder akibat obesitas, penyakit
terminal, sangat miskin dan pengangguran.
g) Riwayat ketidakpuasan yang berhubungan dengan
penyalahgunaan obat, perilaku yang tidak matang, pikiran
delusi, penyalahgunaan alkhohol
6) Konsep diri: Ideal diri yang tidak realistis, harga diri rendah,
identitas diri tidak jelas, krisis peran, gambaran diri negatif
7) Motivasi: adanya riwayat kegagalan dan kurangnya
pernghargaan
8) Pertahanan psikologis, ambang toleransi terhadap stres yang
rendah, riwayat gangguan perkembangan sebelumnya
9) Self kontrol: tidak mampu melawan terhadap dorongan untuk
menyendiri
c. Sosialbudaya
1) Usia: Ada riwayat tugas perkembangan yang tidak selesai
2) Gender: Riwaya ketidakjelasan identitas dan kegagalan peran
gender
3) Pendidikan: pendidikan yang rendah dan riwayat putus
sekolah atau gagal sekolah
4) Pendapatan: penghasilan rendah
5) Pekerjaan: stressfull dan berisiko tinggi
6) Status sosial: Tuna wisma, kehidupan terisolasi (kehilangan
kontak sosial, misalnya pada lansia)
7) Latar belakang budaya: tuntutan sosial budaya tertentu
adanya stigma masyarakat, budaya yang berbeda (bahasa
tidak dikenal)
8) Agama dan keyakinan: Riwayat tidak bisa menjalankan
aktivitas keagamaan secara rutin
9) Keikutsertaan dalam politik: Riwayat kegagalan berpolitik
10)
Pengalaman sosial: perubahan dalam kehidupan,
misalnya bencana, kerusuhan. Kesulitan dalam mendapatkan
oekerjaan dan ketidakutuhan keluarga
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

11)
Peran sosial: isolasi sosial: khususnya usia lanjut, stigma
negatif dari masyarakat, praduga negatif dan stereotipi,
perilaku sosial tidak diterima oleh masyarakat.
2. Faktor Presipitasi
a. Nature
1) Biologi:
a) Dalam enam bulan terakhir mengalami penyakit infeksi
otak
(enchepalitis)
atau
trauma
kepala
yang
mengakibatkan lesi daerah frontal, temporal dan limbic
sehingg
terjadi
ketidakseimbangann
dopamin
dan
serotonin neurotransmitter
b) Dalam enam bulan terakhir terjadi gangguan nutrisi
ditandai dengan penurunan BB, rambut rontok, anoreksia,
bulimia nervosa yang berdampak pada pemenuhan glukosa
di otak yang dapat mempengaruhi fisiologi otak terutama
bagian fungsi kognitif
c) Sensitivitas biologi: putus obat atau mengalami obesitas,
kecatatan fisik, kanker dan pengobatannya yang dapat
menyebabkan perubahan penampilan fisik
d) Paparan terhadap racun, misalnya CO dan asbestosos yang
dapat mempengaruhi metabolisme di otak sehingga
mempengaruhi fisiologis otak
2) Psikologis
a) Dalam enam bulan terakhir terjadi trauma atau kerusakan
struktur di lobus frontal dan terjadi suplay oksigen dan
glukosa terganggu sehingga mempengaruhi kemampuan
dalam memahami informasi
b) Keterampilan verbal, tidak mampu komunikasi, gagap,
mengalami kerusakan yang mempengaruhi fungsi bicara
c) Dalam enam bulan terakhir tinggal di lingkungan yang
dapat mempengaruhi moral: lingkungan keluarga yang
broken home, konflik atau tinggal dalam lingkungan
dengan perilaku sosial yang tidak diharapkan
d) Konsep diri: Harga diri, perubahan penampilan fisik
e) Self kontrol: tidak mampu melawan dorongan untuk
menyendiri
f) Kepribadian: mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan
yang tinggi, menutup diri
3) Sosial budaya
a) Usia: Dalam enam bulan terakhir alami ketidaksesuaian
tugas
perkembangan
dengan
usia,
atau
terjadi
perlambatan dalam penyelesaian tugas perkembangan
b) Gender: enam bulan terakhir alami ketidakjelasan identitas
dan kegagalan peran gender (model peran negatif)
c) Pendidikan: dalam enam bulan terakhir mengalami putus
sekolah dan gagal sekolah
d) Pekerjaan : pekerjaan stressfull dan beresiko atau tidak
bekerja (PHK)
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

e) Pendapatan: penghasilan rendah atau dalam enam bulan


terakhir tidak mempunyai pendapatan atau terjadi
perubahan status kesejahteraan
f) Status sosial: Tuna wisma dan kehidupan isolasi, tidak
mempunyai sistem pendukung
g) Agama dan keyakinan: tidak bisa menjalankan aktivitas
keagamaan secara rutin. Terdapat nilai-nilai sosial di
masyarakat yang tidak diharapkan
h) Kegagalan dalam bepolitik: kegagalan dalam berpolitik
i) Kejadian sosial saat ini: perubahan dalam kehidupan:
perang, bencana, kerusuhan, tekanan dalam pekerjaan,
kesulitan
mendapatkan
pekerjaan,
sumber-sumber
personal yang tidak adekuat akibat perang, bencana
j) Peran sosial: Dalam enam bulan terakhir isolasi sosial,
diskriminasi dan praduga negatif, ketidakmampuan untuk
mempercayai orang lain
b. Origin
Internal: Kegagalan persepsi individu terhadap sesuatu yang
diyakini dalam hubungan sosial
Eksternal: Kurangnya dukungan sosial dan dukungan masyarakat
pada klien untuk melakukan hubungan sosial
c. Time
1) Waktu terjadinya stressor pada waktu yang tidak tepat
2) Stressor terjadi secara tiba-tiba atau bisa juga secara
bertahap
3) Stressor terjadi berulang kali dan antara satu stressor dengan
stressor yang lain saling berdekatan
d. Number
1) Sumber stress lebih dari satu (banyak)
2) Stress dirasakan sebagai masalah yang berat
3. Penilaian Terhadap Stressor
a. Kognitif
1) Mengatakan tidak berguna, mengatakan ada penolakan
dengan lingkungan
2) Ketidakmampuan konsentrasi dan pengambilan keputusan
3) Kehilangan rasa tertarik untuk melakukan sesuatu dan
mengatakan merasakan waktu berjalan lambat
4) Mengatakan keinginan kontak lebih banyak dengan orang lain
tetapi tidak mampu
5) Melaporkan ketidakamanan dalam situasi sosial
6) Melaporkan tidak adanya hubungan yang berarti (tidak
mempunyai teman akrab)
7) Mengatakan nilai yang diterima oleh masyarakat tetapi tidak
mampu menerima nilai dari kultur dominan
8) Ketidakmampuan membuat tujuan hidup
9) Mengatakan ketidakmampuan untuk memenuhi pengharapan
orang lain
b. Afektif
1) Merasa sedih dan afek dangkal/datar
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

2) Merasa tertekan, depresi, cemas atau marah


3) Merasa kesepian yang dibebankan pada orang lain dan
perasaan ditolak oleh lingkungan
4) Merasa tidak aman ditengah-tengah orang lain
5) Merasa tidak mempedulikan orang lain
c. Fisiologis
1) Ketidakseimbangan neurotransmitter dopamin dan serotonin
2) Peningkatan efinefrin dan non efinefrin
3) Peningkaan denyut nadi, TD, pernafasan jika terjadi
kecemasan
4) Gangguan tidur
d. Perilaku
1) Kontak mata buruk atau tidak ada kontak mata
2) Negativism, kurang aktivitas baik fisik dan verbal
3) Banyak melamun, larut dengan pikiran dan ingatan sendiri
4) Penampilan tidak sesuai dan perilaku aneh dan tidak dapat
diterima oleh masyarakat
5) Dipenuhi dengan pikiran-pikiran sendiri, repetitif (perilaku
yang ulang-ulang)
6) Melakukan pekerjaan tidak tuntas adanya ketifak sesuaian
atau minat imatur dan aktivitas untuk usia dan tahap
perkembangan
e. Sosial
1) Menarik diri
2) Sulit berinteraksi dan tidak berkomunikasi
3) Kegagalan untuk berinteraksi dengan orang lain didekatnya
4) Mencari kesempatan untuk sendiri atau berada dalam
suasana subkultur
5) Penunjukkan bermusuhan dalam suara dan perilaku
6) Ketidakmampuan dalam berpartisipasi dalam sosial
7) Acuh terhadap lingkungan
8) Curiga terhadap orang lain
9) Tidak tertarik terhadap segala aktivitas yang sifatnya
menghibur
4. Sumber Koping
a. Personal ability
1) Tidak komunikatif dan cenderung menarik diri
2) Kesehatan umum klien, terdapat kecacatan
3) Ketidakmampuan mengambil keputusan dan memecahkan
masalah
4) Kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak adekuat
5) Pengetahuan tentang masalah isolasi rendah
6) Integritas ego yang tidak adekuat
b. Sosial Support
1) Tidak adanya orang terdekat yang mendukung keluarga,
teman, kelompok
2) Hubungan antara individu, keluarga dan masyarakat tidak
adekuat
3) Komitmen degan jaringan sosial tidak adekuat
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

c. Material asset
1) Adanya perubahan status kesejahteraan
2) Ketidakmampuan mengelola kekayaan
3) Tidak punya uang untuk berobat, tidak ada tabungan
4) Tidak memiliki kekayaan dalam bentuk barang berharga
d. Positif belief
1) Distres spiritual
2) Tidak memilki motivasi untuk sembuh
3) Penilaian negatif tentang pelayanan kesehatan
4) Tidak menganggap apa yang dialami merupakan sebuah
masalah
5. Mekanisme Koping
a. Konstruktif: b. Destruktif: Regresi, proyeksi, Denial, Withdrawl, introyeksi,
represi, Disosiasi
E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Isolasi sosial
F. TINDAKAN KEPERAWATAN

1. Tindakan keperawatan untuk klien.


a. Tujuan:
1) Pasien
mampu
mengenal
penyebab
isolasi
sosial,
keuntungan memiliki teman, kerugian tidak memiliki teman.
2) Pasien mampu berkenalan dengan perawat atau pasien lain
3) Pasien mampu bercakap-cakap dalam melakukan kegiatan
harian.
4) Pasien mampu berbicara sosial : meminta sesuatu,
berbelanja dan sebagainya.
b. Tindakan keperawatan
1) Mengkaji dan mendiskusikan isolasi sosial: penyebab isolasi
sosial, siapa yang serumah, siapa yang dekat dengan klien,
siapa yang tidak dekat dengan klien, keuntungan punya
teman dan becakap-cakap, kerugian tidak punya teman dan
tidak bercakap cakap; dan melatih berkenalan.
2) Melatih pasien berkenalan dengan 2 orang saat melakukan
kegiatan harian.
3) Melatih pasien berkenalan dengan 4 orang dalam melakukan
kegiatan harian berkelompok.
4) Melatih cara bicara sosial seperti belanja ke warung.
Tindakan keperawatan untuk keluarga
1. Tujuan
a. Keluarga mampu menjelaskan isolasi sosial: pengertian, tanda
dan gejala, dan proses terjadinya masalah.
b. Keluarga mampu mengenal masalah dalam merawat pasien
isolasi sosial, dan melatih keluarga dalam membimbing pasien
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

berkenalan dan bercakap-cakap saat melakukan kegiatan


harian.
c. Keluarga mampu merawat dengan melatih bicara sosial
d. Keluarga mampu mengenal tanda dan gejala kekambuhan
yang memerlukan rujukan dan melakukan follow up ke fasilitas
pelayanan kesehatan secara teratur.
2. Tindakan
a.
Diskusikan masalah yg dirasakan dalam merawat pasien
menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya
isolasi sosial (gunakan booklet), memberi kesempatan keluarga
untuk memutuskan perawatan pasien, menjelaskan cara
merawat isolasi sosial dan
melatih dua cara merawat :
berkenalan dan melakukan kegiatan harian.
b.
Jelaskan kegiatan rumah tangga yang dapat melibatkan pasien
berbicara (makan, sholat bersama), dan latih cara membimbing
pasien berbicara dan memberi pujian.
c.
Jelaskan cara melatih pasien bercakap-cakap dalam melakukan
kegiatan sosial berbelanja, dan melatih keluarga mendampingi
pasien berbelanja
d.
Jelaskan tanda-tanda kambuh, follow up ke PKM/ RSJ, dan
rujukan.

Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

Strategi Pelaksanaan

N
O

DIAG
NOSA

TIND
AKA
N

PASI
EN

ISOLA
SI
SOSIA
L

KELU
ARG
A

PERTEMUAN
1
1. Identifikasi penyebab
isolasi sosial: siapa yang
serumah, siapa yang dekat,
yang tidak dekat, dan apa
sebabnya
2. Keuntungan punya teman
dan bercakap-cakap
3. Kerugian tidak punya
teman dan tidak bercakapcakap
4. Latih cara berkenalan
dengan pasien dan perawat
atau tamu
5. Masukan pada jadual
kegiatan untuk latihan
berkenalan
1. Diskusikan masalah yg
dirasakan dalam merawat
pasien
2. Jelaskan pengertian, tanda
& gejala, dan proses
terjadinya isolasi sosial
(gunakan booklet)
3. Jelaskan cara merawat
isolasi sosial
4. Latih dua cara merawat
berkenalan, berbicara saat
melakukan kegiatan harian
5. Anjurkan membantu pasien
sesuai jadual dan
memberikan pujian saat
besuk

Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

2
1. Evaluasi kegiatan
berkenalan (berapa orang).
Beri pujian
2. Latih cara berbicara saat
melakukan kegiatan harian
(latih 2 kegiatan)
3. Masukkan pada jadual
kegiatan untuk latihan
berkenalan 2- 3 orang
pasien, perawat dan tamu,
berbicara saat melakukan
kegiatan harian

3
1. Evaluasi kegiatan latihan
berkenalan (berapa orang) &
bicara saat melakukan dua
kegiatan harian. Beri pujian
2. Latih cara berbicara saat
melakukan kegiatan harian
(2 kegiatan baru)
3. Masukkan pada jadual
kegiatan untuk latihan
berkenalan 4-5 orang,
berbicara saat melakukan 4
kegiatan harian

4
1. Evaluasi kegiatan latihan
berkenalan, bicara saat
melakukan empat kegiatan
harian. Beri pujian
2. Latih cara bicara sosial:
meminta sesuatu, menjawab
pertanyan
3. Masukkan pada jadual
kegiatan untuk latihan
berkenalan >5 orang, orang
baru, berbicara saat melakukan
kegiatan harian dan sosialisasi

5 S.D 12
1. Evaluasi kegiatan latihan
berkenalan, berbicara saat
melakukan kegiatan harian
dan sosialisasi. Beri pujian
2. Latih kegiatan harian
3. Nilai kemampuan yang
telah mandiri
4. Nilai apakah isolasi sosial
teratasi

YTG

1. Evaluasi kegiatan
keluarga dalam
merawat/melatih pasien
berkenalan, berbicara saat
melakukan kegiatan harian.
Beri pujian
2. Jelaskan cara melatih
pasien melakukan kegiatan
sosial seperti berbelanja,
meminta sesuatu dll
3. Latih keluarga mengajak
pasien belanja saat besuk
4. Anjurkan membantu
pasien sesuai jadual dan
berikan pujian saat besuk

1. Evaluasi kegiatan keluarga


dalam merawat/melatih pasien
berkenalan, berbicara saat
melakukan kegiatan harian/RT,
berbelanja. Beri pujian
2. Jelaskan follow up ke
RSJ/PKM, tanda kambuh,
rujukan
3. Anjurkan membantu pasien
sesuai jadual kegiatan dan
memberikan pujian

1. Evaluasi kegiatan
keluarga dalam
merawat/melatih pasien
berkenalan, berbicara saat
melakukan kegiatan
harian/RT, berbelanja &
kegiatan lain dan follow up.
Beri pujian
2. Nilai kemampuan keluarga
merawat pasien
3. Nilai kemampuan keluarga
melakukan kontrol ke
RSJ/PKM

Lampiran 1: SP 1 untuk Pasien

SP 1 pasien :
1. Pengkajian : penyebab isolasi sosial, siapa yang serumah. Siapa yang
dekat dengan klien, siapa yang tidak dekat dengan klien, keuntungan
punya teman dan becakap-cakap, kerugian tidak punya teman dan
tidak bercakap cakap
2. Latih cara berkenalan
Orientasi :
Salam terapeutik
Selamat pagi Ibu, Saya Yulia perawat dari RSMM, Nama Ibu siapa? Senang
dipanggil apa?
Evaluasi validasi
Bagaimana perasaan Ibu Rina hari ini?
Kontrak (topik, tempat dan waktu)
Baiklah, sekarang kita akan diskusi tentang bagaimana hubungan Ibu
dengan orang di sekitar sini. Berapa lama kita mau berdiskusi? Mau di
mana?
Kerja
Dengan siapa Ibu tinggal serumah? Siapa yang paling dekat? Apa yang
menyebabkan ibu dekat dengan orang tersebut? Siapa anggota keluarga
dan teman yang bpk/ibu merasa tidak dekat?. Apa yang membuat Ibu tidak
dekat dengan orang lain?.
Apa saja kegiatan yang biasa Ibu
lakukan saat bersama keluarga?
Bagaimana dengan teman-teman yang lain?
Apakah ada pengalaman yang tidak menyenangkan ketika bergaul dengan
orang lain?
Apa yang menghambat Ibu dalam berteman atau bercakap-cakap dengan
orang lain?
Menurut Ibu apa saja keuntungannya kalau kita mempunyai teman? Wah
benar, ada teman bercakap-cakap. Apa lagi ? (sampai pasien dapat
menyebutkan beberapa) Nah kalau kerugiannya tidak mampunyai teman apa
ya Bu ? Ya, apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Jadi
banyak juga ruginya tidak punya teman ya. Kalau begitu inginkah Ibu belajar
bergaul dengan orang lain ?
Nah untuk memulainya sekarang bapak latihan berkenalan dengan saya
dahulu.. Begini lho Bu, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan
dulu nama kita dan nama panggilan yang kita sukai. Contoh: Nama Saya Bu
Rostanti, senang dipanggil Tanti. Selanjutnya Ibu menanyakan nama orang
yang diajak berkenalan. Contohnya begini: Nama Bapak/Ibu siapa? Senang
dipanggil apa? Ayo Bu dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan Ibu. Coba
berkenalan dengan saya!
Ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali Setelah Ibu berkenalan
dengan orang tersebut Ibu bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang
menyenangkan Ibu bicarakan. Misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

keluarga, pekerjaaan dan sebagainya. Nah, bagaimana kalau sekarang kita


latihan bercakap-cakap dengan pasien lain? (dampingi pasien saat bercakapcakap)
Terminasi
Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan Ibu setelah latihan berkenalan ini?
Evaluasi objektif
Coba Ibu peragakan lagi cara berkenalan dengan orang lain!
Baik bu, dalam satu hari mau berapa kali ibu berlatih bercakap-cakap
dengan orang lain baik itu perawat atau pasien lain? Dua kali? Baiklah jam
berapa ibu akan latihan.
Rencana Tindak lanjut
Ini ada jadwal kegiatan, kita isi jam 11.00 dan 15.00 kegiatan ibu adalah
bercakap-cakap dengan pasien atau perawat. Jika ibu melakukannya sendiri
tanpa diingatkan ibu tulis M (mandiri), jika masih harus diingatkan tulis B
(Bantuan), dan jika ibu tidak melakukan ditulis T (tergantung). Kita mulai dari
besok yah bu...tanggal 2 Oktober 2013.
Kontrak yang akan datang
Besok kita bertemu lagi. Kita akan berbincang-bincang tentang pengalaman
Ibu bercakap-cakap dengan teman-teman baru dan latihan bercakap-cakap
dengan topik tertentu. Waktunya seperti sekarang ini. Tempatnya di sini saja.
Selamat pagi Bu....

Latihan 2 untuk pasien: Melatih Pasien Berinteraksi Secara Bertahap


(Pasien dengan 2 orang lain), latihan bercakap-cakap saat melakukan 2
kegiatan harian.
Orientasi
Salam terapeutik
Selamat pagi Ibu Rina..
Kontrak waktu dan tempat?
Sesuai dengan janji kita minggu lalu, hari ini kita akan berbincangbincang. Berapa lama kita bercakap-cakap? Dimana tempatnya Bu?
Evaluasi
Apakah masih ada perasaan kesepian, bagaiman semangatnya untuk
bercakap-cakap dengan anggota keluarga?
Validasi
Apakah sudah mulai mau berkenalan dengan orang lain?dengan siapa
saja?Bagaimana perasaan setelah mulai berkenalan?
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

Kontrak topik
Baiklah hari ini kita akan latihan bagaimana berkenalan dan bercakapcakap dengan 2 orang lain
Tujuan
Tujuan hari ini adalah melakukan latihan berkenalan dan bercapap-cakap
dengan 2 orang serta latihan bercakap saat melakukan 2 kegiatan harian.
Kerja
Baiklah hari ini saya datang dengan 2 teman saya perawat. Ibu bisa
memulai berkenalan...
Apakah ibu masih ingat bagaimana caranya?..(beri pujian jika pasien
masih ingat, jika pasien lupa, bantu pasien mengingat kembali cara
berkenalan).
Nah.....silahkan ibu mulai....(fasilitasi perkenalan antara pasien dan
kader)....
Wah...bagus sekali, selain nama, alamat, hobby, apakah ada yang ingin
ibu ketahui tentang ibu Wati dan Ani?....(bantu pasien mengembangkan
topik pembicaraan).
Wah bagus sekali.
Nah Bu, apa kegiatan yang biasa ibu lakukan pada jam ini? Tidak ada?
Bagaimana kalau kita menemani anak kiki dikamar?. Sambil
membereskan tempat tidur ibu bisa bercakap-cakap dengan kiki....mari
bu...(dampingi pasien merapikan tempat tidur)....
Apa yang ingin Ibu bincangkan dengan kiki...Oh tentang cara mencuci
seprai... silahkan bu...(jika pasien diam, dapat dibantu perawat)...
Coba ibu tanya apa yang menyebabkan kiki selalu merapikan tempat
tidur? ....Apakah untuk menjaga kerapihan.... silahkan bu, apa lagi yang
ingin ibu bincangkan silahkan
Oke, sekarang bereskan tempat tidur sudah selesai, bagaimana kalau
sekarang ibu bersama kiki sapu lantai......Sambil bercakap-cakap yah bu
(perawat mendampingi, jika percakapan tidak berjalan, perawat bisa
memotivasi keluarga untuk aktif bertanya pada pasien)
Terminasi
Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan Ibu setelah berkenalan dengan perawat dan
bercakap-cakap dengan kiki saat bereskan tempat tidur dan menyapu
bersama?
Evaluasi Objektif
Coba ibu sebutkan kembali bagaimana caranya berkenalan?
Rencana Tindak Lanjut
Bagaimana mana jika ditambahkan lagi di jadwal kegiatan ibu, kegiatan
berkenalan atau bercakap-cakap setiap memasak dan mencuci piring
bersama anak ibu?
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

Kontrak yang akan datang


Mau jam berapa ibu latih? Bagaimana jika hari Rabu, jam 15.00 saya
akan datang lagi untuk mendampingi ibu berkenalan dengan 4 orang lain
dan latihan bercakap-cakap saat melakukan kegiatan harian lain, selamat
pagi Bu

Latihan 3 untuk pasien : Melatih Pasien Berinteraksi Secara


Bertahap (Pasien dengan 4-5 orang ), latihan bercakap-cakap saat
melakukan 2 kegiatan harian baru
Orientasi:
Salam Terapeutik
Selamat pagi Ibu Rina
Kontrak waktu dan tempat
Sesuai janji kita kemarin berapa lama kita diskusi? Tempatnya dimana bu?
Evaluasi
Bagaimana perasaannya hari ini? Apakah masih ada perasaan kesepian?
Validasi
Apakah ibu sudah bersemangat bercakap-cakap dengan orang lain? Apa
kegiatan yang dilakukan sambil bercakap-cakap? Bagaimana dengan
jadwal berkenalan dan bercakap cakapnya, apakah sudah dilakukan?
Bagus.
Kontrak topik
Hari ini saya akan mendampingi ibu berkenalan atau bercakap-cakap
dengan tetangga ibu, serta bercakap-cakap dengan anggota keluarga saat
melakukan kegaiatan harian.
Tujuan
Untuk hari ini kita akan berlatih dengan 4-5 orang dan latihan bercakapcakap saat melakukan 2 kegiatan harian yang baru
Kerja
Baiklah bu, bagaimana kita ke halaman depan, disana ada kegiatan
senam pagi dan ada lebih dari lima orang yang ada disana.
Apakah ibu sudah siap bergabung dengan banyak orang? Nah bu,
sesampainya disana, ibu langsung bersalaman dan memperkenalkan diri
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

seperti yang sudah kita pelajari, ibu bersikap biasa saja dan yakin bahwa
orang-orang disana senang dengan kedatangan ibuBaik bu.kita
berangkat sekarang.(selanjutnya perawat mendampingi pasien di
kegiatan senam, sampai dengan kembali keruangan).
Nah bu, sekarang kita latihan bercakap-cakap dengan teman lain yang
ada diruangan.
Kegiatan apa yang ingin dilakukan? Oh mau mencuci dan menyiram
tanaman..baik dengan siapa ibu ingin didampingi? Teman ibu kiki?
BaiklahKegiatannya mencuci dan menyiram tanaman yah bu (perawat
mengajak kiki untuk menemani pasien merapihkan mencuci piring dan
menyiram tanaman kemudian memotivasi pasien dan kiki bercakapcakap)
Terminasi:
Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan dan bercakap-cakap
dengan ibu-ibu kader? Kalau setielah merapihkan kamar bagaimana? Apa
pengalaman yang menyenangkan berada dalam kelompok? Adakah
manfaatnya kita bergabung dengan orang banyak?
Evaluasi objektif
Coba sebutkan sebutkan 4 orang yang sudah diajak berkenalan
Coba sebutkan topik apa yang dibicarakan saat kegiatan mencuci piring
dan menyiram tanaman
Rencana tindak lanjut
Baiklah bu, selanjutnya ibu bisa terus menambah orang yang ibu kenal.
Jadwal bercakap-cakap setiap pagi saat mencuci piring dan menyiram
tanaman kita cantumkan di jadwal ibu yah.Setiap jam berapa ibu akan
berlatih?
Kontrak yang akan datang
Baiklah kapan kita akan bertemu lagi?dimana? untuk mendampingi ibu
dalam melakukan bincang-bincang saat jajan.
Latihan Sp 4 Mengevaluasi kemampuan berinteraksi. Melatih cara bicara
saat melakukan kegiatan sosial.
Orientasi:
Salam terapeutik
Selamat pagi Bu Rina....
Kontrak waktu dan tempat
Sesuai janji kita kemarin berapa lama kita diskusi? Tempatnya dimana bu?
Evaluasi
Bagaimana perasaannya hari ini? Masih ada perasaan kesepian, rasa
enggan bicara dengan orang lain?
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

Validasi
Bagaimana dengan kegiatan hariannya sudah dilakukan? Dilakukan sambil
bercakap-cakap kan Bu? Sudah berapa orang baru yang ibu kenal?
Dengan tetangga bagaimana? Apakah sudah bercakap-cakap juga.
Bagaimana perasaannya setelah melakukan semua kegiatan? Wah...ibu
memang luar biasa.
Kontrak topik
Baiklah bu, sesuai dengan janji saya minggu lalu, hari ini saya akan
mendampingi ibu dalam berbelanja atau latihan berbicara saat melakukan
kegiatan sosial....berapa lama bu? Tempatnya di warung Bu Siti di depan
jalan yah Bu?
Kerja:
Baiklah apakah ibu sudah mempunyai daftar belanjaan? (sebaiknya sudah
dipersipkan oleh pasien dan temannya). Baik uangnya sudah dibawa bu?
Mari bu kita berangkat
(komunikasi saat di tempat jajanan diruang perawatan berbeda)
Nah bu, caranya pertama-tama ibu ucapkan salam untuk ibu Siti,setelah
itu ibu bertanya pada ibu Siti apakah barang-barang yang ibu perlukan
tersedia di warung bu Siti, jika ada pertanyaan dari ibu Siti ibu jawab
yah....Setelah selesai, minta bu Siti menghitung total harga pembelajaan
ibu, Ibu bayar dan ucapkan terima kasih pada bu Siti...Nah. sekarang
silahkan ibu mulai...(perawat mendampingi pasien)
Terminasi :
Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan ibu setelah bercakap-cakap saat belanja?
Apa pengalaman yang menyenangkan?
Evaluasi Objektif
Coba sebutkan sebutkan 4 orang yang sudah diajak berkenalan
Coba sebutkan topik apa yang dibicarakan saat jajan
Rencana Tindak Lanjut
Baiklah bu, selanjutnya ibu bisa terus menambah orang yang ibu kenal
dan melakukan kegiatan bercakap-cakap saat belanja? belanja setipa kali
ada kebutuhan yang harus ibu beli.
Kontrak yang akan datang
Baik ibu, kita bertemu lagi besok jam 10.00 di tempat ini lagi ya, kita akan
latih kemampuan bicara sosial lainnya. Sampai jumpa.

Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

Sp 1 Keluarga
Orientasi
Assalamualaikum bapak/ibu?
Perkenalkan nama saya perawat T..............saya bertugas merawat anak bapak/ibu.
Nama bapak/ibu siapa? Senangnya dipanggil apa?
Bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini?
Evaluasi
Apa yang bapak/ibu ketahui tentang kondisi yang dialami oleh anak bapak/ibu?
Validasi
Bagaimana bapak/ibu merawat anak bapak/ibu selama di rumah sebelum dibawa ke
rumah sakit?
Kontrak waktu tempat dan tempat
Baiklah bapak/ibu, hari ini kita akan berbincang-bincang tentang kondisi anak
bapak/ibu dan cara perawatannya.
Bagaimana kalau kita diskusi di sini saja? Berapa lama bapak/ibu punya waktu?
Setengah jam ?
Topik
Baiklah bapak/ibu, pada pertemuan hari ini kita akan mendiskusikan tentang kondisi
yang dialami oleh anak bapak/ibu dan cara merawatnya
Tujuan
Tujuannya adalah supaya bapak/ibu memahami masalah yang yang dialami oleh anak
bapak/ibu dan mengetahui cara merawatnya.
Fase Kerja
Baiklah bapak/ibu.....Apa masalah yang bapak/ibu alami dalam merawat anak
bapak/ibu? Apa yang sudah dilakukan selama ini?
Masalah yang dialami oleh anak bapak/ibu disebut isolasi sosial. Isolasi sosial
adalah keadaan dimana seseorang tidak mampu berinteraksi dengan orang
lain
Adapun tanda dan gejala dari isolasi sosial adalah tidak mau bergaul dengan orang
lain, mengurung diri, wajah sering menunduk dan tidak mau menatap lawan
bicara
Proses terjadinya isolasi sosial biasanya karena pernah ada pengalaman yang
mengecewakan saat berhubungan dengan orang lain, misalnya tidak dihargai
atau berpisah dengan orang terdekat.
Adapun cara merawat anak bapak/ibu adalah membina hubungan saling percaya
yaitu dengan menunjukkan sikap sayang dan peduli, selanjutnya jangan
biarkan anak bapak/ibu sendiri.. buatlah rencana harian/jadwal bercakap-cakap
dengan orang lain, libatkan shalat bersama, makan bersama, melakukan
kegiatan secara bersama-sama.
Nah bagaimana apabila kita latihan untuk melakukan cara yang tadi telah kita
bicarakan.
Begini bapa/ibu contohnya.....................
Nah sekarang coba bapak/ibu memeperagakan cara berkomunikasi yang telah saya
contohkan. Bagus sekali bapak/ibu. Bapak/ ibu telah memperagakan dengan
baik.
Terminasi
baiklah ibu waktunya sudah setengah jam. Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah
kita latihan ?
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

Coba bapak/ibu ulangi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial, tanda dan gejala
dari isolasi sosial, proses terjadinya dan bagaimana cara merawatnaya?
bagus sekali, bapak/ibu sudah dapat menyebutkan kembali cara merawat perawatan
anak ibu/bapak.
Bagaimana kalau dua hari lagi kita bertemu kembali untuk berbincang-bincang
tentang kegiatan yang dapat dilakukan dengan melibatkan anak bapak /ibu?

SP 3 untuk keluarga : Melatih cara merawat dengan melatih


berkomunikasi saat melakukan kegiatan sosial
Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi gejala isolasi sosial,
validasi kemampuan keluarga dalam merawat/ melatih pasien berkenalan,
berbicara saat melakukan kegiatan harian dan Rumah tangga.
Menjelaskan cara melatih pasien bercakap-cakap dalam melakukan
kegiatan sosial berbelanja, dan melatih keluarga mendampingi pasien
berbelanja.
Anjurkan keluarga membantu pasien melakukan kegiatan sosial sesuai
jadwal dan berikan pujian.
Orientasi:
Selamat pagi mba Tina? Bagaimana perasaan mba Tina pagi ini? Keadaan
ibu bagaimana mba? Bagaimana dengan latihan mendampingi ibu mba
Tina kenalan dan bercakap-cakap sambil memasak dan mencuci
piringnya? Apakah sudah dipraktekkan? Baiklah mba, sesuai dengan janji
kita minggu lalu, hari ini saya akan mengajarkan mba Tina bagaimana
caranya mengatasi isolasi sosial yang dialami ibu mba Tina melalui
komunikasi saat melakukan kegiatan sosial berbelanja. berapa lama kita
berlatih? Tempatnya dimana mba?
Kerja :
Nah mba Tina, ibu mba Tina kan sudah mulai nyaman berkenalan dengan
orang baru, bercakap-cakap saat melakukan kegiatan harian atau
kegiatan rumah tangga. Nah sekarang saatnya ibu mba Tina memperluas
kemampuan bersosialisasinya dengan lingkungan sekitar, misalnya
bersosialisasi saat menabung di bank, belanja di pasar, atau pergi ke
kantor pos. Untuk hari ini kita akan melatih ibu mba Tina berbelanja ke
warung. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya
sebaiknya ibu mba Tina sudah punya daftar barang yang dibutuhkan
beserta berapa banyak barang tersebut dibutuhkan. Saat berbelanja ibu
bu Tina harus memiliki kemampuan meminta sesuatu, dan menjawab
pertanyaan pemiliki warung. Nah, bagaimana mba Tina? Bisa kita latih
ibu mba Tina sekarang (perawat dan keluarga menemui pasien dan
bersama-sama berlatih berbelanja ke warung)
Terminasi:
Bagaimana perasaan mba Tina setelah melatih ibu mba Tina berbelanja?
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

Bisa mba Tina sebutkan kembali apa saja yang haris diperhatikan dalam
melatih ibu mba Tina berkomunikasi dalam kegiatan sosial? Baik mba
Tina, setelah ini bu tina terus damping ibu mba Tina dalam melaksanakan
kegiatan berbelanja, dan tetap bantu ibu mba Tina berkenalan dengan
orang baru atau bercakap-cakap dengan orang yang sudah dikenal.
Minggu depan saya akan datang lagi, saya akan memberikan penjelasan
perawatan terhadap bu Tina setelah perawat tidak lagi mengunjungi ibu
mba Tina ke rumah. Selamat pagi mba Tina.
Sp Untuk Keluarga: Melatih Keluarga Memanfaatkan Fasilitas
Kesehatan Untuk follow up Pasien Isolasi sosial.
Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi gejala isolasi sosial dan
validasi kemampuan keluarga dalam merawat/melatih pasien. Berikan
pujian atas upaya yang telah dilakukan keluarga, Jelaskan follow up ke
PKM, tanda kambuh, rujukan dan anjurkan keluarga membantu pasien
melakukan kegiatan sesuai jadwal dan memberikan pujian.
Orientasi :
Salam Terapeutik
Orientasi
Selamat pagi Mba Tina..., .
Kontrak waktu dan tempat?
Sesuai dengan janji kita minggu lalu, hari ini kita akan berbincangbincang. Berapa lama kita bercakap-cakap? Dimana tempatnya Bu?
Baiklah 45 menit yah, tempatnya mau dimana?
Evaluasi
bagaimana perasaannya hari ini ?
Validasi
Mba, masih ingat yang kita bicarakan tentang tentang pertemuan yang
lalu? benar sekali bagaimana membantu ibu mba Tina berkenalan,
bercakap-cakap saat melakukan aktivitas harian dan bercakap-cakap saat
melakukan kegiatan sosial. Apa yang sudah ibu lakukan? Bagus sekali
Kontrak topik
BuMasih ingat apa yang akan dibicarakan pada hari ini bu? Iya
benar.tindak lanjut ke puskesmas, tanda kekambuhan. berapa lama kita
bicara bu?
Kerja:
Mba Tina, saat ini Ibu Mba Tina sudah mampu untuk berkenalan dengan
orang lain, bercakap-cakap dengan keluarga saat melakukan kegiatan
harian, dan melakukan kegiatan sosial. Untuk selanjutnya mba Tina harap
bisa mendampingi ibu Mba Tina berobat ke poliklinik RSJ sebulan sekali.
Nah, mba Tina juga perlu memahami tanda kekambuhan pada ibu mba
Tina seperti Rina tidak mau berinteraksi,enggan melakukan kegiatan
Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

harian, dan kegiatan sosial, atau kalau intensitas berkomunikasi mulai


menurun. Jika ini terjadi maka ibu harus segera membawa ibu mba Tina
ke RSJ walaupun belum jadwal kontrol. Jika kondisi ibu mba Tina lebih
menurun seperti sikap mematung, kontak mata tidak ada sama sekali,
dan tidak bisa diatasi di tingkat puskesmas, maka Ibu Bu Tina akan kami
rujuk ke Rumah Sakit Jiwa.
Terminasi:
Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan mba Tina setelah kita diskusi?
Evaluasi obyektif
Bisa mba Tina sebutkan lagi apa tanda-tanda kekambuhan? Apa yang
harus mba Tina lakukan jika ibu mba Tina mengalami kekambuhan?
Rencana Tindak Lanjut
Nah Mba Tina juga jangan lupa ibu terus memotivasi dan mendampingi
Ibu Mba Tina untuk berkenalan, dan bercakap-cakap saat melakukan
kegiatan harian dan kegiatan sosial, dan ingat untuk tetap berobat ke
poliklinik dan segera bawa Ibu mba Tina ke poliklinik bila ada tanda
tanda kekambuhan. Selamat pagi Mba Tina

Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

EVALUASI TANDA DAN GEJALA, KEMAMPUAN KLIEN DAN KELUARGA


DENGAN DIAGNOSA ISOLASI SOSIAL
Nama Pasien
:
Nama perawat
:
Ruang
NO
ASPEK PENILAIAN
TGL. EVALUASI
I
TANDA DAN GEJALA
Tidak
1. ada kontak mata
Berdiam
2.
diri di kamar
Tidak
3. melakukan kegiatan sehari-hari
Tampak
4. murung, afek tumpul
Menolak
5.
berhubungan dengan orang lain
Menarik
6.
diri
Merasa
7. sedih
Sulit
8. berinteraksi dengan orang lain dan tidak berkomunikasi
Tidak mempunyai teman akrab
II
KEMAMPUAN PASIEN
1.
Mampu mengenal isolasi sosial; pengertian, tanda
dan gejala
2.
Mampu menyebutkan keuntungan punya teman dan
bercakap-cakap
3.
Mampu menyebutkan kerugian tidak punya teman
dan tidak bercakap-cakap
4.
Mampu berkenalan dengan pasien dan perawat atau
tamu
5.
Mampu berlatih cara berbicara saat melakukan
kegiatan harian
6.
Mampu berlatih cara melakukan kegiatan sosial
seperti berbelanja, meminta sesuatu, menjawab
pertanyaan
III
KEMAMPUAN KELUARGA
1.
Mampu mengenal masalah yang dirasakan keluarga
dalam merawat pasien dan cara yang dilakukan untuk
mengatasi masalah
2.
Mampu mengenal masalah isolasi sosial; pengertian,
tanda, gejala dan akibat
3.
Mampu menyebutkan cara merawat pasien dengan
isolasi sosial
4.
Mampu membimbing pasien cara berkenalan
5.
Mampu melatih dan membimbing pasien berbicara
dan memberi pujian
6.
Mampu melatih pasien melakukan kegiatan sosial
seperti berbelanja, meminta sesuatu dll
7.
Memodifikasi lingkungan yang sesuai bagi pasien
dengan isolasi sosial
8.
Mampu melakukan follow up pasien dengan isolasi
sosial
9.
Mengenal tanda gejala yang memerlukan rujukan
serta melakukan rujukan
, .......................................20
Evaluator

(...................................)

Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

EVALUASI KEMAMPUAN MERAWAT KLIEN


DENGAN DIAGNOSA ISOLASI SOSIAL
Nama Perawat
Nama pasien

:
:

Ruang

NO

DAFTAR KEMAMPUAN

I
A.
1
2

SP PASIEN
SP I
Mengkaji keluhan utama pasien dengan isolasi sosial
Mengkaji dan mendiskusikan isolasi sosial: siapa yang serumah, siapa
yang dekat, yang tidak dekat, dan apa sebabnya
Mendiskusikan keuntungan punya teman dan bercakap-cakap
Mendiskusikan kerugian tidak punya teman dan tidak bercakap-cakap
Melatih cara berkenalan dengan pasien dan perawat atau tamu
Mengevaluasi manfaat latihan pada klien
Menyusun jadual latihan bagi klien
Menyepakati latihan berikutnya
Melakukan dokumentasi dengan benar meliputi data, diagnosa
keperawatan, tindakan, RTL dan SOAP
SP II
Mengevaluasi data isolasi sosial
Memvalidasi kegiatan berkenalan
Melatih cara berbicara saat melakukan kegiatan harian (latih 2
kegiatan)
Mengevaluasi manfaat latihan pada klien
Menyusun jadual latihan bagi klien
Menyepakati latihan berikutnya
Melakukan dokumentasi dengan benar meliputi data, diagnosa
keperawatan, tindakan, RTL dan SOAP
SP III
Mengevaluasi data isolasi sosial
Memvalidasi kegiatan berkenalan
Melatih klien berinteraksi dengan 4-5 orang
Melatih cara berbicara saat melakukan kegiatan harian (latih 2 kegiatan
yang baru)
Mengevaluasi manfaat latihan pada klien
Menyusun jadual latihan bagi klien
Menyepakati latihan berikutnya
Melakukan dokumentasi dengan benar meliputi data, diagnosa
keperawatan, tindakan, RTL dan SOAP
SP IV
Melakukan evaluasi data isolasi sosial
Memvalidasi kegiatan latihan berkenalan, bicara saat melakukan empat
kegiatan harian. Memberikan pujian
Melatih cara bicara pada kegiatan sosial seperti saat berbelanja,
meminta sesuatu, menjawab pertanyan
Mengevaluasi manfaat latihan
Menyusun jadual latihan berkenalan
Menyepakati latihan berikutnya
Melakukan dokumentasi dengan benar meliputi data, diagnosa
keperawatan, tindakan, RTL dan SOAP
SP KELUARGA
SP I
Mengkaji masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien isos
dan cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah
Menjelaskan pengertian, tanda, gejala, dan akibat isolasi sosial
Menjelaskan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
Melatih keluarga membimbing pasien cara berkenalan

3
4
5
6.
7.
8.
9.
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
D.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
II
A.
1.
2.
3.
4.

Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

TGL EVALUASI

NO

DAFTAR KEMAMPUAN

5.

Meminta keluarga mempraktekkan cara membimbing pasien


berkenalan
Mengevaluasi manfaat latihan pada keluarga
Mengevaluasi kemampuan keluarga membimbing pasien latihan
berkenalan
Menyepakati latihan berikutnya
Melakukan dokumentasi dengan benar meliputi data, diagnosa
keperawatan, tindakan, RTL dan SOAP
SP II
Melakukan evaluasi terhadap masalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat pasien isos
Melakukan validasi kemampuan keluarga dalam melatih pasien
berkenalan.
Menjelaskan kepada keluarga kegiatan rumah tangga yang dapat
melibatkan pasien berbicara (makan, sholat bersama) di rumah
Melatih keluarga cara membimbing pasien berbicara
Meminta keluarga mempraktekkan cara membimbing pasien berbicara
dalam kegiatan harian
Menganjurkan membantu pasien sesuai jadual saat besuk
Mengevaluasi manfaat latihan bagi keluarga
Menyepakati latihan berikutnya
Melakukan dokumentasi dengan benar meliputi data, diagnosa
keperawatan, tindakan, RTL dan SOAP
SP III
Melakukan evaluasi terhadap masalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat pasien isos
Melakukan validasi kemampuan keluarga dalam merawat/melatih
pasien berkenalan dan berbicara saat melakukan kegiatan harian.
Menjelaskan pada keluarga cara melatih pasien melakukan kegiatan
sosial seperti berbelanja, meminta sesuatu dll
Membimbing keluarga melatih pasien kegiatan social seperti belanja
Menganjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberikan pujian
saat besuk
Mengevaluasi manfaat latihan bagi keluarga
Menyepakati latihan berikutnya
Melakukan dokumentasi dengan benar meliputi data, diagnosa
keperawatan, tindakan, RTL dan SOAP
SP IV
Melakukan evaluasi terhadap masalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat pasien isos
Melakukan validasi kemampuan keluarga dalam membimbing pasien
berkenalan
Melakukan validasi kemampuan keluarga dalam melatih pasien
berbicara saat melakukan kegiatan harian
Melakukan validasi kemampuan keluarga dalam membimbing pasien
melakukan kegiatan sosial seperti berbelanja.
Menganjurkan keluarga membantu pasien sesuai jadual kegiatan dan
memberikan pujian
Menjelaskan kepada keluarga untuk memodifikasi lingkungan yang
sesuai bagi pasien isolasi sosial
Mendiskusikan cara perawatan dirumah dan follow up ke fasilitas
pelayanan kesehatan secara teratur
Menjelaskan tanda dan gejala kekambuhan yang memerlukan rujukan
dan cara merujuk pasien
Mengevaluasi manfaat
Melakukan dokumentasi dengan benar meliputi data, diagnosa
keperawatan, tindakan, RTL dan SOAP

6.
7.
8.
9.
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
D.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

TGL EVALUASI

.......................................20
Evaluator

Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014

(.........................................)

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito-Moyet. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Carpenito, L. J.C (2004). Hanndbook of nursing diagnosis ed.10. USA:
Lippincott Williams & Wilkins
Keliat, B. A & Akemat. (2007). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.
Jakarta: EGC
Kim,

M.J. Mc Farland, G.K, dan McLane, A.M. (2006). Diagnosa


Keperawatan. Edisi 7. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Stuart & Sundeen. (1991). Principles and practice of psychiatric nursing.


Mosby Year Book: Missouri
Stuart, Gail W. (2009). Principles & Practice of Psychiatric Nursing ed.8.
Philadelphia: Elsevier Mosby
Townsend, Mary C. (2008). Essentials of psychiatric mental health nursing
ed.8. F. A. Davis Company: Philadelphia
Townsent, M.C. (2010). Buku saku Diagnosis Keperawatan Psikiatri
Rencana Asuhan & Medikasi Psikotropik. Edisi 5. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC

Pelatihan askep jiwa.rsjsolo.2014