Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem pengetahuan tentang sakit dan cara pengobatannya pada setiap
masyarakat berbeda-beda, tergantung dari pengalaman dan apa yang mereka
yakini selama ini. Masyarakat mengenal sistem pengobatan ada dua yaitu secara
medis dan non medis. Pengobatan secara medis atau disebut dengan pengobatan
dunia barat adalah pengembangan dari model Cartesian yang bersifat dualisme,
yaitu manusia sebagai makhluk yang terdiri atas mind/body, spirit/matter and
real/unreal, yang dalam perkembangannya, pendekatan biomedis didasarkan
kepada hasil penelitian dan data-data empiris. Sedangkan pengobatan non medis
merajuk pada pengobatan non barat, yang banyak digunakan oleh komunitas atau
masyarakat tertentu dalam menjelaskan datangnya penyakit yang disebabkan oleh
suatu

agen

yang

bukan

berasal

dari

makhluk

manusia

dan

adanya

ketidakseimbangan hidup dengan lingkungan alamiahnya (Sudarma dalam


Suryaningsi 2015). Secara medis, masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan
lewat ilmu kedokteran, bersifat kimiawi, dan teknologi modern, sedangkan secara
non medis, masyarakat lebih mengarah kepada pengobatan lewat jalur yang lebih
sederhana, natural, menggunakan ramuan dari alam dan bebas bahan kimiawi.
Dalam era globalisasi saat ini, sistem pengobatan secara tradisional masih
tetap berfungsi dalam kehidupan masyarakat Indonesia meskipun sistem
pengobatan secara modern telah dikenal luas bahkan diterapkan baik di wilayah
perkotaan maupun di wilayah pedesaan. Pengobatan tradisional yang dimaksud
berupa upaya penyembuhan terhadap penyakit yang dilakukan secara tradisional
karena berasal dari nenek moyang atau berdasarkan kepercayaan turun-temurun
dengan menggunakan bahan - bahan dari alam maupun melalui jasa seseorang
yang dipercaya memiliki kekuatan tertentu untuk mengobati orang sakit. Pada
banyak masyarakat, tokoh pengobatan tradisional biasa disebut dukun (Liliweri
dalam Suryaningsi 2015). Peranan dukun pada masyarakat yang masih percaya
pada jasanya sangat membantu dalam mengatasi masalah bukan saja hanya dalam
hal lahiriah tetapi juga yang bersifat batiniah.
Walaupun pengetahuan yang diperoleh oleh dukun tidak melalui jalur
pendidikan tetapi kemampuan yang dimilikinya untuk mengobati orang sakit

dipercaya oleh masyarakat mampu menyamai profesi dokter bahkan melebihi


kemampuan medis.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1.2.1 Apa itu shaman, dukun sihir dan penyembuh-penyembuh lain?
1.2.2 Bagaimana sifat universal dalam peranan penyembuhan shaman, dukun
1.2.3

sihir dan penyembuh-penyembuh lain?


Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi orang untuk berobat ke
shaman, dukun sihir, dan penyembuhpenyembuh lain?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini, antara lain :
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari shaman, dukun sihir, dan penyembuh1.3.2

penyembuh lain.
Untuk mengetahui sifat universal dalam peranan penyembuhan shaman,

1.3.3

dukun sihir dan penyembuh-penyembuh lain.


Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi untuk berobat ke
shaman, dukun sihir, dan penyembuhpenyembuh lain.

1.4 Metode Penulisan


Metode yang digunakan dalam menulis makalah ini yaitu kajian pustaka.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Shaman, Dukun Sihir dan Penyembuh-Penyembuh Lain
2.1.1 Shaman dan Dukun Sihir
The shaman is an intermediary between people and the
spirit world, having guardian spirits and helperspirits.
Helper-spirits often assume the similitude of wild animals
(tiger, bear), birds (eagle, owl), and fishes. Guardian spirits
2

are usually spirits of dead ancestors of a shaman


(Gaidysheva dan Parnyakov 2014) dapat diartikan sebagai
berikut Dukun adalah perantara antara orang-orang dan dunia roh, yaitu
roh penjaga dan roh penolong. Roh penolong sering diumpamakan dengan
hewan liar (harimau, beruang), burung (elang, burung hantu), dan ikan.
Roh wali adalah roh nenek moyang yang sudah meninggal.
Shaman kerap kali menggunakan trans sebagai cara mencapai puncak
alam energi. Shaman disebut juga sebagai dukun obat (medicine man atau
witch doctor). Masyarakat menganggap bahwa penyakit disebabkan oleh
kehadiran roh-roh jahat, shaman berkomunikasi dengan dunia roh. Dalam
keadaan tidak sadar atau kesurupan, ia memerintahkan roh-roh tersebut
supaya meninggalkan tubuh pasien. Pada suka Indian Amerika Utara, ada
shaman seperti medicine man memiliki pengetahuan khusus mengenai
tumbuhan obat dan mineral. Ada juga yang kerjanya hanya mempengaruhi
cuaca serta memikat binatang buruan. Dalam penelitian, pemunculan
shaman, tarian, mantra dan semua yang diperbuat dalam upacara sangat
mempengaruhi pikiran hingga menimbulkan pengaruh jasmaniah pada
tubuh dan membantu penyembuhan (Parker 2000).
Pada shaman dan dukun lainnya, mengunakan benda untuk mengetahui
penyebab penyakit melalui tanda-tanda yang misterius. Cara ini disebut
divination (meramal dengan membaca tanda-tanda). Mangkuk suku
Yoruba, di Nigeria dihubungkan dengan pemujaan Ifa dan dipakai untuk
menyimpan biji-biji kelapa sawit yang digunakan dalam divination.
Peramal menaburkan debu ke atas sebuah papan khusus dan tiap-tiap
tangan menggengam delapan butir biji kelapa sawit, dikatupkannya kedua
tangannya, sambil memindahkan biji kelapa sawit sebanyak mungkin dari
tangan kiri ke tangan kanan, dan membuat tanda-tanda diatas papan
tersebut. Setelah diatas papan terdapat delapan tanda, barulah ia dapat
menafsirkannya.
2.1.2

Penyembuh-Penyembuh Lain
A belief in psychic healing has been present in early and modern
times and in Western and non-Western cultures. Psychic healing refers to
the beneficial influence of a person on another living thing by mechanisms

which are beyond those recognized by conventional medicine. These


mechanisms may include focused wishes, meditation, prayers, ritual
practices, and the laying- on-of-hands (Benor dalam Weiss dan
Lonnquist 2014). Psychic healers use one of four approaches:
1. Activating innate recuperative forces within the patient;
2. Transferring her or his own healing energy to the patient;
3. Serving as a conduit through which universally available cosmic
energy is transferred to the patient; or
4. Serving as a conduit through which the healing powers of spirits or
God are transferred to the patient. The final channel is also referred to
as spiritual healing or faith healing (Benor dalam Weiss dan
Lonnquist 2014).
Spiritual healers do not claim any personal ability to heal but rather
an ability to convey the power of some transcendent being to the sick.
Spiritual healers may or may not be affiliated with a particular church and
may or may not be full-time healers (Benor dalam Weiss dan Lonnquist)
dapat diartikan sebagai Sebuah keyakinan "penyembuhan psikis" telah
hadir di zaman awal dan modern di Barat dan budaya non-Barat.
Penyembuhan psikis mengacu pada pengaruh yang menguntungkan yang
berada di luar pengobatan konvensional yang diakui. Penyembuhan ini
termasuk meditasi, doa, praktek ritual. Penyembuh psikis menggunakan
salah satu dari empat pendekatan :
a. Mengaktifkan kekuatan penyembuhan bawaan dalam pasien;
b. Memindahkan energi penyembuhannya sendiri kepada pasien;
c. Melayani sebagai media penghubung energi alam semesta yang
ditransfer ke pasien, dan
d. Melayani sebagai penghubung dimana penyembuhan kekuatan roh
atau Tuhan dipindahkan ke pasien.
Penghubung akhir juga disebut sebagai penyembuhan spiritual atau
"penyembuhan iman" (Benor dalam Weiss dan Lonnquist 2014).
Penyembuh

spiritual

tidak

menuntut

kemampuan

pribadi

untuk

menyembuhkan melainkan kemampuan untuk menyalurkan kekuatan


istimewa kepada orang sakit. Mereka yang terlibat dalam proses
penyembuhan biasanya berpendapat bahwa Tuhan telah campur tangan

dan dengan cara yang ajaib. Penyakit dan rasa sakit sebenarnya adalah
sesuatu yang tidak nyata, tetapi hanya ilusi pikiran; karena orang adalah
refleksi dari Tuhan, dan Tuhan tidak bisa sakit, orang pun tidak bisa sakit.
Seseorang merasa sakit hanya bila kondisi spiritual yang mendasari
dirusak. Hal ini menyebabkan terganggunya pikiran dan penyakit pun
hadir Satu-satunya teknik penyembuhan yang tepat adalah doa dan
penemuan kembali spiritual. Melalui doa, pemahaman yang lebih
mendalam dari spiritualitas seseorang sendiri tercapai. Para ilmuwan
Kristen percaya bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menyembuhkan
diri sendiri.
2.2 Sifat Universal dalam Peranan Penyembuhan
Menurut Foster 1986, sifat universal dalam peran penyembuhan sebagai beriku :
1. Spesialisasi
Dalam berbagai masyarakat tradisional, tingkatan spesialisasi kurang nampak,
sedangkan masyarakat yang benar-benar miskin tidak mengenal perbedaan
dalam peranan pengobatan. Pada berbagai masyarakat lain, dikotomi dasar
adalah antara para shaman atau dukun sihir (witch doctor) yang sangat
terlatih, terutama para penyembuh yang memperoleh keahliannya secara
supranatural dan ahli ramuan yang arif mengenai sifat-sifat alam, tetapi
kurang professional dalam statusnya dan tingkah lakunya.
2. Seleksi dan pendidikan
Dalam setiap masyarakat, hanya beberapa orang saja yang memiliki atau
dianggap

mempunyai

keahlian

yang

diperlukan

untuk

mengobati.

Keterampilan ini (atau lebih tepat, kekuatan) harus dicari, dan cara-cara untuk
memperolehnya sangat berbeda pada masyarakat yang satu dengan yang
lainnya. Proses seseorang untuk menjadi dukun tidak perlu mengikuti sekolah
formal. Pada awalnya mulai dengan bekerja sebagai pembantu seorang dukun,
yang biasanya adalah orang tua mereka sendiri.
3. Pemberian sertifikat
Seringkali walaupun tidak selalu, para calon penyembuh pada masyarakatmasyarakat non-barat di berikan sertifikat secara ritual oleh para shaman
senior setelah mereka menyelesaikan masa penndidikan mereka.
4. Citra profesional
Dalam semua masyarakat, penyembuh mempunyai perasaan yang kuat
terhadap citra profesionalnya, tentang peranan mereka, dan tentang tempat
mereka dalam masyarakat. Melalui tingkah laku dan pakaian dan
5

perlengkapan-perlengkapan lainnya mereka biasanya menambah keprofesional


mereka.
5. Harapan akan pembayaran
Kepercayaan amat luas tersebar dikalangan mereka yang lebih cenderung
memilih sistem-sistem pengobatan alternatif daripada pengobatan kedokteran
yang mapan bahwa penyembuhan-penyembuhan non-Barat sedikit sekali
berminat terhadap uang. Dalam semua masyarakat, para penyembuh menerima
kompensasi dalam bentuk-bentuk tertentu, masyarakat petani dan masyarakat
rumpun umumnya terlalu realistis untuk mengharap bahwa para penyembuh
itu melakukan sesuatu semata-mata hanya untuk kepentingan handai tolan
mereka. Jenis-jenis dan jumlah pembayaran tentunya berbeda banyak
tergantung dari faktor waktu dan faktor biaya penddikan profesional, kekuatan
yang berasal dari anugerah seorang dewasa dan bagaimana pasarannya.
6. Kepercayaan terhadap kekuatan
Dalam tiap masyarakat, prestasi yang besar diberikan kepada para penyembuh
yang mempunyai kemampuan yang terkenal, praktek pengobatan hampir
senantiasa di kaitkan dengan status yang tinggi (walaupun secara historis
praktek bedah tidak termasuk). Juga dalam tiap masyarakat, sebagian besar
dari para penyembuh percaya akan kekuatan mereka sendiri.
7. Sikap publik
Dalam banyak masyarakat non-Barat alasan bahwa para shaman dan dukun
sihir ditakuti adalah karena peranan tukang sihir yang jahat dan penyembuh
yang ethis tidak dibedakan.
2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Orang Berobat ke Shaman
Menurut Hakim, dkk (2013) terdapat empat faktor yang mempengaruhi yaitu:
1. Faktor Sosial Budaya
Kepercayaan dimiliki orang tertentu apa lagi terhadap kesehatan
sangat dipengaruhi budayanya. Kesehatan dari pendapat mistik terdiri
atas sifat jasmani dan sifat yang selain jasmani, yaitu rohani. Masyarakat
masih terpengaruh dari budaya leluhur yang bertahan di tengah-tengah
masyarakat kita sebagai suatu kearifan lokal yang tidak bisa hilang
seluruhnya.
2. Faktor Ekonomi
Kebanyakan dari masyarakat yang yang melakukan pengobatan
adalah dari kalangan ekonomi menengah kebawah karena selain murah
juga mudah sehingga pengobatan alternatif seperti ini jadi pilihan yang
normal karena keterbatasan biaya dan akses untuk pergi ke dokter. Alasan
6

biaya sebagai alasan yang paling mendasar dalam pemilihan pengobatan


melalui dukun. Pengobatan murah, sering dikatakan sebagai alasan yang
utama dalam memilih untuk berobat ke dukun. Berbicara pengobatan
alternatif memang banyak medianya, seperti pengobatan alternatif melelui
dukun dengan jompa-jampi.
3. Faktor Agama
Orang berpersepsi bahwa musibah dan penyakit disebabkan oleh
Tuhan. Karena pada prinsipnya Tuhan yang memberikan penyakit dan
juga penawarnya (obat) sebagai ujian kepada manusia.
4. Faktor Pendidikan
Pendidikan berperan dalam perilaku masyarakat dalam menentukan
tindakan yang akan dilakukan masyarakat memahami arti kesehatan
dirinya dan lingkungannya. Pemaknaan kesehatan bagi masyarakat tentu
tidak lepas dari pendidikan yang mereka terima, baik yang diterima lewat
sekolah, lewat institusi kesehatan (dinas kesehatan, puskesmas) maupun
lewat lembaga keagamaan.

BAB III
PENUTUP
.1 Simpulan
Dukun adalah perantara antara orang-orang dan dunia roh, yaitu roh penjaga
dan roh penolong. Roh penolong sering diumpamakan dengan hewan liar
(harimau, beruang), burung (elang, burung hantu), dan ikan. Roh wali adalah roh
nenek moyang yang sudah meninggal. Seseorang yang menjadi dukun pada
umumnya adalah orang dewasa yang sudah setengah tua. Penyembuh lainnya
dapat berupa penyembuhan psikis. Penyembuhan psikis mengacu pada pengaruh
yang menguntungkan yang berada di luar pengobatan konvensional yang diakui.
Penyembuhan ini termasuk meditasi, doa, praktek ritual.
Sifat universal ini berkaitan dengan sifat yang dimiliki shaman dan dukun
dalam proses penyembuhan, dapat berupa: spesialisasi, seleksi dan pendidikan,
pemberian sertifikat, citra profesional, harapan akan pembayaran, kepercayaan
terhadap kekuatan dan sikap publik.
Pada umumnya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi orang berobat
ke Shaman, yaitu faktor Sosial budaya, faktor ekonomi, faktor agama, dan
pendidikan.
.2 Saran
Mahasiswa hendaknya mampu membuka wawasan terkait shaman dan dukun
dengan mendalami materi yang ada agar dapat mengetahui dampak dari eksistensi
shaman dukun dalama masyarakat. masyarakat hendaknya juga memilah sarana
pengobatan yang dipilih (sebaiknya yang berorientasi pada kesehatan pasien)
dengan baik. selain itu, pemerintah hendaknya mengontrol alternatif pengobatan
non-medis yang beredar dimasyarakat agar tidak menimbulkan kerugian .

Anda mungkin juga menyukai