Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN LAB.

SISTEM KOMUNIKASI RADIO

Paket : A
Sistem Radio Link Microwave ALCATEL 9400UX

Kelompok 2/ 3A2
Ketua/Anggota:
1. Rahayu Rahmatunisa (Anggota)
2. Rizki Maulana M.I (Anggota)
3. Rustam Azis Sopandi (Ketua)

PROGRAM STUDI TELEKOMUNIKASI

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


10 Mei 2016

BAB I
PENDAHULUAN
3.1 Latar Belakang
Sistem telekomunikasi berbasis wireless menjadi salah satu jenis telekomunikasi yang
sering digunakan, hal ini dikarenakan sistem telekomunikasi berbasis wireless memiliki
kelebihan-kelebihan yang cocok dengan kondisi dilapangan. Sering kali pada sistem
telekomunikasi berbasis wireless terdapat sebuah kanal backbone (tulang punggung/utama).
Kanal backbone merupakan kanal yang digunakan untuk menghubungkan antar stasiun
(node) pada suatu sistem telekomunikasi berbasis wireless.
Pada percobaan ini, terdapat sistem telekomunikasi berbasis wireless yang
menggunakan perangkat Digital Microwave Radio ALCATEL 9400 UX sebagai sarana untuk
membangun kanal backbone. Sistem komunikasi Digital Microwave Radio ini bekerja pada
pita frekuensi 13 Ghz dengan kapasitas transmisi terpasang 16 x 2Mbit/s atau 1 x 34 Mbit/s.
Sistem ini mendukung teknologi PDH atau PCM TDM standar ITU G.703.
Dibutuhkan pengetahuan tentang digital microwave radio link agar dapat membangun
suatu infrastruktur jaringan telekomunikasi yang handal, khususnya dalam membangun suatu
kanal backbone yang merupakan faktor penting pada suatu sistem telekomunikasi berbasis
wireless. Oleh sebab itu, pada percobaan ini akan dilakukan pengenalan pada perangkat
digital microwave radio link ALCATEL 9400 UX mulai dari bagaimana sistem radio link itu
terbentuk, hubungan-hubungan antara perangkat yang digunakan serta bagaimana melakukan
pengujian kualitas performance dari sistem telekomunikasi berbasis wireless ini dengan cara
melakukan BER (Bit Error Rate).
Pada prakteknya, perancangan radio link microwave digital ini dilakukan untuk
membangun koneksi antara 2 buah stasiun yaitu stasiun A (POLBAN A) dan stasiun B
(POLBAN B) sehingga kedua stasiun dapat saling berkomunikasi. Setelah proses transmisi
data dari stasiun A ke stasiun B terbangun dan berhasil dilakukan, kemudian dilakukan BERT
(Bit Error Rate Test) untuk mengetahui performance G.821 Tributary 2 Mbit/s digital radio
link microwave.

3.2 Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

A. Pengenalan Terhadap Perangkat Radio Link Microwave Digital ALCATEL 9400 UX


serta Instalasi dan Pengkabelan Perangkat Radio Link Microwave Digital ALCATEL
9400 UX
1. Pengenalan terhadap perangkat radio link microwave digital Alcatel 9400 UX
dengan bantuan software NECTAS.
2. Mengamati cara instalasi dan pengkabelan radio link microwave digital yang
direpresentasikan dengan membuat wiring diagram.
B. Pengujian BER dan Error Performance G.821 Tributary 2MBit/s Radio Link
Microwave Digital ALCATEL 9400 UX
1. Pengujian BER dan error performance G.821 Tributary 2Mbit/s

radio link

microwave digital.
C. Perancangan sistem Radio Link Microwave Digitalserta konfigurasi dan Setting
Parameter pada Perangkat Radio Link Microwave Digital ALCATEL 9400 UX
1. Perancangan sistem radio link microwave digital.
2. Konfigurasi dan setting parameter perangkat radio link microwave digital sesuai
dengan hasil perancangan.
3.3 Luaran yang dihasilkan
Adapun luaran yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
1. Pemahaman tentang perangkat ALCATEL 9400 UX yang direpresentasikan dengan
memberikan penjelasan berupa screenshoot hasil pengamatan pada software NECTAS
serta wiring diagram sistem.
2. Setiap kanal terhubung dengan baik yang ditandai dengan warna hijau setiap kanal
pada software NECTAS serta hasil pengujian BERT dan Performance G.821 Tributary
2 Mbit/s Radio Link Microwave menunjukan indikator berjalan dengan baik pada alat
data tester ACTERNA EDT-135.
3. Stasiun A (POLBAN A) dapat berkomunikasi dengan stasiun B (POLBAN B) setelah
dilakukan konfigurasi berdasarkan hasil perancangan yang telah dibuat.

BAB II
LINGKUP PEKERJAAN

A. Pengenalan Terhadap Perangkat Radio Link Microwave Digital ALCATEL 9400 UX


serta Instalasi dan Pengkabelan Perangkat Radio Link Microwave Digital ALCATEL
9400 UX
1. Mengakses perangkat Alcatel 9400 UX dengan menjalan software NECTAS pada
PC yang terhubung dengan perangkat
2. Mengexplore dan memahami fitur-fitur menu yang dapat digunakan pada software
NECTAS sebagai sarana monitor dan konfigurasi perangkat Alcatel 9400 UX
3. Memahami parameter-parameter yang digunakan pada software NECTAS
4. Membuat gambar diagram wiring dari semua perangkat pada sistem keseluruhan
B. Pengujian BER dan Error Performance G.821 Tributary 2MBit/s Radio Link
Microwave Digital ALCATEL 9400 UX
Melakukan pengukuran pada tributary 5-8
1. Melakukan pengujian BER dan pengujian terhadap Error Performance Tributary
G.821
2. Menggunakan alat data tester ACTERNA EDT-135. Alat ini dihubungkan dengan
tributary 2Mbit/s yang terdapat pada perangkat IDU. Saat pemasangannya,
tributary bagianTX dan RX pada receiver di loop
Keterangan : pengukuran dilakukan pada tributary 5-8
C. Perancangan sistem Radio Link Microwave Digitalserta konfigurasi dan Setting
Parameter pada Perangkat Radio Link Microwave Digital ALCATEL 9400 UX
1. Merancang spesfiksi parameter dari sistem Radio Link Microwave Digital dengan
mengacu pada manual book ALCATEL 9400 UX
2. Melakukan konfigurasi dan setting parameter pada perangkat Radio Link
Microwave Digital ALCATEL 9400 UX sesuai dengan hasil perancangan

BAB III
TEORI PENDUKUNG
3.1 Transmisi Microwave
Sistem transmisi microwave adalah suatu sistem transmisi dengan menggunakan
gelombang radio di atas frekuensi 1 GHz. Suatu sistem transmisi microwave dapat berupa
sebuah hop dengan jarak maksimum 50 km atau sebuah backbone yang berupa multiple hop,

dengan jarak sampai ratusan atau ribuan kilometer. Secara garis besar, tujuan dari sistem
komunikasi radio adalah untuk mentransmisikan informasi dari satu tempat ke tempat lain
tanpa gangguan. Untuk mendapatkan hasil yang baik,diperlukan suatu kondisi dimana antena
pengirim dan penerima dapat saling melihat tanpa ada halangan (Line Of Sight) dalam batasbatas tertentu.
Pada teknik gelombang mikro, suatu hubungan komunikasi disebut Line of Sight
(LOS), jika antara antena pengirim dan penerima dapat saling melihat tanpa adanya
penghalang pada lintasan pada batas-batas tertentu. Parameter-parameter dalam popagasi line
of sight antara lain: panjang lintasan, faktor k, tinggi tonjolan bumi, daerah Fresnel, tinggi
penghalang dan tinggi penghalang tambahan.
Faktor k Pada kondisi atmosfer tertentu kurva sinyal dapat mengalami refraksi
melengkung menjauhi atau mendekati permukaan bumi, maka hal itu perlu diantisipasi
dengan mengunakan suatu factor pengali jari-jari bumi yang disebut faktor k. Untuk
kondisi atmosfer seperti di Indonesia, digunakan faktor k sebesar 4/3
Daerah Fresnel atau Fresnel zone adalah tempat kedudukan titik sinyal tidak langsung
yang berbentuk elips dalam lintasan propagasi gelombang radio dimana daerah tersebut
dibatasi oleh gelombang tak langsung (indirect signal) dan mempunyai beda panjang lintasan
dengan sinyal langsung sebesar kelipatan atau 2 kali . Transmisi gelombang
microwave diperlihatkan pada gambar 3.1dan arsitekturnya diperlihatkan pada gambar 3.2.

Gambar 3 .1 Transmisi Gelombang Microwave Point to Point

Gambar3.2 Arsitektur Radio Microwave Point to Point Network


3.2 Propagasi Gelombang Radio
Propagasi gelombang radio yaitu transmisi sinyal dengan media non-kawat yang
memerlukan antena untuk meradiasikan sinyal radio ke udara bebas dalam bentuk gelombang
elektromagnetik. Adapun jenis jenis propagasi dan juga perantara perantaranya.
a. Propagasi Gelombang Tanah (Ground Wave)
Gelombang tanah merambat dekat permukaan tanah dan mengikuti lengkungan bumi,
sehingga dapat menempuh jarak melampaui horizon. Perambatan melalui lintasan ini
sangat kuat pada daerah frekuensi 30 kHz 3 MHz. Gambar 3.3 menunjukkan sketsa
propagasi gelombang tanah.

Gambar 3.3 Propagasi Gelombang Tanah


b. Propagasi Gelombang Langit (Sky Wave)
Gelombang langit diradiasikan oleh antena ke lapisan ionosfer yang terletak di atmosfer
bagian atas dan dibelokkan kembali ke bumi. Gambar 3.4 menunjukkan sketsa propagasi
gelombang langit.

Gambar 3.4 Propagasi Gelombang Langit


c. (Propagasi Gelombang Langsung (Line of Sight Propagation)
Pada propagasi jenis ini sinyal dari transmitter dipantulkan ke receiver melalui udara
dengan catatan penerima dan pengirm saling berhadapan. Komunikasi LOS paling
banyak digunakan pada transmisi sinyal radio di atas 30 MHz yakni pada daerah VHF,
UHF, dan microwave. Gambar 3.5 menunjukkan sketsa propagasi gelombang langsung.

Gambar 3.5 Propagasi Gelombang Langsung

3.3 Konfigurasi RF (Radio Frequency)


a. Konfigurasi 1+0 (non-protection)
Link microwave dengan konfigurasi 1+0 non-protection hanya satu saluran yang
bekerja, sehingga tidak memiliki sistem proteksi. Block Diagram Sistem transmisi
microwave konfigurasi 1+0 tanpa proteksi dapat dilihat pada gambar 3.6

Gambar 3.6. Block diagram sistem transmisi microwave 1+0 non-protecion


b. Konfigurasi 1+1 (protection)
Untuk setiap hop dari link transmisi microwave 1+1 protection, hanya ada satu saluran
utama yang bekerja dan satunya sebagai saluran standby. Konfigurasi 1+1 sistem proteksi
memiliki tiga tipe yaitu, 1+1 HSB, 1+1 FD, dan 1+1 SD. Berikut ini akan dipaparkan syarat
konfigurasi dan block diagram sistem dari konfigurasi 1+1 protection.
a. Konfigurasi 1+1 HSB (host standby)
Di dalam konfigurasi sistem 1+1 HSB, tiap unit IF dan ODU memiliki sistem standby
sehingga selama 1+1 HSB switching gangguan maka tetap akan terjadi layanan. Seperti
Gambar 3.7.

Gambar 3.7 Block diagram sistem transmisi microwave 1+1 HSB


Prinsip Switching:
a) Bagian Transmitter
Bagian cross connect mengirimkan dua macam layanan sinyal ke bagian utama
IF dan standby IF. Hanya bagian utama di ODU yang akan mentransmisikan sinyal
RF ke antena.

Ketika bagian utama IF atau bagian utama ODU tidak berfungsi maka bagian
standby ODU yang akan mengambil alih untuk mengirimkan sinyal ke antena.
b) Bagian Receiver
Antena mengirimkan dua sinyal RF ke bagian utama ODU dan bagian standby
ODU. Bagian cross-connect akan memilih sinyal yang berasal dari bagian utama
IF. Saat bagian utama IF atau bagian utama ODU tidak berfungsi maka bagian
cross-connect akan memilih sinyal yang berasal dari bagian standby IF.
b. Konfigurasi 1+1 FD (Frequency Diversity)
Konfigurasi 1+1 FD adalah salah satu metode untuk cadangan saluran. MPR 9500,
dengan konfigurasi 1+1 FD, menggunakan dua saluran yang memiliki jarak frekuensi
tertentu untuk mengirim dan menerima sinyal yang sama. Dengan konfigurasi ini akan
membuat fading dari sinyal transmisi menjadi berkurang.

Gambar 3.8 Block diagram sistem transmisi microwave dari 1+1 FD


Prinsip Switching:
c) Bagian Transmitter
Bagian cross-connect mengirimkan dua sinyal ke bagian utama IF dan bagian
standby IF. Bagian utama ODU mengirimkan sinyal RF dengan frekuensi f1 ke
antena. Bagian standby ODU mengirimkan sinyal RF dengan frekuensi f2 ke
antena.
d) Bagian Receiver
Bagian utama ODU dan bagian standby ODU memisahkan sinyal RF dari
frekuensi f1 dan f2 yang diterima dari antena. Saat saluran utama tidak berfungsi
atau BER melebihi threshold, maka bagian standby IF akan mengirimkan sinyal
baseband ke bagian utama IF, dan bagian utama IF mengirimkan sinyal baseband

utama ke bagian standby IF. Bagian cross-connect akan memilih sinyal yang
berasal dari bagian utama IF saja.

BAB IV
METODOLOGI
4.1 Pengenalan Terhadap Perangkat Radio Microwave Digital ALCATEL 9400UX
serta Instalasi dan Pengkabelan Perangkat Radio Link Microwave Digital
ALCATEL 9400 UX
Pada kegiatan praktikum yang pertama hal yang harus dilakukan pada tahap ini adalah
mengenali struktur perangkat-perangkat yang digunakan dalam sistem Radio Link
Microwave Digital ALCATEL 9413UX. Gambar 4.1 merupakan blok diagram yang
menerangkan beberapa perangkat yang saling terintegrasi dalam membentuk Radio Link
Microwave Digital.

Gambar 4.1 Blok Diagram Sistem Radio Link Microwave Digital


ALCATEL 9413UX ini merupakan suatu sistem Radio Link Microwave Digital secara
point to point yang dirancang khusus untuk memenuhi berbagai kebutuhan transmisi baik

untuk jaringan publik maupun private dalam berbagai aplikasi. Sistem radio ini mencakup
kisaran pita frekuensi 13 GHz sampai 38 GHz dengan kapasitas transmisi yang terpasang
16x2 Mbit/s atau 1x34 Mbit/s yang dapat mendukung berbagai kondisi propagasi dan juga
berbagai konfigurasi jaringan dengan spektral efisiensi yang tinggi dengan tipe modulasi 16
QAM.Sistem ini mendukung teknologi PDH atau PCM TDM standard ITU G.730 dan juga
berfungsi sebagai backbone jaringan telekomunikasi yang membangun konektivitas antar
node dalam suatu jaringan. Selain itu pada kegiatan ini juga prosesinstalasi dari sistem harus
dipahami dengan baik guna melakukan kegiatan selanjutnya. Pembuatan wiring diagram
akan sangat membantu proses pemahaman akansistem Radio Link Microwave Digital yang
digunakan pada perangkat ALCATEL 9400 UX. Sesuai dengan wiring diagram terlampir.
Untuk lebih memahami proses tentang sistem Radio Link Microwave Digital ini dapat
dipermudah dengan mempelajari aplikasi dari software NECTAS yang terpasang di PC yang
telah terhubung ke sistem Radio Link Microwave Digital. Software NECTAS merupakan
software yang digunakan untuk melihat parameter sistem Radio Link Microwave Digital
seperti konektivitas antar device, tributary yang digunakan dan parameter lainnya. Berikut
merupakan tabel yang berisi fungsi dari menu yang ada pada software NECTAS. Seperti pada
gambar 4.2 berikut.

Gambar 4.2 Fungsi Aplikasi pada Software NECTAS


4.2 Mengukur BER dan Objective Performance Radio Link G821
Perangkat yang tersedia memiliki 8 tributary dengan kecepatan 2 Mbit/s per tributary.
Sinyal tributary 2 Mbit/s atau E1 merupakan hal terpenting yang harus diketahui sebelum
mengukur BER dan Error Performance G821 tributary 2 Mbit/s. Adapun spesifikasi dari
sinyal tributary 2 Mbit/s seperti berikut.
-

Mode Rx/Tx
Interface yang digunakan adalah G703 standar ITU
Line code HDB3
Framing PCM 30
Clock Internal
Impedansi 75/120 (balance)
Data rate 2,048 Mbps
Pengujian tributary dilakukan dengan cara menambahkan satu tributary baru pada
masing-masing stasiun kemudian akan diukur dengan menggunakan data tester ACTERNA
EDT-135. Pada stasiun A pengujian dilakukan dengan cara menghubungkan data tester
ACTERNA EDT-135 ke tributary baru baik Tx maupun Rx yang dihubungkan juga ke
perangkat multiplexer, sedangkan pada stasiun B posisi tributary baik Tx maupun Rx
dihubungkan secara loopback. Berikut merupakan Wiring Diagram dari pengukuran BER dan
Error Performance G821 tributary 2 Mbit/s yang ditunjukkan pada gambar 4.3.

Gambar 4.3. Set Up Pengukuran BER dan Error Performance G821 Tributary 2 Mbit/s
4.3 Melakukan Konfigurasi Dan Setting Parameter Perangkat Radio Microwave

Dalam kegiatan ini, untuk dapat melakukan proses konfigurasi dan setting parameter
pada Radio Link Microwave Digital hal yang harus dilakukan adalah mengubah nilai-nilai
parameter transmisi pada software NECTAS. Pada prosesnya, haruslah disiapkan terlebih
dulu rancangan dari sistem yang diinginkan, namun hal ini tentunya harus mengacu pada
manual book dari perangkat ALCATEL 9400UX itu sendiri, karena jika tidak sesuai maka
konektivitas antar node akan buruk bahkan bisa juga tidak saling terhubung. Agar dapat
membangun konektivitas antar node dengan baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam melakukan konfigurasi dan setting pada perangkat radio link microwave digital,
diantaranya:
a) Mengetahui spesifikasi umum dari perangkat radio link microwave digital ALCATEL
9400UX
b) Kedua perangkat harus memenuhi kondisi Line Of Sight (LOS), dengan free
obstruction of frenel zone 60%
c) Fade margin 40 dB
d) Received signal normal -44 dBm sampai -70 dBm
Selain beberapa hal diatas, hal lain yang harus diperhatikan juga adalah konfigurasi
pada perangkat IDU (indoor unit) dan perangkat ODU (outdoor unit). Berikut merupakan
konfigurasi pada perangkat IDU pada gambar 4.4 dan ODU pada gambar 4.5.
Konfigurasi IDU (Indoor Unit)
1. Modem sebuah alat yang disebut juga return channel satellite terminal yang
menyambungkan dari unit luar dengan IFL kabel berukuran panjang 50 meter
2. IFL (Inter Facility Link) merupakan media penghubung IDU dan ODU yang berupa
kabel koaksial dengan menggunakan konektor BNC

Gambar 4.4 Konfigurasi IDU


Konfigurasi ODU (Outdoor Unit)
1. Antena ukuran 0.55-2.4 m yang dipasang pada dinding atau atap

2. BUC (Block Up Converter) yang menghantarkan sinyal informasi ke satelit (Tx)


3. LNB (Low Noise Block Up) penerima sinyal dari satelit (Rx)

Gambar 4.5 Konfigurasi ODU

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pengenalan Terhadap Perangkat Radio Link Microwave Digital ALCATEL 9400
UX serta Instalasi dan Pengkabelan Perangkat Radio Link Microwave Digital
ALCATEL 9400 UX
Untuk dapat memahami Perangkat Radio Link Microwave Digital ALCATEL 9400 UX
serta Instalasi dan Pengkabelan Perangkat Radio Link Microwave Digital ALCATEL 9400 UX
menggunakan software NECTAS yang merupakan software yang digunakan untuk melihat
parameter sistem pada radio link microwave seperti koneksi antar device, berapa tributari
yang digunakan, dan parameter- parameter lainnya.
Berikut beberapa tampilan login dari software NECTAS pada perangkat computer

Gambar 5.1 Jendela login software NECTAS


Software NECTAS ini memiliki sistem proteksi dengan menggunakan identifier dan
password sehingga tidak sembarangan orang bisa login menggunakan sistem ini dan merubah
settingan yang telah ada. Untuk login ke software ini maka isi operator identifier nya dengan
USER dan password TELKOM
Setelah login maka pada monitor akan keluar tampilan berikut :

Gambar 5.2 Menu Software NECTAS pada desktop

Berikut penjelasan menu-menu software di atas;

Dari Gambar 5.2 pada kotak berwara putih, terlihat tulisan 946LUX40 ini menunjukan

tipe seri yang digunakan oleh sistem.


Dari Gambar 5.2 pada kotak berwarna merah ini menunjukan indikator alarm dari sistem,
dimana berfungsi sebagai parameter untuk mengetahui kondisi sistem sehinggan software

nectas ini bias digunakan untuk mengontrol sistem radio yang sedang digunakan.
Dari Gambar 5.2 pada kotak berwarna kuning terdapat menu bar yang terdiri dari menu
view, bell, Application_Choice, History dan Help.

Parameter parameter yang digunakan pada software nectas


Dari semua menu diatas yaitu View, Bell, Application_Choice, History dan Help,
pembahasan menu Application_Choice lebih diperdalam , karena dalam menu ini terdapat
aplikasi yang sangat penting seperti untuk mengontrol, mengatur atau melakukan setting
sistem radio Alcatel 9400UX.

Gambar 5.3 Urutan Menu dari Application_Choice untuk Membuka Available application
Maka akan dijelaskan beberapa menu aplikasi pada Application Choice sebagai berikut:
5.1.1

Menu Administratives Function

Gambar 5.4 Menu Administrative Function


Menu Administrative Aplication ini berfungsi mengatur kata kunci dan mengakses
aplikasi dan menyediakan opsi yang bersifat administratif. Opsi yang ada di menu operator
adalah:

a. Logout
Kotak Logout ini untuk melakukan perintah memutuskan hubungan dengan alat. Kotak
dialog muncul untuk meminta konfirmasi atas keputusan yang dibuat untuk tetap
menyalakan atau mematikan alat.

Gambar 5.4 Logout Dialog dan Password Dialog


b. Password
Menu password ini untuk melakukan perubahan password. Perubahan password pertama
dilakukan dengan cara mengisi kolom password terdahulu. Password hanya boleh
mengandung hurup besar maupun kecil dan angka dari 0 sampai 9. Jika dilakukan
perubahan password maka otomatis alat akan terputus koneksinya dengan aplikasi ini.
Maka harus login ulang.
c. Date
Data change dialog menampilkan tanggal dan waktu. Current time menunjukan tanggal
dan waktu yang tersimpan di alat. New date menunjukan tanggal dan waktu di PC.
Tanggal dan waktu dapat dirubah hanya melalu CT mediation.
d. Display
Kotak dialog pada Gambar 5.5 befungsi untuk melihat profil alat tapi tidak dengan
passwordnya.

Gambar 5.5 Administrarive Application Dialog

5.1.2 Menu Alarm, Status and Control Application

Gambar 5.6 Main Screen

Gambar 5.7 Alarm, Status and Controls Application for 946LUX12

Menu ini berisi semua informasi dinamik yang terhubung dengan network element.
Biasanya terdiri dari 3 informasi, yaitu :
Shynthesis part berisi informasi tentang alarm alarm yang ada di dalam kotak kecil berjajar
diatas layar. Type network element yang telah terkoneksi , nama station dan jauh jarak end
station.

Functional part menampilkan sinopsis representatif dari alat


Physical representation dari alat yang mana dapat menentukan lokasi

Dari gambar 15 dapat dilihat beberapa ALARM dalam kotak kotak. Kotak tersebut
menyatakan kondisi alarm yang terhubung dengan network alarm.

Jika terjadi kesalahan internal di network element, maka kotak yang berisi keterangan alarm
akan berganti warna. Berikut keterangan perubahan warnanya :

Red backgroud
Yellow background
Magenta backgroud
Green background

: urgent alarm
: non urgent alarm
: butuh penanganan baik urgent maupun tidak
: keadaan normal

5.1.2 3 Mengakses Secondary Network Element

Gambar 5.8 Cara Melihat secondary screen dari main di NE

Gambar 5.9 Cara melihat secondary screen NE dari sisi ODU 1

Gambar 5.10 Cara melihat secondary screen NE (1+0) konfigurasi tanpa proteksi
946LUX12

5.1.3

Menu Installation Parameters


Tables Menu

Gambar 5.11 table menu

Tabel 5.1 Tabel Menu pada Installation Parameters


Menu Tabel

Keterangan
Equipment Type
Pilih 9400UX
Station Designation
Memberi nama statiun lokal dan
Stasiun tujuan (nama harus tidak
melebihi delapan karakter atau
termasuk karakter yang dilarang oleh
MS-DOS)
Configuration
Ini adalah untuk memilih pilihan yang
benar untuk konfigurasi peralatan dari
daftar
Frequency Band
Pilih frekuensi band untuk peralatan
dari daftar
Tributaries
Pilih jumlah maksimum bit rate yang
diperbolehkan
oleh
LAU/LIU
terpasang pada peralatan
Additional Boards
Pilih absent jika tidak ada ESC
axtension IDU yang dipasang sebagai
additonal board dan pilih present jika
ada
Local Loop
Untuk alat yang dipakasi saat ini pilih
present
karena
memang
ada
konfigurasi
hardware
local
rf
loopbacknya

5.1.4

Menu Operational Parameters

Aplikasi operational parameter ini untuk menyatakan parameter operasi peralatan


yang parameter hardware sudah telah didefinisikan dan ditransmisikan ke peralatan melalui
aplikasi Installation parameter.

Gambar 5.12 Menu Operational Parameters


a. Terminal Menu

Gambar 5.13 Menu Terminal pada Menu Operational Parameters


Tabel 5.2 Tabel Menu pada Terminal di Operation Parameters
Menu Pada Terminal

Keterangan
Station Number
Ini adalah untuk memilih nomor telepon
stasiun untuk esc 2.Nilai-nilai yang
mungkin: 011 untuk 999, tapi tidak boleh
lebih dari satu nol di nomor tersebut
Bit Rate
Ini adalah untuk memilih kecepatan bit
operasional. Kecepatan bit dibatasi oleh
maksimum bit rate yang diperbolehkan
oleh software key dan/atau tingkat sedikit
maksimum yang diperbolehkan oleh
konfigurasi hardware. Untuk cahaya IDU,
hanya 2 x 2 dan 4 x 2 Mbit/s

Link Identify Code


Ini adalah untuk melindungi transmisi
dengan pengenalan kode pada transmisi
(nilai yang mungkin: 0-31). Kode ini sama
harus dimasukkan pada RX sehingga
menerima kode dapat dibandingkan
dengan kode yang ditunggu.

Inserted Tributaries
Mengaktifkan atau menonaktifkan masingmasing tributary. Tributari yang tidak
dimuat dan aktif menghasilkan alarm

AIS Configuration
Untuk menentukan apakah ais penyisipan
aktif atau tidak aktif untuk tributari

Tributary Ports
Ini untuk memodifikasi urutan di tributari
ditransmisikan.

Radio Configuration/Radio Frequency


Untuk transmitter dan receiver. Tiga bar
horisontal
yang
disediakan
untuk
menyesuaikan frekuensi:

ghz ( langkah = 1 ghz )


mhz ( langkah = 1 mhz )
khz ( langkah = 250 khz )

Radio Configuration/Output Power


Menentukan power pada ODU

b. Equitment Menu

Gambar 5.14 Menu Equipment pada Menu Operational Parameters

Tabel 5.3 Tabel Equipment Menu


Menu

Keterangan
Local Configuration
Alamat IP (Internet Protocol) dikodekan
pada 4 byte A, B, C, D

Time Configuration
Tipe NTP IP address. Dalam kasus ini, NE
akan mengadopsi NE master time
Access Configuration
digunakan untuk elemen jaringan tertentu
untuk mengatur koneksi untuk transmisi
informasi dari sistem manajemen jaringan
ke elemen yang dipilih
c. Threholds Menu

Gambar 5.15 Menu Threshold pada Menu Operational Parameters

Tabel 5.4 Tabel Thresholds Menu


Menu

Keterangan

G826 Block Size


Set pada blok size
1 at 2x2 Mbps
2 at 4x2 Mbps
4 at 8x2 Mbps
8 at 16x2 Mbps

Alarm Thresholds

Propagation
Nominal Power: Menunjukkan kekuatan
diterima nominal (berasal dari sirkulasi
link).

Ambang

daya:

Memilih

nilai

redaman dibandingkan dengan nominal


menerima kuasa di mana propagasi alarm
dipicu.
Maintenance Thresholds
Mendefinisikan

thresholds

di

mana

alarm dipicu. Peralatan menganalisa dan


log ES , SES , PSAC , PSAD dan PSRC ,
dll , menggunakan Counter yang me-reset
setiap 24 jam

d. Alarms Menu
Tabel 5.5 Tabel Alarms Menu
Menu

Keterangan

Radio alarms or Housekeeping


alarms Validation

Housekeeping alarms labels

Remote Controls (loops) labels

5.1.5

Menu Performance Parameters (G784)


Aplikasi ini dapat digunakan untuk menganalisis kinerja dari Terminal poin (TP)

didukung oleh elemen jaringan sesuai dengan Rekomendasi ITU-T G784 mengenai
pengawasan peralatan SDH.

Gambar 5.16 Menu Performance Monitoring


a. Configure Menu
Tabel 5.6 Tabel Configure Menu
Menu

Keterangan

Radio Spi Sink


Thresholds for Receive quality

Radio Protection
Thresholds for Switching
performance

5.1.6

Plesio Path
Thresholds for:
Link
Section
Reception

Radio Transmission Parameter

Aplikasi Radio Transmission Parameters :

Memantau parameter transmisi utama (Transmitted Power, receivered Power, bit error

ratio)
Menjalankan diagnostik awal di transmit dan receive alarm

Gambar 5.17 Tampilan Menu Radio Transmission Parameters


Analisa :

NECTAS adalah software yang digunakan untuk Mendisplay dan mengelola semua
alarm, status, dan remote kontrol, Membaca dan memodifikasi konfigurasi (bit rate,
frekuensi, dll), Menampilkan parameter transmisi (daya penerima, rasio bit error, dll)
serta Memonitor Kinerja (G.821)

Software Nectas ini memiliki sistem pengaman, sehingga tidak sembarang orang yang

bias mengakses sistem radio link microwave ini.


Stasiun A dan atasiun B memiliki tipe IDU yang berbeda yakni Stasiun A
menggunakan 946LUX40 sedangkan stasiun B menggunakan 946LUX12, maka

menu Aplikasi choice pada NECTAS berbeda.


Dalam sistem radio link microwave yang sedang digunakan Tributarry Unit hanya
menggunakan 2x8 Tributary.

5.2 Pengujian BER dan Error Performance G.821 Tributary 2MBit/s Radio Link
Microwave Digital ALCATEL 9400 UX
Untuk pengujian error performance tributary ini menggunakan alat yaitu Acterna EDT
135 atau disebut juga data tester. Terdapat 8 chanel tributary yang diuji error performance
nya. Pada saat akan melakukan pengujian menggunakan tester Acterna EDT 135 di station A,
maka pada tributaries 2x8 Tx dan Rx di station B sarus dibuat looping atau short. Pada station
B, Tx tributaries yang akan diuji disambung meggunakan kawat tembaga ke Rx tributaries.
Set up lebih jelas terdapat pada Gambar 4.3. Set Up Pengukuran BER dan Error Performance
G821 Tributary 2 Mbit/s
Untuk melakukan pengujian terhadap Error performance Tributary G.821 dan pengujian
BER menggunakan data tester yaitu EDT 135 yang dihubungkan dengan tributary 2Mbit/s
yang terdapat di perangkat IDU (pada receiver tributary di loop antara TX dan RX pada saat
pemasangannya) dengan melakukan pengukuran pada tributary 2 sampai 8.
. Berikut merupakan langkah kerja yang dilakukan untuk pengukuran BER dan Error
Performance G.821 Tributary 2MBit/s Radio Link

Microwave Digital pada perangkat

ALCATEL 9400 UX :
1. Nyalakan data tester
2. Masuk ke Menu 1
3. Mengisi parameter dengan format:
Mode: RX/TX
Interface: G703
Line Code: HDB-3
PCM Trace: PCM 30
Impedance: 75/120
Data Rate: 2048kbps
4. Masuk ke menu 2
5. Mengisi pulsa signalling
6. Masuk ke menu 3
7. Mengisi total seconds
8. Run, tunggu sampai waktu yang ditentukan pada total seconds
9. Menampilkan BER
10. Menampilkan G821
11. Melakukan BER dengan mengubah-ubah parameter
12. Membandingkan BER dan G821 dengan parameter sebelumnya
Tabel 5.7 Tabel Hasil Pengukuran BER dan Error Performance G.821 Tributary 2MBit/s
Setting
Mode: RX/TX
Interface:

Tributary
4

Parameter
Total Second
Line Rate
Bit Err Rate

Hasil
120
2047991
0.000E

Keterangan

G703
Line Code:
HDB-3
PCM Trace:
PCM 30
Impedance:
75/120
Data Rate:
2048kbps
(tanpa
penghalang)

Mode: RX/TX
Interface:
G703
Line Code:
HDB-3
PCM Trace:
PCM 30C
Impedance:
75/120
Data Rate:
2048kbps
(tanpa
penghalang)

Mode: RX/TX
Interface:
G703
Line Code:
HDB-3
PCM Trace:
PCM 30
Impedance:
75/120
Data Rate:
2048kbps
(tanpa
penghalang)
Mode: RX/TX
Interface:
G703

Bit Rate
Code Error
Total Bits
Bit Error
Error Free
Second
Errored Secs
Sev Errored
secs
Available
time
Unavailable
time
Total Second
Line Rate
Bit Err Rate
Bit Rate
Code Error
Total Bits
Bit Error
Error Free
Second
Errored Secs
Sev Errored
secs
Available
time
Unavailable
time
Total Second
Line Rate
Bit Err Rate
Bit Rate
Code Error
Total Bits
Bit Error
Error Free
Second
Errored Secs
Sev Errored
secs
Available
time
Total Second
Line Rate
Bit Err Rate
Bit Rate

2047991
0
1.229E
0
120 /
100.00000%
Pass 0/0%
Pass 0/0%
120 /
100.00000%
0 / 0%
120
2047992
0.000E
2047992
0
1.229E
0
120 /
100.00000%
Pass 0/0%
Pass 0/0%
120 /
100.00000%

Sukses

0 / 0%
120
2047991
0.000E
2047991
0
1.229E
0
120 /
100.00000%
Pass 0/0%
Pass 0/0%
120 /
100.00000%
120
2047991
0.000E
64000

Gagal (Code Err)

Line Code:
AMI
PCM Trace:
PCM 30C
Impedance:
75/120
Data Rate:
2048kbps
(tanpa
penghalang)

Setting
Mode: RX/TX
Interface:
G703
Line Code:
HDB-3
PCM Trace:
OFF
Impedance:
75/120
Data Rate:
704kbps
(dengan
penghalang)

Tributary
7

Code Error
Total Bits
Bit Error
Error Free
Second
Errored Secs
Sev Errored
secs
Available
time
Unavailable
time
Parameter
Total Second
Line Rate
Bit Err Rate
Bit Rate
Code Error
Total Bits
Bit Error
Error Free
Second
Errored Secs
Sev Errored
secs
Available
time
Unavailable
time

0
3.392E6
0
120 /
100.00000%
Pass 0/0%
Pass 0/0%
120 /
100.00000%
0 / 0%

Gagal (Muncul Code Err dan


bunyi alarm karena menggunakan
line code AMI)

Hasil
60
2047991
0
0
6.907E-1
0
0
0/0%

Keterangan

0/0%
0/0%

Gagal (Muncul AIS karena


menggunakan penghalang pada
antena)

0/ 0%
60 /
100.00000%

Analisa:
Hasil pengukuran diatas hanya pada tributari 4,7 dan 8 karena tributari lain sedang
digunakan, namun untuk pengukuran tributary lain sama saja hasilnya yang berbeda adalah
apabila ada perubahan parameter BER yang diukur dan apabila pada saat proses pengukuran,
dicoba melakukan gangguan yakni pada bagian antenna, yakni dengan menghalangi/
menutup antenanya dengan suatu benda, maka hasil dari pengukuran akan terjadi error.
Pada saat pengaturan parameter dengan line code HDB3 dan framing PCM 30 ditunjukkan
bahwa tidak teridentifikasi adanya error rate, hal ini dikarenakan adanya kesesuaian dengan
standar E1 dengan data rate 2 Mbps. Namun saat line code dan framing yang berbeda, yaitu
HDB3 dan AMI serta kondisi framing PCM 30 muncul AIS dan error rate masih tidak
teridentifikasi, hal ini dikarenakan tributary masih memenuhi standar E1 dengan data rate 2
Mbps. Apabila pengukuran dengan kondisi antena menggunakan penghalang, yaitu kegagalan

dalam proses transmit-receive, tetapi saat penghalang disingkirkan proses transmit-receive


berhasil dilakukan kembali.
Tabel 5.8 Kondisi Tributary Saat Dilakukan Pengukuran BER dan Error Performance
G.821 Tributary 2MBit/s
Tributary

Menu

Tributary
4

Tributary
7

Tributary
8

Dalam pengukuran menggunakan data Untuk bagian station POLBANA TX dan


RX masing masing sistem wiring nya menyambung ke data tester Acterna

namun untuk station POLBANB TX dan RX di looping.


Dari hasil pengukuran BER dan Erorr performance selain dipengaruhi oleh

perangkatnya sendiri dipengaruhi oleh lingkungan.


5.3 Perancangan Sistem Radio Link Microwave Digital serta Konfigurasi dan Setting
Parameter pada Perangkat Radio Link Microwave Digital ALCATEL 9400 UX
Sebelum melakukan proses konfigurasi dan setting parameter pada perangkat radio link
microwave digital, terlebih dahulu harus dilakukan perancangan desain spesifikasi pada
kedua stasiun POLBAN A dan POLBAN B. Perancangan ini haruslah sesuai dengan

parameter parameter yang terdapat pada manual book ALCATEL 9400UX. Berikut
merupakan hasil perencanaan yang telah dibuat dan direalisasikan pada kedua stasiun:
a. Menentukan dan merancang parameter parameter yang akan digunakan dalam
sistem radio link.
Tabel 5.9 Perencanaan pembangunan Radio Link Microwave Alcatel 9400UX
EQUIPMENT
MODULATION
BIT RATE
RF CHANNELING
FREQUENCY
OUTPUT POWER
THRESHOLD
PROPAGATION
NOMINAL LEVEL
(dBm)
Station Number
Cross Connect
Link Code (Tx)
Link Code (Rx)

POLBAN A
9400UX
4 QAM
8X2
13 Ghz
TX : 13.176.250 Hz
RX : 12.910.250 Hz
24 dBm

POLBAN B
9400UX
4 QAM
8X2
13 Ghz
TX : 12.910.250 Hz
RX : 13.176.250 Hz
25dBm

-89 dBm

-89 dBm

-40 dBm
455
Port 1 to 1
30
31

-40 dBm
456
Port 1 to 1
31
30

b. Melakukan konfigurasi dan setting sesuai dengan perancangan parameter parameter


yang telah ditentukan pada aplikasi software nectar.
Analisa berdasarkan perancangan parameter :
Parameter
Local Station

Distant Station

Tributaries

Penjelasan
Kolom ini berisi nama dari stasiun radio yang sedang diatur. Penamaan
dari stasiun ini disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, dan pada
pekerjaan kali ini nama stasiun A diganti menjadi stasiun POLBAN
A,sedangkan pada stasiun B diganti menjadi stasiun POLBAN B.
Distant Station merupakan nama stasiun yang menjadi pasangan dari
stasiun yang sedang diatur. Pada pekerjaan ini kolom distant station di
stasiun A (POLBAN A) diberi nama sesuai dengan nama stasiun yang
menjadi pasangannya yaitu stasiun B (POLBAN B), begitu pula
sebaliknya.
Tributaries adalah jalur / slot yang digunakan untuk menghubungkan
sistem link radio microwave dengan sistem multiplekser. Tiap
tributaries memiliki kapasitas sebesar 2,048 Mbps. Terdapat beberapa
pengaturan tributaries yang bisa digunakan :
34 + 2 Tributaries
16 x 2 Mbps
8 x 2 Mbps
4 x 2 Mbps

Configuration

Frequency
Bands
Frekuensi
Tranciver (Tx)

Bit Rate

Frekuensi
Receiver (Rx)

OUTPUT
POWER

Pada pekerjaan kali ini, pengaturan tributaries yang digunakan adalah


8x2 Mbps, sehingga tersedia delapan tributaries dengan masing
masing tributaries memiliki kecepatan 2,048 Mbps.
konfigurasi ini merupakan sistem proteksi yang dapat digunakan dalam
sistem radio Alcatel 9400UX. Sistem proteksi yang dapat digunakan
terlihat pada gambar.

Gambar configuration
Pada pekerjaan kali ini, konfigurasi yang digunakan dalam sistem radio
ini adalah
1 + 0. 1 + 0 menunjukan bahwa dalam sistem tidak
menggunakan proteksi.
Frequency bands merupakan frekuensi kerja yang digunakan pada
sistem radio ini. Frekuensi kerja pada sistem radio ini adalah 13 GHz.
Untuk mengatur frekuensi transmitter, dapat dilihat nilai band frekuensi
tertentu yang terdapat di dalam datasheet.
Pada Pekerjaan kali ini , Frekuensi Tx yang digunakan adalah
13.176.250 Hz. Pengaturan tersebut dirancang pada link local di stasiun
POLBAN A, sehingga pada link local POLBAN B frekuensi Rx harus
sama dengan frekuensi Tx pada stasiun POLBAN A
Nilai dari kolom bit rate bergantung pada nilai Tributaries pada bagian
Installation Parameters. Apabila pada installation parameters nilai
tributaries di-set pada 8x2 Mbps, maka nilai Bit Rate pada Operation
Parameters harus bernilai sama. Pada pekerjaan kali ini, karena nilai
Tributaries yang dipilih pada installation parameters bernilai 8x2
Mbps, maka nilai bit rate pada operation parameters harus bernilai
sama, yaitu 8x2 Mbps.
Untuk mengatur frekuensi receiver, dapat dilihat juga nilai band
frekuensi tertentunya yang terdapat di dalam datasheet yang sesuai
dengan band frekuensi transmitter yaitu yang memiliki perbedaan
duplex sebesar 266 MHz. Frekuensi Rx didapat dengan mengurangi
frekuensi Tx (13.128 GHz) dengan perbedaan duplex (266 MHz)
sehingga didapat frekuensi Rx sebesar 12.862 GHz
Pengaturan tersebut dirancang pada link local di stasiun POLBAN A,
sehingga pada link local POLBAN B frekuensi Tx harus sama dengan
frekuensi Rx pada stasiun POLBAN A.
Untuk mengatur seberapa besar level daya pemancar yang akan
digunakan oleh sistem radio. Level pada Tx Level disesuaikan dengan
perhitungan dengan seberapa jauh jarak dan seberapa besar prediksi
perhitungan redaman, sehingga daya yang dipancarkan cukup untuk

Satiton
Number

Propagation
Threshold

Link
Identification

mengirimkan sinyal hingga sampai pada penerima. Pada pekerjaan kali


ini digunakan Tx level sebesar 24 dBm, karena dilihat spesifikasi
antena yang memiliki kemampuan maksimal untuk mentransmisikan
daya sebesar 24 dBm, dan juga diasumsikan bahwa antena
mentransmisikan dengan jarak terjauh yang dapat ditempuh.
Untuk identitas nomor stasiun agar bisa saling berkomunikasi satu
sama lain. Nomor statiun ini harus di isi selain 0-0-0 ,tidak bisa di set
0-0-0. Stasiun ini berkomunikasi lewat link radio dengan mendial-up
nomor
yang
telah
kita
atur
sebelumnya.

Gambar Satsiun Polban B


Sedangkan untuk stasiun Polban A diberikan nomor 455 ,Nomor ini
juga digunakan apabila akan menelpon stasiun yang menjadi
pasangannya dengan menggunakan EOW (Engineering Order Wire).
Pada sistem radio link, terdapat batas daya minimum yang dibutuhkan
agar sistem tetap aktif. Pada sistem radio link Alcatel 9400UX, daya
minimum agar sistem dapat berfungsi adalah sebesar -89 dBm.
Propagation treshold merupakan pengaturan terhadap batas daya yang
diperlukan oleh sistem radio link untuk tetap berfungsi. Pada
umumnya, propagation threshold diatur beberapa level di atas batas
daya minimum yang diperlukan sistem agar tetap aktif.
Apabila batas minimum daya yang diperlukan adalah -89 dBm, sebagai
contoh bila propagation treshold diatur pada level minimal 10 dB di
atas batas minimum untuk menghindari sistem yang tidak berfungsi
(outage). Ini berarti bahwa propagation treshold akan bernilai -89 dBm
+ 10 dB = -79 dBm dan menandakan apabila level daya pada sistem
radio link telah mencapai -79 dBm, maka alarm akan menyala untuk
memperingati teknisi agar berhati hati karena level daya berada pada
level yang kritis namun sistem masih tetap aktif.
Link identification merupakan suatu fitur khusus yang dimiliki oleh
sistem radio link antena Alcatel 9400UX. Fitur ini membuat setiap
sinyal yang dikirim antar stasiun memiliki suatu kode khusus yang
apabila pada stasiun B tidak diatur untuk dapat mengidentifikasi sinyal
yang dipancarkan oleh stasiun A, maka radio link antara stasiun A dan
stasiun B tidak berfungsi. Agar bisa saling mengidentifikasi, maka nilai
link code pada sisi pengirim di stasiun A harus sama dengan nilai link
code pada sisi penerima di stasiun B, sedangkan nilai link code di sisi
penerima di stasiun A harus sama dengan nilai link code sisi pengirim
di stasiun B.
Pada pekerjaan ini, link identification yang digunakan pada sisi

Cross Connect
Tributaries

pengirim dan sisi penerima di stasiun POLBAN A adalah 31 dan 30.


Cross connect tributaries berfungsi untuk mengatur jalur yang
digunakan pada tributaries. Hal ini dapat dianalogikan seperti
mengatur jalur keluar masuk kendaraan pada sebuah halte di dalam
terminal. Dalam hal ini, kendaraan yang dimaksud adalah data. Cross
connect tributaries pun harus diatur sama antara stasiun A dan stasiun
B. Jika tidak, maka alur data yang dikirim baik menuju dan keluar dari
sistem radio link akan terhambat, bahkan tidak berfungsi.

Gambar Tributary ports


Gambar diatas menujukan Cross connect stasiun POLBAN A dan
Stasiun POLBAN B .Pada saat sistem berjalan, berbagai masalah bisa
saja muncul akibat kesalahan pada saat mengatur parameter yang ada
pada sistem radio link microwave yang dibuat. Beberapa yang cukup
sering terjadi pada perangkat sistem radio link microwave buatan
Alcatel keluarga 9400UX ini adalah kesalahan penentuan cross
connect tributaries dan kesalahan link code identification.
Analisa :
Untuk membangun atau membuat sebuah jaringan teleomunikasi harus dilakukan
perancangan desain jaringan yang akan dibuat dan mengetahui parameter apa saja yang akan
dikonfigurasi.
Untuk perangkat radio link microwave Alcatel 9413UX, sebelumnya kita harus tentukan
dahulu jenis sistem modulasi yang akan kita gunakan misalnya 4 QAM. Karena perangkat ini
bekerja dengan Band Frekuensi 13 GHz maka Frekuensi kerja yang kita gunakan adalah
13.176.250 Hz pada bagian transmitter dan 12.910.250 pada bagian Receiver, penentuan
angka tersebut di peroleh dari Duplex Difference perangkat tersebut sebesar 266 MHz.
Untuk Bit rate TX/RX kita gunakan 8x2 Mbit/s karena perangkat yang digunakan
menggunakan sistem modulasi 4QAM sehingga kapasitas radio frekuensi dari setiap kanal
adalah 14 MHz dengan daya output sebesar 25 dBm. Kemudian kita juga harus menentukan
BER threshold propagasinya yaitu sebesar -89 dBm untuk bagian pengirim dan -40 dBm
untuk bagian penerima.
Setelah semua di konfigurasi, dilakukan tes dengan proses pemanggilan apakah telepon
lawan bisa berdering dan bisa mengeluarkan suara lawan bicara, apabila tidak coba periksa
kembali dan benarkan konfigurasinya sampai Radio Link dari Tx ke Rx dapat saling
terhubung.

BAB VI
KESIMPULAN
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwan sistem komunikasi wireless berbasis
radio dapat dibangun dengan baik menggunakan perangkat radio link microwave ALCATEL
9400 UX. Hal ini dibuktikan dengan dapat berkomunikasinya stasiun POLBAN A dengan
stasius POLBAN B dengan baik. Untuk dapat mencapai hal ini, dibutuhkan pemahaman
tentang sistem secara keseluruhan, baik pada sisi hardware maupun software. Pada aspek
hardware dibutuhkan sebuah wiring diagram untuk dapat mengetahui hubungan antar
keseluruhan perangkat pada sistem yang digunakan, sedangkan untuk bagian software
dibutuhkan pemahaman tentang semua menu yang ada dan cara melakukan konfigurasi pada
software NECTAS. Kedua aspek ini dapat dipahami dengan bantuan Manual Book
ALCATEL 9400UX.
Setiap sistem diperlukan suatu pengujian agar dapat dipastikan berjalan dengan baik.
Pengujian BER dan ERROR Performance G.821 Tributary 2 MBit/s Radio link Microwave
dapat menjadi parameter baik atau tidaknya suatu sistem komunikasi radio.
Dalam melakukan perancangan dan mengkonfigurasi terdapat parameter-parameter
perangkan radio microwave yang perlu diperhatikan agar sistem berjalan dengan baik yaitu:
1) Equipment
2) Modulation
3) Bit Rate
4) Rf Channeling
5) Frequency
6) Output Power
7) Alarm Threshold
8) Nominal Level
9) Station Number
10) Link Code

Anda mungkin juga menyukai