Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KLINIK

PERCOBAAN IV
PEMERIKSAAN URIN ATAS INDIKASI UROBILINOGEN

DISUSUN OLEH :
NAMA

: ANGGUN ASTRI MURTI

NIM

: 1101006

KELAS

: 6A GENAP

KELOMPOK : 4
TANGGAL

: 9 MEI 2014

DOSEN

: SYLVIA HASTI M.FARM,.APT

ASISTEN

: - EKA NUR FRAHESTI


-

ERMA YUNI PUTRI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU


YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2014

PERCOBAAN IV
PEMERIKSAAN URIN ATAS INDIKASI UROBILINOGEN
I.

TUJUAN
1. Untuk menenetukan adanya Urabilinogen dalam urin

II. DASAR TEORI


Urin adalah pigmen alami dalam urin yang menhasilkan warna kuning ketika urin
kental, Urobilin dapat membuat tampilan warna oranye-kemerahan yang intensitasnya
bervariasi dengan derajat oksidasi, dan kadang-kadang menyebabkan kencing terlihat
merah atau berdarah. Banyak ters urin (urinanalisis) yang memantau jumlah Urobilin
dalam urin ketika merupakan zat penting dalam metabolisme atau produksi urin karena
merupakan zat pigmen urin. Tingkat urobilin dapat memberikan indikasi efektivitas
saluran kemih (Kalsum, 2009).
Menurut Kalsum (2009), tingkat urobilinogen dalam urin :
1. Dalam urin : kisaran Urobilinogen normal adalah kurang dari 17 Umol/ L (<mg/dl).
Kisaran Urobilinogen ukur adalah 0-8/ dl. Nilai urobilinogen abnormal dapat
mengalami peningkatan.
2. Peningkatan nilai adalah indikasi dari kerusakan RBC secara berlebihan, membebani
hati, produksi Urobilinogen yang berlebih, menyebabkan hematoma, keracunan,
sirosis hati, fungsi hati.
3. Nilai-nilai rendah adalah Indikasi penyumbatan di bileduct dan kegagalan Empedu
produksi.
Urobilinogen larut dalam air dan transparan produk yang merupakan produk
dengan pengurangan bilirubin dilakukan oleh itenstinal bakteri. Hal ini dibentuk oleh
pemecahan Hemoglobin. Sementara setengah dari Urobilinogen beredar kembali ke hati,
setengah lainnya dieksresikan melalui feses sebagai Urobilin. Ketika pernah ada
kerusakan hati, kelebihan itu akan dibuang keluar melalui ginjal. Ini siklus dikenal
sebagai Urobilinogen enterehepatik siklus. Ada beberapa faktor yang dapat menghambat
siklus ini. Salah satu alasan yaitu gangguan hati, hemoglobin (hemolisis) karena
malfungsi hati seperti hepatitis dan sirosis karena hal ini, Urobilinogen dieksresikan
kedalam urin. Pada saat seseorang menderita penyakit kunin, itu di diagnosa oleh warna
kulit yang sedikit kuning dan warna kuning pada urin. Namun bila ada abstruksi pada

saluran empedu, hal ini akan menyebabkan penuruanan jumlah urobilinogen dan ada
lebih sedikit urobilin dalam urin. Lebih rendah jumlah urobilin dapat disebabkan oleh
hilangnya flora bakteri usus yang berperan dalam sintesa produk HTI. Untuk mendeteksi
jenis kerusakan di hati, tes Urobilinogen dilakukan dengan mengukur kadar
Urobilinogen dalam urin. Reaksi Aldehid Ehrich adalah tes umum yang digunakan untuk
menguji tingkan Urobilinogen. Sebuah benzoldehida dengan keberadaan asam berubah
warna yika Urobilinogen hadir untuk warna merah muda. Tujuan utama tes ini adalah
untuk membantu mengetahui penghalang atau gangguan hati seperti penyumbatan
saluran empedu umum dan juga untuk memungkinkan hati serta gangguan hematology
(Poedjiadi, 1994).
Urobilinogen tak berwarna namun dalam beberapa waktu urin berubah warna
menjadi coklat karena Urobilinogen berubah menjadi Urobilin melalui oksidasi. Ikterus
hemolitik bersifat akalurik (tidak ada bilirubin dalam urin) namun urin mengandung
urobilinogen berlebihan karena jumlah bilirubin yang sampai ke usus berlebihan dan
dieksresikan ulang sebagai urobilinogen. Ikterus obstriktif memberi warna coklat gelap
pada urin akibat kelebihan bilirubin dan berkurangnya kadar urobilinogen urin, karena
sedikit atau tidak adanya sama sekali bilirubin yang mencapai usus akibat obstruksi
sehingga tidak bisa diabsorpsi dan dieksresikan ulang. Pada tahap ikterus hepatoselular
pada hepatitis virus akut. Urobilinogen berlebihan kadang-kadang timbul sebelum
tampak ikterus yang jelas secara klinis. Ini terjadi akibat kegagalan hati untuk
mengambil kelebihan urobilinogen yang diabsorpsi dari usus. Dengan makin beratnya
penyakit timbul obstruksi bilier dan dengan munculnya bilirubin (terkonjungsi) pada urin
bilirubin pada usus berkurang sehingga urabilinogen tidak didapatkan pada urin. Efek
resiprokal juga terjadi saat pemulihan. Tes fungsi hati bisa mengukur kemampuan hati
untuk melakukan fungsi normal (misalnya albumin serum untuk mengukur sintesis
protein, waktu protombin untuk mengukur sintesisi protein dan kemampuan mensintesisi
faktor pembekuan, bilirubin dan urabilinogen untuk mengukur konjugasi dan eksresi
garam empedu atau pengukuran enzim hati (alkali fosfotase, transminase yang
merupakan indicator kerusakan sel hati (David, dkk, 2005).
Pemeriksaan Urobilin dilakukan untuk mendeteksi urin yang berubah warna, dan
biasanya berwarna coklat karena Urobilinogen telah berubah menjadi urobilin menjadi
Urobilin melalaui oksidasi. Untuk dasar melaksanakan pemeriksaan urobilin sebenarnya
sama yaitu membantu mendeteksi adanya kerusakan hepar, ban dari penurunan fungsinya
atau obnormalitas untuk hingga menyebabkan kelainan klinis. Pemeriksaan urobilin

untuk menilai kada eksresi urobilinogen yang sudah teroksider kalau hasilnya positif
berarti menunjukkan eksresi urobilinogen terkosidasi meningkat dan mempunyai maka
yang sama. Seperti peningkatan pada urobilinogen sebelum teraksidasi (Sacher, 2002).
Pemeriksaan Urobilinogen dalam urin berdasarkan reaksi antara urobilinogen
dengan reagen Ehrlich (Paradimethylomino benzaldahyde serta buffer asam). Intensitas
warna yang terjadi dari jingga hingga merah tua, dibaca dalam waktu 60 detik warna
yang timbul sesuai dengan peningkatan kadar Urobilinogen dalam urin. Urin yang terlalu
alkalis menunjukkan kadar urobilinogen yang lebih tinggi sedangkan urin yang terlalu
asam menunjukkan kadar urobilinogen yang lebih rendah dari seharusnya (Girinda,
1988).
Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil Urobilinogen. Peningkatan
eksresi Urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran empedu atau
proses hemolisa yang berlebihan di dalam tubuh. Urobilinogen urin menurun dijumpai
pada ikterik obstruktif, kanker pancreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang
dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang parah, koletiasis, diare yang berat.
Kadar nitrit yang tinggi juga menyebabkan hasil negative palsu (Manruw, 2010).
Hasil pemeriksaan Urobilinogen pada prabandus maupun urin potologis didapatkan
hasil negative hal ini dapat disebabkan karena pada pemeriksaan urobilinogen urin yang
digunakan harus urin segar. Menggunakan sampel urin segara karena jika urin dibiarkan
cukup lama, maka kadar urobilinogen akan menurun disebabkan oleh urobilinogen
berkisar antara 0,1-1,0 Ehrlich unit per di urin (Uliyah, 2008).
Bilirubin terkonjugasi yang mencapai ileum terminal dan kolon dihidrolisa oleh
Enzym bakteri dan Glukoronidase dan pigmen yang bebas dari glukoronida direduksi
oleh bakteri urus menjadi Urobilinogen, suatu senyawa tetrapirol tak berwarna. Sejumlah
Urobilinogen diabsorpsi kembali dari usus ke Pendarahan Portal dan dibawa ke ginjal
kemudian dioksidasi menjadi Urobilin yang memberi warna kuning pada urin. Sebagian
besar Urobilinogen berada pada feses akan di oksidasi oleh bakteri usus membentuk
sterkabilin yang berwarna kuning kecoklatan (Martoharsano, 2008).

DAFTAR PUSTAKA
David, R., dkk. 2005. Lecture Notes: Kedokteran Klinis. Jakarta: Erlangga.
Girinda, A. 1988. Biokimia Dasar dasar Patologi Hewan. Bogor: IPB.
Kalsum. 2009. Penuntun Praktikum Biokimia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Manruw. 2010. Pengantar Biokimia. Jakarta: UI Press.
Martoharsono, S. 2008. Biokimia 2. Yogyakarta: UGM Press.
Poedjiadi, A. 1994. Dasar dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.
Sacher, R. 2002. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC.
Uliyah, M. 2008. Keterampilan Dasar Praktek Klinik. Jakarta: Salemba Medika.