Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Las dalam bidang konstruksi sangat luas penggunaannya meliputi
konstruksi jembatan, perkapalan, industri karoseri dll. Disamping untuk
konstruksi las juga dapat untuk mengelas cacat logam pada hasil pengecoran
logam, mempertebal yang aus (Wiryosumatro ,H dan Okumura ,T, (2004)).
Secara sederhana dapat diartikan bahwa pengelasan merupakan proses
penyambungan dua buah logam sampai titik rekristalisasi logam baik
menggunakan bahan tambah maupun tidak dan menggunakan energi panas
sebagai pencair bahan yang dilas.Pengertian pengelasan menurut Widharto (2003)
adalah salah satu cara untuk menyambung benda padat dengan jalan
mencairkannya melalui pemanasan. Berdasarkan definisi dari Deutche Industrie
Normen (DIN) las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam
paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Wiryosumatro ,H dan
Okumura ,T, (2004) menyebutkan bahwa pengelasan adalah penyambungan
setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energy panas.
Penyambungan dua buah logam menjadi satu dilakukan dengan jalan pemanasan
atau pelumeran, dimana kedua ujung logam yang akan disambung di buat lumer
atau dilelehkan dengan busur nyala atau panas yang didapat dari busur nyala
listrik (gas pembakar) sehingga kedua ujung atau bidang logam merupakan
bidang masa yang kuat dan tidak mudah dipisahkan (Arifin ,S .1997). Paling tidak
saat ini terdapat sekitar 40 jenis pengelasan. Dari seluruh jenis pengelasan
tersebut hanya dua jenis yang paling populer di Indonesia yaitu pengelasan
dengan menggunakan busur nyala listrik (Shielded metal arc welding/ SMAW)
dan las karbit (Oxy acetylene welding/OAW).
Sampai saat ini banyak sekali cara-cara pengklasifikasian yang digunakan
dalam bidang las, ini disebabkan karena belum adanya kesepakatan dalam hal
tersebut. Secara konvensional cara-cara pengklasifikasian tersebut pada waktu ini
dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu :
1.

Berdasarkan cara pengelasan

14

2.

Berdasarkan energy yang digunakan


Pengelasan berdasarkan klasifikasi cara kerja dapat dibagi dalam tiga

kelompok yaitu pengelasan cair, pengelasan tekan dan pematrian. Pengelasan cair
adalah suatu cara pengelasan dimana benda yang akan disambung dipanaskan
sampai mencair dengan sumber energi panas. Cara pengelasan yang paling
banyak digunakan adalah pengelasan cair dengan busur (las busur listrik) dan gas.
Jenis dari las busur listrik ada 4 yaitu las busur dengan elektroda terbungkus, las
busur gas (TIG, MIG, las busur CO2), las busur tanpa gas, las busur rendam. Jenis
dari las busur elektroda terbungkus salah satunya adalah las SMAW (Shielding
Metal Arc Welding)
Mesin las SMAW menurut arusnya dibedakan menjadi tiga macam yaitu
mesin las arus searah atau Direct Current (DC), mesin las arus bolak-balik atau
Alternating Current (AC) dan mesin las arus ganda yang merupakan mesin las
yang dapat digunakan untuk pengelasan dengan arus searah (DC) dan pengelasan
dengan arus bolak-balik (AC). Mesin Las arus DC dapat digunakan dengan dua
cara yaitu polaritas lurus dan polaritas terbalik. Mesin las DC polaritas lurus (DC) digunakan bila titik cair bahan induk tinggi dan kapasitas besar, untuk pemegang
elektrodanya dihubungkan dengan kutub negatif dan logam induk dihubungkan
dengan kutub positif, sedangkan untuk mesin las DC polaritas terbalik (DC+)
digunakan bila titik cair bahan induk rendah dan kapasitas kecil, untuk pemegang
elektrodanya dihubungkan dengan kutub positif dan logam induk dihubungkan
dengan kutub negatif.
Pilihan ketika menggunakan DC polaritas negatif atau positif adalah
terutama ditentukan elektroda yang digunakan. Beberapa elektroda SMAW
didisain untuk digunakan hanya DC- atau DC+. Elektroda lain dapat
menggunakan keduanya DC- dan DC+. Elektroda E7018 dapat digunakan pada
DC polaritas terbalik (DC+). Pengelasan ini menggunakan elektroda E7018
dengan diameter 3,2 mm, maka arus yang digunakan berkisar antara 115-165
Amper. Dengan interval arus tersebut, pengelasan yang dihasilkan akan berbedabeda.
Tidak semua logam memiliki sifat mampu las yang baik. Bahan yang mempunyai
sifat mampu las yang baik diantaranya adalah baja paduan rendah. Baja ini dapat

15

dilas dengan las busur elektroda terbungkus, las busur rendam dan las MIG (las
logam gas mulia). Baja paduan rendah biasa digunakan untuk pelat-pelat tipis dan
konstruksi umum (Wiryosumarto, 2000).

Pergerakan atau ayunan elektroda las juga dapat mempengaruhi


karakteristik hasil lasan, pada sisi lain bentuk gerakan elektroda untuk pengelasan
sering menjadi pilihan pribadi dari tukang las itu sendiri tanpa memperhatikan
kekuatan lasnya.Untuk mengetahui bentuk gerakan elektroda yang menghasilkan
sifat mekanik yang paling baik, perlu dilakukan penelitian dan pengujian. Salah
satu sifat mekanik yang paling penting dalam pengelasan adalah sifat kekerasan
(hardness). Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini mengambil
judul : Variasi Posisi Pengelasan dan Gerakan Elektroda Terhadap Sifat Baja
VCN 150 .

1.2

Perumusan Masalah
Penelitian ini menggunakan bahan baja VCN 150 yang diberi perlakuan

pengelasan dengan variasi posisi pengelasan dan gerakan elektroda dengan


menggunakan las SMAW dengan elektroda E 6013. Spesimen diuji tensile ,uji
impact, dan uji kekerasan

1.3

Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum


Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
variasi posisi pengelasan dan gerakan elektroda terharap kekuatan
sambungan las pada pengelasan material Baja VCN 150

1.3.2 Tujuan Khusus


Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
1. Untunk mendapatkan kekuatan sambungan pengelasan material Baja
VCN 150 dengan variasi posisi pengelasan Sudut dan pada gerakan
elektroda pola zig-zag dan pada gerakan eletroda pola C
2. Untuk mendapatkan cacat pengelasan pada sambungan las dengan

16

material Baja VCN 150


3. Untuk mendapatkan kualitas sambungan las pada pengelasan material
Baja VCN 150

1.4

Batasan Masalah
Adapun batasan dari permasalahan yaitu :
1. Pengujian yang dilakukan pengujian impact,hardness, dan tarik
2. Mengetahui pengaruh perbedaan pola pengelasan pada hasil lasan
3. Mengetahui pengaruh perbedaan sudut kampuh pengelasan terhadap
pengelasan material Baja

1.5

Manfaat Penelitian
Sebagai peran nyata dalam pengembangan teknologi khususnya

pada

pengelasan, maka penulis berharap dapat mengambil manfaat dari penelitian


ini, diantaranya :
1. Sebagai literatur pada penelitian yang sejenisnya dalam rangka
pengembangan teknologi khususnya di bidang pengelasan.
2. Sebagai informasi bagi juru las untuk meningkat kualitas hasil
pengelasan.
3. Sebagai informasi penting guna meningkatkan pengetahuan bagi
peneliti dalam bidang pengujian bahan, pengelasan dan bahan teknik.
1.6

Sistematika Penulisan
Agar penyusunan skripsi ini dapat tersusun secara sistematis dan
mempermudah pembaca memahai tulisan ini, maka skripsi ini dibagi dalam
beberapa bagian yaitu:

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL

17

BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang dari judul skripsi yang telah
ditetapkan, tujuan, manfaat, batasan masalah, sistematika penulisan dan
metodologi penulisan skripsi.

BAB II : DASAR TEORI


Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang berhubungan dengan
penulisan skripsi. Dasar teori didapatkan dari berbagai sumber, diantaranya
berasal dari: buku - buku pedoman, jurnal, paper, tugas akhir, e-mail, e-book, dan
enews.

BAB III: METODOLOGI


Pada bab ini akan dibahas mengenai metode yang akan digunakan untuk
menyelesaikan penulisan skripsi. Pada bab ini juga akan dibahas mengenai
langkah-langkah penelitian, pengolahan dan analisa data yang akan digunakan
untuk menyelesaikan permasalahan dari topik yang diangkat.

BAB IV: ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN


Pada bab ini akan dianalisa dan dibahas mengenai data-data yang telah diperoleh
dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN


Pada bab ini berisi kesimpulan dari penulisan tugas akhir dan saran-saran.

DAFTAR PUSTAKA

1.7

Metodologi Penulisan
Metodologi merupakan tahapan-tahapan pengerjaan dalam pengerjaan

skripsi ini. Metodologi penulisan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini
dapat dilihat pada Gambar berikut.

18