Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki sumber daya alam
hayati laut yang besar. Salah satu sumber daya alam tersebut yaitu
ekosistem terumbu karang. Di dalam ekosistem terumbu karang bisa hidup
lebih dari300 spesies karang, lebih dari 200 spesies ikan dan ratusan spesies
moluska,krustasea, spons, alga, lamun dan biota lainnya. Spons merupakan
salah satu komponen penyusun terumbu karang yang mempunyai potensi
bioaktif sebagai antibakteri, antikanker, dan antijamur yang belum banyak
dimanfaatkan. Hewan laut ini mengandung senyawa aktif yang persentase
keaktifannya lebih besar dibandingkan dengan senyawa-senyawa yang
dihasilkan oleh tumbuhan darat (Suparno, 2005).
Spons merupakan salah satu kelompok biota laut yang terdapat di
perairan Indonesia dengan jumlah 850 spesies dan berpotensi menghasilkan
senyawa metabolit sekunder yang bersifat bioaktif. Spons ialah hewan
berpori yang bersifat filter feeder, karena sifat itulah sehingga biota
menjadi habitat bagi mikroorganisme untuk tinggal dalam tubuhnya
(Menggelea, F.P., dkk. 2015).
Spons laut diketahui menjadi tempat hidup beberapa jenis bakteri
yang jumlahnya mencapai 40 persen dari biomassa spons. Simbiosis yang
terjadi antara bakteri dengan spons laut menyebabkan organisme ini
sebagai invertebrata laut yang memiliki potensi antibakteri yang lebih besar
dibandingkan dengan organisme darat dan laut lainnya (Kanagasabhapathy
et al., 2005)
Spons laut dilaporkan memiliki kandungan kimia yang potensial
secara farmakologis seperti antitumor, antiinflamasi, antimikroba, dan lainlain (Faulkner, 1993). Hewan multiseluler yang paling sederhana ini,
termasuk ke dalam filum porifera (Stachowitsch, 1992). Spons laut hidup
mulai dari perairan laut dangkal sampai beberapa ribu meter dibawah
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

permukaan laut, dan hampir tersebar merata di seluruh laut di dunia (Jasin,
1992).
Pemanfaatan spons laut sekarang ini cenderung semakin meningkat,
terutama untuk mencari senyawa bioaktif baru dan memproduksi senyawa
bioaktif tertentu. Pengumpulan spesimen untuk pemanfaatan tersebut, pada
umumnya diambil secara langsung dari alam dan belum ada dari hasil
budidaya. Cara seperti ini, jika dilakukan secara terus menerus diperkirakan
dapat mengakibatkan penurunan populasi secara signifikan karena terjadi
tangkap lebih (overfishing), terutama pada jenis-jenis tertentu yang
senyawa bioaktifnya sudah diketahui aktifitas farmakologiknya dan sulit
dibuat sintesisnya. Oleh karena itu, laporan ini akan membahas proses
ekstraksi spons dengan metode maserasi.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana ekstraksi dengan metode maserasi?
2. Bagaimana proses ekstraksi spons (Clatharia sp) dengan metode
maserasi?
3. Apa kandungan kimia spons (Clatharia sp)?
C. Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui ekstraksi dengan metode maserasi dengan baik
2. Untuk mengekstraksi spons (Clatharia sp) dengan metode maserasi
3. Untuk mengetahui kandungan kimia spons (Clatharia sp)
D. Prinsip Percobaan
Prinsip metode maserasi yang di lakukan dengan cara merendam
simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur
kamar terlndung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel
melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang
konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari
dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di


dalam sel. Selama proses maserasi di lakukan pengadukan.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Maserasi
Maserasi

adalah

proses

pengekstrakan

simplisia

dengan

menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan


pada temperatur ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi
dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan.
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif
yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah
mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, sitrak, dan
lain-lain. Maserasi dilakukan dengan merendam serbuk simplisia dalam
cairan penyari. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, airetanol, atau pelarut lain. (Sidik dan Mudahar, 2000).
Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena
adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif didalam sel dan diluar
sel, maka larutan terpekat akan terdesak keluar. Peristiwa ini berulang
sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan diluar sel dan
didalam sel (Sulistyaningrum dkk. 2011).
Pada umumnya maserasi dilakukan dengan cara 10 bagian simplisia
dengan derajat kehalusan yang cocok, dimasukkan kedalam bejana
kemudian dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan
selama 5 hari terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah
5 hari diserkai, ampas diperas. Pada ampas ditambahkan cairan penyari
secukupnya, diaduk dan diserkai sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak
100 bagian. Bejana ditutup, dibiarkan ditempat sejuk, terlindung dari
cahaya, selama 2 hari kemudian endapan dipisahkan (Sulistyaningrum dkk.
2011).
Pengadukan pada proses maserasi dapat menjamin keseimbangan
konsentrasi bahan yang diekstraksi lebih cepat didalam cairan penyari.
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

Hasil penyarian dengan cara maserasi perlu dibiarkan selama waktu


tertentu. Hal ini dilakukan untuk mengendapkan zat-zat yang tidak
diperlukan tetapi ikut terlarut dalam cairan penyari, seperti: malam dan lainlain (Sarwi, 2010).
Modifikasi maserasi antara lain (Sulistyaningrum dkk. 2011).:
1. Remaserasi.
Cairan penyari dibagi menjadi dua. Seluruh serbuk dimaserasi
dengan cairan pertama. Kemudian filtrat yang didapat dituang dan
diperas. Kemudian dimaserasi lagi dengan cairan penyari kedua.
2. Digesti.
Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan
lemah, yaitu pada suhu 400-500C. Cara maserasi ini hanya dapat
dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan.
Dengan pemanasan diperoleh keuntungan antara lain:
a. Kekentalan

pelarut

berkurang,

yang

dapat

mengakibatkan

berkurangnya lapisan-lapisan batas.


b. Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga
pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan
pengadukan.
c. Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolute dan
berbanding terbalik dengan kekentalan, sehingga kenaikan suhu
akan berpengaruhpada kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat
aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan.
d. Jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan,
maka perlu dilengkapi dengan pendingin balik, sehingga cairan
akan menguap kembali ke dalam bejana.
3. Maserasi dengan mesin pengaduk
Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus menerus,
waktu proses maserasi dapat disingkat menjadi 6 sampai 24 jam.
4. Maserasi melingkar
Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar aturan
penyari selalu bergerak mrnyebar. Dengan cara ini penyari selalu
mengalir kembali secara berkesinambungan melalui serbuk simplisia
dan melarutkan zat aktifnya. Keuntungan cara ini:
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

a. Aliran cairan penyari mengurangi lapisan batas


b. Cairan penyari akan didistribusikan secara seragam, sehingga akan
memperkecil kepekatan stempat
c. Waktu yang diperlukan lebih pendek
5. Maserasi melingkar bertingkat
Pada maserasi melingkar penyarian tidak dapat dilakukan secara
sempurna, karena pemindahan massa akan berhenti bila keseimbangan
telah terjadi. Masalah ini dapat diatasi dengan maserasi melingkar
bertingkat. (M.M.B), yang akan didapatkan :
a. Serbuk simplisia mengalami proses penyarian beberapa kali, sesuai
dengan bejana penampung. Pada contoh di atas dilakukan 3 kali,
jumlah tersebut dapat diperbanyak sesuai dengan keperluan.
b. Serbuk simplisia sebelum dikeluarkan dari bejana penyari,
dilakukan penyarian.dengan cairan penyari baru. Dengan ini
diharapkan agar memberikan hasil penyarian yang maksimal
B. Tinjauan tentang Spons

Gambar 1.1 Spons

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

Spons merupakan kelompok porifera yaitu hewan yang mempunyai


tubuh berpori-pori atau saluran. Spons sebagai invertebrata laut multi sel
yang fungsi jaringan dan organnya sangat sederhana. Biota laut ini dikenal
dengan filter feeders, yaitu mencari makanan dengan mengisap dan
menyaring air melalui sel cambuk dan memompakan air keluar melalui
oskulum. Makanan spons berupa zooplankton atau hewan kecil dan bakteri
yang terbawa oleh arus serta masuk ke dalam tubuhnya (Amir, 1996).
Tubuh spons terdiri dari jelly seperti mesohyl terjepit di antara dua
lapisan tipis sel. Spons tidak memiliki saraf, pencernaan atau sistem
peredaran

darah.

mempertahankan

Sebaliknya,

aliran

air

sebagian

konstan

melalui

besar
badan

mengandalkan
spons

untuk

mendapatkan makanan dan oksigen ataupun untuk menghilangkan limbah


(Rosmiati dan Suryati, 2001). Larva spons dapat menyebar secara luas,
terbawa arus dan bergerak sangat aktif, tetapi setelah dewasa hidup melekat
dan menetap pada karang batu dan dasar laut
1. Klasifikasi Spons (Clathria Sp)
Menurut (Hooper, 2002) spons Clathria Sp diklasifikasikan
sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Porifera

Kelas

: Demospongiae

Ordo

: Poecilose lerida

Famili

: Microcionidae

Genus

: Clathria

Spesies

: Clatharia sp

2. Morfologi Spons
Morfologi luar spons sangat dipengaruhi oleh faktor fisik,
kimiawi dan biologis lingkungannya. Spesimen yang berada di
lingkungan yang terbuka dan berombak besar cenderung mengalami
pertumbuhan yang pendek atau juga merambat. Sebaliknya spesimen
dan jenis yang sama pada lingkungan yang terlindung atau pada
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

perairan yang lebih dalam dan berarus tenang, pertumbuhannya


cenderung tegak dan tinggi. Pada perairan yang lebih dalam, spons
cenderung memiliki bentuk tubuh yang lebih simetris dan lebih besar
sebagai akibat dari lingkungan yang lebih stabil apabila dibandingkan
dengan jenis yang sama yang hidup pada perairan yang dangkal. Spons
pada jenis yang sama pertumbuhannya cenderung semakin besar dan
semakin tinggi dengan bertambahnya kedalaman laut (Amir, 1996).
Spons secara morfologi berbentuk sederhana seperti tabung
dengan dinding tipis tidak teratur serta tubuhnya berpori (ostium).
Spons membuat kerak pada batu, cangkang, tongkat atau tumbuhtumbuhan (Romimohtarto dan Juwana, 2001). Tubuh spons asimetri
(tidak beraturan), meskipun ada yang simetri radial, berbentuk seperti
tabung, vas bunga, mangkuk, atau tumbuhan, memiliki warna yang
bervariasi. Dahuri (2003) melaporkan beberapa jenis spons ada yang
bercabang seperti pohon, berbentuk seperti sarung tinju dan cawan
sedangkan yang lainnya berbentuk kubah. Spons banyak dijumpai di
laut dengan bentuk dan warna yang sangat beraneka dan sangat
menarik, hal ini disebabkan oleh zooxanthellae yang hidup dalam
jaringan tubuhnya. Spons yang hidup di lingkungan yang gelap akan
berbeda warnanya dengan spons sejenis yang hidup pada lingkungan
yang cerah.
Struktur tubuh spons terdiri dari tiga lapisan yaitu epidermis,
mesoglea dan endodermis. Epidermis merupakan lapisan luar yang
terdiri atas sel-sel epitelium berbentuk pipih (pinakosit). Pinakosit
berfungsi sebagai pelindung. Endodermis terdiri atas sel berflagela
yang berfungsi mencerna makanan dan bercorong yang disebut sel
leher atau koanosit. Struktur sel spons ditunjukkan pada berikut:

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

Gambar 1.2 Struktur Spons


Struktur Sel Spons a. Oskula, b. Sel penutup (pinakosit), c. Sel
amobosit, d. Sel pori (porosit), e. Pori saluran masuk (ostia), f. Telur, g.
Spikula triaxon, h. Mesohil, i. Sel mesenkim, j. Bulu cambuk (flagela),
k. Sel kolar (choanosit), 1. Sklerosit, m. Spikula monoaxon (Amir,
1996).
3. Reproduksi dan Daur Hidup Spons
Porifera berkembang biak secara aseksual maupun seksual.
Reproduksi yaitu terjadi dengan cara pembentukan umumnya
fragmentasi yaitu potongan-potongan dari spons yang patah dapat
hidup dengan cadangan makanan yang ada ditubuhnya kemudian
bergenerasi membentuk tunas baru untuk menjadi spons dewasa
(Bergquist, 1978). Cara reproduksi fragmentasi yang dapat ditiru untuk
membuat kultur spons.
4. Kandungan Kimia Spons
Callyspongia sp. merupakan salah satu jenis spons yang banyak
tumbuh di perairan Indonesia. Spesies ini merupakan salah satu biota
laut yang memiliki kandungan berbagai metabolit sekunder diantaranya
steroid, alkaloid, flavonoid, dan terpenoid yang nantinya dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku obat (Menggelea, F.P., dkk. 2015).
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

Kandungan metabolit sekunder dari spons yang mengandung


alkaloid sebanyak 194 jenis; 151 jenis yang mengandung terpenoid,
dan 121 jenis mengandung steroid. Sebagian besar spons mengandung
alkaloid, lalu terpenoid, kemudian steroid. Setiap spons tidak selalu
memiliki kandungan metabolit sekunder yang sama dengan spons
lainnya demikian pula golongannya ada yang mengandung hanya
alkaloid saja, atau steroid saja, atau terpenoid saja, ataupun dua ataupun
ketiga-tiganya. Hal ini dapat dimengerti karena pembentukan metabolit
sekunder dalam spons sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya
(Bergman dan Feeney 1990, dalam Suparno, 2005).
5. Simbosis Spons dan Bakteri
Interaksi antara organisme yang hidup dilingkungan akuatik
sangat beragam dan peran penting pada interaksi tersebut dimainkan
oleh mikroorganisme. Mikroorganisme banyak yang ditemukan tumbuh
secara komensal di permukaan juga di dalam berbagai binatang
akuatik, beberapa diantaranya terdapat di organ pencernaannya dimana
sejumlah bakteri sering terdapat. Mikroorganisme dimakan dan
digunakan sebagai makanan oleh sejumlah hewan yang hidup baik itu
di sedimen maupun di perairan sehingga faktor nutrisi. Beberapa hewan
dapat hidup dengan sejumlah tetentu bakteri maupun fungi (Suparno,
2005).
Lubang yang porus pada spons mengandung sejumlah koloni
bakteri (Bertrand dan Vacelet, 1971 dalam Rheinhemer, 1991). Hasil
penelitian terhadap spons Microcionia prolifera, ditemukan bakteri dari
genus

Psedomonas,

Aeromonas,

Vibrio,

Achromobacter,

Flavobacterium dan Corynebacterium serta Micrococcus yang biasa


terdapat di perairan sekitarnya (Madri et al., dalam Rheinhemer, 1991,
dalam Suparno, 2005).
Pola makanan spons yang khas yaitu filter feeder (menghisap
dan menyaring) dapat memanfaatkan jasad renik disekitarnya sebagai
sumber nutrien diantaranya bakteri, kapang dan xooxanthela yang
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

hidup pada perairan tersebut. Sedangkan kapang, bakteri dan


xoxanthelae hidup dan berkembang biak dengan memanfaatkan nutrien
yang terdapat pada spons tersebut. Myers et al (2001) melaporkan
bahwa terdapat hubungan simbiotik antara spons dan sejumlah bakteri
dan alga, dimana spons menyediakan dukungan dan perlindungan bagi
simbionnya dan simbion menyediakan makanan bagi spons. Alga yang
bersiombiosis dengan spons menyediakan nutrien yang berasal dari
produk fotosintesis sebagai tambahan bagi aktifitas normal filter feeder
yang dilakukan sponge (Suparno, 2005).
Pembentukan senyawa bioaktif pada spons sangat ditentukan
oleh prekursor berupa enzim, nutrien serta hasil simbiosis dengan biota
lain yang mengandung senyawa bioaktif seperti bakteri, kapang dan
beberapa jenis dinoflagellata yang dapat memacu pembentukan
senyawa bioaktif pada hewan tersebut (Scheuer, 1978 dalam Suryati et
al, 2000). Senyawa terpenoid dan turunannya pada berbagai jenis
invertebrata termasuk spons atau beberapa spesies dinoflagellata dan
zooxanthelae yang memiliki senyawasenyawa yang belum diketahui,
yang

kemudian

diubah

melalui

biosintesis

serta

fotosintesis

menghasilkan senyawa bioaktif yang spesifik pada hewan tersebut


(Faulkner dan Fenical, 1977 dalam Suryati et al, 2000, dalam Suparno,
2005).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suryati et al
(2000), terhadap sejumlah spesies spons yang hidup di perairan
Spermonde, Sulawesi Selatan, kelimpahan kapang dan bakteri yang
bersimbiosis cukup bervariasi pada sponge seperti diperlihatkan pada
Tabel 2. Kelimpahan jenis bakteri yang diisolasi dari spons pada
umumnya didominasi oleh bakteri Aeromonas, Flavobacterium, Vibrio
sp, Pseudomonas sp. Acinebacter dan Bacillus sp (Suparno, 2005).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

11

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan
a. Batang pengaduk
b. Botol kaca
c. Corong
d. Gelas ukur
e. Gelas kimia
f. Kertas saring
g. Kain flanel
h. Lakban hitam
i. Timbangan digital
j. Wadah toples
2. Bahan yang digunakan
a. Aluminium foil
b. Etanol 70%
c. Spons
B. Cara Kerja
1. Pengambilan dan pengolahan sampel spons
a. Pengambilan sampel dilakukan di saat air laut surut untuk
mempermudah proses pengambilan sampel
b. Sampel dikumpulkan sesuai dengan karakteristik pengambilannya
c. Sampel spons yang telah dikumpulkan dibersihkan dengan air
mengalir agar kotoran yang melekat pada sampel mudah dipisahkan
d. Dibebas garamkan sampel, dengan cara sampel direndam didalam air
tawar selama 5-10 menit, diharapkan kadar garam pada sampel keluar
e. Sampel kembali dibersihkan dengan air mengalir untuk memastikan
tidak ada kotoran yang melekat pada sampel
f. Sampel dipotong kecil-kecil, tujuannya agar luas permukaan sampel
dibuat lebih besar sehinnga cairan penyari lebih mudah untuk menarik
zat-zat yang terkandung dalam sampel
g. Sampel diangin-anginkan, untuk mengurangi kadar air pada sampel
agar memudahkan dalam proses maserasi
h. Dilakukan maserasi
2. Ekstraksi sampel dengan metode maserasi
a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
b. Ditimbang sampel sebanyak 500 g
c. Sampel direndam dengan pelarut etanol 70%, sebanyak 1750 mL.
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

12

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

d. Sampel ditempatkan pada wadah toples, ditutup dan dibiarkan selama


3 hari pada temperatur kamar dan terlindungi dari cahaya dengan
sesekali pengadukan
e. Setelah 3 hari, disaring kedalam wadah penampung atau botol kaca,
kemudian ampas diperas dengan menggunakan kain flanel dan
ditambah cairan penyari lagi secukupnya dan diaduk kemudian
disaring lagi sehingga diperoleh sari.
f. Sari yang diperoleh ditutup dan disimpan pada tempat yang
terlindungi dari cahaya selama 3 hari, kemuduian disaring
menggunaksan kertas saring hinnga diperoleh filtrate
g. Filtratnya dipekatkan atau diuapakan hingga kental

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

13

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

BAB IV
DATA PENGAMATAN
A. Data Pengamatan
Sampe
l
Spons

Berat Sampel
Sebelum
Setelah
500,23

Volume Cairan
Sebelum
Setelah
1500 mL

1740 mL

1. Perhitungan cairan penyari


ekstraksi cairan 100
Cairan Penyari=
ekstraksi penyari

1500 mL
100
1740 mL

86,20

2. Perhitungan Rendemen
Bobot Ekstrak Kental
Rendemen=
100
Bobot Sampel Awal

100
500,23

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

14

Nilai
Rendamen

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

BAB V
PEMBAHASAN
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan
pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur
ruangan (kamar).
Prinsip metode ekstraksi maserasi yang di lakukan dengan cara
merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari
pada temperature kamar terlndung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke
dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang
konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan di ganti oleh cairan penyari
dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai
terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.
Selama proses maserasi di lakukan pengadukan.
Metode maserasi dipilih karena maserasi merupakan metode ekstraksi
yang pengerjaannya dan alat-alat yang digunakan sederhana. Pemilihan cara
maserasi juga bertujuan untuk menghindari terjadinya penguraian zat aktif yang
terkandung dalam sampel oleh pemanasan tinggi.
Sebelum diekstraksi, spons laut dicuci kemudian dibebas garamkan. Hal
ini dilakukan selama 10-15 menit menggunakan air tawar diharapkan agar
kandungan garam pada sampel berkurang. Kemudian dipotong kecil untuk
mempercepat proses pengekstraksi, karena semakin kecil sampel maka semakin
besar luas permukaannya dan larutan penyari lebih mudah masuk kedalam sel.
Pada proses ekstraksi spons ini tidak dilakukan proses pengeringan,
karena saat pengeringan membutuhkan bahan pengawet. Jika menggunakan
bahan pengawet maka akan mempengaruhi kandungan sampel saat dilakukan
KLT (Kromatografi Lapis Tipis).
Pelarut yang digunakan untuk penyarian zat aktif adalah ethanol 70%
karena etanol merupakan larutan penyari yang bersifat universal, mudah didapat
dan selektif. Sehingga penyarian dengan menggunakan pelarut ethanol
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

15

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

diharapkan mampu menarik semua zat-zat atau senyawa dalam sampel spons
yaitu alkaloid, terpenoid, dan steroid yang bersifat polar dan non polar karena
sifatnya yang semi polar. Selain itu etanol tidak toksik serta ekonomis.
Proses ekstraksi dengan metode maserasi ditempatkan pada wadah
toples, ditutup dan dibiarkan selama 3 hari pada temperatur kamar dan
terlindungi dari cahaya dengan sesekali pengadukan. Hal ini dilakukan untuk
meratakan konsentrasi larutan diluar potongan sampel sehingga tetap terjaga
adanya derajat konsentarasi yang sekecil-kecilnya antara larutan diluar sel dan
didalam sel.
Ekstrak kental spons diperoleh dengan cara penguapan di atas pemanas
pada suhu 50 OC. Nilai rendemen yang diperoleh yaitu X%. Nilai rendemen
mempengaruhi

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

16

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengambilan ekstrak dengan metode maserasi yaitu dengan merendam
simplisia kedalam cairan penyari selama tiga hari dengan sesekali
diaduk.
2. Ekstrak spons diperoleh dengan cara maserasi dengan cairan penyari
alcohol 70%, proses ini dilakukan selama tiga hari dengan selisih
pengadukan tiap 4 jam. Nilai rendemen yang diperoleh yaitu X%.
3. Hewan Spons merupakan salah satu biota laut yang memiliki
kandungan berbagai metabolit sekunder diantaranya steroid, alkaloid,
flavonoid, dan terpenoid yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku obat.
B. Saran

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

17

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

MASERASI

DAFTAR PUSTAKA
Amir, I. dan A. Budiyanto. 1996. Mengenal Spons Laut (Demospongiae)
Secara Umum. Oseana. 21. 15-31.
Faulkner, D. J., Sponges, Marine Natural Products, Serpps Institution,
University of Oceanografi, University of California, San Diego, 11,
1993, 231-247.
Jasin, M, Zoologi Invertabrata Untuk Perguruan Tinggi, cetakan keempat,
Penerbit Sinar Jaya, Surabaya, 1992, 89-102.
Kanagasabhapathy, M., Sasaki, H., Nakajima, K., Nagatan, K., and Nagata, S.
2005. Inhibitory Activities Of Surface Associated Bacteria From The
Marine Pseudocratina Purpurea. Microbes and Environtment. 20: 178185.
Menggelea, F.P., dkk. 2015. Uji Efek Antibakteri Jamur Endosimbion Spons
Laut Callyspongia Sp. terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa dan
Eschericia coli. Jurnal. Manado: Universitas Sam Ratulangi
Sidik dan H mudahar.2000. Ekstraksi Tumbuhan Obat, Metode dan FaktorFaktor yang Mempengaruhi Mutu Produksinya. jakarta, 12-15.
Stachowitsch, M, The Invertebrates, An Ilusctated Glosary, Department of
Marine Biology Institute of zoologi, Vienna, Austria, 1992, 13-18.
Sulistyaningrum dkk. 2011. Maserasi Curcuma aerugenusaI. Universitas
Sebelas Maret
Suparno. 2005. Kajian Bioaktif Spons Laut (Porifera: Demospongiae) Suatu
Peluang Alternatif Pemanfaatan Ekosistem Karang Indonesia dalam
dibidang Farmasi. Makalah. Bandung: Institut Pertanian Bogor

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

18