Anda di halaman 1dari 4

Bab 2 Teori Dasar mengenai tanah

2.1 Secara Klasifikasi Tanah


Sistem klasifikasi tanah berdasarkan tekstur tanah, distribusi ukuran butir dan plastisitas tanah menurut United
State Department of Agriculture (USDA) adalah:
a. Pasir : ukuran butiran antara 2,0 0,05 mm
b. Lanau : ukuran butiran 0,05 0,002 mm
c. Lempung : ukuran butiran < 0,002 mm
atau dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1 Klasifikasi tanah menurut USDA


Menurut AASHTO tanah diklasifikasikan ke dalam tujuh kelompok besar, yaitu A-1 sampai A-7. Tanah dengan
klasifikasi A-1, A-2 dan A-3 adalah tanah berbutir yaitu 35% atau kurang jumlah butiran tanah tersebut lolos
ayakan No.200, sedangkan tanah dengan klasifikasi A-4, A-5, A-6 dan A-7 adalah tanah yang lebih dari 35%
dari butirannya lolos ayakan No. 200.
Sedangkan klasifikasi tanah oleh USCS (Unified Soil Classification System) diuraikan sebagai berikut:
a. Tanah berbutir kasar (Coarse Grained Soil), yaitu tanah kerikil dan pasir, dimana kurang dari 50% berat total
contoh tanah lolos ayakan No.200. Simbol dari kelompok ini G (Gravel) atau tanah berkerikil dan S (Sand)
atau tanah berpasir.
b. Tanah berbutir halus (Fine Grained Soil), yaitu lebih dari 50% berat total contoh tanah lolos ayakan No. 200
dan diberi simbol M untuk lanau anorganik, C untuk lempung anorganik, O untuk lanau organik dan
lempung organik.
dimana simbol:
W = Well Graded (tanah dengan gradasi baik),
P = Poorly Graded (tanah dengan gradasi buruk),
L = Low Plasticity (plastisitas rendah, LL<50),
H = High Plasticity (plastisitas tinggi, LL> 50).
2.2 Secara Mineral Tanah

Lempung sebagian besar terdiri dari partikel mikroskopik dan submikroskopik yang berbentuk lempenganlempengan pipih dan merupakan partikel-parikel dari mika, mineral-mineral lempung dan mineral-mineral
sangat halus lainnya.
a. Mineral lempung
Mineral lempung merupakan senyawa aluminium silikat yang kompleks dan terdiri dari satu atau dua unit dasar,
yaitu Silika Tetrahedra dan Aluminium Oktahedra.
Mineral Kaolinite terdiri dari tumpukan lapisan-lapisan dasar lembaran-lembaran kombinasi Silica-Gibbsite.
Setiap lapisan dasar tersebut mempunyai tebal kira-kira 7,2 Angstrom (1 Angstrom = 10 -10 m). Tumpukan
lapisan-lapisan tersebut terikat oleh ikatan Hydrogen (Hydrogen Bonding). Mineral kaolinite berujud seperti
lempengan-lempengan tipis, masing-masing dengan diameter kira-kira 1.000 Angtrom sampai 20.000 Angtrom
dan ketebalan berkisar antara 100 Angstrom sampai 1000 Angstrom. Luas permukaan (Specific Surface) partikel
kaolinite per unit massa adalah kira-kira 15 m2/gram. Struktur dari mineral Kaolinit.
Mineral Illite terdiri dari lembaran Gibbsite yang diapit oleh dua lembaran Silica. Lapisan-lapisan Illite terikat
satu sama lain oleh ion-ion Kalium (Potassium) dan muatan negatif yang diperlukan untuk mengikat ion-ion
Kalium tersebut diperoleh dengan adanya penggantian sebagian atom Silikon pada lembaran Tetrahedra oleh
atom-atom aluminium tanpa mengubah bentuk kristal utama yang disebut substitusi Isomorf. Pada
montmorillonite terjadi substitusi isomorf antara atom-atom magnesium dan besi menggantikan sebagian atomatom kalium seperti pada illite. Partikel montmorillonite mempunyai dimensi mendatar dari 1000 Angtrom
sampai 5000 Angstrom dan ketebalan 10 Angstrom sampai 50 Angstrom. Luas spesifiknya sekitar 800 m2/gram.

2.2 Tanah Mengembang


Tanah mengembang atau disebut juga dengan expansive soil, adalah tanah yang
memiliki ciri-ciri
kembang susut yang besar, mengembang pada musim hujan dan menyusut pada
musim kemarau.
Besarnya pengembangan atau penyusutan tidak merata dari suatu titik ke titik
lainnya sehingga
menimbulkan diffential movement.
Banyak negara-negara di dunia yang menghadapi masalah tanah mengembang
seperti Amerika
Serikat, Israel, Canada, Australia, Afrika selatan dan lain-lain. Kerugian yang
diakibatkan oleh
tanah mengembang diantaranya adalah:
1. Pengembangan (heave) dan retak (cracking) pada permukaan jalan raya
2. Kelebihan tegangan lateral pada dinding penahan tanah
3. Heave dan buckling pada slab lantai
4. Heave dan buckling pada dinding penahan
5. Berkurangnya daya dukung dan kuat geser tanah
Proses pengembangan (swelling) dan penyusutan (Shrinking) tanah sebagian besar
adalah akibat
peristiwa kapiler atau perubahan kadar air pada tanah tersebut (Gambar 1.). Tanahtanah yang
banyak mengandung lempung mengalami perubahan volume ketika kadar air
berubah.
Pengurangan kadar air yang diikuti oleh kenaikan tegangan efektif menyebabkan
volume tanah
menyusut dan sebaliknya penambahan kadar air menyebabkan pengembangan.
Gambar 1. Peristiwa Kapiler (Interaksi Antara Partikel Lempung dan Air)

Expansive Soils Formation


As Igneous rock (primarily volcanic ash) breaks down through chemical weathering, it creates
the clays.
Weathering breaks the parent rock apart and allows the atoms to recrystalize.
These form Silicon Tetrahedron Sheets
and Aluminum Octahedral Sheets.
Wyoming Multi-Hazard Mitigation Plan 7.2 June 2011

Kaolinites are formed in well drained soils, with an abundance of Oxygen, Silicon and
Aluminum. Since the constituents are "pure", these form very regular shapes which bind
together in regular structures. These are held together in large stacks by strong Hydrogen
Bonds.
Montmorillonites are formed in poorly
draining soils so that a wide variety of
atomic species are available for
recrystalization. When the aluminum
octahedtrals are trying to form, sometimes
"isomorphic substitution" occurs in which a
magnesium atom substitutes for an
aluminum atom. This creates irregular
shapes and unbalanced charges with weak
"van der Waals" forces between them.
To be electrically balanced, montmorillonites develop micelles with water and cations.
Wyoming Mlti-Hazard Mitigation Plan 7.3 June 2011
Depending on the environment in which the clays form, they may be dispersed or
flocculated.

This is the condition most "soils" (like the black soils) are in.
Wyoming Multi-Hazard Mitigation Plan 7.4 June 2011
Over geologic time, these may be compressed and form clay to claystone to shale to
schist.
Hence, the mineral has the potential, the environment has the cause. (Edgar)
Some Wyoming clays have the potential to shrink and swell when they become wetted or dried.
These clays are primarily montmorillonites. There is one type of montmorillonite, sodium
montmorillonite (commonly known as bentonite), that is especially prone to shrinking and
swelling. Another montmorillonite, calcium montmorillonite, also shows some shrink-swell
capabilities. Areas where these clays are known to be present are shown in Figure 7.1. All of the
areas shown on the map are geological formations that contain bentonite, except for the Casper
Mountain area in Natrona County where calcium montmorillonite is present. There are other
areas in Wyoming with soils that have a shrink-swell component due to montmorillonites that are
included in the soils. Those soils have not been completely mapped.
Image A, initial view; Image B, after a small amount of water has been introduced; Image C, 48 hour time lapse.
http://www.home-inspections-radon-testing.com/expansive_soils Accessed 5/26/2011

The hazard these expansive soils create can be significant although they have, for the most part,
been recognized and mitigated in urbanized areas. Many of the expansive soils do not create large
areas of destruction; however, they can disrupt supply lines (i.e. roads, power lines, railways, and
bridges) and damage structures. Expansive soils do not change size quickly. (See Images, Page
7.3) Observing damage in real-time can sometimes be difficult. Although damage may not occur
in a matter of minutes, it still has potential to severely damage structures and roads over time if
not sufficiently mitigated.