Anda di halaman 1dari 14

KTI DIII FARMASI

Jumat, 27 Maret 2015

KTI DIII FARMASI 2012 STKES BHAKTI PERTIWI LUWU


RAYA PALOPO

Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Jalan Terhadap


Pelayanan Obat di
Puskesmas Bara Permai
Kota Palopo

Nama
Nim

Oleh:
: Mirwan
: Df.12.03.036

STIKES BHAKTI PERTIWI LUWU


RAYA PALOPO
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hak asasi manusia. Setiap orang mempunyai hak
untuk hidup layak, baik dalam kesehatan pribadi maupun keluarganya termasuk
didalamnya mendapatkan kesehatan yang baik. Pelayanan kesehatan dilakukan
oleh unit pelayanan kesehatan yaitu tempat dimana diselenggarakan upaya
kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta pemulihan kesehatan. pelayanan kesehatan dapat
diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta, dalam bentuk pelayanan kesehatan
perorangan atau pelayanan kesehatah masyarakat. (Soedarsono, 2009).
Upaya

kesehatan

adalah

setiap

kegiatan

untuk

memelihara

dan

meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.


Salah satunya berupa jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat yaitu suatu
cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna berdasarkan asas
usaha bersama dan kekeluargaan, yang berkesinambungan dan dengan mutu yang
terjamin serta pembiayaan yang dilaksanakan secara praupaya (Anonim, 2009).
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke
pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical Care yaitu bentuk pelayanan dan
tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien. Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula
hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi pelayanan yang
komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien.
Konsep pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical Care) merupakan pelayanan yang
dibutuhkan dan diterima pasien untuk menjamin keamanan dan penggunaan obat
yang rasional, baik sebelum, selama, maupun sesudah penggunaan obat yang
sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) di apotek. Ruang lingkup
dalam pelayanan farmasi harus dilaksanakan dalam kerangka system pelayanan
kesehatan yang berorientasi pada pasien. (Soedarsono, 2009)
Puskesmas Bara Permai merupakan salah satu puskesmas yang terletak di
kawasan Perumahan Pepabri yang banyak dikunjungi oleh pasien yang berobat baik
dari dalam maupun luar Perumahan Pepabri. Berdasarkan hasil wawancara dengan
beberapa klien/pasien di Puskesmas Bara Permai, didapatkan data bahwa beberapa
pasien yang mendapat pelayanan obat di Puskesmas Bara Permai merasa kurang

puas. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tingkat kepuasan pasien rawat
jalan terhadap pelayanan obat di Puskesmas Bara Permai. Untuk dapat menentukan
kebijakan pelayanan yang tepat, khususnya dalam pelayanan kepada pasien, diperlukan
kajian tentang dimensi kualitas pelayanan kepada pasien Puskesmas Bara Permai.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Jalan Terhadap Pelayanan
Obat di Puskesmas Bara Permai Kota Palopo?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Tingkat Kepuasaaan Pasien Rawat Jalan Terhadap
Pelayanan Obat di Puskesmas Bara Permai Kota Palopo
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui hubungan Pasien dengan Ketanggapan (Responsiveness),
Kehandalan (Reliability), Jaminan (Assurance), dan Empati (Emphaty) dalam menilai
suatu pelayanan obat di Apotek Puskesmas Bara Permai Kota Palopo.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari Penelitian ini adalah:
1. Bagi Institusi Pendidikan, sebagai bahan bacaan dan wawasan bagi mahasiswa
dalam hal pemahaman, perkembangan, dan pengetahuan tentang kepuasaan
pasien dalam pelayanan obat di Puskesmas Bara Permai.
2. Bagi pengelola Puskesmas Bara Permai, untuk memperoleh gambaran secara
umum mengenai kepuasan pasien yang dapat digunakan di Puskesmas Bara
Permai Kota Palopo, sehingga diupayakan peningkatan sistem pelayanan melalui
tingkat kepuasaan pasien.
3. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan dan pengetahuan dengan meninjau
langsung ke lokasi penelitian mengenai gambaran Tingkat Kepuasan Pasien Rawat
Jalan Terhadap Pelayanan Obat di Puskesmas Bara Permai Kota Palopo.
4. Bagi peneliti selanjutnya, sebagai bahan referensi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Uraian Umum Tentang Apotek
Apotek adalah suatu tempat tertentu dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Sediaan farmasi yang dimaksud
adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan
dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan (Keputusan Menkes RI
Nomor 1027/MenKes/SK/IX/2004).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No1027/MenKes/SK/IX/2004, apotek adalah
tempat tertentu tempat dilakukan pekerjaan dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan
lainnya kepada masyarakat. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik.
Perbekalan

kesehatan

semua

bahan

selain

obat

dan

peralatan

yang

diperlukan

untuk

menyelenggarakan upaya kesehaan, yang bertanggung jawab dalam mengelola apotek adalah
seorang apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA).
Menurut PP No. 25 tahun 1980 tugas dan fungsi apotek yaitu sebagai tempat pengabdian
profesi seorang Apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan. Sarana Farmasi yang
melakukan pengubahan bentuk dan penyerahan obat dan bahan obat. Sarana penyalur perbekalan
farmasi yang harus mendistribusikan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.
Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomer 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
pasal 1, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh
apoteker (Peraturan Pemerintah, 2009). Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1027 tahun
2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek, yang dimaksud dengan apotek adalah
tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi,
perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat
tradisional dan kosmetik. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang
diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Dan yang termasuk pekerjaan kefarmasian
adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas
resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan
sumpah jabatan apoteker. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kerja kefarmasian oleh apoteker, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 51
tahun 2009.
Tugas dan fungsi menurut Peraturan Pemerintah RI menurut Nomor 25 Tahun 1980, yaitu:

1. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah


jabatan.
2. Sarana farmasi untuk melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran,
dan penyerahan obat atau bahan obat.
3. Sarana penyaluran perbekalan farmasi dalam menyebarkan obat-obatan yang
diperlukan masyarakat secara luas dan merata.
B. Uraian Umum tentang Puskesmas Bara Permai.
Adapun Uraian Umum dari Puskesmas Bara Permai yaitu sebagai berikut:
a. Profil dari Puskesmas Bara Permai.
Puskesmas Bara Permai terletak di jalan Nasution Kompleks Perumahan
Pepabri Kota Palopo. Puskesmas Bara Permai berdiri sejak tahun 1990. Puskesmas
Bara Permai memiliki luas wilayah 15 km 2dengan jumlah desa atau kelurahan
sebanyak 4 kelurahan yang terdiri dari kelurahan Mancani, kelurahan Batu
Walenrang, kelurahan Buntu Datu dan kelurahan Tobulung dengan jumlah
penduduk sebanyak 9.890 jiwa yang rata-rata jiwa / rumah tangga yaitu 4,9
jiwa. Puskesmas Bara Permai terdiri dari 4 Puskesmas Pembantu (Pustu) yang
terdiri dari Pustu Mancani, Pustu Batu Walenrang, Pustu Buntu Datu, dan Pustu
ToBulung.
Puskesmas Bara Permai memiliki pegawai yang terdaftar sebagai Pegawai
Negeri Sipil (PNS) pada tahun 2014 sebanyak 28 orang. Pegawai Negeri Sipil (PNS)
di bagian Bidan Kelurahan tercatat sebanyak 4 orang (Tahun 2014).
Kepadatan penduduk / km 2 ( laki-laki dan Perempuan) di wilayah Puskesmas
Bara Permai sebanyak 2644,12 jiwa yang terdiri dari kelurahan Mancani sebanyak
561,32, kelurahan Batu Walenrang sebanyak 513,99, kelurahan Buntu Datu
sebanyak 840,35 dan kelurahan Tobulung sebanyak 728,46.
b. Visi dan Misi Puskesmas Bara Permai.
1. Visi.
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah
tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat. Kecamatan
Sehat adalah gambaran masayarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai
melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan
dan berperilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya. Indikator Kecamatan Sehat yang ingin dicapai mencakup 4

indikator utama yakni: Lingkungan sehat, Perilaku sehat, Cakupan pelayanan


kesehatan yang bermutu, Derajat kesehatan penduduk kecamatan.
Rumusan visi untuk masing-masing puskesmas harus mengacu pada visi
pembangunan kesehatan puskesmas di atas yakni terwujudnya Kecamatan Sehat,
yang harus sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah kecamatan
setempat.
2. Misi.
Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah
mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional. Misi tersebut
adalah:
1) Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.
2) Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah
kerjanya.
3) Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan.
4) Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat
berserta lingkungannya.

C. Uraian Singkat Tentang Pelayanan Obat


1. Pengertian
Pelayanan obat adalah penyerahan obat yang benar kepada pasien yang
benar, dalam jumlah dan dosis yang diresepkan secara rasional, dengan petunjuk
yang jelas dan dalam wadah yang dapat memelihara khasiat obat dengan disertai
informasi yang diperlukan. (Eko sulistiono, 2008)
2. Etika Pelayanan obat :
Pelayanan obat terutama pada saat penyerahan obat dan pemberian
informasi kepada pasien, petugas harus memperhatikan etika dalam pelayanan
kesehatan, karena disamping perlu sopan santun dan kesabaran dalam melayani
pasien, juga karena pasien sebagai penderita penyakit biasanya dalam keadaan
tidak sehat atau kurang stabil emosinya. Kesadaran petugas bahwa pasien dan
keluarganya perlu ditolong terlepas dan status sosial, golongan dan agama atau
kepercayaannya, serta pengetahuan yang terbatas. Pasien memerlukan bantuan
agar tidak mengalami bahaya karena ketidak tahuannya tentang penyakit dan
pengobatan.

Petugas harus menyadari bahwa pasien berhak menerima informasi yang


baik dan benar, serta pasien berhak dilindungi terhadap penyakit. Begitu juga
penyampaian informasi yang menyangkut efek samping atau keadaan tingkat
keparahan penyakit pasien hendaklah disampaikan secara hati-hati dan agar
kerahasiaan penyakitnya dapat dijaga dengan sebaik-baiknya. (Eko sulistiono,
2008).
3. Peran Apoteker Dan Asisten Apoteker Dalam Pelayanan Obat
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan
sumpah jabatan apoteker, mereka yang berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia
sebagai apoteker. Sedangkan asisten apoteker adalah mereka yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan

yang

berlaku

berhak

melakukan

pekerjaan

kefarmasian sebagai asisten apoteker. (Permenkes No. 1332/MENKES/SK/X/2002).


Profesi farmasi termasuk profesi yang harus ditingkatkan peranannya. Dalam
pelayanan kefarmasian profesi farmasi dalam hal ini apoteker, dan asisten apoteker
harus memberikan pelayanan bermutu kepada pasien. asisten apoteker yang
bekerja pada pelayanan kesehatan merupakan perpanjangan tangan dari sebagian
tugas seorang apoteker. Asisten apoteker yang bekerja dibawah pengawasan
apoteker merupakan ujung tombak dari pelayanan di apotek, yang akan melayanai
pasien dengan baik serta memberikan informasi tentang obat dan perbekalan
kesehatan yang ditulis dokter dalam resepnya. Dalam melakukan pekerjaan
kefarmasian siperlukan sikap hati-hati dan ketelitian tinggi, karena apabila ada
kesalahan akan sangat merugikan pasien bahkan bisa mengancam jiwa pasien.
(Soedarsono, 2009).
D. Uraian Singkat Tentang Kepuasan
Salah satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan perorangan di
puskesmas adalah kepuasan pasien. (Dr. Sudibyo Supardi, 2008)
Kepuasan di defenisikan sebagai pelayanan pasca konsumsi, bahwa suatu
produk yang di pilih dapat memenuhi atau melebihi harapan konsumen, sehingga
mempengaruhi proses pengambilan keputusan untuk pembelian ulang produk yang
sama. Pengertian produk mencakup barang, jasa, atau campuran antara barang dan
jasa. Produk puskesmas adalah jasa pelayanan kesehatan. (Dr. Sudibyo Supardi,
2008).

Atau dengan defenisi lain kepuasan adalah suatu keadaan di mana


keinginan, harapan, dan kebutuhan pelanggan(pasien) di penuhi. (Triatmojo, 2006).
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan
kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya. Jadi, tingkat kepuasan
merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
(Supranto, 2006)
Dimensi Kualitas Jasa Menurut Parasuraman dikutip oleh Fandy (2000) ada
lima dimensi pokok untuk menentukan kualitas jasa, dimensi tersebut meliputi :
1. Bukti langsung (tangible), meliputi : fasilitas fisik, perlengkapan pegawai dan sarana
komunikasi.
2. Keandalan (reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan
dengan segera, akurat, dan memuaskan.
3. Daya tanggap (responsiveness), yaitu keinginan para staf untuk membantu para
pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap.
4. Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan, sifat dapat
dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya, risiko atau keragu-raguan.
5. Perhatian (emphaty), meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi
yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan.
Berdasarkan apa yang di sebutkan di atas, pengertian kepuasan pasien dapat
di jabarkan sebagai berikut, Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien
yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang di perolehnya
setelah pasien membandingkannya dengan apa yang di harapkannya. (Imbalo
S.Pohan, 2007).
E. Uraian Umum Tentang Rawat Jalan
Secara sederhana, yang di maksud rawat jalan adalah pelayanan kedokteran
yang di sediakan untuk pasien, bukan dalam bentuk rawat inap (hospitalis). Di
bandingkan dengan pelayan rawat inap, pelayanan rawat jalan ini memang tampak
berkembang lebih pesat. Romener (1981) mencatat terdapat peningkatan angka
pelayanan rawat jalan RS dua sampai tiga kali lebih tinggi dari peningkatan angka
pelayanan rawat inap. Keuntungannya, pasien tidak perlu mengeluarkan biaya untuk
menginap (opname). (Safrudin, 2009).

Lima tahapan alur pelayanan standar puskesmas rawat jalan (Putu


Sudayasa,2010):Jika berkunjung ke pusat pelayanan kesehatan masyarakat
(puskesmas) terdekat, tentu ada perbedaan alur pelayanan yang harus di ikuti,
khususnya antara puskesmas rawat jalan dan puskesmas rawat inap (perawatan).
Perbedaan utama alur pelayanan tergantung pada kasus yang bersifat darurat
(emergency), seperti : serangan penyakit akut, kecelakaan lalu-lintas. Kondisi seperti
ini kemungkinan tidak mengikuti alur baku, bisa langsung menuju ruang gawat
darurat atau ruang tindakan yang terdapat di puskesmas. Bila keadaannya normal
dan wajar saja, maka pada umumnya, pengunjung puskesmas harus mengikuti
prosedur alur pelayanan standar rawat jalan, seperti paparan ringkas berikut ini:
1. Mendaftarkan identitas pasien di ruang loket /kartu :
Pengunjung harus mendaftarkan diri di loket/kartu agar tercatat dalam kartu
kunjungan

pasien,

dengan

menunjukkan

kartu

identitas

(KTP,

ASKES,

Jamkesmas,Jamkesda) yang masih berlaku.


2. Menunggu giliran panggilan di ruang tunggu :
Silahkan menuju ruang tunggu puskesmas, menanti giliran panggilan pelayanan
yang di perlukan.
3. Menuju ruang periksa pelayanan rawat jalan :
Setelah mendapatkan giliran di panggil oleh petugas, pasien di arahkan
langsung menuju tempat pemeriksaan dokter (sesuai keluhan yang di alaminya).
4. Mengambil resep obat di ruang apotek
Pengunjung yang mendapatkan resep obat, setelah di periksa dokter, di mohon
menunggu dengan sabar pelayanan obat yang bisa di tebus langsung di ruangan
apotek puskesmas.
5. Meninggalkan ruangan puskesmas :
Para pengunjung mengecek kembali perlengkapan yang di bawah dan di
wajibkan selalu berpartisipasi aktif menjaga kebersihan dan keasrian ruangan
pelayanan dan halamam puskesmas.
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep dapat di gambarkan dengan bentuk sebagai berikut :
Variabel Indenpenden

Variabel Dependen

Gambar. Kerangka Konsep Penelitian.


Keterangan:
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang
tidak diteliti
: Variabel Indenpenden
: Variabel Dependen

B. Dasar Pemikiran Variabel


Pemahaman mengenai kepuasan/ketidakpuasan masyarakat merupakan
perbedaan antara harapan tentang kinerja suatu pelayanan dengan yang di alami
atau di terima. Dengan menggunakan terminology ini masyarakat merasakan
kepuasan apabila ada kesesuaian persepsi antara harapan dan kenyataan :
1. Ketanggapan (Responsiveness)
Ketanggapan yaitu kemampuan petugas memberikan pelayanan kepada
pasien dengan cepat dan tepat. Dalam pelayanan puskesmas adalah lama waktu
menunggu pasien mulai dari mendaftar sampai mendapat pelayanan tenaga
kesehatan.
2. Kehandalan (Reliability )

Kehandalan yaitu kemampuan petugas memberikan pelayanan kepada pasien


dengan tepat. Dalam pelayanan puskesmas adalah penilaian pasien terhadap
kemampuan tenaga kesehatan.
3. Jaminan (Assurance)
Jaminan yaitu kemampuan petugas memberikan pelayanan kepada pasien
sehingga dipercaya. Dalam pelayanan puskesmas adalah kejelasan tenaga
kesehatan memberikan informasi tentang penyakit dan obatnya kepada pasien.

4. Empati (Emphaty)
Empati yaitu kemampuan petugas membina hubungan, perhatian, dan
memahami kebutuhan pasien. Dalam pelayanan puskesmas adalah keramahan
petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara, keikutsertaan pasien dalam
mengambil keputusan pengobatan, dan kebebasan pasien memilih tempat berobat
dan tenaga kesehatan, serta kemudahan pasien rawat inap mendapat kunjungan
keluarga / temannya.
5. Bukti Langsung (Tangibles)
Bukti Langsung yaitu ketersediaan sarana dan fasilitas fisik yang dapat
langsung dirasakan oleh pasien. Dalam pelayanan puskesmas adalah kebersihan
ruangan pengobatan dan toilet.

BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif cross sectional yakni penelitian
yang mengambil sampel dari suatu populasi dengan menggunakan kuisioner
sebagai pengumpul data.

B. Waktu dan Tempat penelitian


Penelitian akan dilaksanakan di Apotek Puskesmas Bara Permai Kota Palopo.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah pasien rawat jalan yang menebus resep
obat di Apotek Puskesmas Bara Permai Kota Palopo.
2. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah pasien rawat jalan di hitung berdasarkan
rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10 %, sehingga diperoleh 74 sampel
(Lampiran 1) yang di pilih secara acak (cross sectional). Teknik sampling yang
digunakan adalah accidental samplingyaitu subyek yang dijadikan sampel adalah
orang yang dijumpai saat itu saja.
D. Teknik Pengolahan Data
Data yang di peroleh kemudian ditabulasi, diskorsing, dipersentasekan dan
penyajiannya dibuat dalam bentuk tabel dan grafik batang yang disertai dengan
penjelasan.
Adapun

pengolahannya

dilakukan

dengan

menggunakan

skala

( sugiyono, 2008 ) :
1) Pemberian Skor
Untuk skor jawaban selalu

=3

Untuk skor jawaban kadang kadang

=2

Untuk skor jawaban tidak pernah


2) Persentase skor =

=1
100 %

Skor ideal = jumlah responden X 3 ( jawaban tertinngi )


3) Jawaban yang diperoleh berdasarkan persentase skor dibagi 3 kategori, yaitu :
1. Tidak puas

: jika total skor jawaban responden antara


33,33 % - 55,53 %

2. Cukup puas

: jika total skor jawaban responden antara


55,54 % - 77,76 %

3. Puas

: jika total skor jawaban responden antara


77,77 % - 100 %.

Likert

E. Teknik Pengumpulan Data


1. Data diperoleh dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun dalam
bentuk kuesioner dan dibagikan kepada pasien sebagai responden. Kuesioner yang
disusun terdiri dari variabel utama yaitu tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan
obat dengan menggunakan 4 subvariabel yang berdasarkan 5 dimensi yaitu
Ketanggapan , Jaminan, Empati dan Kehandalan kecuali Bukti langsung.
2. Setiap pertanyaan dalam kuesioner disediakan 3 pilihan yaitu : Ya, Kadang-kadang,
dan Tidak.
F. Definisi Operasional
1. Pasien rawat jalan adalah pelayanan kedokteran yang disediakan untuk pasien,
bukan dalam bentuk rawat inap (hospitalis).
2. Ketanggapan (Responsiveness) yaitu kemampuan petugas memberikan pelayanan
kepada pasien rawat jalan dengan cepat dan tepat.
3. Kehandalan (Reliability) yaitu kemampuan petugas memberikan pelayanan kepada
pasien dengan tepat.
4. Jaminan (Assurance) yaitu kemampuan petugas memberikan pelayanan kepada
pasien sehingga dipercaya.
5. Empati (Emphaty) yaitu kemampuan petugas membina hubungan, perhatian, dan
memahami kebutuhan pasien.
6. Bukti Langsung (Tangibles) yaitu ketersediaan sarana dan fasilitas fisik yang dapat
langsung dirasakan oleh pasien.
7. Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat
dari

kinerja

layanan

kesehatan

yang

di

perolehnya

setelah

pasien

membandingkannya dengan apa yang di harapkannya.


8. Pelayanan obat adalah penyerahan obat yang benar kepada pasien, jumlah dan
dosis yang diresepkan secara rasional, petunjuk yang jelas, disertai dengan
informasi pelayanan obat.

Diposkan oleh mirwan assasie di 23.52 Tidak ada komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Beranda
Langganan: Entri (Atom)
Mengenai Saya

mirwan assasie
Lihat profil lengkapku
Arsip Blog

2015 (1)
Maret (1)
KTI DIII FARMASI 2012 STKES BHAKTI PERTIWI LUWU RA...

Template Simple. Diberdayakan oleh Blogger.