Anda di halaman 1dari 9

X.

Pembahasan
1. Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim
Pada percobaan pertama mengenai pengaruh pH terhadap aktivitas enzim,
bertujuan untuk membuktikan pengaruh pH terhadap aktivitas kerja enzim,
khususnya pada enzim amylase pada saliva (air liur). Salah satu tujuan enzim
amylase adalah untuk mendegadrasi karbohidrat polisakarida menjadi karbohidrat
monoksida, yaitu dari amilum menjadi glukosa. Secara teori, enzim bekerja pada
kisaran pH tertentu dan menunjukkan kerja maksimum pada pH optimum. Di luar
pH optimum aktivitas enzim akan terganggu. Pada percobaan ini menggunakan
lima variasi pH pada subtract, di antaranya yaitu pH 1, pH 3, pH 5, pH 7, dan pH
9. Subtract yang dipakai dalam percobaan ini adalah larutan pati.
Tahap pertama yaitu preparasi larutan enzim, dilakukan dengan mengambil
air liur sebanyak 0,2 mL, yang berupa larutan tidak berwarna, dimasukkan ke
dalam labu ukur 50 mL, dan selanjutnya ditambahkan akuades, yang berupa
larutan tidak berwarna, sampai tanda batas. Setelah itu dilakukan preparasi alat
yang digunakan, yaitu dengan menyiapkan enam tabung reaksi, satu tabung reaksi
untuk larutan blanko dan lima tabung reaksi untuk larutan uji.
Larutan Blanko
Untuk membuat suatu larutan blanko di dalam percobaan ini adalah dengan
memasukkan larutan pati 1%, yang merupakan larutan tak berwarna, ke dalam
tabung reaksi. Selanjutnya dibiarkan selama 6 menit, hal ini bertujuan agar
larutan pati terdegradasi secara sempurna. Setelah itu ditambahkan 1 mL larutan
iodine 0.01N, yang merupakan larutan berwarna kuning kecoklatan, menghasilkan
perubahan yang signifikan yaitu berupa larutan berwarna ungu jernih. Hal ini
menunjukkan bahwa pada larutan blanko memiliki kadar amilum yang tinggi,
dibuktikan dengan hasil perubahan warna yang terbentuk menjadi ungu jernih.
Selanjutnya diukur absorbansi menggunakan spektofotometer UV-VIS dengan
panjang gelombang 680 nmNilai absorbansi yang didapatkan dari analisis
spektofotometer UV adalah 0.231.

Larutan Uji

Pada penyiapan larutan uji, disiapkan terlebih dahulu lima tabung reaksi
yang bersih dan kering, selanjutnya masing-masing tabung diberi label sesuai pH
subtract yang digunakan. Subtract yang digunakan adalah larutan pati, yang
merupakan larutan tidak berwarna. 1 mL larutan pati dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang telah disiapkan, proses pemasukkan larutan pati dengan pH yang
berbeda tersebut disesuaikan dengan label yang telah tertera nama pH, hal ini
bertujuan agar tidak tertukar. Selanjutnya dibiarkan selama 5 menit, hal ini
bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara sempurna. Setelah itu ditambahkan
4 tetes larutan enzim, yang merupakan larutan tidak berwarna. penambahan
larutan enzim tidak menghasilkan perubahan yang signifikan, yaitu tetap berupa
larutan tidak berwarna. Selanjutnya dibiarkan selama 1 menit, hal ini bertujuan
agar larutan pati terdegradasi secara sempurna. Setelah itu ditambahkan 1 mL
larutan iodine 0.01N, yang merupakan larutan kuning kecoklatan, menghasilkan
perubahan yang signifikan dari masing-masing tabung, yaitu:
Tabung uji pH 1 menghasilkan larutan berwarna biru (++)
Tabung uji pH 3 menghasilkan larutan berwrana biru
Tabung uji pH 5 menghasilkan larutan berwarna biru (+)
Tabung uji pH 7 menghasilkan larutan berwarna biru (-)
Tabung uji pH 9 menghasilkan larutan berwarna biru (--)
Selanjutnya, kelima tabung tersebut diukur absorbansinya menggunakan
spektofotometer UV-VIS

dengan panjang gelombang 680 nm,

sebagai

penghitungan kadar amilum yang terkadung di dalam masing-masing larutan uji.


Sehingga didapatkan absorbansi sebagai berikut :
menghasilkan perubahan warna sebagai berikut:
Tabung uji pH 1 menghasilkan nilai absorbansi 0,368
Tabung uji pH 3 menghasilkan nilai absorbansi 0,264
Tabung uji pH 5 menghasilkan nilai absorbansi 0,238
Tabung uji pH 7 menghasilkan nilai absorbansi 0,038
Tabung uji pH 9 menghasilkan nilai absorbansi 0,047

Dari nilai absorbansi yang didapatkan, selanjutnya dibuat kurva antara nilai absorbansi
dengan pH subtract yang digunakan.
No.

Sampel

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Blanko
pH 1
pH 3
pH 5
pH 7
pH 9

Absorbansi(W
L 680 nm)
0.719
0.368
0.264
0.238
0.038
0.047

A
0.351
0.455
0.481
0.681
0.672

0.8
0.68

0.7
0.6
0.5

0.67

f(x) = 0.04x + 0.31


R = 0.91

0.48
0.46

0.4
0.35

0.3

Linear (A)

0.2
0.1
0
0

pH

Dari kurva yang dihasilkan, pH optimum ditunjukkan pada pH 7 yang menunjukkan


bahwa kadar amilum yang terkandung sangatlah sedikit. Namun, terdapat kesalahan pada pH
3 yang terbentuk, hal ini ditunjukkannya dari kurva nilai absorbansi yang dihasilkan
mengalami penurunan, sehingga menunjukkan pada pH 3 terdapat kadar amilum yang tinggi,
sehingga menyerupai larutan blanko yang dibuat. Kesalahan yang terjadi karena kesalahan
ketika dalam proses penambahan larutan enzim yang kurang tepat, dimungkinkan

penambahan jumlah larutan enzim yang kurang sempurna (masih kurang, akibat penetesan
larutan enzim) sehingga kadar amilum yang terbentuk menjadi tinggi.
Secara teori, enzim amylase bekeja pada rentang pH optimum 5 8. Sehingga bisa
dinyatakan pH optimum yang terbentuk dari percobaan ini adalah benar.
2. Pengaruh Konsentrasi Terhadap Aktivitas Enzim
Pada percobaan kedua mengenai pengaruh konsentrasi terhadap aktivitas enzim,
bertujuan untuk membuktikan pengaruh konsentrasi terhadap aktivitas kerja enzim,
khususnya pada enzim amylase pada saliva (air liur). Salah satu tujuan enzim amylase adalah
untuk mendegadrasi karbohidrat polisakarida menjadi karbohidrat monoksida, yaitu dari
amilum menjadi glukosa. Secara teori, pada konsentrasi subtract tertentu, penambahan enzim
dengan konsentrasi bertingkat akan meningkatkan jumlah kompleks ES, sehingga jumlah
produk yang terbentuk juga meningkat. Pada percobaan ini menggunakan lima variasi
konsentrasi pada air liur, variasi konsentrasi dilakukan dengan cara pengenceran, yaitu
pengenceran 100 kali, 200 kali, 300 kali, 400 kali, dan 500 kali. Subtract yang dipakai dalam
percobaan ini adalah larutan pati.
Hal pertama yang dilakukan di dalam percobaan ini adalah melakukan preparasi
larutan enzim, yaitu dengan mengambil air liur sebanyak 0.5 mL, yang berupa larutan seperti
lendir yang tidak berwarna, dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL, dan selanjutnya
ditambahkan akuades, yang berupa larutan tidak berwarna, sampai tanda batas, ini
merupakan proses pengenceran 100 kali, untuk pengenceran 200 kali, 300 kali, 400 kali, dan
500 kali dilakukan dengan hal yang sama. Hasil pengenceran yang dilakukan, menghasilkan
perubahan larutan yang tidak signifikan, yaitu semuanya berupa larutan tidak berwarna.
Setelah itu dilakukan preparasi alat yang digunakan, yaitu dengan menyiapkan enam
tabung reaksi, satu tabung reaksi untuk larutan blanko dan lima tabung reaksi untuk larutan
uji
Larutan Blanko
Untuk membuat suatu larutan blanko di dalam percobaan ini adalah dengan
memasukkan larutan pati 1%, yang merupakan larutan tak berwarna, ke dalam tabung reaksi.
Selanjutnya dibiarkan selama 6 menit, hal ini bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara
sempurna. Setelah itu ditambahkan 1 mL larutan iodine 0.01N, yang merupakan larutan
kuning kecoklatan, menghasilkan perubahan yang signifikan yaitu berupa larutan ungu
kehitaman. Secara kasat mata, hal ini menunjukkan bahwa pada larutan blanko memiliki
kadar amilum yang tinggi, dibuktikan dengan hasil perubahan warna yang terbentuk. Namun,

pengamatan secara kasat mata ini akan di buktikan lagi dengan menggunakan
spektofotometer UV dengan panjang gelombang 680 nm, sebagai penghitungan kadar
amilum yang terkadung di dalam larutan blanko. Berbeda dengan proses pembuatan larutan
blanko pada perceboaan satu, di mana pada percobaan kedua yaitu dilakukan pemanasan
0

sampai mencapai suhu 60 C. Hal ini bertujuan agar larutan pati semakin terdegadrasi
sempurna.
Pada larutan ungu kehitaman yang terbentuk dari larutan blanko belum bisa diinjekkan
ke spektofometer UV, karena larutan masih berwarna sangat pekat, sehingga tidak bisa
membaca nilai absorbansi yang diinginkan. Sehingga ditambahkan lagi 8 mL larutan
akuades, yang merupakan larutan tidak berwarna, menghasilkan larutan ungu. Penambahan
akuades adalah tanda sebagai pengenceran. Nilai absorbansi yang didapatkan dari analisis
spektofotometer UV adalah 0.732

Larutan Uji
Pada penyiapan larutan uji, disiapkan terlebih dahulu lima tabung reaksi yang bersih
dan kering, selanjutnya masing-masing tabung diberi label sesuai proses pengenceran pada air
liur yang digunakan. Subtract yang digunakan adalah larutan pati 1%, yang merupakan
larutan tidak berwarna. 1 mL larutan pati 1% dimasukkan ke dalam masing-masing tabung
reaksi yang telah disiapkan. Selanjutnya dibiarkan selama 5 menit, hal ini bertujuan agar
larutan pati terdegradasi secara sempurna. Setelah itu ditambahkan 0.2 tetes larutan enzim
dengan pengenceran yang telah dilakukan, yang merupakan larutan tidak berwarna. Proses
penambahan larutan enzim disesuaikan dengan label yang telah ditempelkan, hal ini
dilakukan agar tidak tertukar. Penambahan larutan enzim pada masing-masing tabung tidak
menghasilkan perubahan yang signifikan, yaitu tetap berupa larutan tidak berwarna.
Selanjutnya dibiarkan selama 1 menit, hal ini bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara
sempurna. Setelah itu ditambahkan 1 mL larutan iodine 0.01N, yang merupakan larutan
kuning kecoklatan, menghasilkan perubahan yang signifikan dari masing-masing tabung,
yaitu:
Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan berwarna biru keunguan
Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan berwarna biru (-)
Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan berwarna biru (+)
Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan berwarna biru (++)
Tabung uji pengenceran 100 kali menghasilkan larutan berwarna biru (+++)

Selanjutnya,

kelima

tabung

tersebut

diukur

absorbansinya

menggunakan

spektofotometer UV-VIS dengan panjang gelombang 680 nm, sebagai penghitungan kadar
amilum yang terkadung di dalam masing-masing larutan uji. Sehingga didapatkan absorbansi
sebagai berikut :
menghasilkan perubahan warna sebagai berikut:
Tabung uji pengenceran 10x menghasilkan nilai absorbansi 0,152
Tabung uji pengenceran 20x menghasilkan nilai absorbansi 0,242
Tabung uji pengenceran 30x menghasilkan nilai absorbansi 0,393
Tabung uji pengenceran 40x menghasilkan nilai absorbansi 0,570
Tabung uji pengenceran 50x menghasilkan nilai absorbansi 0,715

Dari nilai absorbansi yang didapatkan, selanjutnya dibuat kurva antara nilai absorbansi
dengan pH subtract yang digunakan.
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengenceran
Blanko
10 X
20 X
30 X
40 X
50 X

Absorbansi(W
L 680 nm)
0.732
0.152
0.242
0.393
0.570
0.715

0.58
0.49
0.339
0.162
0.017

Dari grafik yang dihasilkan, didapatkan persamaan linear -0.014x + 0.753, dengan R =
0.989. Secara teori, semakan kecil konsentrasi enzim, maka kadar amilum yang terkandung semakin
meningkat. Namun, pada percobaan kami yang telah dilakukan tidak sesuai dengan teori. Dari grafik
yang dihasilkan, pada konsentrasi (pengenceran) 20X, 30X, dan 40X mengalami penurunan. Sedangkan
pada pengenceran 50X mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan ketelitian saat pengenceran air liur,
sebagai larutan enzim. Sehingga kadar amilum kecil yang seharusnya dimiliki oleh enzim yang
berkonsentrasi tinggi, tapi tidak terbentuk. Karena proses pengenceran air liur sangat berperan penting
dalam penentuan konsentrasi larutan enzim yang terbentuk.

XI.

Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. pH optimum (kadar amilum yang terkandung paling kecil) yang terbentuk adalah
pada pH 7.
2. Semakan kecil konsentrasi enzim, maka kadar amilum yang terkandung semakin
meningkat. Nilai regresi yang diperoleh adalah R = 0,989.

J. Jawaban Pertanyaan
1. Buatlah kurva yang menggambarkan hubungan antara kecepatan reaksi enzimatik
( =

) dengan pH !

Jawab:

2. Buatlah kurva antara konsentrasi (pengenceran) enzim dengan kecepatan reaksi


enzimatik ( =

)!

Jawab:
V (Laju Reaksi)

Enzim

Daftar Pustaka
Anna, Poedjadi. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Penerbit UI Press.
Ruddin, Choi.2010. LAPORAN Praktikum Biokimia II Percobaan II Enzim. Jayapura :
Universitas Cendrawasih.
Lehninger AL. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid I. Maggy Thenawijaya, penerjemah.
Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry.
Yuanita, Lenny, dkk. 2010. Perangkat Pembelajaran Biokimia Petunjuk Praktikum
(Karbohidrat, Lipid, Protein). Surabaya: Unesa Press.