Anda di halaman 1dari 3

RSUD

H.HANAFIE
MUARA BUNGO

PELAPORAN EFEK SAMPING OBAT

No. Dokumen:

No. Revisi:

Halaman:

Ditetapkan Oleh:
Direktur RSUD H. Hanafie Muara Bungo

Tgl. Mulai Berlaku:

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. H. Safaruddin, MPH
NIP. 196709302002121001
Pelaporan efek samping obat adalah suatu proses kegiatan pemantauan setiap
respon terhadap obat yang merugikan atau yang tidak diharapkan yang terjadi

1. PENGERTIAN

pada dosis normal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis,
diagnosis, dan terapi serta dalam mengevaluasi pengobatan sesuai formularium
rumah sakit
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah petugas untuk :
a. menemukan efek samping obat sedini mungkin terutama yang berat, tidak
dikenal frekuensinya jarang
b. menentukan frekuensi dan insidental efek samping obat yang sudah dikenali
yang baru saja ditentukan

2. TUJUAN

c.

mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan /mempengaruhi


timbulnya efek samping obat atau mempengaruhi angka kejadian dan hebatnya
efek samping obat

d. menjaga agar efek samping obat yang pernah terjadi tidak dibawa lagi oleh
pasien yang bersangkutan maupun pasien lain dan tidak dimasukkan lagi dalam

3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

persediaan obat
Keputusan direktur RSUD H. Hanafie
1.
Petugas obat menyampaikan formulir Monitoring
Efek Samping Obat (MESO) kepada petugas kesehatan pemeriksa pasien.
2.

Petugas kesehatan melakukan pemantauan


terhadap kemungkinan timbulnya efek samping obat yang dipergunakan dalam
terapi terhadap pasien.

3.

Petugas kesehatan mencatat kejadian efek samping


obat kedalam formulir MESO.

4.

Petugas kesehatan menyerahkan laporan MESO


kepada petugas obat.

5.

Petugas obat melakukan kompilasi data hasil


monitoring efek samping obat yang diterima dari petugas kesehatan.

6.

Petugas obat membuat laporan Monitoring efek


Samping Obat

7.

Kepala instalasi farmasi memeriksa dan


menandatangani laporan Monitoring Efek Samping Obat.

8.

Petugas obat mengirimkan Laporan Monitoring Efek


Samping Obat ke kementerian Kesehatan.

9.

Petugas obat mendokumentasikan arsip Laporan

5. UNIT TERKAIT

RSUD
H.HANAFIE
MUARA BUNGO

Monitoring Efek Samping Obat


Instalasi farmasi , Bidang pelayanan medik, perawat ruangan

PELAYANAN PENGELOLAAN OBAT YANG DIBAWA


SENDIRI PASIEN KE RUMAH SAKIT
No. Dokumen:

Tgl. Mulai Berlaku:

No. Revisi:

Halaman:

Ditetapkan Oleh:
Direktur RSUD H. Hanafie Muara Bungo

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. H. Safaruddin, MPH
NIP. 196709302002121001

1. PENGERTIAN
2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

Penggunaan obat yang dibawa sendiri oleh pasien adalah pengelolaan /pemakaian
obat-obat yang dibawa pasien atau keluarganya yang pengadaanya tidak melalui
Instalasi Farmasi Rumah Sakit.
Untuk menjamin keamanan pengunaan obat di RSUD H. Hanafie dengan
mempertimbangkan efektifitas dan efisiensi biaya pengobatan pasien di RSUD H.
Hanafie
Keputusan direktur RSUD H. Hanafie
1. Pasien mendapat rekomendasi untuk rawat inap oleh DPJP yang membawa
obat sendiri harus menyerahkan obat yang dibawa Kepada DPJP untuk
mendapatkan persetujuan penggunaan
2. DPJP memberikan rekomendasi penggunaan obat yang dibawa oleh pasien
a.
Jika setuju : DPJP membuat memo
persetujuan untuk penggunaan obat tersebut serta membuat surat untuk
verifikasi identitas obat kepada Instalasi Farmasi RSUD H. Hanafie.
b.
Jika tidak setuju : DPJP membuat memo
untuk penyimpanan obat tersebut kepada Instalasi Farmasi selama
pasien dirawat
3. Perawat menyerahkan memo beserta obat kepada instalasi farmasi
4. Jika memo merupakan memo persetujuan penggunaan obat yang dibawa oleh
pasien, petugas farmasi (Apoteker atau AA penanggung jawab) melakukan
identifikasi, yaitu:
a. Kemasan terdiri dari nama obat, kekuatan sediaan, bentuk sediaan,
tanggal kadaluarsa, dan nama pabrik.
b. Fisik obat : Bentuk, warna dan bau.
c. Jika hasil identifikasi memenuhi ketentuan yang berlaku maka obat
disiapkan dan dikemas kembali sesuai dengan instruksi DPJP
d. Lakukan penyerahan obat sesuai dengan SPO Penyerahan Perbekalan
Farmasi Untuk Pasien Rawat Inap
5. Jika memo merupakan memo tidak setuju penggunaan obat yang dibawa oleh
pasien maka Instalasi Farmasi menyimpan obat tersebut pada tempat tersendiri
dan dilengkapi dengan identitas pasien (nama pasien, nomor rekam medis,
tanggal lahir)

6. Bila pasien sudah diperbolehkan pulang, sisa obat tersebut diberikan oleh
Instalasi Farmasi kepada perawat.
7. Penyerahan kembali obat pasien yang disimpan di Instalasi Farmasi kepada
pasien dilakukan pada saat akan pulang dari rumah sakit oleh perawat

5. UNIT TERKAIT

Instalasi Farmasi, dokter, Bidang Keperawatan