Anda di halaman 1dari 6

Sejarah Pasar Tradisional Hingga Pemikiran

Pergerakan Nasional
Tak banyak orang tahu bahwa sejarah panjang bangsa ini tak lepas
dari sejarah para pedagang, para pedagang yang menghabiskan hampir
seluruh masa hidupnya di dalam pasar tradisional. Ijinkan saya sedikit
bercerita dan membuka pikiran tentang seluk beluk bangsa ini, tentang para
pedagang,

tentang

pasar

tradisional,

tentang

pasar

sebagai

pusat

keramaian, tentang awal mula pergerakan, tentang pemicu pergerakan


nasional, dan tentang pasar di negeri ini di masa kekinian. Semoga bisa
menjadi perenungan.
Lewat Pasar di Surakarta, Sejarah Bangsa Ini Berkembang
Kita sebagai kaum muda layaknya sudah banyak tahu tentang awal
mula pergerakan pemuda oleh Budi Oetomo yang digagas Dr. Wahidin
Sudirohusodo tahun 1908. Tapi pergerakan kaum muda itu bukanlah
pergerakan yang pertama, 3 tahun sebelum Budi Oetomo terbentuk ada
sebuah organisasi besar yang dimotori pedagang yang terlebih dahulu
menanamkan fondasi berpikir tentang pergerakan nasional. Kita sebagai
masyarakat kota Solo, kota yang dijuluki Spirit of Java layaknya juga harus
tahu mengapa kota ini disebut sebagai pusat semangat di Pulau Jawa, tak
lain dan tak bukan karena kota inilah yang memicu pergerakan nasional
untuk yang pertama kali.
Cerita ini bermula ketika Belanda sudah menginjakkan kakinya di
tanah ini, utamanya di Kota Surakarta selama kurang lebih 3 abad. Di awal
tahun 1900-an keadaan pedagang-pedagang pribumi semakin terpojokkan
dengan kebijakan-kebijakan monopoli perdagangan semisal Poenale Sanctie
dan Koelie Ordonantie yang digagas pemerintah Belanda, dimana kebijakankebijakan ini lebih menguntungkan pedagang-pedagang Tionghoa yang
bermigrasi dari negaranya ke tanah air kita. Titik pusat perdagangan Kota
Surakarta kala itu yang sekarang ini kita kenal dengan Pasar Gede
Hardjonegoro, pasar tradisional terbesar di Kota Surakarta yang didirikan di

atas lahan seluas 6.120 m2. Lokasinya yang strategis, di persimpangan jalan
kantor gubernur yang kini beralih fungsi menjadi Balaikota dan beberapa
kantor dinas Surakarta, dan tidak jauh pula dari pintu gerbang utara Keraton
Kasunanan Surakarta, menjadikannya sebagai salah satu pusat monopoli
perdagangan terbesar di Pulau Jawa. Arus perdagangan yang melaju cepat di
sini menjadikan para kolonial Belanda dan golongan pedagang Cina Tionghoa
di Surakarta usahanya menjadi berkembang pesat dan semakin maju.
Dominasi besar pedagang Cina saat itu masih bisa dibuktikan hingga saat ini
dimana kawasan Pasar Gede masih didominasi pedagang etnis Tionghoa dan
menjadi pusat perayaan Imlek tahunan di Kota Surakarta. Dan bisa kita lihat
pula di sebelah selatan Pasar Gede berdiri apik Vihara Avalokiteswara Tien
Kok Sie. Setiap tahunnya pada saat perayaan Imlek kita bias merasakan
miniatur budaya Cina diini.
Tidak jauh dari Pasar Gede tepatnya di daerah Laweyan, pada tanggal
16 Oktober 1905 para pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam,
dimana kian lama nasibnya semakin tak menentu akibat kebijakan
pemerintah Belanda, mulai bergerak dan menghimpun diri. Dimotori oleh
Haji Samanhudi, mereka mendirikan sebuah organisasi dagang yang diberi
nama Sarikat Dagang Islam (SDI). Kesamaan nasib dan semangat kaum
proletar yang tertindas menjadikan SDI ini berkembang pesat, mereka yang
bergerak di dalam organisasi ini membawa semangat para pedagang pasar
tradisional pribumi untuk senantiasa berjuang. Perkumpulan ini menjadi
salah

satu

perkumpulan

yang

berpengaruh.

Pada

tahun

1909

R.M.

Tirtoadisurjo mendirikan Sarikat Dagang Islam Batavia. Kemudian di tahun


1910, R.M. Tirtoadisurjo mendirikan organisasi semacam itu di Buitenzorg.
Tidak ketinggalan pula di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan
organisasi serupa, dan disusul di berbagai tempat lainnya di Pulau Jawa.
Pada tahun 1912 H.O.S. Tjokroaminoto diangkat menjadi ketua Sarikat
Dagang Islam (SDI), kemudian beliau dan beberapa rekannya seperti Abdul
Muis dan H. Agus Salim pada tanggal 18 September 1912 mengganti nama
SDI menjadi Sarikat Islam (SI) dengan tujuan memperluas arah gerak SI,

tidak hanya dibidang ekonomi, namun juga lebih berkembang dibidang


politik. Selain itu dengan menghilangkan kata dagang, keanggotaan SI jauh
lebih terbuka untuk semua kalangan, tidak hanya berfokus pada profesi
pedagang saja. Tentu saja hal ini semakin membuka peluang SI untuk jauh
lebih berkembang lagi kedepannya. Menurut anggaran dasarnya, dapat
disimpulkan tujuan SI adalah sebagai berikut:
1 Mengembangkan jiwa dagang
2 Membantu anggota-anggota yang mengalami kesulitan dalam
bidang usaha (semacam koperasi)
3 Memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat
naiknya derajat rakyat
4 Memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama
Islam
5 Mengajarkan hidup bermasyarakat sesuai tuntunan agama
Dapat disimpulkan bahwa SI bergerak dengan berasaskan agama,
sosial-ekonomi, dan kerakyatan.
Namun seiring berjalannya waktu ternyata keanggotaan SI yang besar
menimbulkan

banyak

berkembang

tak

sekali

lepas

dari

pemikiran.
beberapa

Pemikiran

SI

murid-murid

sendiri
binaan

banyak
H.O.S.

Tjokroaminoto sendiri, seperti Semaoen, Alimin, Tan Malaka, dan Darsono.


Golongan muda SI inilah yang mulai disusupi paham sosialis-komunis oleh
Belanda. Sehingga pada akhirnya SI pecah menjadi SI Putih yang
berhaluan kanan dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto berpusat di Jogjakarta,
yang pada akhirnya nanti berkembang menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia
(PSII) dan bergabung dengan Muhammadiyah dan SI Merah dipimpin
Semaoen yang berhaluan kiri dan berpusat di Semarang, yang bersekongkol
dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
H.O.S. Tjokroaminoto sendiri juga masih mempunyai murid-murid
besar yang lain, seperti Kartosuwiryo yang pada akhirnya keluar dari SI Putih
dan memiliki cita-cita sendiri untuk mewujudkan Negara Islam Indonesia (NII)
dan juga sang Putra Fajar Soekarno yang berpaham nasionalis. Dari sinilah

pergerakan-pergerakan nasional bangsa kita mulai berkembang hingga saat


ini, semua tak lepas dari kiprah-kiprah para pedagang pasar tradisional.

(Bangunan utama pasar gedhe Solo dengan kombinasi arsitektur CinaBelanda))

(Kegiatan rakyat yang diambil fotonya dari bangunan utama pasar gedhe,
nampak kantor gubernur belanda yang saat ini menjadi Balai Kota)

(Gerbang utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat diambil dari


perempatan Gladak depan kantor gubernuran Belanda)

(suasana imlek di pasar gedhe Solo)

(Museum H. Samanhoedi pendiri SDI di Laweyan Solo)