Anda di halaman 1dari 3

Landasan Hukum Obligasi Syariah

Landasan hukum obligasi syariah adalah sebagai berikut:


1. Al-Quran Surah Al-Maidah (5): 1
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu...... (QS. AlMaidah (5): 1)
2. Al-Quran Surat Al-Isra(17): 34
...

dan

penuhilah

janji;

Sesungguhnya

janji

itu

pasti

diminta

pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra(17): 34)


3. Al-Quran Surat Al-Baqarah (2): 275
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan
seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan)
penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan
mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan
riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu
terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah)
kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu
adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. AlBaqarah (2): 275)
4. Hadist Nabi riwayat Imam al-Tirmidzi dari Amr bin Auf al-Muzani, Nabi
s.a.w. bersabda:
Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian
yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan
kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.
5. Fatwa DSN MUI No. 32/DSN-MUI/IX/2002, tentang Obligasi Syariah.
6. Fatwa DSN MUI No. 33/DSN-MUI/IX/2002, tentang Obligasi Syariah
Mudharabah.
7. Fatwa DSN MUI No. 41/DSN-MUI/III/2004, tentang Obligasi Syariah
Ijarah.
8. Fatwa DSN MUI No. 59/DSN-MUI/V/2007, tentang Obligasi Syariah
Mudharabah Konversi.
9. UU No:19 tahun 2008, tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)

Jenis-jenis Produk Obligasi Syariah


Berbagai jenis sukuk yang dikenal secara internasional dan diadopsi
dalam UU No. 19 tahun 2008 tentang SBSN adalah:
1. Sukuk Ijarah,
Sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad ijarah dimana
suatu pihak bertindak sendiri atau melalui wakilnya menjual atau
menyewakan hak manfaat atas suatu asset kepada pihak lain berdasarkan
harga

dan

periode

disepakati,

tanpa

diikuti

dengan

pemindahan

kepemilikan asset itu sendiri. Sukuk ijarah dibedakan menjadi


a) Ijarah Al-Muntahiya Bitamliek (Sale and Lease Back) dan
b) Ijarah Headlease and Sublease.
2. Sukuk Mudharabah
Sukuk yang berisi akad mudharabah dimana pemilik modal menyerahkan
modalnya untuk dikelolah oleh pengusaha. Pengelolaan bisnis sepenuhnya
akan dilakukan oleh mudharib dan keuntungan usaha dibagi di antara
mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Dengan
menerbitkan obligasi syariah mudharabah, penerbit wajib memberikan
pendapatan berupa bagi hasil dari pengelolaan dana kepada pemilik dana
dan membayar kembali dana pokok pada saat jatuh tempo. Kerugian
yang timbul akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak yang menjadi
penyedia modal
3. Sukuk Musyarakah
Sukuk yang berisi akad musyarakah. Musyarakah adalah kerjasama atau
kemitraan

dimana

dua

orang

atau

lebih

bersepakat

untuk

menggabungkan modal atau kerja dan terlibat dalam pengelolaan usaha


tersebut. Pemodal dalam musyarkah ikut aktif dalam pengelolaan
keuangan dan manajerial. Penerbit obligasi wajib memberikan pendapatan

berupa bagi hasil pengelolaan dana milik pihak-pihak yang berakad


kepada pemilik dana dan membayar kembali dana pokok pada saat jatuh
tempo. Keuntungan maupun kerugian yang timbul ditanggung bersama
sesuai dengan jumlah partisipasi modal masing-masing pihak.

4. Sukuk Istisna
Sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Istisna yaitu
akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu
dengan kriteria dan persyaratan yang disepakati antara pemesan atau
pembeli (mustashni) dan penjual atau pembuat (shani). Dengan begitu,
penerbit obligasi wajib memberikan pendapatan berupa bagi hasil dari
margin keuntungan kepada pemilik dana dan membayar kembali dana
pokok pada saat jatuhtempo.
Dari beberapa jenis obligasi syariah tersebut, berdasarkan Fatwa
DSN MUI tentang obligasi syariah, akad yang baru digunakan dalam
transaksi obligasi syariah ada dua yaitu akad Mudharabah dengan Nomor
Fatwa: 33/DSN-MUI/IX/2002 dan akad ijarah dengan Nomor Fatwa:
41/DSN-MUI/III/2004.