Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar belakang

Kajian olahraga terhadap ilmu olahraga diawali dengan keterlibatan sosiologi


sebagai salah satu ilmu yang digunakan untuk mengkaji fenomena keolahragaan.
Konsep sosiologi dipaparkan sebagai dasar untuk memahami konsep-konsep
sosiologi olahraga, khususnya berkaitan dengan proses sosial yang menyebabkan
terjadinya dinamika dan perubahan nilai keolahragaan dari waktu ke waktu.
Fenomena olahraga mengalami perkembangan begitu pesat sampai kedalam
seluruh aspek olahraga. Olahraga tidak hanya dilakukan untuk tujuan kebugaran
badan dan kesehatan, tetapi juga menjangkau aspek politik, ekonomi, sosial,dan
budaya. Oleh karenanya pemecahan masalah dalam olahraga dilakukan dengan
pendekatan inter-disiplin, dan salah satu disiplin ilmu yang dimanfaatkan adalah
sosiologi.

B.

Tujuan

Sosiologi secara umum sudah dikenal sebagai ilmu yang mempelajari tentang
bagaimana cara bersosialisasi, berinteraksi, dan berhubungan dalam kehidupan
sehari-hari, baik itu dilingkungan keluarga, pergaulan ataupun dalam masyarakat
umum. Namun untuk olahraga, sosiologi sebagai ilmu terapan yang mengkaji
secara khusus. Oleh karena itu,makalah ini bertujuan untuk memberikan
pengetahuan ilmu sosiologi yang berdasarkan atas kajian beberapa teori para ahli,
yang dihubungkan dengan olahraga.

BAB II
PEMBAHASAN
A.
1.

Definisi Sosiologi
Sosial

Sosial dapat berarti kemasyarakatan.

a.
Struktur sosial - urutan derajat kelas sosial dalam masyarakat mulai dari
terendah sampai tertinggi. Contoh: kasta.
b.
Diferensiasi sosial - suatu sistem kelas sosial dengan sistem linear atau tanpa
membeda-bedakan tinggi-rendahnya kelas sosial itu sendiri. Contoh: agama.
c.
Integrasi sosial - pembauran dalam masyarakat, bisa berbentuk asimilasi,
akulturasi, kerjasama, maupun akomodasi.

2.

Sosialisasi

Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan
aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau
masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai
peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang
harus dijalankan oleh individu.

B.

Sosiologi Olahraga

Sosiologi olahraga merupakan sosiologi terapan yang dikenakan pada olahraga,


sehingga dapat dikatakan sebagai sosiologi khusus yang berusaha menaruh
perhatian pada permasalahan olahraga. Sebagai ilmu terapan, sosiologi olahraga
merupakan gabungan dari dua disiplin ilmu, yaitu sosiologi dan olahraga, yang oleh
Donald Chu disebut sebagai perpaduan antara sosiologi dan olahraga.
Sebagai ilmu murni yang bersifat non-etis, teori-teori sosiologi berpeluang untuk
dicercap oleh disiplin ilmu lain, dan sebagai disiplin ilmu yang relatif baru, olahraga
masih menggunakan teori-teori dari disiplin ilmu lain untuk menyusun teori ataupun
hukum-hukum keilmuannya. Dalam hal ini ilmu olahraga bersifat integratif, yaitu
berusaha menerima dan mengkombinasikan secara selaras keberadaan ilmu lain
untuk mengkaji permsalahan yang dihadapi. Sosiologi olahraga berupaya
membahas perilaku sosial manusia, baik sebagai individu maupun kelompok, dalam
situasi olahraga, artinya, saat melakukan kegiatan olahraga, pada dasarnya
manusia melakukan kegiatan sosial yang berupa interaksi sosial dengan manusia
lainnya.
1.

Secara mikro

Kajian ilmu olahraga difokuskan pada upaya-upaya meningkatkan kualitas dan


kuantitas teori dan hukum pendukung ilmu olahraga, sehingga dihasilkan temuantemuan yang dapat memperkokoh keberadaan olahraga sebagai fenomena aktivitas
gerak insani yang berbentuk pertandingan ataupun perlombaan, guna mencapai
prestasi yang tinggi. Kajian secara mikro dilakukan dalam konteks internal

keolahragaan, yang secara epistemologi diarahkan pada proses pemerolehan ilmu


yang digunakan untuk meningkatkan kualitas gerak insani secara lebih efektif dan
efisien.
2.

Secara makro

Kajian ilmu olahraga diarahkan pada aspek fungsional kegiatan olahraga bagi
siapapun yang terlibat langsung maupun tidak langsung, seperti pelaku (atlet),
penikmat (penonton), pemerintah, pebisnis dan sebagainya. Pada konteks itu,
olahraga dikaji secara aksiologis untuk mengetahui pengaruh olahraga pada
pelakunya sendiri atau khalayak luas, terutama pengaruh sosial yang
mengakibatkan posisi olahraga tidak lagi dipandang sebagai aktivitas gerak insani
an sich, melainkan telah berkembang secara cepat merambah pada aspek-aspek
perikehidupan manusia secara luas. Olahraga pada era kini telah diakui keberadaan
sebagai suatu fenomena yang tidak lagi steril dari aspek politik, ekonomi, sosial,
dan budaya. Sehingga tidak berlebihan dikatakan bahwa pemecahan permasalahan
dalam olahraga mutlak diperlukan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu, salah
satunya adalah sosiologi. Olahraga yang hampir selalu berbentuk permainan yang
menarik telah dikaji keberadaan sejak dulu.

Spencer (1873) menyatakan play as the use of accumulated energy in


unused faculties.

Gross (1898) menyatakan play was role practice for life

Mc Dougal (1920) menyatakan play was the primitive expression of instincts.


Permainan atau play yang telah diformalkan menjadi game telah diakui dapat
berfungsi sebagai media untuk mempersiapkan anak untuk berperan sebagai orang
dewasa.

Goerge H. Head (1934) menyatakan games sebagai a medium for the


development of the self, sehingga lebih lanjut dikatakan game the extend of man.
Beragam kondisi obyektif di masyarakat dapat dijadikan bukti bahwa olahraga telah
merambah pada kehidupan sosial manusia, misalnya: tak ada satupun media massa
yang tidak memuat berita olahraga, bahkan di Amerika telah diyakini bahwa tanpa
berita olahraga, banyak massa media yang akan bangkrut, karena tidak akan
dibaca oleh khalayak. Suatu pertandingan atau perlombaan olahraga telah menyita
perhatian berjuta manusia sebagai penikmatnya, telah memakan jutaan dolar untuk
penyelenggaraannya, belum lagi tenaga dan waktu yang tersita untuk
melaksanakan atau menikmatinya. Pengaruh olahraga di masyarakat tidak sekedar
penghayatan menang atau kalah, tetapi lebih luas lagi menyangkut harga diri,
kebanggaan, penyaluran potensi-potensi destruktif, bahkan pada komunitas
tertentu, olahraga telah diakui kesejajarannya dengan agama.

C.

Bidang Kajian Sosiologi Olahraga

Bidang kajian sosiologi olahraga sangat luas, mengingat hal itu, para ahli terkait
berupaya mencari batasan-batasan bidang kajian yang relevan, misalnya:
1.
Heizemann menyatakan bagian dari teori sosiologi yang dimasukkan dalam
ilmu olahraga meliputi:
a.
Sistem sosial yang bersangkutan dengan garis-garis sosial dalam kehidupan
bersama, seperti kelompok olahraga, tim, klub dan sebagainya.
b.
Masalah figur sosial, seperti figur olahragawan, pembina, yang berkaitan
dengan usia, pendidikan, pengalaman dan sebagainya.
2.
Plessner dalam studi sosiologi olahraga menekankan pentingnya perhatian
yang harus diarahkan pada pengembangan olahraga dan kehidupan dalam industri
modern dengan mengkaji teori kompensasi.
3.
Philips dan Madge menulis buku Women and Sport menguraikan tentang
fenomena kewanitaan yang aktif melakukan dipandang daris sudut sosiologi.

a.

Kehidupan Sehari-hari

Olahraga adalah kebutuhan primer manusia, dan harus dijadikan prioritas dalam
kehidupan sehari hari. Olahraga yang effektif adalah olahraga yang berkeringat
sampai pada level zona latihan. Kesibukan kerja selama lima hari berturut turut
sebaiknya diimbangi dengan olahraga pada hari libur sabtu dan minggu. Gerak
adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu
bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan
kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu Olahraga
merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani,
rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya,
stabilitas emosional dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya
bersosialisasi dengan lingkungannya nyata lebih unggul pada siswa-siswa yang aktif
mengikuti kegiatan Penjas-Or dari pada siswa-siswa yang tidak aktif mengikuti
Penjas-Or (Renstrom & Roux 1988, dalam A.S.Watson : Children in Sport dalam
Bloomfield,J, Fricker P.A. and Fitch,K.D., 1992).
b.

Masalah Olahraga Rekreasi

1.
Olaharaga rekreasi adalah jenis kegiatan olahraga yang dilakukan pada waktu
senggang atau waktu-waktu luang.

2.
Menurut Kusnadi (2002:4) Pengertian Olahraga Rekreasi adalah olahraga yang
dilakukan untuk tujuan rekreasi.
3.
Menurut Haryono (19978:10) Olahraga rekreasi adalah kegiatan fisik yang
dilakukan pada waktu senggang berdasarkan keinginan atau kehendak yang timbul
karena memberi kepuasan atau kesenangan.
4.
Menurut Herbert Hagg (1994) Rekreational sport / leisure time sports are
formd of physical activity in leisure under a time perspective. It comprises sport
after work, on weekends, in vacations, in retirement, or during periods of
(unfortunate) unemployment.
5.
Menurut Nurlan Kusmaedi (2002:4) olahraga rekreasi adalah kegiatan
olahraga yang ditujukan untuk rekreasi atau wisata.

c.

Hubungan antara olahraga dan kebudayaan.

John C. Phillips dalam bukunya yang berjudul Sociology of Sport mengkaji tematema yang berhubungan dengan :
a.
Olahraga dan kebudayaan Manfaat transformasi olahraga dan kebudayaan
antara lain: Mendukung program masyarakat sehat, mempererat ikatan sosial
masyarakat, menjaga identitas budaya bangsa, kebanggaan kolektif bangsa, daya
tarik pariwisata dan mendukung terciptanya masyarakat sejahtera.
b.

Pelepasan emosi (dengan cara yang dapat diterima masyarakat).

Pengaruh-pengaruh negatif dari emosi dalam kegiatan olahraga, antara lain:


1.

Gelisah

Gelisah adalah gejala takut atau dapat pula dikatakan taraf takut yang masih
ringan.Biasanya rasa gelisah ini terjadi pada saat menjelang pertanndingan akan
dimulai. Rasa gelisah akan dapat berubah menggembirakan manakala penyebab
datanngnya rasa gelisah (pertandingan akan dimulai) tertunda pelaksanaanya. Cara
yang baik untuk menghindari atau mengurangi timbulnya kegelisahan adalah
dengan jalan merasionalisasikan emosi, yaitu segala hal yang negatif dianggap
positif. Hal-hal demikian dapat dilatih, yaitu dengan membiasakan untuk:
1.
Merumuskan persoalan-persoalan yang sebenarnya merupakan sebab
timbulnya kegelisahan secara jelas.

2.
Memperhitungkan segala kemungkinan akibat yang terjadi dari yang paling
ringan sampai yang terburuk.
3.
Membuat persiapan untuk menghapadapi setiap kemungkinan yang biasanya
terjadi dengan segala rumus pemecahannya yang dapat dilakukan baik oleh diri
sendiri maupun dengan bantuan orang lain.
4.
Menghadapi persoalan-persoalan dengan rasa siap dan tabah serta percaya
pada kemampuan diri sendiri.
Dengan cara-cara tersebut dapat diharapkan kegelisahan yang menjangkiti para
olahragawan sedikit demi sedikit dapat dikurangi atau bahkan dapat dihindarkan.
2.

Takut

Rasa takut lebih baik jangan dimatikan sama sekali,tetapi dikendalaikan. Misalnya
seorang atlit yang tidak memiliki ketakuatan terhadap kekalahan dalam
pertandingan yang akan diikuti.Ia akan berbuat apa yang dikehendakinya, akhirnya
ia akan terseret oleh perasaan kalah ya biar.
Menurut beberapa pendapat yang dikumpulkan oleh Reuben B.Frost dari Springfield
College mengenai bagaimana harus menangani masalah takut ini, antara lain
diajukan beberapa pendapat sebagai berikut:
(b) Mencoba menemukan dan memahami sebab-sebab terjadinya rasa takut.
(c)

Mendekati dan mengenali situasi yang ditakuti secara sedikit demi sedikit.

(d) Mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang ditakuti dengan membuat
perencanaan yang pasti dan taktik yang tepat guna.
(e) Menguji dan menganalisis alasan-alasan menngapa sampai terjadi ketakutanketakutan.
(f) Menolong mencarikan sebab-sebab timbulnya kesulitan-kesulitan yanng
ditakuti (adakah pengaruh kecelakaan yang dulu atau memang belum mengenal
problemnya).
Kebanyakan rasa takut akan lenyap pada waktu kegiatan-kegiatan yang ditakutkan
itu telah dilakukan.
1.

Marah

Marah dapat dikatakan sebagai reaksi kuat atas sesuatu yang tidak menyenangkan
dan mengganggu pada seseorang. Ragamnya mulai dari kejengkelan yang ringan
sampai angkara murka dan mengamuk. Ketika itu terjadi maka detak debar jantung
semakin cepat, tekanan darah dan aliran adrenalin juga meningkat. Kalau sudah

begini bisa-bisa perubahan psikologis akan menyebabkan timbulnya reaksi agresif


dan pelakuan kasar dari sang pemarah.
Untuk mengurangi akibat-akibat negatif yang dapat ditimbulkan oleh kemarahan
perlu dicari bagaimana cara merendahkan kemarahan yang terjadi. Hal ini dapat
diusahakan dengan cara:

(a)

Menghambat spontannitas tindak kemarahan.

(b) Mengurangi agresifitas tindakan.


(c)

Menanggapi kemaran dengan usaha-usaha yang positif.

(d) Melupakan atau menghilangkan / menghindari sumber kemarahan.

1.

Nilai Dasar

Dalam kehidupan sehari-hari olahraga sering disikapi sebagai media hiburan,


pengisi waktu luang, senam, rekreasi, kegiatan sosialisasi, dan meningkatkan
derajat kesehatan. Secara fisik olahraga memang terbukti dapat mengurangi risiko
terserang penyakit, meningkatkan kebugaran, memperkuat tulang, mengatur berat
badan, dan mengembangkan keterampilan. Sayangnya, nilai-nilai yang lebih
penting dalam konteks pendidikan dan psikologi, yaitu pembentukan karakter dan
kepribadian, masih kurang disadari. Kepribadian, sosialisasi, dan pendidikan
kesehatan, serta kewarganegaraan hakikatnya adalah agenda penting dalam proses
pendidikan.
2.

Fair Play

Olahraga dengan segala aspek dan dimensinya, lebih-lebih yang mengandung


unsur pertandingan dan kompetisi, harus disertai dengan sikap dan perilaku
berdasarkan kesadaran moral. Implementasi pertandingan tidak terbatas pada
ketentuan yang tersurat, tetapi juga kesanggupan mental menggunakan akal sehat.
Kepatutan tindakan itu bersumber dari hati nurani yang disebut dengan istilah fair
play. Dalam dua tahun terakhir, model kompetisi yang dijiwai fair play telah
diimplementasikan pada kompetisi nasional dalam forum Olimpiade Olahraga
Sekolah Nasional (O2SN) dan forum internasional, yaitu ASEAN Primary School Sport
Olympiade (APSSO). Hasilnya sungguh menggembirakan karena penerapan
tersebut berimplikasi pada perilaku peserta kompetisi yang lebih mencerminkan
jiwa sportivitas, kejujuran, persahabatan, rasa hormat, dan tanggung jawab dengan
segala dimensinya. Olahraga mengandung dimensi nilai dan perilaku positif yang
multidimensional. Pertama, sikap sportif, kejujuran, menghargai teman dan saling
mendukung, membantu dan penuh semangat kompetitif. Kedua, sikap kerja sama,

team work, saling percaya, berbagi, saling ketergantungan, dan kecakapan


membuat keputusan bertindak. Ketiga, sikap dan watak yang senantiasa optimistis,
antusias, partisipasi!", gembira, dan humoris. Keempat, pengembangan individu
yang kreatif, penuh inisiatif, kepemimpinan, determinasi, kerja keras, kepercayaan
diri, kebebasan bertindak, dan kepuasan diri.
3.

Kontrol sosial (penyerasian dan kemampuan prediksi)

Kata kontrol sosial berasal dari kata Social control atau sistem pengendalian sosial
dalam percakapan sehari-hari diartikan sebagai pengawasan oleh masyarakat
terhadap jalannya pemerintahan, khususnya pemerintah beserta aparatnya.
Soekanto (1990), menjelaskan bahwa arti sesungguhnya dari pengendalian sosial
jauh lebih luas. Dalam pengertian pengendalian sosial tercakup segala proses
(direncanakan/tidak), bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga
masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai sosial yang berlaku. Dari
penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa pengendalian sosial adalah suatu
tindakan seseorang/kelompok yang dilakukan melalui proses terencana maupun
tidak dengan tujuan untuk mendidik, mengajak (paksaan/tidak) untuk mematuhi
kaidah dan nilai sosial tertentu yang dianggap benar pada saat itu.
4.

Sosialisasi (membangun perilaku dan nilai-nilai bersama yang sesuai)

1.

Perubahan sosial

Interaksi sosial : berhubungan / berinteraksi melalui pembicaraan,


perkumpulan, pergaulan, baik dalam organisasi dan masyarakat.

Asimilasi (sosial) : bercampurnya 2 kebudayaan dalam masyarakat setempat


(contoh : dalam satu negara atau dalam satu keluarga, sehingga tercipta suatu
budaya baru.

Gerak sosial (Mobilitas sosial) adalah Proses perpindahan posisi atau status
sosial yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam struktur sosial
masyarakat inilah yang disebut gerak sosial atau mobilitas sosial (social mobility).
2.

Kesadaran (pola tingkah laku yang benar)

Keberhasilan (cara pencapaian dengan turut aktif atau sebagai penikmat) Dalam
bidang penelitian, sosiologi olahraga membuka peluang bagi pengkajian topik yang
berkenaan dengan pranata sosial seperti sekolah dan kehidupan politik, stratifikasi
sosial, penonton dan motivnya, sosialisasi, etika bertanding, dan masih banyak lagi.
Beberapa isu pokok yang dicoba angkat adalah masalah hubungan individu dan
kelompok dalam olahraga yang berkaitan dengan peranan dan isu gender, masalah
ras, agama, nilai, norma, aspek politik, ekonomi, dan rasionalisasi kegiatan olahraga
di negara maju.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan

Olahraga sebagai suatu aktivitas yang melibatkan banyak pihak telah disikapi
secara dinamis dari pemahaman terhadap yang dianggap sebagai aktivitas
primitive untuk mempertahankan hidup berubah menjadi proses sosial yang
menghasilkan karakteristik perilaku dalam bersaing dan bekerja sama membangun
suatu permainan yang dinaungi oleh nilai, norma, dan pranata lembaga. Kajian
sosiologis yang berkaitan dengan kelompok sosial dapat dikenakan pada olahraga
berdasarkan pada beberapa hal yakni situasi kondisi dan struktur, serta fungsi
kelompok olahraga. Sarat dengan situasi dan kondisi yang kental akan persaingan
dan tata aturan yang relative ketat sehingga tercipta rasa senang, santai, dan
gembira. Berangkat dari paparan diatas, bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja.
sama, persaingan dan pertikaian, sehingga membutuhkan penyelesaian sementara
waktu, menyadari keterkaitan dan keterikatannya dengan individu lain.
Manusia membentuk kelompok sosial untuk memecahkan masalah hidupnya
dengan mengunakan pendekatan ilmu sosiologi. Olahraga telah diapresiasikn
sedemikian tinggi sebagai media untuk menunjukkan hegemoni, sehingga untuk
menyelenggarakan,dan menciptakan para pelakunya, telah diupayakan berbagai
pendekatan dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, yang disebut pendekatan
interdisiplin adalah pendekatan yang didasarkan pada pengetahuan dari ilmu
psikologi, sosiologi, anatomi, dan fisiologi. Sedangkan pendekatan crosdisiplin
adalah pendekatan yang difokuskan pada ilmu motor learning, psikologi olahraga,
dan sosiologi olahraga.

DAFTAR PUSTAKA
Sapto Adi Dan Muarifin (2007)Sosiologi OlahragaUpt Perpus Um, Malang
Bouman, P.J. (1976) Sosiologi, Pengertian Dan Masalah. Yogyakarta, Penerbit
Yayasan Kanisius.
Early Socialization Wiggins, Wiggins & Zanden, 1994
H.Gunawan, Ary. 2006. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi Tentang
Berbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hartoto. 2008. Defenisi Sosiologi Pendidikan. Online (Http://Www.Fatamorghana.
Wordpress.Com, Diakses 20 Maret 2008).
Ahmad Tanwir 2010. Olahraga Dan Penguasaan Diri

BAB I
Pendahuluan

A. Pengertian politik
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat
yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.
Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagaidefinisi yang
berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik
Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun
nonkonstitusional.
Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara
lain:

politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan
bersama (teori klasik Aristoteles)
politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan
negara
politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan
mempertahankan kekuasaan di masyarakat
politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan
publik.

Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain:
kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik,
proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk
tentang partai politik.
"Politik" mungkin mempunyai maksud pejoratif, terutama sekali apabila digunakan
di dalam kerja kerja dalaman sesebuah institusi. Dengan mengatakan sesuatu
keputusan dibuat atas dasar politik akan memberi gambaran bahawa keputusan
tersebut dipengaruhi oleh kepentingan runcit daripada objektif atau kebaikan
bersama.

Politik merupakan satu cara untuk manusia mengkordinasi tindakan seseorang


untuk kebaikan bersama (atau kebaikan individu). Apa yang membezakan politik
dengan etika dan sosial ialah didalam politik terdapat banyak persoalan berdebat
( debated questions ). Kebanyakan ahli teori berpendapat untuk menjadi politik,
sesuatu proses itu perlu menggunakan sedikit kekerasan kerana politik mempunyai
hubungan rapat dengan konflik.
Memenangi suatu konflik politik bermaksud merampas kuasa dari satu kumpulan
atau entiti dan memberikannya kepada kumpulan lain. Ramai akan bersetuju konflik
politik boleh dengan mudahnya tumbang menjadi "zero-sum game", dimana tiada
yang dipelajari atau diselesaikan, melain menentukan "siapa menang, siapa tewas":
Lenin berkata politik ialah siapa yang boleh lakukan apa kepada siapa ( Who could
do what to whom ). Manakala, seorang ahli sains politik, Harold Lasswell pula
berkata politik adalah siapa yang dapat apa, bila dan bagaimana ( who gets what,
when and how ).

BAB II
Pembahasan

A. Pengaruh Politik Terhadap Olahraga


Perkembangan olahraga nasional tidak dapat di pisahkan dari kecenderungan
perkembangan olahraga pada tingkat global, terutama pengaruh dari gerakan
Olympiade sebagai sebuah idealisme, yang sedemikian kuat dalam memberikan
arah, isi dan pengorganisasian kegiatan olahraga pada umumnya. Di pihak lain
perkembangan olahraga itu sendiri, sepeti halnya perkembangan Olympiade di
pengaruhi oleh perubahan yang berlangsung dalam lingkungan makro politik.
Olahraga yang pada dasarnya merupakan kegitan yang semata-mata kesenangan
belaka, olahraga beralih menjadi upaya yang dikelola secara sungguh-sungguh,
atau dari kelihatan yang di anggap amat remeh, yang hanya di lihat sebelah mata
oleh pemerintah, menjadi sebuah kebijakan global yang memerlukan perhatian dari
Presiden, Perdana Menteri, dan Raja. Keseluruhan perubahan itu merupakan
konsekuensi dari perubahan kehidupan manusia yang diterpa oleh perubahan dan
lingkungan hidup.
Sejak awal kebangkitan Olympiade modern 1896 di Athena, gerakan Olympiade
(Olympic Movement) mencanangkan bahwa Olympiade mengemban misi untuk
menyebarluaskan isme, sebuah idealisme yang mengandung pesan perdamaian,
kebebasan dan persaudaraan sebagai landasan tatanan dunia baru, termasuk
membina manusia menuju kesempurnaan, seperti terkandung dalam motto, citius,
altius, fortius.

Tidak dipungkiri, gerakan Olympiade secara nyata berpengaruh kuat terhadap


penyebarluasan kultur olahraga, dan sekaligus memberikan arah terhadap tujuan
pembinaan, isi kegiatan dan bahkan cara mengorganisasinya. Tanpa kita sadari
pula, akses dari Olympiade itu sendiri adalah lenyapnya eksistensi permainan. Pada
awalnya, kegitan Olympiade bersifat mundial tersebut, yang diklaim sebagai
langkah paling dini dalam penciptaan globalisasi olahraga, hanya di ikuti oleh
kelompok ekslusif dari kalangan bangsawan. Memasuki tahun 1920 mulai meluas,
di ikuti oleh kalayak luas, meskipun masih amat terbatas, sementara pada tahun
1950 berbarengan dengan meletusnya perang dingin, konflik dalam komteks geo
politik yang dipicu oleh perang ideology-komunis dan demokrasi tidak terelakan,
olahraga merupakanbagian dari suatu sistem polotik, dan untuk negara-negara
sosialis, merupakan alat propaganda bagi keberhasilan tatanan masyarakt sosialis.

a.

Pengaruh Politik Terhadap Olahraga di Indonesia

Untuk kasus Indonesia, semakin nyata, bagaimana efek adri sistem politik dan
pengaruh ekonomi terhadap pendidikan jasmni dan olahraga. Tulisan sie swan po
(1973) dalam kongres ICPHER di Bali, Social and plitical aspect of physical Education
and Sports in the Frame Work of Indonesia National develoment sangat membantu
kita untuk memahami kebijakan pembinaan olahraga nasional. Sejak proklamasi
1945, pendidikan jasmani dan olahraga memperoleh tempat dalam masyarakat dan
kehidupan nasional namun pasang surut pendidikan jasmani dan olahraga ini
sangat di pengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang berbeda-beda.
Selama perjuangan kemerdekaan, pendidikan jasmani dan olahraga diarahkan
untuk membentuk pemuda-pemuda militan dengan semangat nasionalistik untuk
mempertahankan proklamasi kemerdekaan indonesia. Pada massa itu, pendidikan
jasmani dan olahraga di pandang berkemampuan untuk membentuk prilaku
berdisiplin guna mendukung perjuangan nasional. Olahraga juga di pandang
mampu memperkukuh integrasi bangsa, kesatuan dan persatuan, pandangan inilah
yang selanjutnya mendorong terselenggaranya PON I, 1947 di Solo.
Pada tahun 1947, ketika sejumlah negara asia masih berjuang untuk merebut
kemerdekaannya, Indonesia termasuk negara yang mendukung gagasan untuk
diadakan pertandingan olahraga diantara bangsa-bangsa asia. Gagasan ini
dicetuskan dalam Conference on Asian Relation tahun 1947 di New Delhi yang
hasilnya yaitu di setujuinya Asian Games I di selenggarakan pada tahun 1951 di
New Delhi.
Pada saat ini olahraga sering di libatkan dalam kancah politik di indonesia, dapat
terlihat pada saat pemilihan perwakilan rakyat, banyak terdapat kampanyekampanye yang secara langsung terlibat dalam olahraga seperti pemberian
sepanduk perlengkapan alat olahraga yang tak lain bertujuan untuk kepentingan
politik.

Sering kita jumpai di kota-kota di Indonesia termasuk juga ibu kota negara masih
banyak terdapat kenakalan-kenakalan remaja, dan tauran tingkat pelajar yang
terasa tiada hentinya, untuk mengatasi permasalah tersebut pemerintah harus
berperan aktif, salah satu kebijakan politik pemerintah untuk mengurangi kenakalan
remaja dan tauran antar pelajar adalah didirikannya bangunan-bangunan sarana
olahraga, dengan didirikannya serana tersebut sangat berperan aktif dalam
mengurangi kenakalan remaja. Dalam permasalahan diatas secara tidak langsung
olahraga sudah beperan aktif dalam politik.
b.

Kelekatan Olahraga dan Politik

Sejak lama ada usaha untuk menceraikan kegiatan olahraga, terutama Olimpiade,
dengan politik. Tapi, upaya itu selalu gagal. Kalau saja dunia mau jujur, sebenarnya
keterkaitan antara keduanya sudah terpatri dalam peraturan penyelenggaraan
Olimpiade itu sendiri.Ambil saja pengibaran bendera dan pengumandangan lagu
kebangsaan negara asal atlet pemenang salah satu cabang olahraga sebagai
contoh. Itu saja sudah menunjukkan tentang bagaimana olahraga sudah terpolusi
oleh politik. Sejarah telah beberapa kali merekam tentang intervensi politik
terhadap ajang yang sebenarnya dimaksudkan untuk memupuk sportivitas dan
persahabatan antarnegara dan bangsa ini.
Contoh klasik terjadi pada Olimpiade 1936 di Berlin, ketika faham Nazi Jerman
tengah berada di puncaknya. Jesse Owens, pelari berkulit hitam AS yang sebelum
pesta olahraga itu dibuka sudah dihina media Jerman, tiba-tiba saja merebut tak
kurang dari empat medali emas. Dan, itu dilakukannya di depan mata Hitler,
gembong konsep tentang supremasi bangsa Aria.Pada 1968, pada upacara
menghormati pemenang, dua atlet kulit hitam AS mengacungkan tinju sebagai
protes atas diskriminasi rasial di negara mereka. Orang juga tak melupakan
kejadian berdarah pada Olimpiade 1972 di Muenchen, ketika para pejuang radikal
Palestina menyandera dan kemudian membunuh 11 atlet Israel. Itu adalah upaya
menarik perhatian dunia akan nasib bangsa Palestina yang tergusur dari tanah
leluhur mereka.
Pada Olimpiade 1980 di Moskow, AS dan negara-negara Barat memutuskan tak
hadir sebagai protes atas penyerbuan Uni Soviet terhadap Afganistan. Empat tahun
kemudian, Uni Soviet dan sekutunya membalas boikot itu dengan tak hadir pada
Olimpiade 1984 di Los Angeles. Aksi Uni Soviet diikuti oleh negara-negara satelitnya
di Eropa Timur. Akibatnya, Olimpiade 1984 berjalan hambar. Maklumlah, negaranegara sosialis di masa itu merupakan gudang atlet kelas dunia.
Dari semua kejadian yang dibeberkan di atas, Olimpiade Beijing 2008 yang akan
dimulai dalam sepekan ini merupakan puncak dari keterkaitan antara olahraga dan
politik. Sejak jauh hari sebelum dimulai, ia telah dikotori faktor politik. Protes warga
Tibet ternyata tidak terbatas di Tibet, tapi menyebar ke seluruh pemukiman mereka

di seluruh China dan di negara-negara lain. Unjuk rasa mereka juga didukung para
aktivis LSM internasional.
Buat China sendiri, Olimpiade Beijing 2008 memiliki arti penting yang nuansa
politiknya sangat tebal. Ketika mendiang Mao Zedong memproklamasikan
berdirinya RRC sebagai sebuah negara itu pada 1 Oktober 1949, antara lain ia
mengatakan, "Bangsa kita tidak lagi akan jadi obyek pemerasan, penghinaan, dan
pembudakan dari bangsa lain." Sejak saat itu, RRC selalu berjuang menempatkan
dirinya pada posisi terhormat di pentas dunia.
Tapi, selama hampir 50 tahun (1945-1990), Mao selalu berada di bawah bayangbayang Uni Soviet dan AS, sebagai dua aktor utama di panggung Perang Dingin.
Mao telah mencoba melepaskan diri dari bayang-bayang kedua adikuasa dan
berperan sebagai kekuatan ketiga dengan cara menghimpun kekuatan negaranegara berkembang. Toh, usaha itu tak banyak mendatangkan sukses.
Sukses Beijing sebagai salah satu pelaku yang turut menentukan corak dunia justru
diraih setelah mendiang Deng Xiaoping mengambil langkah berani. Ia berbalik 180
derajat dengan meninggalkan prinsip-prinsip Maois dan mengadopsi model
pembangunan kapitalistik. Hasilnya adalah perkembangan ekonomi di atas 8% per
tahun dan telah menempatkannya sejajar dengan negara-negara kapitalis dunia.
Sejarah China selama sekitar satu abad antara 1838, yakni dimulainya intervensi
dan intrusi kolonialisme dan imperialisme Barat, sampai 1949 ketika RRC berdiri,
dipenuhi perasaan sebagai bangsa tertindas dan terhina. Hampir semua kekuatan
dunia memiliki konsesi di China dan tak mengherankan jika Bapak Republik Dr Sun
Yat-sen mengatakan bahwa nasib bangsa China lebih buruk dari bangsa lain karena
ia dijajah banyak negara. Tak mengherankan pula jika para sejarawan Marxis di
China menyebut masa selama satu abad itu sebagai abad humiliasi (penghinaan)
nasional.
Karena itu, penyelenggaraan Olimpiade di Beijing tak dapat dipisahkan dari sejarah
humiliasi, sukses pembangunan ekonomi, dan kebangkitan nasional bangsa China.
Olimpaide Beijing 2008 adalah sebuah lambang tentang keberhasilan China yang
telah bangkit kembali dari posisi terhina selama satu abad dan berhasil
menempatkan diri sebagai aktor yang perannya sejajar dengan negara-negara
besar lain.
Olimpiade Beijing juga merupakan lambang balas dendam China atas satu abad
penghinaan yang dilakukan bangsa-bangsa Barat dan Jepang terhadap bangsa dan
negara China.
Oleh karena itu, RRC tak akan membiarkan anasir sekecil apapun yang berasal dari
dalam maupun luar negeri yang ditengarai akan mengganggu keberhasilan
penyelenggaraan pesta olahraga dunia itu.

Kesimpulan
Olahraga tidak tumbuh dan berkembang di ruang yang vacum. Akan tetapi faktor
budaya, ekonomi dan politik juga sangat mempengaruhi perkembangan olahraga
itu sendiri, ketiga faktor ini sangat mempengaruhi bukan saja yang ingin di capai,
akan tetapi isi dan cara mengorganisasi kegiatan tersebut. Pengalaman negaranegara lain menunjukan bahwa pasang surut olahraga d pengaruhi fsktor politik,
sehingga terjadinya kemerosotan prestasi. Dapat diartikan bahwa olahraga tidak
boleh untuk di jadikan tempat ajang berpolitik yang bukan untuk keuntungan
olahraga tersbut,.

Daftar pustaka
Mutohir, C.T, 2003. Olahraga Kebijakan dan Politik Sebuah Analisis. Jakarta :
Departemen Pendidikan nasional