Anda di halaman 1dari 6

BAB V

HUKUM MENDEL I DAN II

I.

II.

Tujuan
Tujuan praktikum adalah membuktikan perbandingan menurut mendel 1:2:1 untuk rasio
genotif dan 3:1 untuk rasio fenotif pada persilangan monohibrid serta perbandingan fenotif
9:3:3:1
Prinsip Dasar
Genetika adalah cabang biologi tentang sifat-sifat yang menurun (hereditas) dan
variasinya.Unit-unit hereditas yang dipindahkan dari satu generasi berikutnya disebut gen.
Gen-gen itu berada didalam sesuatu molekul panjang yang disebut DNA ( WD
Stansfield,1992:3).
Salah satu aspek yang penting pada organisme hidup adalah kemampuannya untuk
melakukan reproduksi dan dengan demikian dapat melestarikan jenisnya. Pada organisme
yang berkembangbiak secara seksual, individu baru adalah hasil kombinasi informasi
genetis yang disumbangkan oleh 2 gamet yang berbeda yang berasal dari kedua parentalnya.
George Mendel adalah seorang yang telah berhasil dalam percobaan-percobaannya pada
bidang hibridasi. Mendel menyusun beberapa postulatnya antar lain:
Persilangan Monohibrid
Dalam hukum mendel I yang dikenal dengan The Law Of Segretation Of Allelic
Genens atau Hukum Pemisahan Gen Yang Sealel dinyatakan bahwa dalam pembentukan
gemet, pasangan alel akan memisa secara bebas. Peristiwa pemisahan ini terlihat ketika
pembentukkan gamet individu yang memikiki genotif heterozigot, sehingga tiap gamet
mengandung salah satu alel tersebut. Dalam hal ini disebut juga hukum segregasi yang
berdasarkan percobaan persilangan dua individu yang mempunyai satu karakter yang
berbeda. Berdasarkan hal ini, persilangan dengan satu sifat beda akan menghasilkan
perbandingan fenotif 1:2:1, yaitu ekspresi gen dominan resesif=3:1. Namun kadang-kadang
individu hasil perkawinan tidak didominasi oleh salah satu induknya. Dengan kata lain, sifat
dominasi tidak muncul secara penuh. Peristiwa ini menunjukkan adanya sifat intermediet.
Persilangan Dihibrid
Dalam hukum mendel II atau dikenal dengan the law of independent assortmen of
ganes atau Hukum Pengelompokkan Gen Secara Bebas dinyatakan bahwa selama
pembentukkan gamet, gen-gen sealel akan memisah secara bebas dan mengelompok dengan
gen lain yang bukan alelnya. Pembuktian hukum ini dipakai pada dihibrid atau polihibrid,
yaitu persilangan dari dua individu yang memiliki satu atau lebih karakter yang berbeda.
Monohibrid adalah hibrid dengan satu sifat beda, dan dihibrid adalah hibrid dengan 2 sifat
beda, akan menghasilkan perbandingan 9:3:3:1. Fenotif adalah penampakan/ perbedaan sifat
dari suatu individu tergantung dari susunan genetiknya yang dinyatakan dengan kata-kata
(misalnya mengenai ukuran, warna,bentuk, rasa, dsb). Genotif adalah susunan genetik dari
suatu individu yang ada hubungannya dengan fenotif; biasanya dinyatakan dengan simbol/
tanda huruf.
Model Perbandingan Genetik Menurut Mendel

Gen adalah bahan genetikyang terkait dengan sifat tertentu. Sebagai bahan genetik
tentu saja gen diwariskan dari satu individu ke individu lainnya. Gen memiliki bentukbentuk alternatif yang dinamakan alel. Ekspresi dari alel dapat serupa, tetapi orang lebih
sering menggunakan istilah alel untuk ekspresi gen yang secara fenotifik berbeda. Gregor
Mendel telah berspekulasi tentang adanya suatu bahan yang terkait dengan suatu sifat atau
karakter di dalam tubuh suatu individu yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Ia menyebutnya 'faktor'. Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada
pembentukan gamet, kedua gen yang merupakan pasangan alela itu akan memisah sehingga
tiap-tiap gamet menerima satu gen dari alelanya. Secara garis besar, hukum ini mencakup
tiga pokok:
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter. Ini adalah
konsep mengenai alel.
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantanan satu dari tetua betina.
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda, alel dominan akan
terekspresikan. Alel resesif yang tidak terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet
yang dibentuk (Mega. 2008).
III.

Alat dan Bahan


3.1. Alat
Alat Tulis
Kotak
3.2. Bahan

IV.

Kancing Genetika

Cara Kerja
Praktikum I (Monohibrid)
Memisahkan 25 kancing (warna cerah dominan) menjadi dua bagian
masing-masing terdiri dari 25 buah kancing berlekuk sebagai gamett
betina dan 25 buah kancing yang menonjol untuk gamet jantan.

Mencampurkan 25 kancing merah dan 25 kancing putih sebagai gemet


betina dalam kotak yang sama (kotak I), demikian pula untuk kancing
merah dan 25 kancing putih sebagai gamet jantan dicampur dalam
kotak yang lain

Melakukan pengambilan secara acak satu kancing dari kotak I dan satu
kancing dari kotak II, kemudian pasangkan dan mencatat macam dan
jumlah fenotif serta genotif dalam tabel

Menghitung perbandingan yang diperoleh baik fenotif maupun genotif

Praktukum II (Dihibrid)
Memisahkan 25 pasang kancing dari setiap warna masing-masing
menjadi 2 bagian yang sama sebagai gamet jantan (kancing menonjol)
dan gamet betina (kancing melengkung)

Mencampurkan gamet jantan masing-masing dari kancing merah (M)


dan kancing putih (m) juga gamet betina masing-masing dari kancing
merah (M) dan kancing putih (m) kemudian memasangkan secara acak
(kelompok kancing) ini disebut kelompok (A)
Melakukan langkah seperti point nomor 2 untuk kancing hijau (H)
dengan kancing kuning (h) (kelompok kancing ini disebut kelompok B)

Mempertemukan setiap pasang dari kelompok A dan B sampai habis,


mencatat macam danjumlah fenotif yang dihasilkan pada tabel

Menghitung perbandingan yang diperoleh

V.

Data Hasil Pengamatan


5.1 Tabel Hasil Praktikum I (Monohibrid)
Genotif
MM
Mm
mm
Jumlah

Frekuensi
34
8
9
50

Fenotif
Merah
Putih
Putih
Jumlah

Frekuensi
34
8
9
50

5.2 Tabel Hasil Praktikum II (Dihibrid)


Fenotif
Merah-Hijau
Merah-Kuning
Putih-Hijau
Putih-Kuning
Jumlah
VI.

Frekuensi
27
10
11
2
50

Pembahasan
4.1 Persilangan monohibrid

Pada praktikum ini kita akan menggunakan kancing genetika untuk mengetahaui perbandingan
perbandingan menurut hukum mendel , Pada persilangan ini berlaku hukum mendel I yang
menyatakan bahwa ketika berlangsung pembentukan gamet pada individu heterozigot terjadi
perpisahan alel secara bebas sehingga setiap gamet hanya menerima sebuah gen saja. Oleh karena
itu, setiap gamet mengandung salah satu alel yang dikandung sel induknya.Peristiwa ini dikenal

dengan Persilangan Monohibrid yang dikenal pula dengan hukum segregasi. Persilangan ini
menggunakan satu sifat beda.
Dengan menggunakan kancing genetik warna merah dilambangkan dengan (M) dan warna putih
dilambangkan dengan (m), pada keturunan satu (F1) perkawinan dari keduanya merupakan
gabungan dari kedua gen (Mm) yang dalam fenotifnya bentuk tetap bulat (percampuran kancing
merah dan kancing putih). Sedangkan pada keturunan F2 mulai tampak berlakunya hukum
segregasi yaitu pemisahan secara bebas gen sealel. Pada percobaan ini, persilangan antara
keturunan F1 didapatkan perbandingan genotifnya dari MM : Mm : mm adalah 34 : 8 : 9 sehingga
perbandingan fenotifnya adalah 34 : 17.
Perbandingan ini sesuai dengan hukum Mendel I atau hukum segregasi dimana pada persilangan
antar keturunan F1 tampak bahwa perbandingan hasil perkawinan antar faktor dominan dan resesif
pada genotifnya adalah 1 : 2 : 1 dan perbandingan fenotifnya adalah 3 : 1.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan mengenai hukum Mendel I atau persilangan monohibrid
yang diambil secara acak berdasarkan data di atas jelas sesuai dengan hukum Mendel.
4.2 Persilangan dihibrid
Hukum Mendel II dikenal pula dengan hukum asortasi atau hukum berpasangan secara bebas.
Menurut hukum ini, setiap gen/sifat dapat berpasangan secara bebas dengan gen atau sifat lain.
Meskipun demikian, gen untuk satu sifat tidak berpengaruh pada gen untuk sifat lain yang bukan
termasuk alelnya. Hukum Mendel II ini dapat dijelaskan melalui persilangan dihibrid, yaitu
persilangan dengan dua sifat beda, dengan dua alel berbeda dan memiliki perbandingan 9 : 3: 3 : 1.
Hasil yang didapatkan merah-hijau yaitu 27, merah kuning 10, putih hijau 11, putih kuning 2, hal
ini dapat menunjukan pebandingan fenotif 9:3:3:1

VII.

Kesimpulan

Pada persilangan monohibrid (satu sifat beda) akan menghasilkan rasio genotif 1:2:1
sedangkan rasio fenotifnya yaitu 3:1 jika merupakan monohibrid yang dominan
Persilangan dihibrid akan menghasilkan rasio genotifnya yaitu 1:2:2: 4:1:2:1:2:1 dan
rasio fenotifnya yaitu 9:3:3:1
Pada persilangan dihibrid diketahui selalu merah-hijau yang frekuensinya banyak,
hal tersebut disebabkan warna merah-hijau dominan.
Genotif adalah komposisi satu sifat yang tak nampak
Fenotif adalah sifat yang tampak pada keturunaan

Daftar Pustaka
Suryo.1990.Genetika Manusia.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Syamsuri, Istamar, dkk. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga
Yatim, Wildan. 1996. Genetika. Bandung: TARSITO
Lampiran Pertayaan
1. Panjang alel ( kancing merah sebagai induk dominan homozigot sementara kancing putih
sebagai induk resesif homozigot
2. Geberasi pertama ( f1 )
3. Generasi yang ditunjukan dengan hasil perbandingan fenotif dan genotif adalah f2
4. Dari hasil pengamatan ini setiap pasangan kancing genetika memiliki gamet janen dan
gamet betina,kemudian ada yang bersifat dominan dan ada pula yang bersifat
resesif,kemudian hasil pencampuran secara acak menghasilkan f1. Hasil dari pencampuran
f1 disilngkan dengan f1 menghasilkan f2.

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA


BAB II
KEANEKARAGAMAN PADA HEWAN DAN TUMBUHAN
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Genetika
Dosen Pengampu : Aa juhanda M.Pd

Di susun oleh :
Kelompok 1
Ulfa Nurajizah

1431011004

E.desri Handayani

1431011005

Dyah Ayu Rahma S.

1431011014

Puteri Galura Asih

1431011022

Ridwansyah

1431011023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI
2016