Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Prinsip
Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan melarut yang berbeda dari
komponen-komponen dalam campuran/pemilihan jenis pelarut berdasarkan
hidrolisa terhadap piperin dalam suasana asam, menghasilkan piperidin
C3H10NH, dan asam tak jenuh piperat.
1.2 Tujuan
a. Dapat melakukan isolasi piperin dari buah lada putih (Piperis albi).
b. Dapat melakukan analisis kualitatif hasil isolasi dengan metode
Kromatografi Lapis Tipis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan lada (Piper albi) termasuk tumbuhan semak atau perdu dan
sering kali memanjat dengan akar-akar pelekat. Tumbuhan lada dikenal dengan
dengan beberapa nama antara lain piper, lada, merica (Jawa), pedes (Sunda) dan
sakang.
Berdasarkan sistem klasifikasi dari Cronquist dalam pasuki (1994)
klasifikasi tanaman lada adalah sebagai berikut:
Divisi

: Magndrophyta

Kelas

: Magnolipisida

Anak kelas

: Magnolidae

Bangsa

: Piperales

Suku

: Piperaceae

Marga

: Piper

Spesies

: Piper albi L. (Sari, 2011)


O

O
O

H
H

H
H

N
N

Isochavisin

Isopiperin

O
O

H
H

O
O

H
H

H
N
H
H

Chavisin

Piperin

Lada mengandung minyak atsiri, pinena, kariofilena, lionena, filandrena


alkaloid piperina, kavisina, piperitina, piperidina, zat pahit dan minyak
lemak.Lada memilki rasa pedas, berbau khas dan aromatik.Rasa pedas dari buah
lada putih 90-95% disebabkan oleh adanya komponen trans piperin yang ada
dalam buah kering yang kadarnya 2-5 % dan terdiri atas senyawa asam amida
piperin dan asam piperinat. Rasa pedas piperin masih ada meskipun diencerkan
1:200.000. Rasa pedas disebabkan oleh resin yang disebut kavisin. Kandungan
piperin dapat merangsang cairan lambung dan air ludah.Selain itu lada bersifat
pedas, menghangatkan dan melancarkan peredaran darah (Septiatin, 2008).
Khasiat dari buah lada yaitu dapat mengobati kaki bengkak pada ibu hamil,
kolera, nyeri haid, rematik, salesma, air mani yang encer, dan impoten (Septiatin,
2008).
Kandungan lain yang menghasilkan bau aromatik adalaah minyak atsiri
dengan kadar 1-2,5 % yang mengandung piperanol, eugenol, safrol, metal eugenol
dan miristissin (Hadyherbs, 2011).Kandungan piperin dapat merangsang cairan
lambung dan air ludah. Selain itu lada bersifat pedas, menghangatkan dan
melancarkan peredaran darah (Septiatin, 2008). Khasiat dari buah lada yaitu dapat
mengobati kaki bengkak pada ibu hamil, kolera, nyeri haid, rematik, salesma, air
mani yang encer, dan impoten (Septiatin, 2008).

Piperin (1-piperilpiperidin) C17H19O3N merupakan alkaloid dengan inti


piperidin. Piperin berbentuk kristal berwarna kuning. Piperin dapat mengalami
foto-isomerisasi oleh sinar membentuk isomer isokhavisin (trans-cis), isopiperin
(cis-trans), chavisin (cis-cis), dan piperin (trans-trans) (Anwar, 1994).
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak
ditemukan di alam.Hampir seluruh alkaloid berasa dari tumbuh-tumbuhan dan
tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan.Semua alkaloid mengandung paling
sedikit sebuah atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan dalam sebagian
besarnya atom nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Batasan
mengenai alkaloid seperti dinyatakan di atas perlu digunakan secara hati-hati,
karena banyak senyawa heterosiklik nitrogen lain yang ditemukan di alam yang
bukan merupakan golongan alkaloid. Misalnya, senyawa-senyawa pirimidin,
pteridin, dan asam nukleat yang tidak pernah dinyatkan sebagai alkaloid
(Achmad, 1986: 47).
Metode yang digunakan untuk mengisolasi piperin dari lada putih adalah
ekstraksi Soxhlet sederhana yang merupakan pemisahan satu atau beberapa bahan
dari suatu padatan dengan menggunakan bantuan pelarut.Pemisahan terjadi atas
dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam
campuran/pemilihan jenis pelarut ini didasarkan atas beberapa faktor, yaitu
selektivitas, kelarutan, kemampuan tidak saling campur, reaktivitas, titik didih,
dan criteria lainnya (Bernasconi, 1995).
Kristalisasi Langsung
Meskipun cara ini merupakan prosedur paling sederhana, tetapi jarang
memberikal hasil yang memuaskan untuk pemisahan alkaloid murni, kecuali
apabila satu alkaloid yang terdapat dalam bahan tidak larut. Beberapa kombinasi
pelarut yang sering digunakan untuk kristalisasi alkaloid meliputi metanol, etanol
berair,

metanol-kloroform,

metanol-eter,

metanol-aseton,

dan

etanol-

aseton(Sastrohamodjojo, 1996).
KLT dapat digunakan untuk memisahkan berbagai senyawa seperti ion ion
anorganik, kompleks senyawa senyawa organik dengan anorganik, dan senyawa

senyawa organik baik yang terdapat di alam dan senyawa senyawa organik
sintetik.Kelebihan penggunaan kromatografi lapis tipis dibandingkan dengan
kromatografi kertas ialah karena dapat dihasilkannya pemisahan yang lebih
sempurna, kepekaan yang lebih tinggi, dan dapat dilaksanakan dengan lebih cepat.
Banyak pemisahan yang memakan waktu berjam jam bila dikerjakan dengan
kromatografi kertas, tetapi dapat dilaksanakan hanya beberapa menit saja bila
dikerjakan dengan KLT. Empat macam adsorben yang umum dipakai ialah silika
gel, alumina, kieselguhr, dan selulosa.
Sampel yang merupakan campuran senyawa yang akan dipisahkan,
dilarutkan dalam zat pelarut yang mudah menguap, misalnya methanol. Tetesan
sampel harus di usahakan sekecil mungkin dengan meneteskan berulang kali,
dengan di biarkan mengering sebelum tetesan berikutnya dikerjakan. Pemilihan
sistem pelarut yang dipakai didasarkan atas prinsip like dissolves like, tetapi akan
lebih cepat .pemilihan sistem pelarut atas dasar like dissolves like berarti untuk
memisahkan sampel yang bersifat nonpolar digunakan sistem pelarut yang
bersifat non polar juga (Adnan, 1997).

BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Alat
a. Erlenmeyer
b. Kaca arloji
c. Kapas basah
d. Hot plate + kasa
e. Batang pengaduk
f. Kertas saring
g. Corong
h. Beaker glass 100 ml
i. Cawan
j. Chamber
k. Mortir + stamper
l. Vial 10 ml
3.2 Bahan
a. Buah lada putih (Piper albi)
b. Penampak bercak Anisaldehid-asam sulfat
c. Pembanding Piperin
d. Methanol
e. KOH etanolis 10%
f. Plat KLT
g. Etil asetat
h. Klorofom

3.3 Prosedur
Ekstraksi dan Pemurnian kristal
1. Ditimbang 10 gram sampel, lalu dihaluskan dan diekstraksi dengan 150
ml etanol 95% di atas hotplate, tutup dengan kaca arloji yang atasnya
ditaruh kapas basah. Ekstraksi dilakukan selama 1 jam.
2. Larutan disaring dan dipekatkan dengan cara diuapkan diatas waterbath.
3. Ektrak kental ditambahkan dengan 10 ml KOH etanolis 10%, kemudian
didiamkan sebentar dan dilakukan pemisahan antara filtrate dan residu
dengan teknik dekantasi.
4. Filtrate didiamkan semalaman, kemudian diamati keesokan harinya jika
sudah terbentuk Kristal berwarna kuning dengan TL 125-1260C.
KLT Ekstrak Buah Lada Putih
Penjenuhan pengembang (fasa gerak)
a. Disiapkan chamber dan pelarut atau campuran pelarut yang digunakan
sebagai fasa gerak [Kloroform:Etil asetat (9:1)].
b. Dimasukan 5 ml pelarut atau campuran pelarut ke dalam chamber.
c. Dibiarkan (dijenuhkan) selama 30 menit
Penotolan sub-fraksi pada plat KLT
a. Kristal yang akan dipisahkan, dilarutkan ke dalam methanol begitu
juga dengan pembanding piperin.
b. Ditotolkan masing-masing berupa bercak pada batas bawah pelat yang
telah ditandai dengan menggunakan pipa kapiler.
c. Dibiarkan pelarut pada bercak menguap
Elusi
a. Pelat KLT dimasukan ke dalam yang telah dijenuhkan.
b. Dibiarkan proses elusi berlangsung sampai batas atas
c. Diangkat pelat setelah proses elusi mencapai atas dan biarkan
mongering.
d. Dihitung Rf bercak pada lapisan secara visual, UV-254 nm, dan
disemprot penampak bercak Anisaldehid-asam sulfat.

BAB IV
HASIL PERCOBAAN

N
O
1.

Variabel yang diamati


Preparasi Sampel
Sampel yang digunakan
Massa sampel awal yang ditimbang
Jumlah pelarut yang digunakan

2.

3.

4.

5.

Hasil
Buah lada putih
10 gram
50 ml

Proses Ektraksi
Waktu ekstraksi
Jumlah ektrak
Rendemen

1 jam
1.93 gram
19.3 %

Proses Isolasi
Saat ditambahkan lar. KOH etanolis 10%
Waktu pembentukan kristal
Jumlah kristal yang diperoleh
Rendemen kristal
Bentuk dan warna kristal

Terbentuk endapan coklat


24 jam
0.0536 gram
2.7 %
Kristal hablur berwarna putih

Proses Identifikasi
Warna spot setelah identifikasi:
Warna saat disinari UV 254 nm
Warna saat disinari UV 365 nm

hijau
ungu

Gambar hasil KLT


terbentuk spot antara
pembanding dan sampel yang
sejajar
5.
Kristal piperin :
Rf = 0.9cm/4.5cm = 0.2 cm

HRf = 0.2 x 100 = 2


Pembanding piperin :
Rf = 0.8cm/4.5cm = 0.17 cm
HRf = 0.17 x 100 = 17

Menghitung harga Rf
Rf = jarak tempuh spot/jarak tempuh fasa
gerak
HRf = Rf x 100

BAB V
PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini dilakukan isolasi piperin dari buah lada putih
(Piperalbii). Piperin diekstraksi menggunakan pelarut etanol 95%. Ektstraksi ini
terjadi berdasarkan perpindahan massa komponen zat padat sampel pada pelarut,
dimana perpindahan terjadi pada lapisan antarmuka, kemudian berdifusi masuk ke
dalam pelarut. Proses pengekstraksi komponen kimia sel tanaman yaitu pelarut
organik akan menembus dinding sel tanaman dan masuk ke dalam rongga sel
yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut ke dalam pelarut di luar sel, maka
larutan yang pekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus
menerus sampai terjadi kesetimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam
dan di luar sel.
Piperin dapat diektraksi dengan menggunakan refluks sederhana dengan
pelarut etanol 95 %. Refluks sederhana dipilih karena jumlah sampel yang dipakai
hanya sedikit yaitu 10 gram, selain itu hanya dibutuhkan waktu sekitar 1 jam
untuk

proses

ekstraksinya.

Refluks

sederhana

dilakukan

menggunakan

Erlenmeyer yang ditutup kaca arloji yg diatasnya diberi kapas basah lalu proses
pemanasannya dilakukan diatas hotplate. Kapas basah disini berfungsi sebagai
pendingin agar sampel tidak meletup-letup di dalam erlenmeyer. Mekanisme
ekstraksinya yaitu pelarut dipanaskan dan akan menjadi uap. Uap pelarut akan
naik dan tertahan dibawah kaca arloji lalu turun kembali ke dalam erlenmeyer
sebagai cairan (embun). Cairan pelarut yang jatuh perlahan-lahan akan berdifusi
ke dalam sampel mengekstrak piperin yang terkandung dalam sampel, hal ini
terjadi terus menerus selama 1 jam.
Setelah ekstraksi selesai, sampel didinginkan lalu disaring agar senyawa
pengotor yang ada di dalam ekstrak hilang.Pendinginan ini bertujuan untuk
menghentikan reaksi.Selanjutnya ekstrak jernih dipekatkan di tas waterbath.
Setelah sampel diuapkan di atas waterbath ekstrak yang didapat tidak begitu

kental karena digunakan etanol 96% yang artinya 4% tersebut adalah air.Setelah
didapat ekstrak yang kental, kemudian ditimbang dan dihitung rendemennya.Hasil
rendemennya adalah 19.3%.Ekstrak kental ini yang digunakan untuk mengisolasi
piperin dengan metode rekristalisasi.Rekristalisasi merupakan suatu teknik
pemisahan zat padat dari suatu zat pencemar dengan cara mengkristalkan kembali
zat tersebut setelah dilarutkan dengan pelarut yang sesuai. Metode rekristalisasi
menggunakan prinsip perbedaan kelarutan zat pencemar dengan zat yang akan
kita ambil.
Ekstrak dimasukan ke dalam vial 10 ml, kemudian ekstrak ditambahkan
dengan KOH-Etanolik 10%, setelah ditambahkan terlihat endapan berwarna
coklat dan terlihat seolah-olah terdapat 2 fasa di dalam vial. Endapan coklat inilah
yang diduga sebagai kristal. Fungsi dari KOH-Etanolik 10% adalah untuk
mengendapkan resin yang terdapat di dalam ektrak tadi. Campuran sampel dan
KOH-Etanolik 10% didiamkan sebentar lalu dipisahkan filtrat dan residunya
dengan teknik didekantasi. Kemudian filtratnya dibagi ke dalam 2 vial untuk
didiamkan semalam (24 jam), kemudian diamati keesokan harinya apakah
terbentuk kristal atau tidak. Saat dekantasi terjadi dan sebelum didiamkan
semalaman, sudah terlihat kristal hablur yang terlihat. 1 vial disimpan di suhu
ruang dan vial lainnya dimasukan ke dalam lemari pendingin untuk melihat
perbandingan kristal yang terbentuk. Kristal didiamkan selama 24 jam, karena
waktu tersebut merupakan batasan waktu yang cukup untuk membentuk kristal.
Setelah 24 jam terlihatkristal yang lebih banyak pada vial yang disimpan di dalam
lemari pendingin karena kristal terbentuk optimum karena proses pendinginan.
Selanjutnya kristal dipisahkan lagi dengan teknik dekantasi, kemudian
dilakukan proses isolasi piperin dengan metode rekristalisasi. Tujuan dari isolasi
adalah

untuk

memurnikan

senyawa

untuk

karakteristikpenuh

(sampai

elusidasi)atau untuk mengambil satu senyawa khusus yang dikehendai.Ekstrak


kental yang sudah diperoleh ditambah dengan KOH-etanolik 10% sebanyak 10 ml
dan diaduk hingga terbentuk endapan. KOH-etanolik 10% digunakan disini
berfungsi untuk membantu dalam pembentukan Kristal. Pencucian dengan KOH-

etanolik 10% ini dilakukan sampai kistal yang terbentuk murni. Kristal yang
didapat kemudian dikeringkan dengan tujuan untuk menghilangkan sisa pelarut.
Lalu ditimbang kristal yang diperoleh dan didapat kristal rendemen sebanyak
2.7%.
Pada proses pencucian kristal dengan KOH-etanolik 10% reaksi yang
terjadi sebagai berikut:

N
C

CH
HC

CH2

CH
HC

adisi

OH-

CH
HC

CH2

CH
HC

Piperin

eliminasi
serah terima
elektron

OOC

+
N

Piperidin

CH
HC

CH2

CH
HC

garam Asam piperat

Kristal kemudian diidentifikasi menggunakan metode kromatografi lapis


tipis (KLT). Prinsip dari KLT adalah like dissolve like yaitu interaksi antara
analit dengan fase gerak. Jika kepolaran analit dengan fase gerak sama, maka
harga Rf akan besar, dan juga sebaliknya.KLT digunakan untuk uji kualitatif, yang
bertujuan mengetahui ada tidaknya piperin dalam ekstrak yang didapatkan.
Sampel yang akan diidentifikasi adalah kristal piperin dan standar piperin.
Pertama-tama, chamber dijenuhkan dengan campuran 5 ml kloroform : etil asetat
(9 : 1). Penjenuhan dimaksudkan untuk membuat tekanan di dalam dan di luar
chamber sama, sehingga memudahkan ketika proses elusidasi.
Kemudian kristal dilarutkan dengan menggunakan etanol secukupnya
hingga benar-benar larut, kemudian ditotolkan pada plat Silika 60 F yang
sebelumnya sebelah nya telah ditotoli dengan larutan standar. Dimana larutan
standar digunakan sebagai pembanding ukuran kemurnian piperin. Apabila plat

silika yang sudah ditotoli standar dan isolat diamati disinar tampak menunjukkan
jarak tempuh spot (bercak) standar dan isolat sama, maka senyawa yang
terkandung di dalam isolat tersebut dikatakan murni. Warna yang ditunjukkan
ketika di bawah sinar tampak yaitu kuning, pada UV 254 nm berwarna hijau dan
pada UV 356 nm tampak warna ungu. UV 254 nm digunakan karena pada panjang
gelombang tersebut, senyawa aromatis dapat diamati, sedangkan pada UV 356
nm, banyak senyawa yang nantinya akan berflurosensi (berpendar). Kemudian
plat yang sudah diamati tersebut, disemprot dengan pereaksi semprot
anisaldehid/asam sulfat, anisaldehid/asam sulfat berfungsi sebagai pengompleks
warna, kemudian dipanaskan dengan oven pada suhu 110 C selama 10 menit dan
diamati warna yang terjadi.

Pemanasan berfungsi sebagai katalisator, yakni

mempercepat reaksi pengompleks warna dan untuk menguapkan kandungan air


yang masih tersisa, sehingga warna segera dapat dilihat.Warna yang ditunjukkan
dari bercak adalah kuning kehijauan.Identifikasi diatas membuktikan bahwa
dalam fructus Piperis albi mengandung senyawa piperin.
Setelah pelat didapatkan spot yang baik selanjutnya dihitung harga Rf dan
harga HRf. Kristal piperin :Rf = 0.9cm/4.5cm = 0.2 cm dan HRf = 0.2 x 100 = 20,
sedangkan Pembanding piperin :Rf = 0.8cm/4.5cm = 0.17 cmHRf = 0.17 x 100 =
17. Dari hasil yang diperoleh hargaRf Kristal dibandingkan dengan Rf standar
menunjukkan hasilnya mendekati atau sama berarti senyawa pada kristal tersebut
adalah benar piperin, dan diperkuat dengan hasil warna setelah penyemprotan
yang berwarna kuning. Selanjutnya kristal yang didapat ditentukan titik lelehnya.
Kristal piperin murni mempunyai titik leleh diatas 1200C, sedangkan dalam
literatur kristal piperin dari lada putih mempunyai titik leleh antara 1260-1300C.
Kristal yang diperoleh mempuyai titik leleh 129 0C, hal ini cocok dengan titik leleh
piperin pada literatur.

BAB VI
KESIMPULAN

Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :


a. Jumlah kristal yang diperoleh dari proses isolasi piperin adalah kristal hablur
berwarna putih dengan berat 0.0536 gram dan dengan presentase rendemen
2.7 %.
b. Berdasarkan hasil atau profil KLT menunjukkan bahwa terdapat senyawa
piperin yang ditandai dengan adanya warna kuning kehijauan pada deteksi
menggunakan UV 254 nm dan warna ungu pada deteksi menggunakan UV
356nm.
Identifikasi diatas membuktikan bahwa dalam fructus Piperis albi
mengandung senyawa piperin.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Chairil.

Dkk, 1996.Pengantar

Praktikum

Kimia

Oganik.Jakarta

:Depdikbud
Fessenden and Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Fessenden and Fessenden. 1991. Kimia Organik Jilid II. Jakarta : Erlangga.
Septiatin, Eatin ,2008, Apotek Hidup dari Rempah-Rempah, Tanaman Hias, dan
Tanaman Liar, CV.YRAMA WIDYA, Bandung, (60,61,62).
Sastrohamidjojo,Hardjono,1996,Sumber Bahan Alam,ugm press,Yogyakarta
Adnan,Muhammad, 1997, Teknik Kromatografi, Andi Offset, Yogyakarta, (9-14).
Anonim, 1980, Materia Medika Indonesia, Jilid IV, Departemen
Kesehatan
Indonesia, Jakarta (hal. 99-108)
Septiatin, Eatin, 2008, Apotek Hidup dari Rempah-Rempah, Tanaman Hias, dan v
Tanaman Liar, CV.YRAMA WIDYA, Bandung (hal.60,61,62)
Sarker, Satyajit D. & Nahar, Lutfun, 2007, Kimia untuk Mahasiswa Farmasi:
Bahan Kimia Organik,Alam dan Umum, Pustaka Pelajar, Yogyakarta (hal. 409)
Wiryowidagdo, Sumali, 2007, Kimia dan Farmakologi Bahan Alam Edisi 2,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta (hal. 177-179)
Anonim, 1978, Materia Medika Indonesia, Jilid II, Departemen

Kesehatan

Indonesia, Jakarta (hal. 135, 143144)


Stahl, Egon, 1985, Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi, Penerbit
ITB, Bandung
Achmad, Sjamsul Arifin. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta: Karunika
Universitas Terbuka
Fessenden Dan Fessenden. 1991. Kimia Organik Jilid II Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga
Sitorus, Marham. 2010. Kimia Organik Umum. Yogyakarta: Graham Ilmu

LAMPIRAN

Bagan Kerja
a. Ekstraksi dan Pemurian Kristal
Buah lada putih

(-)
(-)
(-)
(-)

timbang 10 gram sampel


gerus kasar dengan mortar
ekstraksi dengan 150 ml etanol 95% di atas hotplate, tutup dengan kaca arloji yang atasnya di
larutan disaring

Filtrat

Residu

(-) pekatkan dengan cara diuapkan diatas waterbath

Ektrak kental

(+) KOH etanolis 95%


(-) diamkan sebentar
(-) lakukan pemisahan antara filtrate dan residu dengan tek

Filtrat

Residu

(-) diamkan filtrate semalama


(-) amati keesokan harinya jik
lakukan penentuan Titik Leleh dan KLT.

b. Kromatografi Lapis Tipis


Penjenuhan pengembang (fasa gerak)
Chamber

(-) siapkan chamber dan pelarut atau campuran pelarut yang digunakan sebagai fasa gerak [Kloro
(-) dimasukan 5 ml pelarut atau campuran pelarut ke dalam chamber
(-) dibiarkan (dijenuhkan) selama 30 menit

Penotolan sub-fraksi pada plat KLT

Chamber siap digunakan

Ekstrak kental dan pembanding piperin

(-) dilarutkan ke dalam methanol masing-masing


(-) totolkan berupa bercak pada batas bawah pelat yang telah ditandai dengan menggunakan pipa
(-) biarkan pelarut pada pelat menguap

Pelat siap dimasukan pada chamber untuk proses elusi


Elusi
Pelat KLT

(-) masukan ke dalam yang telah dijenuhkan


(-) biarkan proses elusi beralngsung sampai batas atas
(-) angkat pelat setelah proses elusi mencapai batas atas dan biarkan mongering

pada lapisan secara visual, UV-254 nm, dan disemprot penampak bercak Anisaldehid-asam sulfat

Anda mungkin juga menyukai