Anda di halaman 1dari 30

TUGAS INDIVIDU

KERAGAMAN HAYATI LAUT


REPTIL LAUT
SEMESTER
DOSEN

: GENAP 2015/2016

: DRA. SUBARYANTI, MSI, Apt

Disusun oleh :
ENDANG WULAN SARI

14334711

FAKULTAS FARMASI
INSTITUS SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
penyertaan-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.
Terima kasih kami ucapkan kepada Dosen Mata Kuliah Pilihan Keanekaragaman
Hayati oleh Dra. Subaryanti, Msi, Apt di Program Studi Farmasi Institut Sains dan Teknologi
Nasional yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan tugas
ini, sehingga nantinya dapat memberi manfaat dan kontribusi yang berarti bagi para Pembaca.
Selain itu, tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman dan semua pihak
yang telah banyak membantu penyusunan tugas ini, baik dari segi dukungan moral maupun
material.
Dalam penyusunan makalah ini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk
mengumpulkan data dan keterangan yang diperoleh dalam penulisan makalah tersebut. Kami
juga menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan serta kelemahan dalam
menyusun makalah ini, karena ilmu pengetahuan yang kami miliki masih kurang.
Demikian akhir kata, bukan pujian yang kami harapkan, melainkan kritik dan saran
yang saya harapkan guna memperbaiki makalah ini. Akhirnya, kami ucapkan terima kasih
kepada dosen-dosen pembimbing serta seluruh pihak yang telah membantu kami dalam
penyusunan makalah ini.

Jakarta, Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

.............................................................................................. i

DAFTAR ISI

.............................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

.............................................................................................. 1

1.1
1.2
1.3

.............................................................................................. 1
.............................................................................................. 2
.............................................................................................. 2

Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penulisan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................... 3


2.1

Keanekaragaman Hayati.......................................................................................... 3

2.2

Ekosistem Air Laut

2.3

Pembagian Bioma Air Laut...................................................................................... 4

2.4

Reptil

............................................................................................... 4

...........................................................................................

BAB III PEMBAHASAN

............................................................................................... 8

3.1

Penyu Laut

...........................................................................................

3.2

Buaya Air Asin

............................................................................................... 17

3.3

Ular Laut

............................................................................................... 18

3.4

Reptil Laut Zaman Purba......................................................................................

19

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................26


4.1

Kesimpulan

............................................................................................... 26

4.2

Saran

................................................................................................26

BAB V PENUTUP

.................................................................................................28

DAFTAR PUSTAKA

............................................................................................... 29

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Reptil merupakan binatang melata yaitu kelompok hewan vertebrata yang
berdarah dingin dan memiliki sisik yang menutupi tubuhnya Kebanyakan binatang
dari kelas ini menggunakan indera penglihatan, penciuman, dan sentuhan untuk
mengenali lingkungan, menangkap mangsa, dan menghindari dari bahaya. Reptil
merupakan binatang berdarah dingin. Mereka menghangatkan tubuh dengan berjemur
di matahari.
Reptil merupakan salah satu bagian dari kekayaan hayati Indonesia dengan
tingkat endemisitas yang tinggi. Indonesia memiliki 600 jenis (WCMC 1992) dari
7427 jenis reptil yang terdapat di dunia (Obst 1998) dan 150 jenis merupakan jenis
yang endemik (WCMC 1992). Pulau Sumatera memiliki 300 jenis reptil dan amfibi
dan 23% diantaranya merupakan jenis endemik (Conservation International 2001)
Beberapa penelitian tentang reptil di Sumatera telah memberikan catatan-catatan baru,
misalnya Sudrajat (2001) menemukan 27 jenis reptil di Sumatera Selatan, dan
Endarwin (2006) menemukan 51 jenis reptil di Taman Nasional Bukit Barisan
Selatan. David dan Vogel (1996) menyatakan terdapat 127 jenis ular yang tersebar di
Pulau Sumatera. Menurut Sarbi (2000) keanekaragaman jenis satwaliar di HPH PT
RKI adalah 95 jenis, dan dua dari empat jenis reptil yang tercatat adalah jenis yang
dilindungi.
Keanekaragaman jenis merupakan salah satu variabel yang berguna bagi
tujuan manajemen pengelolaan dalam konservasi. Perubahan dalam kekayaan jenis
dapat digunakan untuk memprediksi dan mengevaluasi respon komunitas tersebut
terhadap kegiatan manajemen (Nichols et al. 1998). Kegiatan penelitian dan
eksplorasi keanekaragaman jenis reptil pada suatu wilayah yang baru merupakan
kegiatan awal bagi kegiatan penelitian reptil selanjutnya.
Reptil laut adalah jenis hewan diantara ke empat kelompok di atas yang
sebagian hidupnya berada di dalam laut. Namun mereka tetap membutuhkan udara
dan sinar matahari, sehingga terkadang mereka berada di daratan sekitar laut (zona
litoral).

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka rumusan masalah
dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Apa saja macam-macam biota laut dari kelas reptil dan bagaimanakah keragaman
hayatinya ?
2. Bagaimanakah anatomi dan fisiologi dari reptil laut ?
3. Bagaimanakah bentuk ekosistem reptil laut ?
1.3.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini adalah :
1.

Mengetahui macam biota laut dari kelas reptil serta keragaman hayatinya.

2.

Mengetahui anatomi dan fisiologi dari reptil laut.

3.

Mengetahui ekosistem reptil laut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati merupakan pernyataan mengenai berbagai macam


(variasi) bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat yang terdapat pada berbagai tingkatan
makhluk hidup.
Menurut UU No. 5 tahun 1994, keanekaragaman hayati merupakan
keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber, termasuk di antaranya
daratan, lautan, dan ekosistem akuatik (perairan) lainnya, serta kelompok-kelompok
Ekologi

yang

merupakan

bagian

dari

keanekaragamannya,

mencakup

keanekaragaman dalam spesies, antara spesies dengan ekosistem. Berdasarkan


definisi dari undang-undang tersebut, keanekaragaman hayati terdiri atas tiga
tingkatan, yaitu keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis, dan keanekaragaman
ekosistem.
Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup yang
menunjukan keseluruhan variasi gen, spesies, dan ekosistem di suatu daerah. Dimana
keragaman ekosistem adalah perbedaan komponen abiotik dan komponen biotik,
secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem
perairan.
Ekosistem darat meliputi sejumlah bioma, antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bioma padang rumput atau savanna


Bioma hutan gugur iklim sedang
Bioma tundra
Bioma taiga
Bioma hutan basah atau hutan hujan tropis
Bioma padang pasir atau gurun

Ekosistem perairan berdasarkan aliran airnya dibagi menjadi :


1. Ekosistem perairan mengalir (lotik)
2. Ekosistem perairan tidak mengalir (lentik)
Berdasarkan salinitasnya dibagi menjadi :
1. Ekosistem air tawar
2. Ekosistem air laut
2.2

Ekosistem Air Laut


Ekosistem laut atau disebut juga ekosistem bahari merupakan ekosistem yang
terdapat di perairan laur, terdiri atas ekosistem perairan dalam, ekosistem pantai pasir
dangkal/bitarol, dan ekosistem pasang surut. Ekosistem air laut memiliki ciri-ciri
umum sebagai berikut :
1) Memiliki salinitas tinggi, semakin mendekati khatulistiwa semakin tinggi.
2) NaCl mendominasi mineral ekosistem laut hingga mencapai 75%.
3) Iklim dan cuaca tidak terlalu berpengaruh pada ekosistem laut.

4) Memiliki variasi perbedaan suhu di permukaan dengan di kedalaman.


Bioma air laut luasnya lebih dari dua pertiga permukaan bumi, dan tidak
banyak terpengaruh oleh perubahan iklim dan cuaca. Ciri khas air laut adalah
mempunyai kadar garam yang tinggi. Kadar garam rata-rata air laut adalah 35 ppm
(part per million). Di daerah khatulistiwa kadar garamnya lebih tinggi daripada di
daerah yang jauh dari khatulistiwa. Organisme laut memiliki pola adaptasi terhadap
tekanan osmosis air laut yang tinggi dengan cara yang berlawanan dengan organisme
air tawar. Ikan laut misalnya, mengatasi kekurangan cairan akibat keluarnya cairan
tubuh secara osmosis, dengan cara bayak minum air, sedikit mengeluarkan urin dan
mengekskresikan garam-garaman melalui insang.
Suhu air di permukaan lebih tinggi daripada di bagian dalam, karena
permukaan menyerap panas dari cahaya matahari. Perbedaan ini menyebabkan air
yang ada di permukaan tidak dapat bercampur dengan air yang ada di lapisan
bawahnya. Ini disebabkan air yang suhunya lebih dingin memiliki massa jenis yang
lebih besar. Di antara kedua lapisan air yang dingin dan lapisan yang hangat itu
terdapat lapisan termoklin.
2.3

Pembagian Bioma Air Laut


Laut merupakan wilayah yang sangat luas, lebih kurang dua pertiga dari
permukaan bumi. Wilayah ekosistem laut sangat terbuka sehingga pengaruh cahaya
Matahari sangat besar. Daya tembus cahaya Matahari ke laut terbatas, sehingga
ekosistem laut terbagi menjadi dua daerah, yaitu daerah laut yang masih dapat
ditembus cahaya Matahari, disebut daerah fotik, daerah laut yang gelap gulita, disebut
daerah afotik. Di antara keduanya terdapat daerah remang-remang cahaya yang
disebut daerah disfotik.
Sampai berapa dalamkah cahaya matahari dapat menembus laut? Hal ini
tergantung pada kejernihan air dan letak geografinya. Berdasarkan intensitas
cahayanya, ekosistem laut dibedakan menjadi 3 bagian:
1. Daerah fotik : daerah laut yang masIh dapat ditembus cahaya matahari, ke
dalaman maksimum 200 m.
2. Daerah twilight : daerah remang-remang, tidak efektif untuk kegiatan
fotosintesis, kedalaman antara 200 - 2000 m.
3. Daerah afotik : daerah yang tidak tembus cahaya matahari, jadi gelap sepanjang
masa.

Sebagaimana pada ekosistem air tawar, ekosistem laut pun dibagi menjadi
beberapa daerah berdasarkan ke dalamannya, yaitu sebagai berikut:
1. Daerah litoral, yaitu daerah laut yang berbatasan dengan daratan. Daerah litoral
dapat ditembus oleh cahaya matahari sampai ke dasar. Radiasi matahari, variasi
temperatur dan salinitas mempunyai pengaruh yang lebih berarti untuk daerah ini
dibandingkan dengan daerah laut lainnya.
2. Daerah neritik, merupakan daerah laut dangkal, daerah ini masih dapat ditembus
cahaya sampai ke dasar, kedalaman daerah ini dapat mencapai 200 m.
3. Daerah batial, yaitu daerah dengan ke dalaman 200-300 m.
4. Daerah abisal, yaitu daerah yang ke dalamannya lebih dari 2000 m.

Daerah yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi adalah daerah litoral dan
neritik. Karena banyak cahaya matahari, di daerah ini banyak terdapat fitoplankton
dan zooplankton yang merupakan sumber makanan bagi organisme laut lainnya. Pada
siang hari plankton bergerak menuju ke laipsan yang lebih dalam, sedangkan pada
malam hari bergerak menuju ke permukaan laut. Ikan-ikan mengikuti gerakan
plankton tersebut. Itulah sebabnya, para nelayan mencari ikan di malam hari. Di
daerah batial atau dasar laut yang tidak ada cahaya hanya dihuni oleh ikan-ikan khas,
misalnya ikan yang dapat mengeluarkan cahaya. Umumnya organisme yang hidup di
daerah ini menunggu jatuhan bahan organik dari daerah permukaan.
2.4

Reptil
Reptilia (dalam bahasa latin, reptil = melata) memiliki kulit bersisik yang
terbuat dari zat tanduk (keratin). Reptilia merupakan kelompok vertebrata yang
beradaptasi untuk hidup di darat yang lingkungannya kering. Adanya sisik dan kulit

yang menanduk mencegah hilangnya kelembaban tubuh dan membantu hewan untuk
hidup di permukaan yang kasar. Nama kelas Reptilia menunjukkan cara berjalan
(latin: retum=melata).
Reptil adalah hewan bertulang belakang yang bersisik dan bernapas dengan
paru-paru. Ciri utama reptil adalah tubuhnya yang ditutupi dengan sisik-sisik rata atau
berduri yang berfungsi untuk mengatur sirkulasi air melalui kulitnya. Tidak seperti
ikan, sisik reptil tidak saling terpisah. Sisik-sisik tersebut tersusun dari protein yang
disebut keratin. Tidak terdapat rambut atau bulu pada reptil (Grzimek 1975). Reptil
termasuk satwa ektotermal karena memerlukan sumber panas eksternal untuk
melakukan kegiatan metabolismenya.
Reptilia tersebar baik di daerah teropis maupun daerah subtropics. Pada
daerah-daerah yang mendekati kutub dan tempat-tempat yang lebih tinggi jumlah dan
jenisnya makin sedikit. Reptil menempati macam-macam habitat. Phyton misalnya
terdapat di daerah-daerah tropis, hanya terdapat di rawa-rawa, sungai atau sepanjang
pantai. Penyu terbesar teradapat dilaut dan kura-kura darat raksasa terdapat di
kepulauan. Kadal dan ular umumnya terrestrial, tetapi ada yang menempati karangkarang atau pohon.
Reptil dikelompokkan menjadi :
a) Ordo Crocodilia (buaya, garhial, caiman, dan alligator)
b) Ordo Sphenodontia (tuatara Selandia Baru)
c) Ordo Squamata (kadal, ular dan amphisbaenia ("worm-lizards")
d) Ordo Testudinata (kura-kura, penyu, dan terrapin)
Hewan reptil seperti kadal, iguana laut, beberapa ular dan penyu serta berbagai
jenis buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun mereka akan
kembali ke daratan ketika meletakkan telurnya.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Jenis-jenis Penyu Laut
A. Taksonomi Penyu
Taksonomi penyu digolongkan dalam :
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Sauropsida
Order
: Testudines
Suborder
: Cryptodira
Superfamily
: Chelonioidea
Family
: Cheloniidae
Species :
1) Chelonia mydas (Penyu hijau)
2) Eretmochelys imbricate (Penyu sisik)
3) Lepidochelys kempi (Penyu lekang kempi)
4) Lepidochelys olivacea (Penyu lekang)
5) Natator depressus (Penyu pipih)
6) Caretta caretta (Penyu tempayan)
Family : Dermochelyidae
Species : Dermochelys coriacea (Penyu belimbing)
B. Morfologi Penyu
Secara morfologi, penyu mempunyai keunikan-keunikan tersendiri
dibandingkan hewan-hewan lainnya. Tubuh penyu terbungkus oleh tempurung
atau karapas kerasyang berbentuk pipih serta dilapisi oleh zat tanduk. karapas
tersebut mempunyai fungsi sebagai pelindung alami dari predator. Penutup pada
bagian dada dan perut disebut dengan plastron.

Ciri khas penyu secara morfologis terletak pada terdapatnya sisik infra
marginal (sisik yang menghubungkan antara karapas, plastron dan terdapat alat
gerak berupa flipper. Flipper pada bagian depan berfungsi sebagai alat dayung
dan flipper pada bagian belakang befungsi sebagai alat kemudi. Pada penyupenyu yang ada di Indonesia mempunyai ciri-ciri khusus yang dapat dilihat dari
warna tubuh, bentuk karapas, serta jumlah dan posisi sisik pada badan dan kepala
penyu.
Penyu mempunyai alat pecernaan luar yang keras, untuk mempermudah
menghancurkan, memotong dan mengunyah makanan. Penyu memiliki sepasang
tungkai depannya yang berupa kaki pendayung, ini memberinya ketangkasan
berenang di dalam air. Walau selama bertahun-tahun berkelana di dalam air,
sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus naik ke
permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paruparu. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan
waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 73
hari.
Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir
telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan
yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itupun tidak
memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan predator alaminya seperti
kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik (anak
penyu) tersebut menyentuh perairan dalam. Menurut data para ilmuwan, penyu
sudah ada sejak akhir zaman Jurassic (145 - 208 juta tahun yang lalu) atau seusia
dengan dinosaurus. Penyu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter,
atau juga penyu cimochelys, yang berenang di laut purba seperti penyu masa
kini.
C. Spesies Penyu
1) Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)
Penyu belimbing telah bertahan hidup selama lebih dari ratusan juta
tahun, kini spesies ini menghadapi kepunahan. Selama dua puluh tahun
terakhir jumlah spesies ini menurun dengan cepat, khususnya di kawasan
pasifik, hanya sekitar 2.300 betina dewasa yang tersisa. Hal ini menempatkan
penyu belimbing pasifik menjadi penyu laut yang paling terancam
populasinya di dunia. Di kawasan Pasifik, seperti di Indonesia, populasinya

hanya tersisa sedikit dari sebelumnya (2.983 sarang pada 1999 dari 13000
sarang pada tahun 1984). Untuk mengatasi hal tersebut, pada tanggal 28

Agustus 2006 tiga Negara yaitu Indonesia, Papua New Guinea dan
Kepulauan Solomon telah sepakat untuk melindungi habitat penyu belimbing
melalui MoU Tri National Partnership Agreement (WWF, 2013).
Gambar 1. Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)
Klasifikasi penyu belimbing
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Sauropsida

Order

: Testudines

Suborder

: Cryptodira

Superfamily : Chelonioidea
Family

: Dermochelyidae

Spesies

: Dermochelys coriacea

Nama lokal : Penyu belimbing


Penyu belimbing memiliki karapas berwarna gelap dengan bintik
putih. Ukuran penyu belimbing dapat mencapai 180 cm dan berat mencapai
500 kg. Penyu belimbing dapat ditemukan dari perairan tropis hingga ke
lautan kawasan sub kutub dan biasa bertelur di pantai-pantai di kawasan
tropis. Spesies ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di lautan terbuka
dan hanya muncul ke daratan pada saat bertelur. Penyu belimbing betina
dapat bertelur empat sampai lima kali per musim, setiap kali sebanyak 60
sampai 129 telur. Penyu belimbing bertelur setiap dua atau tiga tahun dengan
masa inkubasi sekitar 60 hari (WWF, 2013).

2) Penyu Hijau (Chelonia mydas)


Penyu hijau merupakan jenis penyu yang paling sering ditemukan dan
hidup di laut tropis. Dapat dikenali dari bentuk kepalanya yang kecil dan
paruhnya yang tumpul. Dinamai penyu hijau bukan karena sisiknya berwarna
hijau, tapi warna lemak yang terdapat di bawah sisiknya berwarna hijau.
Tubuhnya bisa berwarna abu-abu, kehitam-hitaman atau kecoklat-coklatan.
Daging jenis penyu inilah yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia
terutama di Bali. Mungkin karena orang memburu dagingnya maka penyu ini
kadang-kadang pula disebut penyu daging.
Penyu hijau dewasa hidup di hamparan padang rumput dan ganggang.
Berat penyu hijau dapat mencapai 400 kg, namun di Asia Tenggara yang
tumbuh paling besar sekitar separuh ukuran ini. Penyu hijau di Barat Daya
kepulauan Hawai kadang kala ditemukan mendarat pada waktu siang untuk
berjemur panas. Anak-anak penyu hijau (tukik), setelah menetas, akan
menghabiskan waktu di pantai untuk mencari makanan.
Tukik penyu hijau yang berada di sekitar Teluk California hanya
memakan alga merah. Penyu hijau akan kembali ke pantai asal ia dilahirkan
untuk bertelur setiap 3 hingga 4 tahun sekali. Ketika penyu hijau masih muda
mereka makan berbagai jenis biota laut seperti cacing laut, udang remis,
rumput laut juga alga. Ketika tubuhnya mencapai ukuran sekitar 20-30 cm,
mereka berubah menjadi herbivora dan makanan utamanya adalah rumput
laut.
Klasifikasi penyu hijau
Kingdom
: Animalia
Sub Kingdom : Metazoa
Phylum
: Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Class
: Reptilia
Sub Class
: Anapsida
Ordo
: Testudinata
Sub Ordo
: Cryptodira
Family
: Cheloniidae
Spesies
: Chelonia mydas
Nama lokal : Penyu hijau

Gambar 2. Penyu hijau (Chelonia mydas)


3) Penyu Pipih (Natator depressus)
Penyu pipih dalam bahasa Inggris bernama flatback turtle. Pemberian
nama flatback turtle karena sisik marginal sangat rata (flat) dan sedikit
melengkung di sisi luarnya. Di awal abad 20, spesies ini sempat agak ramai
diperdebatkan oleh para ahli. Sebagian orang memasukkannya ke dalam
genus Chelonia, namun setelah diteliti dengan seksama para ahli sepakat
memasukkannya ke dalam genus Natator, satusatunya yang tersisa hingga
saat ini. Jenis ini karnivora sekaligus herbivora. Mereka memakan timun laut,
ubur-ubur, kerang-kerangan, udang, dan invertebrata lainnya.

Gambar 3. Penyu pipih (Natator depressus)


Klasifikasi Penyu Pipih
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Sauropsida
Sub Class
: Anapsida
Ordo
: Testudines
Sub Ordo
: Cryptodira
Superfamily
: Cheloniidea
Family
: Cheloniidae
Spesies
: Natator depressus
Nama lokal
: Penyu pipih

4) Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea)


Dalam bahasa Inggris, penyu ini dikenal dengan nama olive ridley
turtle. Penampilan penyu lekang ini adalah serupa dengan penyu hijau tetapi
kepalanya secara komparatif lebih besar dan bentuk karapasnya lebih
langsing dan bersudut. Tubuhnya berwarna hijau pudar, mempunyai lima
buah atau lebih sisik lateral di sisi sampingnya dan merupakan penyu terkecil
di antara semua jenis penyu yang ada saat ini. Seperti halnya penyu
tempayan, penyu lekang juga karnivora. Mereka juga memakan kepiting,
kerang, udang dan kerang remis.

Gambar 4. Penyu lekang (Lepidochelys olivacea)


Klasifikasi Penyu Lekang
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Sauropsida
Ordo
: Testudines
Sub Ordo
: Cryptodira
Superfamily : Cheloniidea
Family
: Cheloniidae
Spesies
: Lepidochelys olivacea
Nama lokal : Penyu lekang
5) Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate)
Penyu sisik atau dikenal sebagai hawksbill turtle karena paruhnya
tajam dan menyempit/meruncing dengan rahang yang agak besar mirip paruh
burung elang. Demikian pula karena sisiknya yang tumpang tindih/over
lapping (imbricate) seperti sisik ikan maka orang menamainya penyu sisik.
Ciri-ciri umum adalah warna karapasnya bervariasi kuning, hitam dan coklat
bersih, plastron berwarna kekuningkuningan. Terdapat dua pasang sisik

prefrontal. Sisiknya (disebut bekko dalam bahasa Jepang) banyak digunakan


sebagai bahan baku dalam industri kerajinan tangan terutama di Jepang untuk
membuat pin, sisir, bingkai kacamata dll. Sebagian besar bertelur di pulaupulau terpencil. Penyu sisik selalu memilih kawasan pantai yang gelap, sunyi
dan berpasir untuk bertelur. Paruh penyu sisik agak runcing sehingga
memungkinkan mampu menjangkau makanan yang berada di celah-celah
karang seperti sponge dan anemon. Mereka juga memakan udang dan cumicumi.

Gambar 5. Penyu sisik (Eretmochelys imbricate)


Klasifikasi Penyu Sisik
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Sauropsida
Ordo
: Testudines
Sub Ordo
: Cryptodira
Superfamily : Cheloniidea
Family
: Cheloniidae
Spesies
: Eretmochelys imbricate
Nama lokal : Penyu sisik
6) Penyu Tempayan (Caretta caretta)
Penyu ini dalam bahasa Inggris bernama loggerhead turtle. Warna
karapasnya coklat kemerahan, kepalanya yang besar dan paruh yang
bertumpuk (overlap) salah satu ciri mengenali penyu tempayan. Disamping
itu, terdapat lima buah sisik di kepala bagian depan (prefrontal), umumnya
terdapat empat pasang sisik coastal. Lima buah sisik vertebral. Plastron
berwarna coklat muda sampai kuning. Penyu tempayan termasuk jenis
karnivora yang umumnya memakan kerang-kerangan yang hidup di dasar
laut seperti kerang remis, mimi dan invertebrata lain. Penyu tempayan
memiliki rahang yang sangat kuat untuk menghancurkan kulit kerang.
Penyu tempayan dapat dijumpai hampir di semua lautan di dunia.
Hewan ini memiliki panjang 70 cm -210 cm dengan berat 135 kg 400 kg.

Penyu tempayan memiliki kebiasaan akan kembali ke pantai tempat asal ia


menetas untuk bertelur. Penyu tempayan mulai bertelur setelah berumur 20
30 tahun dan mempunyai masa penetasan telur selama 60 hari

Gambar 6. Penyu tempayan (Caretta caretta)


Klasifikasi Penyu Tempayan
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Sauropsida
Ordo
: Testudines
Sub Ordo
: Cryptodira
Superfamily : Cheloniidea
Family
: Cheloniidae
Spesies
: Caretta caretta
Nama lokal : Penyu tempayan
7) Penyu Lekang Kempii (Lepidochelys kempi)
Dalam bahasa Inggris spesies ini disebut sebagai Kemps ridley turtle.
Tubuhnya mirip dengan penyu lekang hanya sedikit lebih besar. Kata Kemps
pada Kemps ridley turtle digunakan untuk mengenang Richard Kemp yang
telah meneliti jenis ini sehingga bisa dibedakan dengan penyu lekang. Tidak
seorangpun tahu makna kata ridley di tengah nama mereka. Sebagian orang
berpendapat kata tersebut mungkin berasal dari kata riddle atau riddler
(teka-teki) karena memang teka-teki selalu ditimbulkan oleh penyu jenis ini.
Tidak ada yang tahu dari mana spesies ini datang dan di mana feeding ground
mereka.
Genus Lepidochelys ini sering kali melakukan peneluran secara
bersama-sama dalam jumlah yang sangat besar yang dikenal dengan sebutan
arribada (Spanyol) yang berarti arrival (Inggris). Pada 1947, Kemps ridley
turtle melakukan peneluran yang sangat spektakuler dengan jumlah induk
sekitar 40 ribu ekor bertelur secara bersamaan di pantai sepanjang 300 km di
Rancho Nuevo (Mexico) di siang hari. Hal ini kemungkinan bertujuan untuk
memastikan sebagian telur akan terselamatkan walaupan sebagian lagi akan
dimakan pemangsa. Seperti halnya penyu tempayan, penyu lekang kempii

termasuk jenis karnivora. Mereka juga memakan kepiting, kerang, udang dan
kerang remis.

Gambar 7. Penyu lekang kempi (Lepidochelys kempi)


Klasifikasi Penyu Lekang Kempi
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Sauropsida
Ordo
: Testudines
Sub Ordo
: Cryptodira
Superfamily : Cheloniidea
Family
: Cheloniidae
Spesies
: Lepidochelys kempi
Nama lokal : Penyu lekang kempi
Seiring dengan bertambahnya jumlah manusia, penyu mengalami
berbagai kesulitan. Manusia seringkali merusak habitat penyu bertelur.
Manusia juga memburu telurtelur penyu dan penyu-penyu dewasa sehingga
menurunkan tingkat pertumbuhan populasi penyu. Hal tersebut semakin
diperparah dengan adanya polusi yang disebabkan oleh manusia berupa
tumpahan minyak dari pengeboran minyak di lepas pantai dan plastik yang
dapat merusak habitat penyu
Beberapa upaya telah dilakukan untuk melestarikan penyu. Salah
satunya adalah dengan pengelolaan kelestarian penyu yang berkelanjutan.
Bentuk pengelolaan itu adalah melalui penangkaran penyu. Penangkaran
penyu yang ada di Indonesia antara lain penangkaran penyu sisik di Pulau
Pramuka, penangkaran penyu sisik di Balai Taman Nasional Laut Kepulauan
Seribu (TNLKpS), program penyelamatan penyu di Kuta, dan penangkaran

penyu Sukamaju di Pekon Muara Tembulih. Dengan adanya pengelolaan ini,


diharapkan masyarakat akan lebih peduli terhadap kelestarian penyu.
3.2 Buaya Air Asin (Saltwater Crocodile)
Saltwater Crocodile atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan buaya air
asin. Buaya air asin (Crocodylus porosus) merupakan binatang terbesar di antara
reptile lain. Seekor buaya air asin jantan dewasa rata-rata memiliki panjang 5 meter,
dengan berat 500 kilogram. Sedangkan buaya air asin betina dewasa berukuran
sepanjang 2,5 3 meter. Buaya ini memiliki gigi raksasa yang diklaim dapat
menghancurkan tengkorak sapi di rahang reptil tersebut. Bahkan, ada mood tertentu
yang bisa membawa makhluk hidup buas ini untuk menyerang manusia.

Area populasi buaya ini hidup di wilayah Australia. Selain itu, buaya air asin
juga berkembangbiak mulai dari Asia Tenggara hingga Australia. Dari namanya,
diketahui buaya jenis ini juga bisa hidup di laut seperti yang pernah ditemukan di laut
Jepang. Konon, eksistensi buaya ini telah ada atau lebih tua dari dinosaurus, sehingga
buaya air asin mampu memberi informasi sekilas mengenai nenek moyang hewan
raksasa yang pernah hidup di zaman prasejarah. Predator mematikan ini berburu di
daerah tropis di India timur, Asia Tenggara, Australia Utara, dan sebagian besar pulau
yang berada di daerah tersebut. Meskipun buaya menghabiskan sebagian besar hidup
di air asin, mereka tidak dapat dianggap reptil laut seperti kura-kura laut, karena
hewan ini bergantung pada daratan untuk makan dan kebutuhan air.
3.3 Ular Laut
Ular laut terdiri dari banyak jenis (salah satu di antaranya Erabu) dan
kesemuanya merupakan ular yang memiliki racun yang sangat kuat. Ada sebuah teori
yang menyatakan bahwa asal mula ular laut di dunia berasal dari pulau Borneo
(Kalimantan) Indonesia. Ular laut tersebut pada mulanya adalah ular Welang biasa

yang hidup di pantai Pulau Borneo dan kemudian mulai masuk ke laut lepas untuk
mencari ikan dan berevolusi dengan lingkungannya hingga menjadi ular laut yang kita
kenal sekarang ini.
Klasifikasi Ular laut
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Shrdata

Class

: Reptillia

Ordo

: Squamata

Familia

: Elapidae

Genus

: Laticauda

Species

: Laticauda sp

Ular laut ini dikenal juga dengan nama keren Pelamis platurus atau Pelagic
Sea Snakes dalam bahasa Inggris. Ular laut perut kuning dapat ditemukan di perairan
tropis atau sub tropis di Lautan Pasifik & Lautan India. Dari semua jenis ular laut,
ular laut perut kuning adalah jenis ular yang paling banyak tersebar. Seperti namanya
dalam bahasa Inggris, yaitu Pelagic Sea Snakes, ular ini mampu hidup di lautan
terbuka atau yang disebut juga dengan zona pelagic walaupun ular perut kuning lebih
memilih untuk hidup di perairan pantai. Sesuai dengan namanya, ular perut kuning
memilik warna kuning yang sangat cerah di bagian perutnya dengan warna hitam di
bagian punggungnya dengan sedikit motif zig zag kuning hitam di bagian ekornya.

Ular laut perut kuning adalah hewan yang aktif di siang hari dan pemakan
daging. Ular laut perut kuning berkembang biak secara ovovivipar di perairan terbuka
saat suhu di atas 20 derajat celcius. Populasi Ular laut perut kuning ini sendiri sangat
banyak & tidak termasuk dalam daftar hewan yang terancam punah atau rentan
punah.

3.4 Reptil Laut Zaman Purba


1) Nothosaurus
Nothosaurus adalah reptil semiaquatic yang agak mirip dengan
Plesiosaurus dalam rancangan tubuh secara umum (desain). Ini adalah evolusionis
terakhir periode trias antara 240-210 mya (juta tahun lalu). Hal ini sebenarnya
bukan Plesior apapun namun dalam Orde sendiri dan keluarga, meskipun secara
umum dapat dikelompokkan dengan reptil laut lainnya.
Sisa-sisa fosil telah ditemukan di Afrika Utara, Cina, Israel, Rusia, Jerman,
Italia, Swiss dan Belanda. Banyak tetap telah ditemukan dalam sedimen
diendapkan di gua-gua, mungkin selama air bah. Nothosaurus sekitar 10-13 kaki
panjang tetapi beberapa spesies lain dari Nothosaurs mencapai ukuran alrger.
Beberapa berteori bahwa itu mungkin memiliki sirip, setidaknya satu di ekor itu
namun bukti untuk ini belum ditetapkan. Ia memiliki motuhful jarum-seperti gigi
yang sempurna untuk menangkap mangsa ikan dan air lainnya dan mungkin
digunakan itu kaki berselaput, dan esensial untuk mendorong melalui air. Kepala
itu, sementara panjang dan seperti buaya, relatif luas dan datar bila dilihat dari
atas. Beberapa orang telah dibandingkan dengan Seal Nothosaurs reptil.

Nothosaurus
2) Tanystropheus
Tanystropheus

Ditemukan pada tahun 1886 dan dikenal dari kerangka terawat dan
lengkap sekali, Tanystropheus adalah spesies dinosaurus mapan dan cukup
terkenal. Pada sekitar 20 kaki panjang, juga merupakan spesies berukuran cukup
baik. Mencengangkan, lebih dari setengah panjang itu terdiri dari leher itu sekitar
10 kaki panjang, leher itu akan membuat binatang terlihat canggung untuk
beberapa.
Hal ini diyakini bahwa sebagian besar perairan Tanystropheus didasarkan
pada gigi itu dan temuan fosil sisik ikan dan bagian dari cephalopd tentakel telah
ditemukan dalam perut Tanystropheus, pinjaman lebih banyak bukti kehidupan
semiaquatic. Yang menarik adalah bahwa meskipun leher Tanystropheus 'terdiri
lebih dari 50% dari total panjang itu, itu hanya 10 tulang leher, menyebabkan
beberapa orang untuk berspekulasi bahwa hal itu tidak bisa menekuk leher itu
jauh, meskipun tampaknya tidak mungkin karena binatang itu menggunakan lebih
dari msot leher bagian tubuh lainnya, terutama untuk berburu dan mendapatkan
udara dari permukaan. Evolusi panjang Tanystropheus sebagai spesies sekitar 232
juta tahun lalu selama pertengahan periode Trias.
3) Liopleurodon
Liopleurodon

Liopleurodon adalah reptil laut raksasa tahun pertengahan periode


Jurassic, sekitar 160-155 juya tahun di masa lalu. seharusnya hidup hanya selama
5 juta tahun, tidak lama sejauh timeline evolusioner yang bersangkutan tetapi
tentu lebih dari timeline Alkitab hewan sejarah dunia kita telah hidup.
Seperti reptil laut lainnya dan Pteorsaurs, Liopleurodon bukan dinosaurus
benar tetapi disertakan bersama mereka untuk semua tujuan dimaksudkan sama
seperti mereka berada di spesial TV, buku dan situs-situs lain. Liopleurodon
adalah salah satu reptil terbesar yang pernah tinggal di laut panjang 33 kaki , dan
mungkin lebih panjang seperti yang diyakini oleh beberapa peneliti.
4) Plesiosaurus

Woolungasaurus Plesiosaurus

Morenosaurus Plesiosaurus

Para Plesiosaurus merujuk pada beberapa hewan dari peringkat taksonomi


yang berbeda, namun, Elasmosaur biasanya digambarkan sebagai Plesiosaurus
"standar".
Plesiosaurus adalah sekelompok reptil karnivora dan telah menyarankan
bahwa mereka bisa melakukan perjalanan ke tanah. Plesiosaurus memiliki tubuh
besar, dua pasang sirip dan bukan kaki, ekor pendek untuk medium length
tergantung pada spesies, dan leher panjang dengan kepala kecil penuh tajam, gigi
runcing. Tergantung pada spesies, mereka bisa berkisar 15-70 meter.
Plesiosaurus yang paling mungkin didominasi piscovorous, yang berarti
bahwa mereka terutama makan ikan. Namun sangat mungkin bahwa mereka akan
makan daging sumber makanan yang tersedia sesuai dan mungkin memiliki
occasionaly memulung bangkai binatang mengambang atau tertangkap dekat dan
di pantai.

5) Mosasaurus

Mosasaurus
Sisa-sisa yang pertama Mosasaurus ditemukan di Belanda pada tahun
1764. Sejak itu telah menjadi contoh populer dari dinosaurus (techniquely
berenang reptil). Awalnya dianggap sebagai ikan, kemudian buaya, maka jenis
paus sperma dan kemudian jenis kadal monitor raksasa. Tidak sampai 90 tahun
kemudian pada 1854 itu menemukan bahwa hewan itu sirip dan bukan kaki dan
diklasifikasikan sebagai reptil berenang.
Mosasaurus adalah reptil laut besar, salah satu yang terbesar dari Genus
tersebut pada panjang maksimum sekitar 60 kaki (15 meter). Hal ini diyakini
menjadi reptil laut terbesar belum dijelaskan secara ilmiah. Ada sejumlah laporan
sepanjang sejarah hewan yang sangat menyerupai deskripsi suatu Mosasaurus,
serta penggambaran beberapa makhluk di seni kuno yang terlihat sangat mirip
Mosasaurus.
6) Kronosaurus

Kronosaurus
Pertama kali dijelaskan pada tahun 1924, perkiraan pertama panjangnya
adalah 43 meter, tapi perkiraan terakhir telah diturunkan sampai 33 kaki. Menjadi
pliosaurus, subkelompok plesiosaurus, reptil laut kuno, Kronosaurus tidak benarbenar dinosaurus, tetapi yang sering disebut satu sama seperti Pterosaurus.
Namun, biasanya mereka dianggap Dinosaurus karena mereka telah hidup dan
meninggal di sekitar era yang sama.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Reptil dikelompokkan menjadi :
1) Ordo Crocodilia (buaya, garhial, caiman, dan alligator)
2) Ordo Sphenodontia (tuatara Selandia Baru)
3) Ordo Squamata (kadal, ular dan amphisbaenia ("worm-lizards")
4) Ordo Testudinata (kura-kura, penyu, dan terrapin)
Reptil laut adalah jenis hewan diantara keempat kelompok di atas yang
sebagian hidupnya berada di dalam laut. Namun mereka tetap membutuhkan udara
dan sinar matahari, sehingga terkadang mereka berada di daratan sekitar laut (zona
litoral).
Beberapa Contoh Reptil Laut yaitu :
1. Penyu Laut
a) Chelonia mydas (Penyu hijau)
b) Eretmochelys imbricate (Penyu sisik)
c) Lepidochelys kempi (Penyu lekang kempi)
d) Lepidochelys olivacea (Penyu lekang)
e) Natator depressus (Penyu pipih)
f) Caretta caretta (Penyu tempayan)
g) Dermochelys coriacea (Penyu belimbing)
2. Buaya Air Asin (Crocodylus porosus)
3. Ular Laut
4. Reptil Laut Pada Jaman Purba
a) Nothosaurus

b)
c)
d)
e)
f)

Tanystropheus
Liopleurodon
Plesiosaurus
Mosasaurus
Kronosaurus

4.2 Saran
Seperti yang kita ketahui beberapa spesies reptil laut merupakan hewan yang
dilindungi, maka dari itu sudah seharusnya kita sebagai generasi muda harus
memastikan kelestarian hewan hewan yang dilindungi dengan melakukan hal hal
sebagai berikut :
1. Menggalakkan program pelestarian atau konservasi reptil laut seperti pelestarian
penyu hijau, penyu sisik maupun jenis penyu yang lain atau jenis reptil laut yang
lain.
2. Jangan membuang limbah industri ke laut karena akan mencemari ekosistem
laut.
3. Bertanggung jawab menjaga lingkungan sekitar serta wajib melestarikan alam
agar tetap indah hingga generasi-generasi dating dapat merasakan indahnya alam
ini.

BAB V
PENUTUP

Demikian penulisan makalah kami mengenai keanekaragaman hayati reptil


laut. Dengan penulisan makalah ini kami harap dapat bermanfaat bagi pembaca dan
semakin sadar akan pentingnya keseimbangan sumber daya alam. Sehingga
menyadarkan kita untuk melakukan kegiatan pelestarian alam. Dengan melestarikan
spesies yang ada di laut maka akan menjaga keseimbangan ekosistem laut dan
keanekaragam hayati laut pun akan tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonym, 2000. Ekosistem Air Laut, Biogegrafi. bebas.vlsm.org Sponsor Pendamping
Praweda Biologi
2. Wikipedia, Ensiklopedia Bebas. Reptil.

3. Nurfauzia, Rifani, 2012. REPTILIA. Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan


Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung.
4. Anonim, 2008. Anatomi Ular, Berita Iptek.
5. WWF Indonesia.2013 ( http://www.wwf.or.id )
6. Anonim, 2009. Jenis dan Morfologi Penyu Laut.
7. Anonim, 2011. Reptil Laut Naga dari Perairan.
8. Anonim, 2012. Buaya Air Laut.
9. http://www.satwaunik.com/informasi-umum/pelagic-sea-snakes/
10. Ramdani, Luthfi. 2008. Studi Keanekaragaman Jenis Reptil Pada Beberapa Tipe
Habitat Di Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo Propinsi Jambi. Institute Pertanian
Bogor.
11. Ristagustina.2016.Klasifikasi

Reptil.

Diakses

secara

online

https://ristagustina.wordpress.com/2013/06/27/a-klasifikasi-reptiliaklasifikasi-reptilpada-awalnya-didasarkan-atas/

Anda mungkin juga menyukai