Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

KESUBURAN, PEMUPUKAN, DAN KESEHATAN TANAH


ACARA II
KOMPOS

Disusun Oleh:
Amalul Ramadhana (14/365156/PN/13705)
Pankrasius Rega

(14/365156/PN/13722)

Gracezelda Vivianli (14/365678/PN/13737)


Mohammad Dennis (14/366049/PN/13764)
Seva Annyx Suryani (14/366902/PN/13787)
Gol./Kel. : B1 Sore/3
Asisten Koreksi : Nurjannah Asmarani

LABORATORIUM KESUBURAN DAN KIMIA TANAH


JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

ABSTRAK
Praktikum Kesuburan, Pemupukan, dan Kesehatan Tanah acara I yang berjudul
kompos dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 2016 di Laboratorium Kimia dan
Kesuburan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada dan Rumah Kaca.
Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui peran aktivator
dalam pembuatan pupuk dan indikator mutu kompos yang baik dari macam pupuk
kompos (limbah buah, limbah sayur, seresah, jerami, dan kotoran). Kompos
merupakan komponen yang sangat penting bagi kesuburan tanah karena mampu
menyediakan unsur hara yang digunakan oleh tanaman. Alat dan bahan yang
digunakan dalam pembuatan kompos EM4, ember, libah buah, limbah sayur, seresah,
dedak, dan plastik bening. Indikator yang diukur dalam pembuatan kompos meliputi
pH, DHL, suhu, warna, dan bau kompos.
Kata kunci: kompos, aktivator, em4

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pupuk kompos mempunyai arti yang sangat penting dalam pengelolaan kesuburan
tanah, meningkatkan produksi tanaman pertanian, dan memelihara kesehatan tanah. Kompos
dapat memberikan sumbangan terhadap sumber daya tanah berupa perbaiakan sifat fisik,
kimia, dan biologi tanah sehingga tanah menjadi subur dan sehat. Kompos juga dapat
meningkatkan produksi pertanian baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara
langsung kompos memberikan sumbangan unsur hara dan hormon tumbuh kepada tanaman,
sedangkan secara tidak langsung kompos meningkatkan kualitas kesuburan tanah baik fisik,
kimia dan biologi. Oleh karena itu penting dilakukan praktikum pembuatan kompos dengan
bantuan aktivator.
B. Tujuan
1. Mengetahui peran aktivator dalam pembuatan pupuk
2. Mengetahui indikator mutu kompos yang baik dari macam pupuk kompos (limbah
buah, limbah sayur, dan seresah daun)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup yang diolah
melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai, seperti pelapukan sisa-sisa
tanaman, hewan dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan
untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik akan banyak
memberikan keuntungan karena bahan dasar pupuk organik berasal dari limbah pertanian,
seperti jerami, sekam padi, kulit kacang tanah, ampas tebu, belotong, batang jagung, dan
bahan hijauan lainnya. Kotoran ternak yang banyak dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk
organik adalah kotoran sapi, kerbau, kambing, ayam, itik, dan babi. Disamping itu, dengan
berkembangnya permukiman, perkotaan dan industri maka bahan dasar kompos semakin
beraneka. Bahan yang banyak dimanfaatkan antara lain tinja, limbah cair, sampah kota dan
permukiman (Isroi, 2009).
Kompos adalah hasil pembusukan sisa-sisa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas
mikroorganisme pengurai. Kualitas kompos sangat ditentukan oleh besarnya perbandingan
antara jumlah karbon dan nitrogen (C/N rasio). Jika C/N rasio tinggi, berarti bahan penyusun
kompos belum terurai sempurna. Bahan kompos dengan C/N rasio tinggi akan terurai atau
membusuk lebih lama dibandingkan dengan bahan ber-C/N rendah. Kualitas kompos
dianggap baik jika memiliki C/N rasio antara 12-15%. Bahan kompos seperti sekam, jerami
padi, batang jagung, dan serbuk gergaji, memiliki C/N rasio antara 50-100. Daun segar
memiliki C/N rasio 10-12. Proses pembuatan kompos akan menurunkan C/N rasio hingga
menjadi 12-15 (Kloepper, 1993).
Kandungan unsur hara kompos yaitu Nitrogen sebesar 0,1-0,6%, Fosfor 0,1-0,4%,
Kalium 0,8-1,5%, dan Kalsium 0,8-1,5%. Ciri fisik kompos yang baik adalah berwarna
cokelat kehitaman, agak lembab, gembur, dan bahan pembentuknya sudah tidak tampak lagi.
Kompos ibarat multivitamin untuk tanah pertanian. Kompos akan meningkatkan kesuburan
tanah dan merangsang perakaran yang sehat. Kompos memperbaiki struktur tanah dengan
meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah
untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi
tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu
tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat
merangsang pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu
tanaman menghadapi serangan penyakit. Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga

cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal
hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak. Kompos memiliki
banyak manfaat bagi tanaman yaitu meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur
dan karakteristik tanah, meningkatkan kapasitas serap air tanah, meningkatkan aktivitas
mikroba tanah, meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi dan jumlah panen),
menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman, menekan pertumbuhan/serangan penyakit
pada tanaman, meningkatkan retensi/ketersedian hara didalam tanah (Dwi & Bambang,
2012).
Ada dua mekanisme proses pengomposan berdasarkan ketersediaan oksigen bebas,
yakni pengomposan secara aerobik dan anaerobik (Myung, 2005).
a. Pengomposan secara Aerobik
Pada pengomposan secara aerobik, oksigen mutlak dibutuhkan. Mikroorganisme yang
terlibat dalam proses pengomposan membutuhkan oksigen dan air untuk merombak bahan
organik dan mengasimilasikan sejumlah karbon, nitrogen, fosfor, belerang, dan unsur lainnya
untuk sintesis protoplasma sel tubuhnya. Dalam sistem ini, kurang lebih 2/3 unsur karbon (C)
menguap menjadi CO2 dan sisanya 1/3 bagian bereaksi dengan nitrogen dalam sel hidup.
Selama proses pengomposan aerobik tidak timbul bau busuk. Selama proses pengomposan
berlangsung akan terjadi reaksi eksotermik sehingga timbul panas akibat pelepasan energi.
Hasil dari dekomposisi bahan organik secara aerobik adalah CO2, H2O (air), humus, dan
energi.
b. Pengomposan secara Anaerobik
Dekomposisi secara anaerobik merupakan modifikasi biologis pada struktur kimia
dan biologi bahan organik tanpa kehadiran oksigen (hampa udara). Proses ini merupakan
proses yang dingin dan tidak terjadi fluktuasi temperatur seperti yang terjadi pada proses
pengomposan secara aerobik. Namun, pada proses anaerobik perlu tambahan panas dari luar
sebesar 300C. Pengomposan anaerobik akan menghasilkan gas metan (CH4), karbondioksida
(CO2), dan asam organik yang memiliki bobot molekul rendah seperti asam asetat, asam
propionat, asam butirat, asam laktat, dan asam suksinat. Gas metan bisa dimanfaatkan sebagai
bahan bakar alternatif (biogas). Sisanya berupa lumpur yang mengandung bagian padatan dan
cairan. Bagian padatan ini yang disebut kompos. Namun, kadar airnya masih tinggi sehingga
sebelum digunakan harus dikeringkan.

BAB III
METODOLOGI
Praktikum Kesuburan, Pemupukan, dan Kesehatan Tanah acara 2 yang berjudul
Kompos dilaksanakan di rumah kaca fakultas pertanian Universitas Gadjah Mada pada
tanggal 17 Oktober 2016. Alat dan bahan yang dibutuhkan diantaranya EM4, ember, limbah
buah, limbah sayur, seresah, jerami, kotoran, dedak, dan plastik bening. Adapun teknik
pembuatannya yaitu limbah dicacah hingga ukurannya lebih kecil yaitu <2 cm lalu dicampur
dengan dedak secukupnya, diaduk merata, disiram campuran bahan dengan larutan EM4,
diaduk merata sampai kadar airnya 30-40%. Campuran dimasukkan bahan ke dalam plastik,
suhu kompos dipertahankan 40-50 derajad celcius dengan diaduk. Setelah 7 hari kemudian
dilihat apakah komposnya sudah hancur, kemudian dibalik dan diaduk kembali. Setelah 14
hari, apabila kompos menjadi sudah hancur (remah) dan tidak berbau menyengat, kompos
sudah matang dan siap untuk digunakan. Pengukuran dilakukan yang meliputi pH, DHL,
suhu, warna, dan bau kompos.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Jenis

Tekstur

Warna

Bau

pH

DHL

Limbah
Buah

Halus

Coklat

3.8

1873 s

Sayuran
Seresah

Kasar
Kasar

kekuningan
Kuning
Hijau

+
+++

6.91
8.35

344 s
170.5 s

Kasar

kecoklatan
Coklat

++

8.24

113 s

Halus

sersah kering
Coklat gelap ++++

9.22

1137 s

Jerami
Kotoran

B. Pembahasan
Kompos adalah zat akhir suatu proses fermentasi tumpukan sampah atau serasah
tanaman dan adakalanya pula termasuk bangkai binatang. Sesuai dengan humifikasi
fermentasi suatu pemupukan yang dicirikan oleh hasil bagi C/N yang menurun. Bahan-bahan
mentah yang biasa digunakan seperti merang, daun, sampah dapur, sampah kota, dan lain-lain
dan pada umumnya mempunyai hasil bagi C/N yang melebihi 30.
Kompos mempunyai beberapa sifat yang menguntungkan antara lain memperbaiki
struktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan, memperbesar daya ikat tanah berpasir
sehingga tanah tidak berderai, menambah daya ikat air pada tanah, memperbaiki drainase dan
tata udara dalam tanah, mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara, mengandung hara
yang lengkap walaupun jumlahnya sedikit, membantu proses pelapukan bahan mineral,
memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikrobia. Kompos sangat bermanfaat bagi proses
pertumbuhan tanaman. Kompos tidak hanya mensuplai unsur hara bagi tanaman, selain itu
kompos juga memperbaiki struktur tanah kering dan ladang serta menjaga fungsi tanah,
sehingga suatu tanaman dapat tumbuh dengan baik (Wijana & Gede, 2012).
a. Manfaat kompos menyediakan unsur hara bagi tanaman
Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dibagi menjadi tiga golongan. Unsur hara
makro primer yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak seperti Nitrogen (N),
Pospor (P) dan Kalium (K). Unsur hara makro sekunder yaitu unsur hara yang dibutuhkan
dalam jumlah kecil, seperti belerang (S), kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Unsur hara

mikro yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, seperti besi (Fe), tembaga
(Cu), seng (Zn), klor (Cl), boron (B), mangan (Mn) dan molibdenum (Mo).
Kompos yang sudah jadi dapat digunakan untuk memupuk tanaman, dimana mengandung
sebagian besar unsur hara makro primer, makro sekunder dan unsur hara mikro yang sangat
dibutuhkan tanaman.
b. Manfaat kompos memperbaiki struktur tanah
Tanah yang baik adalah tanah yang remah atau granuler yang mempunyai tata ruang
udara yang baik sehingga aliran udara dan air dapat masuk dengan baik. Tanah yang buruk
ialah apabila butir-butir tanah tidak melekat satu sama lain (tanah pasir) atau saling melekat
(tanah liat). Kompos merupakan perekat pada butir-butir tanah dan mampu menjadi
penyeimbang tingkat kerekatan pada tanah. Kehadiran kompos pada tanah juga menjadi daya
tarik bagi mikroorganisme untuk melakukan aktivitas pada tanah. Dengan demikian tanah
yang pada mulanya keras dan sulit ditembus air maupun udara, kini dapat menjadi gembur
kembali akibat aktivitas mikroorganisme.
c. Manfaat kompos dapat meningkatkan Kapasitas Tukar Kation
Kapasitas tukar kation (KTK) adalah sifat kimia yang berkaitan erat dengan
kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi jauh lebih mampu menyediakan unsur hara
daripada tanah KTK rendah. Pupuk kompos dapat menyediakan KTK dalam jumlah yang
lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk organik.
d. Manfaat kompos meningkatkan kemampuan tanah untuk menahan air
Tanah yang bercampur dengan bahan organik seperti kompos mempunyai pori-pori
dengan daya rekat yang lebih baik, sehingga kompos mampu mengikat serta menahan
ketersediaan air di dalam tanah. Erosi air secara langsung dapat ditahan dengan adanya
kompos pada tanah.
e. Manfaat kompos meningkatkan aktivitas biologi tanah
Pada kompos terdapat mikroorganisme yang menguntungkan tanaman. Dalam tanah,
Kompos akan membantu kehidupan mikroorganisme. Selain berisi bakteri dan jamur
pengurai, keberadaan kompos akan membuat tanah menjadi sejuk tidak terlalu lembab dan
tidak terlalu kering. Keadaan seperti itu sangat disenangi oleh mikroorganisme. Dalam hal ini
misalnya, cacing tanah lebih senang tinggal di tanah dengan kadar organik tinggi daripada
tanah yang keras atau berpasir. Cacing tanah dapat menyediakan pupuk alami berupa kascing
yang bermanfaat bagi tanaman.
f. Manfaat kompos meningkatkan pH pada tanah asam

Unsur hara dalam tanah lebih mudah diserap oleh tanaman pada kondisi pH tanah
yang netral, yaitu 7. Pada nilai pH ini, unsur hara menjadi mudah larut di dalam air. Semakin
asam kondisi tanah (semakin rendah pH) maka jumlah ion Al (alumunium) dan Mn (Mangan)
dalam tanah semakin meningkat. Jumlah Al dan Mn yang terlalu banyak akan bersifat racun
bagi tanaman. Kondisi tanah yang asam dapat dinetralkan kembali dengan pengapuran.
Pemberian kompos ternyata membantu peningkatan pH tanah.
g. Manfaat kompos menyediakan unsur mikro bagi tanaman
Tidak hanya unsur makro saja yang disediakan oleh kompos untuk tanaman, tetapi
juga unsur mikro. Unsur-unsur itu antara lain Zn, Mn, Cu, Fe dan Mo.
Indikator mutu kompos yaitu: (a) struktur remah dan lunak, tidak mengumpat atau
berlumur; (b) warna cenderung gelap kehitaman, terlalu gelap disebabkan suasana terlaly
basah (anaerob), terlalu cerah disebabkan suasana terlalu kering (aerob); (c) kadar air sekitar
30% dicirikan melalui diperas dengan tangan tidak ada air yang menetes; (d) aroma
meyerupai humus tanah yakni agak harum (tidak berbau busuk menyengat); (e) reaksi (pH)
berkisar 6-7, terlalu rendah disebabkan kurang aerasi; (f) kadar bahan organik sekitar 30-60%
dengan misbah C/N sekitar 15.
Hasil Pengamatan tentang pupuk kompos yang didapat yaitu bahan organik yang
digunakan sebagai bahan dalam pembuatan pupuk kompos mengalami degradasi bentuk
yakni berubah bentuk dan warna serta bau yang di keluarkan, bentuk dari kompos yang
dibuat yaitu berubah menjadi bagian seresah kecil-kecil dan basah, serta warna dari daun
berubah menjadi warna cokelat kehitaman serta dan menjadi sedikit dari sebelum nya yang
banyak. Hal ini sesuai dengan teori bahwa jumlah mikroorganisme termofilik berkurang
karena bahan makanan bagi mikroorganisme ini juga berkurang, hal ini mengakibatkan
organisme mesofilik mulai beraktivitas kembali. Organisme mesofilik tersebut akan
merombak selulosa dan hemiselulosa yang tersisa dari proses sebelumnya menjadi gula yang
lebih sederhana, tetapi kemampuanya tidak sebaik organisme termofilik. Bahan yang telah
didekomposisi menurun jumlahnya dan panas yang dilepaskan relatif kecil.
Dari data yang diperoleh kompos yang memiliki warna paling gelap adalah kompos
kotoran dengan bau yang paling menyengat dengan pH paling basa yaitu 9,22. Hal ini tidak
sesuai teori bahwa pH kompos yang baik yaitu berkisar antara 6-7. Dari hasil yang ada
kematangan kompos dapat diurutkan dari yang mendekati matang sampai yang tidak
mendekati matang berturut-turut adalah sayuran, buah, jerami, seresah, dan kotoran.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Mikroorganisme berperan dalam dekomposisi bahan di dalam bahan itu sendiri dengan
bantuan udara saat perombakan organik.
2. Dari hasil yang ada kematangan kompos dapat diurutkan dari yang mendekati matang
sampai yang tidak mendekati matang berturut-turut adalah sayuran, buah, jerami, seresah,
dan kotoran.
B. Saran
1. Dalam pencacahan bahan dasar kompos yaitu sampah sayur harus dipotong dengan ukuran
yang lebih kecil sehingga dapat memudahkan proses pengomposan dan penguraiannya
juga semakin mudah.
2. Perlunya memperhatikan lokasi penyimpanan kompos agar tidak mengganggu lingkungan
sekitar.

DAFTAR PUSTAKA

Dwi, A. dan Bambang. 2012. Optimasi Penambahan Unsur Hara NPK Pada Limbah Biogas
Dan Kompos Kambing Sebagai Bahan Pembuatan Pupuk Organik Granul Dengan
Menggunakan Program Linier. Jurnal Teknologi Pertanian. Vol. 13 No. 1 April. 27 33.
Isroi. 2009. Kompos. Makalah. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.
Kloepper, J.W. 1993. Plant growth-promoting rhizobacteria as biological control agents. p.
255-274. In F.Blaine Metting, Jr. (Ed.). Soil Microbiology Ecology, Applications in
Agricultural and Environmental Management. Marcel Dekker, Inc., New York.
Ludfia, Widyasmara. 2012. Pengaruh jenis kotoran ternak sebagai substrat dengan
penambahan serasah. Jurnal Februari. 36(1): 40-47.
Myung, Ho Um. 2005. Quality Control for Commercial Compost in Korea. Korea: National
Institute of Agricultural Science and Technology (NIAST) and Rural Development and
Administration (RDA).
Ndubuisi-Nnaji, U.U, Adegoke, A.A, Ogbu, H.I, Ezenobi, N.O and Okoh A.I. 2011. Effect of
long-term organic fertilizer application on soil microbial dynamics. African Journal of
Biotechnology. Vol. 10 (4). Januari. ISSN 16845315.
Wijana, I.N.Y.S.G. dan Gede M.A. 2012. Aplikasi jenis pupuk organik pada tanaman padi
sistem pertanian organik. Jurnal Agroekoteknologi. 1(2): 98-106.