Anda di halaman 1dari 16

A.

Judul

Program

Inovasi

Pembuatan

Plastik

Ramah

Lingkungan

(Biodegradable) Berbahan Dasar Pati Keladi


B. Latar Belakang Masalah
Akibat dari semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat serta
aktivitas lainnya maka bertambah pula buangan/limbah yang dihasilkan.
Limbah/buangan yang ditimbulkan dari aktivitas dan konsumsi masyarakat sering
disebut limbah domestik atau sampah. Sampah menjadi permasalahan lingkungan
karena kuantitas maupun tingkat bahayanya mengganggu kehidupan makhluk
hidup lainnya (Anonim, 2009).
Plastik dan polimer banyak digunakan masyarakat. Hampir setiap produk
menggunakan plastik sebagai kemasan atau bahan dasar. Setiap tahun sekitar 100
juta ton plastik diproduksi dunia untuk digunakan di berbagai sektor industri.
Kira-kira sebesar itulah sampah plastik yang dihasilkan setiap tahun (Suherman,
2007).
Sampah plastik merupakan masalah bagi banyak negara. Salah satu
penyebab utamanya ialah plastik. Plastik merupakan material yang tidak dapat
dihancurkan oleh organisme (nonbiodegradable), sehingga bersifat tahan lama
(persistent). Walaupun saat kini, terutama di negara maju, bahan-bahan sintetik
sudah dibuat lebih bersifat dapat didaur kembali (recycable), tidak semua wilayah
atau negara memiliki alat pendaur ulang untuk semua tipe plastik (Club, 2008).
Sampah plastik membutuhkan waktu 200 sampai 1.000 tahun untuk dapat
terurai. Data dari Environment Protection Body, sebuah lembaga lingkungan
hidup di Amerika Serikat, mencatat ada sekitar 500 miliar sampai 1 triliun tas
plastik digunakan di seluruh dunia setiap tahunnya. Itu berarti, sampah plastik
jumlahnya terhitung cukup banyak (Sinaulan, 2008).
Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus
meningkat. Data BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa volume perdagangan
plastik impor Indonesia, terutama polipropilena (PP) pada tahun 1995 sebesar
136.122,7 ton sedangkan pada tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga dalam
kurun waktu tersebut terjadi peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut
diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Sebagai
konsekuensinya, peningkatan limbah plastikpun tidak terelakkan. Menurut
Hartono (1998) komposisi sampah atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap

rumah tangga adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata
setiap pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah
tersebut akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara
lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air,
maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi masalah bagi
lingkungan (Anonim, 2009).
Data terakhir dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta menunjukkan, jumlah
sampah di Jakarta mencapai hampir 28.000 meter kubik setiap hari. Komposisinya
terdiri dari 65 persen sampah organik dan 35 persen sampah nonorganik.
Penyumbang terbesar sampah itu berasal dari sampah rumah tangga yang
mencapai sekitar 60 persen dari total sampah yang terdapat di Jakarta setiap
harinya (Sinaulan, 2008).
Di kota Bandung juga misalnya, komposisi sampah plastik rata-rata 5%,
setiap hari Bandung menghasilkan 100 ton sampah plastik. Bila ukuran satu
kantong plastik 50 x 40 cm dan berat 10 gram, sampah plastik Kota Bandung
setara 200 lapangan sepak bola per harinya. rata-rata timbunan sampah Kota
Bandung adalah 7.500 meter kubik atau 2.000 ton per hari, di mana setiap orang
di Bandung menyumbang sekitar 2,5 liter sampah per hari. Jumlah tersebut
didapat dengan asumsi jumlah pembuang sampah di Kota Bandung (penduduk
setempat dan pendatang) dibulatkan ke angka 3 juta orang. Jika dicampakkan ke
atas tanah, sampah plastik memerlukan ratusan tahun untuk dapat mengurai dan
hancur. Artinya, kekayaan tanah akan terganggu. Tanah akan terkena dampak
lebih buruk lagi kalau plastik yang dibuang mengandung zat beracun. Sementara
itu, jika sampah plastik dibiarkan di tempat sampah, sisa-sisa makanan di atas
sampah plastik akan mengundang lalat dan mikroorganisme yang berpotensi
menjadi sumber penyakit (Marlia, 2008).
Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar,
yakni plastik yang bersifat thermoplastic dan yang bersifat thermoset.
Thermoplastic dapat dibentuk kembali dengan mudah dan diproses menjadi
bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila telah mengeras tidak dapat dilunakkan
kembali. Plastik yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari
adalah dalam bentuk thermoplastic (Anonim, 2009).

Teknik konvensional seperti daur ulang dan pembakaran dilakukan untuk


menanggulangi pencemaran yang diakibatkan plastik. Namun, ternyata belum
mampu mengurangi tumpukan sampah plastik di alam. Pembakaran sampah
plastik pun menimbulkan gas yang beracun, yaitu gas dioksin dan abunya tidak
dapat dicerna oleh tanah (Mufidah dkk., 2008).
Dalam memecahkan masalah sampah

plastik

dilakukan

beberapa

pendekatan seperti daur ulang, teknologi pengolahan sampah plastik dan


pengembangan bahan plastik baru yang dapat hancur dan terurai dalam
lingkungan yang dikenal dengan sebutan plastik biodegradabel. Seiring dengan
meningkatnya kesadaran untuk pelestarian lingkungan, kebutuhan bahan plastik
biodegradabel mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Gambar 1
memperlihatkan proyeksi kebutuhan plastik biodegradabel hingga tahun 2010
yang dikeluarkan oleh Japan Biodegradable Plastik Society. Di tahun 1999,
produksi plastik biodegradabel hanya sebesar 2500 ton, yang merupakan 1/
10.000 dari total produksi bahan plastik sintetis. Pada tahun 2010, diproyeksikan
produksi plastik biodegradabel akan mencapai 1.200.000 ton atau menjadi 1/ 10
dari total produksi bahan plastik. Industri plastik biodegradabel akan berkembang
menjadi industri besar di masa yang akan datang.

Gambar 1 Proyeksi produksi plastik biodegradabel (Pranamuda, 2008)


Dewasa ini telah ditemukan beberapa macam plastik biodegradable antara
lain, polihidroksi alkanoat(PHA), poli e-kaprolakton (PCL), poli butilen suksinat
(PBS) dan poli asam laktat (PLA) . Namun, kebanyakan bahan baku untuk plastik
biodegradable tersebut kebanyakan masih menggunakan sumber daya alam yang
tidak diperbaharui (non-renewable resources) dan tidak hemat energi.

Mufidah dkk (2008) telah meneliti dan menghasilkan plastik ramah


linkungan karena bisa terurai oleh Aspergillus niger dengan bahan campuran pati
jagung dan chitosan.
Pati dapat menjadi bahan dasar dalam pembuatan plastik. Pati merupakan
biopolimer karbohidrat yang dapat terdegradasi secara mudah di alam dan bersifat
dapat diperbaharui. Pati sendiri memiliki batasan bervariasi terkait dengan
kelarutan dalam air. Pati mempunyai lapisan tipis yang mudah rusak, sehingga
untuk meningkatkan karakteristik pati dicampur dengan suatu polimer sintetik
(Mufidah dkk., 2008).
Pada penelitian ini akan dilakukan pengembangan plastik ramah
lingkungan (biodegradable) dengan mencampurkan pati Keladi dengan low
density poly ethylene (LDPE) yang merupakan produk sintetis. Keladi dipilih
karena memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi yaitu sebesar 34 %. Selain
itu, pemanfaatan tanaman keladi selama ini kurang maksimal. Umbi induk keladi
tidak lazim dimakan karena racun sapotoksinnya akan menimbulkan rasa gatal
(www.foragri.blogsome.com). Dengan demikian diharapkan akan dihasilkan suatu
plastik biodegradable baru yang yang memiliki sifat lebih unggul.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan latar belakang sebagai
berikut.
1. Apakah pencampuran (blending) antara low density poly ethylene (LDPE)
dengan

pati

Keladi

dapat

dibuat

plastik

ramah

lingkungan

(biodegradable)?
2.
D. Tujuan Program
E. Luaran yang Diharapkan
Hasil penelitian diharapkan mampu mendukung perkembangan plastik
ramah lingkungan (biodegradable) dan dapat memecahkan masalah penanganan
sampah plastik. Pendayagunaan pati Keladi untuk bahan baku plastik
biodegradable mampu membuka peluang terciptanya industri baru dalam
menyelesaikan permasalahan sampah plastic di Indonesia.

F. Kegunaan Program
Menambah wawasan baru sehingga dapat dikembangkan plastik ramah
lingkungan (biodegradable) yang mampu mencegah hal-hal negatif dari
meluasnya pemakaian plastik sintetik.
G. Tinjauan Pustaka
G.1

Keladi
Keladi merupakan sekelompok tumbuhan dari genus Caladium (suku

talas-talasan, Araceae). Dalam bahasa sehari-hari keladi kerap juga dipakai untuk
menyebut beberapa tumbuhan lain yang masih sekerabat namun tidak termasuk
Caladium, seperti talas (Colocasia). Keladi sejati jarang membentuk umbi yang
membesar. Asal tumbuhan ini dari hutan Brazil namun sekarang tersebar ke
berbagai penjuru dunia (www.wikipedia.com). Ciri yang paling khas dari keladi
adalah bentuk daunnya yang seperti simbol hati/jantung. Daunnya biasanya licin
dan mengandung lapisan lilin. Ukuran keladi tidak pernah lebih daripada 1m.
Beberapa jenis dan hibridanya dipakai sebagai tanaman hias pekarangan.
Jenis
Terdapat tujuh jenis Caladium, semuanya dari hutan Brazil hingga Amerika
Tengah. Pada musim kering biasanya dorman (kehilangan daun) dan tumbuh
kembali bila ketersediaan air mencukupi.

Caladium bicolor

Caladium humboldtii

Caladium lindenii

Caladium paradoxum

Caladium schomburgkii

Caladium ternatum

Kegunaan dan bahaya


Semua bagian keladi beracun dan tidak boleh dikonsumsi. Walaupun demikian,
penggunaannya sebagai tanaman hias cukup luas. Tumbuhan ini sudah
ditangkarkan dan dimuliakan sejak akhir abad ke-18 di Eropa. Terutama C.

bicolor telah mengalami banyak perubahan sifat menjadi berdaun warna-warni.


Terdapat pula kultivar yang katai. Paling tidak terdapat 120 kultivar C. bicolor.
Terdapat pula persilangan antarspesies dengan C. burgkii untuk mendapatkan
helai daun yang bergelombang. Keladi dapat memunculkan anakan dan dari sini
dapat dikembangkan tumbuhan baru. Ia juga dapat tumbuh dari kormus yang
terdapat di tanah (www.wikipedia.com).
Benih keladi bisa berasal dari anakan, umbi induk utuh atau umbi induk
yang dipecah-pecah. Yang tidak dianjurkan adalah benih dari umbi anakan,
karena justru umbi inilah yang akan dikonsumsi, sementara tanaman dari umbi
anakan juga kurang produktif pada tahun-tahun I. Benih paling ideal adalah yang
berupa umbi induk secara utuh. Hasil umbi anakan yang bisa dikonsumsi akan
bisa langsung dipanen pada 8 sd. 9 bulan mendatang. Pada benih berupa anakan,
umbi baru bisa dipanen pada tahun II. Tahun I memang sudah menghasilkan umbi,
tetapi volumenya masih sangat kecil, sebab energi paling besar akan digunakan
untuk membentuk umbi induk. Penggunaan umbi induk utuh, baru bisa dilakukan
apabila kita sudah melakukan penanaman keladi secara rutin dan tidak berniat
untuk memperluas areal tanam. Hasil keladi dari tanaman yang berasal dari bibit
umbi induk, makin tahun akan semakin tinggi. Sebab ukuran umbi induk itu akan
cenderung makin besar. Hingga umbi anak yang bisa dikonsumsi, akan semakin
banyak dihasilkan oleh umbi induk tersebut (www.wikipedia.com).
Klasifikasi Ilmiah Keladi
Kerajaan:
(tidak termasuk)
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:

Plantae
Monocots
Alismatales
Araceae
Caladium
Xanthosoma sagittifolium

Gambar 2. Xanthosoma sagittifolium


G.2

Plastik Biodegradable
Plastik biodegradable adalah plastik yang dapat digunakan layaknya

seperti plastik konvensional, namun akan hancur terurai oleh aktivitas


mikroorganisme menjadi hasil akhir air dan gas karbondioksida setelah habis
terpakai dan dibuang ke lingkungan. Karena sifatnya yang dapat kembali ke alam,
plastik biodegradabel merupakan bahan plastik yang ramah terhadap lingkungan
(Pranamuda, 2008).
Berdasarkan

bahan

baku

yang

dipakai,

plastik

biodegradabel

dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok dengan bahan baku


petrokimia dan kelompok dengan bahan baku produk tanaman seperti pati dan
selulosa. Yang pertama adalah penggunaan sumberdaya alam yang tidak terbarui
(non-renewable resources), sedangkan yang kedua adalah sumber daya alam
terbarui (renewable resources). Saat ini polimer plastik biodegradabel yang telah
diproduksi adalah kebanyakan dari polimer jenis poliester alifatik. Gambar 2
menunjukkan representatif dari polimer plastik biodegradabel yang sudah
diproduksi skala industry (Pranamuda, 2008).
a.

Poli (-kaprolakton) (PCL) : PCL adalah polimer hasil sintesa kimia

menggunakan bahan baku minyak bumi. PCL mempunyai sifat biodegradabilitas


yang tinggi, dapat dihidrolisa oleh enzim lipase dan esterase yang tersebar luas
pada tanaman, hewan dan mikroorganisme. Namun titik lelehnya yang rendah, Tm
=60oC, menyebabkan bidang aplikasi PCL menjadi terbatas.
b.

Poli (-hidroksi butirat) (PHB) : PHB adalah poliester yang diproduksi

sebagai cadangan makanan oleh mikroorganisme seperti Alcaligenes (Ralstonia)


eutrophus, Bacillus megaterium dsb. PHB mempunyai titik leleh yang tinggi (T m
= 180o C), tetapi karena kristalinitasnya yang tinggi menyebabkan sifat mekanik
dari PHB kurang baik. Kopolimer poli (b-hidroksi butirat-ko-valerat) (PHB/ V)

merupakan kopolimer hasil usaha perbaikan sifat kristalinitas dari PHB. Dalam
majalah Scientific America edisi August 2000, Tillman U Gerngros melakukan
kajian tentang tingkat keramahan plastik biodegradabel terhadap lingkungan. Dia
menyatakan bahwa untuk memproduksi PHB dibutuhkan total energi yang jauh
lebih besar dibanding dengan energi yang dibutuhkan untuk memproduksi plastik
konvensional seperti polietilen dan polietilen tereftalat. Kenyataannya memang
beberapa

perusahaan

yang

memproduksi

PHB

menghentikan

kegiatan

produksinya, disebabkan karena mahalnya biaya produksi yang dibutuhkan.


c.

Poli (butilena suksinat) (PBS): PBS mempunyai titik leleh yang setara

dengan plastik konvensional polietilen, yaitu Tm =113o C. Kemampuan enzim


lipase dalam menghidrolisa PBS relatif lebih rendah dibandingkan dengan
kemampuannya menghidrolisa PCL. Untuk meningkatkan sifat biodegradabilitas
PBS, dilakukan kopolimerisasi membentuk poli (butilen suksinat-ko-adipat)
(PBS/A). PBS dan PBS/ A memiliki sifat ketahanan hidrolisa kimiawi yang
rendah, sehingga tidak dapat diaplikasikan untuk bidang aplikasi lingkungan
lembab. Kopolimerisasi PBS dengan poli karbonat menghasilkan produk poliester
karbonat yang memiliki sifat biodegradabilitas, ketahanan hidrolisa kimiawi dan
titik leleh yang tinggi.
d.

Poli asam laktat (PLA) : PLA merupakan poliester yang dapat diproduksi

menggunakan bahan baku sumberdaya alam terbarui seperti pati dan selulosa
melaui fermentasi asam laktat. Polimerisasi secara kimiawi untuk menghasilkan
PLA dari asam laktat dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara langsung dari
asam laktat dan secara tidak langsung melalui pembentukan laktida (dimer asam
laktat) terlebih dahulu, dan diikuti dengan polimerisasi menjadi PLA. PLA
mempunyai titik leleh yang tinggi sekitar 175o C, dan dapat dibuat menjadi
lembaran film yang transparans. Perusahaan-perusahaan besar dunia mulai
bergerak untuk memproduksi PLA, seperti Cargill-Dow Chemicals Co. yang akan
memproduksi PLA dengan skala 140.000 ton/ tahun dengan memanfaatkan pati
jagung. Sedangkan di Jepang, perusahaan Shimadzu Co. dan Mitsui Chemicals
Co. juga memiliki plant produksi PLA. Perusahaan Toyota kabarnya juga akan

mendirikan plant industri PLA di Indonesia dengan memanfaatkan pati ubi jalar.
Tampaknya PLA akan menjadi primadona plastik biodegradabel di masa datang.

Gambar 3. Plastik biodegradabel dari golongan poliester alifatik


G.2.1 Low Density Polyethilene (LDPE)
LDPE

(low

density

polyethylene)

yaitu

plastik

tipe

cokelat

(thermoplastic/dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan,


plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek (Umam, 2009).

Gambar 4. Kode LDPE


LDPE dipakai pada kebanyakan selaput (film) karena kekuatannya, kelenturan
dan cukup transparan, yang membuatnya sering digunakan pada aplikasi dimana
pelapisan panas diperlukan. LDPE juga dipakai untuk membuat tutup lentur dan
botol yang lentur. Termasuk Linear Low Density Polyethylene (LLDPE)
(http://www.distributorplastik.com/belajar-plastik/artikel/Page-6.html).
Plastik jenis LDPE mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
- Ketahanan yang baik terhadap sebagian besar larutan.

- Kekuatan regangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk


polyethylene atau plastik lainnya.
- Bahan yang relatif kaku dengan ketahanan suhu yang fungsional.
IYANN
AF
G.3

Amilum
Amilum atau pati adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air,

berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang
dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk
fotosintesis) dalam jangka panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati
sebagai sumber energi yang penting (www.wikipedia.com/19 Juni 2009).
Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam
komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) sedangkan
amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat
pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi. Penjelasan untuk gejala ini
belum pernah bisa tuntas dijelaskan (www.wikipedia.com/19 Juni 2009).
Dalam bahasa sehari-hari (bahkan kadang-kadang di khazanah ilmiah),
istilah "pati" kerap dicampuradukkan dengan "tepung" serta "kanji". "Pati"
(bahasa Inggris starch) adalah penyusun (utama) tepung. Tepung bisa jadi tidak
murni hanya mengandung pati, karena ter-/dicampur dengan protein, pengawet,
dan sebagainya. Tepung beras mengandung pati beras, protein, vitamin, dan lainlain bahan yang terkandung pada butir beras. Orang bisa juga mendapatkan
tepung yang merupakan campuran dua atau lebih pati. Kata 'tepung lebih
berkaitan dengan komoditas ekonomis. Kerancuan penyebutan pati dengan kanji
tampaknya terjadi karena penerjemahan. Kata 'to starch' dari bahasa Inggris
memang berarti 'menganji' ('memberi kanji') dalam bahasa Melayu/Indonesia,
karena yang digunakan memang tepung kanji (www.wikipedia.com/19 Juni 2009).
Pati digunakan sebagai bahan yang digunakan untuk memekatkan
makanan cair seperti sup dan sebagainya. Dalam industri, pati dipakai sebagai
komponen perekat, campuran kertas dan tekstil, dan pada industri kosmetika.
H. Metode Pelaksanaan

H.1

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di laboratorium Kimia Fisika dan Laboratorium


Instrumentasi Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Airlangga, uji tarik dan DSC dilakukan di LIPI Bandung, analisis gugus fungsi
dengan FTIR dilakukan di Laboratorium IR kimia UNESA, Surabaya dan uji
degradasi dengan Aspergillus niger dilakukan di laboratorium biokimia Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga mulai bulan Januari - Juni
2010.
H.2

Bahan dan Sampel Penelitian

H.2.1 Bahan Penelitian


Bahan kimia yang digunakan adalah etanol p.a., aluminium foil,
Aspergillus niger, media sediaan jamur Aspergillus niger, HgCl2 0,2%, kertas
saring, dan asam asetat 96%. Sedangkan air yang digunakan adalah ultra high
pure (UHP) water.
H.2.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian berupa plastik low density polyethilene, umbi Keladi
yang diperoleh dari Mojokerto.
H.3

Peralatan Penelitian

a.

Alat-alat yang digunakan

1)

Peralatan gelas, peralatan karakterisasi dan identifikasi meliputi: IR prestige

-21, DSC 200 Seiko Instruments, universal testing machine, viskometer brokfield.
2)

Peralatan pendukung meliputi: hot plate, magnetic stirrer, laminar flow, ose,

grander, wadah polietilen, oven,

dumbell die cutter, mikrometer sekrup,

mechanical stirrer statif, neraca analitik.


H.4

Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di

Laboratorium Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR. Tujuan utama dari
penelitian ini adalah untuk mencampur (blending) antara plastik LDPE dengan
pati Keladi sebagai bahan pembuat plastik biodegradable. Penelitian ini terdiri
dari 3 tahap utama:
a.

Isolasi Pati Keladi

Isolasi pati dilakukan dengan menghaluskan Keladi lalu dilarutkan dengan air lalu
etanol.
b.

Blending antara LDPE dengan Pati Keladi

Pencampuran dilakukan dengan menggunakan extruder atau dalam mixer


berkecepatan 850 rpm (high speed mixer) yang dilengkapi pemanas untuk
melelehkan polimer plastik. Blending yang dibuat merupakan paduan dari bahan
dasar yang dilarutkan dalam pelarut asam asetat encer. Selanjutnya blending lalu
dikeringkan dalam oven pada suhu 70C. Pemanasan dilakukan hingga cairan
dalam poliblend hilang, teramati sebagai padatan yang kaku berwarna kuning
kecoklatan.
c.

Tahap karakterisasi

Tahap analisis digunakan untuk mengetahui sifat-sifat fisik dan kimia dari film
yang telah dibuat, termasuk juga kemampuan biodegradasi dalam media biakan
Aspergillus niger.
1)

Uji FT-IR

Data serapan gugus fungsi pada spektrum infra merah digunakan untuk
mengetahui jenis reaksi yang terjadi. Jika data berimpit dengan data spektrum IR
bahan yang digunakan, maka proses yang terjadi merupakan proses fisika.
Sedangkan jika data tidak berimpit, maka proses pembuatan film berlangsung
dengan reaksi kimia.
2)

Uji DSC (Differential Scannig Calorimetry)

Sampel dimasukkan ke dalam wadah alumunium, kemudian di tekan hingga


menjadi lempeng tipis. Selanjutnya diletakkan di dalam alat DSC dan program di
"run".
3)

Uji tarik

Sampel yang berbentuk lempeng dibuat dumbbell dengan menggunakan


pemotong dumbell die cutter. ketebalan dan lebar bagian leher dumbbell diukur
dengan mikrometer sekrup. Uji tarik dilakukan dengan menggunakan universal
testing machine dan hasilnya dicetak di atas kertas.
4)

Biodegradasi

a.

Penanaman Aspergilus niger pada media NSA

Disiapkan biakan murni aspergillus niger dan media NSA yang baru. Penanaman
aspergillus niger dari biakan murni ke midia NSA yang baru dilakuakan di dekat
api bunsen. Biakan diinkubasi selama 3 hari pada suhu 30C, dan aspergillus siap
untuk ditubuhkan dalam media produksi.
b.

Pembuatan media produksi

c.

Perbanyakan aspergillus niger pada media produksi

d.

Biodegradasi poliblend
Poliblend yang telah dipotong dengan ukuran yang sesuai dicelupkan dalam
media beker gelas yang mengandung biakan, lalu dimasukkan dalam cawan
petri yang mengandung media NSA. Proses fermentasi dihentikan setelah
berjalan 1 bulan dengan cara mencelupkan ke dalam larutan HgCl 2 0,2%.
Poliblend diuji viskositasnya

5)

Penentuan Penurunan Massa Molekul Relatif.


Uji ini dilakukan pada poliblend sebelum proses pengeringan dan pada
poliblend setelah proses biodegradasi. Poliblend hasil biodegradasi
dilarutkan dalamDilakukan
pelarut asam
encer,
diukur viskositasnya.
denganasetat
kecepatan
850kemudian
rpm
Dengan variasi konsentrasi
pati keladi
KARAKTERISASI
PLASTIK BIODEGRADABLE

H. 5

Skema Kerja
Pati keladi

Plastik LDPE

Blending antara Plastik


LDPE dengan pati keladi

Uji Tarik

Uji FT-IR

Uji DSC

Uji Biodegradasi

Penentuan Penurunan
Massa Molekul
Relatif

Dengan menggunakan
biakan Aspergillus
niger

I.

Jadwal Kegiatan

Adapun tahapan pelaksanaan program adalah sebagai berikut

Bulan keNo

Kegiatan
1

1.

Penyediaan alat dan bahan

2.

Penelitian dan analisis data

3.

Penyusunan laporan dan seminar hasil

J.

Rancangan Biaya (mumun)

K. Daftar Pustaka
Anonim, 2009, Pengolahan Limbah Plastik dengan Metode Daur Ulang,
http://onlinebuku.com/2009/01/20/pengolahan-limbah-plastik-denganmetode-daur-ulang-recycle/20 Januari 2009
Club,

Marine, Davine, 2008, Bagaimana dengan Sampah Plastik,


http://marinedivingclub.wordpress.com/2008/09/16/bagaimana-dengansampah-plastik/5 Februari 2008

Marlia, Lia, 2008, Kurangi Sampah Plastik mulai dari Rumah, Pikiran
Rakyat, Geulis
Mufidah, Luluk., Kusuma, Fidyah, Nanda., Wilujeng, Rindy, Astri., Anam,
Choirul.,
Inovasi
Pembuatan
Plastik
Ramah
Lingkungan
(Biodegradable) Berbahan Dasar Pati Jagung (Zea mays) dan Chitosan
(Limbah Cangkang Udang), Malang: Universitas Negeri Malang
Pranamuda, Hardaning, 2008, Pengembangan Bahan Plastik Biodegradable
Berbahanbaku Pati Tropis, Jakarta: Badan Pengkajian danPenerapan
Teknologi
Sinaulan,
Berthold,
2008,
Sampah
Plastik
yang
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=6845

Bermanfaat,

Suherman,
2007,
Bahan
Plastik
Ramah
Lingkungan,
http://www.biotek.lipi.go.id/index.php?
option=content&task=view&id=338&catid=8&Itemid=10/31 Januari 2007
Umam, Khoirul., 2009, Kode Plastik, Department of Food Science and
Technology, Bogor Agricultural University
www.foragri.blogsome.com

www.wikipedia.com
www.wikipedia.com/19 Juni 2009
www.distributorplastik.com/belajar-plastik/artikel/Page-6.html
L. Lampiran
L.1

Biodata peneliti (mumun)