Anda di halaman 1dari 27

BSLT

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Toksisitas adalah efek berbahaya dari bahan kimia suatu obat
pada organ target, berhubungan dengan kanker yang merupakan
salah satu ancaman utama di bidang kesehatan. Guna mendukung
pencarian obat kanker yang spesifik, saat ini banyak dilakukan
penggalian

dari

bahan-bahan

alam.

Sekarang,

kita

dapat

menggunakan tanaman sebagai obat kanker. Sehingga perlu


dilakukan penelitian-penelitian yang berguna bagi pengembangan
dalam pemanfaatan flora yang ada secara maksimal alam termasuk
untuk pengobatan kanker.
Dilakukan penelitian, guna mendukung pencarian obat kanker
yang spesifik, dari bahan-bahan alam. Oleh karena itu, perlu dilakukan
penelitian-penelitian

yang

berguna

bagi

pengembangan

dalam

pemanfaatan flora yang ada secara maksimal alam termasuk untuk


pengobatan kanker.
Dalam mempelajari toksisitas yang paling awal dilakukan
adalah dengan menggunakan kematian dari hewan percobaan
sebagai suatu respon dari pengaruh suatu senyawa yang diuji. Angka
kematian

hewan

percobaan

dihitung

sebagai

Median

lethal

concenration.
Metode pengujian BST dengan menggunakan Artemia salina
dianggap memiliki korelasi dengan daya sitotoksik senyawa-senyawa
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

antikanker, sehingga sering dilakukan untuk skrining awal pencarian


senyawa antikanker. Metode ini memiliki keuntungan dimana hasil
yang

diperoleh

lebih

cepat

(24

jam),

tidak

mahal,

mudah

pengerjaannya dari pengujian inilah efek toksik dapat diketahui atau


diukur dari kematian larva karena pengaruh bahan uji dan hasilnya
dapat dipertanggung jawabkan.
B. Maksud Percobaan
Maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui efek
toksisitas ekstrak etanol buah sawo manila menggunakan metode
Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).
C. Tujuan Percobaan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui efek
toksisitas dari senyawa hewan uji yaitu larva udang laut (Artemia
salina L) berdasarkan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Kanker bukanlah istilah yang asing lagi tetapi sering menjadi
momok

dan

sangat

menakutkan

bagi

masyarakat.

Kanker

merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel


LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

jaringan tubuh yang tidak normal dan tak terkontrol. Sel-sel tersebut
terbentuk

karena

terjadinya

mutasi

gen

sehingga

mengalami

perubahan baik bentuk,ukuran, maupun fungsi dari sel tubuh yang


asli. Mutasi gen ini dipicu oleh keberadaan suatu bahan asing yang
masuk kedalam tubuh diantaranya zat bahan tambahan makanan,
radioaktif, oksidan, atau karsinogenik yang dihasilkan oleh tubuh
sendiri secara alamiah (Griffiths,1993).
Kanker dapat menyerang semua bagian tubuh. Berdasarkan
organ-organ tubuh yang terserang, dikenal berbagai jenis kanker
seperti kanker payudara, kanker mulut rahim, kanker otak, kanker hati,
kanker paru-paru, kanker prostat, kanker kulit dan kanker usus
(Mangan, 2003).
Toksikologi adalah pengetahuan tentang efek racun dari obat
terhadap tubuh dan sebetulnya termasuk pula dalam kelompok
farmakodinamika, karena efek terapeutis obat berhubungan erat
dengan efek toksisnya. Pada hakikatnya setiap obat dalam dosis yang
cukup tinggi dapat bekerja sebagai racun dan merusak organisme
(Sola dosis facit venenum: hanya dosis membuat racun, Paracelsus)
(Tjay, 2002).
Untuk obat yang struktur kimianya belum diketahui dan untuk
sediaan tak murni atau campuran dari beberapa zat aktif , metode
spektrofotometer ultraviolet/ infrared, dan polarograf tidak dapat
dilakukan. Obat-obat ini diukur dengan metode biologis, yaitu dengan
bio-assay, dimana aktivitas ditentukan oleh organisme hidup (hewan,

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

kuman) dengan membandingkan efek obat tersebut dengan efek


suatu standar internasional (Tjay, 2002).
Bila ditemukan suatu aktivitas farmakologik yang mungkin
bermanfaat, maka senyawa yang lolos penyaringan ini akan diteliti
lebih lanjut (Gunawan, 2007).
Sebelum calon obat baru ini dapat dicobakan pada manusia,
dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk meneliti sifat farmakodinamik,
farmakokinetik, dan efek toksisnya pada hewan coba. Dalam studi
farmakokinetik ini tercakup juga pengembangan teknik analisis untuk
mengukur kadar senyawa tersebut dan metabolitnya dalam cairan
biologik. Semuanya ini diperlukan untuk memperkirakan dosis efektif
dan memperkecil resiko penelitian pada manusia (Gunawan, 2007).
Ada beberapa kemungkinan untuk menggolongkan toksikologi
diantaranya (Mustchler, 1991) :
1.

Efek

toksis

akut,

yang

langsung

berhubungan

dengan

pengambilan zat toksik.


2.

Efek toksik kronik, yang pada umumnya zat dalam jumlah sedikit
diterima tubuh dalam jangka waktu yang lama sehingga akan
terakumulasi mencapai konsentrasi toksik dan dengan demikian
menyebabkan terjadinya gejala keracunan.
Setiap zat kimia pada dasarnya bersifat racun dan terjadinya

keracunan ditentukan oleh dosis dan cara pemberian. Paracelsus


pada tahun 1564 telah meletakkan dasar penilaian toksikologis
dengan mengatakan, bahwa dosis menetukan apakah suatu zat kimia
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

adalah racun (dosis sola facit venenum). Sekarang dikenal banyak


faktor yang menentukan apakah suatu zat kimia bersifat racun,
namun dosis tetap merupakan faktor utama yang terpenting. Untuk
setiap zat kimia, termasuk air, dapat ditentukan dosis kecil yang tidak
berefek sama sekali, atau suatu dosis besar sekali yang dapat
menimbulkan keracunan dan kematian. Untuk zat kimia dengan efek
terapi,

maka

dosis

yang

adekuat

dapat

menimbulkan

efek

farmakoterapeutik (Gunawan, 2007).


Efek toksik, atau toksisitas suatu obat dapat diidentifikasi
melalui pemantauan batas terapeutik obat tersebut dalam plasma
(serum). Tetapi, untuk obat-obat yang mempunyai indeks terapeutik
yang lebar, batas terapeutik jarang diberikan. Untuk obat-obat yang
mempunyai

indeks

terapeutik

sempit,

seperti

antibiotika

aminoglikosida dan antikonvulsi, batas terapeutik dipantau dengan


ketat. Jika kadar obat melebihi batas terapeutik, maka efek toksik
kemungkinan besar akan terjadi akibat dosis yang berlebih atau
penumpukan obat (Kee, 1996).
Angka kematian hewan coba dihitung sebagai Median Lethal
Dose (LD50) atau Median Lathal Concentration (LC50). Penggunaan
LC50 dimaksudkan untuk pengujian ketoksikan dengan perlakuan
terhadap hewan coba secara inhalasi atau menggunakan media air.
Kematian pada hewan percobaan digunakan sebagai pedoman untuk
memperkirakan dosis kematian pada manusia (Cassaret, 1975).

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

Belakangan ini telah banyak pengujian tentang toksisitas yang


dikembangkan untuk pencarian produk alam yang potensial sebagai
bahan antineoplastik, metode pengujian tersebut antara lain simple
brench-Top Bioassay (terdiri dari Brine Shrimp lethality Test, Lemna
Minor Bioassay dan Crown-Gall Potato Disc Bioassay) dan pengujian
pada sel telur Bulu Babi. (Anonim, 2013)
1. Dengan berdasarkan pemikiran bahwa efek farmakologi adalah
toksikologi sederhana pada dosis yang rendah dan sebagian besar
senyawa antitumor adalah sitotoksik, maka Brine Shrimp Lethality
Test dapat digunakan sebagai uji pendahuluan senyawa antitumor.
Senyawa yang mempunyai kemampuan membunuh sel kanker
dalam kultur sel. Pengujian ini adalah pengujian letalitas yang
sederhana dan tidak spesifik untuk akttifitas tumor, tetapi
merupakan indicator toksisitas yang baik dan menunjukkan
korelasi yang kuat dengan pengujian antitumor lainnya seperti uji
sitotoksitas dan uji leukemia tikus. Karena kesederhanaan
prosedur pengerjaan, biaya yang rendah serta korelasinya
terhadap pengujian toksisitas dan pengujian antitumor menjadikan
Brine Shrimp Lethality Test sebagai uji hayati pendahuluan untuk
aktifitas antitumor yang sesuai dan dapat dilakukan secara rutin di
Laboratorium dengan fasilitas sederhana. Uji toksisitas sebagai
skrining awal dapat dilakukan dengan berbagai metode antara lain
adalah metode Brine Shrimp Lethality Test (BST). Metode BST
adalah suatu metode uji guna untuk menentukan toksisitas suatu
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

senyawa bahan alam dengan cepat, murah dan cukup akurat


untuk penapisan ekstrak bahan aktif dengan menggunakan hewan
uji Artemia Salina Leach yang berumur 48 jam.
Metode BST juga digunakan untuk

mendeteksi

keberadaan senyawa toksik dalam proses isolasi senyawa dari


bahan alam yang berefek sitotoksik dengan menentukan harga
LC50 dari senyawa aktif. Metode BST dapat digunakan dari
berbagai system uji seperti uji pestisida, mitotoksin, polutan,
anastetik, komponen seperti morfin, karsinogenik dan ketoksikan
dari hewan dan tumbuhan laut serta senyawa racun dari tumbuhan
darat.
2. Lemna

Minor

Bioassay

terutama

digunakan

sebagai

uji

pendahuluan terdapat bahan yang dapat menghambat dan


meningkatkan pertumbuhan tanaman. D3engan pengujian ini
dapat diamati bahwa senyawa antitumor alami juga dapat
menghambat pertumbuhan Lemna, walaupun korelasinya dengan
pengujian antitumor lainnya kurang baik. Oleh karena itu pengujian
ini lebih diarahkan untuk mencari herbisida dan stimulant
pertumbuhan tanaman baru.
3. Crown-Gall Potato Bioassay

merupakan

metode

pengujian

toksisitas yang relative cepat pengerjaannya, tidak mahal, tidak


memerlukan hewan percobaan serta menunjukkan korelasi yang
sangat baik dengan uji antitumor lainnya. Crown-Gall merupakan
suatu penyakit neoplastik pada tumbuhan yang disebabkan bakteri
gram negative Agrobacterium tumefaciens yang selanjutnya
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

menyebabkan pertumbuhan jaringan tumor secara otonom dan


tidak dipengaruhi oleh mekanisme control normal tumbuhan.
Pengujian

dilakukan

dengan

mengukur

kemampuan

suatu

senyawa menghambat pertumbuhan tumor Crown-Gall pada umbi


kentang

yang

diinfeksikan

dengan

bakteri

Agrobacterium

tumefaciens.
4. Pengujian pembelahan sel telur Bulu Babi dilakukan dengan
mengamati pengamatan penghambatan pembelahan sel telur oleh
suatu senyawa, dimana secara normal pembelahan sel telur
tersebut terjadi dengan cepat. Keuntungan dari metode ini adalah
pengerjaannya yang relative cepat, tidak memerlukan kultur sel
serta peralatan dengan metode khusus. Seperti sel kanker, embrio
bulu babi juga mempunyai sensitivitas selektif terhadap obat
sehingga pengujian dengan cara ini menjadi metode yang layak
bagi penentuan bahan yang akan dievaluasi lebih lanjut.
Walaupun semua sel bereproduksi selama embriogenesis,
hanya sel sel tertentu yang terus melakukannya setelah beberapa
bulan kelahiran bayi. Sel sel yang bereproduksi, seperti sel hati, kulit
dan gastrointestinal, menduplikasi secara persis DNA mereka dan
kemudian membelah menjadi dua sel anak. Sele bereproduksi melalui
sebuah proses, yang disebut siklus sel. Sel sel yang tidak
bereproduksi setelah lahir, misalnya sel otot skeletela, tidak menjalani
siklus sel ini. Perjalanan siklus sel ini secara ketat dikontrol dan dapat

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

dihentikan atau dimulai bergantung pada kondisi sel dan sinyal yang
diterimanya, yang sebagian bahasannya diuraikan berikut ini. Sel sel
yang bereproduksi biasanya melalui siklus sel dengan kecepatan yang
sudah semestinya kecepatannya dapat ditambahkan atau dikurangi.
Sel yang bereproduksi secara lambat, atau tidak sama sekali,
menghabiskan sebagian besar waktu mereka pada stadium interfase
tahap gap (G1 atau G2) (Corwin, 2009).
Siklus sel dikontrol oleh konstribusi berbagai gen yang
bererspon terhadap tanda pemadatan sel, cedera jaringan, dan
kebutuhan untuk tumbuh. Secara umum, sel menjalani siklusnya jika
distimulasi oleh faktor hormon dan pertumbuhan yang diekskresi oleh
sel sel yang jauh, oleh faktor pertumbuhan yang diproduksi secara
lokal, dan oleh isyarat kimia yang dilepaskan dari sel sekitarnya,
termasuk sitokinin yang dihasilkan oleh sel imun dan sel radang.
Isyarat eksternal ini bertindak mengikat reseptor spesifik yang ada di
membran plasma sel target. Setelah terikat, kompleks reseptor
mengaktifkan sistem penghantar kedua (Second Massenger system),
yang mengirimkan sinyal pertumbuhan ke inti sel. Ketika sinyal
mencapai inti sel. Protein tertentu yang ada di inti sel, yang disebut
faktor transkripsi, mengaktifkan atau menginaktifkan gen khusus yang
pada akhirnya menghasilkan protein yang mengontrol proliferasi sel.
Gen yang diaktifkan jugan menghasilkan protein yang memberikan
umpan balik terhadap setia tahap sinyal dan stimulasi penghantar
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

untuk memperkuat untuk meminimalkan efek stimulasi awal (Corwin,


2009).
Berikutnya akan diuraikan isyarat eksternal yang mengontrol
pertumbuhan sel dan menyajikan contoh sistem penghantar kedua
yang penting. Akhirnya akan disajikan dua kategori besar gen yang
produksi akhirnya mengontrol siklus sel, yaitu gen supresor/penekan
tumor dan proto onkogen. Proto onkogen adalah gen yang
ditemukan di sel, yang ketika diaktifkan, merangsang sel untuk
menjalani siklus sel untuk menjalani siklus sel sehingga menghasilkan
pertumbuhan dan proliferasi sel. Gen ini dapat merangsang terjadinya
siklus sel disemua tingkatan, termasuk (1) menghasilkan produksi
yang membentuk reseptor membran untuk mengikat hormon dan
bahan

kimia

perangsang

pertumbuhan,

(2)

meningkatkan

pertumbuhan protein penghantar kedua, termasuk protein ras, yang


mentransfer sinyal pertumbuhan ke inti sel, dan (3) menghasilkan
faktor transkripsi yang mengaktifkan gen vital yang mendorong
pertumbuhan an sel (mis., keluarga gen myc) (Corwin, 2009).
B. Uraian Bahan
1. Air Laut
Komposisi :
Air
96,5%
Garam
3,6%
Dalam 3,5 garam mengandung :
a. Senyawa klorida 55 % wt
b. Senyawa sulfat 7,7 % wt
c. Sodium 30,6 % wt
d. Calsium 1,2 % wt
e. Potassium 1,1 % wt
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

f. Magnesium 3,7 % wt
g. Lain-lain 0,7 % wt
2. Air Suling (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi
: AQUA DESTILLATA
Sinonim
: Air suling, aquadest
Pemerian
: Cairan jernih; tidak berwarna; tidak
berbau; tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan
: Sebagai pelarut.
3. Ragi (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi
: Ekstrak ragi
Sinonim
: Sari ragi
Pemerian
: Kuning kemerahan, bau khas
Kelarutan
: Larut dalam air, membentuk larutan kuning
Penyimpanan
: Dalam wadah tertrutup baik.
Kegunaan
: Sebagai sumber makanan Artemia salina
4. Etanol (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi
: Aethanolum
Nama latin
: Etanol, alcohol
RM/BM
: C2H6O/46,07
Pemerian
: jernih, tidak berbau, bergerak, cairan
pelarut, menghasilkan bau yang khas dan
rasa terbakar pada lidah.

Penyimpanan

: dalam wadah tertutup baik, terlindung dari


cahaya, di tempat sejuk jauh dari nyala
api.

C. Uraian Tanaman
Ekstrak Sawo manila (www.plantamor.com)
Kingdom

: Plantae

Subkingdom

: Tracheobionta

Super Divisi

: Spermatophyta

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas
Ordo

: Dilleniidae
: Ebenales

Famili

: Sapotaceace

Genus

: Manilkara

Spesies

: Manilkara zapota (L.) van Royen

Morfologi Sawo Manila


Pohon yang besar dan rindang, dapat tumbuh hingga
setinggi 30-40 m. Bercabang rendah, batang sawo manila berkulit
kasar abu-abu kehitaman sampai coklat tua. Seluruh bagiannya
mengandung lateks, getah berwarna putih susu yang kental.
Daun tunggal, terletak berseling, sering mengumpul pada
ujung ranting. Helai daun bertepi rata, sedikit berbulu, hijau tua
mengkilap, bentuk bundar-telur jorong sampai agak lanset, 1,5-7 x
3,5-15 cm, pangkal dan ujungnya bentuk baji, bertangkai 1-3,5 cm,
tulang daun utama menonjol di sisi sebelah bawah.
Bunga-bunga tunggal terletak di ketiak daun dekat ujung
ranting, bertangkai 12 cm, kerapkali menggantung, diameter
bunga s/d 1,5 cm, sisi luarnya berbulu kecoklatan, berbilangan 6.
Kelopak biasanya tersusun dalam dua lingkaran; mahkota bentuk
genta, putih, berbagi sampai setengah panjang tabung.
Buah buni bertangkai pendek, bulat, bulat telur atau jorong,
3-6 x 38 cm, coklat kemerahan sampai kekuningan di luarnya
dengan sisik-sisik kasar coklat yang mudah mengelupas, sering
dengan sisa tangkai putik yang mengering di ujungnya. Berkulit
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

tipis, dengan daging buah yang lembut dan kadang-kadang


memasir, coklat kemerahan sampai kekuningan, manis dan
mengandung banyak sari buah. Berbiji sampai 12 butir, namun
kebanyakan kurang dari 6, lonjong pipih, hitam atau kecoklatan
mengkilap, panjang lk. 2 cm, keping biji berwarna putih lilin.
Tumbuhan ini dapat diperbanyak dengan biji ataupun cangkok.
D. Uraian Hewan Coba
Larva Udang (Artemia salina Leach)
Klasifikasi (Mudjiman, 1998).
Filum

: Arthopoda

Divisio

: Crustaceae

Subdivisio

: Branchiopoda

Ordo

: Anostraca

Famili

: Artemiidae

Genus

: Artemia

Species

: Artemia salina

Morfologi (Mudjiman, 1998)


Udang (Artemia salina) mengalami beberapa fase hidup, tetapi
secara jelas dapat dilihat dalam tiga bentuk yang sangat berlainan,
yaitu bentuk telur, larva (nauplii) dan artemia dewasa. Telur yang baru
dipanen dari alam berbentuk bulat dengan ukuran 0,2-0,3 mm. Telur
yang menetas akan berubah menjadi larva. Telur yang baru menetas
ini berukuran kurang lebih 300 . Dalam pertumbuhannya larva

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

mengalami 15 kali perubahan bentuk yang merupakan satu tingkatan


hidup, setelah itu berubah menjadi artemia dewasa.
Waktu yang diperlukan sampai menjadi artemia dewasa
umumnya sekitar 2 minggu. Berbentuk silinder dengan panjang 12-15
mm. Tubuh terbagi atasl bagian kepala, dada dan perut. Pada bagian
kepala terdapat 2 tangkai mata, 2 antena dan dua antenula. Dada
terbagi atas 12 segmen yang masing-masing mempunyai sepasang
kaki renang. Perut ternagi atas 8 segmen. Dapat hidup dalam air
dengan suhu 25o-30oC dan pH sekitar 8-9.
Uraian Tentang Larva (Mudjiman, 1998)
Telur-telur yang kering direndam dalam air laut yang bersuhu
25oC akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Dari dalam cangkangnya
keluarlah burayak (larva) yang juga dikenal dengan istilah nauplius.
Dalam perkembangan selanjutnya, burayak akan mengalami 15 kali
perubahan bentuk (metamorfosis). Burayak tingkat I dinamakan instar,
tingkat II instar II, tingkat III Instar III, demikian seterusnya sampai
Instar XV. Setelah itu berubahlah mereka menjadi artemia dewasa.
Burayak yang baru saja menetas masih dalam tingkat Instar I
bentuknya bulat lonjong dengan panjang sekitar 400 mikron (0,4 mm)
dan beratnya 15 mikrogram. Warnanya kemerah-merahan karena
masih banyak mengandung makanan cadangan. Oleh karena itu,
mereka masih belum perlu makanan.

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

Anggota badannya terdiri dari sungut kecil (antenula atau


antena I dan sepasang sungut besar (antenna II). Dibagian depan
diantara kedua sungut kecilnya terdapat bintik merah yang tidak lain
adalah mata naupliusnya (oselus). Dibelakang sungut besar terdapat
sepasang mandibula (rahang) dan rudimenter kecil. Sedangkan
dibagian perur (ventral) sebelah depan terdapatlah labrum.
Pada pangkal sungut besar (antena II) terdapat bangunan
seperti duri yang menghadap ke belakang (gnotobasen seta)
bangunan ini merupakan cirri khusus untuk membedakan burayak
instar I, instar II dan instar III. Pada burayak instar I (baru menetas)
gnotobasen setanya masih belum berbulu dan juga belum bercabang.
Sekitar 24 jam setelah menetas, burayak akan berubah menjadi
instar II. Lebih lama lagi akan berubah menjadi instar III.Pada
tingkatan II, gnotobasen setanya sudah berbulu tapi masih belum
bercabang. Sedangkan pada instar III, selain berbulu gnotobasen seta
tersebut sudah bercabang II.
Pada tingkatan instar II, burayak mulai mempunyai mulut,
saluran pencernaan dan dubur. Oleh karena itu, mereka mulai
mencari makan, bersamaan dengan itu, cadangan makanannya juga
sudah

mulai

habis.

Pengumpulan

makanannya

dengan

cara

menggerak-gerakkan antena II-nya. Selain itu untuk mengumpulkan


makanan antena II juga berfungsi untuk bergerak. Tubuh instar II dan
instar III sudah lebih panjang dari instarI.

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

Pada tingkatan selanjutnya, disebelah kanan dan kiri mata


nauplius mulai terbentuk sepasang mata majemuk. Mula-mula masih
belum bertangkai. Kemudian secara berangsur-angsur berubah
menjadi bertangkai. Selain itu, dibagian samping badannya (kanan
dan kiri) juga berangsur-angsur tumbuh tunas kakinya (torakopada).
Mula-mula tumbuh dibagian depan kemudian berturut-turut disusul
oleh bagian-bagian yang lebih ke belakang. Setelah menjadi instar XV,
kakinya sudah lengkap sebanyak 11 pasang, maka berakhirlah masa
burayak, dan berubah menjadi artemia dewasa.

BAB III
METODE KERJA
A. Alat yang digunakan
Adapun alat yang igunakan pada praktikum adalah aerator, batang
pengaduk, corong, gelas ukur 10ml, mikropipet, neraca analitik, pipet
skala 1 ml, pipet tetes, seperangkat alat penetsan telur dan Vial.
B. Bahan yang digunakan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum BST ini yaitu
air laut, aquadest, ragi, dan Ekstrak etanol sawo manila.
C. Hewan Coba
Hewan coba yang digunakan dalam praktikum BSLT adalah
Larva udang (Artemia salina Leach)
D. Cara kerja
Penyiapan Larva
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

1. Sebanyak 50 mg telur Artemia salina Leach direndam dalam


wadah yang berisi 200 ml air laut pada pH 7-8
2. Kemudian diletakkan di bawah cahaya lampu yang telah dilengkapi
dengan aerator pada suhu 25oC.
3. Setelah didiamkan selama 24 jam sambil terus diamati, telur udang
tersebut akan menetap dan menjadi larva.
4. Larva yang telah berumur 48 jam, digunakan sebagai hewan uji
aktivitas ketoksikan.
Penyiapan Bahan
A. Pembuatan suspensi ragi
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Ditimbang ragi 0,001 mg
c. Ditambahkan dengan 10 ml air laut lalu diaduk lagi hingga
homogen
d. Disimpan ragi tersebut dalam vial dan siap digunakan
B. Pembuatan Ekstrak etanol sawo manila
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Ditimbang ekstrak sawo manila 0,1 g
c. Dimasukkan ekstrak yang telah ditimbang ke dalam vial
d. Ditambahkan etanol sampai dengan 10 ml
e. Dihomogenkan

BAB IV
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

DATA PENGAMATAN
A. Tabel Pengamatan
Tabel 1
Jenis

replikasi

Jumlah yang mati tiap konsentrasi


1
10
100
1000
Control
g/ml
g/ml
g/ml
g/ml
air laut
0
2
10
10
0
1
4
10
10
0
1
5
10
10
0
0
2
10
10
0
2
3
10
10
0

sampel
Ekstrak
etanol
buah sawo
manila

1
2
3
4
5

(Manilkara
zapota)

Total

16

50

50

kematian
%

8%

32%

100%

100%

kematian

Tabel 2. Persamaan Garis


Log konsentrasi

Probit
XY

X
0
1
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

X2
0
1

Y
3,59
4,53

y2
12,8881
20,5209

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

0
4,53

BSLT

2
3
x =6

4
9
x2 = 14

8,09
8,09
y = 24,3

65,4481
65,4481
y2 =

16,18
24,27
xy = 44,98

164,3052

Tabel 3. Standar Error


X
0
1
2
3

N
50
50
50
50

Y
3,516
5,222
6,928
8,634

W
0,269
0,627
0,154
0,002

NW
13,45
31,35
7,7
0,1

B. Pembahasan
Brine Shrimp Lethality Test (BST) merupakan metode yang
menggunakan udang laut Artemia salina Leach yang mana diajukan
sebagai suatu bioassay sederhana untuk penelitian produk alamiah.
Brine Shrimp Lethality Test (BST) merupakan uji pendahuluan suatu
senyawa yang memiliki keuntungan dimana hasilnya yang diperoleh
lebih cepat

(24 jam), tidak mahal, mudah pengerjaannya dari

pengujian lainnya karena tidak membutuhkan peralatan dan latihan

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

khusus, sampel yang digunakan relatif sedikit. Efek toksik dapat


diketahui atau diukur dari kematian larva karena pengaruh bahan uji.
Toksisitas adalah efek berbahaya dari bahan kimia atau suatu
obat pada organ target. Umumnya setiap senyawa kimia mempunyai
potensi terhadap timbulnya gangguan atau kematian jika diberikan
kepada organisme hidup dalam jumlah yang cukup.
Adapun siklus hidup dari Artemia salina Leach, dimulai dari
kista atau telur, kemudian menjadi embrio, embrio ini masih akan
melekat pada kulit kista, setelah menjadi embrio dia akan menjadi
nauplii, nauplii inilah yang berenang bebas dan memulai hidupnya,
dan dalam fase ini mulai mencari makanan untuk dirinya sendiri.
Setelah itu menjadi Artemia dewasa, setelah dewasa Artemia jantan
dan Artemia betina bertemu dan mengalami perkembang biakan, dan
lahirlah kembali kista ataupun telur.
Alasan digunakannya larva udang dalam percobaan ini adalah
karena larva udang merupakan general biossay sehingga semua zat
dapat menembus masuk menembus dinding sel larva tersebut.
Biossay adalah suatu pengujian tentang toksisitas pada suatu produk
dalam rangka pencarian produk alam yang potensial yang biasanya
menggunakan makhluk hidup sebagai sampel.
LC50 adalah konsentrasi dari suatu senyawa kimia di udara atau
dalam air yang dapat menyebabkan 50% kematian pada suatu
populasi hewan uji atau makhluk hidup tertentu. Penggunaan LC 50
dimaksudkan untuk pengujian ketoksikan dengan perlakuan terhadap
hewan uji secara berkelompok yaitu pada saat hewan uji dipaparkan

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

suatu bahan kimia melalui udara maka hewan uji tersebut akan
menghirupnya atau percobaan toksisitas dengan media air. Nilai LC 50
dapat digunakan untuk menentukan tingkat efek toksik suatu senyawa
sehingga

dapat

juga

untuk

memprediksi

potensinya

sebagai

dilakukan

dengan

antikanker.
Dalam

praktikum

BSLT kali

ini

konsentrasi yang berbeda pada masing-masing vial yaitu konsentrasi


1, 10, 100, dan 1000 g/ml untuk membandingkan toksisitas dan efek
toksik yang ditimbulkan pada masing-masing konsentrasi tersebut.
Sampel yang digunakan adalah ekstrak etanol sawo manila , sebelum
melakukan praktikum dilakukan penyiapan larva, dimana sebanyak 50
mg telur artemia salina Leach direndam dalam 200 ml air laut pada
kondisi ph 7-8 dibawah cahaya lampu dan suhu 25 oC yang dilengkapi
dengan aerator. Telur udang menetas setelah 24-36 jam dan setelah
48 jam larva sudah bisa dijadikan sebagai hewan uji. BSLT dilakukan
untuk melihat pada konsentrasi berapakah larva udang mengalami
LC50. Media air laut digunakan sebagai kontrol dimaksudkan untuk
melihat bagaimana respon kematian dari larva udang . Sawo manila
digunakan sebagai sampel karena tanaman tersebut memiliki khasiat
sebagai obat antikanker, dan Alasan digunakannya larva udang dalam
percobaan ini adalah karena larva udang merupakan general biossay
sehingga semua zat dapat menembus masuk

dinding sel larva

tersebut.
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

Pengujian terhadap ekstrak etanol sawo manila disimpulkan


bahwa konsentrasi untuk mematikan 50% larva udang (Artemia
salina) adalah 7,413 g/ml 1,383 g/ml sehingga dapat dikatakan
ekstrak sawo manila pada percobaan ini memiliki potensi toksisitas
sangat toksik menurut metode BSLT yaitu pada perlakuan dengan
hewan coba larva Artemia salina Leach.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi
untuk mematikan 50% larva udang (Artemia salina) dari sampel
ekstrak etanol sawo manila (Manilkara zapota )adalah 7,413 g/ml
1,383 g/ml.
B. Saran
Sebaiknya alat-alat dalam laboratorium lebih dilengkapi
untuk memperlancar jalannya praktikum.
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

LAMPIRAN
A. Skema Kerja
Konsentrasi ( 1,10,100,1000 g/ml)
Dimasukan dalam masing-masing 5 vial
Diuapkan menggunakan hairdryer
+ 5 ml air laut
Dimasukkan 10 ekor larva dalam vial
Dicukupkan volumenya 10 ml
Ditutup vial dengan alfol lalu dilubangi bagian atasnya
Disimpan ditempat yang cukup sinar lampu
Setelah 24 jam diamati berapa jumlah larva yang mati
B. PERHITUNGAN
a = x2 .y x .xy
LILI YUSNIAR AMANDA
15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

n .x2 (x)2
= 14 . 24,3 6 . 44,98
4 . 14 (6)2
= 340,2 269,88
56 -36
= 70,32
20
a = 3,516
b = n .xy x .y
n .x2 -(x)2
= 4 . 44,98 6 . 24,3
4 . 14 (6)2
= 179,92 145,8
46 . 36
= 34,12
20
b = 1,706

y = a+ bx
= 3,516 + 1,706 x
5 = 3,516 + 1,706 x
1,706 x = 5- 3,516
X = 1,484
1,706
= 0,87

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

Lc50= antilog x
Lc50= antilog 0,87
Lc50= 7,413 (masukdalam range sangattoksik)

y = 3,516 + 1,706 (o)


= 3,516
y = 3,516 + 1,706 (1)
= 5,222
y = 3,516 + 1,706 (2)
= 6,928
y = 3,516 + 1,706 (3)
= 8,634

= 1 = 1= 0,586
b

1,706

SE log Lc50 = Lc50X log e 10 x SE log Lc50


= 7,413 + 2,303 + 0,081
= 1,383
Jadi Lc50= 7,413 1,383 g/ml

DAFTAR PUSTAKA

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

Anonim. 2015. Penuntun Farmakologi dan Toksikologi III. UMI:


Makassar.
Corwin, Elizabeth J, 2009. Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC : Jakarta.
Gunawan, Sulistia Gan, 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran UI.
Jakarta.
Griffits, E. J. F. , J. H. Miller, D. T. Suzuki., R. G. Lewontin, W. M.
Gelbart. 1993. An Introduction to Genetic Analysis 5th ed. W.
H. Preeman and Company. New York.
Kee, Joyce L. 1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan.
EGC: Jakarta.
Mangan, Y.

2003.

Cara Bijak Menaklukkan Kanker.

Agromedia

Pustaka Jakarta.
Mayer et al. 1982. Deteksi toksisitas Kanker. http://cis/. nci. nih. gov/
fact/3-62 htm. Dikunjungi pada Mei 2012.
Mutschler. E., 1991. Dinamika Obat. ITB : Bandung
Tjay, Tan Hoan. 2002. Obat-Obat Penting. Gramedia: Jakarta.

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM

BSLT

LILI YUSNIAR AMANDA


15020130152

ANDI CASSIA SIAMEA LP S.FARM