Anda di halaman 1dari 26

ASPEK BIOFARMASI OBAT YANG DIBERIKAN MELALUI REKTAL

A. PENDAHULUAN
REKTUM / REKTAL : Bagian akhir dari
saluran cerna yang terdiri atas dua
bagian superior yang cembung dan
inferior yang cekung. Bagian velvinal
melebar membentuk ampula recti yang
berfungsi

untuk

menampung

feses.

Panjang total rektal pada orang dewasa


15-19 cm. 12-14 cm bagian pelvinal &
5-6 pagian perineal. Anus sebagai bagian
akhir rektal didukung oleh otot gelang yg
disebut dengan musculus spincterani di
bagian

dalam

persyaratan
hemorroides

dan

luar. Kemudian

rektal

terdiri

dari

atas

dan

bagian

haemorroides bagian luar dan syaraf anus. Fungsi rektal mempunyai 2 peran mekanik
yaitu tempat penampungan feses dan mendorongnya saat pengeluaran. Adanya
mukosa memungkinkan terjadinya penyerapan yang tidak dapat diabaikan, hal ini
menguntungkan pada pengobatan dengan suppositoria & lavamen.
B. JENIS PENGOBATAN
Obat yang diberikan lewat rektal ditujukan untuk :
a. PENGOBATAN LOKAL :
Wasir, Radang Rektal, Konstipasi
b. PENGOBATAN SISTEMIK :

Penderita keadaan muntah atau gangguan sal. cerna, zat aktif rusak oleh
kondisi lambung/usus, penderita menolak utk minum obat, rusak pelintasan ke
hati.
Bentuk sediaan obat yang diberikan melalui rektal adalah :
a. SUPPOSITORIA : Sediaan semi solid yang akan melarut / melebur pada suhu
tubuh
b. CLYSMA / LAVAMENT : Cairan pencuci / pembersih rektal
KERUGIAN obat yang diberikan melalui rektal :
Awal aktivitas terapi obat (onset) lebih lambat dibanding dengan cara
pemberian lain.
Jumlah zat aktif ( bioavailabilitas = BA ) yang diserap relatif lebih kecil
dibanding dengan cara pemberian lain
Cara transpor zat aktif dalam tubuh
Penyerapan di rektal dapat dgn 3 cara :
Lewat pembuluh darah secara langsung
Lewat pembuluih getah bening
Lewat pembuluh darah secara tidak langsung melalui hati
Suppositoria tinggal di rektal penyerapan hanya terjadi dalam pembuluh darah
secara langsung & lewat pembuluh getah bening sehingga tidak melalui sawar
hepatik. Vena inperior & vena intermider yang berperan dan membawa zat aktif
melalui vena iliaka ke vena cava inferior. Faktor anatomik rektal dapat menjelaskan
mengapa zat aktif tertentu yang dirusak oleh hati menjadi lebih aktif bila diberikan
lewat rektal dibandingkan per oral. Saluran getah bening juga berperan pada

penyerapan rektal yaitu melalui saluran toraks yang mencapai vena sub clavula
sinistra.
Umumnya rektal selalu kosong kecuali saat defakasi. Pemberian lavamen
sebagai pencuci atau pembersih sebelum pemberian obat rektal dapat memperbaiki
penyerapan. Selain fases di rektal terdapat juga senyawa lain tetapi dalam jumlah
yang kecil. pH rektal mirip dgn pH usus yaitu 6,8 tetapi hasil penelitian menyatakan
pHnya netral 7,2-7,4. Kemampuan pendaparan cairan rektal tidak bermakna
tergantung sifat senyawa yang ada di dalamnya. Jadi mukosa rektal dalam keadaan
tertentu bersifat permiable sempurna. Diantara bentuk sediaan yang diberikan melalui
rektal, suppositoria lebih dulu digunakan & telah menjadi objek penelitian.
Suppositoria merupakan bentuk sediaan obat semi solid yang dibuat untuk
memudahkan pemasukkan kedalam rektal sedangkan zat aktif dilepaskan secara
difusi pada suhu tubuh atau pelarutan kedalam cairan rektal.
C. AKTIVITAS SUPPOSITORIA
Suppositoria dibuat dgn zat pembawa lipofil & hidrofil dengan bentuk
kekerasan yang memudahkan pemasukan ke dalam rektat
Mekanisme kerja suppositoria
a. EFEK MEKANIK
Efek mekanik ( merangsang ) dimana bahan dasar suppositoria berefek
mekanik tidak peka pada penyerapan dibandingkan suppositoria dgn
pembawa gliserin atau minyak coklat yg digunakan sebagai pencahar.
Suppositoria mulai berefek bila terjadi kontak yang menimbulkan refleks
defakasi namun pada keadaan konstipasi refleks tersebut lemah.
b. EFEK SETEMPAT (LOKAL)

Suppositoria berefek setempat ini seperti suppositoria anti wasir. Obat-obat


tersebut bekerja secara rangkap baik terhadap perifer maupun sentral yang
terakhir ini sepenuhnya berefek sistemik.
c. EFEK SISTEMIK
Suppositoria berefek sistemik adalah suppositoria yang mengandung senyawa
yang diserap & berefek pada organ tubuh selain rektal. Pada kelompok ini
termasuk suppositoria nutrisi, suppositoria obat. Suppositoria nutrisi
digunakan pada penyakit tertentu seperti gangguan saluran cerna
Penyerapan zat aktif terjadi setelah proses pelepasan, pemindahan, pelarutan
& penembusan kecairan rektal & keseluruhan proses tersebut dirangkum dlm
istilah kinetika pelepasan/kinetika predisposisi. Sedangkan fenomena difusi &
penyerapan disebut kinetika penyerapan. Keseluruhan proses kinetik tersebut
tidak dapat saling dipisahkan & terdapat sejumlah faktor yang berpengaruh
pada berbagai tahap tersebut.

darah

Kinetik Pre-disposisi

Penghancuran sediaan, lalu


Pemindahan dan pelarutan zat aktif ke dlm cairan rektal, diikuti difusi menuju
membran yg akan memberikan efek setempat atau berdifusi utk mencapai
sistem peredaran darah (efek sistemik)
PENGHANCURAN SEDIAAN
Jenis basis suppositoria utk melebur ke dalam cairan rektal
Konsistensi sediaan
Kekentalan setelah peleburan
Kemampuan pecah
TRANSPOR ZAT AKTIF KE DLM CAIRAN REKTAL
Sifat zat aktif
Kelarutan zat aktif
Koefisien partisi zat aktif
Ukuran partikel

Faktor yg mempengaruhi kinetika penyerapan zat aktif :


Kedudukan suppositoria (pelepasan melalui ampula recti / bagian atas dan
bagian superior)
Waktu tinggal di dlm rektal
pH cairan rektal

Konsentrasi zat aktif


Cara pembuatan dan penambahan bahan aditif menjadi perhatian yg penting
mengingat suppositoria sangat berpengaruh terhadap pelepasan dan
penyerapan zat aktif

ASPEK BIOFARMASI OBAT YANG DIBERIKAN MELALUI KULIT

A. PENDAHULUAN
Kulit merupakan pelindung tubuh
yg sempurna thd pengaruh luar,
baik pengaruh fisik maupun kimia
serta sawar fisiologik krn mampu
menahan penembusan bahan asing
yg akan masuk ke dlm kulit. Kulit
relatif permebel thdp senyawa
kimia, namun keadaan tertentu
kulit dpt ditembus oleh senyawa
obat atau bhn berbahaya yg dpt
menimbulkan efek terapi atau efek
toksik baik yg setempat maupun
sistemik.

B. ANATOMI KULIT
KULIT merupakan jaringan perlindungan yang lentur dan elastis, menutupi
seluruh permukaan tubuh dan merupakan 5% berat tubuh serta sangat berperan pada
pengaturan suhu tubuh dan mendeteksi adanya rangsangan dari luar serta untuk
mengeluarkan kotoran.

KULIT terdiri dari 3 lapisan :

1. EPIDERMIS
Lapisan epitel, tebal 200 m, dibedakan atas 2 bagian : lapisan malfigi
(lapisan dasar/stratum germinativum) dan lapisan tanduk (sel mati yang
berubah menjadi sel tanduk/stratum corneum)
2. DERMIS DAN HIPODERMIS
Dermis merupakan jaringan penyangga berserat dengan ketebalan 3-5
mm, sebagai pemberi nutrisi pada epidermis, terletak di bawah epidermis
Hipodermis dan jaringan penyangga kendor mengandung sejumlah
kelenjar lemak dan glomerolus kelenjar keringat
3. ANEKSA KULIT
Terdiri atas sistem pilosebasea dan kelenjar sudoripori. Kelenjar
sebasea menempel pada folikel rambut kecuali yg berbulu jarang seperti
kelenjar eksokrin, holokrin dan getah sebum.
Faktor yg mempengaruhi perubahan zat aktif yg terdapat dalam
sediaan yg dioleskan

C. LOKALISASI SAWAR (RINTANGAN)


Kulit mengandung sejumlah lapisan yang dapat mencegah masuknya
bahan kimia, hal tersebut karena adanya lapisan tipis lipida, lapisan tanduk,
lapisan epidermis malfigi. Ada suatu celah yg berhubungan langsung dengan
kulit bagian dalam yang dibentuk oleh kelenjar sebasea yg membatasi bagian luar
dan cairan ekstraseluler. Lapisan lipida dapat ditembus oleh senyawa lipofilik
dengan cara difusi dan adanya kolesterol menyebabkan senyawa yg larut dlm air
dapat teremulsi. Lapisan tanduk secara keseluruhan berperan melindungi kulit,
dimana sel sel lapisan tsb berikatan dengan kohesi yg sangat kuat dan
pelindung kulit paling efisien.
D. JALUR PENEMBUSAN
Kulit karena impermeabilitas dpt dilewati oleh sejumlah senyawa kimia dalam
jumlah kecil. Penembusan molekul terlarut / terdispersi masuk dari luar ke bagian
dalam dapat terjadi secara difusi melalui lapisan tanduk atau melalui kelenjar

sudoripori maupun organ pilosebasea. Penembusan lewat pilosebasea tergantung


permukaannya dibanding lewat epidermis. Senyawa yg berdifusi mempunyai BM
kecil dan bersifat lipofilik dg cepat dpt tersebar dlm lapisan tanduk dan lipida yang
terdapat dalam kelenjar sebasea
E. PENAHANAN & PENYERAPAN
Struktur kulit terdapat suatu daerah DEPO dan dari daerah tersebut. Zat aktif
akan terserap dan dilepaskan secara perlahan-lahan.Lapisan tanduk dapat juga
menahan senyawa obat berdifusi sehingga tidak terjadi penyerapan. Penumpukan
senyawa obat dpt juga terjadi karena senyawa tsb terikat secara metabolit. Sebagian
besar zat aktif diserap melalui kulit secara difusi pasif.
a. FAKTOR YG MEMPENGARUHI PENYERAPAN PERKUTAN
Keadaan dan umur kulit
Efektifitas akan berkurang jika terjadi perubahan dan kerusakan sel tanduk
Aliran darah
Semakin kecil jumlah darah dalam kulit maka semakin kecil pula senyawa
dalam perjalanan obat tsb
Tempat pengolesan
Semakin kecil jumlah darah dalam kulit maka semakin kecil pula senyawa
dalam perjalanan obat tsb
Kelembaban dan suhu
Lapisan tanduk yg lembab mempunyai afinitas yg sama terhadap senyawa yg
larut dlm air atau lipid.

Kemampuan penembusan dan penyerapan perkutan obat terutama tergantung


pada sifat fisiko-kimia. Peran bahan pembawa dalam sediaan topikal sangat kompleks
sehingga dalam pemilihan bahan pembawa sangat tergantung dengan zat aktif,
kondisi kulit, sifat fisiko-kimia. Jika kondisi dimana senyawa obat tidak dapat
mengganggu fungsi fisiologik kulit maka dapat dipastikan kulit tdk dapat
melewatkan senyawa yg tidak dapat diserap
F. FAKTOR FISIKO-KIMIA BAHAN OBAT
1. TETAPAN PARTISI
Bahan obat dengan BM rendah akan berdifusi lebih cepat daripada bahan obat
BM tinggi, hal tersebut karena membentuk

ikatan dengan konstituen

membrane.
2. KONSENTRASI / KADAR BHN OBAT
Jumlah yang diserap setiap satuan luas permukaan dan satuan waktu adalah
sebanding dengan konsentrasi senyawa dlm media pembawa. Bila bahan obat
dengan konsentrasi tinggi dioleskan pada permukaan kulit maka terjadi
perubahan struktur membran akibat konsentrasi bahan obat yng tinggi atau
terjadi perubahan koefisien partisi antara pembawa dengan sawar kulit.
3. Konsentrasi Partisi
Koefisien partisi yg tinggi mencerminkan afinitas senyawa, semakin
mendekati satu nilai afinitasnya maka molekul obat bergerak dlm jumlah yg
sama mendekati lapisan tanduk. Dengan demikian senyawa yg mempunyai
afinitas tinggi terhadap pembawanya tidak dapat berdifusi dlm lapisan tanduk
4. Pemilihan pembawa
Pemilihan bhn pembawa dpt mengubah struktur sawar kulit dan
meningkatkan penyerapan senyawa terkait. Pemilihan bahan pembawa yg
cocok dengan bahan aktif dapat mempermudah difusi ke dalam struktur kulit
5. Kelarutan dan Keadaan Termodinamika
Sebagian besar zat aktif intensitas penyerapan dibatasi oleh permeabilitas kulit
sehingga diharapkan senyawa yang dioleskan pada kulit mempunyai aktivitas
termodinamika yang besar agar jumlah obat yg diserap dapat maksimal

6. Surfaktan dan emulsi


Surfaktan sangat berpengaruh pd penyerapan perkutan. Campuran basis yg
mengandung alkil bensena sulfonat dpt meningkatkan penembusan kedalam
struktur kulit. Penambahan surfaktan anionik dpt meningkatkan penembusan
senyawa antibakteri. Penambahan natrium lauril sulfat dpt meningkatkan
pembersihan dan pencucian pd permukaan kulit. Lapisan tanduk merupakan
sawar yg efektif dlm mencegah penembusan sebagian besar surfaktan.
Surfaktan yg bersifat kationik dan non ionik praktis tdk diserap
G. SEDIAAN PERKUTAN
1. Salep / Unguentum
2. Krim / Cremores
3. Pasta / Pastae
4. Jelly / Gel
SEDIAAN PERKUTAN MENURUT PENETRASINYA
a. Sediaan perkutan epidermis
Bekerja pada permukaan kulit
b. Sediaan perkutan endodermis
Dilepaskan dan menembus epidermis tetapi tdk menembus kulit
c. Sediaan perkutan diadermis
Dilepaskan dan menembus kulit utk efek tertentu

BIOFARMASI
A. PENDAHULUAN
BIOFARMASI : Cabang ilmu farmasi yang mempelajari hubungan antara
sifat-sifat fisiko kimia dari bahan baku obat dan bentuk sediaan dengan efek
terapi sesudah pemberian obat tersebut kepada pasien. Perbedaan sifat fisiko
kimia dari sediaan ditentukan oleh bentuk sediaan, formula dan cara pembuatan,
sedangkan perbedaan sifat fisiko kimia bahan baku obat dapat berasal dari bentuk
bahan baku ( ester , garam, kompleks atau polimorfisme) dan ukuran partikel.
Tujuan mempelajari BIOFARMASI : Mangatur pelepasan obat
sedemikian rupa ke sirkulasi sistemik agar diperoleh pengobatan yang optimal
pada kondisi klinik tertentu.

BIOFARMASI , melihat bentuk sediaan sebagai suatu drug delivery


system yang menyangkut pelepasan obat berkhasiat dari sediaannya, absorpsi
dari obat berkhasiat yang sudah dilepaskan, distribusi obat yang sudah diabsorpsi
oleh cairan tubuh, metabolisme obat dalam tubuh serta eliminasi obat dari tubuh.
Proses yang disebutkan di atas dapat dilihat dari skema pemberian obat secara
oral.

(misal tablet) berikut ini :

HUBUNGAN EFEK
FARMAKOLOGI DAN
KLINIK

Aktivitas terapi dipengaruhi oleh rangkaian kejadian setelah pemberian obat.


Keadaan tsb tdk saja berkaitan dg zat aktif dan perubahannya tetapi berkaitan dg
individu dan interaksi obat dalam tubuh.
Tiga tahap dlm menganalisis keadaan tsb di atas adalah :
BIOFARMASI
FARMAKOKINETIK
FARMAKODINAMIK

BIOFARMASI

Fase Biofarmasi menyangkut saat pemberian obat hingga terjadinya


penyerapan zat aktif. Peristiwa tersebut tergantung bentuk sediaan obat dan cara
pemberian.
Ada 3 tahap dlm mengkaji fase biofarmasi :
LIBERASI ( Pelepasan )
DISOLUSI ( Pelarutan )
ABSORPSI ( Penyerapan )

FASE
BIOFARMASI

LIBERASI
Proses pelepasan zat aktif dari bentuk sediaannya.
Pelepasan zat aktif dipengaruhi oleh keadaan lingkungan biologis dan
mekanisme rute pemberian obat

Zat aktif
terlepas
DISOLUSI
Setelah zat aktif terlepas dari bentuk sediaanya, maka proses selanjutnya adalah
pelarutan zat aktif hingga membentuk dispersi molekul di in site

Zat aktif

melarut

ABSORPSI
Tahap ini merupakan tahap transisi menuju ke fase farmakokinetika (ADME)
dimana dispersi molekul obat mengalami penyerapan masuk ke dalam sistem
sirkulasi darah

Sirkulasi

darah

a. KETERSEDIAAN TERAPI :
Ukuran waktu yang diperlukan oleh obat untuk melepaskan diri dari bentuk
sediaannya dan siap untuk proses absorpsi. Cth. Waktu melarut tablet
bersalut
b. KETERSEDIAAN HAYATI (BA) :
Persentase obat yang diabsorpsi tubuh dari suatu dosis yang diberikan dan
tersedia untuk melakukan efek terapinya
Aktivitas dan Toksisitas suatu obat sangat tergantung pada lama keberadaan dan
perubahan zat aktif dalam tubuh
Zat aktif obat akan memberikan efek terapi pada titik tangkap jaringan melalui
suatu sistem peredaran darah untuk mencapai tempat targetnya site target

Penetrasi zat aktif ke dalam sistem peredaran darah karena proses penyerapan
(absorpsi) dan peniadaan (eliminasi) zat aktif yang sesungguhnya merupakan
suatu proses yang rumit

MEKANISME LINTAS MEMBRAN


Mekanisme Pasif dan Aktif (termasuk pembentukan membran) bersaing
dalam proses perlintasan zat aktif melalui membran

FILTRASI
Filtrasi atau yg disebut Difusi secara konvensi atau flux liquidien adalah
mekanisme penembusan pasif melalui pori-pori sutau membran

Rintangan atau Sawar yang dihadapi zat aktif dalam bentuk sediaan obat
sebelum mencapai titik tangkap atau sebelum mengalami perubahan atau
peniadaan berbeda setiap zat aktif

Rintangan tersebut dapat berupa lapisan sel dengan berbagai ukuran


(membran antar sel atau pembatas organ intraseluler seperti inti atau
mitokondria)

DIFUSI PASIF : Proses terbesar trans-membran umumnya obat dimana


tenaga pendorong untuk menembus adalah konsentrasi obat.
Hukum Difusi FICH :

Molekul obat berdifusi dari daerah yg konsentrasi


tinggi ke konsentrasi rendah

Keterangan :
dQ/dt = Laju Difusi,
D = Koefeisen Difusi,
K = Koefisien Partisi,
A = Luas Permukaan Membran
h = Tebal Membran,
CGI CP = Perbedaan konsentrasi obat dlm sal. Cerna dan plasma
DIFUSI AKTIF adalah proses trans membran yang diperantarai oleh
pembawa (carier) yang bertujuan untuk sekresi ginjal & bilier. transpor aktif
ditandai dengan perbedaan konsentrasi dari daerah dgn konsentrasi rendah ke
konsentrasi tinggi. Proses ini memerlukan sistem yang membutuhkan energi
untuk mengikat obat membentuk kompleks kemudian melewati membran.
DIFUSI YANG DIPERMUDAH
Merupakan sistem transpor yang diperantarai pembawa, obat bergerak
oleh karena adanya perbedaan konsentrasi (konsentrasi tinggi ke konsentrasi
rendah).

Transpor visikular/pinocitosis :
merupakan proses pencaplokan
terhadap makro molekuler besar.
Transpor melalui pori :
Faktor-faktor bentuk sediaan yang
mempengaruhi biotransformasi obat.
Jenis produk obat
Sifat bahan tambahan
Fisiko kimia obat itu sendiri

ASPEK BIOFARMASI
OBAT aerosol
A. PENDAHULUAN
AEROSOL adalah suatu bentuk sediaan obat yang dikemas di bawah
tekanan, mengandung bahan obat yg dilepas pada saat sistem katup yg sesuai
ditekan.

Sediaan ini digunakan untuk topikal pd kulit, lokal pada hidung, pada
mulut dan pada paru.
B. ANATOMI SALURAN NAFAS

C. FISIOLOGIS SALURAN NAFAS

a. MULUT : Tempat persimpangan pharyngolaryns dan merupakan jalur


kedua yang digunakan untuk proses respirasi. Tempat ini tdk mempunyai
filter sehingga partikel yg masuk tdk mengalami penghalangan
b. HIDUNG : secara anatomis menjamin proses pelembaban, filter dan
respirasi. Berhubungan dgn nasopharynx dan dibatasi oleh membran
mukosa. Pada pusat lubang terdapat epitel menyerupai kanal bertumpuk,
rambut getar/silia dan sel goblet
c. TRAKHEA : Terdiri dari 16 20 cartilago hyalin, yg pada permukaan
terdapat byk sel kelenjar dan selanjutnya bercabang dua menjadi bronkus
kiri dan kanan
d. BRONKUS : Bronkus tertutup oleh lapisan epitel yang terdiri dari :
Lapisan Mukosa, Silia (rambut getar), Cairan berair yg membasahi silia,
Sel silia yg dipisahkan oleh sel goblet pd mukosa, Sel basal, Membran
e. SILIA : Silia Epitel berperan penting dlm tah bronkus pertahanan saluran
nafas dan bertugas mengeluarkan gas

AEROSOL yg digunakan untuk paru (inhalasi) bentuk sediaan INHALER


Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). Misal obat asma.
Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat
dikontrol, terhindar dari efek lintas pertama, dapat diberikan langsung pada
bronkus. Kerugiannya yaitu, diperlukan alat dan metoda khusus, sukar
mengatur dosis, sering mengiritasi epitel paru sekresi saluran nafas,
toksisitas pada jantung.
Dalam inhalasi, obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat
cepat melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan
pernafasan.

ASPEK BIOFARMASI
OBAT ORAL
A. Pendahuluan
OBAT ORAL Adalah rute pemberian obat yang digunakan melalui mulut
dan melewati saluran cerna.
Perbedaan sifat fisiko kimia dari sediaan ditentukan oleh bentuk sediaan,
formula dan cara pembuatan, sedangkan perbedaan sifat fisiko kimia bahan baku
obat dapat berasal dari bentuk bahan baku ( ester , garam, kompleks atau
polimorfisme) dan ukuran partikel.

BENTUK SEDIAAN OBAT YG DIBERIKAN SECARA ORAL


Tablet
Suspensi
Emulsi
Sirup
Drops
LAMBUNG

Dlm keadaan istirahat spincter pylorus akan membuka, zat aktif melintasi
celah dan akan diserap oleh usus halus

Lambung yg kosong penyerapannya terjadi secara filtrasi atau difusi pasif


lebih cepat dan molekul obat akan masuk ke dlm peredaran darah

Bila zat aktif dg derajat ionisasi rendah dan mempunyai bentuk tak terionkan
atau larut lemak maka penyerapan obat semakin besar

Penyerapan obat sangat sedikit terjadi di lambung dan sebaliknya terjadi di


usus

Tergantung kondisi lambung, semakin lama pengosongon lambung maka


absorpsi obat menjadi kecil

Semakin pendek pengosongan lambung semakin cepat absorpsi obat

Lambung yg berisi makanan, obat akan lambat berdifusi karena pengenceran


dan kontak dg permukaan penyerap terbatas, akibatnya penembusan ke dlm
lebih sedikit, kecuali untuk obat yang dpt mengiritasi lambung

USUS
Kondisi usus memungkinkan penyerapan yg besar karena usus
mempunyai lipatan- Iipatan mukosa (vulvula conniventes) di duodenum dan
jejenum
Adanya kapiler darah dan getah bening pada setiap lipatan
memungkinkan terjadinya penyerapan yang lebih besar
Gerakan usus dan gerakan vili akan mendorong terjadinya
penembusan menuju pembuluh darah