Anda di halaman 1dari 8

A.

Pembentukan dan Komposisi Minyak Bumi


Istilah minyak bumi diterjemahkan dari bahasa latin (petroleum), artinya petrol (batuan) dan
oleum (minyak). Nama petroleum diberikan kepada fosil hewan dan tumbuhan yang ditemukan
dalam kulit bumiberupa gas alam, batubara, dan minyak bumi.
Pembentukan dan Eksplorasi
Minyak bumi terbentuk dari fosil-fosil hewan dan tumbuhan kecil yang hidup di laut dan
tertimbun selama berjuta-juta tahun lampau. Ketika hewan dan tumbuhan laut mati, jasad
mereka tertimbun oleh pasir dan lumpur di dasar laut. Setelah ribuan tahun tertimbun,
akibat pengaruh tekanan dan suhu bumi yang tinggi, lapisan-lapisan lumpur dan pasir
berubah menjadi batuan. Akibat tekanan dan panas bumi, fosil hewan dan tumbuhan yang
terjebak di lapisan batuan secara perlahan berubah menjadi minyak mentah dan gas alam.
Kedua bahan tersebut terperangkap di antara lapisan-lapisan batuan dan tidak dapat keluar.

Untuk mengetahui sumber minyak bumi diperlukan pengetahuan geologi dan pengalaman.
Pekerjaan ini merupakan tugas dan tanggung jawab para insinyur pertambangan dan geologi.
Tahap pertama eksplorasi minyak bumi adalah mencari petunjuk dipermukaan bumi seperti
adanya lipatan-lipatan batuan. Lipatan-lipatan itu akibat tekanan gas dan minyak bumi yang
merembes ke dalam batuan berpori sehingga minyak bumi dapat naik ke permukaan, tetapi
tidak mencapai permukaan bumi karena tertahan oleh lapisann batuan lain.
HIDROKARBON

Setelah mempelajari modul ini siswa dapat mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam
membentuk senyawa hidrokarbon, menggolongkan senyawa hidrokarbon berdasarkan
strukturnya dan hubungannya dengan sifat senyawa.
Materi pelajaran KIMIA Kelas X Semester 2, Oleh Gianto,SPd
A. Karakteristik Atom Karbon
Kekhasan Atom Karbon
Atom karbon memiliki empat elektron valensi. Keempat elektron valensi tersebut dapat
membentuk empat ikatan kovalen melalui penggunaan bersama pasangan elektron dengan
atom-atom lain. Atom karbon dapat berikatan kovalen tunggal dengan empat atom hidrogen
membentuk molekul metana (CH4).

Rumus Levisnya : Selain dapat berikatan dengan atom-atom lain, atom karbon
dapat juga berikatan kovalen dengan atom karbon lain, baik ikatan kovalen
tunggal maupun rangkap dua dan tiga, seperti pada etana, etena dan etuna
(lihat pelajaran Tata Nama Senyawa Organik).

Kecenderungan atom karbon dapat berikatan dengan atom karbon lain


memungkinkan terbentuknya senyawa karbon dengan berbagai struktur
(membentuk rantai panjang atau siklik). Hal inilah yang menjadi ciri khas atom
karbon.

Jika satu atom hidrogen pada metana (CH4) diganti oleh gugus CH3 maka akan terbentuk
etana (CH3CH3). Jika atom hidrogen pada etana diganti oleh gugus CH3 maka akan terbentuk
propana (CH3CH2CH3) dan seterusnya hingga terbentuk senyawa karbon berantai atau
siklik.
Atom C Primer, Sekunder, Tersier, dan Kuartener
Berdasarkan kemampuan atom karbon yang dapat berikatan dengan atom karbon lain, muncul
istilah atom karbon primer, sekunder, tersier, dan kuartener. Istilah ini didasarkan pada jumlah
atom karbon yang terikat pada atom karbon tertentu.
Atom karbon primer adalah atom-atom karbon yang mengikat satu atom karbon tetangga.

Atom karbon sekunder adalah atom-atom karbon yang mengikat dua atom
karbon tetangga.

Atom karbon tersier adalah atom-atom karbon yang mengikat tiga atom
karbon tetangga.

REAKSI REDUKSI OKSIDASI (REDOKS)

Setelah mempelajari modul ini diharapkan siswa mampu menjelaskan perkembangan konsep
reaksi reduksi oksidasi dan hubungannya dengan tata nama senyawa serta penerapannya.
Materi pelajaran KIMIA Kelas X Semester 2, Oleh Gianto,SPd
A. PENGERTIAN REDUKSI OKSIDASI
Pengikatan Oksigen :

Senyawa yang terbentuk dari hasil reaksi dengan oksigen dinamakan oksida sehingga reaksi
antara oksigen dan suatu unsur dinamakan reaksi oksidasi. Karat besi adalah senyawa yang
terbentuk dari hasil reaksi antara besi dan oksigen (besi oksida). Perkaratan besi merupakan
salah satu contoh dari reaksi oksidasi. Persamaan reaksi pembentukan oksida besi dapat
ditulis sebagai berikut.

Pada reaksi tersebut, besi mengalami oksidasi dengan cara mengikat oksigen
menjadi besi oksida. Kebalikan dari reaksi oksidasi dinamakan reaksi reduksi. Pada
reaksi reduksi terjadi pelepasan oksigen. Besi oksida dapat direduksi dengan
cara direaksikan dengan gas hidrogen, persamaan reaksinya:

Pelepasan dan Penerimaan Elektron


Dalam konsep redoks, peristiwa pelepasan elektron dinamakan oksidasi, sedangkan peristiwa
penerimaan elektron dinamakan reduksi. Reaksi redoks pada peristiwa perkaratan besi dapat
dijelaskan dengan reaksi berikut:

Pada reaksi tersebut, enam elektron dilepaskan oleh dua atom besi dan diterima oleh tiga
atom oksigen membentuk senyawa Fe2O3, Oleh karena itu, peristiwa oksidasi selalu disertai
peristiwa reduksi. Pada setiap persamaan reaksi, massa dan muatan harus setara antara ruas
kanan dan ruas kiri (ingat kembali penulisan persamaan reaksi). Persamaan reaksi redoks
tersebut memiliki muatan dan jumlah atom yang sama antara ruas sebelah kiri dan sebelah kanan
persamaan reaksi. Oksidasi besi netral melepaskan elektron yang membuatnya kehilangan
muatan. Dengan menyamakan koefisiennya maka muatan pada kedua ruas persamaan
reaksi menjadi sama. Penyetaraan pada reaksi reduksi oksigen juga menggunakan cara
yang sama.

Contoh Reaksi Reduksi Oksidasi berdasarkan Transfer elektron

Dari persamaan tersebut, dapat diketahui bahwa Mg melepaskan elektron dan Cl menerima
elektron. Dengan demikian, Mg mengalami oksidasi dan Cl mengalami reduksi.

Reduktor dan Oksidator


Dalam reaksi redoks, pereaksi yang dapat mengoksidasi pereaksi lain dinamakan zat
pengoksidasi atau oksidator. Sebaliknya, zat yang dapat mereduksi zat lain dinamakan zat
pereduksi atau reduktor. Pada Contoh diatas, Magnesium melepaskan elektron yang
menyebabkan klorin mengalami reduksi. Dalam hal ini, magnesium disebut zat pereduksi
atau reduktor. Sebaliknya, atom klorin berperan dalam mengoksidasi magnesium sehingga
klorin disebut oksidator.
Contoh Reduktor dan Oksidator

Reaksi Redoks Berdasarkan Perubahan Bilangan Oksidasi


Bagaimana bilangan oksidasi dapat menjelaskan reaksi redoks? Apa Anda cukup puas
dengan konsep transfer elektron? Tinjau antara reaksi SO2 dengan O2 membentuk SO3.
Reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut :

Jika dikaji berdasarkan konsep pengikatan oksigen maka reaksi tersebut adalah reaksi
oksidasi. Jika dikaji berdasarkan transfer elektron maka Anda mungkin akan bingung,
mengapa? Pada reaksi tersebut tidak terjadi transfer elektron, tetapi terjadi penggunaan
bersama pasangan elektron membentuk ikatan kovalen. Reaksi tersebut tidak dapat dijelaskan
dengan konsep transfer elektron.
Oleh karena banyak reaksi redoks yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep pengikatan
oksigen maupun transfer elektron maka para pakar kimia mengembangkan konsep alternatif,
yaitu perubahan bilangan oksidasi. Menurut konsep ini, jika dalam reaksi bilangan oksidasi
atom meningkat maka atom tersebut mengalami oksidasi. Sebaliknya, jika bilangan
oksidasinya turun maka atom tersebut mengalami reduksi.
Untuk mengetahui suatu reaksi tergolong reaksi redoks atau bukan menurut konsep perubahan
bilangan oksidasi maka perlu diketahui biloks dari setiap atom, baik dalam pereaksi maupun
hasil reaksi.

Berdasarkan diagram tersebut dapat disimpulkan bahwa:


Atom S mengalami kenaikan biloks dari +4 menjadi +6, peristiwa ini disebut oksidasi;
atom O mengalami penurunan biloks dari 0 menjadi 2, peristiwa ini disebut reduksi. Dengan
demikian, reaksi tersebut adalah reaksi redoks.
Oleh karena molekul O2 menyebabkan molekul SO2 teroksidasi maka molekul O2 adalah
oksidator. Molekul O2 sendiri mengalami reduksi akibat molekul SO2 sehingga SO2 disebut
reduktor.
Contoh Reaksi Redoks Menurut Perubahan Bilangan Oksidasi