Anda di halaman 1dari 5

PEMERIKSAAN

Anamnesis umum meliputi pengumpulan data tentang umur, tanggal dan tempat lahir, status
perkwainan, siklus haid, untuk anak yang tidak diketahui umurnya, penyakit kelamin dan
penyakit kandungan serta adanya penyakit lain: epilepsy, katalepsi, syncope. Cari tahu pula
apakah pernah bersetubuh? Persetubuhan yang terakhir? Apakah menggunakan kondom?
Hal khusus yang perlu diketahui adalah waktu kejadian; tanggal dan jam. Bila waktu antara
kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari/minggu, dapat
diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan, tetapi persetubuhan yang pada
dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan.
Karena berbagai alas an, misalnya perempuan itu merasa tertipu, cemas akan menjadi hamil atau
selang beberapa hari baru diketahui ayah/ibu dank arena ketakutan mengaku bahwa ia telah
disetubuhi dengan paksa. Jika korban benar telah diperkosa, biasanya akan segera melapor.
Tetapi saat pelaporan yang terlambat mungkin juga disebakan karena korban diancam untuk
tidak melapor kepada polisi. Dari data ini dokter dapat mengerti mengapa ia tidak dapat
menemukan lagi spermatozoa, atau tanda-tanda lain dari persetubuhan.
Tanyakan pula dimana tempat terjadinya. Sebagai petunjuk dalam pencarian trace evidence yang
berasal dari tempat kejadian, misalnya rumput, tanah dan sebagainya yang mungkin melekat
pada pakaian atau tubuh korban. Sebaliknya petugaspun dapat mengetahui dimana harus mencari
trace evidence yang ditinggalkan oleh korban/pelaku.
Perlu diketahui apakah korban melawan. Jika korban melawan maka pada pakaian mungkin
ditemukan robekan, pada tubuh korban mungkin ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan dan
pada alat kelamin mungkin terdapat bekas perlawanan. Kerokan kuku mungkin menunjukkan
adanya sel-sel epitel kulit dan darah yang berasal dari pemerikosa/penyerang.
Cari tahu apakah korban pingsan. Ada kemungkinan korban menjadi pingsan karena ketakutan
tetapi mungkin juga korban dibuat pingsan oleh laki-laki pelaku dengan pemebrian obat tidur
atau obat bius. Dalam hal ini jangan lupa untuk mengambil urin dan darah untuk pemeriksaan
toksikologi.

Tanyakan apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi, apakah setelah kejadian korban mencuci,
mandi, dan mengganti pakaian.
Pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti. Pakaian diteliti helai demi helai, apakah
terdapat: robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian. Kancing
terputus akibat tarikan, bercak darah, air mani, lumpur dan sebagainya yang berasal dari tempat
kejadian.
Catat apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak, benda-benda yang melekat dan pakaian
yang mengandung trace evidence dikirim ke laboratorium kriminologi utnuk pemeriksaan lebih
lanjut.
Pemeriksaan tubuh korban meliputi pemeriksaan umum: lukiskan penampilannya (rambut dan
wajah), rapi atau kusut, keadaan emosional tenang atau sedih/gelisah. Adakah tanda-tada bekas
kehilangan kesadaran atau diberikan obat tidur/bius, apakah ada needele marks. Bila ada indikasi
jangan lupa untuk ambil urin dan darah.
Adakah tanda-tanda bekas kekerasan, memar atau luka lecet pada daerah mulut, leher,
pergelangan tangan, lengan paha bagian dalam dan pinggang.
Dicatat pula tanda perkembangan alat kelamin sekunder, pupil, reflex cahaya, pupil pint point,
tinggi dan berat badan, tekanan darah, keadaam jantung paru dan abdomen.
Adakah trace evidence yang melekat pada tubuh korban
Pemeriksaan bagian khusus (daerah genitalia) meliputi ada tidaknya rambut kemaluan yang
saling melekat menjadi satu karena air mani yang mongering, gunting utntuk pemeriksaan
laboratorium. Cari pula bercak air mani disekitar alat kelamin, kerok dengan sisi tumpul scalpel
atau swab dengan kapas lidi yang dibasahi dengan larutan garam fisiologis.
Pada vulva, teliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan, seperti hiperemi, edema, memar dan luka
lecet (goresan kuku). Introitus vagina apakah hiperemi/edema? Dengan kapas lidi diambil bahan
untuk pemeriksaan sperma dari vestibulum.
Periksa jenis selaput dara, apakah rupture atau tidak. Bila ada, tentukan rupture baru atau lama
dan catat lokasi rupture tersebut, teliti apakah sampai ke insertion atau tidak. Tentukan besar

orifisum, sebesar ujung jari kelingking, jari telunjuk atau 2 jari. Sebagai gantinya boleh juga
ditentukan ukuran lingkaran orifisium, dengan cara ujung kelingking atau telunjuk dimasukkan
dengan hati-hati kedalam orifium samapai terasa tepi selaput dara menjepit ujung jari, beri tanda
pada sarung tangan dan lingkaran pada titik itu diukur. Ukuran pada seorang perawan kira-kira
2,5 cm. lingkaran yang memungkinkan persetubuhan dapat terjadi menurut Voight adalah
minimal 9 cm.
Harus diingat bahwa persetubuhan tidak selalu disertai dengan deflorasi. Pada rupture lama,
robekan menjalar sampai ke insertion disertai adanya parut pada jaringan di bawahnya. Rupture
yang tidak sampai ke insertion, bila sudah sembuh tidak dapat dikenali lagi.
Periksa pula apakah frenulum labiorum pudenda dan commisura labiorum posterior utuh atau
tidak, periksa vagina dan serviks dengan speculum, bila keadaan alat genital mengijinkan.
Adakah tanda penyakit kelamin.
Lakukan pemngambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium. Untuk pemeriksaan cairan mani
dan sel mani dalam lender vagina, lakukan dengan mengambil lender vagina menggunakan pipet
Pasteur atau diambil dengan cara ose batang gelas, atau swab. Bahan diambil dari forniks
posteriot, bila mungkin dengan speculum.
Pada anak-anak atau bila selaput dara utuh, pengambilan bahan sebaimnya dibatasi dari
vestibulum saja.
Pemeriksaan terhadap kuman N. gonorrhea: dari secret urether (urut dengan jari) dan dipulas
dengan pewarnaan Gram.
Pemeriksan dilakukan pada hari ke I, III, V dan VII. Jika pada pemeriksaan didapatkan N.
gonorrhea berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seseorang penderita, bila pada pria
tertuduh juga ditemukan N. gonorrhea, ini merpakan petunuk yang cukup kuat. Jika terdapat
ulkus, secret perlu diambil untuk pemeriksaan serologic atau bakteriologik.
Pemeriksaan kehamilan dan pemeriksaan toksikologik terhadap urin dan darah juga dilakukan
bila ada indikasi.

Pemeriksaan pria tersangka dapat dilakuka terhadap pakaian, catat adanya bercak semen, darah
dsb. Bercak semen tidk mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak perlu ditentukan.
Darah mempunyai nilai karena kemungkinan berasal dari daeah deflorasi. Disini penentuan
golongan darah penting untuk dilakukan. Mungkin dapat ditemukan tanda bekas kekerasan;
akibat perlawanan leh korban. Untuk mengetahui apakah seorang pria baru melakukan
persetubuhan, dapat dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel epitel vagina pada glans penis.
Pemeriksaan terhadap sel epitel vagina pada glans penis dapat dilakukan dengan menekankan
kaca obyek pada glans penis, daerah korona atau frenulum, kemudian diletakkan terbalik diatas
cawan yang berisi larutan lugol. Uap yodium akan mewarnai lapisan pada kaca obyek tersebut.
Sitoplasma sel epitel vagina akan berwarna coklat tua karena mengandung glikogen. Warna
coklat tadi cepat hilang, namun dengan meletakkan kembali sediaan di atas cairan lugol maka
warna coklat akan kembali lagi. Pada sediaan ini dapat pula ditemukan adanya spermatozoa
tetapi tidak mempunyai arti apa-apa.
Perlu pula dilakukan pemeriksaan secret uretra untuk menentukan adanya penyakit kelamin.
Trace evidence pada pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan harus diperiksa. Bila
fasilitas untuk pemeriksaan tidak ada, kirim ke laboratorium forensic di kepolisian atau bagian
Ilmu Kedokteran Forensik, dibungkus, segel, serta membuat berita acara pembungkusan dan
penyegelan.
Rambut dan barang bukti lain yang ditemukan diperlakukan serupa. Jika dokter menemukan
rambut kemaluan yang lepas pada badan wanita ia harus mengambil beberapa helai rambut
kemaluan dari wanita dan laki-laki sebagai bahan pembanding (matching).
Beberapa catatan penting:
Rupture selaput dara
Bedakan celah bawaan dari rupture dengan memperhatikan sampai di insertion (pangkal) selaput
dara.

Celah bawaan tidak mencapai insertion sedangkan rupture dapat sampai ke dinding vagina. Pada
vagina akan ditemukan parut bila rupture sudah sembuh, sedangkan rupture yang tidak mencapai
basis tidak akan menimbulkan parut.
Rupture akibat persetubuhan biasa ditemukan dibagian posterior kanan atau kiri dengan asumsi
bahwa persetubuhan dilakukan dengan posisi saling berhadapan.