Anda di halaman 1dari 51

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan hak asasi manusia (HAM) dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan masyarakat. Pembangunan sarana-sarana pelayanan kesehatan termasuk di dalam upaya kesehatan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik dan optimal sehingga meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat (Republik Indonesia, 2009). Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan yang menunjang upaya pelayanan kesehatan dan tempat dilakukannya praktek kefarmasian (Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009). Praktek kefarmasian yang dimaksud adalah pembuatan dan pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Pekerjaan kefarmasian tersebut harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu yaitu apoteker (Menkes RI., 2014). Apoteker sebagai penanggung jawab apotek memiliki peranan besar dalam menjalankan fungsi apotek. Apoteker dituntut untuk mampu melaksanakan peran profesinya sebagai tenaga kefarmasian yang mengabdikan ilmu dan pengetahuannya dalam memberikan pelayanan kefarmasian bagi masyarakat.

1

Pada saat ini, orientasi paradigma pelayanan kefarmasian telah bergeser dari pelayanan obat (drug oriented) menjadi pelayanan pasien (patient oriented). Kegiatan pelayanan yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat berubah menjadi pelayanan yang komprehensif dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, apoteker harus selalu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilakunya agar mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lain secara aktif dan berinteraksi langsung dengan pasien seperti pemberian informasi obat, konseling kepada pasien yang membutuhkan dan menetapkan terapi untuk mendukung penggunaan obat yang rasional (Menkes RI.,

2014).

Dalam pengelolaan apotek, apoteker juga harus mampu menjalankan peran manajerial di apotek. Apoteker harus terampil mengelola apoteknya secara efektif, seperti dalam pengelolaan keuangan, perbekalan farmasi dan sumber daya manusia (Menkes RI., 2014). Mengingat pentingnya peran apoteker dalam suatu apotek, calon apoteker diharapkan telah memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang apotek yaitu dalam hal pelaksanaan pelayanan kefarmasian dan pengelolaan apotek. Oleh karena itu, Program Profesi Apoteker Universitas Sumatera Utara melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan untuk melihat secara langsung tugas dan peran Apoteker Penanggung jawab Apotek (APA).

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dilakukan Praktek Kerja Profesi (PKP) bagi mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker di apotek adalah agar mahasiswa mampu

2

memahami permasalahan apotek dan mampu mengelola apotek secara profesional sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kaidah profesi yang berlaku.

1.3 Pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan di jalan Merdeka No. 5 dilaksanakan pada tanggal 16 September sampai dengan 13 Oktober 2016. Pembagian tugas Praktik Kerja Profesi di Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan dengan menggunakan dua shift, pukul 08.00 - 15.00 WIB dan pukul 15.00 - 22.00 WIB.

3

BAB II

TINJAUAN UMUM

  • 2.1 Pengertian Apotek

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35

tahun 2014, Apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan

praktek kefarmasian oleh Apoteker. Pengertian pelayanan kefarmasian itu sendiri

adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang

berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti

untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pekerjaan kefarmasian menurut

Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 adalah pembuatan termasuk

pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan

pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep

dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat

tradisional.

  • 2.2 Tugas dan Fungsi Apotek

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun

1980 tentang Apotek, tugas dan fungsi apotek adalah :

  • a. Tempat pengabdian profesi seorang Apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.

  • b. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat.

  • c. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus meyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.

4

2.3 Persyaratan Apotek

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin

Apotek, dinyatakan bahwa pendirian apotek harus memenuhi syarat, yaitu :

  • a. Untuk mendapatkan izin apotek, Apoteker atau Apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.

  • b. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi.

  • c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi.

Persyaratan lain yang harus diperhatikan untuk mendirikan suatu

apotek antara lain :

  • 1. Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA)

Untuk memperoleh SIPA sesuai dengan PP RI No. 51 tahun 2009 tentang

Pekerjaan Kefarmasian, seorang Apoteker harus memiliki Surat Tanda

Registrasi Apoteker (STRA). STRA ini dapat diperoleh jika seorang

Apoteker memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  • a. Memiliki ijazah Apoteker.

  • b. Memiliki sertifikat kompetensi profesi.

  • c. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker.

  • d. Mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang mempunyai surat izin praktek, dan

  • e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan

5

etika profesi (Menkes RI, 2011).

Setiap Tenaga Kefarmasian yang melakukan pekerjaan kefarmasian

wajib memiliki surat izin sesuai tempat Tenaga Kefarmasian bekerja. Surat izin

yang dimaksud berupa :

  • a. SIPA bagi Apoteker Penanggung Jawab yang melakukan pekerjaan kefarmasian di fasilitas pelayanan kefarmasian,

  • b. SIPA bagi Apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Apoteker pendamping di fasilitas pelayanan kefarmasian,

  • c. SIKA bagi Apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di fasilitas produksi atau fasilitas distri’busi/penyaluran, atau

  • d. SIKTTK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas kefarmasian (Menkes RI, 2011).

    • 2. Sarana dan prasarana

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

1027/Memkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek,

apotek berlokasi pada daerah yang dengan mudah dikenali oleh masyarakat. Pada

halaman terdapat papan petunjuk dengan jelas tertulis kata apotek. Apotek harus

dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat. Pelayanan produk kefarmasian

diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan

produk lainnya. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh

apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling. Lingkungan apotek harus

dijaga kebersihannya. Apotek harus bebas bahan pengerat, serangga. Apotek

memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pendingin.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 35

6

tahun 2014), sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menunjang pelayanan

kefarmasian di apotek meliputi sarana yang memiliki fungsi:

  • a. Ruang penerimaan resep Ruang penerimaan resep sekurang-kurangnya terdiri dari tempat penerimaan resep, 1 set meja dan kursi, serta 1 set komputer. Ruang penerimaan resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah terlihat oleh pasien.

  • b. Ruang pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas) Ruang pelayanan resep dan peracikan atau produksi sediaan secara terbatas meliputi rak obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang peracikan sekurang-kurangnya disediakan peralatan peracikan, timbangan obat, air minum (air mineral) untuk pengencer, sendok obat, bahan pengemas obat, lemari pendingin, termometer ruangan, blanko salinan resep, etiket dan label obat. Ruang ini diatur agar mendapatkan cahaya dan sirkulasi udara yang cukup, dapat dilengkapi dengan pendingin ruangan (air conditioner).

  • c. Ruang penyerahan obat Ruang penyerahan obat berupa konter penyerahan obat yang dapat digabungkan dengan ruang penerimaan resep.

  • d. Ruang konseling Ruang konseling sekurang-kurangnya memiliki satu set meja dan kursi konseling, lemari buku, buku-buku referensi, leaflet, poster, alat bantu konseling, buku catatan konseling, dan formulir catatan pengobatan pasien.

  • e. Ruang penyimpanan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai. Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan keamanan petugas serta harus dilengkapi dengan rak/lemari obat, pallet, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan obat khusus, pengukur suhu dan kartu suhu.

  • f. Ruang arsip

7

Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan

pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai

serta pelayanan kefarmasian dalam jangka waktu tertentu.

  • 2.4 Perizinan Apotek

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin

Apotek, Surat Izin Apotek (SIA) adalah surat izin yang diberikan oleh Menteri

kepada Apoteker atau Apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana untuk

menyelenggarakan apotek di suatu tempat tertentu.

Izin mendirikan apotek diberikan oleh Menteri Kesehatan Republik

Indonesia, kemudian Menteri melimpahkan wewenang pemberian izin apotek

kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dimana Kepala Dinas

Kesehatan Kota/Kabupaten wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin,

pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek sekali setahun

kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan

Provinsi (Depkes RI., 2002).

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI

No.1332/MenKes/SK/X/2002 Pasal 7 dan 9 tentang Ketentuan dan Tata Cara

Pemberian Izin Apotek, yaitu:

  • a. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

  • b. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan.

8

  • c. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat- lambatnya 6 hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan.

  • d. Dalam hal pemerikasaan dalam ayat (b) dan (c) tidak dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi.

  • e. Dalam jangka 12 hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan sebagaimana ayat (c) atau persyaratan ayat (d), Kepala Dinas Kesehatan setempat mengeluarkan surat izin apotek.

  • f. Dalam hasil pemerikasaan tim Dinas Kesehatan setempat atau Kepala Balai POM dimaksud (c) masih belum memenuhi syarat Kepala Dinas Kesehatan setempat dalam waktu 12 hari kerja mengeluarkan surat penundaan.

  • g. Terhadap surat penundaan sesuai dengan ayat (f), apoteker diberikan kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat- lambatnya dalam waktu satu bulan sejak tanggal surat penundaan.

  • h. Terhadap permohonan izin apotek bila tidak memenuhi persyaratan sesuai pasal (e) dan atau pasal (f), atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Dinas setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasan-alasannya.

    • 2.5 Tenaga Kefarmasian di Apotek

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun

2009, tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian,

9

yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian. Tenaga Teknis

Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalani

pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya

Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi atau Asisten

Apoteker yang memiliki Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian

(STRTTK). Dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian di apotek, Apoteker dapat

dibantu oleh Apoteker pendamping dan/ atau Tenaga Teknis Kefarmasian.

2.6 Peranan Apoteker Penanggung Jawab Apotek

Berdasarkan Permenkes No. 35 tahun 2014, Apoteker adalah sarjana

farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan

apoteker. Peran apoteker dalam melakukan pelayanan kefarmasian yaitu:

  • a. Pemberi layanan

Apoteker sebagai pemberi pelayanan harus berinteraksi dengan pasien.

apoteker harus mengintegrasikan pelayanannya pada sistem pelayanan kesehatan

secara berkesinambungan.

  • b. Pengambil keputusan

Apoteker harus mempunyai kemampuan dalam mengambil keputusan

dengan menggunakan seluruh sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.

  • c. Komunikator

Apoteker harus mampu berkomunikasi dengan pasien maupun profesi

kesehatan lainnya sehubungan dengan terapi pasien, oleh karena itu harus

mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik.

  • d. Pemimpin

Apoteker diharapkan memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin.

10

Kepemimpinan yang diharapkan meliputi keberanian mengambil keputusan yang

empati dan efektif, serta kemampuan mengkomunikasikan dan mengelola hasil

 

keputusan.

e.

Pengelola

Apoteker harus mampu mengelola sumber daya manusia, fisik, anggaran

dan informasi secara efektif.Apoteker harus mengikuti kemajuan teknologi

informasi dan bersedia berbagi informasi tentang Obat dan hal-hal lain yang

berhubungan dengan Obat.

f.

Pembelajar seumur hidup

Apoteker harus terus meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan

profesi melalui pendidikan berkelanjutan (Continuing Professional

Development/CPD).

g.

Peneliti

Apoteker harus selalu menerapkan prinsip/kaidah ilmiah dalam

mengumpulkan informasi sediaan farmasi dan pelayanan kefarmasian dan

memanfaatkannya dalam pengembangan dan pelaksanaan pelayanan kefarmasian

(Menkes RI., 2014).

2.7 Pengelolaan Apotek

2.7.1 Sumber daya manusia (SDM)

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35

tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, bahwa Pelayanan

Kefarmasian di Apotek diselenggarakan oleh Apoteker, dapat dibantu oleh

Apoteker pendamping dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian yang memiliki Surat

Tanda Registrasi, Surat Izin Praktik atau Surat Izin Kerja.

11

Dalam melakukan Pelayanan Kefarmasian Apoteker harus memenuhi

kriteria:

  • 1. Persyaratan administrasi

    • a. Memiliki ijazah dari institusi pendidikan farmasi yang terakreditasi

    • b. Memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA)

    • c. Memiliki sertifikat kompetensi yang masih berlaku

    • d. Memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA)

  • 2. Menggunakan atribut praktik antara lain baju praktik, tanda pengenal.

  • 3. Wajib mengikuti pendidikan berkelanjutan dan mampu meberikan pelatihan yang berkesinambungan.

  • 4. Apoteker harus mampu mengidentifikasi kebutuhan akan pengembangan diri, melalui pelatihan, seminar, workshop, pendidikan berkelanjutan atau mandiri.

  • 5. Harus memahami dan melaksanakan serta patuh terhadap peraturan perundang undangan, sumpah Apoteker, standar profesi (standar pendidikan, pelayanan, kompetensi dan kode etik) yang berlaku (Menkes RI, 2014).

2.7.2 Sarana dan prasarana

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35

tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, bahwa Apotek

harus mudah diakses oleh masyarakat. Sarana dan prasarana Apotek dapat

menjamin mutu Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai

serta kelancaran praktik Pelayanan Kefarmasian.

Sarana

dan

prasarana

yang

diperlukan

untuk menunjang Pelayanan

Kefarmasian di Apotek meliputi sarana yang memiliki fungsi ruang penerimaan

resep, ruang pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas),

ruang penyerahan obat, ruang konseling, ruang penyimpanan sediaan farmasi, alat

kesehatan, dan bahan medis habis pakai, ruang arsip.

2.7.3 Pengelolaan sediaan farmasi, alat Kesehatan, dan bahan medis habis pakai

a. Perencanaan

12

Perlu diperhatikan pola penyakit, pola konsumsi, budaya dan kemampuan

masyarakat.

  • b. Pengadaan Harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

  • c. Penerimaan Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis spesifikasi,

jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam surat pesanan

dengan kondisi fisik yang diterima.

  • d. Penyimpanan Semua Obat/bahan Obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya. Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk sediaan dan kelas terapi Obat serta disusun secara alfabetis. Pengeluaran Obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out) dan FIFO (First In First Out). Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru. Wadah sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor batch dan tanggal kadaluarsa.

  • e. Pemusnahan Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan bentuk sediaan. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak yang mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh apoteker dan disaksikan oleh Dinas Kabupaten/Kota. Pemusnahan obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki surat ijin praktik atau surat ijin kerja. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat dimusnahkan. Pemusnahan Resep dilakukan oleh Apoteker disaksikan oleh sekurang-kurangnya petugas lain di Apotek dengan cara dibakar atau cara

13

pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita Acara Pemusnahan Resep dan

selanjutnya dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.

  • f. Pengendalian Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan atau pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, kehilangan serta pengembalian pesanan. Pengendalian persediaan dilakukan menggunakan kartu stok baik dengan cara manual atau elektronik. Kartu stok sekurang-kurangnya memuat nama Obat, tanggal kadaluwarsa,

jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran dan sisa persediaan.

  • g. Pencatatan dan Pelaporan Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi pengadaan (surat pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stock), penyerahan (nota atau struk penjualan) dan pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan manajemen Apotek, meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya. Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan peraturan perundang-undangan meliputi pelaporan narkotika, psikotropika dan pelaporan lainnya.

2.8 Pelayanan Farmasi Klinik

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35

tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, yang termasuk

dalam pelayanan farmasi klini di apotek antara lain:

  • a. Pengkajian resep

14

Kegiatan pengkajian Resep meliputi administrasi, kesesuaian farmasetik dan

pertimbangan klinis.

Kajian administratif meliputi:

o

Nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat badan.

o

Nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon dan

 

paraf.

 

o

Tanggal penulisan Resep.

Kajian kesesuain farmasetik meliputi:

o

Bentuk dan kekuatan sediaan

o

Stabilitas

o

Kompatibilitas (ketercampuran Obat)

Pertimbangan klinis meliputi:

o

Ketepatan indikasi dan dosis Obat

o

Aturan, cara dan lama penggunaan Obat

o

Duplikasi dan/atau polifarmasi

o Reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping Obat,

manifestasi klinis lain)

o

Kontra indikasi dan interaksi

Jika

ditemukan

adanya

ketidaksesuaian

dari

hasil

pengkajian

maka

apoteker harus menghubungi dokter penulis resep.

  • b. Dispensing Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian informasi Obat.

  • c. Pelayanan Informasi Obat (PIO)

15

Pelayanan Informasi Obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker

dalam pemberian informasi mengenai Obat yang tidak memihak, dievaluasi

dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan obat

kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai

obat termasuk Obat Resep, obat bebas dan herbal.

  • d. Konseling Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. Untuk mengawali konseling, Apoteker menggunakan three prime questions. Apoteker harus melakukan verifikasi bahwa pasien atau keluarga pasien sudah memahami Obat yang digunakan. Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling:

    • - Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gsnggusn fungsi hati dan/atau ginjal, ibu hamil dan menyusui.

    • - Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya TB, DM, AIDS, epilepsi).

    • - Pasien yang menggunakn obat dengan instruksi khusus.

    • - Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (Teofilin, digoksin, fenitoin).

    • - Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa obat untuk indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis obat.

    • - Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.

  • e. Homecare

  • 16

    Apoteker sebagai pemberi layanan diharapkan juga dapat melakukan

    pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk

    kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya.

    • f. Pemantauan Terapi Obat (PTO) Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien mendapatkan terapi obat yang efektif dan terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping. Kriteria pasien:

      • - Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui

      • - Menerima obat dari lima jenis dan Adanya multidiagnosis

      • - Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati

      • - Menerima obat dengan indeks terapi sempit

      • - Menerima obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi obat yang merugikan.

  • g. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi.

    • 2.9 Aspek Bisnis

      • 2.9.1 Studi kelayakan Sebelum suatu apotek didirikan terlebih dahulu dilakukan studi kelayakan

  • (Feasibility study-FS). Studi kelayakan adalah suatu kajian yang dilakukan secara

    menyeluruh mengenai suatu usaha, dalam proses pengambilan keputusan investasi

    yang mengandung resiko yang belum jelas. Menurut Umar (2011), proses

    pelaksanaan studi kelayakan pendirian apotek terdiri dari lima tahapan, yaitu:

    • a. Penemuan suatu gagasan Gagasan adalah sebuah pemikiran terhadap sesuatu yang ingin sekali

    untuk dilaksanakan. Gagasan ini biasanya muncul dari sebuah pemikiran

    seseorang dalam suatu organisasi yang mempunyai keinginan untuk melakukan

    17

    sesuatu. Gagasan yang baik adalah gagasan yang memenuhi kriteria, diantaranya

    sesuai dengan visi organisasi, dapat menguntungkan organisasi, sesuai dengan

    kemampuan sumber daya yang dimiliki organisasi, tidak bertentangan dengan

    peraturan yang berlaku dan aman untuk jangka panjang.

    • b. Penelitian Setelah gagasan didiskusikan dan dianalisis dapat memberikan gambaran

    perspektif yang baik bagi perusahaan dimasa yang akan datang, maka gagasan

    tersebut disetujui untuk ditindak lanjuti dengan penelitian dilapangan. Dalam

    melakukan penelitian dilapangan, data-data yang dibutuhkan antara lain yaitu data

    ilmiah berupa kondisi lokasi dan data non ilmiah berupa intuisi setelah melihat

    lokasi dan lingkungan sekitarnya.

    • c. Evaluasi Dalam melakukan evaluasi terdapat data hasil penelitian dilapangan, dapat

    dilakukan dengan cara yaitu:

    • i. Memperhatikan beberapa faktor yang berpengaruh, terdiri

    dari data lingkungan disekitar lokasi (faktor eksternal) dan data kemampuan

    sumber daya yang dimiliki (faktor internal).

    ii. Membuat usulan proyek seperti pendahuluan, analisis

    teknis, analisis pasar, analisis manajemen dan analisis keuangan.

    • d. Rencana pelaksanaan Setelah usulan proyek disetujui, kemudian menetapkan waktu untuk

    memulai pekerjaan sesuai dengan skala prioritas seperti menyediakan dana biaya

    investasi dan modal kerja, mengurus izin, membangun, merehabilitasi gedung,

    18

    merekrut karyawan, menyiapkan barang dagangan, sarana pendukung dan

    memulai operasional.

    • e. Pelaksanaan Dalam melaksanakan setiap jenis pekerjaan, dibuatkan suatu format yang

    berisi mengenai jadwal pelaksanaan setiap jenis pekerjaan, mencatat setiap

    penyimpangan yang terjadi dan membuat evaluasi dan solusi penyelesaiannya

    (Umar, 2011).

    • 2.9.2 Survei dan pemilihan lokasi Menurut Umar (2011), banyak faktor yang menjadi bahan pertimbangan

    untuk menentukan lokasi suatu usaha. Dasar pertimbangan yang paling utama

    ialah pasar. Pasar merupakan masalah yang tidak boleh diabaikan dan harus

    diperhitungkan terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam pemilihan lokasi suatu

    apotek harus diperhitungkan:

    • a. Jumlah Penduduk

    • b. Ada tidaknya apotek lain

    • c. Letak apotek yang didirikan, mudah tidaknya pasien untuk parkir kendaraan

    • d. Jumlah praktek dokter, klinik, rumah sakit dan sebagainya

    • e. Keadaan sosial ekonomi masyarakat setempat

      • 2.9.3 Penyusunan rencana anggaran belanja Jika seseorang akan mendirikan suatu usaha apotek, maka diperlukan dana

    atau modal untuk membiayai semua pengadaan sarana. Modal merupakan unsur

    utama yang menjamin berdiri dan hidupnya sebuah apotek. Pada dasarnya dalam

    suatu usaha dikenal dua bentuk modal yaitu modal aktif dan modal pasif:

    19

    • a. Modal aktif (modal tetap) adalah dana yang digunakan membiayai

    pengadaan semua kebutuhan fisik dan non fisik sebagai aset apotek, baik yang

    mengalami penyusutan atau tidak, contoh: tanah, bangunan, inventaris apotek.

    • b. Modal pasif (modal kerja) adalah dana yang diperlukan untuk

    menjalankan operasional apotek, seperti pengadaan obat-obatan dan sediaan

    farmasi lainnya, upah pegawai, listrik, air dan lain-lainnya (Anief, 2008).

    2.9.4

    Analisis titik impas (Break even point)

    Break even point adalah suatu titik yang menggambarkan bahwa keadaan

    kinerja apotek berada pada posisi yang tidak memperoleh keuntungan dan juga

    tidak memperoleh kerugian. Analisis Break Even Point adalah suatu analisis yang

    digunakan untuk mengetahui hubungan antara variable pendapatan, biaya, dan

    keuntungan yang dihasilkan perusahaan pada suatu periode tertentu. Analisis

    Break Even Point berfungsi untuk merencanakan jumlah penjualan dan laba

     

    (Umar, 2011).

    Berikut adalah rumus untuk mencari nilai BEP (Rangkuti, 2006):

     
    2.9.4 Analisis titik impas (Break even point) Break even point adalah suatu titik yang menggambarkan bahwa

    Keterangan:

    HPP = Harga Pokok Penjualan (nilai pembelian dari barang yang terjual) yaitu

    persediaan awal + pembelian – persediaan akhir Omset = Nilai penjualan dari barang yang terjual

    2.9.5

    Kewajiban apotek

    Apotek mempunyai kewajiban terhadap negara berupa pajak, pelaporan

    pemakaian narkotika dan psikotropika, dan kewajiban terhadap tenaga kerjanya.

    20

    Pajak yang dipungut daerah antara lain: izin mendirikan apotek, pajak

    reklame, dan retribusi sampah. Pajak yang dipungut oleh Negara (Pemerintah

    Pusat) antara lain: Pajak penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

    (Umar, 2011).

    • 2.10 Pengelolaan Obat Narkotika dan Psikotropika

      • 2.10.1 Pengelolaan obat narkotika Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 35 Tahun 2009

    tentang Narkotika, dalam Bab I Pasal 1, yang dimaksud dengan narkotika adalah

    zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun

    semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,

    hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat

    menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan I, II dan III.

    Narkotika golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

    Apotek hanya dapat memesan narkotika melalui pedagang besar farmasi (PBF)

    tertentu yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

    Segala zat atau bahan yang termasuk narkotika di apotek wajib disimpan

    sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 3 tahun

    2015, yaitu narkotika disimpan dalam lemari khusus yang terbuat seluruhnya dari

    kayu atau bahan lain yang kuat serta tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2

    kunci yang berbeda. Lemari khusus diletakkan di tempat yang aman dan tidak

    terlihat oleh umum dan kunci lemari khusus dikuasai oleh apoteker penanggung

    jawab atau pegawai lain yang dikuasakan.

    • 2.10.2 Pengelolaan psikotropika

    21

    Pengertian psikotropika dalam Undang-Undang nomor 5 Tahun 1997

    adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang

    berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang

    menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

    Penyimpanan psikotropika diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan

    Republik Indonesia nomor 3 tahun 2015, yaitu psikotropika disimpan dalam

    lemari khusus yang terbuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat serta

    tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2 kunci yang berbeda. Lemari khusus

    diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umun dan kunci lemari

    khusus dikuasai oleh apoteker penanggung jawab atau pegawai lain yang

    dikuasakan.

    Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 3

    tahun 2015, narkotika dan psikotropika hanya dapat disalurkan berdasarkan surat

    pesanan apoteker penangung jawab apotek. Surat pesanan hanya berlaku untuk

    masing-masing narkotika dan psikotropika. Surat pesanan narkotika hanya dapat

    digunakan untuk satu jenis narkotika. Surat pesanan psikotropika hanya dapat

    digunakan untuk satu atau beberapa jenis psikotropika. Surat pesanan narkotika

    dan psikotropika harus terpisah dari pesanan barang lain.

    Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 3

    tahun 2015, apotek wajib membuat, menyimpan, dan menyampaikan laporan

    pemasukan dan penyerahan/penggunaan Narkotika dan Psikotropika, setiap bulan

    kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan Kepala Balai

    setempat. Pelaporan tersebut paling sedikit terdiri atas:

    • - nama, bentuk sediaan, dan kekuatan Narkotika, Psikotropika

    • - jumlah persediaan awal dan akhir bulan;

    22

    • - jumlah yang diterima dan jumlah yang diserahkan.

    Laporan narkotika dan psikotropika tersebut dibuat setiap bulannya dan

    harus dikirim selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya.

    Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun

    2015 BAB IV Pasal 37 disebutkan bahwa pemusnahan narkotika dilakukan dalam

    hal:

    • - Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi

    • - Kadaluarsa.

    • - Tidak memenuhi syarat lagi untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan dan atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

    • - Berkaitan dengan tindak pidana

    Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi dilakukan

    dengan tahapan sebagai berikut:

    • a. Apoteker penanggung jawab apotek menyampaikan surat

    pemberitahuan dan permohonan saksi kepada Dinas Kesehatan

    Kabupaten/Kota dan/atau Balai Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan

    setempat.

    • b. Balai Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan setempat, dan

    Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menetapkan petugas di lingkungannya

    menjadi saksi pemusnahan sesuai dengan surat permohonan sebagai saksi.

    • c. Pemusnahan disaksikan oleh petugas yang telah ditetapkan.

    • d. Narkotika dan psikotropika dalam bentuk obat jadi harus dilakukan pemastian kebenaran secara organoleptis oleh saksi sebelum dilakukan pemusnahan.

    23

    • e. Apoteker penanggung jawab apotek yang melaksanakan pemusnahan narkotika dan psikotropika harus membuat berita acara pemusnahan.

    • f. Berita Acara Pemusnahan yang dimaksud paling sedikit memuat:

      • - hari, tanggal, bulan, dan tahun pemusnahan;

      • - tempat pemusnahan;

      • - nama penanggung jawab fasilitas apotek

      • - nama petugas kesehatan yang menjadi saksi dan saksi lain badan/sarana tersebut;

      • - nama dan jumlah narkotika dan psikotropika yang dimusnahkan;

      • - cara pemusnahan; dan tanda tangan apoteker penanggung jawab fasilitas apotek dan saksi.

    BAB III

    TINJAUAN KHUSUS APOTEK KIMIA FARMA

    3.1 Sejarah PT. Kimia Farma Apotek

    Kimia Farma adalah perusahaan Industri Farmasi pertama di Indonesia

    24

    yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817. Nama perusahaan

    ini pada awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Berdasarkan

    kebijaksanaan nasionalisasi atas eks perusahaan Belanda di masa awal

    kemerdekaan, pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia melakukan

    peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF (Perusahaan Negara

    Farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Kemudian pada tanggal 16 Agustus

    1971, bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga

    nama perusahaan berubah menjadi PT. Kimia Farma (Persero) (Kimia Farma,

    2013).

    Pada tanggal 4 Juli 2001, PT. Kimia Farma (Persero) kembali

    mengubah statusnya menjadi perusahaan publik, PT. Kimia Farma (Persero)

    Tbk, dan telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya

    (sekarang kedua bursa telah merger menjadi Bursa Efek Indonesia) (Kimia

    Farma, 2013).

    PT. Kimia Farma Tbk. adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

    yang dipimpin oleh Direktur Utama yang membawahi empat direktur, yaitu

    Direktur Umum dan Personalia, Direktur Pemasaran, Direktur Keuangan,

    dan Direktur Produksi. Pada tanggal 4 Januari 2003, PT. Kimia Farma Tbk.

    melepas divisi Apotek dan PBF menjadi dua anak perusahaan, yaitu Apotek

    Kimia Farma menjadi PT. Kimia Farma Apotek dan PBF Kimia Farma

    menjadi PT. Kimia Farma Trading and Distribution (Kimia Farma, 2013).

    Selain itu, PT. Sinkona Indonesia Lestari juga merupakan anak perusahaan PT.

    Kimia Farma yang memproduksi kina garam dan turunannya bagi banyak industri

    , terutama obat-obatan, minuman, dan industri kimia. PT. Sinkona Indonesia

    25

    Lestari didirikan pada 25 Oktober 1986 dan sebagai satu-satunya Perusahaan

    Indonesia yang memproduksi kina.

    • 3.2 Visi dan Misi PT. Kimia Farma Apotek

      • 3.2.1 Visi Visi PT. Kimia Farma Apotek adalah menjadi perusahaan jaringan layanan

    kesehatan yang terkemuka dan mampu memberikan solusi kesehatan masyarakat

    di Indonesia (Kimia Farma, 2015).

    • 3.2.2 Misi Misi PT. Kimia Farma Apotek menghasilkan pertumbuhan nilai

    perusahaan melalui (Kimia Farma, 2015):

    • a. Jaringan layanan kesehatan yang terintegrasi, meliputi jaringan apotek, klinik, laboratorium klinik dan layanan kesehatan lainnya.

    • b. Saluran distribusi utama bagi produk sendiri dan produk prinsipal.

    • c. Pengembangan bisnis waralaba dan peningkatan pendapatan lainnya (Fee Based Income)

    • 3.3 Moto PT. Kimia Farma Apotek

    Moto PT. Kimia Farma Apotek adalah I Care:

    I : Innovative, C : Customer First, A : Accountability, R : Responsibility, E : Eco

    Friendly.

    • a. innovative Memiliki budaya berpikir out of the box, smart dan kreatif untuk membangun produk unggulan

    • b. costumer first

    26

    Mengutamakan pelanggan sebagai rekan kerja.

    • c. accountability Bertanggung jawab atas amanah yang dipercayakan oleh perusahaan dengan memegang teguh profesionalisme, integritas dan kerja sama.

    • d. responsibility Memiliki tanggung jawab pribadi untuk bekerja tepat waktu, tepat sasaran dan dapat diandalkan, serta senantiasa berusaha untuk tegar dan bijaksana dalam menghadapi setiap masalah

    • e. eco-friendly Menciptakan dan menyediakan baik produk maupun jasa layanan yang ramah lingkungan (Kimia Farma, 2013).

    3.4 Logo PT. Kimia Farma Apotek

    Logo Kimia Farma tertera pada Gambar di bawah ini:

    Mengutamakan pelanggan sebagai rekan kerja. c. accountability Bertanggung jawab atas amanah yang dipercayakan oleh perusahaan dengan

    Gambar 3.1 Logo Kimia Farma

    Keterangan:

    • a. Simbol Matahari i. paradigma baru matahari terbit adalah tanda memasuki babak baru

    kehidupan yang lebih baik.

    ii. optimis matahari memiliki cahaya sebagai sumber energi, cahaya tersebut

    adalah penggambaran optimisme Kimia Farma dalam menjalankan

    bisnisnya.

    27

    iii. komitmen matahari selalu terbit dari timur dan tenggelam dari arah barat

    secara teratur dan terus menerus memiliki makna adanya komitmen dan

    konsistensi dalam manjalankan segala tugas yang diemban oleh Kimia

    Farma dalam bidang farmasi dan kesehatan.

    iv. sumber energi matahari sumber energi bagi kehidupan dan Kimia Farma

    baru memposisikan dirinya sebagai sumber energi bagi kesehatan

    masyarakat.

    • v. semangat yang abadi warna orange berarti semangat, warna biru berarti keabadian. Harmonisasi antara kedua warna tersebut menjadi satu makna yaitu semangat yang abadi.

    b. jenis huruf dirancang khusus untuk kebutuhan Kimia Farma disesuaikan

    dengan nilai dan image yang telah menjadi energi bagi Kimia Farma, karena

    prinsip sebuah identitas harus berbeda dengan identitas yang telah ada.

    • c. sifat huruf

      • i. kokoh memperlihatkan Kimia Farma sebagai perusahaan terbesar dalam bidang farmasi yang memiliki bisnis hulu hilir dan merupakan perusahaan farmasi pertama yang dimiliki Indonesia.

    ii. dinamis dengan jenis huruf italic, memperlihatkan kedinamisan.

    iii. Bersahabat dengan jenis huruf kecil dan lengkung, memperlihatkan

    keramahan Kimia Farma

    3.5 Aspek Bisnis PT. Kimia Farma Tbk

    28

    Sebagai perusahaan publik sekaligus Badan Usaha Milik Negara (BUMN),

    PT. Kimia Farma Tbk berkomitmen penuh untuk melaksanakan tata kelola

    perusahaan yang baik sebagai suatu kebutuhan sekaligus kewajiban sebagaimana

    diamanatkan Undang-Undang No. 19/2003 tentang BUMN (Kimia Farma, 2014).

    PT. Kimia Farma Tbk, merupakan sebuah perusahaan pelayanan kesehatan

    yang terintegrasi, bergerak dari hulu ke hilir yaitu: pabrik, trading and

    distribution, apotek, laboratorium klinik dan klinik kesehatan. Dengan dukungan

    kuat riset dan pengembangan, segmen usaha yang dikelola oleh perusahaan induk

    ini memproduksi obat jadi dan obat tradisional, yodium, kina, dan produk-produk

    turunannya, serta minyak nabati. Lima fasilitas produksi yang tersebar di kota-

    kota besar di Indonesia merupakan tulang punggung dari segmen industri, dimana

    kelimanya telah mendapat Sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)

    (Kimia Farma, 2014).

    Hasil produksi yang dibuat oleh pabrik Farmasi perusahaan baik produk

    obat-obat kimia dan herbal, dibagi dalam 6 lini produksi yaitu etikal, obat bebas,

    generik, narkotika, lisensi dan bahan baku. Hampir semua kelas terapi

    diakomodasi oleh produk perusahaan dan dipasarkan ke seluruh Indonesia serta

    diekspor ke beberapa negara melalui jaringan distribusi perseroan atau yang

    memiliki perjanjian dengan perseroan (Kimia Farma, 2014).

    Anak perusahaan PT. Kimia Farma adalah:

    • a. PT. Kimia Farma Trading and Distribution. PT. Kimia Farma Trading and Distribution, dibentuk tanggal 4 Januari 2003, memiliki 43 cabang yang mendistribusikan obat-obatan dan alat-alat kesehatan yang diproduksi sendiri maupun yang diproduksi oleh pihak ketiga

    29

    dengan perpegang pada prinsip untuk memenuhi kepuasan dan kebutuhan

    pelanggannya. Dalam operasionalnya didukung dengan fasilitas pergudangan

    yang besar dan peralatan yang efisien serta armada transportasi yang

    terintegrasi dengan sistem informasi untuk mendukung kelancaran

    pengiriman barang ke seluruh Indonesia.

    • b. PT. Kimia Farma Apotek. PT. Kimia Farma Apotek sampai dengan akhir tahun 2015 mengelola 725 Apotek yang tersebar diseluruh tanah air dimana tiap-tiap unit bisnis (Bussiness Manager) membawahi sejumlah Apotek pelayanan yang berada di wilayah usahanya. Apotek Kimia Farma melayani penjualan langsung dan melayani resep dokter dan menyediakan pelayanan lain, misalnya praktek dokter, optik, dan pelayanan OTC (swalayan) serta pusat pelayanan informasi obat. Penambahan jumlah apotek merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memanfaatkan momentum pasar bebas AFTA, dimana pihak yang memiliki jaringan luas seperti Kimia Farma akan diuntungkan.

    • c. PT. Sinkona Indonesia Lestari adalah perusahaan yang memproduksi kina garam dan turunannya bagi banyak industri, terutama obat-obatan, minuman, dan industri kimia yang didirikan pada 25 Oktober 1986 dan sebagai satu- satunya perusahaan indonesia yang memproduksi kina.

    • 3.6 PT. Kimia Farma Apotek Bisnis Manajer Medan

    PT. Kimia Farma Apotek Unit Bisnis Medan dipimpin oleh Drs. Alfian,

    Apt. Kantor Bisnis Manajer (BM) Medan beralamat di Jalan Palang Merah No. 32

    Medan. Apotek Kimia Farma Medan memiliki 26 store yang tersebar di seluruh

    Provinsi Sumatera Utara, yaitu:

    30

    • - apotek Kimia Farma 14 (Apotek Pelengkap Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan) Medan.

    • - apotek Kimia Farma 41 (Apotek Pelengkap Rumah Sakit Umum Tebing Tinggi) Tebing Tinggi.

    • - apotek Kimia Farma 54 (Apotek Pelengkap Rumah Sakit Umum Rantau Prapat) Rantau Prapat.

    • - apotek Kimia Farma 27 Palang Merah Medan.

    • - apotek Kimia Farma 39 Gatot Subroto Medan.

    • - apotek Kimia Farma 107 Gatot Subroto Medan.

    • - apotek Kimia Farma 160 Setia Budi Medan.

    • - apotek Kimia Farma 428 J.City Medan.

    • - apotek Kimia Farma Denai Medan

    • - apotek Kimia Farma 557 Marelan Medan

    • - apotek Kimia Farma 545 Cemara Asri Medan

    • - apotek Kimia Farma H.M. Yamin Medan

    • - apotek Kimia Farma 542 Tembung Medan

    • - apotek Kimia Farma 586 Setiabudi Square

    • - apotek Kimia Farma Ringroad

    • - apotek Kimia Titi kuning Medan

    • - apotek Kimia Farma 28 Belawan.

    • - apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar.

    • - apotek Kimia Farma 85 Pematang Siantar.

    • - apotek Kimia Farma 162 Pematang Siantar.

    • - Apotek Kimia Farma Ahmad Yani Pematang Siantar.

    31

    • - apotek Kimia Farma 30 Tebing Tinggi.

    • - apotek Kimia Farma 41 Kabanjahe.

    • - apotek Kimia Farma 312 Rantau Prapat.

    • - apotek Kimia Farma 84 Tanjung Balai.

    • - apotek Kimia Farma 315 Padang Sidempuan.

    • 3.7 Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan

    Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan dipimpin oleh seorang

    apoteker Penanggung jawab apotek, dalam melaksanakan pekerjaan

    kefarmasiannya dibantu oleh 4 orang tenaga teknis kefarmasian.

    Apotek Kimia Farma No. 315 melayani pasien selama 14 jam, sedangkan

    dokter umum siaga mulai dari pukul 17.00-22.00 WIB untuk melayani pasien.

    Apotek Kimia Farma No. 315 juga melayani resep tunai dan resep kredit.

    • 3.7.1 Lokasi

    Apotek Kimia Farma No. 315

    berada di jalan Merdeka No. 5A

    Padangsidimpuan. Letak apotek ini cukup strategis dimana terletak di pinggir jalan

    raya dengan arus lalu lintas dua arah yang ramai, mudah dijangkau oleh kendaraan

    umum, terletak di pusat kota dan pemukiman penduduk yang cukup padat, serta dekat

    dengan tempat perbelanjaan. Apotek Kimia Farma No. 315 dilengkapi dengan praktik

    dokter umum, dokter spesialis dan swalayan farmasi.

    • 3.7.2 Sarana dan prasarana Gedung Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan merupakan

    bangunan permanen yang terdiri dari ruang tunggu, swalayan, kasir, ruang

    peracikan, lemari untuk menyimpan catatan medis pelanggan, ruang APA, ruang

    praktek dokter, dan toilet.

    32

    Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan mempunyai

    perlengkapan alat peracikan, diantaranya alat-alat gelas, kertas perkamen, stamfer

    dan mortir. Perlengkapan dan alat penyimpanan perbekalan kesehatan dibidang

    farmasi diantaranya botol, pot, cangkang kapsul dengan berbagai ukuran. Alat

    pendingin sebagai tempat menyimpan obat yang memerlukan temperatur khusus.

    • 3.7.3 Kegiatan Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan memberikan pelayanan

    setiap hari selama 14 jam. Pelayanan terbagi dalam 2 shift yaitu shift pagi pukul

    08.00-15.00 dan shift siang pukul 15.00-22.00. Kegiatan pelayanan di apotek

    Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan dapat berupa pelayanan resep tunai,

    pelayanan resep kredit, pelayanan obat bebas dan swamedikasi.

    3.7.3.1 Pelayanan resep tunai

    Standar operasional prosedur tata cara pelayanan resep tunai yang

    dilakukan di apotek Kimia Farma adalah sebagai berikut:

    • a. mengucapkan salam pembuka.

    • b. pemeriksaan keabsahan dan kelengkapan resep.

      • i. nama, alamat, tanggal, nomor surat izin praktik dan paraf dokter.

    ii.

    nama, umur, alamat dan nomor telepon pasien.

    iii. nama obat, dosis, kekuatan, jumlah dan aturan pakai.

    • c. penetapan harga.

    • d. pemeriksaan ketersediaan obat.

      • i. bila ada, entri nama dan jumlah obat.

    33

    ii. bila tidak ada, hubungi dokter yang menulis resep, usulkan penggantian

    obat dengan obat lain yang sama kandungannya dan informasikan ke

    pasien.

    • e. entry data.

    i.

    pasien (nama, alamat, nomor telepon, umur).

    ii. dokter/RS (nama, alamat, nomor telepon).

    • f. penyerahan nomor resep (“mohon bapak/ibu menunggu, obat akan segera

     

    kami siapkan”).

    • g. pencetakan blanko (ditempelkan pada resep dan nomor resep).

    • h. pemberian resep pada bagian peracikan.

     
    • i. penyiapan obat.

    i.

    pembuatan etiket, racikan, kwitansi dan salinan resep.

    ii.

    penandaaan obat.

    iii.

    pemeriksaan ulang.

    • j. penyerahan obat dan pelayanan imformasi obat.

    i.

    nama, bentuk dan jenis sediaan, dosis, jumlah dan aturan pakai obat serta

    tujuan pengobatan.

    ii. cara penyimpanan.

    iii. efek samping yang mungkin timbul.

    3.7.3.2 Pelayanan resep kredit

    Standar operasional prosedur tata cara pelayanan resep kredit yang

    dilakukan di apotek Kimia Farma adalah sebagai berikut:

    • a. mengucapkan salam pembuka.

    • b. pemeriksaan keabsahan dan kelengkapan resep

    34

    i.

    nama, alamat, tanggal, nomor surat izin praktik dan paraf dokter.

    ii. nama, umur, alamat dan nomor telepon pasien.

    iii. nama obat, dosis, kekuatan, jumlah dan aturan pakai.

    • c. pemeriksaan data penunjang (surat rujukan, fotocopy kartu pegawai dll, serta

    persetujuan bagian instansi yang berwenang).

    • d. pemeriksaan ketersediaan obat.

    i.

    bila ada, entri nama dan jumlah obat.

    ii. bila tidak ada, hubungi dokter yang menulis resep, usulkan penggantian

     

    obat dengan obat lain yang sama kandungannya dan informasikan ke

    pasien.

    • e. entry data.

    i.

    pasien (nama, alamat, nomor telepon, umur).

    ii. dokter/RS (nama, alamat, nomor telepon).

    • f. penyerahan nomor resep (“mohon bapak/ibu menunggu, obat akan segera

     

    kami siapkan”).

    • g. pencetakan blanko (ditempelkan pada resep dan nomor resep).

    • h. pemberian resep pada bagian peracikan.

     
    • i. penyiapan obat.

    i.

    pembuatan etiket, racikan, kuitansi dan salinan resep.

    ii.

    penandaaan obat.

    iii. pemeriksaan ulang.

    • j. penyerahan obat dan pelayanan imformasi obat.

    i.

    nama, bentuk dan jenis sediaan, dosis, jumlah dan aturan pakai obat serta

    tujuan pengobatan.

    35

    ii.

    cara penyimpanan.

    iii. efek samping yang mungkin timbul.

    • 3.7.3.4 Pelayanan obat bebas

     

    Standar

    operasional

    prosedur

    tata

    cara

    pelayanan

    obat

    bebas

    yang

    dilakukan di apotek Kimia Farma adalah sebagai berikut:

     
    • a. mengucapkan salam pembuka.

     
    • b. penetapan harga.

     
    • c. pemeriksaan ketersediaan obat.

     
    • d. pemberian obat dan informasi yang dibutuhkan.

     

    3.7.3.5

    Pelayanan swamedikasi

     

    Standar

    operasional

    prosedur

    tata

    cara

    pelayanan

    swamedikasi

    yang

    dilakukan di apotek Kimia Farma adalah sebagai berikut:

    • a. mengucapkan salam pembuka.

    • b. keluhan pasien dengan apoteker.

    • c. pertanyaan dasar.

      • i. sudah berapa lama sakit?

    ii.

    langkah pengobatan apa saja yang telah dilakukan sebelumnya?

    iii. apakah ada obat lain yang digunakan saat ini?

    • d. pemilihan obat sesuai keluhan.

    • e. penetapan harga.

    • f. pemberian obat dan informasi yang dibutuhkan.

    36

    BAB IV

    PEMBAHASAN

    Praktek Kerja Profesi Apoteker, dilakukakn di Apotek Kimia Farma 315

    Padangsidimpuan selama 25 hari mulai dari tanggal 16 September sampai tanggal

    14 Oktober 2016. Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan merupakan apotek

    pembantu pelayanan (APP) yang beralamat di Jalan Merdeka No. 5A

    Padangsidimpuan dan berada di bawah Business Manager Medan.

    4.1 Lokasi apotek

    Letak apotek ini cukup strategis dimana terletak di pinggir jalan raya

    dengan arus lalu lintas dua arah yang ramai, mudah dijangkau oleh kendaraan

    umum, terletak di pusat kota dan pemukiman penduduk yang cukup padat, serta dekat

    dengan tempat perbelanjaan. Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan memiliki

    area parkir yang cukup luas dan dikhususkan untuk pelanggan apotek.

    Keberadaan apotek bisa dikenali dengan adanya papan nama yang terpasang di

    apotek dan neon box di depan halaman apotek dengan warna biru tua dan logo

    jingga dengan tulisan Kimia Farma. Hal ini akan memudahkan masyarakat

    menemukan apotek Kimia Farma.

    Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan menyediakan tempat praktek

    beberapa dokter (dokter umum, dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis

    penyakit THT) di ruang tersendiri di dalam apotek. Pelanggan/pasien yang datang

    ke apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan tidak hanya berasal dari sekitar

    kawasan tesebut, melainkan juga dari luar kota atau perusahaan/instansi yang

    memiliki ikatan kerja sama dengan apotek Kimia Farma. Hal ini menjadi dasar

    37

    pemikiran bahwa lokasi yang demikian sangatlah layak untuk didirikan sebuah

    apotek.

    4.2 Sumber daya manusia

    Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan dipimpin oleh seorang

    Apoteker Pengelola Apotek (APA) yang bertugas mengelola seluruh kegiatan di

    apotek dan dibantu oleh 4 tenaga teknis kefarmasian. Hal ini sesuai dengan

    Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian bahwa

    semua kegiatan apotek dikelola oleh apoteker.

    4.3 Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai

    4.3.1 Perencanaan

    Perencanaan pembelian dilakukan oleh masing-masing penanggung jawab

    rak sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Pemesanan barang dilakukan sekali

    dalam seminggu, yaitu pada hari senin, kecuali barang-barang yang dibeli secara

    mendesak karena adanya permintaan pasien dapat dilakukan pemesanan setiap

    hari. Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan melakukan perencanaan

    pengadaan barang/obat berdasarkan prinsip pareto, data saat ini (buku defekta)

    dan data penolakan resep.

    Sistem pareto adalah perencanan pengadaan obat berdasarkan nilai jualnya

    atau sistem yang memprioritaskan penyediaan barang-barang yang laku. Jadi

    barang dipesan berdasarkan kebutuhan dan seringnya barang tersebut dicari

    konsumen. Sistem ini dilakukan agar tidak terjadi penumpukan barang, perputaran

    modal menjadi cepat, menghindari kerusakan barang, dan memperkecil

    kemungkinan barang hilang. Obat, alat kesehatan, dan barang-barang OTC (Over

    38

    The Counter) yang tinggal sedikit atau sudah habis dicatat pada buku defekta

    yang mencakup antara lain: nama sediaan obat, dosis obat dan jumlah satuan obat

    yang hendak ditambah. Kemudian pemesanan dan pembelian barang didasarkan

    pada buku defekta. Perencanaan pengadaan obat berdasarkan data penolakan

    resep adalah pengadaan yang datanya diperoleh saat ini, dimana berasal dari buku

    catatan penolakan resep, buku ini berisi daftar obat-obatan yang tidak tersedia di

    apotek.

    Perencanaan yang dilakukan di apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan

    telah sesuai dengan Peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 35

    Tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek.

    4.3.2 Pengadaan

    Sistem pengadaan perbekalan farmasi Apotek Kimia Farma 315

    Padangsidimpuan terbagi menjadi dua bagian yaitu pengadaan obat narkotika dan

    psikotropika dan pengadaan obat non narkotika. Pengadaan barang (Obat Non

    Narkotika) dibagi menjadi dua yaitu

    a.

    Pengadaan rutin

    Pengadaan barang di Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan

    dilakukan melalui Bisnis Manager (BM) Medan dengan alur:

    Petugas mengisi Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) secara

    komputerisasi di sistem informasi Kimia Farma/Kimia Farma Information

    System (KIS), berdasarkan informasi dalam buku defekta. Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) kemudian divalidasi, dan setelah itu

    secara online akan dikirim ke Bisnis Manager (BM) Medan. Jika barang yang dipesan ada di gudang BM Medan, maka barang akan

    dikirimkan ke apotek pelayanan beserta faktur barang. Jika barang yang

    39

    dipesan tidak ada maka, petugas gudang akan menghubungi bagian

    pengadaan BM Medan untuk memesan barang tersebut.

    Petugas

    dari

    bagian

    pengadaan

    BM

    Medan

    kemudian

    membuat surat

    pemesanan (SP) berdasarkan Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) yang

    diterima dari setiap Apotek Pembantu Pelayanan (APP) dan mengirimkannya

    ke Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bersangkutan.

     

    Faktur

    yang

    terkumpul

    di

    Apotek

    Pembantu

    Pelayanan

    (APP) lalu

    disampaikan kembali ke bagian tata usaha dan keuangan Bisnis Manajer

    (BM) Medan untuk dilakukannya pencatatan administratif dan pembayaran

    berdasarkan jangka waktu yang telah disetujui sebelumnya dengan PBF yang

    bersangkutan.

    • b. Pengadaan Cito

    Pengadaan cito mirip dengan pengadaan rutin, yaitu permintaan barang

    yang dilakukan apotek dengan cara mengirimkan BPBA kepada BM melalui

    program KIS, kemudian BM akan membuat SP yang dikirim ke PBF dan

    memberikan keterangan bahwa permintaan barang bersifat cito dan harus

    segera dikirim ke Apotek pelayanan sesuai SP. Pengadaan cito juga dapat

    dilakukan dengan membeli langsung baik dari Pedagang Besar Farmasi (PBF)

    atau sesama Apotek Jaringan Kimia Farma (sesama Apotek Pembantu

    Pelayanan/APP) (disebut dengan dropping).

    Pemesanan obat narkotika ditujukan kepada PT. Kimia Farma sebagai

    satu-satunya distributor resmi obat narkotika yang ditunjuk oleh pemerintah.

    Pemesanan dilakukan dengan menggunakan SP narkotika (model N-9) yang

    ditandatangani oleh Apoteker Penanggung Jawab dengan prosedur sebagai

    berikut:

    Apoteker Penanggung Jawab membuat pesanan melalui SP model N-9

    40

    rangkap lima, di mana satu SP hanya berlaku untuk satu jenis obat narkotika. Pedagang Besar Farmasi akan mengirimkan obat narkotika yang dipesan

    ke apotek beserta fakturnya.

     

    Sebanyak

    empat

    rangkap

    SP narkotika diberikan kepada PBF dan

    satu rangkap disimpan di apotek sebagai arsip.

    Pembelian obat psikotropika dan precursor menggunakan SP khusus

    rangkap 2, satu SP dapat berisi beberapa jenis obat psikotropika dan pemesanan

    dapat dilakukan ke PBF mana saja yang menyediakan obat psikotropika.

    Contoh surat pemesanan narkotika, psikotropika, dan prekursor dapat dilihat

    pada Lampiran 1, 2, dan 3.

    Permasalahan dari pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan

    medis habis pakai yang masih terjadi di Apotek Kimia Farma 315

    Padangsidimpuan adalah mengenai stok barang yang sering kosong dikarenakan

    sering terjadi pemesanan saat barang tersebut sudah sedikit atau habis. Oleh

    karena itu, masalah ini sebaiknya diatasi dengan cara:

    Petugas sebaiknya melakukan pemeriksaan obat/barang setiap hari pada

    etalase dan rak-rak obat sehingga tidak akan terjadi kekosongan barang. Sebaiknya ditentukan buffer stock terutama untuk barang-barang yang fast

    moving. Hal ini dapat berguna sebagai alarm bagi pegawai untuk

    menuliskannya ke buku defekta.

    4.3.3 Penerimaan barang

    Penerimaan barang dilakukan oleh pegawai menurut prosedur sebagai

    berikut:

    Pegawai menerima barang dari pemasok disertai dengan Surat Pengantar

    Barang/ Faktur (SPB/F).

    41

    Pegawai memeriksa kualitas dan kuantitas barang sesuai dengan SPB/F.

    Tanggal kadaluarsa perlu diperhatikan agar batas kadaluarsanya masih cukup

    lama, nomor batch dan bila barang yang diterima tidak sesuai dengan

    pesanan, maka harus segera dikonfirmasi dengan pemasok yang

    bersangkutan.

    Pegawai membubuhkan tanda tangan, stempel Apotek Kimia Farma No. 315

    Padangsidimpuan pada faktur asli. Faktur asli diserahkan kepada pemasok

    sedangkan copy faktur sebagai pertinggal. Satu untuk pihak Apotek Pembantu

    Pelayanan (APP) dan satunya lagi akan diantar ke Bisnis Manajer (BM)

    Medan.

    Petugas kemudian mencatat bukti penerimaan barang ke dalam sistem

    informasi secara komputerisasi

    Penerimaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai

    di apotek Kimia farma 315 Padangsidimpuan telah sesuai dengan Peraturan

    Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 35 Tahun 2014 tentang standar

    pelayanan kefarmasian di apotek.

    4.3.4 Penyimpanan

    Penyusunan obat di apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan dilakukan

    berdasarkan jenis obat (OTC atau ethical), bentuk sediaan, efek farmakologi. Obat

    seperti salep, krim dan obat tetes mata diletakkan di etalase khusus agar

    mempermudah karyawan dalam melayani konsumen. Beberapa obat yang

    memiliki efek farmakologi sama diletakkan berdekatan. Sementara itu, bentuk dan

    jenis sediaan tertentu yang memiliki kondisi penyimpanan khusus, disimpan

    42

    menurut persyaratan baku masing-masing, seperti bentuk sediaan suppositoria

    disimpan di dalam lemari pendingin.

    Setelah dikelompokkan berdasarkan bentuk sediaan, golongan dan kondisi

    penyimpanan, semua sediaan farmasi tersebut disusun secara alfabetis. Perbekalan

    kesehatan juga disimpan di etalase atau lemari pajangan apotek tetapi disusun

    terpisah dari penyimpanan sediaan farmasi.

    Obat-obat golongan narkotika dan psikotropika diletakkan di lemari yang

    hanya dilengkapi satu kunci dan diletakkan ditempat yang aman dan tidak terlihat

    oleh umum. Hal ini sebenarnya tidak sesuai dengan yang ditetapkan oleh

    Permenkes No 3 tahun 2015 tentang peredaran, penyimpanan, pemusnahan dan

    pelaporan narkotika, psikotropika dan prekursor farmasi. Menurut permenkes

    tersebut lemari khusus tersebut harus terbuat dari bahan yang kuat, tidak mudah

    dipindahkan dan mempunyai 2 (dua) buah kunci yang berbeda, kunci lemari

    khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab/Apoteker yang ditunjuk dan

    pegawai lain yang dikuasakan serta tempat penyimpanan narkotika dan

    psikotropika dilarang digunakan untuk menyimpan barang selain narkotika dan

    selain psikotropika.

    Penyimpanan dalam satu kotak obat tetapi berbeda dosis dan merek yang

    sama masih terdapat di Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan. Hal ini dapat

    memungkinkan terjadinya kesalahan dalam pengambilan obat.

    4.3.5 Pemusnahan

    a Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnaahkan sesuai dengan jenis dan

    bentuk sediaan. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak yang mengandung

    narkotika atau psikotropika dilakukan oleh apoteker dan disaksikan oleh

    43

    Dinas Kesehatan Kabupaten/kota. Pemusnahan obat selain narkotika dan

    b

    psikotropika dilakukan oleh apoteker dan disaksikan tenaga kefarmasian lain. Resep yang telah disimpan melebihi jangka 5 tahun dapat dimusnahkan oleh

    apoteker disaksikan sekurang-kurangnya petugas lain di apotek dengan cara

    dibakar dan dibuktikan dengan berita acara pemusnahan yang selanjutnya

    dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.

    4.3.5 Pengendalian

    Pengendalian perbekalan farmasi bertujuan untuk mempertahankan jenis

    dan jumlah persediaan sesuai kebutuhan pelayanan. Menurut Permenkes No. 35

    tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek, pengedalian

    persediaan dilakukan menggunakan kartu stok dengan cara manual atau

    elektronik.

    Pengendalian yang dilakukan di apotek Kimia Farma 315

    Padangsidimpuan menggunakan sistem komputerisasi, dimana setiap barang yang

    masuk di-entry ke komputer dan setiap barang yang keluar (terjual) juga tercatat

    di komputer, sehingga dapat diketahui status persediaan setiap barang. Masing-

    masing karyawan diberi tanggung jawab untuk memeriksa atau mengawasi rak-

    rak barang yang ditentukan tersebut. Bila stok sudah kosong atau tinggal sedikit,

    petugas mencatatnya ke dalam buku defekta yang antara lain mencakup nama

    sediaan, potensi, satuan, dan jumlah yang hendak ditambah.

    Selain itu, apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan juga melakukakan

    stock opname setiap sebulan sekali. Hal ini bertujuan untuk mencocokkan barang

    yang ada dengan catatan yang ada di komputer, memantau tanggal kedaluarsa

    obat, untuk mengetahui adanya barang yang rusak dan hilang.

    • 4.3.6 Pencatatan dan pelaporan

    44

    Pada Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan, resep yang masuk

    diarsipkan berdasarkan tanggal, bulan, dan tahun. Khusus untuk resep-resep yang

    mengandung narkotika atau psikotropika diarsipkan tersendiri secara terpisah.

    Obat yang hampir habis atau persediaannya sudah tidak ada dicatat di buku

    defekta. Untuk pencatatan di kartu stok obat masih kurang dilakukan oleh staf

    apotek.

    Pelaporan di Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan dibagi dua, yaitu:

    • a. laporan harian, yaitu mencakup pendapatan harian apotek (pendapatan waktu siang dan malam dibedakan) serta pengeluaran apotek yang setiap harinya Apotek Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan melakukan setor hasil penjualan ke BM Medan.

    • b. laporan bulanan, yaitu mencakup laporan hasil penjualan, pembeliaan, stok opname serta laporan narkotika dan psikotropika. Adapun tentang pelaporan narkotika dan psikotropika akan diuraikan sebagai berikut.

    Pelaporan obat narkotika

    Apotek Kimia Farma 315 Padngsidimpuan wajib membuat dan

    mengirimkan laporan mutasi narkotika berdasarkan penerimaan dan

    pengeluarannya sebelum tanggal 10 setiap bulan. Laporan narkotika

    ditandatangani oleh APA, dibuat 5 rangkap, diantaranya ditujukan kepada

    Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala Balai

    Besar POM, Dinas Kesehatan Provinsi, dan 1 salinan untuk arsip

    selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya. Dibuat untuk

    menghindari penyalahgunaan narkotika.

    Pelaporan obat psikotropika

    45

    Laporan ini dibuat untuk menghindari penyalahgunaan psikotropika

    laporan ini dibuat rangkap 4 (empat) ditujukan kepada Dinas kesehatan

    Kota Medan dengan tembusan kepada Dinas Kesehatan provinsi Medan,

    Kepala Badan POM Medan dan untuk Arsip Apotek.

    Laporan pemusnahan obat golongan narkotika dan psikotropika

    Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dihadiri oleh

    petugas Dinas Kesehatan DT II, APA dan salah satu karyawan Apotek.

    Setelah dilakukan pemusnahan, dibuat berita acara pemusnahan narkotika

    yang ditujukan kepada Badan POM, Dinas Kesehatan Tingkat I Provinsi

    Sumatera Utara dan kantor Pusat PT Kimia Farma. Berita acara

    pemusnahan narkotika mencakup hari, tanggal, waktu pemusnahan, nama

    APA, nama seorang saksi dari pemerintah dan seorang saksi dari Apotek,

    nama dan jumlah narkotika yang dimusnahkan, cara pemusnahan dan

    tanda tangan penanggung jawab Apotek.

    4.4 Pelayanan Kefarmasian di Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan

    Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan melayani penjualan sediaan

    farmasi maupun perbekalan kesehatan lainnya serta pelayanan pemeriksaan gula

    darah, kolesterol dan asam urat. Berdasarkan kategori pelayanan dibagi menjadi 2

    kategori, yaitu pelayanan penjualan tunai dan pelayanan penjualan kredit.

    • a. Pelayanan penjualan tunai

      • - resep Penjualan obat dengan resep tunai dilakukan terhadap pelanggan yang

    langsung datang ke apotek atau pasien praktek dokter yang terdapat di

    apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan untuk menebus obat yang

    tercantum dalam resep dan dibayar secara tunai.

    • - UPDS (Upaya Pengobatan Diri Sendiri)

    46

    Pelayanan diawali dengan lima pertanyaan dasar kepada pasien, yakni:

    untuk siapa obat dibeli, apa gejala atau tanda yang timbul, sudah berapa

    lama sakit, langkah pengobatan apa saja yang telah dilakukan sebelumnya

    dan apakah ada obat lain yang digunakan saat ini.

    • - OTC (Over The Counter) Penjualan obat bebas dilakukan untuk produk OTC yang terletak di swalayan farmasi yaitu produk-produk yang dapat dibeli tanpa resep dari dokter seperti obat bebas, bebas terbatas, alat kesehatan, kosmetik, perlengkapan dan makanan bayi, vitamin, susu dan minuman nutrisi.

    • - Enggrow Enggrow adalah penjualan sediaan farmasi kepada dokter, toko obat dalam

    jumlah besar.

    • b. Pelayanan penjualan obat kredit

    Pelayanan penjualan obat kredit di apotek Kimia Farma 315

    Padangsidimpuan meliputi pelayanan resep PLN, resep BPJS dan resep in

    health (asuransi dari PT. Bank Mandiri).

    Pada pelayanan resep, pemeriksaan klinis yang dilakukan hanya terbatas

    administratif dan farmasetik sedangkan skrining kesesuaian klinik sulit dilakukan

    karena keterbatasan waktu. Pada pelayanan resep yang mengandung narkotika dan

    psikotropika, apoteker atau tenaga teknis kefarmasian meminta alamat dan nomor

    telepon pasien. Pada penyerahan obat, pasien diberikan informasi mengenai

    indikasi, cara penggunaan obat, jangka waktu pemakaian, makanan minuman

    yang dianjurkan atau dihindari ataupun saran terapi nonfarmakologis lainnya oleh

    apoteker atau tenaga teknis kefarmasian.

    47

    Pelayanan tambahan di apotek yakni pemeriksaan tekanan darah,

    pemeriksaan asam urat, pemeriksaan gula darah dan pemeriksaan kolesterol.

    Pemeriksaan darah dilakukan oleh perawat dokter yang terdapat di apotek dengan

    menggunakan kit khusus sehingga hasilnya dapat diketahui segera.

    Pelayanan kefarmasian yang belum dilaksanakan oleh apotek kimia farma

    315 Padangsidimpuan adalah konseling, home care, pemantauan terapi obat dan

    monitoring efek samping obat sehingga apotek kimia farma 315 Padangsidimpuan

    belum melakukan sebagian besar standar pelayanan kefarmasian sesuai

    Permenkes No. 35 tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek.

    BAB V

    KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Kesimpulan

    Berdasarkan praktek kerja profesi apoteker yang dilaksanakan di Apotek

    Kimia Farma No. 315 Padangsidimpuan, dapat disimpulkan bahwa:

    a.

    apoteker

    sebagai

    pengelola

    apotek

    memiliki

    peran,

    tugas,

    fungsi

    dan

    tanggung jawab yang sangat penting dalam pengelolaan segala aspek di

    apotek.

    48

    • b. Kegiatan pelayanan yang ada di apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan adalah pelayanan penjualan obat tunai yang meliputi pelayanan resep, pelayanan UPDS, pelayanan obat OTC dan alat kesehatan sedangkan pelayanan penjualan obat kredit meliputi pelayanan resep PLN, resep BPJS dan resep in health (asuransi dari PT. Bank Mandiri). Selain itu, terdapat pelayanan pemeriksaan gula darah, kolesterol dan asam urat.

    • c. Kegiatan manajerial yang terdapat di apotek Kimia Farma 315 padangsidimpuan meliputi perencanaan dan pengadaan sediaan farmasi, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian serta pencatatan dan pelaporan.

    5.2 Saran

    • a. Sebaiknya perlu dilakukan peningkatan kedisiplinan terhadap petugas apotek dalam hal mencatat pemasukan dan pengeluaran obat. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya ketidaksesuaian antara jumlah fisik obat yang tercantum dalam kartu stok dengan stok di komputer.

    • b. Sebaiknya perlu dilakukan perbaikan terhadap sarana dan prasarana yang ada di apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan seperti lemari narkotika dan psikotropika yang belum memenuhi persyaratan, menyediakan ruang konseling.

    • c. Sebaiknya ditentukan buffer stock terutama untuk barang-barang yang fast moving sehingga tidak terjadi kekosongan barang.

    49

    DAFTAR PUSTAKA

    Anief, M. (2008). Manjemen Farmasi. Edisi kelima. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

    Kimia Farma. (2013). Operational Excellence: Laporan Tahunan. Jakarta: PT. Kimia Farma Tbk. Hal. 7-8.

    Kimia Farma. (2014). Holding. [Diakses tanggal: 18 Oktober 2015]. Diambil dari:

    Kimia Farma. (2015). Visi dan Misi. [Diakses tanggal: 18 Oktober 2015]. Diambil dari: http://www.kimiafarma.co.id/profil/visi-misi.html

    Menkes RI. (2002). Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332/MenKes/SK/X/2002. Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MenKes/Per/X/1993). Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

    50

    Menkes

    RI.

    (2011).

    Peraturan

    Menteri

    Kesehatan

    Republik

    Indonesia

    No.

    889/MENKES/PER/V/2011, tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin

    Kerja Tenaga Kefarmasian

    Menkes RI. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta:

    Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

    Menkes RI. (2015). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan,Pemusnahan, dan pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi. Jakarta:

    Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

    Rangkuti, F. (2006). Business Plan: Teknik Membuat Perencanaan Bisnis & Analisis Kasus. Cetakan VII. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum. Halaman 181.

    Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah No 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

    Republik Indonesia. (2009). Undang-undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

    Umar, M. (2011). Manajemen Apotek Praktis. Cetakan IV. Solo: Penerbit CV Ar- Rahman. Hal.1, 117-119, 179, 182, 229.

    51