Anda di halaman 1dari 67

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Dasar Pelaksanaan Praktek Industri
Di era
berkembang

globalisasi ini kemajuan

pesat.

teknologi diberbagai bidang

telah

Dengan demikian kebutuhan akan tenaga ahli sebagai

pengendali dan pelaksana sangatlah diperlukan, guna menunjang aset teknologi


yang digunakan.

Dalam hal ini keahlian,

keterampilan dan profesionalisme

sangatlah mempunyai peranan yang penting.


Universitas Muhammadiyah Malang merupakan suatu lembaga pendidikan
tinggi di malang yang diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang terampil,
profesional dan siap pakai untuk jenjang engineer di bidangnya. Maka dengan
program praktek

industri mahasiswa dapat belajar secara langsung untuk

memperluas wawasan. Sehingga mahasiswa dapat memiliki keterampilan dan


kemampuan dalam menerapkan ilmu yang dimilikinya.
Dengan memperhatikan perindustrian di Indonesia yang telah berkembang
dengan begitu pesatnya, maka penting bagi industri atau perusahaan melakukan
kerja sama dengan lembaga tinggi, sehingga tenaga ahli yang memiliki SDM tinggi
sebagai

penunjang

mengembangkan

teknologi

teknologi

dan

dapat

terpenuhi,

mempertahankan

sebagai
eksistensi

usaha

untuk

industri

untuk

mencapai tujuan yang diinginkan.

1.2 Pengertian Praktek Industri


Praktek Industri adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian
profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di
perkuliahan dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan
bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian
profesional tertentu.

1.3 Latar Belakang


Kebutuhan penduduk akan listrik sejalan dengan kemajuan konsumsi
teknologi masyarakat dan pertumbuhan penduduk serta dunia usaha. Sehingga
perkembangan dan kebutuhan akan energi listrik terus meningkat.
Pada proses pembangkitan tenaga listrik diperlukan kontinuitas produksi
energi listrik, hal ini disebabkan karena PT. PJB UP Paiton sendiri merupakan
salah satu Pembangkit Listrik yang menyuplai listrik untuk wilayah Jawa dan Bali
dengan kapasitas 2 X 400 MW gross, PLTU Paiton Unit 1 dan 2 diharapkan
mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat wilayah Jawa dan Bali. Dalam
menyuplai listrik untuk kebutuhan wilayah Jawa dan Bali tersebut, PLTU Paiton
Unit 1 dan 2 dilengkapi dengan equipment yang mendukung dalam sistem PLTU
secara keseluruhan. Equipment - equipment yang ada mempunyai spesifikasi baik
secara teknik dan fungsi serta bekerja secara sistem general baik secara mekanik,
fisis, serta kimia.
Sistem yang komplek yang saling berkaitan dalam sebuah siklus tersebut
membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten dalam mengoperasikan dan
memelihara

PLTU Paiton Unit 1 dan 2 sesuai dengan bidang keilmuan, sehingga

suplai listrik untuk wilayah Jawa dan Bali dapat terpenuhi. Dalam pemenuhan
sumber daya yang kompeten maka salah satunya seperti kerja praktek di PLTU
Paiton Unit 1 dan 2.

1.4

Rumusan Masalah
Dalam laporan ini rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai

berikut :
1. Bagaimana proses kerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) unit 1 dan
2 secara umum
2. Peralatan yang digunakan dalam proses kerja Pembangkit Listrik Tenaga
Uap (PLTU) unit 1 dan 2 secara umum
3. Bagaimana cara dan hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan pada
peralatan yang sesuai dengan prosedur perusahaan

1.5

Tujuan Praktek Industri


Tujuan dalam pelaksanaan praktek kerja lapangan adalah sebagai berikut :

1.5.1

Tujuan Umum
Untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan pada jurusan bidang
studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang.
Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional, dengan
pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan
lapangan kerja.
Memperkokoh link and match antara Universitas Muhammadiyah Malang
dengan dunia usaha atau industri.
Meningkatkan effisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang
berkualitas.

1.5.2

Tujuan Khusus
Mempersiapkan para mahasiswa untuk belajar bekerja sendiri, bekerja
dalam suatu tim dan mengembangkan potensi dan berkualitas sesuai
dengan minat dan bakatnya masing - masing.
Meningkatkan status dan kepribadian para mahasiswa, sehingga mereka
mampu berinteraksi, berkomunikasi dan memiliki rasa tanggung jawab
serta disiplin yang tinggi.
Memberikan kesempatan bagi generansi yang berpotensi untuk menjadi
tenaga kerja terampil dan produktif berdasarkan pengakuan standart
profesi.

1.6

Batasan Masalah
Pembahasan dalam praktek kerja lapangan adalah sebagai berikut:
1. Proses kerja pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) unit 1 dan 2 secara
umum.
2. Peralatan yang digunakan dalam proses kerja pembangkit listrik tenaga uap
(PLTU) unit 1 dan 2 secara umum.
3. Metode yang dilakukan dalam pemeliharaan pada peralatan yang sesuai
dengan prosedur perusahaan.

1.7

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Waktu dan tempat pelaksanaan praktek kerja lapangan adalah :


1. Waktu

: 1 - 31 Oktober 2012

2. Tempat

: PT. PJB UP Paiton


Jl. Raya Surabaya Situbondo KM 142 Paiton Probolinggo.
Kode Pos 67291. Jawa Timur.

1.8

Sistematika Penulisan Laporan


Untuk lebih memudahkan pembahasan, maka laporan kerja praktek ini

akan disajikan dalam sistematika penulisan sebagai berikut:


BAB I Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang dilaksanakannya praktek kerja lapangan,
maksud dan tujuan dilaksanakannya kerja praktek dan sistematika dalam penulisan
laporan kerja praktek.
BAB II Tinjauan Umum Perusahaan
Berisi tentang tinjauan umum dari perusahaan PT. PJB UP Paiton

BAB III Proses Pembangkitan Listrik Tenaga Uap Paiton Unit 1 dan 2
Berisi tentang penjelasan proses kerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
Paiton Unit 1 dan 2 secara umum.
BAB IV Dasar Teori Turbin Uap dan Boiler
Berisi tentang teori dasar Turbin Uap, Boiler dan Alat - alat bantunya secara
umum.
BAB V Pemeliharaan Turbin Uap dan Boiler yang sesuai dengan prosedur
Berisi tentang proses pemeliharaan dan hal yang harus diperhatikan dalam proses
pemeliharaan tersebut.
BAB VI Kesimpulan
Berisi kesimpulan yang di dapat dari kegiatan praktek kerja lapangan.
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1

Sejarah Singkat PT. PJB UP Paiton Unit 1 dan 2


PT. PJB UP Paiton terbentuk berdasarkan surat keputusan direksi PLN

no.30k/023/dir/1993 pertama kali di operasikan pada tanggal 15 maret 1993


merupakan unit kerja yang di kelola oleh PT. PLN (PERSERO). Sejak di
opersaikan, PT. PJB UP Paiton bergerak di tenaga kelistrikan yang menghasilkan
tenaga listrik dengan tenaga batu bara.
Pada tahun 1995

terjadi restrukturisasi di PLN (PERSERO) yang

menyebabkan terbentuknya dua anak perusahaan pada tanggal 3 oktober

1995

yaitu PT. PLN pembangkitan tenaga listrik Jawa - Bali I dan II, pada tahun 1997
sektor Paiton berubah menjadi PT. PLN pembangkitan tenaga listrik Jawa - Bali II
unit pembangkitan Paiton (UP Paiton). Dengan perkembangan organisasi sejak
tanggal 3 Oktober 2000 PT. PLN

pembangkitan tenaga listrik Jawa - Bali II

berubah menjadi pembangkitan tenaga listrik Jawa - Bali, yang saat ini berubah
menjadi PT. PJB UP Paiton sebagai salah satu unit pembangkitan.
2.2

Profil Usaha Ketenagalistrikan PT. PJB UP Paiton


Salah satu unit pembangkitan yang ada di pembangkitan Jawa - Bali, tugas

dan fungsi unit pembangkitan paiton adalah memproduksi tenaga listrik dengan
efesien, mutu dan keandalannya juga tinggi dengan tetap memperhatikan aspek
komersial, dengan harga jual yang kompetitif, sesuai kontrak kerja yang ditetapkan
direksi PT. PJB. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut PT. PJB UP Paiton
melaksanakan kegiatan usaha pembangkitan tenaga listrik dengan mengoperasikan
PLTU bantuan 2 x 400 MW.

Dalam melakukan

usaha pengoperasian tersebut PT. PJB UP Paiton didukung

oleh:
-

Pemasok bahan bakar yang didatangkan dari pulau Kalimantan dengan


menggunakan kapal tongkang.

Pertamina dalam hal penyediaan HSD sebagai bahan bakar dalam hal
proses start up.
Energi listrik yang dihasilkan oleh PT. PJB UP Paiton selanjutnya

disalurkan kepada P3B (Pusat Pengaturan Dan Pengendalian Beban) Jawa - Bali
berdasarkan kontrak kerja antara P3B dengan PT. PJB atas kontrak kerja tersebut
pula maka UP Paiton beroperasi pada base load.
2.3

Data Umum PT. PJB UP Paiton

Nama Perusahaan

: PT. PJB Unit Pembangkitan Paiton

Sektor Usaha

: Produksi Ketenagalistrikan

Alamat Kantor

: Jl. Raya Surabaya - Situbondo Km 142 Paiton Probolinggo


67291

Telepon

: (0335) 718059

Faksimile

: (0335) 771810

Lokasi Pembngkit

: Desa Binor, Kec. Paiton, Kab. Probolinggo.


Jawa Timur

2.4

DATA PEMBANGKIT PT PJB UP PAITON


PT. PJB UP Paiton terletak sekitar 52 KM arah timur kota Probolinggo,

dari Surabaya 142 km. Total luas daerah PLTU Paiton kurang lebih 476 Ha (
termasuk PT. Jawa Power Dan PT. YTL ) kurang lebih 200 Ha dipergunakan
untuk ash dispostal dan 32 Ha untuk komplek perumahan karyawan.
Nama Pembangkit

: PT. PJB Unit Pembangkitan Paiton

Jumlah Pembangkit

: 2 Unit

Kapasitas Pembangkit : 800 MW


Bahan Bakar

: 2.578.000 Ton batu bara dan 3.330 KL HSD

Air penambah boiler dan air servis di peroleh dari sumber air dari desa
Klontong yang dialirkan ke unit dengan panjang pipa 10 km. Sedangkan air
pendingin kondensor menggunakan air laut dengan sistem sirkulasi terbuka dan
satu kali laluan.

2.5

Struktur Organisasi

2.6

Visi dan Misi Perusahaan

A. Visi
a) Menguasai pangsa pasar di Indonesia
b) Menjadi perusahaan kelas dunia
c) Memiliki sumber daya manusia yang professional
d) Peduli terhadap lingkungan
B. Misi
a) Menjadikan PT. PJB UP Paiton sebagai perusahaan publik yang maju
dan dinamis dalam bidang pembangkitan tenaga listrik.
b) Memberikan hasil terbaik kepada pemegang saham, pegawai, pelanggan,
pemasok, pemerintah dan masyarakat serta lingkungan.
c) Memenuhi tuntutan pasar.
2.7

Data Teknis PT. PJB UP Paiton

A. Boiler
Tipe

: Vertical Balance Draft, Drum Unit, Control


Circulating

Pabrik

: Combustion Engineering USA

Temperatur Uap

: 538 0 C

Aliran Uap Utama

: 1.330.000 kg / jam

Aliran Uap Reheat

: 1.200.000 kg / jam

Tekanan Uap

: 185 kg / cm2

Bahan Bakar

10

Bahan Bakar Firing

: HSD

Bahan Bakar Utama

: Batu Bara

B. Turbin
Tipe

: Tanden Compound 3 Cylinder 4 Clow Exhaust

Pabrik

: Toshiba Corporation

Daya Nominal

: 400 MW

Putaran Nominal

: 3000 rpm

Arah putaran
Tekanan Uap Utama

: 169 Kg / Cm2
o

Temperatur Uap Reheat : 538 C


o

Temperatur Uap Utama : 538 C

Jumlah sudu
Turbin HP

: 8 tingkat

Turbin IP

: 6 tingkat

Turbin LP

: 6 tingkat X 4 Flow

Jumlah sudu turbin

: 38 tingkat

C. Generator
Tipe

: Three Phase Synchronous Generator Totally


Enclosed, Direct Couple To Steam Turbine

Turbin

: Pabrik Toshiba Corporation Jepang

11

2.8

Kapasitas

: 473 MVA

Arus

: 15.172 A

Tegangan

: 18 kV

Putaran

: 3000 rpm

Frekuensi

: 50 Hz

Factor Daya

: 0.85 Lagging

Gas Hydrogen

: 4.2 Kg cm2

Penguat Generator

: Sistem Penguat Statis Dengan Thyrisor

Tipe

: Full Bridge

Rating

: 1.920 kW

Tegangan

: 490 V

Arus

: 4.050 A

Kegiatan Usaha
PT. PJB UP Paiton pembangkit tenaga listrik dengan total daya terpasang

800 MW terdiri dari Unit 1 dan 2 dengan daya terpasang masing - masing 400 MW
yang mulai di operasikan pada tahun 1993 dan 1994.
Unit

1 dan 2 mampu memproduksi tenaga listrik rata - rata 5.606 Gwh,

setiap tahunnya yang kemudian disalurkan melalui jaringan tranmisi ekstra tinggi
500 kV ke sistem interkoneksi Jawa - Bali.
Selain unit - unit pembangkit tersebut, karyawan yang ada juga merupakan
aset yang sangat besar artinya bagi kelangsungan operasional PT. PJB UP Paiton.
Oleh karena itu peningkatan profesionalisme sumber daya manusia selalu di
tingkatkan dengan jalan memberikan pendidikan dan pelatihan agar menjadi SDM
professional

sehingga

tercipta

lingkungan

kerja

yang

menggairahkan

dan

12

memotivasi mereka untuk selalu bertanggung jawab pada pekerjaan mereka serta
peduli terhadap lingkungan.
2.9

Kebijakan Mutu PT. PJB UP Paiton


PT. PJB UP Paiton bertekat memproduksi energi listrik yang handal dan

efesien dengan menerapkan sistem manajemen mutu yang merupakan perwujudan


budaya kerja perusahaan yang berorientasi kepada proses untuk memenuhi
kepuasan pelanggan, karyawan, pemilik perusahaan dan meningkatkan mutu
secara

berkesinambungan

serta

memenuhi peraturan

dan

persyaratan yang

mengikat produk untuk menjadi world class company dengan melibatkan seluruh
karyawan.

13

BAB III
PROSES KERJA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP
3.1

Deskripsi Umum
PT. PJB UP Paiton merupakan suatu sistem pembangkit tenaga listrik yang

mengkonversikan energi kimia menjadi energi listrik dengan menggunakan uap air
sebagai fluida kerjanya, yaitu dengan memanfaatkan energi kinetik uap untuk
menggerakkan sudu - sudu turbin yang terpasang pada rotor. Prinsip kerja PT. PJB
UP Paiton secara umum adalah pembakaran batu bara (energi kimia) pada boiler
untuk memanaskan air dan mengubah air tersebut menjadi uap yang sangat panas
(energi panas) dengan temperatur dan tekanan yang sudah ditentukan. Kemudian
digunakan untuk menggerakkan turbin (energi mekanik) dan menghasilkan tenaga
listrik

(energi listrik)

dari kumparan medan magnet di generator.

Sistem

pengaturan yang digunakan pada power plant ini menggunakan sistem pengaturan
loop tertutup, dimana air yang digunakan untuk beberapa proses merupakan
sirkulasi dari air yang sama yaitu air diubah menjadi uap kemudian setelah menjadi
uap diubah lagi menjadi air.
Prinsip kerja PT. PJB UP Paiton yaitu dengan menggunakan siklus air
uap

air,

yang merupakan suatu sistem tertutup

dari air hasil proses

pengkondensasian di condenser dan penambahan air dari water treatment sebagai


make up dipompa oleh condensate transver pump menuju gland steam condenser drain cooler - low pressure heater 1, 2 dan 3 untuk dipanaskan dan kemudian
dialirkan ke deaerator agar gas - gas O 2 hilang, kemudian dipompa lagi oleh boiler
feed pump menuju ke high pressure heater 5, 6, 7 yang selanjutnya akan
diteruskan ke economizer untuk dinaikkan temperaturnya dan kemudian disalurkan
menuju ke steam drum untuk dipisahkan antara uap dan air, kemudian air dipompa
oleh boiler circulating water pump menuju lower drum untuk dipanaskan lagi
melalui water wall, disini terjadi perubahan fase fluida dari air menjadi uap,
kemudian masuk lagi ke steam drum. setelah dari steam drum uap akan dialirkan
ke low temperature super heated steam (first super heater), secondary superheater
dan kemudian ke final superheater, sehingga keluaran uap akan berubah menjadi
superheater steam yang mempunyai tekanan dan temperatur tinggi yang akan

14

digunakan untuk memutar high pressure (HP) turbin. Setelah itu tekanan dan
temperaturnya akan turun, dinamakan cold reheat selanjutnya dipanaskan lagi
menuju boiler menjadi hot reheat untuk memutar intermediate pressure turbine
(IP) sehingga superheater steam perlu pemanasan ulang yang terjadi di reheater,
dari reheater ini kemudian akan dikembalikan untuk memutar intermediate
pressure (IP) dan low pressure (LPA) dan (LPB) turbin. Di dalam turbin ini akan
terjadi konversi energi thermal dari steam menjadi energi mekanis yang
menyebabkan rotor turbin berputar. Perputaran rotor ini yang akan menggerakkan
generator yang dihubungkan dengan coupling dan akhirnya oleh generator energi
mekanis akan diubah menjadi energi listrik.
Uap bekas dari turbin selanjutnya dikondensasikan di condenser sehingga
menjadi air kembali dan volume air ditambah melalui make-up water untuk
kemudian digunakan lagi.
3.2

Siklus Bahan Bakar


Bahan bakar utama pada PT. PJB UP Paiton adalah batu bara yang berasal

dari pertambangan di Kalimantan. Batu bara diangkut dari pertambangan dengan


menggunakan kapal tongkang. Batu bara dari kapal tongkang selanjutnya akan
dibawa ke stock pile dengan menggunakan konveyor dimana sebelumnya melewati
beberapa transfer house. Stock pile di PT. PJB UP Paiton ada dua, yaitu Stock pile
area RH 1 dan stock pile area RH 2. Dari stock pile batu bara di transfer kembali
melewati transfer house dan transfer tower menuju ke silo.
Silo adalah komponen yang berfungsi menampung batu bara sebelum
memasuki coal feeder. Coal feeder adalah komponen yang berfungsi untuk
mengatur banyak tidaknya batu bara yang diperlukan oleh boiler.

Apabila boiler

sedang dalam kondisi untuk beban tinggi maka boiler membutuhkan batu bara
dalam jumlah banyak sehingga coal feeder yang berupa conveyor bergerak dengan
kecepatan cukup tinggi sehingga batu bara yang dibawa juga lebih banyak.
Sebaliknya bila boiler dalam kondisi beban rendah maka coal feeder memiliki
kecepatan yang rendah. Fungsi coal feeder sama hal-nya dengan pedal gas pada

15

kendaraan bermotor menentukan jumlah bahan bakar yang masuk ke dalam ruang
bahan bakar.

Gambar 3.2 Siklus Bahan Bakar


Batu bara selanjutnya dihaluskan dengan pulverizer untuk memperkecil
ukurannya agar batu bara mudah terbakar di ruang bakar dan mudah untuk
ditransportasikan. Selanjutnya butiran halus bahan bakar ditiup oleh udara dari
primary air fan dan masuk ke dalam boiler. Di dalam boiler batu bara yang dapat
terbakar akan menjadi gas pembakaran bercampur dengan udara pembakaran.
Sedangkan batu bara yang masih memiliki butiran yang cukup besar akan jatuh ke
bawah atau biasa disebut bottom ash. Bottom ash akan ditangkap oleh SSC
(submerged

scraper conveyor)

dan dimasukkan ke bottom

ash

dengan

menggunakan konveyor pada bagian bawah boiler dan akan dibawa ke bottom ash
silo dan akhirnya dibuang dengan menggunakan dump truck.
Batu bara yang tidak terbakar juga, akan tetapi berukuran kecil dan tidak
mampu jatuh ke bawah dan tetap terbawa udara pembakaran atau biasa disebut fly
ash yang nantinya akan ditangkap oleh electrostatic precipitator (ESP) dan dalam
rentan waktu yang konstan akan digetarkan dan jatuh ke bawah, selanjutnya
dihisap vacuum blower dan di transfer ke silo fly ash dan pada waktu tertentu
diambil menggunakan mobil capsul untuk dijual ke perusahaan semen Gresik.

16

Gambar 3.2 Diagram Alir Ash Handling

3.3

Siklus Uap Air


Siklus uap dan air pada PT. PJB UP Paiton merupakan siklus tertutup

secara ideal, tetapi tidak menutup kemungkinan terdapat losses di tengah - tengah
perjalanan. Losses ini mungkin dikarenakan panjang dan belokan pada pipa. Pada
pembahasan tentang siklus ini akan kita mulai dari boiler. Boiler merupakan
peralatan utama yang berfungsi untuk memproduksi uap yang berguna untuk
memutar poros turbin. Di dalam boiler banyak sekali instalasi perpipaan. Diruang
pembakaran boiler terdapat instalasi pipa yang berisi air dan disusun mengelilingi
dinding ruang bakar (furnace) yang disebut water wall. Keluaran dari water wall
tidak sepenuhnya uap tetapi berupa campuran uap dan air yang jika langsung
dialirkan ke turbin akan merusak sudu - sudu dari turbin. Untuk mengantisipasi hal
tersebut maka uap jenuh dari water wall dialirkan menuju steam drum untuk
dipisahkan antara uap dengan air. Proses pemisahan uap dan air dalam steam drum
menggunakan prinsip perbedaan densitas dari kedua fluida yang berbeda fase
tersebut. Air dengan densitas yang lebih tinggi akan turun ke bawah ke arah down
comer sedangkan uap menuju ke superheater.

17

Gambar 3.3 Diagram Siklus Uap Dan Air

Down comer adalah sebuah saluran yang berfungsi untuk mengarahkan air
menuju lower drum yang selanjutnya akan dialirkan lagi menuju water wall. Pada
PT. PJB UP Paiton proses pada down comer termasuk proses paksa yang
menggunakan pompa boiler circulating water pump (BCWP) untuk mempercepat
proses sirkulasi. Uap keluaran steam drum merupakan uap basah yang tidak bisa
langsung diberikan pada high pressure (HP) turbin karena akan merusak sudu sudunya. Oleh karena itu uap keluaran steam drum akan dialirkan ke superheater
untuk dipanaskan lagi sehingga menjadi uap superheater yang disebut main steam
dan siap dialirkan menuju HP turbin. Untuk meningkatkan kualitas uap dari
keluaran turbin yang tentu saja dapat meningkatkan efesiensi dari siklus secara
keseluruhan, maka uap keluaran dari HP turbin diekspansikan menuju IP turbin
yang sebelumnya dilakukan proses modifikasi. Proses tersebut adalah proses
reheater pada boiler, uap keluaran HP turbin yang disebut cold reheat dialirkan
menuju reheat yang berada di dalam boiler untuk dipanaskan lagi. Uap keluaran
dari reheat yang kemudian disebut hot reheat langsung diekspansikan menuju IP
turbin. Kemudian uap keluaran IP turbin diekspansikan ke LPA dan LPB turbin.

18

Uap dari LPA dan LPB turbin kemudian dikondensasikan di condenser


dengan media pendingin yang berasal dari air laut. Air kondensat dari uap turbin
secara gravitasi akan turun ke condenser bawah yang disebut dengan hot well dan
akan bercampur dengan air penambah (make up water) yang berasal dari water
treatment plant (WTP). Air penambah ini adalah air demin yaitu air yang unsur unsur mineralnya telah dikurangi agar tidak merusak pipa - pipa pada boiler. Air
kondensat pada hot well kemudian dipompa dengan menggunakan pompa
condensate extraction pump (CEP) menuju low pressure heater untuk dipanaskan
lagi. Low pressure heater merupakan suatu feed water yang terletak antara pompa
CEP dengan BFP dan berfungsi untuk memanaskan air pengisi boiler. Media
pemanas yang digunakan pada LPH adalah uap exstrasi dari LP turbin. Pada PT.
PJB UP Paiton terdapat tiga buah LPH 1,2 dan 3.
Drain water pada LPH 1 yang merupakan campuran antara uap exstrasi LP
turbin dengan drain water dari LPH 2 akan dialirkan menuju condenser.
Sedangkan keluaran LPH 3 dialirkan ke deaerator untuk dipisahkan air dengan gas
- gas yang terkandung di dalamnya seperti oksigen. Deaerator merupakan open
feed water heater. Setelah dari deaerator, air pengisi boiler kemudian dialirkan
munuju high pressure heater (HPH) yang fungsinya sama dengan LPH yaitu
memanaskan feed water. Media pemanas yang digunakan pada HPH adalah uap
exstrasi dari HIP turbin dan drain water. Pada PT. PJB UP Paiton terdapat tiga
buah HPH yaitu HPH 5, 6 dan 7. Feed water keluaran dari HPH 7 kemudian
dialirkan menuju economizer untuk dilakukan pemanasan awal sebelum akhirnya
masuk ke steam drum untuk dilakukan pemisahan antara uap dan air.
Sedangkan drain water pada HPH 5 yang merupakan campuran antara
exstrasi uap IP turbin dengan drain water dari HPH 6 akan dialirkan lagi menuju
deaerator.

19

Diagram T S

Keterangan :

1-2 Condensate Pump

2-3 Gland Steam Condenser, Drain Cooler, Low Pressure Heater 1, 2, 3 Deaerator
3-4 Boiler Feed Pump
4-5 High Pressure Heater 5, 6, 7, Ekonomiser
5-6 Steam Drum, Wall Tube
6-7 Superheater
7-8 HP Turbin
8-9 Reheater

9-10 IP Turbin, LP Turbin A dan B


10-1 Kondensor

20

Penjelasan :

1-2 Temperatur dan tekanan naik yang disebabkan oleh condensate pump.

2-3 Temperatur mengalami kenaikan karena fluida melewati GSC, drain


cooler, LPH 1, 2, 3, Deaerator yang berfungsi sebagai pemanas awal.

3-4 Temperatur dan tekanan naik yang disebabkan oleh boiler feed pump

4-5 Temperatur mengalami kenaikan karena fluida melewati HPH 5, 6, 7


dan ekonomiser yang berfungsi sebagai pemanas.

5-6 Temperatur konstan, disini fluida mengalami perubahan fase dari air
menjadi uap air yang terjadi di dalam steam drum dan wall tube.Pada titik 5
fluida masih berbentuk cair 100% sedangakan pada titik 6 fluida sudah
100% berada dalam fase uap. Kondisi fluida diantara titik 5 dan titik 6
menyatakan bahwa fluida masih berada pada fase campuran antara air
dengan uap. Semakin dekat pada titik 5 berarti porsi uapnya semakin
sedikit sementara porsi airnya semakin banyak dan sebaliknya.

6-7 Temperatur naik karena uap dipanaskan di dalam superheater dengan


temperatur 538o C dan kemudian akan digunakan untuk memutar HP turbin.

7-8 Temperatur dan tekanan uap turun setelah uap digunakan untuk
memutar HP turbin.

8-9 Temperatur uap yang tadi turun setelah digunakan untuk memutar HP
turbin kemudian kembali dipanaskan di dalam reheater sampai temperatur
yang ditentukan.

9-10 Setelah temperatur dinaikan pada titik 8-9, kemudian uap digunakan
untuk memutar ILP turbin. Setelah uap digunakan temperatur dan tekanan
uap turun.

10-1 Uap yang tadi digunakan untuk memutar ILP turbin kemudian
dikondensasi di dalam kondensor sehingga mengalami perubahan fase dari
uap menjadi air yang kemudian ditampung di dalam hot well yang akan
disirkulasikan lagi secara terus menerus karena PT. PJB UP Paiton
menggunakan siklus tertutup.

21

BAB IV
KOMPONEN - KOMPONEN PENYUSUN UTAMA SISTEM
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP PT. PJB UP PAITON
4.1

Water Treatment Plant


Air yang digunakan adalah air dari desa Klontong yang berada di Besuki,

air tersebut bersifat tawar dan bermineral, unsur - unsur mineral tersebut jika tidak
dihilangkan dapat menimbulkan kerak dan mengakibatkan korosi pada pipa - pipa
boiler, hal itu tentu saja tidak diinginkan karena lapisan kerak dapat menghambat
proses aliran air sehingga pipa buntu dan juga perpindahan panas yang terjadi
kurang maksimal, oleh karena itu air perlu diolah untuk menghilangkan kandungan
mineralnya.
Ada pun cara untuk mengatasi hal tersebut ialah dengan demineralisasi
yaitu proses pemurnian air yang bertujuan untuk menghilangkan mineral yang
terdapat pada air yang dinamakan water treatment plant (WTP).
Secara umum water treatment plant terbagi menjadi 2 (dua) sistem, yaitu :

system pre water treatment

system demineral plant

4.1.1

Urutan Kerja Pre Water Treatment

Prinsip kerja pre water treatment ini adalah proses penjernihan yang terdiri dari
pengendapan dan penyaringan, dengan urutan kerja sebagai berikut :
1. Air dari desa Klontong yang berjarak 10 km di pompa menuju well water
tank dengan kapasitas 5000 m3
2. Dari well water tank, air dipompakan dan dimasukan ke tangki service
yang berlokasi di atas (dekat gitet Paiton) dengan ketinggian 10 m dari
level tanah PT. PJB UP Paiton. Selanjutnya air dialirkan ke clarifier tanpa
menggunakan pompa atau cukup dengan gaya gravitasi.

22

3. Di dalam clarifier akan terjadi proses koagulasi sehingga terjadi pemisahan


antara air jernih dengan gumpalan - gumpalan zat padat. Air jernih akan
mengumpul pada bagian samping, sedangkan endapan akan mengumpul
pada bagian tengah bawah. Air jernih dikeluarkan lewat pengumpul air
dibagian samping dari dinding clarifier dan endapan dikeluarkan dari
bagian bawah tangki clarifier.
4. Air jernih keluar dari clarifier masuk ke dalam gravity filter yang berisi
saringan pasir. Air yang keluar dari saringan ini merupakan air yang sudah
jernih, bebas dari sisa - sisa gumpalan endapan yang terbentuk pada
clarifier.
5. Sebagai penampung akhir dari produksi pre water treatment ini adalah bak
penampung air jernih (clear well) siap untuk diolah lebih lanjut pada sistem
demineral plant.
Kwalitas Air (air sumber Klontong)
PH

: 6,6 8,55

Conductivity

: 250 440 s / cm

Silica

: 3,3 30,7 ppm SiO2

4.1.2

Urutan Kerja Demineral Plant

Fungsi dari sistem ini adalah sebagai pengolah air baku yang dihasilkan oleh pre
water treatment untuk menghasilkan air bebas mineral (demineralized water)
sehingga memenuhi syarat sebagai air make-up untuk keperluan siklus air - uap
pada PT. PJB UP Paiton.
Sistem ini terdiri dari peralatan peralatan utama, antara lain :
Filtered Water Transfer Pump
- Jumlah

: 2 buah

- Kapasitas

: 2 x 30 liter / det.

23

Cation Exchanger
- Jumlah

: 2 buah

- Kapasitas

: 2 x 30 liter / det.

Decarbonator
- Jumlah

: 2 bauh

- Kapasitas

: 2 x 30 liter / det.

Anion Exchanger
- Jumlah

: 2 buah

- Kapasitas

: 2 x 30 liter / det.

Mix Bed Exchanger


- Jumlah

: 2 buah

- Kapasitas

: 2 x 30 liter / det.

Demin Water Storage Tank

4.1.3

-Jumlah

: 2 buah

- Kapasitas

: 2 x 1800 m3

Proses Kerja Demineral Plant

Prinsip kerja demineral plant adalah teknik penukar ion, dimana ion yang
terkandung dalam air baku atau air tawar ditukar dengan ion yang terkandung di
dalam resin. Apabila resin telah melaksanakan operasi dalam jangka waktu tertentu
maka resin akan mengalami kejenuhan sehingga perlu dilaksanakan regenerasi
untuk mengembalikan resin ke dalam kondisi siap operasi.

24

Proses Operasi
a.

Air baku masuk ke dalam bejana penukar kation maka akan terjadi
proses penukar kation (ion muatan positif) dimana kation (M+) yang
terkandung di dalam air akan diserap oleh resin kation dan ditukar dengan
ion hydrogen (H+) yang berasal dari resin kation dengan reaksi sebagai
berikut :

R-H + MX --- R-M + HX


R-H

= Resin kation

MX

= Mineral yang terkandung di dalam air

R-M

= Resin yang mengikat mineral kation

HX

= Asam mineral yang terbentuk setelah air melewati


resin kation

Dengan persamaan reaksi di atas dapat dijelaskan bahwa sebelum melewati


resin kation air masih mengandung mineral (MX), setelah melewati resin
kation di dalam air akan terbentuk asam mineral (HX). Dengan timbulnya
(HX) ini biasanya akan menyebabkan air keluar dari resin kation bersifat
asam.
b. Air keluar dari bejana kation kemudian masuk ke decarbonator tower.
Alat ini berfungsi untuk menghilangkan gas CO 2 yang sebagian
terbentuk dari peruraian asam carbonat (H2 CO3 ) yang terbentuk dari
timbulnya asam mineral (HX) pada bejana kation.
H2 CO3 -----H2 O + CO 3
c. Air keluar dari decarbonator kemudian masuk ke bejana penukar anion,
maka akan terjadi proses penukaran ion, dimana ion negatif (X-) yang
terkandung dalam air akan diserap oleh resin anion dan ditukar dengan
ion (OH-) yang berasal dari resin anion seperti reaksi dibawah ini :
25

R-OH + HX ----- R-X + H2 O


R - OH

= Resin anion

RX

= Resin dalam kondisi mengikat anion

Dengan persamaan reaksi di atas dapat menjelaskan bahwa kandungan


mineral yang ada di dalam air setelah keluar dari bajana anion akan
berubah menjadi H2 O (air) sedangkan unsur - unsur mineral akan diserap
oleh resin anion dan resin kation.

Kwalitas Air Keluaran Anion Exchanger


Conductivity : < 20 s / cm
Silica
d.

: < 500 ppb

Air keluar dari bejana anion kemudian masuk ke dalam bejana

mixbed. Alat ini berfungsi ganda sebagai campuran antara fungsi


penukar kation dan penukar anion. Mineral yang lolos dari bejana
kation dan anion akan ditangkap pada bejana mixbed ini sehingga daya
kerja demineral plant akan lebih baik. Dan inilah produksi akhir dari
demineral plant yang sudah mempunyai tingkat kemurnian tinggi
sehingga memenuhi syarat sebagai air penambah (make-up water) pada
PT. PJB UP Paiton unit 1 dan 2.

Kwalitas Air Produksi (Demin Water)


PH

: 6,5 - 7,5

Conductivity

: < 1 s / cm

Silica

: < 10 ppb

26

Spesifikasi Peralatan :
a) Pompa Kelontong

: @ 200 m3 / jam P= 132 KW

b) Well Water Tank

: 5000 KL

c) Well Water Transfer Pump

: @ 216 m3 / jam P= 75 KW

d) Service Water Tank

: 5000 KL

e) Decarbonator Booster Pump

: @ 120 m3 / jam P= 48 KW

27

WATER TREATMENT PLANT (WTP)


FLOW DIAGRAM
SERVICE
WATER
TANK

5000 KL

Kapasitas 5000KL

REAKSI KIMIA

REAKSI KIMIA

OPERATION
R-H + MX --- R-M + HX
REGENERATION
R-M + HCL --- R-H + MCL
Contoh ion yang diikat : MG+, CA+

OPERATION
R-OH + HX -- R-X + H2O
REGENERATION
R-X + NaOH --- R-OH + NaX
Contoh ion yg diikat : CL-, SO42+

INJEKSI FERRIT KLORIT


INJEKSI ALUM / TAWAS
INJEKSI LIME / KAPUR

REAKSI KIMIA
OPERATION
H2CO3 ----- H2O + CO2

CATION EXCHANGER A/B


Kapasitas 2x30 liter/det
Volume resin 13.25 % ; 3%
loss/year

DECARBONATOR A/B
Kapasitas 2x30 liter/det

To atm

REAKSI KIMIA
OPERATION
R-H + MX --- R-M + HX
R-OH + HX -- R-X + H2O
REGENERATION
R-M + HCL --- R-H + MCL
R-X + NaOH --- R-OH + NaX

ANION EXCHANGER A/B


Kapasitas 2x30 liter/det
Volume resin 20.50 % ;
5% loss/year

MIXBED EXCHANGER A/B


Kapasitas 2x30 liter/det
Volume resin Cation mixbed : Volume
2,30 m3 ; 3% los/ year
Volume resin Anion mixbed: Volume 3,40
m3 ; 5% loss/ year

CLARIFIER A/B
Kapasitas @126m3/jam
limbah

limbah

HCL IN

NAOH IN

DECARBONATOR
BOOSTER PUMP A/B/C/D
FLOWRATE:120 M3/JAM
P : 48KW

DRAIN

To mixbed

To mixbed
DECARBONATOR BLOWER A/B

WELL
WATER
TANK

GRAFITY SAND
FILTER A/B
Kapasitas
@63m3/jam

GRAFITY SAND
FILTER C/D
Kapasitas
@63m3/jam

NAOH DAY TANK


Kapasitas 10,8 m3
Kapasitas storage tank
108 m3

HCL DAY TANK


Kapasitas 12,5 m3
Kapasitas storage
tank 118m3

DEMIN
STORAGE
TANK A/B

Kapasitas 5000KL

Kapasitas 1800KL
ejektor
ejektor

FILTER WATER
TRANSFER PUMP

DEMIN REGEN WATER PUMP A/B


FLOWRATE:70 M3/JAM P : 9.7KW

FLOWRATE:108 M3/JAM

KUALIAS AIR
DEMIN
PH :6, 5- 7,5
Conductivity :<1S/
cm
Silica :<10 ppb
SiO2

DEMIN WATER
TRANSFER PUMP A/B/C
FLOWRATE:60 M3/JAM
P : 19.5KW

CLEAR WELL

SUMBER KLONTONG TRANSFER


PUMP A/B/C
FLOWRATE : 200 M3/JAM P : 132KW

SUMBER KLONTONG

WELL WATER TRANSFER PUMP A/B/C


FLOWRATE : 216 M3/JAM P : 75KW
KUALITAS AIR BAKU
PH: 6,6- 8,5
Conductivity: 250-440 S/ cm
Silica :3300-30700 ppb SiO2

NAOH DILUTION
WATER PUMP A/B
FLOWRATE:40 M3/JAM
P : 5.6KW

HOT WATER
TANK

CONDENSATE
STORAGE
TANK A/B
Kapasitas 725 KL

27

4.2 BOILER
4.2.1 Bagian - Bagian Utama Boiler
4.2.1.1 Siklus Udara
Udara untuk pembakaran pada boiler berasal dari udara bebas yang ditarik oleh
force draft fan. Primary air fan digunakan untuk menarik udara yang nantinya
digunakan untuk meniup bahan bakar dari pulverizer agar dapat masuk ke boiler.
Sedangkan force draft fan berfungsi untuk memasukkan udara ke dalam boiler
untuk membantu pembakaran dengan adanya oksigen. Karena salah satu syarat
agar pembakaran terjadi adalah adanya oksigen.
Udara bebas ditarik oleh primary air fan. Udara yang berasal dari udara
bebas memiliki temperatur yang rendah oleh karena itu perlu dipanaskan terlebih
dahulu. Udara dipanaskan dengan menggunakan primary air heater. Air heater
adalah salah satu jenis heat exchanger. Air heater berbentuk rotary heat exchanger
dimana temperatur dinaikkan dengan menggunakan propeller yang memindahkan
udara panas dari satu sisi ke sisi yang lain. Sehingga udara dingin tercampur
dengan udara panas yang dipindahkan. Udara panas dalam air heater diambil dari
udara panas hasil pembakaran boiler.
Setelah melewati air heater udara panas memasuki pulverizer untuk meniup
butiran - butiran batu bara agar dapat masuk ke dalam boiler. Sedangkan udara
pembakaran ditiup ke dalam ruang bakar dengan menggunakan force draft fan.
Sama dengan primary air fan udara bebas yang dihisap dengan force draft fan
dipanaskan dengan air heater yaitu secondary air heater. Setelah temperatur udara
meningkat,

udara

ditiupkan

ke

dalam

boiler

untuk

membantu

terjadinya

pembakaran di dalam boiler. Udara dari primary air fan dan udara dari force draft
fan bercampur di dalam ruang bakar dalam suatu pembakaran. Selanjutnya udara
panas melewati sekumpulan pipa - pipa yang tersusun untuk memanaskan fluida
yang mengalir di dalamnya, mulai dari superheater, reheater, sampai economizer.
Setelah melewati economizer gas buang boiler melewati air heater kembali untuk
memanaskan udara masuk. Setelah melewati air heater gas buang akan melewati

28

ESP (electrostatic presipitator) untuk menangkap fly ash yang terkandung di


dalamnya. Setelah melewati ESP gas buang akan dibuang melalui cerobong.
Boiler merupakan suatu alat yang digunakan pada power plant sebagai
pemanas fluida atau air. Boiler merupakan instalasi vital pada power plant. Jenis jenisnya yaitu boiler pipa api (fire tube boiler) dan boiler pipa air (water tube
boiler). Boiler pipa api berbeda dengan boiler pipa air dimana boiler pipa api,
apinya atau flue gas-nya berada di dalam pipa dan berfungsi sebagai pemanas awal
bertipe horizontal, sedangkan boiler pipa air berada di luar bertipe vertical. Boiler
yang digunakan pada PT. PJB UP Paiton yaitu boiler jenis pipa air. Boiler
memiliki bagian - bagian yaitu :

Furnace

Water Wall

Steam Drum

Superheater

Reheater Tube

Economizer dan Down Comer

4.2.1.2 Ruang Bakar (Furnace)


Merupakan tempat pembakaran dimana terjadi proses pembakaran bahan bakar.
Untuk penyalaan pertama dari furnace ini menggunakan ignitor dan oil gun. Hal
ini digunakan dengan tujuan mempermudah proses pembakaran batu bara karena
tidak akan langsung terbakar jika hanya menggunakan ignitor atau api biasa. Jadi
ignitor dan oil gun berfungsi sebagai trigger. Ignitor dan oil gun terletak pada
burner, dan pada burner juga terdapat coal burner. Coal burner berfungsi setelah
ignitor dan oil gun berfungsi. Oil gun akan berhenti bekerja jika putaran turbin
mencapai 800 rpm dan menghasilkan daya 5 - 6 MW, selanjutnya menjalankan
mill jika api dari batu bara sudah normal maka HSD di stop, gunanya untuk
menghemat HSD. Burner terletak di empat sudut dari furnace sehingga jika burner
bekerja maka nyala api akan berbentuk bola api (fire ball).

29

Gambar 4.2.1.2 Furnace

4.2.1.3 Water Wall


Water wall yang secara harfiyah berarti dinding air, merupakan susunan. Pipa pipa yang mengelilingi dinding furnace. Dinamakan demikian karena pipa - pipa
tersebut begitu banyak dan mengelilingi ruang pembakaran sehingga tampak
menyerupai dinding. Bagian inilah yang paling banyak menerima panas.

Gambar 4.2.1.3 Water Wall

30

4.2.1.4 Steam Drum


Steam drum berfungsi sebagai pemisah uap dan air yang berasal dari water wall,
uap yang dihasilkan tidak sepenuhnya dalam fase uap murni sehingga apabila
langsung diteruskan ke turbin akan menyebabkan kerusakan pada turbin. Untuk
mencegahnya maka sebelum memasuki turbin, terlebih dahulu uap dari water wall
dilewatkan steam drum. Proses pemisahan uap dan air dalam steam drum
menggunakan prinsip perbedaan densitas dari fluida yang berbeda fase tersebut.
Air dengan densitas yang lebih tinggi akan turun ke bawah ke arah down comer
sedangkan uap akan menuju pipa yang mengarah ke superheater. Pada steam drum
juga terdapat pipa yang berasal dari economizer. Untuk mengantisipasi jika
terdapat larutan garam pada uap mixture dari water wall maka pada steam drum
terdapat pipa yang mengeluarkan fosfat yang akan menggumpalkan larutan garam
tersebut.
Blow down merupakan suatu proses penghilangan air dari boiler yang masuk ke
steam drum dengan tujuan untuk menjaga level yang dapat diterima dari TSD
(total dissolved solids). Blow down berdasarkan jenisnya dibagi menjadi dua, yaitu
continous blow down dan recovery blow down. Continous blow down yaitu air
yang

melebihi batas

maksimum TSD

akan

langsung dibuang ke tempat

pembuangan. Sedangkan recovery blow down air buangannya akan terlebih dahulu
di treatment dan kemudian akan digunakan kembali ke dalam siklus air dalam
power plant.

Gambar 4.2.1.4 Steam Drum

31

4.2.1.5 Superheater
Uap yang keluar dari steam drum biasa disebut dengan uap basah. Uap basah ini
selanjutnya akan menuju superheater. Superheater berfungsi sebagai pemanas uap
lanjut yang merubah uap basah menjadi uap kering sebelum masuk ke HP turbin.
Superheater sendiri terdiri dari primary superheater dan secundari superheater .
Dan diantara keduanya terdapat desuperheater yang memiliki tujuan untuk
mengontrol temperatur steam yang keluar dari secundary superheater sebelum
masuk ke HP turbin.
4.2.1.6 Reheater
Setelah main steam memasuki HP turbin maka keluaran uap yang disebut cold
reheat akan masuk ke reheater dan uap keluarannya disebut hot reheat. Reheater
merupakan alat pemanas uap ulang yang secara basic memiliki kesamaan dengan
superheater, hanya saja berbeda output dan input-nya. Input reheater adalah steam
keluaran HP turbin dan out put-nya merupakan hot reheat yang akan masuk ke IP
turbin, LPA dan LPB Turbin. Pada reheater memiliki bagian yang disebut spray
reheater yang terdapat di cold reheat sebelum masuk ke boiler. Spray reheat
berfungsi sebagai pengontrol temperatur hot reheat.
4.2.1.7 Economizer
Bagian boiler yang lainnya yaitu economizer. Economizer merupakan pemanas
pertama air pengisi boiler sebelum masuk ke steam drum. Sesuai dengan namanya
economizer dapat menggunakan enthalpy dari fluida yang panas tapi tidak cukup
panas digunakan di boiler. Alat ini sangat cocok jika digunakan pada boiler yang
menghemat energi dengan menggunakan gas buang dari boiler untuk pemanasan
awal air pengisi boiler
4.2.1.8 Down Comer
Output steam drum selain uap basah juga air. Air ini akan dialirkan menuju lower
drum melalui down comer. Down comer merupakan saluran yang mengalirkan air
secara alami maupun dengan paksa. Down comer yang mengalirkan air dengan
alami memanfaatkan prinsip bahwa fluida akan bergerak dari tekanan tinggi ke
tekanan rendah, sedangkan yang dengan paksaan menggunakan pompa untuk
mengalirkan air. Kedua jenis ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing -

32

masing. Down comer jenis alami akan mengirimkan air dengan flow yang rendah
tetapi tanpa harus perlu energi tambahan untuk menggerakkan pompa. Sedangkan
tipe lainnya kebalikan dari down comer jenis ini.

Gambar 4.2.1.8 Down Comer

4.2.2 Bagian - Bagian Pendukung boiler


4.2.2.1 Fan
Fan pada boiler terbagi menjadi tiga macam. Pertama forced draft fan (FDF) yaitu
fan yang memiliki fungsi sebagai pemasok udara ke dalam ruang bakar pada
boiler. Kedua, induced draf fant (IDF) yaitu fan yang berfungsi untuk menarik gas
hasil pembakaran boiler sehingga ruang boiler tekanannya menjadi vakum atau
yang dikenal balanced draft. Ketiga, primary air fan (PAF) yaitu fan yang
berfungsi memasok udara untuk mentransfer batu bara yang halus - halus dari mill
menuju ruang bakar.

33

4.2.2.2 Coal Feeder


Coal feeder memiliki fungsi sebagai pengisi batu bara ke pulverizer dengan
pengaturan otomatis. Pada coal feeder terdapat sensor yang berfungsi untuk
mengatur kecepatan dari konveyor. Sensor ini bertujuan untuk menjaga agar
jumlah batu bara yang masuk pulverizer tetap konstan. Jika di control panel coal
feeder menunjukan parameter volume batu bara 40 ton / jam, maka volume batu
bara yang digiling di dalam mill adalah 40 ton / jam.

Gambar 4.2.2.2 Coal Feeder

4.2.2.3 Mill / Pulverizer


Merupakan salah satu alat yang berfungsi untuk menggiling batu bara menjadi
butiran yang halus atau powder dengan finess tertentu yang telah ditentukan.
Finess merupakan ukuran kehalusan butiran batu bara. Untuk low ranked coal
finess-nya 65 - 75 % dari mesh 200 dan high ranked coal finess-nya 70 - 75 % dari
mesh. Pulverizer juga dilengkapi dengan inerting steam yang berfungsi sebagai
pengaman kebakaran apabila pulverizer mengalami trip.

34

Gambar. 4.2.2.3 Mill / Pulverizer

4.2.2.4 Soot Blower


Soot blower merupakan pipa yang mengeluarkan uap bertekanan tinggi dari ujung
yang berupa nozzle. Soot blower berfungsi sebagai pembersih jelaga yang
menempel pada heating surface, yaitu : water wall, superheater, reheater,
economizer,

primary air heater, dan secondary air heater. Macam dari soot

blower yaitu long rectracable soot blower dan furnace wall soot blower. Long
retracable soot blower berfungsi membersihkan jelaga yang menempel pada
superheater, reheater, dan economizer. Sedangkan furnace wall soot blower
memiliki fungsi untuk membersihkan jelaga yang menempel pada permukaan
water wall. Ada juga soot blower AH dan IKAH yaitu berfungsi untuk
membersihkan kotoran yang berada di primary air heater dan secondary air
heater.

Gambar 4.2.2.4 Soot Blower IK dan IR


35

4.2.2.5 Air Heater


Bagian penunjang boiler lainnya yaitu air heater. Air heater terbagi menjadi dua,
yaitu primary air heater dan secondary air heater. Primary air heater merupakan
pemanas udara yang memanfaatkan panas dari gas buang dan berasal dari PA fan.
Sedangkan

secondary

air

heater

merupakan

pemanas

udara

yang

juga

menggunakan panas dari gas buang tetapi udaranya berasal dari FD fan. Air heater
merupakan suatu jenis rotary heat exchanger. Air heater berfungsi untuk
memanaskan udara dari prymary air fan dan force draft fan, meningkatkan
pengkabutan bahan bakar dan meningkatkan efesiensi pembakaran.

4.2.2.6 Steam Coil


Di boiler juga terdapat instalasi yang disebut steam coil. Steam coil memiliki
fungsi sebagai pemanas udara sebelum masuk ke primary atau secondary air
heater yang berasal dari PAF maupun FDF. Selain fungsi diatas, steam coil juga
berfungsi sebagai pelindung element air heater dari korosi yang diakibatkan oleh
adanya sulfur yang menyublim yang dibawa oleh gas buang.

4.2.2.7 Savety Valve dan Sight Glass (Gelas Penduga)


Ada juga peralatan yang disebut sebagai pengaman boiler yaitu safety valve dan
sight glass (gelas penduga). Savety valve berfungsi untuk membuang tekanan yang
lebih dari tekanan yang ditentukan dimana fluida bersifat compressible. Hal ini

36

bertujuan agar personel dan peralatan yang ada di sekitar

menjadi aman.

Sedangkan sight glass berfungsi untuk mengetahui level dalam tangki atau bejana
secara langsung atau tidak langsung yang bertekanan atau tidak bertekanan. Sight
glass pada boiler terpasang pada steam drum.

Gambar 4.2.2.7 Savety Valve dan Sight Glass

37

4.3 TURBIN
4.3.1

Bagian - Bagian Utama Turbin

Turbin uap merupakan mesin rotasi yang berfungsi untuk merubah energi panas
yang terkandung dalam uap menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran poros.
Adapun bagian - bagian utama turbin yaitu :

Poros (shaft)

Sudu jalan (blade)

Sudu tetap (nozzle)

Bantalan (bearing)

Kopling (coupling)

Gland labirynth

Turning gear

Main oil pump

4.3.1.1 Poros (Shaft)


Bagian dari turbin yang mengubah energi yang terkandung dalam uap menjadi
energi mekanik dalam bentuk putaran poros. Rotor terdiri dari poros beserta cincin
- cincin yang terbentuk dari rangkaian sudu - sudu.

38

4.3.1.2 Sudu Jalan dan Sudu Tetap (Blade)


Sudu adalah bagian dari turbin dimana konversi energi terjadi, sudu sendiri
terdiri dari bagian akar sudu, badan sudu dan ujung sudu, yang kemudian dirangkai
sehingga membentuk satu lingkaran penuh. Rangkaian sudu tersebut ada yang
difungsikan sebagai sudu jalan dan sudu tetap. Rangkaian sudu jalan dipasang di
sekeliling rotor sedangkan rangkaian sudu tetap dipasang di sekeliling casing
bagian dalam.
Rangkaian sudu jalan berfungsi untuk mengubah kinetik uap menjadi
energi mekanik, sedangkan sudu tetap berfungsi untuk mengubah energi panas
menjadi energi kinetik.

4.3.1.3 Bantalan (Bearing)


Sebagai bagian

yang

berputar

rotor

memiliki kecenderungan untuk

bergerak baik dalam arah aksial maupun arah radial, karena itu rotor harus ditumpu
dengan baik agar tidak terjadi pergeseran radial maupun aksial secara berlebih.
Komponen yang dipakai dalam keperluan ini disebut bantalan (bearing). Turbin
uap dilengkapi oleh bantalan jurnal maupun bantalan aksial untuk menyangga rotor
dan untuk membatasi pergeseran rotor.

39

4.3.1.4 Kopling (Coupling)


Penyambung antara shaft pada turbin dan generator. Turbin uap memiliki 3
kopling, yang pertama untuk menyambung shaft HIP turbin dan LPA turbin, yang
kedua untuk penyambung antara shaft LPA turbin dan LPB turbin dan yang
terakhir untuk menyambung shaft LPB turbin dan generator.

4.3.1.5 Gland Labirinth


Fungsinya untuk mencegah bocornya uap dari bagian dalam turbin high
intermediate pressure (HIP) serta mencegah masuknya udara atmosfir ke dalam
turbin tekanan rendah (LP) karena uap dari LP turbin akan disalurkan ke
kondensor yang harus dijaga kevakumannya.

40

4.3.1.6 Turning Gear


Turning gear adalah suatu perangkat yang berfungsi untuk memutar rotor
turbin pada putaran rendah (5 rpm) untuk menjamin pemanasan atau pendinginan
sehingga mengurangi kemungkinan bengkoknya rotor, selain itu turning gear juga
memiliki fungsi lain yaitu untuk memberikan gerakan awal dari rotor ketika turbin
akan start sehingga gesekan statis pada bantalan dapat dikurangi.
Pada umumnya turning gear dipasang di antara turbin tekanan rendah dan
generator.

4.3.1.7 Main Oil Pump


Pompa pelumas utama yang terpasang pada pedestal turbin yang bekerja
untuk melumasi bantalan pada turbin dan juga memasok minyak pada control
valve yang menggunakan sistem hidrolik. Bekerja jika putaran turbin > 90%,
sebelum turbin mencapai putaran > 90% yang bekerja adalah pompa pelumas
auxiliary oil pump (AOP).
4.3.2

Macam - Macam Tekanan Pada Turbin

Turbin pada PT. PJB UP Paiton memiliki tiga tingkat turbin, yaitu HP (high
pressure) turbin, IP (intermediate pressure) turbin, dan LP (low pressure) turbin.
HP turbin menerima main steam dari superheater dan mengeluarkan uap yang
disebut cold reheat yang menuju reheater. Uap keluaran reheater atau hot reheat
akan masuk menuju LP turbin, dimana pada PT. PJB UP Paiton terdapat dua LP
turbin.

41

4.3.3

Kerugian Yang Terdapat Pada Turbin

Turbin memiliki beberapa kerugian yang terbagi dua yaitu kerugian eksternal dan
internal. Kerugian eksternal meliputi kerugian yang tidak terkait dengan jalannya
uap di dalam turbin, seperti kerugian mekanik dan kerugian perapatan uap pada
poros turbin. Sedangkan kerugian internal meliputi kerugian yang berkaitan
dengan jalannya uap di dalam turbin yang meliputi kerugian di dalam katup
pengatur uap masuk turbin, kerugian di dalam nozzle atau sudu tetap, kerugian di
dalam sudu jalan, kerugian pada perapatan antar tingkat sudu (labirinth) dan
kerugian akibat uap basah.

Kerugian labyrinth merupakan kerugian akibat tekanan keluaran nozzle yang lebih
rendah dari tekanan sebelumnya sehingga menyebabkan uap mengalir melalui
celah antara cakra nozzle dan poros. Hal ini tidak diinginkan karena yang
diinginkan yaitu uap 100% mengalir menggerakkan turbin tanpa ada yang kembali.
Untuk mengatasi ini maka dipasang seal yang disebut labirinth seal. Namun pada
kenyataannya seal ini tetap tidak bisa menghilangkan sepenuhnya kebocoran. Dan
akibat dari kecepatan uap yang tinggi dari nozzle juga menyebabkan kondisi
vakum diantara rotor dan stator sehingga ada uap yang kembali lagi. Selain itu,
ketebalan sudu baik itu pada sisi masuk maupun keluar atau kekasaran permukaan
sudu juga akan menyebabkan uap turbin mengalami turbulen.

Pada sudu - sudu akhir turbin akan terjadi proses pengembunan sebagian uap
menjadi butir - butir air. Karena gerakan butir - butir air ini lambat maka gerakan
uap yang cepat akan terhambat oleh butir - butir air ini. Hal ini akan
mengakibatkan kerugian efesiensi pada turbin. Selain itu uap basah atau uap yang
mengandung butir air ini akan menyebabkan erosi pada sudu turbin sehingga uap
basah ini harus dikeluarkan dari turbin melalui saluran extraction dan khususnya
pada sudu tetap tingkat akhir diberi saluran penangkap dan pembuang air.

42

Gambar 4.3.3 Labirinth Seal

Gambar 4.3.3 Saluran Extraction Uap Basah Pada Turbin

43

4.3.4

Putaran Kritis Pada Turbin

Turbin berputar dari nol sampai ke putaran 3000 rpm. Dalam rentan waktu putaran
tersebut terdapat putaran kritis. Putaran kritis merupakan putaran dimana terjadi
kesamaan frekuensi antara natural vibration dengan frekuensi getaran pada poros.
Putaran turbin tidak boleh berada lama dalam putaran kritis ini karena vibrasi yang
timbul akan besar sehingga dapat merusak komponen pada turbin.
Pada turbin PJB UP Paiton, putaran kritis masing - masing jenis turbin, yaitu :
HP dan IP turbin

: 2030 rpm

LP A turbin

: 2070 rpm

LP B turbin

: 2120 rpm

Generator

: 1000 rpm

4.3.5

Sistem Proteksi Pada Turbin

Sistem ini bertujuan untuk melindungi turbin agar dapat beroperasi dengan aman.
Sistem proteksi tersebut antara lain :
Proteksi terhadap tekanan rendah pelumas pada bantalan
Kontinyuitas aliran dan tekanan minyak pelumas bantalan turbin merupakan
parameter yang penting bagi terbentuknya pelumasan film yang ideal pada
bantalan.

Bila tekanan minyak

pelumas turun dapat merusak

karakteristik

pelumasan film di bantalan sehingga memungkinkan terjadinya kontak langsung


antara permukaan poros turbin dengan permukaan bantalan. Hal ini tentunya dapat
mengakibatkan kerusakan pada bantalan maupun poros turbin yang tentunya tidak
dikehendaki.
Karena itu, bila tekanan pelumas bantalan turun hingga harga tertentu, turbin harus
trip. Bila tekanan pelumas bantalan turun, resultan gaya gaya berubah sehingga
tuas tidak lagi dapat bertahan pada posisi seimbang (horizontal). Tuas akan
berubah posisi dimana bagian dari engsel akan turun ke bawah. Kondisi ini
mengakibatkan terbentuknya saluran drain control oil system sehingga turbin trip.

44

Proteksi terhadap dorongan aksial lebih


Sistem ini akan bekerja secara otomatis dengan memberhentikan putaran turbin
jika pergeseran turbin secara aksial berlebih dari batasan yang telah ditentukan.
Jika tidak diberhentikan putaran turbin maka akan fatal akibatnya, yaitu sudu jalan
turbin dapat menghantam sudu tetap turbin.
Proteksi terhadap putaran lebih
Seperti diketahui bahwa gaya sentrifugal berkaitan dengan putaran dimana gaya
sentrifugal merupakan fungsi kuadrat dari putaran sudu (w). ini berarti makin
tinggi putaran turbin , makin besar gaya sentifugal yang ditimbulkan. Pada kondisi
putaran tertentu, gaya sentrifugal timbul dapat membahayakan turbin. Untuk itu
disediakan alat proteksi putaran lebih untuk mengamankan turbin yaitu sistem
putaran lebih mekanik

dan putaran lebih elektrik. Pada poros turbin dibuat alur

melintang. Pada alur tersebut logam berbentuk ujung peluru yang ditahan dalam
poros oleh pegas tarik. Bila poros berputar, maka akan timbul gaya sentrifugal ke
arah luar yang cenderung menarik bonggol peluru keluar poros melawan tarikan
pegas. Pada putaran nominal, gaya sentrifugal sebanding dengan gaya tarik pegas.
Bila putaran naik hingga mencapai harga tertentu (umumnya 110 %) gaya
sentrifugal yang timbul menjadi lebih besar dari gaya tarik pegas. Hal ini
mengakibatkan bonggol peluru akan menonjol keluar poros dan mendorong tuas
pengunci.
Terdorongnya tuas pengunci akan mengakibatkan terbukanya saluran drain pada
sistem minyak kendali sehingga semua katup uap ke turbin akan menutup yang
berarti turbin trip. Diharapkan putaran turbin tidak naik lagi sehingga turbin
terhindar dari keadaan yang membahayakan. Sistem proteksi putaran lebih elektrik
biasanya merupakan cadangan yang juga akan mentrip bila putaran turbin
mencapai >110 %.
Proteksi terhadap vibrasi
Jika turbin menghasilkan vibrasi yang besar maka akan berdampak merusak
komponen

pada turbin, hal ini akan sangat berbahaya karena turbin bisa

menghantam casing yang jarak antara turbin dengan casing sangat dekat, oleh

45

karena itu vibrasi pada turbin harus dibatasi. Jika vibrasi yang dihasilkan turbin
besar maka turbin akan shut down.
Proteksi terhadap high differential expansion.
Proteksi ini akan bekerja jika pemuaian pada turbin berlebihan, karena material
pada sistem turbin yang digunakan tidak sama, maka pemuaian yang dihasilkan
pun tentunya tidak sama, oleh karena itu hal ini harus dipantau agar tidak terjadi
perbedaan pemuaian yang berbeda jauh. Karena massa rotor relative lebih kecil
dibanding massa casing, maka rotor akan memuai lebih cepat dibanding casing
turbin. Mengingat ruang bebas radial maupun aksial antara rotor dengan casing
sangat kecil maka pemuaian keduanya dapat menimbulkan masalah yang serius.
Oleh karena itu peralatan instrument ini diberikan pada sistem proteksi turbin agar
dapat mengontol terhadap high differential expansion.
4.3.6

Bagian - Bagian Pendukung Turbin

4.3.6.1 Kondensor
Adalah salah satu jenis shell and tube heat exchanger yang memiliki fungsi utama
untuk mengembunkan uap dari low pressure turbine sebagai hasil dari siklus
power utama. Adapun fungsi lain dari kondensor sebagai berikut:
a.

Mengembalikan uap kondensasi

b. Memberi tempat penyimpanan untuk kondensat.


c. Menjadi penampungan drain dari LPH.
d. Menjadi penampungan dari deaerator.

Cara kerja kondensor secara umum adalah menyerap panas dari uap buangan
turbin dengan air pendingin yang disirkulasikan, agar temperatur uap turun dan
berubah fase kembali menjadi fase cair. Agar uap bisa turun dari turbin ke
kondensor maka kondensor tersebut dibuat dalam keadaan vakum.

46

Bagian kondensor :
1. Water box adalah bagian dari condenser untuk menampung air agar air
merata masuk ke kondensor.

Gambar 4.3.6.1 Water Box


bboxbboxBox
2. Man hole adalah lubang tempat masuknya personel ketika dilakukan proses
perawatan (maintenance)

Gambar 4.3.6.1 Man Hole

47

3. Hot well adalah bagian condenser tempat air yang sudah mengembun.

Gambar 4.3.6.1 Hot Well

4. Tube adalah tempat mengalirnya air pendingin


5. Tube sheet adalah tempat diletakannya tube.

Gambar 4.3.6.1 Tube


Sheet
6. Buffle adalah suatu bagian condenser yang fungsinya untuk menciptakan
belokan fluida di dalam condenser agar dapat memperbesar terjadinya
perpindahan panas. Selain itu buffle juga berfungsi sebagai pengarah aliran.

48

Gambar 4.3.6.1
4.3.6.1 Buffle
Buffle
Gambar

4.3.6.2 Low Pressure Heater (LPH)


Berfungsi sebagai pemanas tekanan rendah (lanjutan) air condensate dengan
memanfaatkan extraction turbin LP sebelum disalurkan ke deaerator. Bagian
utama dari LPH adalah shell, tube, tube sheet, buffle, man hole, inlet valve, outlet
valve. Fungsi utama LPH adalah memanaskan air sebelum masuk ke boiler agar
kerja boiler tidak over load sehingga tidak membutuhkan bahan bakar lebih banyak
yang akhirnya akan berdampak

pada meningkatnya efesiensi siklus secara

keseluruhan.

Gambar 4.3.6.2 Low Pressure


Heater

49

4.3.6.3 Deaerator
Berfungsi memanaskan air setelah dari LPH. Deaerator juga memiliki fungsi lain
yaitu memisahkan oxygen dan air. Deaerator merupakan salah satu jenis open feed
water heater. Dimana fluida pemanas dan fluida dingin dicampur di satu tempat.
Bagian utama deaerator adalah valve spray, shell, tray, storage tank, man hole.

Gambar 4.3.6.3 Deaerator


4.3.6.4 High Pressure Heater (HPH)
Memiliki fungsi yang sama dengan LPH, yang membedakan adalah uap extraction
yang digunakan. LPH berasal dari LP turbin sedangkan HPH berasal dari HP
turbin dan IP turbin. Pada PT PJB UP Paiton terdapat 3 HPH (5, 6 dan 7)

50

HPH terletak antara boiler feed pump dan economizer. HPH memilki 3 bagian
utama yaitu :
Desuperheater zone
Zona dimana perpindahan panas terjadi antara uap dalam kondisi superheat yang
mengalir di dalam shell dengan feed water yang mengalir di dalam tube. Uap
didinginkan sampai menjadi saturated steam atau lebih tinggi.
Condensing zone
Zona dimana tidak terjadi penurunan temperatur pada uap, tetapi terjadi perubahan
fase dari uap jenuh (saturated steam) menjadi cair jenuh (saturated liquid)
Sub cooling zone
Zona dimana terjadi penurunan temperatur dari keadaan saturated liquid sampai
pada keadaan sub cool dan merupakan zona awal masuknya feed water.

4.3.7

Siklus Pelumasan turbin

Sistem pelumasan pada turbin memiliki beberapa fungsi, diantaranya membentuk


lapisan antara benda yang bergerak sehingga tidak terjadi kontak langsung antara
poros dan bantalan, kotoran yang terbawa oleh minyak pelumas tidak melukai
permukaan bantalan serta membuang panas yang timbul pada bantalan akibat
gesekan atau lainnya. Minyak pelumas harus terjamin kondisinya sehingga tidak
merusak bagian - bagian yang dilaluinya, karena itu sistem pelumasan turbin
dilengkapi dengan sistem pembersih yang dikenal dengan nama oil conditioner.
Pada bagian turbin saat ini, sistem pelumasan juga memasok kebutuhan minyak
hidrolik baik sebagai penggerak actuator hidrolik (power oil) maupun sebagai
minyak kendali (control oil) pada sistem pengaturan governor. Sistem pelumas
juga merupakan pasokan cadangan (back up oil) bagi sistem perapat poros
generator (seal oil system).
Pada sistem pelumasan, minyak pelumasan dari tangki dipompa dan dialirkan
melalui pendinginan (oil cooler), melintasi pengontrol aliran atau regulator
tekanan dan selanjutnya mengalir ke bantalan untuk akhirnya kembali ke tangki
pelumas. Dalam keadaan turbin telah beroperasi normal, minyak pelumas dipasok

51

oleh main oil pump yang digerakkan oleh poros turbin. Tetapi dalam keadaan start
atau shut down, maka pompa - pompa yang terpasang di tangki pelumas yang
beroperasi. Adapun komponen - komponen utama dari sistem pelumas ini, yaitu :
4.3.7.1 Main Oil Tank (MOT)
Main oil tank berfungsi sebagai penampung (reservoir) guna memasok kebutuhan
minyak bagi sistem pelumasan dan lainnya. Serta menampung minyak yang
kembali dari sistem pelumasan. Pada MOT juga terdapat beberapa pompa pelumas
seperti auxiliary oil pump (AOP), turning gear oil pump (TGOP) dan emergency
oil pump (EOP). Di dalam tangki sendiri juga dilengkapi dengan beberapa jenis
saringan (filter) untuk menyaring kotoran. Selain itu tangki juga dilengkapi dengan
oil vapour extractor untuk menghisap uap minyak yang terbentuk serta saluran
drain untuk membuang kotoran atau lumpur yang terbentuk dalam minyak.

Gambar 4.3.7.1 Main Oil Tank


4.3.7.2 Main Oil Pump (MOP)
Main oil pump merupakan pompa sentrifugal yang terpasang di pedestal turbin dan
digerakkan oleh poros turbin. Pompa ini memasok kebutuhan minyak untuk sistem
pelumasan turbin,

minyak

pengatur

(control oil) untuk

governor,

minyak

penggerak servo motor atau actuator hidrolik (power oil) dan pasokan cadangan
(back up supply) untuk minyak perapat poros generator (seal oil system). Karena
pompa ini bekerja manakala putaran turbin sudah diatas 90% dari putaran

52

nominalnya. Pada saat putaran turbin < 90 % dari putaran nominalnya. Maka
diperlukan pompa pelumas lainnya (AOP) untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Gambar 4.3.7.2
MOP
4.3.7.3 Auxiliary Oil Pump (AOP)
Auxiliary oil pump ini dipasang di atas tangki pelumas dan digerakkan oleh motor
listrik AC. Berfungsi sebagai pemasok minyak manakala pompa pelumas utama
(MOP) belum mampu menjalankan tugasnya misalnya saat turbin start atau shut
down atau pun saat ada masalah lain (malfunction) pada MOP. Auxiliary oil pump
(AOP) memasok kebutuhan minyak sistem pelumasan, minyak pengatur, (control
oil) dan minyak penggerak (power oil) pada sistem governor, pemasok cadangan
bagi sistem perapat poros generator (seal oil system) serta memasok minyak untuk
sisi hisap MOP (suction).
4.3.7.4 Turning Gear Oil Pump (TGOP)
Pompa ini juga dipasang di atas tangki pelumas turbin dan digerakkan oleh motor
listrik AC. TGOP hanya menyediakan pasokan bagi sistem pelumas bantalan
terutama pada saat rotor turbin sedang diputar oleh turning gear.
4.3.7.5 Emergency Oil Pump (EOP)
Emergency oil pump juga dipasang pada bagian atas tangki pelumas turbin. Pompa
ini digerakkan oleh motor listrik DC. Dengan demikian, pompa ini merupakan
pompa yang masih dapat beroperasi meskipun dalam keadaan black out.

53

4.3.7.6 Pendingin Minyak Pelumasan (Oil Cooler)


Seperti yang telah disinggung bahwa minyak pelumas yang mengalir ke bantalan
bukan hanya berfungsi sebagai pelumas tetapi juga menyerap panas yang timbul di
bantalan. Panas yang diserap oleh minyak pelumas ini harus dikeluarkan lagi dari
minyak. Komponen yang dirancang untuk mengeluarkan panas dari minyak adalah
pendingin minyak (oil cooler). Di dalam cooler, panas dari minyak akan diserap
oleh air pendingin. Disediakan dua buah cooler yaitu cooler aktif dan cooler
lainnya stand-by. Pendingin minyak (oil cooler) merupakan komponen yang cukup
penting karena menentukan temperatur minyak pelumas. Sedangkan temperatur
minyak pelumas merupakan fungsi dari viskositas minyak pelumas yang turut
menentukan terbentuknya lapisan film pelumas pada bantalan.
4.3.7.7 Saringan Minyak Pelumas (Oil Filter / Strainer)
Alat ini berfungsi untuk menyaring kotoran sehingga minyak pelumas yang akan
mengalir ke komponen - komponen yang akan dilumasi dalam kondisi bersih.
Sistem pelumas turbin memiliki kapasitas dengan volume minyak yang cukup
besar. Disamping itu, saluran - saluran minyak pelumas harus melintasi daerah daerah yang memiliki temperatur cukup tinggi di sekitar turbin. Pada situasi ini,
bila

terjadi

kebocoran

minyak

pada

saluran,

kondisinya

akan

sangat

membahayakan. Untuk mengurangi resiko, maka semua saluran baik pasokan


(supply) maupun saluran minyak kembali (return) di tempatkan dalam suatu
lingkup pelindung berupa pipa besar.
4.3.7.8 Pemurni Minyak Pelumas (purifier)
Minyak dapat terkontaminasi dengan air dan benda - benda asing. Benda - benda
asing biasanya terbawa pada waktu memasang turbin kembali setelah dibongkar
pada waktu pemeliharaan. Untuk membersihkan kotoran - kotoran digunakan
pemurni minyak (purifier). Minyak diambil dari dasar tangki minyak utama dan
kemudian dipanasi kira - kira 77 C, kemudian dilewatkan ke pemurni tersebut.
Minyak masuk secara terpusat dari atas, mengalir ke bawah ke dasar mangkuk
(bowl) dan naik melalui kerucut. Air dan benda - benda asing yang lebih berat dari
pada minyak terbuang ke pinggir mangkuk. Minyak bersih mengalir ke atas dan
melintas diantara kerucut dan meninggalkan saluran keluar sebagai minyak

54

bersih. Minyak bersih ini dipompakan kembali ke tangki minyak utama melalui
penukar panas (heat exchanger).
4.3.8 Siklus Pendinginan Turbin
Pada pembangkit di PLTU Paiton unit 1 dan 2 sistem pendinginannya
dibagi menjadi 3 macam yaitu :

Circulating Water System (CWS)

Auxiliary Cooling Water System (ACWS)

Closed Cooling Water System (CCWS)

Ketiga macam siklus tersebut menggunakan media air yang berbeda, untuk CWS
dan ACWS menggunakan air laut sedangkan untuk CCWS menggunakan air
demin sebagai medianya.
Untuk melakukan sistem pendinginan digunakan pompa - pompa sebagai berikut :
4.3.8.1 Circulating Water Pump (CWP)
Pompa

pendingin

utama

dengan

menggunakan

media

air

laut

sebagai

pendinginannya dengan siklus terbuka, disebut siklus terbuka karena air laut yang
diambil setelah digunakan akan langsung dibuang lagi ke laut. Terdapat 3 buah
pompa tetapi yang bekerja hanya 2 dan yang 1 stand-by. Pompa ini memiliki flow
yang sangat besar yang berfungsi untuk mendinginkan uap dari LP turbin sehingga
berubah menjadi air condensate serta menjaga kevakuman di dalam kondensor.
Peralatan pada CWP meliputi :

Filtrash atau screening plant (saringan apung, trash rack, screen drum,
screen wash pump)

Injeksi chlorin

CWP jenis mixed flow (gabungan antara jenis aliran radial dan aksial)

Condensor

System priming (membuang udara yang terjebak dalam kondensor)

55

Gambar 4.3.8.1 Circulating Water Pump


4.3.8.2 Auxiliary Cooling Water Pump (ACWP)
Disebut pompa pembantu, jenis vertical single stage mixed flow pump, yang
berfungsi untuk :
1. Filling awal condenser cooling system
2. Pendingin heat exchanger close cooling water system
3. Supply chlorination plant system
4. Pendingin heat exchanger bottom ash

4.3.8.3 Close Cooling Water Pump (CCWP)


Memiliki fungsi sebagai pendinginan minyak pelumas peralatan plant dan
beberapa peralatan lainnya, peralatan yang digunakan pada sistem ini yaitu :
a. Close Cooling Water Pump (CCWP), horizontal centrifugal pump
b. Heat exchanger
c. Head tank
d. Chemical dosing tank
CCWP terletak sebelum close cooling water heat exchanger (CCWHE), jadi
setelah air demin ini memasuki CCWHE maka arah yang dituju selanjutnya yaitu
suatu tempat yang disebut oil cooler dan kemudian menuju head tank dan masuk
kembali ke CCWP.

56

Gambar 4.3.8.3 Close Cooling Water Pump

57

BAB V
PROSES PERAWATAN PADA PT PJB UP PAITON
5.1.

Maintenance Berdasarkan Waktu

5.1.1

Preventive maintenance (PM)


Salah satu aktivitas maintenance yang terjadwal dan dilakukan saat periode

yang

telah

ditentukan

sebelumnya.

Pada

PM

dijadwalkan

inspeksi

dan

maintenance periodic pada interval tertentu seperti harian, mingguan dan tahunan.
Penjadwalan ini bertujuan untuk mengurangi terjadinya kegagalan pada peralatan
yang rentan, memperbaiki kondisi peralatan dan mencegah terjadinya kegagalan.
Pemeliharaan PM meliputi:
a. Pemeriksaan visual

b. Pemeriksaan kebocoran (air, oli, uap, bahan kimia)


c. Pemeriksaan kelainan suara (air, udara, uap, mekanik)
d. Pemeriksaan level (oli, air, bahan kimia)

58

e. Pemeriksaan differensial presssure (DP) filter

f. Pembersihan Filter

59

Ini merupakan tanggung jawab Har Mesin 1 yang merupakan cabang dari
department pemeliharaan. Pada hari jumat sore dari bagian perencanaan dan
pengendalian (RENDAL) mengeluarkan work order PM, yaitu jadwal untuk
seminggu ke depan.

5.1.2

Corrective Maintenance (CR)


Merupakan kegiatan pemeliharaan yang dilakukan ketika kegiatan tersebut

diperlukan. Maintenance ini akan dilaksanaakan ketika satu atau lebih dari satu
indikator yang menunjukan bahwa peralatan tersebut rusak atau performa alat
tersebut memburuk.
Pemeliharaannya dapat dilakukan pada saat pembangkit beroperasi atau
shut down. Contoh kerusakan yang bersifat CR antara lain: pipa bocor, bearing
rusak, gland packing valve bocor, dan lain - lain

Gambar 5.1.2 Salah satu contoh CR, mengganti bantalan yang rusak

60

5.1.3

Inspection / Overhoul
Pada PT. PJB UP Paiton ada satu kegiatan yang sudah direncanakan setiap

tahunnya, yaitu pemeliharaan menyeluruh pada semua peralatan pembangkit PT.


PJB UP Paiton berdasarkan jam operasi pembangkit. Pada saat overhoul unit
pembangkit akan di shut down sehingga seluruh peralatan berada pada kondisi
tidak bekerja. Kondisi ini digunakan untuk membongkar peralatan - peralatan vital
pada suatu pembangkit, seperti pada boiler dan turbin.
Inspection dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Simple Inspection ( SI )
Meliputi pemeriksaan terhadap valve - valve steam, memeriksa kondisi
bantalan, memeriksa gerakan governing valve terhadap tekanan minyak governor,
kalibrasi alat - alat proteksi, alat ukur, dan lain - lain. Biasanya pemeriksaan seperti
ini membutuhkan waktu perbaikan 21 hari untuk menyelesaikannya.

Gambar 5.1.3 Contoh SI terhadap pemeriksaan control valve

2. Mean Inspection ( ME )
Meliputi pemeriksaan terhadap pembukaan casing atas turbin, memeriksa
kondisi sudu turbin, memeriksa sistem perapat poros, dan lain - lain. Biasanya
diperlukan jangka waktu perbaikan 35 hari.

61

Gambar 5.1.3 Contoh ME dilakukan pembukaan pada casing bagian atas


turbin

3. Serious Inspection ( SE )
Meliputi pemeriksaan terhadap pengangkatan rotor dan membersihkannya,
melepas diafragma sudu tetap dan membersihkannya, memeriksa cacat yang
terjadi pada bagian stator dan rotor untuk mencegah cacat tersebut agar tidak
berlanjut, mengganti bantalan jika batasan yang di izinkan hampir terlampaui,
memasang kembali atau mengganti baru semua yang dilepas dan mencatat semua
clearance-nya. Biasanya jangka waktu perbaikan 60 hari. Serious inspection
biasanya dilakukan setelah tahun pertama unit bekerja dan berkelipatan empat
tahun setelah unit bekerja, maka akan dilakukan (SE).

Gambar 5.1.3` Contoh SE dilakukan pelepasan sudu tetap


62

5.2

Maintenance Berdasarkan Prioritas


Maintenance pada PT. PJB UP Paiton berdasarkan tingkat prioritas yaitu :
1. Vital
Yang termasuk peralatan vital pada PT. PJB UP Paiton adalah peralatan -

peralatan dimana apabila peralatan ini rusak maka peralatan 1 unit akan mati.
Sehingga diperlukan perawatan yang sangat hati - hati. Yang termasuk peralatan
vital adalah turbin dan boiler, karena hanya ada satu di masing - masing unit
pembangkit. Sehingga apabila salah satu tidak berfungsi unit akan mati.

2. Essential
Yang termasuk peralatan essential adalah peralatan - peralatan dimana
apabila peralatan ini rusak maka akan terjadi penurunan daya atau derating, contoh
peralatan yaitu: kondensor, mill, dan pompa (salah satu contohnya pompa CWP
jika yang bekerja hanya 1 pompa maka akan terjadi penurunan daya)
3. Supporting
Peralatan supporting adalah peralatan - peralatan dimana apabila peralatan
tersebut tidak berfungsi maka akan terjadi penurunan ability dari unit pembangkit.
Yang termasuk di dalam peralatan supporting, contohnya pompa oli ACWP
4. Operating
Yang termasuk peralatan operating adalah peralatan - peralatan dimana
apabila peralatan ini rusak tidak akan memberikan efek yang besar. Tetapi apabila
dibiarkan berlarut - larut akan mengganggu kinerja operator unit pembangkit.
Berdasarkan pengelompokan peralatan - peralatan di atas maka akan
memudahkan dalam pemilihan manakah yang urgent untuk dilakukan perbaikan
terlebih dahulu.

63

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1.

Kesimpulan
Kesimpulan dari laporan kerja praktek ini adalah sebagai berikut :
1. Mengkonversikan bahan bakar (batu bara) menjadi energi listrik
Batu bara (energi kimia) digiling di dalam mill menjadi butiran
halus dan kemudian dihembuskan oleh udara yang berasal dari udara
bebas yang di hisap oleh primary air fan kemudian di transfer ke dalam
ruang bakar untuk dibakar, dari energi panas yang dihasilkan digunakan
untuk memanaskan air yang berada di dalam tube tube (boiler)
sehingga air berubah menjadi uap. Uap tersebut kemudian digunakan
untuk memutar turbin. Dari putaran turbin tersebut kemudian di
gunakan untuk memutar generator sehingga putaran dari generator
dapat menghasilkan energi listrik.
2. Pembangkit listrik tenaga uap tersusun atas dua komponen utama
a. Boiler dan alat - alat bantunya
b. Turbin dan alat - alat bantunya
3. Sistem perawatan (maintenance) pada PT. PJB UP Paiton terbagi atas 2
macam :
a. Maintenance berdasarkan waktu

Preventive maintenance

Corrective maintenance

Inspection / Overhoul

b. Maintenance berdasarkan Prioritas

Vital

Essential

Supporting

Operating

64

6.2

Saran
Saran yang kami ajukan agar mahasiswa praktek kerja dapat diberikan

banyak referensi - referensi berupa materi yang terkait dengan sistem kerja yang
ada di PT. PJB UP Paiton agar mempunyai wawasan yang lebih luas terhadap
pembangkit listrik tenaga uap.

65

DAFTAR PUSTAKA

PT. PLN (PERSERO) PUSDIKLAT Unit Pendidikan Dan Pelatihan


Suralaya

Slide Power Point PT. PJB UP Paiton

Slide Presentasi Turbin Dan Boiler

Www. Google. Com

66

Beri Nilai