Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN
2.1

Tumbuhan
Tumbuhan

adalah

organisme

eukariota multiseluler yang tergolong ke


dalam kerajaan Plantae. Kerajaan ini dibagi
kedalam

kelompok

utama,

yaitu

angiospermae, gymnospermae, pteridophyta,


dan bryophyta. Tanaman hijau memiliki
dinding

sel

yang

kokoh

mengandung

selulosa. Hampir semua anggota tumbuhan


bersifat autotrof, yakni memproduksi energi sendiri dengan mengubah energi
cahaya matahari melalui proses yang disebut fotosintesis dalam organel sel
bernama kloroplas.
Tercatat sekitar 350.000 spesies organisme termasuk di dalamnya, tidak
termasuk alga hijau. Dari jumlah itu, 258.650 jenis merupakan tumbuhan
berbunga dan 18.000 jenis tumbuhan lumut. Tumbuhan hijau menghasilkan
hampir seluruh molekul oksigen di muka bumi ini dan merupakan bagian
terpenting dalam sistem ekologi bumi. Tumbuhan-tumbahan yang sudah di
domestikasi bisa menghasilkan biji, buah-buahan dan sayuran yang berguna
sebagai bahan dasar pangan manusia. Selain itu tumbuhan juga digunakanan
sebagai tanaman hiasan dan banyak yang berkhasiat obat serta digunakan dalam
ilmu medis. Ilmu mengenai studi tanaman disebut botani, yakni salah satu cabang
ilmu biologi.
Ciri yang segera mudah dikenali pada tumbuhan adalah warna hijau yang
dominan akibat kandungan pigmen klorofil yang berperan vital dalam proses
penangkapan energi melalui fotosintesis. Dengan demikian, tumbuhan secara
umum bersifat autotrof. Beberapa perkecualian, seperti pada sejumlah tumbuhan
parasit, merupakan akibat adaptasi terhadap cara hidup dan lingkungan yang unik.

Karena sifatnya yang autotrof, tumbuhan selalu menempati posisi pertama dalam
rantai aliran energi melalui organisme hidup (rantai makanan).
Tumbuhan bersifat stasioner atau tidak bisa berpindah atas kehendak
sendiri. Akibat sifatnya yang pasif ini tumbuhan harus beradaptasi secara fisik atas
perubahan lingkungan dan gangguan yang diterimanya. Variasi morfologi
tumbuhan jauh lebih besar daripada anggota kerajaan lainnya. Selain itu,
tumbuhan menghasilkan banyak sekali metabolit sekunder sebagai mekanisme
pertahanan hidup atas perubahan lingkungan atau serangan pengganggu. Pada
tingkat selular, dinding sel yang tersusun dari selulosa, hemiselulosa, dan pektin
menjadi ciri khasnya, meskipun pada tumbuhan tingkat sederhana kadang-kadang
hanya tersusun dari pektin. Hanya sel tumbuhan yang memiliki plastida, juga
vakuola yang besar dan seringkali mendominasi volume sel.
2.2

Komunitas Tumbuhan

Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu
waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama
lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila
dibandingkan dengan individu dan populasi. Populasi tumbuhan menurut Billing
secara sederhana diartikan sebagai suatu kelompok tumbuhan yang mampu
melakukan persilangan diantaranya dan menempati ruangan/kawasan tertentu.
Kelompok organisme yang membentuk populasi tidak lain adalah individuindividu yang sama baik secara genetik maupun morfologi.
Kelompok tumbuhan secara bersama atau komunitas tumbuhan sering juga
disebut sebagai masyarakat tumbuhan atau vegetasi. Vegetasi atau komunitas
tidak setara dengan flora suatu daerah. Flora dalam bentuk sederhana mengacu
kepada daftar spesies atau taksa tumbuhan yang hidup didaerah tersebut. Flora
biasanya tidak memberi informasi mengenai kelimpahan, nilai penting dan
keunikan yang terdapat pada suatu komunitas. Vegetasi pada dasarnya terbentuk
sebagai akibat dari adanya dua fenomena penting, yaitu : adanya perbedaan dalam
toleransi terhadap lingkungan dan adanya heterogenitas dari lingkungan.
Berdasarkan kedua fenomena itu, vegetasi sering juga didefenisikan sebagai

lapisan hijau penutup bumi, untuk membedakannya dengan tanah yang biasa
disebut lapisan merah
Vegetasi sebagai objek kajian ternyata telah melahirkan berbagai pola
pendekatan, yang akhirnya menghasilkan suatu kajian tersendiri dalam ekologi
dengan berbagai penekanan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Demikian
juga penamaan kajian vegetasi ada yang mempergunakan istilah ilmu vegetasi dan
adapula yang mempergunakan istilah ekologi vegetasi. Beberapa sifat komunitas
tumbuhan yang bisa dijadikan dasar perbedaan antara lain : fisiognomi, komposisi
spesies, dan pola spesies.
Fisiognomi adalah kenampakan eksternal vegetasi, struktur vertikal
(arsitektur atau struktur biomas), dan bentuk pertumbuhan (growth form) taksa
dominan. Fisiognomi merupakan sifat yang muncul pada komunitas. Struktur
vertikal mengacu pada tinggi dan penutupan kanopi tiap lapisan dalam komunitas.
Komposisi spesies suatu komunitas juga sangat penting, karena komunitas
ditentukan

atas

dasar

floristik.

Kelimpahan

(abundance),

arti

penting

(importance), atau dominasi tiap spesies dapat dinyatakan secara numerical,


sehingga komunitas dapat dibandingkan atas dasar kesamaan dan perbedaan
spesies. Susunan ruang spesies adalah sifat lain komunitas. Individu dalam suatu
spesies dapat tertagih (distribute) secara acak atau mengelompok/ clumped
(interaksi positif atau netral), atau terlalu memancar/ overdispered (interaksi
negatif).
Perubahan komunitas yang sesuai dengan perubahan lingkungan yang
terjadi akan berlangsung terus sampai pada suatu saat terjadi suatu komunitas
padat sehingga timbulnya jenis tumbuhan atau hewan baru akan kecil sekali
kemungkinannya. Namun, perubahan akan selalu terjadi. Oleh karena itu,
komunitas padat yang stabil tidak mungkin dapat dicapai. Perubahan komunitas
tidak hanya terjadi oleh timbulnya penghuni baru, tetapi juga hilangnya penghuni
yang pertama.
Sering terjadi, spesies tumbuhan dan hewan dijumpai berulangkali dalam
berbagai komunitas dan menjalankan fungsi yang agak berbeda. Kombinasi
antara habitat, tempat suatu spesies hidup, dengan fungsi spesies dalam habitat itu

memberikan pengertian nicia (niche). Konsep nicia ini penting karena selain
dapat digunakan untuk meramal macam tumbuhan dan hewan yang yang dapat
ditemukan dalam suatu komunitas, juga dipakai untuk menaksir kepadatan serta
fungsinya pada suatu musim.
Dalam suatu komunitas pengendali kehadiran jenis-jenis dapat berupa satu
atau beberapa jenis tertentu atau dapat pula sifat-sifat fisik habitat. Meskipun
demikian tidak ada batas yang nyata antara keduanya serta kedua-duanya dapat
saja beroperasi secara bersama-sama atau saling mempengaruhi. Misalnya saja
kondisi tanah, topografi, elefasi, dan iklim yang memungkinkan cemara gunung
(casuarina junghuhniana) untuk berkembang biak di suatu tempat, dan pada
gilirannya kehadiran jenis cemara ini menciptakan lingkungan tertentu yang cocok
untuk pertumbuhan jenis hewan dan tumbuhan tertentu. Suatu jenis yang dalam
suatu komunitas jenis dominan, atau dapat dikatakan pula sebagai jenis yang
merajai.
Hutan tropika basah merupakan komunitas yang dominan di Indonesia.
Sifat yang menyolok dari hutan tropis basah adalah volum persatuan luas dari
biomassa yang ada diatas tanah, sehingga memberi kesan bahwa lahan yang
ditumbuhinya itu merupakan lahan yang sangat subur. Tetapi pada kenyataannya
tidaklah demikian, tanah hutan dikawasan tropis itu umumnya miskin, kecuali
tanah-tanah alufial yang baru dan tanah-tanah vulkanik. Karena hujan lebat sering
terjadi, maka tanah juga mudah sekali terkena pembasuhan. Dalam keadaan
demikian tidaklah efisien dan menguntungkan bagi pertumbuhan apabila
kesuburan itu di simpan dalam tanah. Untuk menanggapi keadaan seperti ini,
tumbuhan yang tumbuh dalam habitat itu melalui proses evolusi telah
mengadaptasikan

diri dan mengembangkan suatu sistem untuk mencegah

kehilangan hara makanan. Sistem daun hara dalam hutan tropis basah sangat ketat,
tahan kebocoran dan berjalan cepat, arti kata bahwa hara makanan yang dilepas
oleh dekomposisi serasah segera di serap kembali untuk digunakan dalam
pertumbuhan dan kemudian digabungkan kedalam tubuh tumbuhan.

Oleh karena temperatur dan kelembapan dikawasan tropik ini tinggi,


serasah yang digugurkan oleh tumbuhan setiap hari tidak tertimbun lebih lama
dilantai hutan melainkan segera mengalami dekomposisi. Proses dekomposisi
berjalan jauh lebih cepat dari pada di hutan-hutan beriklim sedang dan dingin.
Serasah menghilang dalam waktu beberapa minggu saja. Penyerapan hara
makanan sering pula dibantu oleh kehadiran jamur-jamur mikroriza yang hidup
bersimbiosis dengan akar-akar. Miselia jamur itu sendiri bertindak sebagai organ
penyerap bagi tumbuhan inagnya. Sering pula dapat dijumpai bahwa bulu-bulu
akar dan miselia masuk kedalam daun-daun atau jaringan-jaringan yang sedang
berdekomposisi dan langsung menyerap hara makanan.
Secara garis besar komunitas dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
sebagai berikut :
a.

Komunitas perairan terdiri atas populasi dari berbagai jenis

organisme yang seluruh anggotanya hidup di dalam air, baik di air tawar, di
payau, atau di air asin. Karakteristik biogeokimia lingkungan perairan
mempengaruhi keragaman kehidupan jenis organisme penghuninya. Dalam
komunitas perairan itu sendiri terdapat komunitas bentos yang terdiri atas
hewan-hewan yang melekat pada dasar perairan, komunitas plankton yang
merupakan organisme kecil yang terapung dan gerakannya tergantung arus,
dan neuston yang anggotanya bergerak di permukaan air.
b.

Komunitas daratan terdiri atas populasi organisme yang

seluruh hidupnya terdapat di atas daratan. Komunitas ini dapat dibedakan


atas komunitas daratan berair, seperti hutan rawa, hutan magrove, dan habitat
daratan kering, seperti savana. Setiap organisme hidup (biotik) di lingkungan
atau di suatu daerah berinteraksi dengan faktor-faktor fisik dan kimia yang
biasa disebut faktor biotik (yang tidak hidup). Faktor biotik dengan abiotik
saling mempengaruhi atau saling mengadakan pertukaran material yang
merupakansuatu sistem. Disebut sistem karena penyebaran organisme hidup
di dalam lingkunagn tidak terjadi secara acak, menunjukkan suatu
keteraturan sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Setiap sistem yang

demikian disebut ekosistem. Jadi komunitas dengan lingkungan fisiknya


membentuk ekosistem.
2.3

Ekosistem

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan


timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh
antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem
merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi
timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju
kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara
organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi.
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama
dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan
lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk
keperluan hidup. Ada dua macam ekosistem yang terbentuk di bumi, yaitu :
1.

Ekosistemdalamiah.
Ekosistem ini adalah ekosistem yang

tercipta dengan sendirinya tanpa ada campur


tangan dari manusia, oleh karena itu lah kita sebut
sebagai ekosistem Alamiah. Contohnya adalah
ekosistem laut dan sungai.
2.

EkosistemgBuatan.
Seperti

namanya,

ekosistem

ini

merupakan yang terbentuk dengan adanya


campur tangan manusia, Dibuat kebanyakan
untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun
keanekaragaman hayati di sini terbatas, karena
bukan itu tujuan dari membuat ekosistem ini. Contohnya adalah sawah.

2.3.1

Komponen Ekosistem

Ekosistem terdiri dari komponen hidup dan tidak hidup. Organism (hewan,
tumbuhan, alga, jamur dan bakteri) adalah bagian dari komponen ekosistem
organic atau hidup. Lingkungan fisik ( cahaya, udara, air, suhu, mineral, tanah dan
aspek iklim) merupakan bagian tidak hidup. Bagian-bagian hidup dalam suatu
ekosistem disebut komponen biotic dan bagian-bagian yang tidak hidup disebut
komponen abiotik. Komponen abiotik termasuk tanah (komponen edafis) dan
topografi. Komponen biotic dan abiotik berinteraksi untuk mempertahankan
ekosistem. Kata Lingkungan merujuk khusunya pada bagian tidak hidup dari
suatu ekosistem.
Komponen abiotik merupakan bagian tidak hidup dari suatu ekosistem
yang bisa seringkali menjadi pengaruh utama bagi kelangsungan hidup organism.
Komponen abiotik terdiri dari :
1.

Air (H2O) adalah komponen abiotik yang sangat penting karena

setiap organism pasti membutuhkan air. Tumbuhan membutuhkan air untuk


pertumbuhan dan perkembangannya. Bahkan tumbuhan yang hidup di gurun
pasir pun sama-sama membutuhkan air walaupun jumlahnya sedikit. Tanpa
air, hewan menjadi lemah dan jika kekurangan air bisa membuat mereka
mati karena dehidrasi.
2.

Cahaya matahari adalah sumber energy utama di muka Bumi yang

merupakan komponen abiotik yang sangat penting. Cahaya matahari


dibutuhkan untuk fotosintesis. Tanpa adanya cahaya matahari tumbuhan
tidak dapat hidup dan tanpa tumbuhan hewan dan manusia pun tidak dapat
hidup.
3.

Oksigen (O2) adalah bagaian penting dari komponen abiotik

lainnya untuk kelangsungan hidup organism. Oksigen diproduksi oleh


tumbuhan hijau melalui proses fotosintesis dan oleh karena itu, hal tersebut
berhubungan langsung dengan cahaya matahari. Oksigen digunakan oleh
semua organism untuk bernafas, tanpa adanya oksigen maka kelangsungan
hidup setiap organism akan terancam.

4.

Tanah sering dianggap sebagai bagian dari komponen abiotik

karena sebagian besar dibuat dari partikel-partikel kecil bebatuan (pasir dan
tanah liat) yang bercampur dengan dekompsisi dari tumbuhan dan hewan.
Tumbuhan menggunakan akarnyauntuk mendapatkan air dan nutrisi dari
tanah. Struktur dan komponen tanah berbeda-beda, hal tersebut bisa menjadi
komponen yang dapat menentukan keanekaragaman hayati yang hidup di
area tersebut.
5.

Suhu adalah komponen abiotik yang sangat dipengaruhi cahaya

matahari. Suhu berperan penting untu hewan yang tidak dapat meregulasi
suhu tubuhnya seperti reptile. Tidak seperti manusia yang memiliki suhu
tubuh normal yang biasanya berada disekitar 370C, reptile tidak dapat
mempertahankan suhu tubuhnya

secara konstan. Reptile biasanya

ditemukan di daerah-daerah yang hangat. Untuk meregulasi tubuhnya,


reptile akan menjemur dirinya di bebatuan yang dapat menyerap panas dari
cahaya matahari lalu menyebarkan panasnya kembali ke lingkungannya.
Komponen biotik adalah semua hal yang hidup dalam suatu ekosistem
seperti tumbuhan dan hewan. Organism saling berinteraksi satu sama lain dengan
berbagai cara. Komponen biotik dapat dibagi menjadi tiga grup yaitu :
1. Produsen yang terdiri dari semua tumbuhan seperti rumput-rumputan dan

pohon-pohonan.

Organism

ini

menyerap

energy

matahari

dan

mengubahnya menjadi energy dalam bentuk makanan untuk dirinya


sehingga dirinya dapat melangsungkan pertumbuhannya
2. Konsumen adalah organism yang sebagian besar terdiri dari hewan. Ada 3

jenis konsumen berdasarkan kebutuhan makanannya yaitu pemakan


tumbuhan (Herbivora), pemakan daging (Karnivora) dan pemakan
tumbuhan dan daging (Omnivora)
3. Dekomposer adalah organism yang mengolah material yang sudah mati

seperti daun-daun yang berguguran kedalam tanah dan mengembalikan


nutrisi ke tanah sehinga material tersebut dapat digunakan kembali oleh
produsen untuk membentuk makanannya. Contoh decomposer adalah
jamur.

Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem.


Hubungan antara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya
aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat
juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Dengan

adanya

interaksi-interaksi

tersebut,

suatu

ekosistem

dapat

mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya


keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini
tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem
untuk mencapai keseimbangan baru.
Pengertian

Contoh

Abiotik
Dalam
ekologi
dan
biologi,
komponen
abiotik adalah unsur
kimiawi dan fisik yang
tidak hidup dalam suatu
lingkungan yang dapat
mempengaruhi ekosistem
Air,
cahaya,
angin.
Tanah,
kelembaban,
mineral, gas

Faktor

Biotik
Biotik menggambarkan
komponen yang hidup
dalam suatu ekosistem
seperti
organism
tumbuhan dan hewan
Semua hal yang hidup
autotrof dan heterotrof
tumbuhan, hewan,
jamur, bakteri
Makhluk hidup yang
secara langsung atau
tidak
langsung
mempengaruhi
lingkungan, organism,
interaksi

Mempengaruhi
kemampuan
organism
untuk hidup, reproduksi
dan
membantu
menentukan tipe dan
jumlah organism yang
dapat hidup dalam suatu
lingkungan, factor yang
membatasi pertumbuhan
Mempengaruh Individu dari spesies, Individu dari spesies,
i
populasi,
komunitas, populasi,
komunitas,
ekosistem, biosfer
ekosistem, biosfer
Tabel 1. Perbedaan Abiotik dan Biotik

2.3.2 Interaksi Antar Spesies

Dalam ekosistem, sesama vegetasi saling berhubungan antara satu dengan


yang lainnya. Interaksi ini akan mempengaruhi keanekaragaman jenis tumbuhan.
Interaksi yang terjadi antara lain :
1. Netral

Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme tumbuhan


dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak
merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya :pohon pinus
dengan pohon jati
2. Kompetisi

Merupakan interaksi bersaing antara individu tumbuhan dengan


individu tumbuhan lainnya dalam hal penggunaan sumber daya alam dan
pemenuhan kebutuhan, seperti nutrisi, air, cahaya, ruang, dsb. Jadi
kompetisi akan timbul jika individu tumbuhan mempunyai daur hidup dan
keperluan lingkungan yang sama dengan individu tumbuhan lainnya, baik
untuk jenis tumbuhan yang sama maupun yang berbeda jenis. Tumbuhan
yang lebih efisien memamfaatkan sumber dayanya untuk bertahan, dan
yang lainya tersingkir. Contoh : pergantian jenis-jenis tumbuhan selama
suksesi dalam bentuk seral-seralnya, yaitu dari jenis oportunis sampai ke
jenis keseimbangan.
3. Amensalisme

Hubungan antara individu- individu populasi tumbuhan yang satu


merasa dirugikan (tetapi sesaat) sedangkan populasi yang lain tidak di
rugikan(netral). Contoh : Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila
populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya
populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang
ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang
bersifat toksik.

10

4. Mutualisme

Disebut
merupakan

juga

interaksi

simbiosis

yang

obligatori(wajib)

yang di perlukan oleh kedua belah pihak


yang berinteraksi karena keduanya saling
memerlukan.Contohnya:

Hubungan

antara mikoriza dan akar tanaman


5. Parasitisme

Hubungan antar organisme yang berbeda spesies, bila salah satu


organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari
hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya.Contoh : benalu
dengan pohon inang.

6. Komensalisme

Komensalisme merupakan yaitu interaksi


antara dua atau lebih spesies yang salah satu
pihaknya beruntung, sedangkan pihaknya lainnya

11

tidak terpengaruh oleh adanya asosiasi. Contohnya anggrek (epifit) dengan


pohon yang ditumpanginya.
Interaksi yang mengacu pada persaingan intraspesifik dan interspesifik
pada tumbuhan di pengaruh oleh beberapa faktor. Persaingan intraspesifik
merupakan persaingan yang merupakan salah satu bentuk interaksi yang lebih
tinggi tingkat kompetisinya karena pada persaingan intraspesifik memiliki
kebutuhan yang sama, adapun persaingan pada tumbuhan dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu:
1. Jenis tanaman
sifat-sifat biologi tanaman, system perakaran, bentuk pertumbuhan dan
fisiologi tumbuhan. Misal sistem perakaran tanaman ilalang yang
menyebar luas menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsure
hara. Bentuk daun yang lebar seperti daun talas menyebabkan laju
transpirasi yang tinggi sehingga menimbulkan persaingan dalam
memperebutkan air.
2. Kepadatan tumbuhan
jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan menyebabkan
persaingan terhadap zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia
tidak mencukupi bagi pertumbuhan tanaman.
3. Penyebaran tanaman
penyebaran tanaman dapat dilakukan melalui penyebaran biji dan melalui
rimpang(akar

tunas).

Tanaman

yang

penyebarannya

dengan

biji

mempunyai kemampuan bersaing yang lebih tinggi dari tanaman ynag


menyebar melalui rimpang. Namun demikian persaingan penyebaran
tanaman tersebut sangat dipengaruhi factor-faktor lingkungan lain seperti
suhu, cahaya, oksigen dan air.
4. Waktu
adalah lamanya tanaman sejenis hidup bersama. Peruode 25-30% pertama
dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian
yang disebabkan oleh persaingan.

12

Faktor faktor lain yang mempengaruhi kompetisi tumbuhan antara lain : unsur
hara, cahaya, CO2, dan ruang.
Besarnya daya competitor faktor faktor antara lain :

Jumlah individu dan berat tanaman competitor

Siklus hidup tanaman competitor

Periode tanaman

Jenis tanaman

2.4

Hubungan Komunitas Tumbuhan dengan Ekosistem

Di dalam suatu ekosistem terjadi hubungan saling ketergantungan antara


makhluk hidup (komponen biotik) dengan komponen abiotiknya. Dalam suatu
ekosistem tumbuhan berperan penting karena bertindak sebagai produsen.
Penyebaran spesies tumbuhan darat sebagian besar dibatasi oleh kombinasi suhu,
curah hujan dan cahaya. Sebagai contoh penyebaran cemara hitam di Amerika
Utara terbatas pada daerah dengan musim dingin yang panjang dan curah hujan
sedang. Komponen abiotik lainnya, seperti tanah, sering memiliki peran yang
kurang kritis.(4)

Gambar 1. (a)Kaktus dapat menahan kekeringan dalam jangka panjang. Jika


menerima air yang berlebihan, tumbuhan tersebut mungkin mati karena akarnya
tidak dapat bertahan hidup dalam kondisi basah. (b) Tanaman air, seperti lili air
akan mati dengan segera jika kandungan air menurun dan akar terkena udara.(4)
Komponen suatu ekosistem sangatlah mendasar. Para pemain utama dalam
suatu ekosistem yaitu tumbuhan, hewan, daerah aliran sungai dan iklim. Namun,
proses seperti siklus aliran energi, nutrisi dan air membuat ekosistem yang sangat
kompleks. Dalam konsep ekosistem tertanam gagasan keterkaitan.(5)

13

Aliran energi mengacu pada transfer energi antara organisme hidup yang
berbeda dan lingkungannya. Hal tersebut hampir sama dengan jarring makanan.
Melalui fotosintesis, tanaman menggunakan energi dari matahari untuk tumbuh
dan berkembang biak. Ketika tanaman yang dimakan, konsumen menggunakan
energi yang tersimpan dalam tanaman untuk bergerak dan tumbuh.

Pada karnivora, mereka memakan hewan lain dan menggunakan energi


yang tersimpan dalam mangsanya. Ketika semua organisme hidup mati,
mikroorganisme mengurai jaringan mereka dan memanfaatkan energi yang
tersedia. Perubahan dalam komunitas tumbuhan dapat mengubah aliran energi
dengan mengganggu satu atau lebih langkah dalam proses tersebut.(5)

Gambar 2. Jaring Makanan(5)


Tidak seperti energi, banyak nutrisi yang berasal dari mineral tanah. Selain
itu, seperti nitrogen juga bisa berasal dari atmosfer. Banyak nutrisi sering terbatas
dan diolah kembali oleh organisme. Serangan cheatgrass (Bromus tectorum) dapat
mempengaruhi intensitas dimana siklus terjadi. Misalnya, ketersediaan hara di
dalam ekosistem semak padang rumput asli bersifat rendah. Hal ini sebagian
karena tumbuhan tahunan (perennial) menjaga nutrisi dalam jaringannya untuk
waktu yang lama. Dengan hilangnya tumbuhan tahunan, nutrisi bisa kembali ke
tanah. Cheatgrass akan tumbuh subur dengan nutrisi yang lebih tersedia, terutama
nitrogen. Selain itu, sampah cheatgrass terurai cepat dibandingkan vegetasi asli.

14

Kombinasi ini biasanya membuat siklus nutrisi bergerak lebih cepat dan mungkin
dapat membuat pemulihan komunitas tanaman asli menjadi sulit.(5)

Gambar 3. Cheatgrass (Bromus tectorum)


Daerah aliran sungai (DAS) adalah lahan yang dialirkan oleh aliran umum.
Vegetasi mempengaruhi bagaimana fungsi DAS. Disuatu daerah bernama Great
Basin, rumput tahunan dan semak melindungi tanah terhadap erosi. Ketika
tanaman asli diganti dengan serangan gulma, DAS dapat berubah. Cheatgrass dan
tanaman tahunan lainnya memiliki akar yang dangkal. Selain itu, cheatgrass
mudah terbakar sehingga permukaan tanah menjadi lebih mudah terpapar dan
terkikis. DAS harus mempertahankan kelembaban dari musim hujan dan
perlahan-lahan melepaskannya ke sungai dan mata air. Dengan cara mengubah
struktur tanah, serangan gulma dapat menurunkan infiltasi dan menjaga kapasitas
kelembaban tanah serta meningkatkan aliran air, erosi dan banjir.
Tanaman menyediakan makanan dan tempat berlindung satwa liar.
Serangan gulma sering mengurangi jumlah tanaman asli dan keanekaragaman
tanaman asli. Hal ini pada akhirnya menyebabkan degradasi atau hilangnya
habitat satwa liar asli dan berdampak pada keragaman satwa liar.

Gambar 4. Kerusakan Keanekaragaman Hayati(5)

15

Spesies tumbuhan memiliki perbedaan dalam mempengaruhi proses


biogeo-kimia, termasuk siklus N, siklus C dan dekomposisi. Memahami efek
spesies ini sangatlah penting karena pergeseran dalam proses vegetasi yang luas
karena adanya invasi, pengelolaan lahan dan faktor lingkungan. Pengaruh
langsung dari perubahan lingkungan tersebut dalam proses ekosistem dapat
dibandingkan dengan perubahan pengaruh yang tidak langsung yang dimediasi
oleh perubahan komposisi vegetasi.

2.4.1

Disturban

Disturbance atau disebut dengan istilah gangguan/tekanan, pada dasarnya


merupakan bagian dari dinamika ekosistem hutan tropika baik yang bersifat
tekanan alami maupun tekanan manusia. Dalam konteks ini degradasi berbeda
dengan disturban, dinamika disturbansi cenderung selalu terjadi di dalam suatu
eosistem hutan yang berdampak terhadap perubahan struktur, komposisi dan
proses-proses ekologi yang berlangsung, tetapi perubahan itu direspon oleh hutan
melalui kemampuan untuk memulihkan diri (resiliensi). Disturbansi dapat
menjadi degradasi apabila

mekanisme resiliensi alami tidak mampu lagi

mengatasi tekanan atau gangguan, dengan kata lain gangguan yang timbul telah
melebihi kemampuan hutan untuk memulihkan dirinya.
Disturban ini secara langsung akan berpengaruh terhadap struktur hutan,
komposisi jenis dan proses-proses ekologi, yang lebih lanjut berdampak terhadap
produktivitas, keanekaragaman hayati dan provisi produk dan jasa lingkungan.
Namun demikian, hutan atau ekosistem alami lainnya pada dasarnya memiliki
cara-cara yang berbeda dalam merespon disturban.

Berbagai pengalaman

penelitian membuktikan bahwa disturban merupakan campuran dari berbagai


faktor penyebab yang akhirnya memperngaruhi kondisi struktur komposisi dan
proses ekologi dalam ekosistem hutan.

16

Dinamika disturban dapat diketahui melalui tiga faktor berdasarkan


penyebabnya, yaitu disturban abiotik, disturban geologis dan disturban biotik,
yang diuraikan lebih lanjut sebagai berikut :
Disturban abiotik : sebagian besar disebabkan oleh faktor-faktor iklim, antara lain
: badai topan (downbuster, tornadoes, hurricane dan typhoon); badai salju;
drought; dan kebakaran. Faktor-faktor klimatis dan cuaca yang sangat mendukung
terjadinya disturban terhadap ekosistem hutan (penurunan produktivitas dan
komposisi sepesies) antara lain: intensitas cahaya, curah hujan, kelembaban
relative, suhu dan kecepatan angin.
Disturban geologis : mencakup kejadian-kejadian yang melibatkan aktivitas
geologis seperti letusan gunung berapi, banjir, dan hilangnya massa hutan berupa
landslide, longsoran bongkahan salju, hilangnya biomassa lantai hutan, dan erosi
tanah, serta deposisi. Hutan-hutan pantai misalnya, merupakan subjek disturban
dari proses-proses alami pantai seperti abrasi/subsidensi, berpindahnya bukit pasir,
dan mass wasting. Hutan-hutan riparian memiliki dinamika lingkungan yang
tinggi, seperti banjir besar, innudasi, perubahan geomorfologi seperti pelebaran
dan pendangkalan, sampai berubahnya ekosistem danau.
Disturban biotik : penyebab (agen) disturban biotik atau biologis antara lain
adalah serangga hama dan penyakit, tumbuh-tumbuhan invasif, dan mamalia
herbivor. Pada dasarnya secara ekologis agen-agen ini tidak dapat disebut sebagai
agen disturban, tetapi secara praktis akan menjadi disturban pada saat mereka
menyebabkan perubahan yang ekstrim terhadap ekosistem, sedangkan mamalia
herbivor menjadi disturban apabila ada peran dari aktivitas manusia misalnya
kegiatan penggembalaan atau perburuan.
2.4.2

Dampak

Kerusakan

Ekosistem

Terhadap

Komunitas

Tumbuhan
Kerusakan ekosistem merupakan kabar yang sangat buruk bagi semua
mahluk hidup sebab mereka seperti mata rantai yang saling membutuhkan satu
sama lainnya. Misalnya saja berkurangnya pohon akan membuat sejumlah hewan

17

kehilangan rumahnya, akan membuat kualitas udara semakin buruk, akan memicu
terjadinya bencana alam semacam banjir dan juga longsor. Berikut faktor-faktor
yang dapat merusak ekosistem :
a.

Penggunaan Bahan Kimia

Sekarang ini banyak kegiatan manusia yang menggunakan bahan kimia.


Misalnya, untuk meningkatkan hasil pertanian, para petani melakikan
pemupukan dan pemberantasan,hama.
b.

Penebangan,Hutan

Jika penebangan hutan dilakukan secara besar-besaran tanpa terkendali,


terjadilah hutan gundul. Hutan gundul dapat menyebabkan banjir, erosi, dan
tanah longsor.
c.Pemburuan,Liar

Sebagian manusia ada yang gemar berburu.Mereka berburu hewan dengan


ada tujuan tertentu. Perburuan liar dapat menyebabkan hewan menjadi
punah.
d.

Penggunaan,Kendaraan,Bermotor

Bahan bakar dibutuhkan untuk menjalankan kendaraan bermotor. Bahan


bakar dapat berupa bensin dan solar. Pembakaran bahan bakar menyebabkan
polusi udara. Pembakaran tersebut menghasilkan gas karbon diokasida.
e.

Pembuangan,Limbah,Sampah

Jika pengolahan sampah tidak dilakukan dengan benar, terjadilah kerusakan


lingkungan.Pernakah kamu melihat sungai yang kotor dan berbau busuk?
Sungai yang demikian merupakan hasil pembuangan sampah dan limbah di
sungai. Lingkungan sungai rusak dan hewan yang hidup di dalamnya mati.
Rusaknya suatu ekosistem dapat menyebabkan kerusakan komunitas
tumbuhan. Berikut dampak kerusakan ekosistem terhadap komunitas tumbuhan :

18

a. Tumbuhan kekurangan sumber nutrisi akibat dari pencemaran lingkungan


b. Populasi tumbuhan akan menurun. Karena jumlah tumbuhan semakin

berkurang menyebabkan tanah menjadi rentan dan tidak mampu mengunci


dengan baik sehingga lebih mudah terjadi bencana longsor
c. Hilangnya biodiversitas tanaman
d. Terjadinya kerusakan pada tempat hidup tumbuhan sehingga populasi

tumbuhan menurun dan menjadi langka


e. Menghilangkan sebagian besar produsen dalam ekosistem sehingga

mengakibatkan punahnya flora maupun fauna yang ada pada ekosistem


tersebut
f.

Rentan terjadi bencana kekeringan. Apabila ekosistem dirusak, sebagai


contoh ekosistem hutan, maka saat tumbuhan jumlahnya hanya sedikit, air
yang diserap pun hanya sedikit dan membuat kandungan air di dalam
tanah berkurang sehingga dapat menyebabkan alam terkena bencana
kekeringan.

19