Anda di halaman 1dari 16

Rhinosinusitis Maxilaris Akut

Jefry Hanensi
102008189
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510
Email: colling_sport@yahoo.com

I.

Pendahuluan

Rinosinusitis adalah suatu kondisi yang merupakan manifestasi dari respon keradangan
membran mukosa sinus paranasalis, yang biasanya dihubungkan dengan infeksi yang dapat
menyebabkan penebalan mukosa dan akumulasi sekret mukus dalam rongga sinus paranasalis.
Sehingga besar infeksi sinus paranasalis bersifat rinogen dan rinitis sering diiringi oleh
perubahan pada sinus, istilah rinosinusitis saat ini merupakan istilah yang lebih sidukai untuk
sinusitis, khususnya pada anak-anak dimana penyakit ini terlihat sebagai satu kesatuan penyakit
yang sama 1
Rinosinusitis merupakan penyakit keradangan dengan prevalensi yang tinggi dan
mungkin akan terus meningkat. Kerena kualitas hidup penderita dengan kondisi ini dapat sangat
terganggu, sangatlah penting bagi dokter untuk dapat mengatasinya dengan memiliki
pengetahuan yang benar mengenai definisi, gejala serta metode diagnosis rinosinusitis.
Rinosinusitis didefinisikan secara klinis sebagai suatu kondisi yang merupakan
manifestasi dari respon keradangan membran mukosa sinus paranasalis yang biasanya
dihubungkan dengan infeksi yang dapat menyebabkan penebalan mukosa dan akumulasi sekret
mukus dalam rongga sinus paranasalis 1
Sebagian besar infeksi sinus paranasalis bersifat rinogen dan rinitis sering diiringi oleh
perubahan pada sinus. Istilah rinosinusitis sebagai gabungan antara rinitis dan sinusitis
tampaknya

sesuai

digunakan

pada

anak,

karena

keduanya

adalah

penyakit

yang

berkesinambungan, dimana sinusitis merupakan kelanjutan dari rinitis dan jarang berdiri sendiri.
Disamping itu secara klinis gejala rinitis dan sinusitis mirip satu dengan lainnya sehingga terlihat
sebagai satu kesatuan penyakit yang sama. 1, 2
SKENARIO
Seorang perempuan usia 28 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan pilek tidak
sembuh- sembuh sejak 2 minggu yang lalu. Pasien juga sering mengeluh sering sakit
kepala. Terdapat nyeri di sekitar pipi bila di tekan.

II.

Pembahasan

1. Anamnesis
Anamnesis sangat berperan dalam menegakkan diagnosis dari keluhan-keluhan yang
diberikan oleh pasien. Anamnesis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : autoanamnesis
yaitu bertanya langsung kepada pasien dan cara yang kedua dengan aloanamnesis yaitu
bertanya tentang keluhan-keluhan yang dirasakan pasien kepada orang terdekat pasien
misalnya orang tua, anak, suami atau istri pasien.
Berdasarkan kasus :
Seorang perempuan usia 28 tauhn dating ke poliklinik THT dengan keluhan pilek tidak
sembuh- sembuh sejak 2 minggu yang lalu. Pasien juga sering mengeluh sering sakit
kepala. Terdapat nyeri di sekitar pipi bila di tekan.
Maka dokter bisa melakukan autoanamnesis kepada pasien
Pertanyaan yang ditanya adalah seputar keluhan yang disebutkan pasien yaitu pilek tidak
sembuh- sembuh sejak 2 minggu yang lalu
1. Keluhan pilek sejak kapan?
2. Bagaimana sifat pileknya? Sekretnya? Hilang timbul ? Terus menerus (pagi, siang,
3.
4.
5.
6.
7.
8.

sore, malam)? Disertai bersin- bersin/ tidak?


Ada peliharaan hewan di rumah?
Aktifitas belakangan ini ( kehujanan, kena debu)
Pekerjaan sehari- hari?
Keluhan demam (nyeri menelan), sakit kepala?
Keluhan sesak, batuk, suara serak?
Riwayat penggunaan obat sebelumnya untuk meringankan keluhan?

9. Pernah kedokter sebelumnya?


10. Riwayat penyakit dahulu, apa pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya?
11. Riwayat penyakit keluarga?
12. Riwayat social & ekonomi, pola makan bagaimana? Sering keluar tanpa masker?
Teman sekantor? Merokok? Minum alcohol? Olahraga? Keadaan lingkungan rumah
dan tempat kerja bagaimana?

Dari hasil anamnesis didapatkan hasil :


Jenis kelamin : perempuan
Usia : 28 tahun
Keluhan Utama : Pilek selama 2 minggu tidak sembuh- sembuh & nyeri disekitar pipi
bila ditekan
Keluhan Penyerta : Sering sakit kepala
Riwayat penyakit dahulu : Riwayat penyakit keluarga : Riwayat penggunaan obat : Riwayat social &ekonomi : -

2. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik, hal-hal yang mungkin kita temui pada pasien seperti purulent
nasal secretion, purulent posterior pharyngeal secretion, mucosal erythema, periorbital

erythema, tenderness overlying sinuses, air-fluid levels on transillium of the sinuses dan
facial erythema.
b. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
ESR (Erythrocyte Sedimentation Rate) dan C-reactive protein meningkat pada pasien
sinusitis tapi hasil ini tidak spesifik. Hasil pemeriksaan darah lengkap juga diperlukan
sebagai acuan pembanding. Pemeriksaan sitologi nasal berguna untuk menjelaskan
beberapa hal seperti allergic rhinitis, eosinophilia, nasal polyposis dan aspirin sensitivity.
Kita juga dapat melakukan kultur pada produk sekresi nasal akan tepai sangat terbatas
karena sering terkontaminasi dengan normal flora.
Pemeriksaan Imaging
Dengan posisi Waters kita dapat mengevaluasi sinus maksila. Gambaran rontgen yang
sering ditemukan pada rinosinusitis maksila adalah :
Penebalan mukosa lebih dari 4mm
Gambaran suram atau gelap pada sinus maksila
Air fluid level
Walaupun demikian kadang-kadang gambaran penebalan mukosa, gambaran suram pada
sinus tidak selalu menggambarkan rinosinusitis terutama pada anak-anak usia kurang dari 1
tahun. Karena bentuk sinus maksilia yang masih kecil dan jaringan lunak pipi memberi
bayangan suram / gelap 2

CT-Scan
Dengan CT-scan didapatkan informasi yang lebih terperinci tentang sinus paranasalis
dan kelainan di komplek osteomeatal. Jadi CT-scan dapat mendiagnosis lebih tepat, hanya
memerlukan biaya lebih tinggi dan tidak smua rumah sakit memiliki alat CT-scan (Josephson
dan Roy, 1999).
MRI

MRI merupakan pemeriksaan yang unggul untuk menggambartakan kelainan jaringan


lunak dalam sinus paranasalis. Akan tetapi karena pemeriksaan yang terbatas pada kelainan
struktur tulang. MRI bukan bukan merupakan alat pemerikasaan pilihan untuk mengevaluasi
rinosinusitis akut maupun rinosinusitis kronik (Josephson dan Roy, 1999).

3. Diagnosis
Diagnosis rinosinusitis akut atau rinosinusitis kronik ditegakkan secara klinis dengan
anamnesa yang cermat dan pemeriksaan fisik yang lengkap. Banyak penyakit umum yang
mempunyai gejala mirip dengan rinosinusitis. ISPA oleh karena virus dan adenoiditis
merupakan dua penyakit paling umum yang mungkin sulit dibedakan dari rinosinusitis pada
penderita anak. Sulit untuk membedakan ISPA dengan rinosinusitis pada tahap awal
penyakit. Kerapkali ISPA merupakan predisposisi untuk timbulnya rinosinusitis

a. Diagnosis kerja : Rhinosinusitis akut


Rinosinusitis didefinisikan secara klinis sebagai suatu kondisi yang merupakan
manifestasi dari respon keradangan membran mukosa sinus paranasalis yang biasanya
dihubungkan dengan infeksi yang dapat menyebabkan penebalan mukosa dan akumulasi
sekret mukus dalam rongga sinus paranasalis 1
Sebagian besar infeksi sinus paranasalis bersifat rinogen dan rinitis sering diiringi
oleh perubahan pada sinus. Istilah rinosinusitis sebagai gabungan antara rinitis dan
sinusitis tampaknya sesuai digunakan pada anak, karena keduanya adalah penyakit yang
berkesinambungan, dimana sinusitis merupakan kelanjutan dari rinitis dan jarang berdiri
sendiri. Disamping itu secara klinis gejala rinitis dan sinusitis mirip satu dengan lainnya
sehingga terlihat sebagai satu kesatuan penyakit yang sama 1, 2
b. Diagnosis banding
Dalam menegakkan diagnosis penyakit sinusitis baik akut maupun kronik harus
melakukan beberapa langkah seperti anamnesis (riwayat pasien), pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang lainnya. Penegakkan diagnosis tersebut harus dilakukan dengan
cermat sebab ini akan sangat mempengaruhi dokter terutama dalam penatalaksanaan
pasien. Berikut langkah-langkah dalam mendiagnosis sinusitis baik akut maupun kronis.

a) Sinusitis Akut
Anamnesis
Riwayat rhinitis allergi, vasomotor rhinitis, nasal polyps, rhinitis medicamentosa
atau immunodeficiency harus dicari dalam mengevaluasi sinusitis. Sinusitis lebih sering
terjadi pada orang yang mengalami kelainan kongenital pada imunitas humoral dan
pergerakan sillia, cystic fibrosis dan penderita AIDS. Sinusitis yang disebabkan oleh
bakteri sering salah diagnosis. Faktanya hanya 4050 % dari kasus yang berhasil
didiagnosis dengan tepat oleh dokter.
Meskipun kriteria diagnosis sinusitis akut telah ditetapkan, tak ada satu tanda atau
gejala yang kuat dalam mendiagnosis sinusitis yang disebabkan bakteri. Akan tetapi,
sinusitis akut yang disebabkan bakteri harus dicurigai pada pasien yang memperlihatkan
gejala ISPA yang disebabkan virus yang tidak sembuh selama 10 hari atau memburuk
setelah 57 hari.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, hal-hal yang mungkin kita temui pada pasien seperti
purulent nasal secretion, purulent posterior pharyngeal secretion, mucosal erythema,
periorbital erythema, tenderness overlying sinuses, air-fluid levels on transillium of the
sinuses dan facial erythema.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
ESR (Erythrocyte Sedimentation Rate) dan C-reactive protein meningkat pada pasien
sinusitis tapi hasil ini tidak spesifik. Hasil pemeriksaan darah lengkap juga diperlukan
sebagai acuan pembanding. Pemeriksaan sitologi nasal berguna untuk menjelaskan
beberapa hal seperti allergic rhinitis, eosinophilia, nasal polyposis dan aspirin sensitivity.
Kita juga dapat melakukan kultur pada produk sekresi nasal akan tepai sangat terbatas
karena sering terkontaminasi dengan normal flora.

Pemeriksaan Imaging
Pemerikasaan ini dilakukan terutama untuk mendapatkan gambaran sinus yang dicurigai
mengalami infeksi. Ada beberapa pilihan imaging yang dapat dilakukan yaitu plain
radiography (kurang sensitif terutama pada sinus ethmoidal), CT scan (hasilnya lebih
baik dari pada rontgen tapi agak mahal), MRI (berguna hanya pada infeksi jamur atau
curiga tumor) dan USG (penggunaannya terbatas).
b) Sinusitis kronik
Anamnesis
Sinusitis kronik lebih sulit didiagnosis dibandingkan dengan sinusitis akut. Dalam
menggali riwayat pasien harus cermat, jika tidak maka sering salah diagnosis. Gejala
seperti demam dan nyeri pada wajah biasanya tidak ditemukan pada pasien sinusitis
kronik.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaaan fisik pasien sinusitis kronik ditemukan beberapa hal seperti
pain or tenderness on palpation over frontal or maxillary sinuses, oropharyngeal
erythema dan purulent secretions, dental caries dan ophthalmic manifestation
(conjunctival congestion dan lacrimation, proptosis).

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan kultur hapusan nasal tidak memiliki nilai diagnostik. Kadang-kadang pada
hapusan nasal ditemukan juga eosinopil yang mengindikasikan adanya penyebab alergi.
Pemeriksaan darah lengkap rutin dan ESR secara umum kurang membantu, akan tetapi
biasanya ditemukan adanya kenaikan pada pasien dengan demam. Pada kasus yang berat,
kultur darah dan kultur darah fungal sangat diperlukan. Tes alergi diperlukan untuk
mencari penyebab penyakit yang mendasari.
Pemeriksaan Imaging

Imaging yang tersedia untuk membantu dalam menegakkan diagnosis sinusitis kronis
seperti plain radiography, CT scan, dan MRI. Prinsip penggunaannya sama pada sinusitis
akut
4. Etiologi
Sinusitis dapat disebabkan oleh beberapa patogen seperti bakteri (Streptococcus
pneumonia, Haemophillus influenza, Streptococcus group A, Staphylococcus aureus,
Neisseria, Klebsiella, Basil gram (-), Pseudomonas, fusobakteria), virus (Rhinovirus,
influenza virus, parainfluenza virus), dan jamur.
Patogen yang paling sering dapat diisolasi dari kultur maxillary sinus pada pasien
sinusitis akut yang disebabkan bakteri seperti Streptococcus pneumonia, Haemophillus
influenza, dan Moraxella catarrhalis. Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus
dan bakteri anaerob. Selain itu beberapa jenis jamur juga berperan dalam patogenesis
penyakit ini seperti Mucorales dan Aspergillus atau Candida sp. Berikut beberapa
penjelasan patogen yang berperan dalam penyakit sinusitis akut :
Streptococcus pneumonia merupakan bakteri gram positif, catalase-negative,
facultatively anaerobic cocci dimana 20 - 43 % dari sinusitis akut yang disebabkan
bakteri pada kasus orang dewasa.
Haemophillus influenza merupakan bakteri gram negatif, facultatively anaerobic
bacilli. H influenza type B merupakan penyebab pasti meningitis sampai pemakaian
luas vaksin.
Staphylococcus aureus sekarang ini dilaporkan mengalami peningkatan dalam
patogen penyebab sinusitis akut yang disebabkan bakteri.
Pada sinusitis kronik ada beberapa bakteri yang telah dapat dilaporkan yang
berperan sebagai penyebab. Namun peran bakteri dalam patogenesis sinusitis kronik
belum diketahui sepenuhnya. Adapaun beberapa contohnya seperti Staphylococcus
aureus, Coagulase-negative staphylococci , H influenza, M catarrhalis, dan S
Pneumoniae. Disamping itu, ada beberapa jenis jamur yang dapat dihubungkan dengan

penyakit ini seperti Aspergillus sp, Cryptococcus neoformans, Candida sp, Sporothrix
schenckii dan Altemaria sp. Adapun etiologi yang mungkin dari pasien diatas adalah
adanya infeksi dari bakteri. Hal ini karena pasien mengeluhkan adanya pilek yang
kemungkinan disebabkan oleh bakteri.

5. Epidemiologi
Rinosinusitis tersebar luas dan diperkirakan mengenai 10 % hinga 30 % individu
di Eropa. Di Amerika Serikat hampir 15 % penduduk pernah menderita paling sedikit
sekali episode rinosinusitis dalam hidupnya1,3. Di Indonesisa angka kesakitan rinosinusitis
belum diketahui dengan pasti.
Rinosinusitis pada umumnya dimulai dari infeksi virus, yakni rinitis akut, yang
sering menyerang anak-anak.0,5 - 5,0 % infeksi saluran nafas atas dapat mengalami
komplikasi menjadi rinosinusitis bakterial akut (RSBA).4

6. Patofisiologi
Ostium sinus paranasalis memegang peran penting dalam pathogenesis
rinosinusitis. Ostium normal berdiameter kurang lebih 2,5 mm. Rinitis akut yang terjadi
karena infeksi virus menimbulkan terjadinya udem mukosa dan ini dapat menyebabkan
pembuntuan ostium pada 80 % penderita. Pembuntuan ini akan menimbulkan penurunan
oksigen di dalam rongga sinus dan terjadi hipoksia. Hipoksia menyebabkan gangguan
fungsi silia sehingga menghambat drainase rongga sinus. Bila rinitis akut menyembuh,
pembuntuan ostium akan menghilang dan darainase normal kembali. Apabila ada faktor
predisposisi misalnya kelainan anatomi, pembuntuan ostium akan menetap dan gangguan
drainase belangsung lebih lama 3,5
Lendir yang diproduksi oleh mukosa sinus pada keadaan normal mengandung
antimikroba dan sangat sedikit nutrient sehingga akan menyulitkan tumbuhnya kuman.

Lendir ini akan selalu dikeluarkan dari rongga sinus oleh gerakan silia melalui ostium
sinus. Bila ostium buntu akan terjadi hambatan aliran lendir sehingga menumpuk di
dalam rongga sinus. Hipoksia juga menyebabkan disfungsi kelenjar mukus sehingga
terjadi perubahan kualitas dan kuantitas mukus di dalam rongga sinus. Sekret menjadi
lebih kental serta terjadi perubahan pH sehingga menjadi medium yang subur bagi
pertumbuhan kuman3
Penumpukan sekret yang kental juga menyebabkan kerusakan pada mukosa serta
ulserasi dan kerusakan silia. Kerena silia bertugas mendorong lapisan lendir keluar
rongga sinus, maka kerusakan sebagian silia akan mengganggu tugas tersebut dengan
akibat meningkatnya penumpukan sekret. Pada kondisi ini terjadilah rinosinusitis
bakterial akut (RSBA) yang fulminan. Kuman berkembang biak dan banyak enzim
proteolitik dilepaskan oleh lekosit sehingga kerusakan mukosa menjadi lebih parah.
Terjadi metabolik asidosis karena tertimbunya asam laktat, dan pertahanan antimokrobial
menurun. Kolonisasi kuman meningkat dan seterusnya kerusakan menjadi lebih parah.
Perubahan-perubahan ini terjadi secara grandual 3
Bila pembuntuan ostium berlangsung terus menerus serta penumpukan sekret
didalam rongga sinus tidak teratasi, maka proses masuk ke fase sub akut dan kronik. Ini
terjadi bila penanganan RSBA tidak adekuat atau ada faktor lain yang menyebabkan
drainase dan ventilasi sinus terutama di komplek osteomeatal 3
Sinus maksilaris adalah tempat yang paling sering terkena rinosinusitis yang
terutama diakibatkan oleh struktur anatomi. Ostium sinus maksilaris merupakan kanal
yang berkelok dengan panjang beberapa millimeter. Kanal ini menghubungkan antrum
maksial dengan meatus medius untuk membentuk komplek osteomeatal. Selain itu dasar
sinus maksilaris lebih rendah dari dasar rongga hidung, sehingga ostium sinus maksilaris
berada pada bagian superior dari antrum maksila. Sekret dapat terdrainase secara spontan
dari sinus maksilaris ke rongga hidung bila kepala pada posisi tegak, silia harus bekerja
mengalirkan sekret keluar dengan arah superior melawan gaya gravitasi. Tidaklah
mengherankan bila sebagian besar kasus rinosinusitis mengenai sinus maksilaris, dan
setelah itu sinus etmoidalis, frontalis dan sfenoidalis 6
Faktor yang dapat merupakan predisposisi terjadinya rinosinusitis adalah: 6,7,8
Udem mukosa hidung : infeksi saluran nafas atas rinitis alergi, rinitis non alergi,
merokok, berenang.

Obstruksi mekanik : hipertofi adenoid, deviasi septum nasi, konka bulosa, polip nasi,
trauma, benda asing, neoplasma.
Faktor tersering adalah infeksi saluran nafas atas oleh virus rinitis alergi. Udem

mukosa hidung merupakan karakteristik infeksi akut atau rinitis alergi yang
mengakibatkan obstruksi ostium, penurunan kerja silia dalam sinus paranasalis dan
meningkatnya produksi mukus serta kekentalannya. Ritis non alergi dapat mengalami
efek yang serupa dengan rinitis alergi.6
Faktor fisiologis dapat menjadi faktor predisposisi terkena rinosinusitis. Misalnya,
rokok yang memiliki efek yang sangat besar karena dapat meningkatkan produksi
mukusdan memperlambat gerak silia.6
Hal ini berdasarkan fakta yang menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di
alam rumah dimana salah satu atau kedua orang tuanya merokok, mengalami peningkatan
insiden kelainan pernafasan dan rinosinusitis. Perenang juga memiliki insiden
rinosinusitis yang tinggi yang mungkin disebabkan oleh masuknya air yang
terkontaminasi bahan kimia atau bakteri kedalam sinus 6
Obstruksi mekanis juga dapat menjadi predisposisi bagi individu untuk terkena
rinosinusitis. Beberapa keadaan seperti hipertrofi adenoid, deviasi septum nasi, konka
bulosa, polip nasi, trauma, benda asing dan neoplasma harus dikesampingkan dengan
pemeriksaan endoskopi pada pasien rinosinusitis berulang 6

7. Penatalaksanaan
Gejala subjektif
Terdapat gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu; gejala lokal pada hidung
terdapat ingus kental yang kadang-kadang berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring.
Hidung tersumbat, gangguan penciuman, rasa nyeri di daerah sinus yang terkena, kadangkadang dirasakan di tempat lain karena nyeri alih. Pada sinusitis maksila nyeri di bawah
kelopak mata dan kadang-kadang menybar ke alveolus, sehingga terasa nyeri di gigi.
Nyeri alih dirasakan di dahi dan di depan telinga.9
Pada sinusitis etmoid rasa nyeri dirasakan di pangkal hidung , kantus medius, bola
mata atau di belakangnya, dan nyeri bertambah bila mata digerakan. Nyeri alih dirasakan
di pelipis.9

Pada sinusitis frontal rasanyeri terlokalisir di dahi atau dirasakan di seluruh kepala.
Pada sinusitis sfenoid rasa nyeri di verteks, oksipital, di belakang bola mata dan di daerah
mastoid. Gejala pada sinusitis akut biasanya didahului pilek yang tidak sembuh dalam
waktu lebih dari 5 7 hari. Bisa juga disertai batuk terutama pada malam hari.9
Gejala obyektif
Pada sinusitis akut tampak pembengkakan di daerah muka. Pada sinusitis maksila
pembengkakan di pipi dan kelopak mata bawah, pada sinusitis frontal di dahi di dahi dan
kelopak mata atas, pada sinusitis etmoid jarang ada pembengkakan, kecuali bila ada
komplikasi.
Pada rinoskopi anterior mukosa konka tampak hiperemis dan edema. Pada
sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis etmoid anterior tampak mukopus atau
nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitia etmoid posterior dan sinusitis sfenoid
nanah tampak keluar dari meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di
nasofaring (post nasal drip).
Pada pemeriksaan transluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan radiologik posisi waters, PA dan lateral. Akan tampak perselubungan atau
penebalan mukosa atau batas cairan-udara (air fluid level) pada sinus yang sakit.9
Pemeriksaan mikrobiologi
Pada pemeriksaan mikrobiologik dari sekret di rongga hidungterutama dari
meatus media atau superior ditemukan bakteri flora normal di hidung atau kuman
patogen, seperti pneumococcus, Streptococcus, Stafilococcus dan hemophilus influenza.9
Terapi
Diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotik selama 10-14 hari. Beberapa
antibiotik yang direkomendasikan untuk sinusitis akut adalah Amoxicillin, Amoxicillinclavulanate, cefpodoxime proxetil dan cefuroxim, Trimethoprim-sulfamethoxazole,
clarithromycin dan Azithomycin.
Jika obat-obatan garis depan tersebut di atas mengalami kegagalan dan kurang
memberikan respon dalam waktu 72 jam pada terapi awal, maka pemberian antibiotik
dengan spektrum lebih luas bisa dipertimbangkan. Ini termasuk fluoroquinolone generasi
lebih baru, gatifloxacin, moxifloxacin dan lefofloxaci.

Selain antibiotik dapat diberikan decongestan untuk memperlancar drainase sinus,


analgetik untuk menghilangkan rasa nyeri dan mukolitik untuk mengurangi kekentalan
mukus. Bila ada rinitis alergi dapat diberikan antihistamin. Pemberian kortikosteroid
tidak direomendasikan pada sinusitis akut.
Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang diperlukan, kecuali bila ada
komplikasi ke orbita atau intrakranial; atau ada nyeri yang hebat karena ada sekret yang
tertahan oleh sumbatan.9

8. Gejala klinis
Manifestasi klinis yang khas dari kelainan pada sinus adalah sakit kepala yang dirasakan
ketika penderita bangun pada pagi hari. Manifertasi klinis yang ditimbulkan oleh sinusitis
dapat dibagi menjadi dua yaitu gejala subyektif (dirasakan) dan gejala obyektif (dilihat).
-

Gejala subyektif : demam, lesu, hidung tersumbat, sekresi lender hidung yang kental
dan terkadang bau, sakit kepala yang menjalar dan lebih berat pada pagi hari.

Gejala obyektif kemungkinan ditemukan pembengkakan pada daerah bawah orbita


(mata) dan lama kelamaan akan bertambah lebar sampai ke pipi.

Sinusitis akut dan kronis memilki gejala yang sama, yaitu nyeri tekan dan pembengkakan
pada sinus yang terkena, tetapi ada gejala tertentu yang timbul berdasarkan sinus yang
terkena:
- Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat dibawah mata, sakit gigi dan sakit
-

kepala
Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi
Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit

kepala di dahi.
Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan
bisa dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang
menyebabkan sakit telinga dan sakit leher.

Pada pasien di atas kemungkinan sinus yang terinfeksi adalah sinus maksilla berdasarkan
dari keluhan pasien. Pada pipi bagian sinistra pasien juga terdapat udema yang
menunjukan penumpukan cairan pada sinus maksillaris pasien\

9. Komplikasi
Sinus paranasalis dibatasi oleh otak dan cavum orbita di lateral, superior dan
posterior, sehingga penyebaran infeksi dapat menyebakan komplikasi intrakranial atau
orbital yang mengancam jiwa. Komplikasi orbital biasanya disebabkan penyebaran
langsung infeksi melalui lamina papiracea dari sinus etmoidalis.
Komplikasi Orbital:
Selusitis preseptal
Selusitis orbital
Abses Subperiosteal
Abses Orbital
Trombosis Sinus Kavernosus
Kebutaan
Komplikasi Intrakranial:
Meningitis
Abses Epidural
Abses subdural
Abses otak
Osteomielitis dinding anterior sinus frontalis
Komplikasi Sistemik:
Toxic shock syndrome
Sepsis

10. Prognosis

Prognosis untuk penderita sinusitis akut yaitu sekitar 40 % akan sembuh secara
spontan tanpa pemberian antibiotik. Terkadang juga penderita bisa mengalami relaps
setelah pengobatan namun jumlahnya sedikit yaitu kurang dari 5 %. Dubia ad bonam

III.

Penutup

Kesimpulan
Pada ksus dalam scenario di atas tentang seorang wanita usia 28 tahun dating dengan
keluhan pilek selama 2 minggu tidak sembuh- sembuh, sering sakit kepala dan pada
penekanan di sekitar pipi terdapat nyeri. Dari tanda dan gejala serta pemeriksaan yang telah
dilakukan pasien tersebut di diagnosis terkena rhinosinusitis maxilaris akut
Rinosinusitis merupakan penyakit umum yang dijumpai dalam praktek sehari-hari. faktor
anatomi menyebakan anak-anak rentan terhadap obstruksi ostium sinus, menyebabkan
ketidaklancaran sekresi hidung dan meningkatkan pertumbuhan bakteri.
Diagnosis rinosinusitis akut dan kronis terutama ditegakkan berdasarkan pada riwayat
klinis dan pemeriksaan klinis. Terapi medikamentosa memegang peranan penting dalam
penanganan RSBA, dengan tujuan untuk membunuh kuman penyebab, membuka ostium
sinus dan mengembalikan fungsi silia. Terapi bedah ditujukan untuk kasus-kasus yang tidak
responsive terhadap terapi medikamentosa atau bila terjadi komplikasi intracranial atau
orbital.

Daftar pustaka
1. Bachert C, Verhaeghe of pediatrics, 2002. Differential Diagnosis of Rhinosinusitis.
Enhancing the Treatment of Rhinosinusitis Family Practice Recertification. 24 (1) 8 13.

2. Suyitno S, 1996. Sinusitis Maksila di RSUD Dr. Kariadi Semarang Kumpulan Naskah
Ilmiah Pertemuan tahunan Perhati. Batu-Malang, 788 797.
3. Mulyarjo , 2003. Diagnosis dan Penatalaksanaan Rinosinusitis. Abstrak Simposium
Rhinology Update. Bali. 56.
4. OBrein KL, et al 2002. Acute Sinusitis-Principle of Judicious Use of Antimicrobal
Agents. Pediatrics; 101(1): 174 177.
5. Rohr A.S dan Spector SL. 1984. Paranasal Sinus Anatomy and Pathophysiology. Clin
Rev allergy 1984; 2: 387 395.
6. Slavin RG, 2002. Rhinosinusitis Epidemilogy and Pathology. Enhancing the Treatment of
Rhimosinusitis Family Practice Recertification; 24 (1): 1 7.
7. Soepardi E.A, Iskandar N, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, Edisi 3,
1997, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
8. Rockville, 2000. Diagnosis and Treatment of Acute Bacterial Rhinosinusitis summary,
Evidence

Report/

Technology

Assesement

http://www.ahrg.gov/clinic/epcsums/sinussum.htm.download tanggal 18/03/2014.


9. American Academy of pediatrics, 2001. Clinical PracticeGuidelme: Management of
Sinusitis. Pediatrics: 108 (3): 798 808