Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PLANT

DESIGN

Amelia Larasati
Kurnia Amanda

1513005
1513009

Nadya Nanda Islami 1513010


Ulfa Intan Pratiwi 1513033

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA POLIMER


POLITEKNIK STMI JAKARTA
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI
2016

SOAL
Metil Isobutil Keton (MIBK) merupakan cairan yang stabil dan tidak berwarna, sedikit
larut dalam air dan pada umumnya larut di dalam air dan pelarut organic. Senyawa turunan
keton ini pada mulanya digunakan terbatas sebagai pelarut untuk keperluan tertentu saja,
kerena ketika itu orang lebih mengenal senyawa aseton. Baru setelah diketahui bahwa MIBK
merupakan suatu pelarut yang bagus orang mulai banyak menggunakan MIBK, yaitu untuk
pelarut vinyl, epoxy dan acrylic resin yang biasa digunakan untuk industri cat dan thinner.
Diketahui data impor MIBK sebagai berikut:
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015

Impor (kg)
3368552
3691650
4045740
4433792
4859064

a. Jelaskan proses apa saja yang bisa digunakan dalam pembuatan MIBK dan pilih salah
satu proses yang layak baik secara teknis, ekonomi maupun lingkungan!
b. Prediksikan kapasitas produksi MIBK berdasarkan data impor di atas!
c. Tentukan lokasi pabrik sesuai berdasarkan data yang telah anda peroleh!

JAWABAN
a.

Proses pembuatan MIBK


MIBK dapat diproduksi dengan dua proses, yaitu:
1. Kondensasi Aseton Pada Suhu Tinggi

Proses ini dimulai dengan kondensasi aseton pada temperatur tinggi pada fase liquid
dengan menggunakan katalis basa sehingga membentuk phoron dan bereaksi
samping membentuk diaseton alkohol. Karena diaseton alkohol hanya sebagai
produk samping, maka jika dilanjutkan dengan reaksi dehidrasi, mesityl oxide yang
terbentuk hanya dalam jumlah yang kecil, sehingga pada hidrogenasi mesityl oxide
hanya sedikit pula metil isobutil keton yang dihasilkan.
2. Kondensasi Aseton Pada Temperatur Rendah
Proses

hidrogenasi

dengan

kondensasi

aseton

pada

temperatur

rendah

dikembangkan oleh Hibernia-Scholven yaitu dengan cara mengkondensasi aseton


dengan menggunakan katalis NaOH di dalam suatu reaktor dengan temperature
reaksi 30C, kemudian diaseton alkohol yang terbentuk didehidrasi dengan asam
fosfat pada temperatur 120C, sehigga dihasilkan mesityl oxide yang selanjutnya
didehidrasi dengan katalis nikel pada temperatur 120C dan tekanan 1 atm sehingga
terbentuk metil isobutil keton.
SELEKSI PEMILIHAN PROSES
Dari dua metode pembuatan metil isobutil keton diatas, maka dipilih pembuatan metil
isobutil keton dengan proses hidrogenasi dengan kondensasi aseton pada
temperatur rendah. Pemilihan ini didasarkan pada hal sebagai berikut:
Tabel 1 . Seleksi pemilihan pproses
Parameter
1.Aspek operasi :

Suhu

Tekanan
2.Aspek Proses :

Kondensasi Tinggi

Kondensasi Rendah

50-100 oC

30 oC

4 atm

1 atm

Konversi

10 %

80%

Yield

45%

72%

Kemurnian

80%

98%

Besar

Sedang

5 tahun

2 tahun

26%

35.27%

3.Aspek Ekonomi :

Investasi

POT

ROI

Pemilihan proses dengan kondensasi rendah juga dapat mencegah terjadinya proses
hidrogenasi secara berlebihan oleh katalis logam sehingga terbentuk produk kondensasi
yang lebih tinggi (C6 atau C12 ) yang dapat menyebabkan deaktivasi katalis itu sendiri.
(Uhde,2005).
b.

Kapasitas Produksi
Prediksi 5 tahun mendatang produksi metil isobutil keton tahun 2020.

Dari data pada tabel di atas dapat diperkirakan kebutuhan impor Metil Isobutil Keton
(MIBK) pada tahun 2020 dengan persamaan regresi linier. Sehingga di dapat persamaan:
y = a + bX

Dimana diperoleh:
a = 3 x 106

b = 372317

Sehingga diperoleh:
y = 3 x 106 + (372317 x 10) = 6723170 kg
Tahun (x)

Impor kg (y)

2011
2012
2013
2014
2015
2020

3368552
3691650
4045740
4433792
4859064
6723170

c.

Lokasi pabrik yang sesuai data diatas


Pemilihan lokasi pabrik merupakan faktor yang sangat berkaitan erat dengan efisiensi

perusahaan dan harus dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi teknis maupun ekonomis
sedangkan tata letaknya merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan agar kelancaran
operasional pabrik menjadi sangat efektif. Oleh karena itu, lokasi dan tata letak pabrik
merupakan dua faktor yang tidak terpisahkan untuk menciptakan lingkungan kerja yang
efektif dan efisien. Tapi hal yang paling mendasar adalah tersedianya infrastruktur yang harus
diciptakan oleh pemerintah setempat agar investor menjadi tertarik untuk mendirikan pabrik
didaerahnya sehingga tercipta kawasan industri yang dapat meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD) sebagai kompensasi dari daerah yang kini memiliki otonomi yang luas untuk
merealisasikan kebijakan arah pembangunan. Rencana pendirian pabrik Metal Isobutil Keton
ini di kota Tangerang, Jawa Barat.
a) Penentuan Lokasi Pabrik
Dalam pendirian suatu pabrik, pemilihan lokasi menjadi faktor yang sangat berpengaruh
terhadap kelangsungan hidup pabrik baik sekarang maupun di masa mendatang. Oleh karena
itu perencanaannya harus mempertimbangkan beberapa faktor yaitu :
1. Faktor utama :
a. Bahan baku
b. Marketing
c. Utiltas (bahan bakar, sumber air, dan listrik)
d. Keadaan geografis dan masyarakat
2. Faktor Khusus :
a. Tenaga Kerja
b. Transportasi

c. Karakteristik lingkungan lokasi.


d. Perluasan pabrik
1. Faktor Utama
A. Bahan baku
Lokasi pabrik jika ditinjau dari keberadaan bahan baku maka pabrik hendaknya didirikan
dekat dengan sumber bahan baku agar sistem transport bahan baku menjadi efisien yang
akhirnya dapat mengurangi biaya produksi. Bahan baku dari pabrik Metil Isobutil Keton
ini adalah aseton dan hidrogen. Gas hidrogen akan diperoleh dari PT. Pupuk Kujang di
kawasan industri Cikampek. Karena sumber bahan baku ini diproduksi oleh salah satu
pabrik petrokimia milik pemerintah yang terbesar di Indonesia, maka kapasitas dan
keberadaannya dapat diandalkan untuk pengadaan bahan baku pabrik ini untuk jangka
waktu yang lama. Sedangkan aseton diperoleh dari luar negeri (import) karena belum
terdapat pabrik aseton di Indonesia. Selain itu Tangerang merupakan kota sentral dari
pertemuan beberapa jalur ekonomi dan bisnis di Pulau Jawa, khususnya untuk daerah
Jawa Barat.
B. Marketing
Marketing merupakan salah satu faktor yang penting didalam industri kimia karena
strategi marketing sangat menentukan keuntungan perusahaan. Hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah :
1. Daerah marketing.
2. Proyeksi kebutuhan produk masa sekarang dan akan datang.
3. Pengaruh persaingan dagang.
4. Jarak dan sarana pengangkutan untuk lokasi pemasaran.
Tangerang merupakan jalur utama distribusi bisnis dan ekonomi yang strategis di Pulau
Jawa sebagai pulau terpadat di Indonesia. Sebagai jalur pertemuan dari beberapa kota
besar diharapkan perusahaan akan memperoleh keuntungan bisnis yang besar. Selain itu,
Tangerang juga merupakan daerah pasar yang baik, karena konsumen pabrik MIBK
diperkirakan berada di Jawa Barat dan sekitarnya.
C. Utiltas (bahan bakar, sumber air, dan listrik)
Faktor utilitas menjadi sangat penting karena menyangkut kelancaran proses produksi.
Utilitas meliputi kebutuhan bahan bakar, air, dan listrik. Bahan bakar digunakan untuk

menggerakkan generator atau alat yang menghasilkan panas seperti boiler. Untuk
memenuhi kebutuhan air sehari-hari produksi dan kegiatan industri lainnya, dapat
memanfaatkan sungai Cisadane, karena pabrik MIBK terletak di sepanjang aliran sungai
Cisadane. Air sungai diolah terlebih dahulu pada unit water treatment untuk
menghasilkan air yang berkualitas sesuai dengan ketentuan. Apabila dalam masa kemarau
air sungai surut maka digunakan air PDAM untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jadi
air PDAM hanya bersifat cadangan. Air digunakan untuk sanitasi dan untuk kebutuhan
proses (air pendingin). Sumber listrik diperoleh dari PLN, walaupun demikian tenaga
generator sangat diperlukan sebagai cadangan yang harus siap bila setiap saat diperlukan
karena listrik PLN tidak akan selamanya berfungsi dengan baik yang disebabkan
pemeliharaan atau perbaikan jaringan listrik.
D. Keadaan geografis dan masyarakat.
Keadaan geografis dan masyarakat harus mendukung iklim industri untuk menciptakan
kenyamanan dan ketentraman dalam bekerja. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1. Kesiapan masyarakat setempat untuk berubah menjadi masyarakat industri.
2. Keadaan alam seperti gempa bumi, banjir, angin topan, dll.
3. Kondisi tanah tempat pabrik berdiri yang dapat menyulitkan pemasangan konstruksi
bangunan atau peralatan proses.
2. Faktor Khusus
A. Tenaga Kerja
Mudah mendapatkan tenaga kerja yang terdidik maupun terlatih, karena berada di
kawasan kota industri maupun dekat dengan pusat pemerintahan.
B. Transportasi
Transportasi di daerah Tangerang dapat dilakukan dari darat dan laut. Transportasi mudah
dan cepat karena tersedianya jalan-jalan bebas hambatan dan dekat dengan pelabuhan laut
maupun bandara udara.
C. Perluasan pabrik
Karena kawasan industri di daerah Tangerang belum terlalu banyak, maka harga tanah
industri tidak terlalu tinggi sehingga perluasan pabrik perlu direncanakan untuk
meningkatan kapasitas produksi sebagai konsekuensi dari meningkatnya permintaan
produk.

Berdasarkan beberapa pertimbangan faktor-faktor diatas, maka dipilih lokasi pabrik di Kota
Tangerang, Jawa Barat