Anda di halaman 1dari 119

BAB VIII

PERSAMAAN DIFERENSIAL PARSIAL

1. Pendahuluan : Pemodelan Arus Panas Satu Dimensi

Batang
A

0
X

Bahan penyekat (insulator)

Misalkan bila ada batang yang dapat menghantarkan panas. Batang tersebut
homogeny dengan panjang L dengan luas potongan melintang A. Batang di
balut dengan bahan penyekat (insulator) sehingga tidak ada energy panas
penyekat mengalir ke luar dalam arah Y & Z.

Bila ( , ) = temperatur batang pada posisi dan pada waktu

Temperatur didefinisikan sebagai jumlah energy panas perunit volume.

Asumsikan pada saat

, batang mempunyai temperatur awal

pada setiap

posisi
. Dan pada
ujung-ujung batang dipertahankan pada temperatur tetap yakni

( )

Temperatur

()

setiap saat.

pada ) saat untuk ditunj ukkan pada gambar

,
=
, =

_,

temperatur awal
saat

sepanjang batang

(,

For all time


For all time

(
,
)=

(,)=

81

Membuat Modal Konduksi Panas

temperatur pada posisi saat waktu

Bila diketahui temperatur aw al sepanjang batang,

(,)=

Bagaimana temperatur pada setiap posisi bila

Karena temperatur adalah fungsi dari dua variabel bebas, maka dibutuhkan
persamaan diferensial parsial untuk mendekati perilakunya.

Perbedaan temperatur sepanjang batang menyebabkan panas mengalir dari daerah


yang panas ke dingin. Bila kita definisikan fungsi aliran panas sebagai :

( , ) = jumlah energy panas persatu satuan waktu yang mengalir melalui


batang pada posisi , saat waktu .

Energi

masuk
Energi keluar +

Energy yang diserap

Ambil potongan kecil dari batng dengan lebar


_
seperti gambar diatas ; maka :

Energi masuk
=
(

,)

Energi keluar

Energi masuk
=
Energi keluar + Energy yang diserap

(
,
)

Energy yang diserap

Energi yang diserap adalah proporsional terhadap perubahan temperatur dikali dengan panjang

(
,
)
=

(
,
)

0)
(,)

potongan melintang.

Energy yang diserap = > (

0)
(,)

(,)
= (

>(
)

(
,

>(

0
(
,)

Bila

_ maka persamaan di atas menjadi

_
=
_

(_)

Karena persamaan
(1) terdiri dari 2 variabel terikat dan juga 2 variabel bebas & , maka perlu

dicari hubungan

dan , karena itu kita gunakan 2 prinsip aliran panas

Bila ada perbedaan temperatur, panas mengalir dari daerah yang lebih panas ke
yang lebih dingin.

82

Arus panas adalah proporsional terhadap perubahan temperatur per satuan panjang.

Prinsip diatas secara matematik dapat dinyatakan sebagai :

()
persamaan aturan Fourier pada

konduksi panas

Subsitusi (2) ke (1) menghasilkan :

_
=
_

(_)

Persamaan

__

(3) adalah persamaan diferensial dalam bentuk


(,) = (,)
(_)

(,) _

(,) _
(,) _
(,)
(,)

Persamaan (4) disebut Persamaan Diferensial Parsial Linier Orde Kedua.

Bila
(,
)
_

homogen

(
)

nonhomogen

,_

Resume masalah nilai batas pada model di atas


,
,

Persamaan Dif. Parsial :

Boundary Condition
(kondisi batasan)

(,)=;

Initial condition (nilai aw al)

(
,)
=;
"

,_

(
)

() ,

Solusi persamaan

,=

panas dengan kondisi batasan homogen.

Kita anggap temperatur batasan adalah homogen

=; =

Bila fungsi penyelesaian dapat di faktorkan menjadi suatu fungsi dikali dedngan , maka :

Dimana

(,)=

(
dan);( )

adalah independent variabel dan hanya fungsi dari dan


;
hanya

fungsi dari

.)

;()

(,)= ()
;
=
(,)= ;

83

_(

,)=

;=

;()=

Dengan metoda pemisahan variabel didapatkan :

??

;
?

menjadi persamaan diferesnsial biasa

Agar persamaan tersebut valid untuk

diperlukan kedua sisi persamaan sama

dengan konstant

??

;;

= konstant ; missal konstant =

Maka

7=

1)
Bila
5

(positive constan)

Maka

Dari penyelesaian sebelumnya

tentang persamaan diferensial biasa orde 2. Solusi umum

menjadi :

(_)

Dengan menggunakan

=_=

kondisi batasan,

(,;)= _

( ); ( ) =

(,;)= _

( ); ( ) =

( ) = Bila sisubstitusi ke persamaan (*), diperoleh

Karena ; ( )

_ maka
( ) = _dan

; bila

soluai

tidak mungkin karena

trivial.

2)

Bila

zero constant.

maka

diterapkan kondisi batasan

Bila

Menghasilkan

{tidak mungkin} , tidak ada penyelesaian.

Konstant

3)
Negative

(
,)

=
=

>?8

@B8

84

Dengan menggunakan syarat batas

Agar solusi nontrivial ,

dan

yang berarti

adalah pengali bilangan bulat

>?8

@B8

@B8=

dari +

= E,
", %,

8 = C+D,_

Hal ini menghasilkan


()=

@ B C+D

Karena
konstanta sembarang dan
@B
: +D

= @B

C+D

Kita dapat memilih


hanya untuk bilangan bulat positif

=
C+

B C+D

()=
@

=
,,,

(_)

Nilai

= nilai eigen (eigen value)

Fungsi @ B

+D

disebut fungsi eigen (eigen function)

Kemudian kita menentukan factor ; ( ) yang terkait dengan fungsi ( )

_;=

Merupakan PD biasa orde 1. ; menghasilkan


;()=
:

=
:
C+

(_ )

Dari persamaan (_) & (_


)

(,)=
:

B C+D

Dimana

Dari prinsip superposisi


(
,)=

C+D

L
:

@B

Konstanta
(
harus memenuhi persamaan berikut :

(,
)=

) ,_

85

@B

C+D

=()

2. FOURIER SERIES

Deret Fourier merupakan alat yang ampuh untuh mendapatkan penyelesaian


analistis dari banyak masalah dalam bidang mekanika terapan, seperti
penyelesaian teori elastisitas, getaran, aliran panas, dan lain-lain.

Pada sub-bab sebelumnya kita dapatkan fungsi kondisi awal


(,
) terhadap
; dalam

bentuk deret tak hingga

@ B C+D
(

, )= ()

Yang merupakan fungsi

. Bagaimana menentukan koefisien


dari deret

tersebut?

Koefisien dalam deret Fourier.

Anggap
adalah fungsi yang didefinisikan terhadap interval simetris

Asumsikan bahwa
adalah dinyatakan dalam deret fourier sbb :

()=

> ? C+D
@

B C+D
(_)

Kita ingin menentukan koefisien


,
, ,
, , ,

Dari hasil integral diperoleh :

>?
@B

+D
>?

+D

C+D
>

[U =

S+D
[U =

,_ W

C+D

S+D

,
W

@B
>

[U =
,
W

Menghitung

Integrasikan 2 sisi persamaan tersebut (1)

86

( ) [U =

[U
L

> ? C+D
4

@ B C+D
4.

Untuk
bilangan bulat positif ; dua integral di sisi kanan sama dengan nol. Oleh karena itu :

( ) [U =
]
:

[U =

= ]

] =

( ) [U

Menghitung

+D

Kalikan persamaan (1) dengan

dan integralkan hasilnya dengan

sampai
() >?
+D
4

> ? S+D

> ? C+D
> ? S+D

=_

[U

@ B C+D

> ? S+D
[U

Integral pertama dari sisi kanan dan integral ketiga adalah nol. ; maka diperoleh :

()

> ? S+D
4=
:

> ? C+D
> ? S+D
[U = ]

] =

() >?
4

S+D

Perhitungan
@B
+D

Kalikan kedua sisi persamaan (1) dengan

dan integrasikan hasilnya

dari
sampai

,_

87

()@B

S+D

4=

@ B S+D
4
=_

>
C+D

@ B S+D
[U

@ B C+D
@ B S+D
[U

Integral pertama dan kedua sisi kanan sama dengan nol,

()@B

S+D

4=

@ B C+D
@ B S+D

[U =
_

()@B

C+D

Resume Deret Fourier


(
)=

> ? C+D
@ B C+D

Dimana :

]
=

(
) [U

(
)

> ? S+D
4

()@B

C+D

Contoh :

Carilah deret fourier fungsibberikut :


,

()=

8
8

=+

( ) [U =

] =

[U

[U

( ) h k [U =

] =

k [U

k [U

j
=

j
k
X

j
k[

k
g

(_

k
)
=
( :) g
:

()@BC
4

s
k [U

s k [U

=
(
) (_
)

Maka :

89

()=
(
)
k

( ) (_
)
j k

Fungsi Genap dan Gasal/Ganjil

Suatu fungsi dikatakan fungsi genap bila


(

)= ()

Dan dikatakan fungsi ganjil bila

)= ()

Fungsi genap simetris terhadap sumbu

Fungsi Gasal

Karena > ?(
)=
>?_
fungsi genap
@ B(
)=
@B_
fungsi gasal
Fungsi genap
:

()4=
()4
Fungsi gasal
:

()4=

90

Extensi fungsi genap :Deret Fourier Cosinus

Bila fungsi = ( ) ditentukan untuk interval

Kita definisikan fungsi extensi dari

)= ()

Maka kita dapatkan koefisien fourier.

]
=

(
) [U =

(_)[

]
=

(
)>?

+D

[U =

(_) > ?
[U

C+D

genap

()@B

C+D

[U =

ganjil

Sehingga deret fourier menjadi

()=

> ? C+D
Disebut sebagai deret fourier cosinus

Dimana

]
=

( ) [U

]
=

(_) > ?
[U

C+D

Extensi fungsi gasal : Deret Fourier Sinus

Karena fungsi gasal


()

Sehingga coefisient fourier

()
4=

()=

()>?

ganjil
91

C+D

4=

()@B

+D

4=

()@B

C+D

genap

Sehingga deret fourier menjadi


()=
=

@ B C+D

Dimana

(_) @ B

C+D

Contoh : Tentukan deret fourier cosinus dari fungsi :

()=

(_)

, +

Solusi : untuk deret Fourier cosinus kita pilih extensi fungsi genap pada interval
+

=
+

()
4=
+

4=

+"

()
C+D
+

=
+

>?+

4=
+

>?C 4

C+

=+@B

92

Oleh karena itu :

@ B C+

()=

C+

>?C

Contoh :

Nyatakan fungsi (*) diatas dalam bentuk


C+D

()=

@B

=+

Solusi :

Karena fungsi diatas merupakan deret fourier sinus , maka kita pilih
fungsi extensi gasal.

C+D

=
+

()@B+

4=
+
@BC 4

>?C

=
+

>?

Maka

C+

()=

(_ > ? ) @ B C

+
C

Contoh soal tentang persamaan panas

PDE :

,_
(_)

BC :

(,)= (, )= _

()

IC :

(,
)=
,
,

(_)

Solusi :

Langkah 1 : subtansi

ke persamaan (1), maka

??

konstant

= ;

(_)

93

; ?
;

= konstant yang sama (_)

Interpretasi kondisi batas (2) dalam bentuk XT


( , ) = ( ); ( ) =

Dan
( , ) = ( ); ( ) =

Untuk solusi non-trivial, kita memiliki hubungan :


( ) = dan ( ) = _

(_)

Langkah 2 :

Terdapat 3 kasus untuk menyelesaikan pers (4), yaitu Konstan : positif,


nol, negatif.

Sebagaimana solusi sebelumnya, bila nilai konstan adalah positif dan nol maka

tidak ada solusi ; karena itu kita pilih konstan negatif , (


)

memasukkan kondisi batas pada pers (6) kita dapat menghitung nilai

Dengan

=
>?8
@B8
(_)

konstant dan menentukan nilai eigen ; sbb :

=
dan
=
@B8,
_

Agar terpenuhi harus kelipatan bulat dari +

Karena

=
maka pers (7) menj adi

=
+

=
,,,

()=
@B+

Langkah 3 : Selesaikan persamaan diferensial biasa tingkat 1.

Dengan
integral diperoleh

+
Sehingga, untuk setiap bilangan bulat positif kita peroleh

;()
=
;=
+

@B+

Dimana

,)=

Langkah 4 : Dengan prinsip superposisi untuk deret tak hingga

@B+

Dengan batasan pers (2).

(,
)=
C

Langkah 5 : Tentukan nilai

adalah koefisien deret fourier sinus untuk fungsi

(,
)

94

@B+_4

Sehingga penyelesaian persaman panas satu dimensi adalah

= + > ? + _ = + (_

>

(,)=
C
+

>?+

(_ >
+

)_

@B+_

Persamaan Laplace dan Temperatur Keadaan Tetap (Steady-state)

Bila pelat 2 dimensi persegi panjang sbb :

Bila kita asumsikan bagian atas dan bawah pelat benar-benar tersekat (terisolasi) ,
sehingga panas hanya bisa merambat pada arah dan . karena posisi dan berubah terhadap
waktu , maka

= (,,)

bila = difusi panas dari material/plat tersebut, maka

Persamaan dua dimensi panas sbb:


_

Penjumlahan dari 2 turunan parsial kedua dinamakan Laplacian dari fungsi tsb yang
disimbolkan dengan :

=del squared

Bila dalam kondisi steady-state, maka temperature hanya fungsi dari dan usaja. Sehingga

= atau _

= _ (_)

Persamaan (1) ini disebut PERSAMAAN LAPLACE

Dalam bidang teknik sipil , persamaan laplace banyak dipakai dalam teori elastisitas

Kondisi Batas

95

Dalam kasus steady-state , bila persamaan laplace ditentukan berdasarkan nilai


kondisi batas dinamakan dengan Dirichlet Problem.
PDE : _
u

_
(),
]

BC : (
, )=
( ), ( , ) =

(
, )=
( ), ( , ) =
(),

(
, )

(
,
)=

(] ,

(
,
)=
(
)

=
(
)

(
,
)=
(
)

Solusi Dirichlet Problem


, )=

(
,
)=
(
)
(_)

(,
)=
(

,
)=

dan

(
)
(
)
()

(_)

Substitusi

,=

(3) ke pers. Laplace

=
5

8=

8=
5

Untuk kondisi batas homogeny


()=

()= ()=

Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan langkah berikut :

1) Eigen Value
+

=,,,

fungsi eigen yang bersesuaian dan memenuhi kondisi batas

=@B

96
(_) = @ B

2) Untuk setiap

(_) =

@ B+

>?

Karena

=
+

3) Dengan prinsip superposisi

Menentukan Koefisien
@B
+

@B
+

4)
(,
)=
=

(, )=
=

@B
+

@B

= ()

Koefisien deret fourier

@B

+
=

()@

+
4

97